Actions

Work Header

Mengejar Cinta Kindi By Jena

Summary:

Jena tahu mustahil untuk mendapatkan Kindi, lelaki tampan idaman semua masyarakat sekolah. Dan Jena tidak pernah berani bermimpi akan mendapatkan cinta Kindi, tapi siapa tahu takdir? Dari kerja kelompok menjadi pintu pembuka kesempatan bagi Jena untuk lebih mengenal dekat seorang Kindi TriBakri Nugraha

Chapter Text

Latihan hari ke 2 lebih kondusif dibanding hari pertama. Semua anggota sudah menguasai setiap gerakan, jadi hanya perlu mengompakkan seluruh anggota agar senam mereka enak dipandang dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Masih ada 4 kali lagi pertemuan, cukup banyak waktu untuk merealisasikan tujuan mereka bersama.

Satu jam berlalu tanpa terasa, sebab semuanya menikmati kerja kelompok hari ini, dipenuhi canda gurau serta sedikit argumen tentang siapa yang salah gerakan atau hal lainnya. Yang terpenting, sudah banyak progress yang terlihat sejauh 2 hari.

Jena senang mendapatkan kelompok yang kompak dan mudah diatur. Tapi tidak heran juga, sebab anggota kelompok diisi oleh orang-orang berprestasi di kelas mereka. Ada Putri atau biasa dipanggil Puput, sekretaris kelas sekaligus anggota Paskibra, tidak usah diragukan lagi ketertiban dan keuletannya. Lalu Ica, anak emas kesayangan guru matematika, dia sering menjuarai lomba tingkat nasional, tentu saja tidak perlu gembar -gembor untuk mengajak seorang Ica latihan senam. Lalu ada Kindi dan Danar, keduanya semacam kembar beda segalanya, dari beda orang tua, beda tanggal lahir, dan jelas beda rupa wajah. Tapi Kindi maupun Danar juga mempunyai kesamaan dalam banyak hal, seperti keduanya sama-sama anggota tim basket sekolah, bahkan kindi adalah kaptennya ( nilai plus kenapa Jena naksir berat) lalu keduanya sama-sama ketua kelas dan wakil ketua kelas ( Danar ketua-Kindi wakil). Paduan suara juga menjadi salah satu ekstrakurikuler yang keduanya ikuti, suara Kindi dan Danar sangat merdu sampai Kindi pernah meraih juara penyanyi solo tingkat kabupaten ( nilai plus kesekian kalinya dari Jena untuk Kindi). Sudah pasti kedua orang itu tidak perlu dioyak sepeti ayam hanya untuk latihan se-sepele tugas senam begini. Bahkan Kindi membuat beberapa gerakan, Jena makin klepek-klepek dibuatnya. Dan anggota terakhir adalaha Jena, yap hanya Jena, dia tidak se-spesial temannya yang lain. Mungkin keanggotaannya sebagai dancer cukup pantas disandingkan dengan ke 4 anggota lainnya. Yah, setidaknya begitulah menurut Jena.

Jena tidak ambil pusing, yang terpenting kelompoknya kompak dan mudah diatur, karena dia yang diberi kewenangan sebagai ketua dengan alasan dia adalah seorang dancer, pasti mudah baginya untuk membuat koreo tugas senam.

Tentu yang menjadi alasan utama Jena suka dengan kelompok ini adalah fakta bahwa dia satu kelompok dengan Kindi. Masih sedikit tidak percaya akibat tugas kelompok ini dia akhrinya bisa sedikit lebih dekat dengan Kindi. Dari ekor matanya, Jena dapat melihat Kindi sedang bercanda dengan Danar, gigi kelincinya begitu imut saat dia tersenyum manis mendengar ocehan konyol Danar. Jena ingin sekali berganti posisi dengan Danar, becanda gurau dengan Kindi tanpa canggung atau salah tingkah. Jena selalu was-was saat berada di dekat Kindi, takut melakukan hal bodoh, seperti menatap mata sebesar biji boba terlalu lama, atau menatap tai lalat di bawah bibir Kindi dengan tatapan ambigu. Jena tidak mau dianggap freak oleh lelaki kecintaannya itu.

Tapi sepertinya Kindi mempunyai rencana lain. Tiba-tiba lelaki dengan zodiak Virgo berdiri dan berjalan menuju arahnya. Jena memang senang beristirahat sendirian di tepi lapangan basket. Mungkin Kindi iba dan ingin mengajak Jena kumpul dengan yang lain, mengingat Kindi orang yang supel, pasti tidak tahan melihat orang lain menyendiri sedangkan temannya yang lain asik mengobrol bersama. Kindi membisikkan sesuatu pada Danar sebelum melanjutkan langkah lebarnya. Dan tiba-tiba manusia tampan itu sudah duduk di depan Jena dengan kaki menyilang meniru gaya Jena.

“ Sendirian aja Jen, gue duduk ya “ Kindi tidak pernah terlihat canggung, semua tindakannya mantap, justru Jena yang berusaha bersikap santai.

“ Iya duduk aja ” Mata Jena berusaha tetap berada di tempat, menatap lawan bicaranya yang tengah sibuk mengoceh tentang ini dan itu, Jena tidak mendengarkan dengan baik, dia terlalu sibuk mengagumi ciptaan Tuhan paling dasyat, sampai tiba tiba satu pertanyaan untuknya merenggut kembali kesadaran yang tadi hampir melayang terbawa angin sore.

“ Kenapa chat gue tadi malem gak lo bales jen? ” Kindi memiringkan kepalanya menatap Jena bingung, tapi ada hint jenaka di balik suara beratnya. Detik itu juga Jena baru sadar dia tidak membalas chat Kindi tadi malam karena terlalu sibuk salah tingkah sampai dia ketiduran saking senangnya. Menyadari alasan konyol itu, Jena berusaha mengontrol wajahnya agar tidak terlihat memalukan.

“ o-oh… itu gue ketiduran, sorry ya “ Tentu Jena tidak berbohong, tapi tidak juga menjelaskan alasan utamanya. Kindi mengangguk memaklumi tetapi ada smirk di ujung bibirnya, seolah tahu sebenarnya Jena menyimpan alasan lain.

“ Lain kali jangan lupa bales ya Jen, gue nungguin ” Dan dengan mudahnya Kindi berdiri dari duduknya dan mengajak latihan kembali seakan-akan dia tidak baru saja memporak-porandakan hati sosok pemuda mungil yang makin kecil berkerut di sudut lapangan. Hati Jena berdegub sangat kencang sampai dia takut organ itu akan copot dari tempatnya. Kindi sialan!!!