Actions

Work Header

Off the Camera, Rules Don’t Apply

Summary:

Bagaimana agensi dan member menanggapi bila interaksi antar-member yang sedikit kebablasan saat siaran langsung.

Notes:

Seluruh cerita, plot, dan interaksi di dalamnya adalah fiksi dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata para idola asli. Cerita ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan langsung dari work fic saya yang berjudul “Behind the Dorm Doors”.

Work Text:

Selama satu bulan ini, Jihoon semakin berani menunjukkan afeksinya kepada Shinyu secara terang-terangan. Setiap hari Shinyu sukses dibuat merona karena malu akibat berbagai gombalan receh, tatapan mata jahil, hingga sentuhan-sentuhan fisik yang disengaja Jihoon.

Di belakang maupun di depan layar, perlakuan Jihoon tidak ada bedanya. Malahan, di depan layar ia sengaja melakukannya demi memancing reaksi fans. 

Saat ini mereka berniat melakukan siaran langsung berdua atas inisiasi Shinyu. Member lain sudah melakukan siaran langsung berpasangan, menyisakan mereka yang belum mendapat giliran minggu ini. Mereka akan melakukan siaran langsung di salah satu ruangan kecil di agensi dengan mereka duduk bersisian. 

Siaran langsung dimulai. Mereka menunggu selama beberapa menit agar fans masuk ke ruang siaran sebelum mulai mengobrol santai. Di atas meja, ada dua ponsel yang mereka siapkan. Satu ponsel diletakkan tegak menghadap mereka untuk menyiarkan live dan membaca kolom komentar, sementara satu ponsel lagi diletakkan horizontal agak tersembunyi di bawah jangkauan kamera untuk memantau pergerakan media sosial secara diam-diam. 

“Hyung aku mau baca komen terlebih dahulu. Oh sepertinya baru sapaan halo dari fans.” ujar Jihoon
“Halo, sai.” sapa Shinyu
“Halo, sai.” sambung Jihoon

“Udah makan belum?” Shinyu membacakan salah satu komentar.
“Sudah, guys. Kami sebelum ke sini sudah makan.” 

Tiba-tiba Jihoon duduk lebih rapat ke arah Shinyu dan membisikkan sesuatu. 
Bisikan itu sama sekali tidak terdengar oleh kamera, hanya suara tepukan cukup kencang di paha Jihoon yang terdengar. Detik berikutnya, telinga Shinyu langsung berubah merah padam. Entah apa yang baru saja Jihoon bisikkan.

“Maaf, guys, nggak bermaksud bikin kalian penasaran, hanya saja belakangan ini Jihoon senang sekali menjahiliku.” kilah Shinyu panik.
“Maaf, guys. Aku senang sekali menjahili Shinyu Hyung karena reaksinya lucu. Tapi kalau telinganya memerah begini, sai akan berpikir macam-macam soal bisikan tadi. Aku nggak ngomong aneh-aneh kok.” Jihoon berusaha mencari pembelaan.
“Jihoon, ada sai yang berkomentar, ‘kalau Jihoon menjelaskan begitu, malah makin mencurigakan.’” sahut Shinyu membaca layar.
“Oh, no. Baiklah, guys, aku tidak akan memperpanjang masalah itu.” ujar Jihoon dengan wajah memelas.

Shinyu hanya tertawa geli melihat perubahan raut wajah Jihoon yang dibuat seolah sedang sedih.

“Lebih baik kita bicarakan jadwal tur kita saja. Akun official sudah mengumumkan kota-kota yang akan dikunjungi.” ucap Shinyu mengalihkan topik.
“Sai antusias sekali mendengarnya. Aku ada baca beberapa komen yang lewat, katanya negara mereka belum ada di poster.”
“Kami akan usahakan ke agensi agar bisa mendatangi seluruh negara di dunia. Aku sangat ingin bertemu kalian.” janji Shinyu serius.
“Tour tidak berhenti di negara-negara yang tertera sekarang, mungkin saja nantinya akan bertambah. Kami tidak mau janji palsu tapi kami akan mengusahakan bertemu kalian semua.” 

Ucapan Jihoon sukses membuat fans terharu hingga kolom komentar dibanjiri dengan emotikon menangis dan hati. Shinyu yang mendengar di sebelahnya pun ikut terharu. Ia sengaja mendongak menatap langit-langit ruangan, berakting seolah-olah sedang menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Ah, kalian tidak serius menanggapiku, ya?” goda Jihoon yang melihat ekspresi Shinyu, pura-pura merajuk. Shinyu tertawa kecil lalu spontan memeluk Jihoon dari samping.

Mereka melakukan siaran langsung selama hampir 40 menit. Sepanjang itu, Jihoon dan Shinyu membicarakan banyak topik sambil melempar candaan. Namun, ada satu tindakan Jihoon yang hampir membuat mata Shinyu melotot keluar, Jihoon tiba-tiba meraih tangan Shinyu, meraihnya mendekat, dan refleks ingin mencium punggung tangan Shinyu. 

Beruntung Jihoon cepat sadar bahwa kamera siaran masih menyala. Ia segera mengalihkan dengan hanya mengaitkan jemarinya ke jemari Shinyu lalu perlahan menurunkan tangan mereka ke bawah meja. 

Meskipun di depan kamera mereka berpura-pura tenang dan hanya membaca kolom komentar yang kebanjiran emotikon dari sai, lirikan mata Shinyu diam-diam tertuju pada ponsel kedua yang tersembunyi. Di sana, layar terus bergerak menampilkan cuitan demi cuitan fans mulai ‘mereog’ dan histeris di platform X akibat adegan nyaris cium tangan tadi. Lini masa meledak dalam hitungan detik.

Merasa tensi siaran langsung sudah semakin membahayakan dan suasana ruangan mendadak terasa panas, Shinyu buru-buru menyudahi sesi live hari ini. Jihoon, sebagai pelaku utama membantu memberikan alasan yang sekiranya masuk akal agar bisa diterima fans. Begitu tombol siaran berakhir ditekan, kamera mati dan keduanya kompak menghembuskan napas lega. 

“Jiiiiii!” teriak Shinyu panik, wajahnya frustrasi.
“Aaaaa, hyung! Maafkan aku.” sahut Jihoon langsung ciut.
“Gimana reaksi fans nanti?! Pasti sekarang klip tadi dipotong dan disebar di media sosial.”
“Nggak apa hyung, itu risiko jadi orang keren.”
“Jiiii, bisa serius dulu nggak, sih?”
“Hyung, sejujurnya aku juga takut tapi kalau kita menanggapi dengan sedikit lebih santai, pembicaraan ini paling hanya ramai sebentar saja.”

Setelah perdebatan kecil di ruang siaran, pintu mendadak diketuk. Manager hyung masuk dengan wajah campur aduk, antara ingin marah tapi juga menahan senyum. Pria itu meletakkan sebuah tablet yang sudah menampilkan grafik interaksi media sosial mereka yang melonjak tajam. Tagar nama mereka berdua bahkan langsung memuncaki trending topic.

“Kalian ini benar-benar, ya.” desah sang manajer sambil memijat pelipisnya.

Shinyu sudah bersiap membungkuk meminta maaf, namun kalimat manajer selanjutnya justru di luar dugaan.

"Pihak humas dan direksi baru saja rapat kilat. Untungnya, agensi memutuskan untuk memanfaatkan momentum ini. Kebetulan interaksi member lain belakangan ini juga sedang naik daun. Jadi, agensi tidak akan mengeluarkan larangan keras atau klarifikasi apa pun. Biarkan fans berspekulasi." Sang manajer menatap Jihoon dengan tajam. "Tapi Jihoon, kurangi physical touch yang terlalu berani seperti tadi. Kita menjual kedekatan antar member, bukan pengumuman hubungan publik."

Begitu manajer keluar, suasana di dalam ruangan mendadak hening. Shinyu melirik Jihoon yang kini terduduk lesu di kursi. Ada rasa lega karena mereka tidak dihukum, namun ada kecanggungan tak kasat mata yang mendadak muncul.

"Jii..." panggil Shinyu pelan.

Jihoon menegakkan tubuhnya, lalu mengulas senyum tipis, jenis senyuman yang jarang Shinyu lihat karena biasanya adeknya ini selalu percaya diri. 

"Aku mengerti, Hyung. Maaf ya, tadi aku hampir kelepasan. Aku tidak akan membuatmu dalam posisi sulit lagi."

Hari-hari berikutnya menjadi ujian berat bagi Jihoon, sekaligus siksaan manis bagi Shinyu.
Jihoon benar-benar menepati janjinya untuk mengurangi kontak fisik secara drastis di depan kamera. Tidak ada lagi tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggang, atau jemari yang sengaja dikaitkan saat mereka duduk bersisian di acara fansign, konten grup maupun siaran langsung grup.

Namun, Jihoon tetaplah Jihoon. Alih-alih menjadi canggung dan menjauh, ia menyalurkan seluruh energinya menjadi aksi random, tidak terduga. 

Saat mereka sedang syuting konten grup, Jihoon berdiri tepat di belakang Shinyu. Alih-alih memeluk Shinyu dari belakang seperti biasanya, Jihoon hanya mencondongkan tubuhnya dan hampir menempelkan dagunya di bahu Shinyu.

Masih di syuting konten grup, saat Shinyu sedang duduk di sofa, Jihoon akan mendatangi, berdiri tepat di depan Shinyu, menarikan sebuah tarian random, lalu mencondongkan badannya yang cepat-cepat ia jauhkan. 

Shinyu yang melihat Jihoon banyak melakukan aksi menahan diri bisa merasakan justru jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dibanding saat Jihoon benar-benar menempel menyentuhnya langsung. Jarak beberapa sentimeter tanpa sentuhan itu justru terasa jauh lebih mendebarkan dan penuh ketegangan.

Di salah satu sesi backstage, saat kamera agensi sedang menyorot member lain di latar depan, Jihoon berjalan melewati Shinyu. Ia tidak menyentuh Shinyu sama sekali, namun ia sengaja berhenti sejenak, meniup pelan anak rambut di dekat telinga Shinyu, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu pergi dengan cengiran jahil khasnya.

Shinyu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak berteriak gemas sekaligus kesal di depan kamera staf. Jihoon tidak menyentuhnya, tapi cara ini justru jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

Setelah jadwal kegiatan berakhir dan mereka bisa pulang ke dorm, Shinyu berniat mengobrol dengan Jihoon babak kedua. Semua member masih di luar kamar, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Shinyu ingin memanggil Jihoon dan berniat mengobrol di kamarnya kali ini. 

“Ji, ada waktu nggak? Hyung perlu ngobrol sama kamu.” 
Kebetulan Youngjae teman sekamar Shinyu berniat membuka pintu kamar mereka. 
“Jae, kali ini hyung mau pake kamarnya buat ngobrol sama Jihoon, jadi kamu bisa ngungsi sementara dulu nanti.” 
“Hyung, di ruang tamu saja, kita juga mau dengar.” sahut Kyungmin berani.
“Iya, hyung. Ada apa sebenarnya sampai Hyung mau ngobrol sama Jihoon kedua kalinya?” tanya Dohoon memancing, matanya berkedip jahil ke arah Kyungmin.

Shinyu seketika membeku di ambang pintu. Rencananya untuk bicara empat mata di dalam kamar gagal total. Nyalinya sedikit goyah. Bukannya ia ingin menyembunyikan masalah dari anak-anak, tapi ia paling tidak tahan jika harus menjadi bahan godaan satu dorm. Mau bagaimana pun, member lain pasti menyadari keanehan perilaku Jihoon akhir-akhir ini terutama setelah insiden siaran langsung yang menghebohkan itu. Sebagai member tertua, ia merasa harga dirinya runtuh jika harus diledek seperti remaja puber yang sedang kasmaran.

Sementara itu, Jihoon di sebelahnya hanya memasang wajah pasrah. Alih-alih takut, Jihoon justru diam-diam menikmati situasi ini. Baginya, semakin ramai member menggoda, semakin sering pula ia bisa melihat wajah Shinyu memerah padam.

"Ya sudah, duduk di sini." hela Shinyu pasrah, berjalan menuju sofa ruang tamu diikuti Jihoon. Member lain langsung mengambil posisi melingkar, memasang telinga lebar-lebar seolah sedang menghadiri rapat penting agensi.

Jihoon berdeham, memutuskan untuk mengambil inisiatif agar beban Shinyu berkurang. 
“Jadi begini, guys. Intinya, manajer hyung minta aku mengurangi kontak fisik berlebih di depan kamera setelah kejadian live kemarin. Agensi minta kita tetap menunjukkan kedekatan, tapi tidak boleh terlalu terang-terangan."

"Ohhh, begitu ya, Jii?" sahut Youngjae menahan tawa, menyandarkan punggungnya ke sofa. 
"Pantas saja beberapa hari ini kamu random sekali. Seperti singa kelaparan yang tidak boleh menyentuh mangsanya."

"Wah, berani juga ya kamu ke hyung tertua.” goda Kyungmin sambil menyenggol lengan Dohoon. "Hampir mencium tangan di depan ribuan sai. Jihoon hyung memang beda."

Wajah Shinyu mulai terasa panas. Godaan demi godaan dari adek-adeknya membuat telinganya kembali memerah. Karena tidak sanggup lagi mendengar penjelasan Jihoon yang mulai melantur akibat disudutkan member lain, Shinyu akhirnya mengambil alih pembicaraan dengan ekspresi seserius mungkin.

"Sudah, sudah, dengarkan dulu.” potong Shinyu, mencoba mengeluarkan aura leader-nya meski gagal karena pipinya yang merona. 
“Pokoknya, intinya begitu. Manajer hyung tidak marah, agensi justru memanfaatkan momennya. Jadi kalian tidak perlu khawatir soal akan menghambat aktivitas grup kita. Hubunganku dan Jihoon juga baik-baik saja, tidak ada kecanggungan. Jadi tolong jangan dibahas lagi, mengerti?"

"Yakin tidak canggung, hyung?" pancing Dohoon lagi, menopang dagunya sambil menatap Shinyu dengan pandangan menyelidik yang usil. "Tapi beberapa hari ini kulihat Jihoon kalau di dekatmu seperti menahan sesuatu. Apa di dorm juga harus dikurangi kontak fisiknya? Manajer hyung kan hanya bilang di depan kamera."

Pertanyaan Dohoon sukses membuat ruangan hening seketika. Shinyu kehilangan kata-kata. Ia melirik Jihoon, memberi sinyal lewat mata agar anak itu membantunya menyudahi interogasi ini.

Namun, Jihoon justru menangkap sinyal itu sebagai lampu hijau untuk melakukan aksi nekat.

"Dohoon Hyung benar," ujar Jihoon tiba-tiba dengan suara tenang.

Sebelum Shinyu sempat mencerna kalimat tersebut, Jihoon tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dengan cepat. Cup. Sebuah kecupan kilat mendarat telak di pipi kanan Shinyu, menyisakan suara kecupan yang terdengar jelas di keheningan ruang tamu.

"Di luar kamera, aturan agensi tidak berlaku.” bisik Jihoon pelan dengan cengiran tanpa dosa, tepat di samping telinga Shinyu yang kini sudah matang seperti kepiting rebus.

"JIIHOONNNNN!"

Teriakan histeris langsung pecah di ruang tamu. Hanjin bertepuk tangan heboh, Youngjae menutup matanya dramatis sambil tertawa kencang, sementara Kyungmin dan Dohoon mengangkat tangan mereka dan saling menepukkan telapak tangan di udara, merasa sangat puas karena umpan mereka berhasil memancing aksi nekat Jihoon.

Di tengah kegaduhan dorm malam itu, Shinyu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang luar biasa panas di balik kedua telapak tangan. Siksaan menahan gemas beberapa hari ini resmi berakhir, digantikan dengan serangan jantung baru yang tampaknya akan bertahan sangat lama di hidup Shinyu.