Actions

Work Header

to be seen

Summary:

keonho sees the person behind seonghyeon’s perfect record

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan. Keonho berdiri di samping kursinya sembari tersenyum menampilkan gigi. Ia setengah menunduk sopan kepada wali kelas dan teman-teman sekelasnya yang sekarang merayakan kemenangan lomba renangnya dengan tepuk tangan.

“Terima kasih, Miss Anne. Terima kasih, teman-teman.”

Di kursi barisan depan, Seonghyeon menepukkan kedua tangan sembari kepalanya menoleh ke belakang, tepat ke sosok Keonho yang sedang berdiri. Ia menatap wajah Keonho lamat-lamat.

Keonho yang menyadari sedang diperhatikan oleh Seonghyeonpun tersenyum ke arahnya. Seonghyeon otomatis membuang muka dan kembali memposisikan duduknya ke depan. Keonho mengangkat kedua alisnya melihat reaksi Seonghyeon barusan.

“Nah, kalian contoh Keonho, ya. Berprestasi untuk sekolah, jangan cuma tidur aja kerjaannya di kelas. Miss ada rapat guru sekarang, jadi kalian keluar istirahat lebih cepet ya. Selamat siang.”

Setelah wali kelasnya keluar, Keonho berjalan ke tempat duduk Seonghyeon. Ia berniat untuk bertanya mengenai tugas-tugas yang tertinggal kemarin karena ia mengambil dispensasi seharian penuh untuk lomba renangnya. Ia menepuk bahu Seonghyeon sebelum berbicara.

“Hai, Ketua, mau tanya. Kemarin ada tugas apa aja, ya?”

Seonghyeon mendongakkan kepalanya. Ia melihat wajah Keonho yang tersenyum ramah ketika bertanya.

“Oh, sebentar. Gue tulis di kertas terus gue kasih.”

Seonghyeon mengambil sebuah pulpen dari mejanya lalu menulis beberapa tugas di secarik kertas. Keonho menundukkan kepalanya sedikit.

“Wah, banyak juga.”

Tak lama kemudian, ia memberikan secarik kertas itu kepada Keonho.

“Kalau ada yang bingung, gue nanya lo lagi, ya?”

Seonghyeon hanya menggumam pelan sebagai jawaban. Lalu ia berpamitan kepada Keonho karena ingin membeli makanan ke kantin.

——

Selama perjalanannya ke kantin, isi pikirannya hanya tertuju kepada Keonho. Kepada prestasi renangnya yang sungguh memukau. Kepada sifat ramahnya yang selalu ditujukan kepada sekitar. Dari segi akademikpun, Keonho juga tidak tertinggal. Walaupun tidak sampai sepuluh besar angkatan, tetapi dengan adanya rutinitas latihan renangnya, ia sudah patut dianggap murid pintar.

Kok gue merasa iri ya, batinnya.

Seonghyeon menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu. Ia berusaha mengingat pencapaiannya selama ini. Peringkat pertama angkatan selalu berada di tangannya. Ia kembali berusaha mencari pencapaian lain. Tidak ada. Seonghyeon tersenyum kecut.

Tepukan pelan di bahu menyadarkan lamunannya. Tetangga sekaligus kakak kelasnya, James, melambaikan tangan sembari tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.

“Seonghyeon, akhirnya ketemu lo pas di sekolah. Belajar di kelas mulu lo, ya. Si paling ranking satu, mah, beda.”

Seonghyeon menggelengkan kepala. Ia tersenyum sambil menyisipkan rambutnya ke telinga.

“Hai, Kak. Kakak, kali, yang sibuk try out terus.”

James tertawa pelan. Ia merangkul pundak Seonghyeon lalu membawanya masuk ke area kantin.

“Kepala gue mau meledak, gila. Pusing banget, ya, try out terus. Lo mau jajan apa? Gue bayarin, deh.”

Seonghyeon menatap wajah James berusaha memastikan apakah ia salah dengar atau tidak. James mengacak puncak kepala Seonghyeon.

“Batu banget, bocil. Gue bayarin, asli. Mau beli apa?”

Saat ia sedang berpikir, James tiba-tiba berteriak menyapa seseorang di belakangnya.

“Woy, Atlet! Menang lagi, ya, kemarin. Selamat, Bro!”

Ia menoleh dan melihat sosok Keonho yang sedang berjabat tangan dengan James. Seperti biasa, Keonho menampilkan senyum manis yang selalu ia tunjukkan.

“Makasih, Bang.”

Seonghyeon mengerutkan kening melihat interaksi akrab kedua orang tersebut di hadapannya.

“Nih, kenalin, Keonho. Atlet renang paling jago senegara ini.”

“Terlalu berlebihan, Bang.”

James terbahak melihat reaksi Keonho yang terlihat malu mendengar ucapannya barusan.

“Gue sama Seonghyeon sekelas kok, Bang. Ketua kelas gue, nih.”

Seonghyeon tersenyum tipis mendengarnya. Ia menatap ke sembarang arah berusaha untuk menghindar bertatapan langsung dengan Keonho.

“Baru tau kalo kalian sekelas. Ah, gimana kalau kita makan bareng aja bertiga? Gue bayarin.”

Seonghyeon meremas ujung dasinya pelan. Gerakan kecil itu tak luput dari penglihatan Keonho.

“Eh, Kak, baru inget ada pertemuan ketua kelas pas jam istirahat di aula. Gue duluan, ya.”

Sebelum James sempat merespons, Seonghyeon telah berjalan menjauhi mereka. James melihat punggung Seonghyeon yang menjauh lalu beralih melihat Keonho.

“Lah, kabur dia. Yaudah, lo aja yang gue traktir makan, yuk.”

“Ayo, deh. Makasih ya, Bang.”

James merangkul bahu Keonho sambil berjalan mencari bangku kosong di kantin. Keonho menoleh ke belakang, mengarahkan pandangannya ke lorong yang baru saja dilalui Seonghyeon, lalu mengangkat sebelah alisnya.

——

Suara beberapa murid berbisik memenuhi ruangan perpustakaan. Seonghyeon menelungkupkan kepalanya di atas buku yang sedang ia baca. Ia mendesah pelan sambil menutup kedua matanya.

Kelasnya sedang kosong saat ini karena guru mata pelajarannya sedang sakit. Setelah menyampaikan tugas kepada teman-teman kelasnya, ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ruang kelasnya berisik. Ia sedang butuh ketenangan. Ditambah lagi, ia sedang tidak ingin melihat sosok Keonho yang sejak tadi terus memenuhi ruang kepalanya.

Pikirannya berkelana menuju waktu makan siang tadi. Ia menggigit bibir bawahnya. Seharusnya ia tidak menghindar. Seharusnya ia ikut makan bersama dengan James dan Keonho. Namun, ia merasa perasaan iri kepada Keonho kian membesar. Ditambah saat melihat perlakuan James yang menyanjung Keonho tadi. Ia mendesah sekali lagi lalu mengangkat kepalanya.

Ia membulatkan matanya saat menangkap sosok yang sejak tadi berputar di kepalanya sedang duduk di depannya sembari memamerkan senyum.

“Hai, Ketua.”

Seonghyeon mengangguk dan menampilkan senyum tipis. Ia membalikkan halaman buku di hadapannya lalu pura-pura membaca.

“Gue ada salah ya sama lo?”

Seonghyeon menghentikan kegiatan pura-pura membacanya. Ia membiarkan pandangannya singgah di halaman buku itu sebelum akhirnya mendongak menatap Keonho.

“Gimana?”

Keonho beranjak lalu berjalan ke samping tempat duduk Seonghyeon. Ia menarik kursi yang sebelumnya rapat dengan meja lalu duduk dan mencondongkan tubuhnya ke arah Seonghyeon.

“Tadi gak ada pertemuan ketua kelas, kan? Gue tau dari temen gue, di aula gak ada pertemuan apa-apa.”

Seonghyeon membeku. Ia tidak menyangka Keonho akan mencari tahu mengenai kebohongannya tadi siang. Ia berdeham pelan. Pandangannya tertuju ke bawah.

“Tadi gak enak badan aja tiba-tiba.”

Keonho mengusap wajahnya mendengar jawaban Seonghyeon. Ia tahu Seonghyeon masih berusaha mencari alasan.

“Jujur aja gapapa, kok. Gue ada salah ya?”

Seonghyeon mengepalkan kedua tangannya. Degup jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merasa seperti dipojokkan.

“Seonghyeon?”

Ia sudah tidak tahan lagi.

“Gue iri sama lo.”

Keonho terdiam beberapa saat.

“Sama gue?”

Bahunya bergerak pelan, nyaris seperti anggukan. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah Keonho di depannya lalu menarik napas panjang.

“Gue iri sama prestasi renang lo. Gue iri sama lo yang gampang banget bergaul. Bahkan, tadi aja Kak James sampe muji-muji lo di kantin.”

Seonghyeon tersenyum pahit.

“Sedangkan gue… gue cuma bisa belajar. Kalau nilai gue turun, kayanya gak ada yang akan ngelirik gue.”

Keonho mengernyit.

“Seonghyeon, lo beneran mikir gitu?”

Seonghyeon tidak menjawab. Keonho mengembuskan napas pelan.

“Gue gak pernah ngeliat lo gitu.”

“Karena lo gak pernah ada di posisi gue.”

“Mungkin…”

Keonho tersenyum kecil.

“…tapi dari posisi gue, lo keliatan keren.”

Seonghyeon mendongak tak percaya mendengar suara Keonho barusan.

“Lo konsisten ngejaga ranking dari awal masuk. Terus lo juga selalu jadi ketua kelas, kan?”

Seonghyeon tertawa pelan mendengar penuturan Keonho.

“Kalau itu semua orang, mah, bisa.”

Keonho menggeleng.

“Kalau semua orang bisa, posisi ranking satu lo pasti udah kegeser, dong. Buktinya lo konsisten setiap semester selalu ranking satu.”

Seonghyeon ingin tertawa mendengarnya.

“Lo terlalu baik.”

“Enggak.”

Jawaban Keonho terlalu cepat.

Seonghyeon menatap Keonho beberapa saat. Tidak ada tanda-tanda Keonho sedang bercanda atau kasihan dari sorot matanya. Tatapannya penuh keyakinan, membuat Seonghyeon sulit membantah.

“Seonghyeon, semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan orang lain yang berbeda dari lo gak membuat kelebihan lo jadi gak berharga. Di mata gue, lo murid paling pinter yang gak ada kurangnya. Di mata orang lainpun gue yakin juga.”

Keonho memegang kedua bahu Seonghyeon.

“Dan kalaupun lo merasa gue keren karena renang gue, ya makasih, hehe. Tapi hal itu gak mengurangi kemampuan lo dalam hal lain.”

Seonghyeon menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak, tetapi bukan lagi karena iri. Entah kenapa, ucapannya membuat tenggorokan Seonghyeon tercekat.

“Gue gak pernah denger ada orang yang ngomong gitu ke gue.”

Dahi Keonho mengernyit.

“Orang-orang cuma ngeliat hasilnya. Mereka selalu bilang, ‘Ya jelas lah, Seonghyeon kan emang ranking satu.’ Lama-lama gue juga mikir, mungkin ini hal yang emang harus gue lakuin.”

Keonho terdiam. Tatapannya melembut. Ia perlahan melepaskan kedua bahu Seonghyeon.

“Lo hebat, Seonghyeon. Lo hebat dengan cara lo sendiri.”

Kalimat itu sederhana. Bahkan diucapkan dengan nada yang sangat biasa. Anehnya, justru kalimat itu membuat mata Seonghyeon memanas.

Ia buru-buru memalingkan wajah.

“Jangan bikin gue malu.”

Keonho tertawa pelan.

“Gue cuma ngomong jujur. Ngomong apa yang gue pikirin.”

Keheningan menggantung di antara mereka.

“Dan yang gue pikirin sekarang, gue seneng akhirnya lo jujur sama gue.”

Tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini Seonghyeon tidak buru-buru mengalihkan pandangan.

Keonho tersenyum, senyum yang sama seperti yang selalu ia tunjukkan kepada orang-orang.

Aneh.

Saat ini, ia merasa senyum itu seolah memang hanya ditujukan untuknya.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia buru-buru berdeham lalu menunduk mengambil buku di atas meja.

“Makasih…”

Seonghyeon menarik napas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya.

“…udah mau dengerin.”

Keonho tertawa pelan.

“Kirain lo bakal ngehindarin gue terus.”

“Enggak.”

Jawaban itu keluar begitu cepat dari mulutnya. Ia menggaruk tengkuknya yang terasa panas.

“Maksud gue… gue bakal coba.”

Senyum Keonho melebar.

“Berarti besok kita ngobrol lagi?”

Seonghyeon menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Iya.”

“Beneran?”

“Iya, Keonho.”

Mendengar namanya disebut, Keonho tampak sedikit tertegun. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Notes:

wrote this as a little reminder: someone else’s light doesn’t make yours any less bright ^_^