Work Text:
Sinar matahari sore menyelinap di antara pepohonan yang mengelilingi area fakultas. Euforia lega para mahasiswa yang telah menyelesaikan ujian sudah reda sejak satu jam yang lalu. Kebanyakan dari mereka sudah pulang. Hanya terdapat tiga sampai lima orang yang masih berada di sana.
Seonghyeon duduk di undakan tangga dekat lobby fakultasnya. Ia berkali-kali melihat notifikasi ponsel lalu mendengus kasar. Hanya terdapat beberapa notifikasi grup kelas yang tak ingin ia buka. Beberapa panggilan telepon sudah dilakukan, tetapi tetap tidak ada jawaban.
Kakinya mulai terasa kebas karena sudah sejam ia menekuk kakinya duduk di undakan tangga.
“Seonghyeon?”
Ia menolehkan kepalanya ke arah asal suara. Sosok kakak tingkatnya, James, terlihat sambil menggendong tas ransel di punggungnya.
“Ngapain lo? Gila, dari tadi lo kelar ujian sampe sekarang kelar gue rapat pengawas, lo masih di sini?”
Seonghyeon menggaruk tengkuknya sambil tersenyum tipis. James yang tadi sempat menjadi pengawas ujian di kelas sebelah berjalan ke arahnya.
“Gue nunggu dijemput, Kak.”
“Dijemput Keonho?”
Seonghyeon mengedikkan bahu pertanda setuju. James menatap Seonghyeon tak percaya. Ia melihat ke arah jam tangannya.
“Wah, kacau, nih, orang. Udah di mana emang dia?”
Seonghyeon mengangkat kedua bahunya. Ia menunjuk ponsel yang sedang digenggamnya.
“Gak dibales-bales sama Abang, Kak.”
“Udah balik sama gue aja, yuk.”
Tatapan ragu menghiasi wajah Seonghyeon. Keonho sudah berjanji akan menjemputnya setelah ia menyelesaikan ujian. Akan tetapi, ia juga kesal karena telah menunggu selama satu jam tanpa diberikan kejelasan. Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan.
“Yaudah deh, Kak.”
Kemudian, Seonghyeon mengikuti langkah James menuju parkiran mobil yang tidak jauh dari sana. Setelah sampai, James membuka pintu belakang lalu melempar tasnya asal.
“Tas lo taro di belakang juga aja, kalo mau.”
“Gausah gapapa, Kak. Gue pangku aja.”
Selanjutnya, mereka masuk ke mobil dan meninggalkan area fakultas. Seonghyeon membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Keonho.
Aku pulang sama Kak James.
Ia mendesah pelan sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menatap jendela di sampingnya dengan tatapan sayu.
Sejujurnya, ia sudah sangat menantikan waktu ujian selesai karena mereka sudah membuat janji untuk pergi bersama. Sebelum ujian tadi, hatinya terasa ringan karena Keonho mengantarkannya. Namun, mengapa sekarang hatinya dibuat kembali berat?
“Seonghyeon?”
Tepukan di lengan kanan membuat Seonghyeon tersentak dari lamunannya.
“Muka lo lesu banget.”
Seonghyeon tersenyum kikuk.
“Belom ada kabar juga emang?”
Ia mendesah panjang sambil menggeleng. Bibirnya mengatup rapat, berusaha menahan kecewa yang menjalar di hatinya.
“Kemana ya, ketiduran kali dia. Yaudah, sekarang yang penting lo gue anter pulang, daripada masih di sana. Apart lo masih sama, kan?”
Seonghyeon mengerakkan bahu tanda setuju. Ia menolehkan kepala ke arah James dan menyunggingkan senyum.
“Makasih banyak ya, Kak.”
“Santai aja.”
——
Tepat setelah ia menaruh tasnya di atas meja, ponsel yang berada di dalamnya bergetar. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan melihat nama Keonho tertera di layar.
Ia memutar kedua matanya kesal lalu memencet tombol merah. Setelahnya, ia membuka ruang obrolannya dengan Keonho.
Aku udah di apart dan aku kesel sama Abang.
Tak sampai semenit, ponselnya kembali bergetar. Keonho kembali meneleponnya. Seonghyeon menggaruk kepalanya kasar. Ia memandangi layar ponselnya selama lima detik sebelum kemudian mengangkatnya.
“Halo Sayang, maaf aku ketiduran di apart Martin.”
Seonghyeon menutup kedua matanya sembari menggumam panjang.
“Sayang, aku minta maaf. Aku ke kamu, ya. Langsung marahin aku aja, nanti, ya? Jangan diemin aku, ya?”
Seonghyeon akhirnya bergumam tanda setuju lalu buru-buru menutup panggilan telepon. Ia menyalakan televisi untuk mengisi keheningan sambil berusaha menenangkan kecamuk hatinya.
Tak sampai dua puluh menit, terdengar ketukan pelan di pintu. Samar-samar terdengar suara Keonho memanggil-manggil namanya dari luar. Lebay banget sumpah, batinnya.
Ia membuka pintu apartemennya dan mendapati sebuket bunga berada pada pandangannya. Di sampingnya juga terdapat plastik berisi satu kotak aluminium foil yang isinya tidak bisa diketahui.
“Sayang, maafin aku. Aku ketiduran.”
“Masuk dulu.”
Keonho berjalan masuk lalu menaruh bawaannya di meja. Setelah Seonghyeon mengunci pintu, ia memegang kedua tangan Seonghyeon erat dan menatap lekat wajahnya.
“Sayang, kamu tadi nunggu lama, ya? Maaf ya, Sayang.”
Sebelum Seonghyeon sempat mengeluarkan kata, Keonho menariknya duduk di sofa. Ia membuka kotak aluminium yang ternyata berisi dimsum mentai. Ia mengambil sumpit yang berada di plastik dan mengambil sebuah dimsum lalu mengarahkannya ke mulut Seonghyeon.
“Makan dulu, Sayang. Aku yakin kamu laper karena nunggu aku, apalagi abis ujian.”
Tawa pelan tak tertahan keluar dari Seonghyeon. Walaupun rasa kesal masih mengendap, tak dapat dipungkiri bahwa perutnya memang belum diisi sejak tadi. Ia membuka mulutnya dan Keonho menyuapinya dengan lembut.
Setelah Seonghyeon selesai memakan dimsumnya, Keonho berdiri membuka kulkas dan mengambil botol air yang biasa diminum oleh Seonghyeon lalu menyodorkannya. Seonghyeon meneguk air tersebut lalu berdeham. Ia menunduk, memainkan tutup botol minumnya.
“Abang, walaupun aku udah makan, rasa kesel aku masih sama. Aku tadi hampir nangis karena chat aku gak ada yang dibales, telpon aku gak ada yang diangkat.”
Keonho mengelus kedua pipi Seonghyeon dengan tangannya lembut.
“Iya, aku salah, Sayang. Terus, apalagi yang kamu rasain?”
Seonghyeon menatap kedua mata Keonho.
“Aku kesel soalnya pas sebelum ujian semuanya kayak baik-baik aja, tapi pas setelah ujian Abang malah ngilang. Kayak aku diterbangin terus abis itu dijatohin lagi.”
Keonho mengelus ujung mata Seonghyeon yang terlihat mulai mengeluarkan air mata.
“Iya, Sayang. Aku kalau jadi kamu juga pasti ngerasa hal yang sama. Maaf ya, Sayang.”
Ia lalu mengecup kening kekasihnya, kemudian mengecup kedua matanya.
“Yaudah, kalo Abang tadi ketiduran, gapapa.”
Keonho menyunggingkan senyum.
“Aku pangku, boleh?”
Seonghyeon mengangguk malu.
Keonho mengangkat tubuh Seonghyeon lalu mendudukkannya di pangkuan. Seonghyeon langsung memeluk erat tubuh Keonho di hadapannya. Kepalanya menelusup ke ceruk lehernya dan bersandar nyaman di sana. Keonho membelai rambut Seonghyeon dengan perlahan.
“Makasih ya, Sayang, udah maafin aku.”
Dari ceruk lehernya, Keonho merasakan anggukan kepala Seonghyeon. Keonho tertawa gemas. Ia mengambil kepala Seonghyeon, menangkup wajahnya, dan mendekatkan wajahnya.
“Boleh cium?”
Seonghyeon tak menjawab. Ia justru maju lebih dulu, mengecup bibir Keonho singkat. Kecupan itu cukup seharusnya. Namun ketika Seonghyeon hendak menjauh, Keonho menahan jarak di antara mereka. Bibir mereka kembali bertemu, kali ini lebih lama, lebih pelan. Setelahnya, Keonho memperdalam ciuman mereka. Seonghyeon mengikuti irama pagutan bibir Keonho. Tangannya ikut bergerak memegang rambut belakang Keonho.
Saat napas mereka hampir habis, Seonghyeon memundurkan wajahnya terlebih dahulu. Ia merasakan sensasi hangat dari ujung leher hingga seluruh wajahnya. Keonho tersenyum melihat Seonghyeon yang tampak malu.
“Sayang, aku boleh jujur, gak?”
Seonghyeon mengangguk sambil meraih poni Keonho dan merapikannya.
“Apa?”
“Aku kayak lagi ciuman sama mayones dimsum mentai.”
Seonghyeon menjewer kedua telinga Keonho dengan kencang.
“Abang!”
