Chapter Text
Napas Jiseok tersengal-sengal, sementara otot-otot kakinya seakan berteriak ingin menyerah. Dalam hati, ia tak berhenti merutuki dirinya sendiri yang dua bulan lalu membiarkan ego mengambil alih akal sehat.
Ini semua dimulai setelah acara lari sepuluh kilometer beberapa bulan lalu. Hari itu, Jiseok berhasil mencatatkan waktu 58 menit 33 detik, sub 60 menit, lebih cepat dari target pribadinya. Yang paling penting, catatan waktunya empat puluh detik lebih cepat daripada sahabatnya, Jooyeon, seorang pelari yang bahkan sudah pernah menaklukkan jarak marathon.
Hal ini membuat ego Kwak Jiseok melambung setinggi harapan orang tua dan menjadi orang paling tengil sedunia. Jooyeon sudah lelah melihat tingkah tengil sahabatnya dan memberikannya sebuah tantangan. Simpel saja, selesaikan jarak half marathon di bawah dua jam, dan siapa yang bisa finish lebih cepat, boleh meminta satu barang dari wishlist-nya yang akan dibelikan oleh yang kalah.
Tantangan itu langsung ia terima tanpa berpikir panjang.
Masalahnya, ketahanan tubuhnya sebenarnya masih payah. Betul, ia memang bisa menyelesaikan jarak sepuluh kilometer lebih cepat dari Jooyeon. Tapi, catatan waktu itu ia raih dengan megap-megap, keliyengan, dan otot hamstring yang sudah hampir menyerah, lalu, sekarang ia ingin menyelesaikan jarak yang lebih dari dua kali lipatnya. Di bawah dua jam pula. Kesambet apa ya gue waktu itu?
Sejak hari itu, hampir setiap pagi Jiseok bangun ketika matahari pun masih enggan menampakkan diri. Dengan windbreaker kebesaran, sepatu lari yang sudah mulai buluk, dan playlist Green Day yang terus diputar berulang-ulang, ia menyusuri jalanan Yeonhui-dong yang masih lengang. Target latihan hari ini: tujuh kilometer di bawah tiga puluh enam menit. Tempo session.
Setelah selesai berlari, seperti biasa, Jiseok berjalan ke bangku kayu di depan Hongjecheon. Ia meluruskan kakinya dan menghirup napas panjang. Napasnya masih tak teratur dan tenggorokannya terasa kering, tetapi pemandangan di depannya berhasil membuatnya berhenti sejenak. Pemandangan yang telah menjadi kesehariannya setelah berlari, namun pesonanya tetap memukau. Air mengalir tenang di antara bebatuan, memantulkan cahaya matahari pagi. Damai.
Lalu, ia membuka ponselnya. Jempolnya otomatis menekan kontak yang selalu berada di paling atas. Udah bangun belum ya pacarku? Tak lama ia menunggu hingga panggilan videonya diangkat.
Di layar muncul wajah kekasihnya yang masih jelas baru bangun tidur. Rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam, bahkan ia masih sempat menguap lebar. Lucu banget. Jiseok tak bisa menahan senyumnya.
"Morning, kakak Jungsu!" sapanya ceria, "Baru bangun banget, ya?"
Jungsu merespon dengan bergumam pelan. Matanya memicing, berusaha menangkap pixel gambar dari layar ponselnya. "Oh, Hongjecheon? Larinya udah selesai, sayang?"
Sudah setahun mereka bersama, tapi hati Jiseok masih saja berdesir kalau ia mendengar panggilan sayang keluar dari mulut kekasihnya, "Iya, lumayan 7 km tadi. 35 menit lebih dikit."
Jiseok bisa melihat senyuman lebar Jungsu. "Ngebut! Kerennya Jiseokie."
"Hampir tinggal nama aku hari ini," keluh Jiseok.
"Jangan ngomong gitu ah, nanti aku sedih," Jungsu terkekeh, "Jiseok sayang, mau liat kamunya dong. Jangan liatin air terjunnya terus."
"Aku lagi jelek ah abis lari."
"Kamu gak pernah jelek, matahariku. Ayo balik kameranya."
"Baru bangun udah gombal aja," Jiseok menahan agar tidak senyum-senyum, dan ia membalik kamera, "Nih."
"Tuh kan, matahariku manis banget."
Jiseok tertawa. Obrolan mereka terus berlanjut, melompat dari satu topik ke topik lain. Jungsu bercerita tentang mimpinya semalam yang aneh, Jiseok bercerita tentang kucing yang ia temukan di jalan. Mirip kakak!
Mereka baru mengakhiri panggilan ketika mereka sadar harus bersiap berangkat kerja. Sebenarnya, ia ingin sekali lari pagi bareng Jungsu. Bagi Jiseok, ada sesuatu yang begitu menenangkan dari lari pagi. Ia menyukai jalanan yang masih sepi, udara pagi yang sejuk, kicauan burung yang mulai bersahutan, sambil menyusuri aliran sungai yang tenang. Dunia terasa berjalan lebih lambat sebelum semua orang benar-benar terbangun. Pasti lebih menyenangkan lagi kalau ia ditemani Jungsu.
Sayangnya, lari pagi menggabungkan dua hal yang paling tidak disukai kekasihnya itu yaitu bangun sebelum matahari terbit dan berlari. Tapi, tak apa. Selama ia masih bisa menelpon kekasihnya ketika atau setelah berolahraga dan mengoceh, bagi Jiseok, itu cukup.
Jiseok meregangkan leher dan punggungnya. Bunyi kretek kretek langsung memenuhi apartemen studionya. Ia memejamkan mata selama beberapa detik sebelum kembali menatap layar laptop. Ia memijat tengkuknya sejenak, lalu pandangannya melirik ke angka di sudut kanan layar laptopnya.
22.31. Ia menguap lebar. Dokumen presentasi untuk rapat besok akhirnya selesai juga. Oke, saatnya tidur. Ia menjatuhkan diri ke kasur dan meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka aplikasi WhatsApp. Chat paling atas yang ia sematkan masih belum dibalas. Sudah hampir tiga jam sejak pesan terakhir yang ia kirim. Semangat kerjanya, jangan lupa makan malem kakak!
Kekasihnya memang sedang amat sibuk pekan ini. Ia sedang disibukkan dengan persiapan transaksi rights issue untuk salah satu konglomerat yang sangat menyita waktu, dan tentunya merenggut waktu mereka untuk saling mengasihi. Tak apa. Jiseok bukan tipe pacar yang harus dikabari setiap lima menit. Selama Jungsu sempat memberi tahu kalau ia akan sibuk atau sulit dihubungi, Jiseok tak masalah. Mereka sudah lama sepakat soal itu.
Lalu, sebagai bagian dari aktivitas wajibnya yaitu doomscrolling sebelum tidur, sebuah kebiasaan buruk, memang, ia membuka Instagram dan melihat update story terbaru dari @jjooyeon. Sebuah foto Sungai Han dengan tempelan Strava 17 km dan pace 5.47 serta tulisan 'evening easy run' di bawahnya.
Ia mendengus dan langsung membalas story temannya, Mana ada 17 km easy run.
Buat gue sih easy ya :P dibalas oleh Jooyeon.
Jiseok tertawa kecil dan merespon temannya, Banyak gaya anjir.
Setelah merasa puas menggulir di media sosialnya, Jiseok memejamkan mata dan berusaha untuk pergi ke alam tidur, namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan baru dari kekasihnya!
Kakak 😺
[Sent 1 photo]
Baru selesaiiiii
Kamu udah tidur ya?
Ia membuka foto yang dikirim. Kakaknya masih mengenakan kemeja kerja dengan latar belakang ruang perkantoran, rambut sedikit berantakan, bibir mengerucut manyun, dan mata sayunya jelas menunjukkan kelelahan. Loyo, tapi entah bagaimana tetap terlihat sangat tampan.
Jiseok
Yay you worked hard kakak!!
Beloooom
Kakak 😺
Kangen
Mau ketemu kamu
Huhu udah lama banget ga ketemu kamu aku lupa mukamu kayak gimana
Jiseok
??? stop lebay weekend kemarin kita ketemu
Kakak 😺
Jadi kamu gamau ketemu aku 🙁
Jiseok
Mau banget
Sini lah sayang
Kakak 😺
Hehehehe
Aku meluncur tunggu aku!!!
[Sticker sent]
Jiseok menertawakan stiker kucing lari yang dikirim pacarnya, yang lucunya sangat mirip dengan si pengirim. Ia langsung bangkit dari kasurnya dan merapikan kamar seadanya lalu memungut gelas kosong di meja. Lalu, ia membuka aplikasi pesan-antar makanan dan memesan seporsi besar sup ayam hangat. Siapa tahu kekasihnya belum sempat makan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, bel apartemennya berbunyi. Jiseok membuka pintu dan mendapati kurir berdiri sambil membawa kantong makanan.
"Terima kasih!"
Baru saja ia hendak menutup pintu, suara langkah kaki terdengar dari lorong apartemen. Kekasihnya muncul, berjalan menyusuri lorong dengan wajah lelah yang sama persis seperti di foto tadi. Kurir itu melirik bergantian ke arah Jiseok dan Jungsu, lalu tersenyum kecil.
"Kakaknya baru pulang kerja dibeliin adeknya makan, ya?" tanya kurir tersebut, mungkin sekadar basa-basi.
Jiseok malas menjelaskan panjang lebar, jadi ia jawab singkat saja. "Iya."
Ia membiarkan Jungsu masuk ke dalam apartemen dan segera menutup pintu. Ia menoleh ke arah Jungsu yang sejak tadi sudah menahan tawa.
"Gak salah juga, sih, adeeeek," kata Jungsu terkekeh, "Kamu kan emang panggil aku kakak."
Tanpa berkata apa-apa, Jiseok langsung melangkah mendekat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Jungsu. Yang dipeluk langsung tersenyum dan menariknya lebih dekat, lalu mengecup lembut kening Jiseok.
"Aku kangen kamu banget," bisik Jungsu manis.
Jiseok melepaskan pelukan mereka dan tersenyum. "Kakak, udah makan?"
Sebenarnya, Jungsu tadi sudah mengganjal perut dengan sandwich ayam, jadi ia tidak terlalu ingin makan. Tapi mengingat Jiseok sengaja memesankan makanan untuknya, ia tak tega menolak.
"Belom," ia berbohong sedikit, "Lapeeeer."
Mata Jiseok langsung berbinar. "Makan dulu. Ini aku beliin sup ayam."
Mereka kemudian duduk berdampingan di meja makan kecil dekat dapur. Jiseok menuangkan sup ayam ke dalam dua mangkuk. Obrolan mereka ringan, tentang hari yang melelahkan, rekan kerja yang aneh bin ajaib, dan video-video kucing atau video aneh lainnya yang muncul di laman Explore. Seluruh rasa lelah rasanya luruh ketika mereka bersama, meski hanya mengobrol ngalor ngidul saja.
Begitu selesai makan, Jungsu otomatis mengangkat kedua mangkuk ke wastafel. Jiseok hendak ikut mencuci, tetapi tangannya malah ditepis pelan.
"Kamu yang beli makanannya. Jadi, aku yang nyuci," ujar Jungsu.
"Kok gitu. Aku bantu ngelap deh."
"Oke, Jiseok…"
Pada akhirnya, Jungsu mencuci mangkuk, sementara Jiseok mengelapnya hingga kering. Dalam beberapa menit, dapur kecil itu kembali rapi. Setelah bersih-bersih dan mandi, Jungsu masuk ke kamar Jiseok dan melihat pacarnya sudah nyaman di kasur. Ia menjatuhkan dirinya di sebelah kekasihnya, dan Jiseok otomatis bergeser mendekat dan memeluk erat pacarnya.
"Maaf ya aku ngerepotin. Kamu jadi beliin sup malem-malem gini," ucap Jungsu pelan.
"Ih, aku bete loh kalo kamu ngomong gini," balas Jiseok yang langsung melepaskan pelukannya.
Jungsu hanya tersenyum canggung. Yang lebih muda mengembuskan napas pelan, tangannya terangkat. Ia menatapnya lekat-lekat sambil mengusap lembut pipi Jungsu.
"Aku kan udah bilang, kamu tuh gak ngerepotin aku. I want to take care of you, kakak. Kalo kamu sibuk dan kangen pengen recharge energy, aku akan peluk kamu terus. Kamu boleh repotin aku terus, aku malah seneng."
Pipi Jungsu menghangat. Ia masih ingat jelas awal-awal mereka baru menjalin hubungan. Waktu itu, setiap kali pekerjaannya menumpuk atau pikirannya terlalu penuh, ia akan menghilang dan mengisolasi diri. Ia hanya ingin sendiri, karena ia tak mau merepotkan orang lain dan enggan untuk menceritakan apa yang ia alami karena ia rasa tak ada yang bersedia untuk mendengarkan hal-hal yang ia pendam dalam-dalam.
Butuh waktu bagi Jungsu untuk belajar bahwa dicintai berarti juga membiarkan seseorang ada untuknya. Bahwa tak apa untuk bersandar dan tak memendam semuanya sendirian, tak apa untuk berhenti berpura-pura baik-baik saja, dan tak apa memperlihatkan sisi dirinya yang paling rapuh kepada kesayangannya.
"Makasih ya, sayang. Makasih udah selalu baik sama aku… Makasih udah mau aku repotin… Makasih udah selalu nemenin aku… Aku beruntung banget deh disayang kamu gini," Jungsu mengusap pelan rambut kekasihnya.
Tangannya menangkup kedua pipi Jiseok dengan begitu hati-hati, seolah memegang sesuatu yang paling berharga di dunia. Memang benar. Jiseok adalah matahari yang menerangi dunianya. Lalu, ia mendekat dan mengecup bibir Jiseok perlahan. Bukan ciuman yang penuh hasrat atau tergesa-gesa. Hanya kecupan lembut yang menyampaikan perasaan yang tak selalu mampu ia ucapkan dengan kata-kata.
Saat mereka berpisah, kening mereka tetap saling menempel.
"Aku sayang banget sama kamu," bisik Jungsu.
Jiseok tersenyum, "Aku lebih sayang. Yuk, tidur, kamu capek banget pasti."
"You worked hard today too, Jiseokie sayang. Good night."
Suara nyaring alarm memecah keheningan apartemen, membawa Jiseok kembali dari alam mimpi ke realita. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Kantuk masih menguasai dirinya. Lalu, ia menyadari ada yang berbeda dari biasanya.
Tubuhnya terasa lebih hangat. Ia membuka mata, dan alih-alih melihat kasur kosong, ia disambut dengan pemandangan Jungsu yang masih tertidur pulas dengan wajah yang tampak begitu damai di sebelahnya, dengani satu lengannya melingkari pinggang Jiseok.
Tanpa ia sadari, senyum mengembang di wajahnya. Rasanya ia ingin menutup mata lagi. Menarik selimut, mendekap kucing bongsor ini lebih erat, lalu menghabiskan pagi dengan bermalas-malasan bersama kekasihnya. Tanpa ada latihan lari ataupun berangkat kerja.
Ugh. Tapi, Jiseok selalu menganggap dirinya a man of his words. Ia sudah berkomitmen disiplin dengan training block ini. Ia tak bisa mengingkari komitmennnya sendiri. Dengan hati-hati, ia mematikan alarm, lalu perlahan mengangkat lengan Jungsu dari pinggangnya. Ia bergerak begitu pelan agar tidak membangunkan laki-laki itu.
Baru saja Jiseok duduk di tepi ranjang dan hendak berdiri, ia merasa ada yang menarik ujung kaosnya.
"...Jiseokie…"
Namanya dipanggil lirih. Jiseok menoleh. Jungsu bahkan belum benar-benar membuka mata, tetapi satu tangannya menggenggam ujung kaus Jiseok erat.
"Sayang... mau ke mana...?" tanya Jungsu dengan suara serak.
Jiseok tidak bisa menahan senyum, "Aku mau lari."
"Hng…" Jungsu merengek kecil, "Jangan tinggalin aku…"
Jiseok terkekeh, "Ngomong apa sih kamu kak. Sejam aja kok, abis itu aku balik."
"Hmm… aku ikut deh…"
Jiseok mengerutkan dahinya, "Beneran?"
"Iya… Tapi lima menit lagi ya… Masih ngantuk…" Jungsu menguap.
Tawa kecil keluar dari mulut Jiseok melihat tingkah pacarnya. "Enggak ada ya lima menit lagi. Ayo bangun sekarang, Kim Jungsu."
Jungsu membuka sebelah matanya dengan susah payah. Tatapannya masih kosong beberapa saat sebelum akhirnya tertuju pada wajah Jiseok.
"Cium aku dong… biar gak ngantuk lagi…" kata Jungsu.
Bisa aja nih kucing gede. Jiseok akhirnya membungkuk dan mengecup pelan pipi kiri Jungsu.
Cup. Senyum lebar langsung menghiasi wajah Jungsu, lalu ia menggumam, "Hehe… Dicium ayang…"
Beberapa detik kemudian, ia langsung membuka mata, lalu bangkit dari tempat tidur dengan semangat yang entah datang dari mana.
"Oke! Jiseokie, ayo kita lari!"
