Work Text:
Siapapun tolong tarik Mayuzumi Chihiro keluar dari lingkaran setan ini. Oh, well, bukan lingkaran setan secara literal; tapi, astaga, meja nomor tiga belas di kafetaria Rakuzan ini benar-benar membuatnya nyaris gila. Oke, ini memang karena kebodohannya mau menerima tawaran setan-setan kecil—serius, kecil?—yang dijuluki Uncrowned Generals itu untuk makan bersama di waktu istirahat. Sungguh, lelaki pelit ekspresi ini lupa bagaimana bisa ia mengiyakan ajakan tiga idiot ini.
“Fuck, marry, kill.” Mayuzumi memuntahkan jus jeruk yang tengah diteguknya. Oh, Buddha. Tidak, tidak, tidak. Lelaki berambut abu ini sudah kapok berurusan dengan trio ini, oke? (ayolah, siapa yang tidak malu diteriaki pernah masturbasi sambil memegang figura cewek dua dimensi?!) dan, sekarang—“Higuchi, Sei-chan, Shirogane-san!”
Ya ampun! Otak mereka sudah sinting! Tadi—tadi sekali, mereka memaksa Mayuzumi ikut serta bermain permainan konyol truth or dare (yang berakhir dengan membeberkan fetishnya terhadap karakter dua dimensi, meski ia tidak mengatakan apa-apa) dan kali ini mereka memainkan permainan bodoh dan tidak berguna ini. Mayuzumi ogah ikutan. Nope. Nah.
Mibuchi meliriknya kemudian. Mayuzumi segera membuang muka, tapi, sial, tiga kata itu keluar dari mulut Mibuchi lebih dulu—
“Mayuzumi, kau jawab duluan."
Mayuzumi mengernyit dan—terpaksa ia meladeninya.
“Hah? Kenapa harus aku? Kalian saja, aku tidak." dasar bocah kurang kerjaan. Sumpah, ia ingin segera melarikan diri dari sana—tapi jangan lupa dia duduk di sebelah manusia berkekuatan gorilla.
Mibuchi mendecak. “Ah, payah,” keluhnya, kemudian menatap dua temannya yang lain, melanjutkan, “Kotaro? Eikichi?”
Ketika tadi Mibuchi meliriknya, bulu roma di sekujur tubuh Mayuzumi meremang. Tetapi, lelaki penggila kusaya ini tidak habis pikir dengan bocah berambut terang yang duduk di seberangnya itu dengan semangat meladeni permainan konyol ini.
“Oke! Aku! Err ..., fuck Shirogane-san, marry Higussan, kill Akashi. Aaaaaah, aku tidak sanggup membayangkan bagaimana kejamnya Shirogane-san di tempat tidur!!!”
Idiot. Otak Hayama memang sungguhan tumpul. Yah, kalau tidak sanggup membayangkan, kenapa memilih? Dan, tunggu. Mayuzumi baru sadar, kenapa pilihannya cowok semua?!
“Wah, kau masokis, Kotaro?” ejek Nebuya setelah melahap tiga dango sekaligus.
“Aku tidak!!!”
“Sekarang giliranku,” kata Mibuchi yang membuat Hayama berhenti melempar kentang goreng pada Nebuya. Ia menyeruput minuman karbonasinya, kemudian melanjutkan, “Fuck Sei-chan, marry Shirogane-san, kill Higuchi. Kalian tidak tahu kalau Sei-chan itu fuckable? Oh my god—“
Mayuzumi tersedak lagi, terbatuk-batuk.
“Kau tidak apa-apa, Mayuzumi?” tanya Nebuya sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan keras sekali. Sialan. Ini karena mendengar Akashi itu fuckable—serius? Ugh.
“Sakit, bego!” Mayuzumi menyingkirkan tangan Nebuya dari punggungnya.
“Nah, giliranmu, Mayuzumi-san.” Tiga pasang mata menatapnya sekarang.
Lelaki yang paling tua di antara tiga orang itu mengibas-ngibaskan kedua tangannya, “Eh, aku bilang ‘kan nggak ikutan!”
“dan kau mau membayar semua makanan yang kami pesan? Eikichi memesan sepuluh porsi don, lho,”
Argh, Mayuzumi tidak mau berurusan dengan bocah-bocah tengik ini lagi. Tidak, terima kasih.
“Sialan kalian semua!” Mayuzumi merogoh dompetnya dan, well, terpaksa ia ikut dalam permainan ini. “Oke, tapi Nebuya dulu.”
“Oh, iya, Ei-chan ‘kan belum!”
“Hah? Aku? Kalau begitu fuck Higuchi, marry Akashi, kill Shirogane-san,” jawab Nebuya, kemudian bersendawa panjang dan keras. “Sekarang kau, Mayuzumi.”
Mibuchi, Hayama, dan Nebuya menatapnya antusias. Serius, Mayuzumi ingin meninju mereka semua.
Cowok delapan belas tahun ini menghirup napas dalam, kemudian, “Fuck Kaguya-chan, Ringo-tan, Sasha. Marry Kaguya-chan, Ringo-tan, Sasha. Kill Akashi, Higuchi, Shirogane.” Mayuzumi akhirnya membuka mulut, tapi hanya untuk dilempari gumpalan tisu-tisu kotor oleh Mibuchi.
“Bukan itu pilihannya, Mayuzumi!”
Ck. Trio idiot ini benar-benar merepotkan.
“Fuck Aka—God help me,” Mayuzumi mengerang, membenamkan wajahnya di tangan. Tidak, dia tidak bisa melanjutkan. Astaga. Lebih baik lelaki ini membayangkan dicium oleh cewek random di comiket daripada harus err ..., ugh, fuck his chunnibyou captain—really?! Oke, ini cuma permainan dan, oh, ya Tuhan, tidak usah dianggap serius. Akan tetapi, membayangkan Akashi tanpa busana di tempat tidurnya ... no way in hell. Mayuzumi cowok lurus, oke? Yah, meski ia lebih tertarik dengan gadis dua dimensi, sih. Pokoknya dia itu hetero. Titik. (Oh, ayolah, dia cuma menyangkal—padahal, Akashi pernah muncul di mimpi basahnya, pfft.)
“Fuck Sei-chan, Mayuzumi?”
Mayuzumi membuat suara gerutuan di balik telapak tangannya.
“Sudah kubilang ‘kan kalau Sei-chan itu fuckable!”
For fuck’s sake, hentikan. Dan jangan sebut Akashi dan kata fuck dalam satu kalimat, tolong. Mayuzumi pernah melihat kaptennya itu setengah telanjang seminggu lalu, di loker setelah latihan basket untuk Inter-high. Cowok yang gemar membaca novel ringan ini tahu pasti bagaimana lekuk tubuh Akashi di balik jersey atau seragam Rakuzan yang selalu dipakainya; bagaimana lekuk pinggangnya; bentuk bokong—JFC! Tuh ‘kan, dia butuh mandi es secepatnya.
“Aku harus ke kelas. Ada kuis fisika setelah ini.” Mayuzumi nyaris beranjak dari bangkunya, tapi tangan Nebuya sudah lebih dulu mencengkramnya. Sialan. Ia terpaksa kembali menyimpan bokongnya di bangku.
“Fuck Akashi, marry, kill, siapa?” tanya Mibuchi dan ketiga imbisil ini menatapnya intensif sekarang.
Mayuzumi membenturkan kepalanya ke meja secara imajiner, karena, serius, bisa sinting dia kalau terus menerus mengikuti permainan konyol mereka.
“Fuck Akashi, marry Higuchi, Kill Shirogane. Puas?”
Pemain nomor lima Rakuzan ini berani sumpah kalau Mibuchi tengah menyeringai, Hayama nyengir macam orang tolol, dan, ck, masa bodoh dengan Nebuya—dia cuma menghabiskan sisa makanannya. Well, perasaanya mengatakan ada sesuatu yang kurang baik. Tetapi, Mayuzumi hanya menggerlingkan kedua matanya dan segera bangkit dari bokong untuk meninggalkan ketiga temannya.
“Bagaimana, Kotaro?”
“Roger. Aku sudah merekamnya, Reo-nee!”
Mayuzumi yang kepalang berdiri dan sudah melangkah beberapa langkah dari meja, kemudian berbalik ke arah mejanya lagi—rekam apa?
“Hai, Mayuzumi-san. Kami merekam omonganmu tadi dan bakal kami kirim ke Akashi, Higussan, dan Shirogane-san, hehehe,” ucap Hayama polos—atau kelewat bodoh—sampai Mibuchi refleks memukul kepalanya.
Tampang Mayuzumi yang semula datar dan masa bodoh, kini merah karena marah dan terlihat jelas guratan siku-siku di pelipisnya.
“What the fuck—“ Mayuzumi tidak tahu harus apa selain mengumpat begitu ketiga kouhainya melesat dari meja.
Sialan.
Catat ini baik-baik: Mayuzumi Chihiro bersumpah tidak mau lagi makan siang bersama mereka. Pokoknya, ogah. Ugh.
