Actions

Work Header

a trace that fate left behind.

Summary:

Sadewa Sagara punya kemampuan, atau kutukan, melihat benang merah yang katanya menautkan setiap satu jiwa pada jiwa yang lain dalam takdir yang saling terkait. Ironisnya, walaupun punya kemampuan (kutukan) itu, Sadewa tidak bisa melihat ujung benang merah miliknya sendiri. Sadewa pikir mungkin benang merahnya cacat atau ia memang tidak punya orang untuk berbagi takdir. Sebentar, Sadewa. Benarkah begitu?

ㅡ BeerLens: Sadewa Sagara x Nakula Nalendra Fanfiction.

Notes:

Disclaimer: semua talent milik diri mereka sendiri dan PANDAVVA, saya tidak mendapatkan profit komersial dengan mengetik fanfiksi ini.

Fanfiksi ini saya dedikasikan untuk mengikuti Event: Fishing Fluff (BeerLens Fluff Week 2026) by X @IKNRCNG dengan Sadewa Sagara sebagai centernya. Honorable mention untuk akun pusat kolam iwak, terima kasih banyak sudah bikin challenge ini!

Chapter 1: at first glance, a missing puzzle piece.

Summary:

Benang merah itu biasanya menjuntai lemas di kelingking. Ujungnya buntu tanpa ada kepastian, sehingga kerap kali diabaikan. Namun hari itu, kenapa benang ini seolah menariknya? Ke mana? Lebih penting lagi, pada siapa?

ㅡ [Prompt Day 1 : Red String]

Chapter Text



Sadewa meregangkan lehernya yang kaku sambil berdesis pelan, lelaki itu menyeret kakinya dan menatap koridor dengan perasaan pusing dan juga suntuk. Rasanya ia rentan memaki hari ini.

Jam tidurnya sungguh kacau sementara deadline olimpiade fisika sudah dekat, ia harusnya mulai istirahat namun pembimbingnya malah memberikan setumpuk latihan soal yang harus ia tuntaskan dalam waktu satu malam. Demi Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, Sadewa Sagara tidak berminat jadi penerus. Ia hanya murid sekolah menengah atas yang kebetulan senang mengerjakan soal fisika dan terseret dengan embel-embel dispensasi dari kelas untuk pengayaan harian.

Walaupun lelah, Sadewa sungguh tidak bisa beristirahat dengan tenang dan segalanya terasa salah. Kekesalan agaknya menumpuk berat kali ini. Mungkin ini dipengaruhi insomnia yang ia alami dan perasaan kosong tidak jelas saat memulai tahun pertama sekolah menengah atas, yang kemudian memberat seiring waktu tanpa tahu apa penyebabnya.

Ia sudah berkonsultasi dengan dokter dan hanya didiagnosis insomnia kronis, obatnya jarang ia minum karena menyebabkan mengantuk pada pagi hari dan kemampuan konsentrasinya buruk. Sadewa juga tidak mengerti kenapa, namun katanya, ini berkaitan dengan benang merah yang terlilit di kelingkingnya, benang yang tidak kunjung menemukan sambungan atau ujungnya.

Konon, hanya beberapa orang yang dikaruniai kemampuan untuk melihat benang merah, dan Sadewa salah satunya. Entah ini memang benar terjadi atau hanya mitos belaka, kemampuan ini disebutkan turun-temurun secara acak, bahkan orang tua Sadewa tidak punya kemampuan untuk melihat benang takdir tersebut.

Sungguh ironis, bukan? Yang bisa melihat benang merah itu bahkan tidak pernah melihat ujung benangnya sendiri.

Awalnya, Sadewa pikir, semuanya akan berjalan normal jika ia segera menemukan belahan jiwanya, pemilik ujung benang merahnya. Ia menanti, penuh antisipasi dan pengharapan, dan hanya untuk dikhianati ekspektasinya sendiri. Sekarang, Sadewa pikir semuanya aneh dan tidak rasional. 

Atau mungkin memang benang merah ini tidak pernah memiliki ujung.

Namun, benang merah juga tidak menjadi jaminan. Sadewa pernah melihat pasangan bertengkar di depan minimarket. Perdebatan mereka begitu alot, bahkan walaupun benang merah mereka terikat sebegitu erat dan dekat. Begitupun dengan pasangan yang menjemput anak mereka di day care, Sadewa melihat benang merah mereka bahkan tidak tersambung satu sama lain. 

Mungkin, benang merah hanyalah faktor pembantu.

"... ya kan? Aku juga lihat tadi saat di depan kantor kepala sekolah, tampan sekali, tapi senyumnya manis–"

Bruk.

"–K-Kak Sadewa?! M-maaf kak! Tidak sengaja!"

Sadewa kembali merasa pusing, sudah ditabrak dua orang, diiringi suara melengking pula. Tuhan. Pecahkan saja kepalanya sekarang. 

Ia baru akan menyuruh diam, namun yang tadi menabraknya sekarang ciut ketakutan dan dengan gemetar menyodorkan barangnya tadi yang jatuh, Sadewa jadi tidak tega. Rasanya seperti adalah serigala yang merundung anak domba dan kelinci yang bahkan baru belajar bergerak. "Hati-hati," ucapnya serak, akibat kurang tidur, lantas menyeret tubuhnya ke kelasnya yang, sial, masih jauh. Sementara dua adik kelas tadi malah kabur terbirit-birit.

"Sadew? Kau oke?"

Teman sebangkunya, Yudistira, sudah di sana sambil mengunyah basreng dan menatapnya dengan alis terangkat naik. Sepagi ini sudah ditemani dengan gitarnya. Alis Sadewa kini berkedut, memohon dengan sangat agar Yudistira tidak melakukan sesuatu dengan gitarnya sebelum Sadewa ambil alih alat musik itu dan memukulkannya sampai patah ke kepala empunya.

Tidak, itu terlalu anarkis. Sadewa memilih diam.

Untungnya Yudistira menaruh gitarnya, kini melipat tangan di depan dada. "Nggak bisa tidur?"

"Harus banget ditanyain yang sudah pasti begitu?"

Yudistira terbahak mendengar nada tanpa kehidupan itu, "Olimpiade terus sih, coba nikmati hidup sesekali."

Sadewa hanya memutar mata sebelum menaruh tasnya dan duduk. "Asyik kok ngerjain soal, tapi pressure-nya yang nggak."

“Cuma kau yang merasa ngerjain soal itu asyik." Yudistira menawari basreng yang segera ditolak oleh Sadewa. Si manik hutan hujan ini lantas menengok ke luar kelas, nampak banyak sekali orang berlalu-lalang. "Rame banget di luar. Kau baru lewat tadi kan? Ada apa? Berantem?"

"Tidak tahu, tidak pengin cari tahu.”

Yudistira mencibir, kemudian menjepit bungkus basreng di tangannya dan ia simpan di bawah laci. Dengan tangan satunya dimana terdapat jari yang tidak kena bumbu, ia mengetik terlalu cepat untuk kapasitas jempol semata. "Kata Juna di kelasnya ada murid baru. Kelasnya lagi rame, denger-denger murid ini cakep banget."

"Hmm."

"Aku mau ke kelas Juna deh, kepo.” Yudistira sepertinya sudah terlalu biasa dengan acuhnya Sadewa, sehingga ia tidak mengambil hati. Ia berdiri dari kursinya dengan cepat sampai terantuk lutut Sadewa. Yudistira lantas meringis minta maaf dengan setengah-setengah mendapati alis Sadewa menukik tajam. “Tidur saja, nanti aku bangunkan saat bel pertama."

Mata Sadewa yang tadinya terpejam, kini terbuka salah satunya."Yakin kau gak bolos?"

"Jatah bolosku sudah habis semester ini, tenang saja. Aku yang bakal bangunin, bukan spidol Bu Naia. Kau sana tidur deh, takut banget abis ini malah merakit bom molotov, atau malah jadi bomnya sekalian."

Sadewa mau melempari Yudistira dengan lembar latihan soal fisika tapi orangnya keburu hilang dari pandangan secepat angin. Ia cuma bisa menarik napas dan berusaha memejamkan mata, menyangsikan ia bisa tidur dengan nyenyak.

Namun nyatanya, ia tertidur.

Rasanya tenang, nyaman yang aneh dan tidak familiar. Menyisipi setiap sela rusuknya dengan gelitikan lembut yang tak mampu ia jelaskan. Tapi alih-alih membangunkan Sadewa, justru ada kehangatan entah darimana yang melingkupinya. Membuainya dalam tidur yang akhirnya terasa menyenangkan. Kosong yang ia kira akan berlangsung selamanya kini pelan-pelan terkikis, seakan menjanjikan sesuatu yang tidak mampu Sadewa terka.

Namun baru saja Sadewa terlena, jari kelingkingnya seolah ditarik sesuatu. Mendesaknya untuk membuka mata, mendesaknya untuk segera berlari menuju arah tarikan. Nampak terburu dan penuh eksitasi yang tiba-tiba dipaksa masuk ke sanubarinya. Begitu tergesa, takut tumpah ruah, takut tidak terbendung lagi. Debaran dadanya melonjak, bergetar begitu magis dan penuh damba hingga Sadewa merinding.

“Sadewa! Bangun! Woi! Bu Naia depan pintu! Bangun, kocak!”

Sial, sekali lagi, sial. Sadewa mendapati dirinya kini terbangun sepenuhnya akibat jambakan seseorang yang ia kenali adalah Yudistira kala matanya terfokus. Sadewa benar-benar hampir mengumpat dengan sepenuh hati walaupun bibirnya mengucapkan terima kasih saat ia mendengar suara Bu Naia samar-samar sedang berbicara dengan ketua kelasnya.

Sadewa memijat keningnya yang kali ini berdenyut, berharap tidak ada rambut rontok yang semakin mempercepat kebotakan dininya sembari meregangkan punggung sejenak. Bertepatan saat ia akan mengambil buku paket di dalam tas, matanya tidak sengaja mengerling ke koridor.

Deg.

Matanya kini terpaku pada sosok yang barusan lewat sekilas, jari kelingkingnya kini kembali bergerak tidak sadar, dan Sadewa benar-benar tidak mempercayai matanya saat ia mendapati benang merah di kelingking yang ia yakin tidak lebih dari tiga sentimeter sebelumnya, kini memanjang menembus dinding kelas. Walaupun Sadewa tidak tahu ujungnya tersangkut pada siapa, namun ia tetap dapat menebaknya.

Seperti kunci yang membunyikan klik saat terpasang pada gembok yang tepat, seperti enzim yang reseptornya saling berikatan, atau kation dan anion yang menyatu untuk menjadi senyawa stabil, layaknya aktualisasi prinsip komplementaritas. Sadewa tiba-tiba merasa utuh, seperti kepingan puzzle yang tidak tahu harus Sadewa cari kemana kini melengkapinya.

Pasti anak baru itu.

Karena selama Sadewa Sagara bersekolah disini, di daerah ini, sejauh ia memutari perumahan ini, ia tidak pernah mendapati benang merahnya menunjukkan tanda bahwa benda itu nyata, karenanya selama ini Sadewa menganggapnya sebagai ilusi optik semata dan mitos belaka.

Dada Sadewa berdebar lagi akan antisipasi yang aneh. Dulu ia begitu mendambakan seseorang yang akan berbagi takdir dengannya, sekarang setelah benang merahnya benar-benar tersambung pada orang lain, kini ia terpaku. Buntu bagaimana harus menyikapi. Dengan semua yang pernah dilihatnya, Sadewa ragu jika benang merah ini memang spesial.

“Sadew,” Yudistira berbisik di balik buku paket yang ia buka hanya untuk menutupi mukanya, sementara ia mengeluarkan ponsel yang disetel mode diam, “mau lihat si anak baru, nggak?”

Rasanya siku Sadewa terpeleset dari tumpuannya di atas meja, hampir saja ia jatuh jika tidak didukung refleksnya. Tubuh Sadewa lumayan tinggi, walaupun ia duduk di belakang, suara jatuhnya sudah cukup membuyarkan konsentrasi satu kelas untuk menertawainya. Tidak, terima kasih. Sadewa tidak mau jadi topik satu bulan dan digoreng Bu Naia selama satu semester.

Mendapati ketiadaan respon, Yudistira hanya mengedikkan bahunya seolah sudah menduga ketidaktertarikan Sadewa. Lagipula ia hanya asal bunyi saja karena kebetulan Arjuna dari kelas sebelah mengirimkan foto si anak baru karena Yudistira penasaran siapa yang bisa bikin satu sekolah gonjang-ganjing.

Ayolah, mana ada anak sekolah yang menganggap anak baru sesuatu hal besar dan menggemparkan? Ini bukan serial drama romantis yang bisa dilihat di televisi ataupun aplikasi berbayar. 

“Mana?”

Yudistira melotot saat Sadewa justru merunduk di sebelahnya. Sejauh yang Yudistira ingat sejak ia satu kelas sejak kelas 10 hingga sekarang masih menjadi teman sebangku Sadewa, ia yakin Sadewa adalah orang yang nihil ketertarikan pada apapun kecuali mengerjakan soal fisika, olahraga, atau mengurung diri di kamarnya yang sudah menjelma seperti perpustakaan pribadi itu saat luang.

Kini Sadewa menampilkan keingintahuannya yang bisa dihitung jari itu?

“Kau aslinya suka kepo kan?” Yudistira tidak tahan untuk tidak berkomentar, sedikit takjub dengan perkembangan baru ini.

“Mau ngasih lihat atau ngatain?”

“Ya, ya, ya, nih, lihat baik-baik karena cuma bisa satu kali pengulangan. Tidak sopan soalnya diam-diam mengambil foto orang lain, jadi habis ini kuhapus.”

“Tahu tidak sopan tapi tetap minta difoto.”

“Aku penasaran, oke? Setelah ini kuhapus kok.”

“Di hape Arjuna yakin bakal terhapus?”

“Jelas, ngapain dia simpan foto orang lain di galeri? Ini saja aku membujuknya setengah mati.”

“Lah, kau tadi ke kelas sebelah, tidak lihat? Matamu kemana?”

“Mataku disini aja, kocak.” Yudistira mulai berdecak, sepertinya ia menyesal tidak menjambak Sadewa sampai botak, “mau dikasih lihat, gak?” 

Sadewa berdeham, malas menanggapi dan Yudistira juga tidak mengharapkan respon lebih jauh sebab toh jika Sadewa mau, ia bisa menengok ke kelas sebelah untuk mengetahui yang mana si anak baru. Ini cuma memuaskan rasa penasaran sesaat. Yudistira kini membuka kolom chatnya dengan Arjuna kelas sebelah, lalu membuka satu media.

Agak buram, namun itu tidak menghalangi napas Sadewa yang tercekat secara kasat mata. Pupilnya melebar saat ia menangkap bahwa foto tersebut mungkin diambil tiba-tiba tanpa seizin pemiliknya, namun si anak baru itu seolah bisa memperjelas bayangannya sendiri di benak Sadewa.

“Namanya?”

“Nakula Nalendra.”

“EH! ITU DUA BOCAH DI BELAKANG! YUDISTIRA! SADEWA! NGOBROL TERUS KALIAN YA!?”

Yudistira cepat-cepat menyahut dari balik buku paketnya, seolah tidak rela dituduh dengan semena-mena. “Nggak, Bu! Maaf! Sadewa cuma tanya halaman!”

“Oh, kalian nggak dengerin saya!? Kita bahkan belum buka buku–DAN BUKU PAKETMU KEBALIK, YUDISTIRA YOGENDRA!”

Satu kelas kini dilanda derai tawa seiring dengan spidol yang meluncur mulus bagai roket ke dahi si manik hutan hujan, bahkan tidak sempat ditepis oleh buku paket yang dijadikan tameng sedari tadi. Sadewa sudah tidak mendengar lagi apa yang Bu Naia katakan atau alasan macam apa yang dikeluarkan Yudistira untuk berkilah, semuanya menjadi dengung lebah yang bahkan tidak dapat Sadewa cerna satupun suku kata.

Kini pikiran Sadewa berpusat pada sosok anak baru tadi. Senyumnya tipis, namun hangat. Matanya begitu jernih dan jenaka, mengajak siapapun yang bersitatap tidak kuasa untuk tidak balas tersenyum. Sosoknya nampak hangat bagai cahaya pagi, namun sejuk seperti semilir angin yang tiba-tiba bertiup, layaknya langit pagi yang bermanifestasi menjadi manusia tiada cela. Langit yang mungkin selama ini dirindukan Sadewa tanpa sadar.

Nakula? Bahkan irama namanya saja terdengar manis di telinga, menyisakan rasa menyenangkan setelah pelafalannya. Mungkin karena benang merah ini, mungkin karena adrenalinnya terpompa tiba-tiba, atau mungkin Sadewa sudah tertawan saat matanya menimpa figur anak baru bernama Nakula Nalendra itu.

Nakula Nalendra; sebuah potongan puzzle yang Sadewa tidak tahu selama ini hilang. [ ]