Work Text:
"Haloh. Aku mau main di sini ya." Dohoon memberikan info pada murid di sebelahnya yang sedang mengenakan topi, tidak "meminta izin" pada anak tersebut, melainkan langsung mempersilakan dirinya sendiri duduk menyilangkan kaki dan mulai membangun istana.
Istana pasir.
Saat Dohoon sibuk memasukkan pasir, anak bertopi bundar berwarna kuning itu diam-diam memperhatikan gerak-gerik Dohoon. Tangan-tangan kecil itu sibuk dan terlihat terampil membuat pasir itu jadi terlihat seperti sebuah bangunan yang ia sendiri tidak mengerti. Dengan malu-malu ia memberanikan diri bertanya,
"Kamu buat gundukan apa?"
"Ini istana aku, tau!"
Kalimat itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum Dohoon dipanggil mama-nya untuk pulang karena matahari akan segera terbenam, meninggalkan anak bertopi dengan gundukkan pasir miliknya.
==
Sejak saat itu mereka sering bermain bersama, membangun istana pasir dan bercerita tentang kegiatan di sekolah masing-masing. Dohoon menikmati waktunya bersama Youngjae karena ia sangat setia mendengarkannya yapping berjam-jam.
Ia pun menyukai Youngjae yang baik dan tidak pernah mengambil mainannya.
Intinya, Dohoon menyukai Youngjae yang baik dan tidak nakal.
Sayang sekali waktu mereka bermain sangat singkat, karena Dohoon harus pindah keluar kota dan tinggal bersama ibu-nya. Kesibukan di tempat baru membuat Dohoon perlahan melupakan tentang teman kecilnya.
==
"Kak, semester ini kamu pulang tgl berapa? Mama mau jalan jalan."
Chat whatsaapp dari Mama hari itu membuat Dohoon cemberut, padahal dia sudah berniat untuk berlibur dengan teman satu geng nya saat libur semester, taunya Mama minta babysitting gratis lagi.
Namun sebelum ia sempat membalas, Mama chat lagi,
"Sekalian antar Kumi ke rumah kakak yang ngajar les-nya ya.. Lah, bukannya kalau les itu, guru-nya yang nyamperin ke rumah siswa ya?"
Aneh banget, nipu kali, pikir Dohoon.
==
Liburan semester datang lebih cepat dari yang Dohoon perkirakan, membuatnya senang sekaligus berat hati karena tidak bisa seratus persen menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Di tengah lamunannya, Kyungmin menghampiri dengan tas ransel yang sepertinya berat sekali. Anak sekolah jaman sekarang banyak sekali buku pelajarannya ya?
"Abang, aku dah siap. Ayo les."
"Kamu bukannya bisa bawa motor ya? Kenapa harus aku anterin segala sih?"
Dohoon mengambil kunci motor Mio merah yang sepertinya overload jika dinaiki dia dan Kyungmin secara bersamaan.
"Kata mama biar Abang ada kegiatan."
Dohoon hanya berdecak sebelum berangkat dengan motor Mio merah tersebut, mengantar Kyungmin ke rumah guru les nya.
==
Hanya menghabiskan waktu sepuluh menit, mereka pun tiba di tempat les Kyungmin. Terlihat beberapa pasang sendal terparkir di depan pintu masuk rumah yang terlihat sederhana itu.
"Udah ya, aku pula-" Belum sempat pamit, pintu rumah tersebut terbuka, terlihat lelaki dewasa muda berambut cokelat tersenyum menyambut adiknya.
"Kumi udah sampai- eh.. "
Terdapat diam yang canggung selama beberapa milidetik sebelum lelaki tersebut tersenyum pada Dohoon.
"Anda kakaknya Kumi ya? Boleh minta waktu sebentar? Saya mau kasih tau progress Kumi selama mengikuti les."
"O-Oh.. oh, i-iya saya kakaknya.. UHM.. boleh deh.."
Lelaki tersebut masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan Dohoon yang masih sedikit nge-blank untuk duduk di sofa ruang tamu, Dohoon mengutuk diri sendiri karena terdengar sangat canggung.
"Silakan duduk kak, mau air putih atau teh?" "Eh.. nggak usah repot repot Mas.." "Nggak repot kok, panggil saya Youngjae aja. Teh aja ya, manis."
Ia melenggang masuk ke dalam dapur meninggalkan Dohoon yang terduduk dengan canggung dan bingung mengartikan kalimat bagian terakhir.
Youngjae. Terdengar familiar di telinganya.
Ia beranjak dari sofa dan melihat ke sekitar, terdapat banyak piala dan foto keluarga dipajang di dinding.
Ah, terlihat seperti keluarga harmonis.
Mungkin.
Dohoon melanjutkan ke-kepo-annya tentang Youngjae dan menemukan foto anak kecil dengan frame berukuran kecil. Ia mengernyit saat melihat anak kecil bertopi kuning.
"Lho.. ini.." "Anda kenal saya?"
Dohoon berjengit ketika mendengar suara Youngjae yang muncul di belakang, lengkap dengan senyumnya dan dua cangkir teh panas, ia bahkan masih melihat uap di sana.
Youngjae meletakkan cangkir tersebut di meja kaca sebelum berjalan menghampiri Dohoon yang melotot ke arah Youngjae dan bingkai foto secara bergantian.
"KAMU YOUNGJAE YANG ITU? Kamu anak cewek topi kuning yang main pasir sama aku?" "Ce..wek...?" Youngjae terlihat bingung, dan Dohoon terlihat belum bisa melihat realita.
"Jadi selama ini.. kamu bukan perempuan.."
==
Setelah menenangkan diri dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada Youngjae, mereka pun kembali duduk sambil meminum teh manis yang masih panas itu.
Youngjae tertawa kecil, masih tidak percaya dengan pernyataan yang super blak-blakan dari Dohoon. "Kamu serius ngira aku tuh cewek waktu itu?"
"Yah.. gimana.." Pucuk telinga Dohoon merah sekali karena lagi lagi ia mempermalukan diri sendiri.
"Boleh aku minta nomor WhatsApp kamu, Dohoon?"
Dohoon baru saja hendak berteriak (dalam hati) kalau mereka bergerak terlalu cepat!
"Buat update soal jadwal les dan info lainnya."
"Ah..." Dohoon tersenyum getir.
