Work Text:
Nyaris seminggu berlalu sejak insiden di hutan dekat kuil itu. Matahari belum terlalu tinggi, namun kediaman itu sibuk sekali. Seluruh perhatian terpusat pada kamar anak sulung dari sang pemilik rumah. Orang-orang lalu lalang silih berganti ke kamar itu. Ada yang membawa sirih dan pinang, ada yang secara khusus membawa kain-kain baru dan bunga segar, ada yang membawa lipatan daun pisang berbentuk kerucut berhiaskan bunga marigold yang cantik, ada juga yang membawa lilin dan dupa.
Kamar si anak sulung ramai sekali, nyaris seluruh penghuni rumah utama ada di sana. Di dalam kamar, Phop, sang bintang utama terduduk di tepian ranjang didampingi kedua sahabat kecilnya, Jom dan Kaew. Mae Prayong, ibunya, berdiri menangis di kaki ranjang, ditenangkan seorang pelayan senior yang biasa dipanggil Bibi Muan.
Deru napasnya beradu dengan pekik tertahan orang-orang di sekitarnya. Isi perutnya kembali keluar untuk kesekian kalinya hari ini. Kepalanya berat, pandangannya kabur dan berputar, dan dadanya sesak tak terperi. Lambungnya kembali bergolak. Batu yang terasa mengganjal di kerongkongannya seolah terbakar. Satu usaha terakhir perutnya mengeluarkan sisa-sisa cairan yang ada lalu tubuh itu rebah diiringi jerit terkejut orang-orang. Tangan kedua sahabatnya dengan sigap menangkap dan menahan tubuh Phop agar tak menghantam bejana berisi isi perutnya sendiri sementara Kong, si pelayan yang sedari tadi memegangi bejana bergegas mundur dan berlalu pergi. Posisinya digantikan Sai yang dengan tangkas menarik selimut kotor di pangkuan Phop lalu menyeka beberapa percikan di lantai sebelum beranjak mengikuti Kong.
Beberapa pelayan lain yang sedari tadi mondar-mandir ke kamar sang tuan muda dengan masing-masing bawaannya bergegas menata semua yang mereka bawa ke meja tambahan di ruangan itu.
“Se- selesai, Nyonya!” seru salah seorang dari mereka dengan cemas, beralih bergantian menatap sang pemilik rumah dan si pemilik kamar yang terlihat seolah kehilangan seluruh warnanya sembari menyingkir ke bagian luar kamar bersama rekannya yang lain.
Mae Prayong mendekati putranya. Ia berdoa sebentar, bergegas mengikatkan benang putih di tangan kanan Phop lalu membantu Kaew secepat kilat menggantikan baju putranya yang kini kotor sementara yang didoakan sudah memasrahkan seluruh bobot tubuhnya di tangan Jom dengan napas memburu dan kesadaran yang timbul tenggelam.
“Chuay... Chuay, bantu Dokter Jom,” perintah Mae Prayong kepada pelayan pribadi Klao sembari ia dan Kaew menyingkirkan baju kotor Phop.
“Pelan... pelan-pelan. Meun Phop, bisa dengar aku?” tanya Jom tanpa melepaskan tangannya, menyangga setengah berat tubuh Phop yang kini perlahan ditarik Chuay mundur bersandar ke dinding.
Kaew bermanuver ke sisi Jom setelah selesai menata bantal dengan tergesa dari sisi kanan Phop, bergantian dengan Chuay yang memastikan si pemilik rumah bersandar dalam posisi yang aman dan nyaman.
Phop menjawab pertanyaan Jom dengan rintihan kecil. Kedua tangannya bergerak pelan meraba ranjangnya.
“Baju P’Klao? P’Phop mencari ini?” tanya Kaew, perlahan memindahkan baju putih di kaki ranjang ke tangan Phop. Kain familiar yang kini seolah jadi barang keramat itu disambut remasan, dekapan erat dan isakan kecil oleh pencarinya.
Baju itu berhasil diamankan Bibi Muan saat Phop diserang mual parah sebelum beberapa detik kemudian akhirnya muntah lagi, mengotori baju dan selimutnya.
Jom bersimpuh di tempat tidur, tangannya sibuk meraba seluruh nadi dan memeriksa tanda vital Phop. Kaew kembali duduk di sebelah kaki kiri Phop, sesekali menepuk-nepuk dan memijatnya lembut.
Beberapa pelayan yang sedari tadi berhamburan perlahan kembali ke kamar Phop satu per satu. Mae Prayong duduk di sisi kanan putranya, menepuk-nepuk dada Phop pelan, menuntunnya untuk bernapas lebih pelan dan teratur.
“Suhu tubuhnya masih tinggi sekali. Elemen apinya kurasa benar-benar mengamuk mengalahkan seluruh elemen airnya. Dan elemen anginnya juga terlalu kuat sampai nyaris mematikan nyala elemen jantung…”
Jom menyeka keringat dingin Phop di sela-sela rintihan sahabatnya.
“Ketidakseimbangan elemen-elemen ini juga bisa memicu rasa mual berulang.
Kita coba lagi air kelapa dan kompres air hangatnya, Khun Ying,” titah Jom.
Lalu sang dokter terdiam sesaat.
Ia mengedarkan pandangan ke seisi kamar, lalu beralih menatap sahabat kecilnya yang kini terlihat serapuh daun kering dengan seksama sebelum menoleh ke arah Kaew.
“Melati terlalu manis, betul?”
Kaew mengangguk mengiyakan meski sempat sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba kekasihnya.
“Wangi bunga rampainya? Iya. Kurasa bisa diganti pimsen atau bunga tanjung yang wanginya lebih halus.”
“ P’Buaphan,” panggil Kaew dengan nada lebih tegas sembari ia berdiri lalu mengambil cawan kecil dengan wangi semerbak dari tangan pelayan pribadinya.
“Ini campuran serai dan daun mint liar yang saya bawakan untuk P’Phop. Bisa dipakai dulu untuk meredakan mualnya sementara bunga rampainya diganti,” tutur Kaew sembari menghaturkan cawannya kepada Mae Prayong.
Jom memberi kode kepada Chuay untuk mendekat dengan air kelapa dalam gelas yang sejak tadi dipegangnya erat.
“Jika air kelapanya kali ini juga tidak bisa masuk atau justru keluar lagi, setelah ini saya buatkan lagi racikan jahe, kunyit dan daun sirih seperti tempo hari agar setidaknya berhenti dulu mual dan muntahnya,” putus Jom, menatap Ibu Phop dengan iba.
Wanita paruh baya itu mengangguk, menatap Kaew dan Jom bergantian dengan tatapan terima kasih. Perhatiannya pun kembali sepenuhnya pada putranya yang masih merintih kesakitan dan sesekali terisak.
“Tolong air hangat dan kain sekanya, Kong.”
“Sai, ganti bunganya dengan gaharu, bunga tanjung atau pimsen dan daun mint seperti ini.”
“Tolong bawa keluar dulu semua sesajinya, terutama bunga-bunga melatinya,” perintah Mae Prayong tanpa menoleh.
“Ya, Nyonya!”
“Saya carikan daun mint di dapur!” seru Bibi Muan dalam paniknya lalu kembali para pelayan kediaman Phichaiphakdi itu merangkak ke dalam dan keluar kamar sebelum berlarian membawa tugas masing-masing.
Tangan kiri Mae Prayong mengangkat cawan kecil berisi tumbukan daun mint liar dan serai mendekati hidung Phop. Tangan kanannya setia menepuk-nepuk pelan dada putranya. Sesekali dihapusnya jejak air mata di wajah putranya sembari dipanjatkannya doa agar Phop bisa setidaknya bernapas lega dan kembali berkomunikasi lancar untuk beberapa saat.
Jom menyendok sedikit air kelapa dan madu, membawanya mendekati bibir Phop dan menatap Mae Prayong.
“Poh Phop, Poh Phop anak Ibu. Kita coba minum lagi ya, Nak? Kita coba sedikit lagi air kelapanya, sekarang dengan sedikit madu. Ya, Nak?”
Phop diam. Napasnya mulai melambat tapi raut wajahnya masih sarat kesakitan. Tangan kirinya masih setia mendekap baju putih Klao di dada kirinya, bagian tubuh yang belakangan ia keluhkan sakit hingga setengah mati menakuti Jom dengan kemungkinan serangan jantung mendadak.
Kaew menyaksikan usaha kekasihnya dan ibu Phop membujuk sahabat kecil yang sudah seperti kakaknya sendiri itu dengan napas tercekat. Setiap tarikan napasnya di dalam rumah ini seolah penuh duri dan racun sejak Phop ambruk.
“Aduh, Khun Phop...” batin Chuay sambil melongok keluar kamar, mulai khawatir karena istri dan rekan lainnya tak kunjung nampak batang hidungnya.
“Khun Klao khorab, tolong datang dan bicaralah pada Khun Phop dalam mimpi atau bagaimana. Ini mengerikan sekali...”
Irama napas Phop semakin melambat mengikuti arahan ibunya, namun bukan tenang yang tergambar di wajahnya yang terlihat lelah. Perlahan, putra sulung keluarga Phichaiphakdi itu membuka matanya. Tatapannya kosong dan sarat kesakitan.
Semua orang di ruangan menahan napas, beberapa saling tukar pandang cemas bercampur setitik lega.
“Meun Phop, bisa dengar aku?” Jom mengulangi pertanyaannya dan melambaikan tangan di depan wajah Phop. Yang ditanya masih diam seribu bahasa, lebih memilih untuk menatap baju di tangan kirinya yang mulai terlihat kumal berkat dekapan eratnya nyaris seminggu penuh.
Nyatanya, pertanyaan Jom masih tergantung di udara pekat pagi itu. Lalu sang dokter beralih menatap Kaew yang turut menatapnya sedih. Lama mereka bertukar pandang, berdiskusi serius hanya dengan tatapan mata.
“Poh Phop sayang, anak Ibu. Sudah lebih nyaman?” giliran Mae Prayong ikut bertanya.
Phop masih diam. Napasnya tak lagi memburu. Tubuhnya terlihat lebih pasrah, seolah ada sesuatu yang lebih tenang namun kelam hadir melingkupinya.
Jom dan Kaew menyadari kehadiran baru ini. Mereka melanjutkan diskusi dalam diam, mengantisipasi kemungkinan terburuk apa pun yang bisa terjadi.
Kong jadi orang pertama yang kembali ke kamar itu. Dihaturkannya air hangat dan kain seka bersih kepada Mae Prayong yang langsung mengambil inisiatif untuk menyeka tubuh putranya atas anggukan kecil dari Jom sebagai persetujuan.
“Ibu basuh tubuhmu ya, Nak, agar turun sedikit suhu tubuhmu...”
Kaew beringsut mendekati Mae Prayong dan membantunya menggulung lengan baju Phop.
“Meun Phop, kuberikan madu sedikit ya ke bibirmu supaya tidak perih?” tawar Jom, menukar gelas air kelapa dan madu di tangannya dengan cawan lain berisi madu. Ia mencuci tangan kanannya di mangkuk kecil berisi air bersih yang selalu disiapkan di nakas lalu diambilnya sedikit madu di telunjuknya. Dioleskannya perlahan madu itu ke bibir Phop yang sekering lempung selama pasiennya tidak menolak apalagi berontak.
Air kelapa dengan madu tadi masih teronggok di sisi lain nakas karena tujuannya masih belum mau membuka mulut. Sai dan Bibi Muan kembali membawa bunga rampai baru berisi gaharu, bunga tanjung dan serai karena tidak menemukan daun mint.
Bibi Muan, Sai dan Kong lantas merangkak mendekati Chuay, memberondongnya dengan pertanyaan.
“Khun Phop sudah buka mata dan mau diseka. Sudah mau minum?”
“Apa sudah bicara apa pun selain mengeluh sakit?”
“Tidak muntah lagi, kan?”
Chuay menggeleng lemah.
“Sedetik pun belum mau buka mulut. Bicara pun tidak, hanya merintih dan sesekali menangis...”
Phop masih betah diam. Ia tak peduli lagi apa saja yang akan dilakukan orang-orang kepadanya. Matanya terpaku pada sehelai kain di tangan kirinya. Napasnya terhitung tenang, dan setiap tarikan napasnya melagukan sebuah nama yang senantiasa bergema di kepalanya. Nama yang pemiliknya berlabuh di relung hatinya, nama yang kini hanya Dewa yang tahu di mana raganya: Klao.
Jom memeriksa lagi denyut nadi di tangan kiri Phop. Kaew mengamati luka di lengan kanan kakaknya saat Mae Prayong menyeka area sekitar lukanya dengan penuh hati-hati.
“P’Jom, kurasa luka yang kemarin belum sepenuhnya pulih. Masih butuh obat.”
Jom menoleh ke sumber suara dan memeriksa lengan kanan Phop, memastikan hasil observasi Kaew.
“Nanti kutambahkan daun pinang lagi,” kata Jom.
Dan semua orang kembali disibukkan usahanya masing-masing untuk memeluk Phop tetap utuh di tengah himpitan kenangan dan kerinduannya sementara pemuda itu kembali larut dalam kehampaan dan kesakitan dalam diamnya.
“Duangjai Phi…”
“Duangjai Phi.”
Ratapan riuh di kepalanya menjelma jadi bisikan. Sehelai pakaian di pangkuannya dibelainya pelan penuh sayang. Benaknya memutar ulang bagaimana insiden itu terjadi. Ia masih ingat dengan sangat jelas. Malam itu, mereka berdua sudah kedinginan karena hujan. Dan suara tembakan itu memecah keheningan. Lalu tangan kanannya seolah terbakar. Masih ia rasakan Klao ketakutan di pelukannya.
Lalu hening.
Belahan jiwanya mendadak lenyap seolah ditelan Bumi.
Tapi hujan tetap turun. Dan lengannya kini bercucuran darah. Tapi fokus Phop mendadak hilang dan terkunci pada saat terakhir ia merasakan tubuh pujaan hatinya yang sedingin es menggigil di pelukannya.
Dan fokus itu bersarang di kepalanya sampai detik ini. Di kepalanya, Phop masih sepenuh hati mendekap jantung hatinya. Di kepalanya, mereka masih di dalam hutan, masih ketakutan dan kehujanan, masih dibayangi kematian.
Hujannya deras sekali…
Sederas air mata Phop yang kini meluncur bahkan tanpa ia sadari.
Tanpa teriakan. Tanpa perlawanan.
Hanya isakan tertahan yang seketika meruntuhkan pertahanan semua yang mengasihinya, yang kini menangisinya, yang turut terisak bersamanya meratapi sosok yang mereka yakini tak akan lagi pulang.
