Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-22
Updated:
2026-08-04
Words:
50,542
Chapters:
14/?
Comments:
3
Kudos:
161
Bookmarks:
8
Hits:
3,043

Sisa Ruang di Hati

Summary:

Lima tahun lalu, Youngjae ditinggalkan sendirian oleh masa lalunya hanya karena ia seorang Omega resesif yang mengandung seorang anak. Dengan sisa keberaniannya, ia membangun "The Sweet Crumb"—sebuah toko roti kecil yang menjadi benteng pelindung baginya dan putra kecilnya, Jihoo. Youngjae bersumpah telah menutup rapat pintu hatinya untuk Alpha mana pun.

Sampai suatu subuh di musim hujan, seorang petugas pemadam kebakaran bernama Shinyu melangkah masuk ke tokonya dengan aroma kayu cedar yang menenangkan.

Ini adalah cerita tentang Shinyu yang mencintai Youngjae satu paket dengan masa lalunya, tentang Jihoo yang menemukan sosok ayah baru, dan tentang bagaimana sebuah kesalahan di masa lalu justru menuntun mereka membangun sebuah rumah yang sesungguhnya saat garis dua itu kembali muncul.

Notes:

Halo semuanya, ini merupakan tulisan kedua aku tentang NidJae. Kali ini aku tida menyamarkan nama asli mereka, tapi tolong jangan kaitkan kehidupan pribadi mereka dengan cerita yang aku buat.
Happy reading all<3

Chapter 1: Tepung Terigu & Pelanggan yang Datang Saat Subuh

Chapter Text

Toko roti itu diberi nama "The Sweet Crumb". Letaknya di sudut jalan perumahan yang cukup tenang, dengan etalase kaca bersih yang setiap pukul enam pagi sudah dipenuhi aroma mentega panggang dan susu. Bagi Youngjae, toko roti ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan sebuah benteng pertahanan yang ia bangun dari sisa-sisa harta yang dia miliki dan harga dirinya yang hancur lima tahun lalu.

Dulu, Youngjae adalah seorang Omega yang naif. Ia mencintai seorang Alpha dari keluarga terpandang. Namun, begitu hasil tes menunjukkan Youngjae mengandung Jihoo, Alpha tersebut justru mundur. Keluarganya menolak Youngjae karena statusnya yang hanya Omega resesif dari kalangan biasa. Kalimat terakhir mantan Alpha-nya masih terekam jelas di kepala Youngjae: "Aku tidak bisa merusak masa depanku demi anak yang bahkan feromonnya belum tentu sekuat kaum dominan, Youngjae. Gugurkan saja."

Youngjae menolak keras. Dengan sisa uang tabungan dan modal nekat, ia pergi dari kota itu, melahirkan Jihoo sendirian, dan belajar membuat roti secara otodidak melalui resep peninggalan mendiang ibunya. Toko roti inilah yang memberinya makan, melindunginya dari cemoohan orang, dan membesarkan Jihoo hingga kini berusia empat tahun. Bagi Youngjae, hidupnya sudah cukup. Ia telah menutup rapat pintu hatinya untuk Alpha mana pun dan memilih fokus membesarkan Jihoo anak nya.

Sampai pada suatu pagi di musim hujan.

Pukul lima subuh, jalanan di luar masih gelap dan basah oleh sisa gerimis. Youngjae sedang sibuk menguleni adonan roti gandum di balik konter dapur yang semi-terbuka. Di sudut ruangan, Jihoo kecil masih tertidur lelap di atas sofa panjang yang sengaja diberi selimut tebal.

Kring.

Lonceng pintu toko berdenting, menandakan ada pelanggan pertama yang datang jauh sebelum toko resmi dibuka.

Youngjae mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang berlumur tepung terigu. Langkah kakinya sempat ragu untuk maju ke konter depan begitu indra penciumannya menangkap sebuah aroma feromon yang sangat pekat. Itu adalah wangi kayu cedar yang basah setelah hujan—aroma milik seorang Alpha Dominan. Tubuh Youngjae refleks menegang, insting traumatis masa lalunya mendadak berbisik untuk waspada.

Namun, begitu sosok itu mendekat ke konter, pandangan Youngjae terpaku.

Pria itu bertubuh sangat kekar dan tinggi, mengenakan seragam biru tua khas petugas pemadam kebakaran yang tampak agak kotor oleh noda jelaga hitam di bagian lengan. Wajahnya yang tegas terlihat sangat lelah, rambut hitamnya agak acak-acakan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tampaknya ia baru saja menyelesaikan tugas memadamkan kebakaran besar semalaman suntuk.

Pria itu menatap jajaran roti di etalase yang baru setengah terisi, lalu beralih menatap Youngjae dengan seulas senyum yang sangat tipis namun terlihat sangat tulus. Mata tajamnya tidak mengintimidasi sama sekali, justru terasa hangat.

"Maaf, apa tokonya sudah buka?" tanya pria itu. Suara baritonnya yang berat terdengar agak serak karena asap. "Aroma rotinya tercium sampai ke seberang jalan. Kebetulan posko kami baru selesai memadamkan api di sektor sebelah."

Youngjae mengerjapkan mata, berusaha menguasai dirinya yang sempat terpaku. "Ah... maaf belum resmi buka, tapi rotinya sudah ada beberapa yang matang. Mau cari roti apa?"

Pria itu membaca papan nama kecil di seragamnya sendiri, lalu mengulurkan tangan yang bersih dari jelaga ke arah Youngjae. "Boleh aku beli tiga roti manis yang baru matang itu? Teman-teman di posko pasti sedang kelaparan."

Youngjae segera mengambil kertas pastry, lalu memasukkan tiga roti tersebut ke dalam bungkusan dengan cekatan. "Ada lagi yang lain kak?" tanya Youngjae ramah.

"Ada, roti gan—" Kalimat pria itu mendadak terhenti. Hidungnya mengendus udara sejenak sebelum dahinya berkerut dalam. "Sebentar... kamu mencium bau gosong, tidak?"

"EH, OVEN!" pekik Youngjae panik.

Ia langsung berbalik dan berlari masuk ke arah dapur. Pria berseragam itu secara refleks ikut menerobos masuk ke balik konter. Dengan sigap, pria itu menarik saklar utama di dinding dapur untuk memutus aliran listrik sebelum api sempat memicu korsleting yang lebih parah.

“Uhuk! Uhuk!” Youngjae terbatuk-batuk kecil karena asap tipis yang sempat mengepul dari dalam oven.

Melihat hal itu, si pria pemadam langsung menuntun tubuh Youngjae untuk keluar dari area dapur yang pengap.

Sementara itu, Jihoo yang terbangun dari tidurnya karena mendengar keributan langsung berlari cepat ke arah Youngjae. Langkah kecilnya terhenti di dekat mereka dengan wajah cemas.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu, memastikan kondisi Youngjae.

"Aman, aman... makasih banyak, ya kak," ucap Youngjae sembari mengatur napasnya yang sempat memburu. "Maaf sudah merepotkan."

"Tidak apa-apa. Malah kalau tadi aku tidak buru-buru mencabut saklarnya, posko kami bisa-bisa dapat panggilan kebakaran sungguhan di jalan ini," balas pria itu dengan kekehan tipis untuk mencairkan suasana.

"Ibun...ada apa?" Tanya Jihoo pelan, menarik-narik ujung baju Youngjae.

Youngjae langsung menundukkan tubuhnya, merapikan rambut anak itu yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Cuma kecelakaan kecil saja."

"Tapi Ibun tidak apa-apa, kan? Om ini tidak melukai Ibun, kan?" tanya Jihoo lagi, matanya bulat menatap waspada ke arah pria asing di depan mereka.

Youngjae tersenyum hangat, mengusap pipi putranya dengan lembut. "Ibun tidak apa-apa, kok. Om ini malah justru menyelamatkan Ibun tadi. Maaf ya, gara-gara Ibun, Jihoo jadi bangun."

Mendengar penjelasan itu, Jihoo langsung melingkarkan lengan mungilnya, memeluk erat tubuh Youngjae.

Sementara itu, si pria pemadam yang memperhatikan interaksi manis tersebut dari dekat mendadak merasakan seulas kehangatan di dadanya. Ada rasa senang yang tulus karena ia baru saja berhasil menyelamatkan satu nyawa—atau dalam hal ini, ketenangan sebuah keluarga kecil.

Youngjae yang menyadari pria itu masih berdiri di sana langsung merasa sungkan. "Ah, maaf Kak... tadi Kakaknya minta roti gandum, ya? Mau berapa potong?"

Pria itu tersenyum lebar. "Semuanya saja, saya borong."

"Baik, tunggu sebentar, ya," ucap Youngjae yang langsung berbalik untuk membungkus sisa roti gandum di etalase.

Selagi Youngjae sibuk di balik konter kasir, Jihoo dengan langkah ragu bergerak mendekati si pria pemadam. Tangan mungilnya menggoyang-goyangkan ujung celana seragam biru tua pria itu.

"Om baik..." panggil Jihoo pelan.

Pria itu langsung menundukkan badannya, menekuk lutut di atas lantai porselen agar tingginya sejajar dengan Jihoo. "Iya? Ada apa?" tanya pria itu dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.

"Terima kasih, ya om, sudah menyelamatkan Ibun," ucap Jihoo dengan tulus.

"Sama-sama, jagoan," jawabnya hangat.

Jihoo tampak menimbang sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengulurkan tangan kecilnya, berniat berkenalan. "Kata Ibun... kalau ada orang baik, kita harus tanya namanya. Aku Jihoo. Om baik namanya siapa?"

Pria itu menyambut jabat tangan mungil Jihoo dengan jari-jarinya yang besar. "Shinyu," ucapnya. "Namaku Shinyu."

"Makasih ya, Om Shinyu," balas Jihoo dengan senyum polos yang menggemaskan.

Youngjae yang baru saja selesai membungkus pesanan gandum sempat mendengar potongan percakapan putranya di depan. Di dalam hati, Youngjae merasa sangat bangga sekaligus tersentuh, bagi anak seumuran Jihoo, bisa menanyakan kondisi dan berterima kasih pada orang lain dengan cara sedewasa itu adalah hal yang luar biasa.

"Kak, ini pesanannya," ucap Youngjae sembari meletakkan kantung kertas besar di atas meja.

Shinyu kembali berdiri tegak. "Berapa total semuanya?"

"Bawa saja, Kak. Anggap saja ini sebagai imbalan dariku untuk teman-teman posko Kakak, dan ucapan terima kasih karena sudah membantuku tadi," ucap Youngjae tulus.

"Eh, jangan begitu. Nanti kamu malah rugi," tolak Shinyu merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa, Kak," paksa Youngjae sembari mendorong kantung roti itu mendekat.

Namun, Shinyu tipe Alpha yang memegang teguh sopan santun. Karena merasa tidak enak jika harus menerima roti itu secara gratis, Shinyu memutar otak. Ia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu mengulurkan uang tersebut langsung ke genggaman tangan Jihoo yang sedang berdiri di dekatnya.

"Kak—" potong Youngjae kaget.

"Rezeki tidak boleh ditolak," sahut Shinyu cepat dengan senyum penuh kemenangan. Ia menepuk pelan puncak kepala Jihoo sebelum mengambil kantung rotinya. "Terima kasih banyak, ya. Lain kali, lebih hati-hati lagi saat memanggang."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Shinyu melangkah keluar toko, membiarkan lonceng pintu berdenting sekali lagi seiring langkahnya yang kembali menuju posko pemadam kebakaran, meninggalkan Youngjae yang masih terpaku memandangi pintu kaca dengan debaran asing di dadanya.