Work Text:
Dohoon sudah lama hidup dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Lebih tepatnya ia tidak mengetahui bagaimana mengungkapkannya, membuatnya sendiri menjadi sensitif.
Perasaan yang tidak berteriak, tidak meledak ledak pula. Hanya diam-diam menempel di dada, seperti kulit yang ditarik pelan-pelan hingga terasa perih. Setiap kali Youngjae tertawa dengan orang lain, semakin jauh pula rasa perih itu. Setiap kali Youngjae mengangguk sopan padanya lalu segera menoleh ke arah lain, dadanya terasa diremas kuat. Dohoon tahu seharusnya ia sudah lelah, seharusnya ia sudah melepaskan. Akan tetapi setiap kali ia memiliki kemauan untuk berhenti menyukai pemuda Gimhae itu, pada akhirnya ia tidak bisa melakukannnya.
Jadi ia terus bergerak dengan batasan yang begitu kentara,
Tugas kelompok besar di semester akhir datang seperti undangan yang tidak bisa ia tolak. Empat orang. Dohoon, Youngjae, dan dua teman lain. Dohoon dengan sengaja mengambil bagian yang memaksa mereka sering bertemu. Data, analisis, presentasi. Hal-hal yang butuh duduk berjam-jam di perpustakaan atau di kamar kosnya yang tidak terlalu besar.
Malam pertama mereka mengerjakan tugas di kos Dohoon, hujan turun deras di luar. Bunyi air menabrak atap seng terdengar seperti tepukan tangan yang tidak berhenti. Youngjae duduk bersila di lantai, laptop di pangkuan, rambutnya agak berantakan karena ia sempat menyeka keringat di pelipis. Cahaya lampu temaram membuat bayangan bulu matanya jatuh lembut di pipinya. Dohoon menyuguhkan teh hangat tanpa diminta. Uapnya naik pelan di antara mereka.
Youngjae mengangkat wajah. Matanya sedikit membulat, terkejut, lalu tersenyum kecil. Senyum yang membuat dada Dohoon terasa penuh dan sesak di saat yang bersamaan.
“Makasih ya, Do.”
Hanya itu. Tapi Dohoon menyimpan senyuman manis itu di hatinya, seolah itu satu-satunya barang berharga yang ia miliki.
Mereka bekerja sampai larut. Sesekali Youngjae menguap, lalu tertawa sendiri karena malu. Suaranya pelan, hangat, dan Dohoon ingin merekamnya di memori. Jari-jari Dohoon gatal ingin merapikan rambut yang jatuh di dahi Youngjae, ingin menyentuh kulit di belakang telinganya yang terlihat lembut di bawah cahaya. Tapi ia tahan. Jadi dirinya hanya duduk di seberang, menatap, dan terus menyukai Youngjae dengan cara yang paling pelan yang ia bisa.
Minggu-minggu berikutnya berjalan seperti itu.
Dohoon selalu datang lebih awal. Selalu membawa minuman favorit Youngjae. Kopi susu manis, persis yang biasa dibeli Youngjae di kantin. Ia hafal bagaimana Youngjae akan mengernyitkan hidung kalau kopinya terlalu pahit, dan bagaimana matanya akan sedikit membulat kalau rasa yang ia dapatkan pas. Setiap kali Youngjae menerima gelas itu dengan senyum kecil, Dohoon merasa beban di dadanya sedikit terangkat. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk membuatnya bertahan.
Youngjae mulai terbiasa. Ia tidak lagi terkejut ketika Dohoon menyodorkan gelas. Ia bahkan suatu kali bilang, “Kamu kok inget terus?” dengan nada setengah bercanda, matanya menatap Dohoon lebih lama dari biasanya.
Dohoon hanya mengangkat bahu. “Habituasi,” katanya ringan, padahal jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Youngjae bisa mendengarnya.
Tapi ada hari-hari di mana Youngjae menarik diri lagi. Sibuk dengan organisasi, dengan presentasi lain, dengan teman-teman yang lebih ceria dan lebih mudah didekati. Dohoon akan duduk di pojok kelas, menatap punggung Youngjae yang sedang tertawa dengan orang lain, dan merasakan dadanya kembali mengencang hingga nafasnya terasa pendek. Ada rasa pahit di lidahnya. Ada rasa ingin berdiri, berjalan mendekat, dan menarik Youngjae keluar dari kerumunan itu. Tapi ia tidak melakukannya. Ia hanya duduk diam, jari-jari mengerat di atas meja, dan terus menarik dari jauh.
Suatu malam, mereka berdua saja di perpustakaan lantai tiga. Teman kelompok yang lain berhalangan. Lampu di lantai itu agak redup. Hanya ada suara ketikan keyboard dan napas mereka yang sesekali te
rdengar. Di luar, angin malam mengetuk kaca jendela pelan-pelan.
Youngjae tiba-tiba berhenti mengetik. Ia menyandarkan kepala di punggung kursi, menutup mata. Rambutnya jatuh ke samping, memperlihatkan garis leher yang panjang dan lembut.
“Aku capek,” bisiknya.
Dohoon menoleh. Suara Youngjae terdengar lebih rapuh dari biasanya. “Mau istirahat dulu?”
Youngjae mengangguk pelan. Lalu, tanpa membuka mata, ia berkata, “Kamu… kenapa selalu sabar banget sama aku?”
Dohoon terdiam. Jari-jarinya yang sedang memegang pena berhenti bergerak. Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke danau yang tenang. Riaknya menyebar pelan. Dohoon tidak menanyakan konteks, tidak ingin tahu secara spesifik juga.
“Ya karena aku mau,” jawabnya akhirnya, suaranya pelan sekali. “Enggak apa-apa”
Youngjae membuka mata, menatapnya. Ada sesuatu yang bergolak di balik tatapan itu. Bingung, sedikit takut, dan sesuatu yang lebih lembut yang belum berani ia akui. Cahaya lampu membuat mata Youngjae terlihat lebih gelap, lebih dalam. Dohoon ingin tenggelam di dalamnya.
Dohoon ingin bilang lebih banyak. Ingin bilang bahwa ia sudah menahan perasaan ini terlalu lama. Dari awal masuk kampus, hingga tugas akhir di semester enam. Setiap hari ia merasa seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri, bahwa ia takut kalau sekali merenggangkan hubungan ini, Youngjae akan lari jauh dan tidak pernah kembali. Tapi ia menelan kata-kata itu. Ia hanya tersenyum kecil, senyum yang ia buat selembut mungkin.
“Istirahat aja. Nanti kalau kemaleman aku bangunin.”
Youngjae mengangguk lagi. Beberapa menit kemudian, nafasnya sudah teratur. Ia tertidur dengan kepala yang agak miring ke arah Dohoon. Bibirnya sedikit terbuka. Bulu matanya yang panjang membentuk bayangan halus di pipinya.
Dohoon menatapnya lama. Sangat lama. Tangannya terangkat, ragu, lalu akhirnya menyentuh ujung rambut Youngjae dengan sangat pelan. Hanya sebentar. Hanya untuk merasakan bahwa orang ini nyata. Rambut itu lembut di antara jari-jarinya. Hangat. Dohoon menarik napas dalam-dalam, menyimpan aroma sampo Youngjae di dadanya, lalu pelan-pelan menarik tangannya kembali.
Di malam itu, di perpustakaan yang sepi, Dohoon merasa sesak di dadanya semakin kencang. Tapi ia tidak melepaskan.
Titik terlemah Dohoon datang dua minggu sebelum presentasi.
Youngjae tiba-tiba jarang membalas chat. Ketika mereka bertemu, ia ramah seperti biasa, tapi ada jarak yang lebih tebal. Senyumnya masih ada, tapi matanya tidak lagi menatap terlalu lama. Dohoon mencoba menarik lagi, menawarkan bantuan, menunggu di depan kelas, membawa kopi favoritnya, tapi Youngjae selalu punya alasan untuk pergi lebih dulu. “Maaf, ada rapat.” “Aku harus ketemu dosen.” “Besok aja, ya?”
Setiap penolakan itu terasa seperti tali yang ditarik semakin kuat dari sisi lain, membuat Youngjae menjauh darinya. Dohoon merasakan dadanya sesak. Nafasnya pendek. Ada malam-malam di mana ia duduk sendirian di kamar kos, menatap layar ponsel yang tidak pernah menyala dengan notifikasi dari Youngjae lagi, dan merasa seolah-olah ia sedang tenggelam pelan-pelan. Mendecih keras pada akhirnya sebelum melempar ponsel itu keatas tempat tidur.
Suatu sore, Dohoon duduk sendirian di tangga belakang gedung kuliah. Langit mulai menguning. Angin membawa bau tanah basah dari hujan siang tadi. Ia menatap ke bawah, ke arah jalan yang sepi, dan kembali berpikir bahwa ia sudah cukup berada di dekat Youngjae.
Sudah tiga jam ia disana memikirkan hal tersebut dan semakin oranye gelap langit itu, semakin bulat pula tekadnya untuk berhenti.
Rasa itu menyakitkan. Lebih menyakitkan dari semua hal yang ia lalui sebelumnya. Ada rasa panas di belakang matanya. Ada rasa ingin berteriak. Tapi yang keluar hanya nafas yang gemetar. Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan Youngjae muncul di kepalanya. Senyum kecil itu, cara ia mengernyitkan hidung, cara ia bilang “Makasih ya, Dohoon” dengan suara yang lembut. Dan untuk pertama kalinya, Dohoon merasa tali yang ia tahan erat erat agar tidak terlepas hampir putus di tangannya.
Melepaskan saja, bisik sesuatu di dalam dirinya.
Tapi tepat saat jari-jarinya hampir membuka, suara familiar memanggil namanya.
“Dohoon.”
Ia menoleh. Youngjae berdiri di kaki tangga, nafas agak terengah, rambut berantakan karena lari. Jaketnya agak miring di bahu. Matanya mencari-cari, dan ketika menemukan Dohoon, ada sesuatu yang lega di wajahnya.
“Aku nyariin kamu,” kata Youngjae, suaranya agak serak. “Soal data presentasi. Aku bingung di bagian analisis. Bisa bantu?”
Oh.
Dohoon menatapnya lama. Sangat lama. Jantungnya yang sempat berhenti berdetak kembali berdegup, kencang, sakit, tapi hidup. Ia melihat keringat di pelipis Youngjae. Melihat bibirnya yang sedikit terbuka karena nafas yang terengah. Melihat mata yang menatapnya dengan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada kerentanan disana.
Pelan-pelan, Dohoon tersenyum. Senyum yang getar, yang hampir berubah menjadi tangis.
“Bisa.”
Di dalam hatinya, ia berbisik pada dirinya sendiri, suara yang serak dan putus asa sekaligus penuh tekad. Bahkan kalau aku harus mati di sini, aku masih akan menyukai Youngjae.
Terdengar konyol, tapi memang seperti perasaannya terhadap Youngjae. Terdengar seperti perang yang tidak akan pernah selesai.
Bagaimana pun caranya.
Seberapa jauh Youngjae menjauh.
Seberapa sering tali yang di pegangnya meregang hingga nyaris putus.
Seberapa dalam luka yang harus ia telan setiap kali senyum itu diberikan pada orang lain. Dohoon akan tetap menyukainya.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Dan terus.
Karena pada akhirnya, Youngjae adalah sesuatu yang selalu ia dambakan. Bukan sekadar keinginan. Bukan sekadar rasa suka yang bisa pudar. Melainkan satu-satunya hal yang membuatnya rela berdiri di tengah perang tarik-menarik yang melelahkan, dengan tangan yang gemetar, dengan nafas yang sesak, dan tetap berkata “Aku menyukai Youngjae.”
Bahkan jika besok Youngjae kembali menarik diri.
Bahkan jika luka itu kembali terbuka.
Bahkan jika suatu hari nanti tali itu harus ia tarik sendirian lagi.
Dohoon akan tetap melakukannya.
Terus-menerus.
Tanpa henti.
Sampai Youngjae benar-benar menjadi miliknya. Atau sampai tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya untuk ditarik.
- The End -
@yojereun
