Work Text:
Arjuna tersentak bangun begitu mendapati tubuhnya hampir saja terjatuh dari ujung kasur. Dengan setengah mengantuk, dia perlahan bangkit berdiri dan merayap-rayapkan tangannya di bawah bantal. Mencari-cari hapenya. Setelah menemukan benda persegi itu, Arjuna menghidupkan layarnya. Wallpaper dirinya dan sang suami terpampang di layar kunci. Menunjukkan kemesraan pasusu itu kepada dunia. Jam yang tertera pada layar menunjukkan pukul 4:35 sore. Sudah selama apa dia tertidur?
Ingatan terakhirnya hanya membawanya pada masa dimana dia pulang cepat dari tugas di luar dan langsung berganti pakaian. Segera setelah itu menghambur ke atas kasur karena tubuhnya sudah benar-benar sangat lelah. Ah, Arjuna ingat dia sudah tidak tidur selama beberapa hari ini karena tumpukan pekerjaan yang membludak. Setelah menyelesaikan beberapa diantara gunungan pekerjaan itu, Arjuna lekas pulang ke rumah untuk beristirahat.
Suara samar-samar terdengar dari luar kamar. Bau harum masakan yang baru saja selesai dimasak serta merta memenuhi indra penciumannya. Perutnya langsung bergemuruh nyaring. Dia bahkan tidak sempat makan siang sebelumnya. Sarapan roti manis dengan bubur kacang hijau yang dimasak oleh suaminya tercinta tadi pagi sudah cukup mengisi tenaganya dihari itu. Namun, begitu mencium bau harum masakan di luar, Arjuna kembali merasa lapar.
Dengan langkah grogi karena baru saja bangun tidur, Arjuna berderap keluar. Dia mendapati Yudistira, suaminya yang mungil, cantik, dan ayu, sedang membelakanginya menghadap kompor. Tangannya memegang sutil dan sebelah lagi sedang bergerak di atas layar tab yang menampilkan halaman bacaan favoritnya akhir-akhir ini. Sebelah telinganya terpasang earpiece. Sepertinya sedang mendengarkan sesuatu.
Arjuna serta merta tersenyum simpul begitu melihat sosok terkasih itu muncul dalam netra abu-abu miliknya. Perlahan dia melangkah menuju sosok yang sedang fokus itu. Kedua tangannya bergerak melingkari pinggang sang suami dan langsung saja mengecup pipi mulusnya.
Yudistira sedikit terkejut karena tiba-tiba saja dikagetkan oleh sang suami. Namun dia segera tersenyum begitu mendapati lelaki itu memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.
“Mas Juna udah bangun?” suara halusnya terdengar menyapa Arjuna. Pria itu bergumam diatas bahunya. Membuat Yudistira terkekeh dan melayangkan tangannya yang bebas ke belakang untuk mengacak puncak kepala lelakinya dengan sayang. Arjuna menghirup aroma tubuh Yudistira yang harum dalam-dalam kemudian mengangkat kembali wajahnya dengan menumpukan dagunya ke bahu sang suami.
“Kamu masak apa, sayang?” tanyanya. Suaranya masih terdengar berat karena baru saja bangun tidur. Arjuna melihat Yudistira mengangkat masakannya dari dasar kuali dan menirisnya di atas peniris minyak.
“Masak pisang goreng. Mas Juna mau?”
Arjuna segera mengangguk. “Mau, sayang. Sekalian sama teh anget. Kamu mau teh ga?”
“Mau lah.”
“Aku bikinin kalau gitu ya.” sambil mengusir kantuknya, Arjuna melepas pelukannya dari sang suami dan bergerak untuk mengecek air panas pada teko di samping kompor. Isinya kosong. Arjuna segera bergerak ke galon yang berada tak jauh dari sana dan mulai mengisi teko itu dengan air.
Sembari membiarkan air terisi pada teko, Arjuna melayangkan pandangannya pada piring berisikan pisang goreng yang sudah selesai dimasak. Ditata tidak begitu estetik namun bagi Arjuna itu tidak masalah. Pisang goreng adalah satu dari sekian banyak makanan kesukaan Arjuna yang selalu dimasak oleh suaminya tercinta. Alasan lain Arjuna begitu cinta kepada suaminya tersebut adalah karena lelakinya itu begitu pintar dalam mengolah dan meracik makanan-makanan kesukaannya.
Teko sudah terjerang diatas kompor. Selagi menunggu airnya mendidih, Arjuna mencomot potongan kecil dari pisang goreng dan membawanya ke mulut. Responnya seketika layaknya juri masterchef dan kritikus makanan kenamaan yang khidmat menikmati masakan yang sangat lezat menurut mereka. Sambil berdeham dan bersiul, Arjuna mengunyah pisang goreng tersebut dengan pelan, menikmati setiap rasa yang muncul dan berputar-putar di dalam mulutnya.
Melihat tingkah suaminya, Yudistira tergelak geli.
“Abis ini aku mau bikin bakwan jagung dikit. Mas Juna tolongin ambil tepung dalam lemari dong.”
Arjuna mengangguk. Namun sebelum dia bergerak, bibirnya terlebih dahulu mengecup pipi suaminya dengan gemas.
Bakwan jagung sedang digoreng di dalam kuali. Teh sedang menunggu diseduh. Arjuna kembali melingkarkan lengannya di pinggang Yudistira dan menumpukan dagunya pada bahunya. Melihat bagaimana suaminya itu membolak-balik bakwan, meniriskan bakwan yang sudah matang, menggoreng adonan bakwan yang baru, rasanya seperti sedang menonton ASMR secara langsung.
Suara minyak panas yang mendidih, deru halus dari api di kompor, dengung rendah earpiece Yudistira yang ternyata sedang mendengarkan instrumental musik klasik, bunyi sutil yang bergesekan dengan kuali, denting piring, halus hembusan napas Yudistira, semua terasa spesial bagi Arjuna.
Sesekali dia akan mengecup pipi suaminya, sesekali dia akan membawa wajahnya ke ceruk lehernya menghisap aroma tubuhnya yang membuatnya merasa nyaman, sesekali pula Arjuna akan mengecup batang lehernya yang hangat. Yudistira hanya tersenyum dan sesekali mengacak surai hitam lelakinya itu dan menepuk-nepuk tangan suaminya yang melingkar di perutnya seirama dengan nada yang sedang diperdengarkan di telinganya.
“Kayak koala deh kamu.”
“Hmm. Emang.”
Yudistira terkekeh.
“Ini udah semuanya. Tolong bantu bawa ke meja makan, Mas.”
“Masih ada yang mau di goreng?”
“Ngga, udah kelar aku masak.”
Yudistira menaruh sutilnya setelah mematikan kompor. Dia berbalik dan langsung meregangkan badannya. Arjuna menyambut tubuh liatnya saat lelaki itu meregangkan tubuhnya terlalu tinggi. Tergelak saat tubuhnya limbung ke arah suaminya, Yudistira mengecup pipi Arjuna dengan sayang.
“Mas, bawa ke meja teras aja kali ya?” Yudistira bersiap menanggalkan celemek hijau bunga-bunga miliknya. Arjuna bergerak membantu suaminya melepas celemeknya.
“Boleh.” balasnya.
Sepiring pisang goreng, sepiring bakwan jagung, roti gabin dan biskuit, serta dua gelas teh hangat sudah terhidang di meja teras halaman belakang. Dengan pemandangan langit jingga sore hari, taman bunga dan kebun mini milik Yudistira di sepanjang pagar halaman belakang, serta Manya, kucing milik Arjuna yang mereka rawat bersama, yang tengah bermain-main di atas rumput wangi yang Yudistira tanam, pasangan suami-suami itu duduk bersama menikmati hidangan di sore itu. Menyeruput teh hangat yang manis, menyantap pisang goreng dan bakwan jagung yang gurih.
Arjuna selalu suka dengan masakan Yudistira. Meski suaminya itu jarang berkutat di dapur, namun bukan berarti laki-laki itu tidak pintar memasak. meski hanya menu-menu sederhana, tidak semewah menu restoran, namun bagi Arjuna itu sudah lebih dari cukup. Biarlah Arjuna saja yang menyiapkan dan menghidangkan menu restoran untuk suaminya itu di rumah.
Untuk makanan-makanan ringan seperti pisang goreng ini, Arjuna lebih memilih buatan Yudistira dibandingkan yang lain. Karena meski hanyalah makanan sederhana, jika itu suaminya yang membuatkan, rasanya terasa 200 juta kali lebih nikmat. Apalagi ditambah dengan duduk berdua di sore hari, dengan langit yang cerah. Melihat sang kekasih hati tersenyum lebar, bermain dengan kucing mereka dipangkuan, tawa halusnya yang terdengar di telinga, binar matanya yang mengerling ke arahnya dan melengkung sempurna ketika bertemu tatap dengannya.
Meski cuma teh hangat biasa dan sepiring gorengan, bagi Arjuna itu sudah lebih dari cukup. Lelah letihnya hilang sudah. Tergantikan oleh manisnya senyuman sang pujaan hati yang kini tengah berbadan dua.
