Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-27
Words:
430
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Hits:
192

Are You Brave Enough?

Summary:

“Seonghyeon, aku sayang sama kamu.”

Dan Seonghyeon mengutuk dirinya yang masih saja penakut.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

SEONGHYEON gemetar setengah mati.

Di depannya, Keonho berdiri dengan mata yang gak lepas darinya. Riuh sorai memenuhi gendang telinga, tapi kepala Seonghyeon lebih riuh. Keonho berikan tatapan yang sulit dia artikan. Dia nggak bilang apa-apa, tapi itu lebih menyiksa dari apapun.

“Lo cowok, kan? Coba pukul dia.”

Buku jarinya memutih. Telapak tangannya kosong, berbanding terbalik dengan dadanya yang sesak. Keonho masih berdiri di sana. Padahal Seonghyeon sempat teriak suruh cowok kelahiran hari cinta itu menyingkir, pergi yang jauh, tapi entah kenapa tungkainya secara suka rela datang kemari.

Untuk apa? Keonho mau dipermalukan?

BUGH!

Nggak ada sekalipun Seonghyeon pernah mikir kalau dia akhirnya bakal mendaratkan satu bogem mentah ke pipi Keonho. Pipi yang sempat dia kecup semalam. Tubuh Keonho terhuyung ke belakang. Seonghyeon berteriak lagi ke arah Keonho, suruh dia pergi, tapi Keonho tetap bergeming. Bodoh, menurut Seonghyeon.

Seonghyeon bahkan nggak bisa berhenti. Tangannya raih kerah kemeja Keonho. Matanya minta ampun. Bibirnya gemetar setengah mati. Ada amarah yang bercampur air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Keonho saksikan itu semua tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam diam, sesuatu ikut meledak dalam hatinya.

BUGH!

Bogem keduanya mencium sudut bibir Keonho. Dia bisa lihat ada luka kecil dan aliran merah segar membentuk sungai kecil di sana. Bibir itu yang semalam dia kulum dalam senyap malam. Cuman bisik malam yang tau mereka sempat tukar afeksi lewat untaian saliva. Seonghyeon ingin hancurkan bayangan yang mengganggu itu. Gimana Keonho yang menarik tangannya lembut, gimana Keonho yang tersenyum samar di sela cumbuannya, dan gimana Keonho yang kasih tau kalau dia amat sayang Seonghyeon lewat sentuhannya.

Keonho nggak pernah bilang gamblang kalau dia sayang. Itu yang Seonghyeon nggak pernah perhatikan. Keonho yang suka simpan tempat duduk untuk Seonghyeon. Keonho yang sengaja ambil tempat duduk di samping jendela untuk tutupi sinar matahari yang mengusik Seonghyeon yang suka tidur di tengah pelajaran. Keonho yang suka simpan bekas tiket bioskop mereka di dompet. Keonho yang nggak pernah lupa takaran gula dalam kopi kesukaannya. Keonho yang selalu cari alasan untuk bertemu di ujung pekan. Keonho yang selalu cari Seonghyeon di segala keramaian.

Keonho yang selalu ada untuk Seonghyeon.

“Jangan bangun!” Seonghyeon membisik setengah memohon. Matanya bilang kalau dia frustasi dan mau mati sekarang. Keonho tersenyum tipis, tapi tangannya mengepal di belakang tubuhnya.

“Kamu pernah takut sama aku?”

Lututnya lemas.

Seonghyeon gigit bibirnya kuat sampai rasa amis mampir di indra pengecapnya. Nyatanya dia terlalu penakut bahkan hanya untuk sekedar berikan Keonho jawaban.

BUGH!

Seonghyeon pejamkan matanya. Sesuatu berderit menyakitkan di dalam rongga rusuknya. Keonho terbatuk, darah keluar lagi dari mulutnya.

“Seonghyeon, aku sayang sama kamu.”

Dan Seonghyeon mengutuk dirinya yang masih saja penakut.

[]

Notes:

menurut aku semua orang harus nonton filmnya.