Work Text:
Untuk kali ini saja, Jio rela memasang wajah paling imut nan menggemaskan di depan seniornya agar dia bisa segera dilepas pulang. Selama empat bulan terakhir, Jio sudah menjelma menjadi ‘kacung penurut’ yang paling setia mengekor ke mana pun seniornya pergi. Mulai dari agenda makan siang, sesi bergosip, jajan kopi, berburu diskon aplikasi online, sampai makan malam bersama. Jio sama sekali tidak keberatan. Toh, para seniornya ini super ramah dan baik sekali.
Divisi General Affair (GA) tempatnya bernaung kali ini memang hanya menerima satu kouta anak magang, dan divisi ini didominasi penuh oleh perempuan. Sebenarnya ada anak magang lainnya di divisi HR, Marketing, atau Legal. Sayangnya, lantai kubikel mereka kepalang jauh dari lantai Jio yang tinggi di atas awan yang membuat Jio jarang bisa berkumpul dengan teman sebayanya. Apalagi bulan lalu ada simulasi gempa bumi se-gedung. Sejak hari itu, Jio langsung mengutuk kantor ini dan siapapun yang punya ide membangun gedung sampai dua puluh lantai. Jio berada di lantai tujuh belas sih—namun dia akan tetap mengutuk semua orang.
Kemarin siang, para senior Jio mencetuskan rencana “pertemanan sehat” dengan agenda lari sore bersama, Jio hanya bisa cekikikan karena dia tahu rencana itu pasti cuma omong kosong belaka, mengingat mereka semua adalah kumpulan manusia maniak kopi susu. Sebagai kacung kecil, Jio selalu menjadi kurir kecil yang bertugas mengambil pesanan es kopi susu para wanita ini dari abang ojek online di lantai bawah. Jio tidak pernah protes, karena di balik tugas itu, selalu ada jatah satu gelas kopi gratis untuk dirinya.
Setelah menyepakati agenda lari tersebut, malam harinya Jio menyempatkan diri melepas rindu dengan Marco via video call. Di sela obrolan, Marco mengajaknya makan malam bersama sepulang kantor karena sudah hampir dua minggu mereka tidak bertemu dan berpelukan. Marco selalu pulang larut dalam keadaan lelah, begitu juga Jio. Bedanya, Jio lelah karena energinya terkuras habis oleh geng senior perempuannya, sedangkan Marco lelah karena matanya harus terus bergulat dengan baris kode di layar komputer.
Marco juga sedang magang. Belakangan, minusnya di matanya bertambah satu karena tidak ada Jio yang cerewet mengingatkannya memakai kacamata atau menyisipkan sayuran di kotak bekalnya. Jarak kantor mereka pun cukup menyiksa karena tidak searah, Jio harus naik MRT dari Stasiun Senayan dan turun di Bundaran HI, lalu menunggu di Thamrin 10 atau Sarinah. Setelah itu, barulah Marco akan menjemputnya dengan ‘Kipli’ motor Yamaha XSR miliknya 250 miliknya, motor jelek menurut Jio karena harus menewaskan pantatnya.
Panggil Jio manusia lebay, namun sedih rasanya memikirkan Marco yang selalu terpisah olehnya. Saat SMA, Marco di kelas IPS dan Jio di IPA. Kuliah pun Marco yang berada di Fasilkom dan Jio di Fisip. Sekarang, saat magang, Jio setiap hari menatap pemandangan megah Jalan Jenderal Sudirman, sementara Marco harus berhadapan dengan kemacetan horor Jalan Rasuna Said. Biasanya, kalau kepala Marco sudah penuh dengan tabel Excel atau JavaScript, dia akan memotret papn penunjuk jalan Rasuna Said dan mengirimkannya ke WhatsApp Jio dengan pesan
“Jadi si Rasuna ini ngomongin apa ya, yang?”
Balasan persama dari Jio biasanya adalah foto segelas es kopi susu gratisan miliknya. Marco dan humornya yang jelek itu selalu menggelitik perut Jio, maka jika laki-laki itu sudah mulai membahas nama sang pahlawan Jio tahu bahwa otak Marco sedang mengepulkan asap panas, mirip sekali dengan mesin yang korsleting.
“Dia bilang, kamu harus cuci muka dan kerjain tugasmu yang super banyak itu. intern kok bebannya kayak vendor,” balas jio.
Suara Jio disambut raungan kecil dari Marco seberang sana. Jio bisa membayangkan kekasihnya menatap jendela kantornya, meratapi nama pahlawan tersebut sambil memikirkan tugas yang tidak ada habisnya.
“Aku punya permintaan” suara Marco tiba-tiba melunak, terdengar sendu dan manja, Jio hampir tidak bisa mendengarnya.
“Mau apa?”
“Kita pelukan yang banyak nanti. Begitu ketemu, kita harus langsung pelukan. Di atas motor nanti kamu harus peluk aku yang kenceng. Sampai di rumah kamu, kita harus pelukan sampai digrebek warga komplek kamu.” Jio hanya terkekeh dengan permintaan kekasihnya.
Marco kalau sudah lelah memang super manja, dan Jio diam-diam sangat menyukainya. Menyenangkan rasanya ketika ego laki-lakinya diberi makan. Jio bukan orang yang suka mendominasi suatu hubungan, tapi melihat bagaimana Marco yang selalu bertumpu padanya Jio selalu senang. Pikiran soal Marco dan agenda kencan manis ini mendadak buyar ketika Jio tersadar bahwa dia belum meminta izin pulang cepat kepada geng seniornya. Kepalanya mulai berputar kencang seperti sekotak rubik untuk mencari alasan yang masuk akal agar bisa lolos dari agenda lari malam Sabtu nanti.
“Ji, kamu udah beli snack buat meeting?” Jio menoleh hampir seratus delapan puluh derajat, Di sana, Annisa—atau yang akrab dipanggil Mbak Aca sudah berdiri tepat di belakang kursinya. Rambut perempuan muda itu masih dipenuhi roll-an yang mengembang ke segala arah. Jio yakin burung pun mungkin akan nyaman bertelur di sana.
“Sudah, Mbak. Tinggal nunggu minumannya, masih di-pick up sama ojol.”
“Wih, spill dong apa? Aku tadi sih requestnya Chatime ya” timbrung Regina antusias, langsung menempel di bahu Jio begitu mendengar pembicaraan soal makanan. Jio terkekeh geli. for your information, nama grup chat divisi mereka adalah “Makan apa hari ini?” Setelah empat bulan bergabung, Jio langsung tahu siapa dalang utama dibalik nama grup tersebut. Bila Marco di kantornya dikelilingi oleh mas-mas dengan wangi asap tembakau setelah makan siang, Jio justru dikelilingi oleh mbak-mbak kamus berjalan voucher diskon skincare dan makanan. Jio merasa pengetahuannya jadi jauh lebih luas semenjak berada disini. Dia bahkan lebih memilih menghabiskan akhir pekannya menemani kakak-kakak ini ke acara Jakarta X Beauty di JIExpo, ketimbang menonton Marco mandi keringat saat main futsal bersama teman SMA-nya.
“Disuruh Ibu kopi tadi, Mbak. Jadi aku beliin KST Tuku. Tapi makanannya banyak kok, ada nasi tempong sama donat.”
“Yah, berarti nanti kita gak jadi beli Tuku di GBK, dong?” Regina memajukan bibirnya, kecewa. Jio terdiam, kembali memikirkan cara untuk pamit dari agenda ini.
Mereka sudah mengagendakan lari sore ini pertama, sementara kencan dadakan dengan Marco baru dibuat semalam dalam kondisi setengah tidak sadar setelah lelah bekerja seharian. Jio merasa agak serakah karena langsung mengiyakan ajakan Marco seolah tidak ada hari esok. Padahal, biasanya hari Sabtu pun Marco akan main ke rumah Jio. Entah untuk jalan-jalan ke PIM layaknya pasangan normal ibu kota, atau tidur seharian di kamar Jio sambil memesan makanan online. Namun di sisi lain, Jio juga berat hari melepas agenda bersama para seniornya. Kemarin ada kejadian ‘hangat’ di lantai empat belas yang sampai menyerat nama salah satu jajaran BOD. Mbak aca bilang, Mbak Dea ada di lokasi kejadian, jadi mereka berniat mengadakan ‘diskusi’ saat olahraga nanti. Jujur, Jio sangat menantikan hal itu Banyak hal seru yang selalu ia dapatkan di lingkaran kecil divisi ini.
Sekarang, Jio kelimpungan hari memilih yang mana?
Namun teman-teman sekalian jangan khawatir! Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Jio. Marco mengirim sebuah foto digital dirinya sedang berkedip genit ke arah kamera.
‘Di culik Mas Bagas berburu abang jago di bawah, aku baru tau dia ada aplikasinya anjir. Aku izin vaping ya sayang, mumet banget. Harusnya aku punya rasengan biar runtime error ini bisa aku genjutsu :( Miss you babe, peluk aku di motor nanti, please?’
Sialnya, pesan itu terbuka tapat saat kedua seniornya masih bersandar di mejanya. Kedua perempuan itu langsung memasang wajah paling berbinar yang pernah Jio lihat. Namun jelas ini bukan kabar bagus tentunya, karena Jio tau siapa yang menjadi target selanjutnya ‘diskusi’ ini.
“Ciee… anak kecil mana boleh pacaran sih? cinta monyet ini mah!” goda Regina sambil mencubit pipi Jio dengan gemas.
Lucu sekali mengingat perempuan itu pernah berhadapan dengan managernya karena kebiasaan mencubit pipi Jio—dengan dalih ‘tidak boleh ada kekerasan di lingkungan kantor’ padahal Regina hanya menjadikan pipi Jio sebagai stress reliefnya. Mbak Aca ikut terkekeh melihat wajah Jio yang mulai memerah.
“Hahaha, cakep kok. Mbak approve. Percaya deh kita sama selera Jio, gak perlu kita saring ini mah.” Kedua perempuan itu tertawa puas, sementara Jio hanya bisa tersenyum kikuk menahan malu yang tumpah ruah.
“Ih, kok ngumpul begini kayak kucing lagi rapat? Ngomongin apa sih?” tanya Salma atau Mbak Ama—yang baru saja masuk ke ruangan. Dia adalah mentor Jio, penyelamat Jio, dan cahaya Jio.
“Anak lo ketahuan punya laki Ma! Gemes banget deh liat remaja jatuh cinta gak perlu mikirin KPR sama cicilan,” sahut Mbak Aca sambil menunjuk Jio yang saat ini sedang dirangkul Regina (yang lebih tampak seperti diborgol layaknya tahanan kriminal).
“Oh ya? Mau liat dong aku, boleh gak?” tanya Mbak Ama penasaran.
Pasrah, Jio membuka galeri foto dan menunjukan sebuah foto mirror selfie mereka berdua. Di foto itu, Marco yang tingginya hampir menyentuh plafon kamar merangkul Jio dengan posesif, seolah menegaskan bahwa mereka saling memiliki. Perawakan Marco yang tinggi dan karismatik langsung membuat para kakak senior ini mengangguk setuju bahwa adik kecil mereka berada di tangan orang yang tepat.
“Gemes banget. Tadi cowoknya ngasih pap pusing gitu lucu. Laki gw kalo ngirimin pap pusing gak lucu soalnya,” ucap Mbak Aca sambil mengedipkan satu mata, menirukan gaya foto Marco yang ia lihat tadi.
“Iya, Mbak, Dia sering pusing sekarang karena job deks-nya udah gak kaya anak magang. Efek CV-nya overqualified kali ya, jadi bebannya disamain sama kartap. bedanya cuma di gaji aja,” curhat Jio.
“Ih, jahat banget. Suruh pindah kesini aja!”
“Lucu tuh, nanti begitu Jio selesai, lakinya yang masuk, hahaha.”
“Kalian sering pulang bareng gitu gak? Aku kaget kamu punya pacar, soalnya keliatannya kaya single.” Terima kasih kepada Mbak Ama atas topik obrolan yang bagus.
Sekarang Jio harus berterima kasih dengan UKM Broadcast, karena Jio siap melakukan bridging obrolan paling dahsyat se-muka bumi.
“Jarang, Mbak. Kantor dia di Kuningan, gak searah sama aku. Terus dia suka lembur, baru pulang jam setengah delapan malam. Makanya dari kemarin dia merengek minta ketemu mulu habis kerja. Tapi giliran aku bisa, dia yang gak bisa. Giliran dia bisa, akunya yang gak bisa. Kayak sekarang dia bisa, tapi akunya ada agenda,” tutur Jio dengan nada sedih, memasang wajah malas mirip anak kucing yang telantar di pinggir jalan.
“Ih, apa sih? Jangan terlalu di dewasa-dewasakan begitu deh kisah remaja penuh cinta ini. Emang kamu mau ngapain hari ini sampai gak bisa? Kenapa kamu menolak ajakan pacaran gemas?” tanya Mbak Egi. Nadanya memang terdengar menyebalkan, tapi Jio tahu itu adalah bentuk perhatian mereka.
“Oh, karena agenda lari kita ya?” Mbak Aca langsung menebak.
“Hehehe, iya, Mbak. Sebenernya aku mau izin tadi, tapi gak enak sama kalian. Soalnya dari pagi semuanya udah kelihatan excited banget. Kita kan juga udah ngerencanain ini dari lama,” ucap Jio lirih.
Terima kasih Ekskul Teater drama atas kemampuan aktingnya, meskipun Jio harus memerankan juliet sepanjang pentasnya. “Ih, kenapa pakai gak enak? Gak apa-apa kali Ji! Bilang aja langsung. Kita mah paham banget,” sahut Mbak Ama yang langsung disetujui oleh keduanya.
“Kan jauh lebih enak pulang kantor sayang-sayangan sama pacar, daripada ikut lari sore cuma buat dengerin khotbahnya Mira soal kerjaan.” Jio tersenyum lega. Kalimat Regina memang ada benarnya.
Senior mereka yang akrab Jio panggil Mbak Mira itu memang agak unik; semua ide briliannya baru muncul ketika raganya sudah keluar dari gedung kantor ini. Sementara jika di dalam gedung, beliau bergerak seperti kacung kerdil yang patuh dan tidak berani memberikan semua isi kepalanya. Maka tak jarang kegiatan di luar kantor ini disebut sesi menguras kepala Mira. Saat tiba di kantor selanjutnya tim ini merapikan semua ide cerdas Mira yang hanya tinggal Mira lakukan di kantor esok harinya. Dan kali ini, Jio di izinkan untuk pergi dari sana.
“Sana gih, susul pacarmu.”
Pintu lift terbuka di lantai dasar, aroma udara luar yang bercampur wangi pendingin ruangan lobi langsung menyapa Jio. Dia mempercepat langkahnya tidak ingin tertinggal jatah kereta bawah tanah jam lima sore, dia butuh bertemu dengan Marco secepat mungkin, langkahnya setengah berlari kecil melewati jajaran tiang marmer megah. Sampai ponsel di genggamannya bergetar singkat.
“Sayang, aku udah di depan ya. deket billboard.” Senyum Jio mekar seketika. Ini pertama kali Marco menjemputnya tepat waktu di depan kantornya sendiri—tanpa perlu Jio menaiki MRT ke Bundaran HI terlebih dahulu, tanpa perlu menunggu hampir setengah jam di Thamrin 10.
Rupanya, hari ini di kantor Marco hanya ada acara internal. Beban kerjaan yang menumpuk dari kemarin mendadak renggang setelah jam makan siang karena dibantu babat habis oleh para seniornya yang berbaik hati. Semesta seolah paham kalau kedua anak manusia ini sudah terlampau haus akan presensi satu sama lain. Langkah Jio terhenti tepat di luar pintu kaca otomatis. Di seberang sana, di antara hiruk-pikuk kendaraan yang merayap, Marco berdiri bersandar di motor XSR-nya. laki-laki jangkung itu masih mengenakan kemeja kerja yang lengan panjanganya dilipat sebatas siku dan leather jacket yang ia taruh di motor, wajahnya lelah namun matanya langsung berbinar begitu menemukan sosok Jio.
“Mana imbalan ojek tepat waktunya? Cium dong,” celetuk Merco begitu Jio mendekat, memajukan bibirnya dengan raut sok manja. Namun, bukan kecupan yang Marco dapatkan melaikan tangan Jio yang menabok pipinya pelan sambil tertawa.
Suara tertawa itu menyusut jadi kehangatan yang menjalar di dada ketika Marco menarik pinggangnya tipis. Mereka berpelukan. Hanya lima detik yang singkat di tengah hembusan angin sore Jakarta, namun rasanya sanggup meluruhkan seluruh rasa lelah sepuluh jam bergelut dengan semua berkas dan deretan tugas kantor.
“Sini, kaku banget sih.” gumam Marco lembut. Tangannya bergerak mengambil helm, memasangkannya ke kepala Jio dengan telaten, tak lupa membenarkan posisi tali pengikatnya sampai terdengar bunyi klik. Tepat saat tangan Marco hendak terlepas dari helm, Jio berjinjit kecil.
CUP.
Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Marco, begitu cepat bagaikan bisikan angin. Tanpa memberi ruang bagi Marco untuk merespons, Jio langsung melompati jok belakang Kipli dan duduk nyaman di sana.
“Lho! Curang!” omel Marco, memutar kepalanya ke belakang dengan raut tidak terima yang menggemaskan. Jio hanya tertawa puas dari balik kaca helmnya.
“Jalan, Bapak Marco. Keburu makin macet!” Mesin motor menderum halus.
Perjalanan sore itu dipenuhi oleh suara Marco yang tidak ada habisnya. Jio sedikit menyesali keputusannya menyetujui marco membeli intercom—alat intercom helm yang ada mic nya itu. Maksud hati agar mereka tidak perlu berteriak-teriak sampai sakit kuping di jalan, tapi dampaknya Marco mendadak berubah jadi pemandu wisata super cerewet sepanjang rute Sudirman.
Yang, kemaren aku di sundul TJ 9D.
Yaelah ada iklan AI jelek wowo lagi.
Yang, itu gedung yang putih kata Mas Bagas kantinnya enak tapi mahal.
Yang, kamu tahu gak—
Jio menyandarkan dagunya di bahu Marco, membiarkan celotehan tak berujung itu mengalir masuk ke telinganya. Ada kehangatan tersendiri mendengarkan suara Marco yang begitu bernyawa di telinganya, membunuh semua bising dari klakson dan deru mesin di sekeliling mereka. Motor mereka merayap pelan di tangah lautan kendaraan yang juga meyarap di sepanjang koridor Jalan Jenderal Sudirman.
Saat tertahan macet di area Dukuh Atas, mata Jio menerawang ke arah trotoar. Di sana, ratusan pekerja berduyun-duyun berjalan kaki menuju Stasiun Sudirman dan Stasiun BNI City untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan transportasi umum. Wajah-wajah lelah yang memendam rindu akan rumah. Dalam hati yang paling dalam, Jio menyematkan doa singkat untuk mereka semua Semoga langkah-langkah kaki itu tidak terlalu berat, dan semoga beban di pundak mereka diringankan malam ini.
Marco memutar setir Kipli, mengambil jalur di area Patung Kuda Arjuna Wijaya. Gemericik air mancur yang tersorot lampu warna-warni berpadu indah dengan patung perunggu megah berbentuk delapan kuda yang menarik kereta perang tersebut. Gagah, melintasi batas masa, berdiri tegak di hadapan Monumen nasional yang menjulang samar di langit senja. Dari sana, mereka memotong jalan menuju belakang Sarinah, memasuki kawasan Kebon Sirih atau yang lebih akrab disapa Jalan Sabang.
Atmosfer mendadak berubah hangat dan meriah. Pinggir jalanan Sabang seolah hidup oleh jajaran gerobak tenda kuliner malam. Asap sate yang membumbung harum, deretan nasi goreng gila, martabak manis, hingga wangi kuah rempah yang menusuk hidung. Para pekerja kantor yang baru melipir tampak meramaikan meja-meja plastik, melepaskan penat seraya mencari ganjalan perut setelah seharian dihantam tumpukan berkas.
"Makan di sini aja ya, Yang?" usul Marco.
"Boleh banget, aku udah laper." Marco memarkirkan Kipli di celah tempat parkir motor yang cukup padat. Dengan cermat, dia membantu Jio melepaskan helmnya, mengacak pelan rambut Jio yang sedikit berantakan sebelum mereka mulai berjalan menyusuri trotoar Sabang yang ramai. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada satu tenda sederhana yang selalu ramai dipadati pengunjung Soto Ceker Pak Gendut.
"Mbak, soto ceker plus ranjau satu porsi ya, nasinya dua, Krupuk udang dua, sama es jeruknya dua gelas," pesan Marco lihai. Sambil menunggu pesanan datang, Jio meletakkan kedua sikunya di atas meja kayu. Ia mulai bercerita bagaimana perjuangan beraktingnya tadi sore demi meloloskan diri dari terkaman geng senior perempuan di kantornya.
"Aku bilang ke Mbak Ama sama Mbak Aca, kasihan pacarku merengek mau ketemu. Kalau gak diturutin entar nagis," goda Jio sambil terkekeh. "Padahal jujur ya, gosip hot di lantai empat belas jauh lebih menarik daripada kamu. Tapi berhubung aku sayang kamu, ya udah deh aku milih kamu aja."
Marco memajukan bibirnya, merajuk lucu. Tangannya terulur melewati meja, meraih jemari Jio dan menggenggamnya erat-erat. Tidak dilepaskannya sama sekali, seolah menegaskan bahwa Jio adalah miliknya malam ini. Tak lama, semangkuk soto ceker yang masih mengepulkan asap tebal mendarat di meja, disusul es jeruk segar dan kerupuk udang. Kuah kuningnya yang kaya rempah menyebarkan aroma gurih yang menggugah selera. Rasa panas dari kuah soto serta gurihnya ceker empuk itu perlahan membuat rona merah alami menyebar di pipi dan hidung mereka berdua. Wajah mereka menghangat, begitu pun dengan suasana di antara mereka.
Mengetahui Marco bukan tipe orang yang makan banyak jika sudah terlanjur lelah, Jio mengambil alih sendok. Ia menyendokkan nasi miliknya dengan kuah hangat.
"Aaaaa," ujar Jio mengarahkan sendok itu ke mulut Marco.
Marco menerima suapan itu tanpa curiga. Namun detik berikutnya, mata Marco membelalak. "Hahh panas, Yang!" keluhnya menahan hawa panas di dalam mulut.
Jio tertawa geli, buru-buru menyodorkan gelas es jeruk. "Eh, maaf, maaf! Aku lupa kuahnya masih mendidih banget!" Untuk suapan kedua, Jio bertindak lebih lembut.
Ia meniup permukaan sendok berulang kali sampai uap panasnya berkurang, barulah menyuapkannya lagi ke mulut Marco. Marco mengunyahnya dengan senyum puas yang terbit perlahan. Setelahnya, mereka menghabiskan porsi soto ceker hangat itu bersama-sama berbagi satu mangkuk, berbagi satu hangat yang sama. Usai menuntaskan makan malam, mereka sempat melipir sebentar ke FamilyMart terdekat untuk membeli dua gelas kopi, sebelum akhirnya kembali ke tempat motor Kipli terparkir.
Jalanan Jakarta mulai melonggar. Dalam perjalanan pulang, Marco sengaja mengambil rute memutar, seolah enggan menyudahi malam secepat ini. Jio yang menyadari hal itu hanya tersenyum tipis di belakang, menikmati embusan angin malam yang menerpa wajahnya. Baru ketika mereka memasuki kawasan Jalan Letjen Suprapto, Jio paham bahwa Marco akhirnya berniat mengantarnya pulang secara rasional. Motor melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Jio. Marco mematikan mesin, lalu turun untuk membantu Jio melepaskan helmnya. Setelahnya, Marco melepas helmnya sendiri, merapikan rambutnya yang sedikit lepek, lalu tiba-tiba melebarkan kedua tangannya lebar-lebar di depan Jio.
"Mau peluk. Yang lama," rengek Marco dengan raut wajah paling manja yang ia punya. Jio berpura-pura menghela napas pasrah, berjalan mundur satu langkah.
"Dih, manja banget sih om-om ini?"
"Yang, ayolah..." Marco makin memajukan badannya dengan bibir melengkung ke bawah.
Jio tidak tahan lagi untuk tidak tersenyum. Ia melangkah maju dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Marco, menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya itu. Marco langsung merengkuh tubuh Jio erat-erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Jio. Pelukan itu hangat, lama, dan dipenuhi oleh rasa rindunya yang akhirnya terbayar tuntas. Di bawah temaram lampu jalanan kompleks, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. Ketika pelukan itu terlepas pelan, Jio menatap wajah Marco. Tanpa aba-aba, Jio mendaratkan satu kecupan lembut tepat di bibir Marco. Saat jarak mereka terpisah beberapa sentimeter, Jio terkekeh gurau,
"Hmm... rasa soto ceker." Tawa Marco pecah seketika di udara malam.
Mereka tertawa bersama, sebelum akhirnya bertukar pelukan singkat sekali lagi untuk menyalurkan restu perpisahan malam itu.
"Sana masuk, udah malam," kata Marco begitu ia kembali mengenakan helmnya dan bersiap memanaskan mesin Kipli. Bukannya langsung masuk, Jio justru mendekat kembali ke arah Marco yang kaca helmnya masih terbuka.
CUP!
Satu kecupan kilat mendarat lagi di bibir Marco. Sebelum Marco sempat membalas, Jio sudah berbalik arah dan lari terbirit-birit masuk ke dalam pagar rumahnya.
"Jio! Jahat banget main kabur aja hey!" teriak Marco dari balik helmnya, tertawa pelan. "I love you!" Jio yang sudah berdiri di balik pintu teras hanya membalasnya dengan lambaian tangan.
Mesin Kipli menderum, mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Jio. Tepat saat motor itu berbelok di ujung komplek, ponsel di saku celana Marco bergetar tajam. Melalui intercom helmnya yang terhubung ke ponsel, panggilan suara itu terangkat otomatis.
"Halo, kenapa yang?" Suara Jio terdengar renyah dan lembut dari seberang sambungan telepon, diselingi helaan napas lega
"I love you too, Marco. Hati-hati di jalan ya."
TUT.
Sambungan diputus sepihak oleh Jio. Di atas motornya yang melaju membelah malam Jakarta, Marco hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan ulas senyum paling lebar yang menghiasi wajahnya sepanjang hari.
