Actions

Work Header

Entrancing

Summary:

"Aku ingin selalu berjumpa denganmu."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Rubah bukanlah hewan yang setia. Bila pasangannya mati, maka ia pun akan mencari yang baru. Tapi apakah semua rubah seperti itu?

 

 

 

 

Nakula terdiam di hadapan sebuah lukisan.

Di atas kanvas yang telah dimakan usia itu, seekor rubah putih berdiri anggun. Sembilan ekornya menjuntai, melengkung lembut laksana aliran sutra yang diterpa angin. Namun ada sesuatu yang mengusik pandangannya—pada ujung setiap ekor, tumbuh semburat hijau pucat, menyerupai cahaya lumut yang hidup di bawah rembulan.

Aneh.

Tak pernah ia melihat rubah dengan warna demikian.

Namun ini hanyalah lukisan. Barangkali sang pelukis sengaja menumpahkan imajinasi ke dalam setiap sapuan kuasnya. Lagipula, siapa yang berhak menyalahkan seorang seniman karena memilih warna yang tak pernah ada di dunia?

Nakula mengamati setiap detailnya lebih lama. Guratan halus bulunya, sorot mata rubah yang terasa terlalu hidup, hingga semburat keemasan yang mendominasi kanvas, membuat sosok itu seolah tengah berdiri di antara batas nyata dan khayal.

Barulah setelah itu ia mengalihkan pandangan, memutar tubuh, lalu melangkah menuju lukisan berikutnya.

"...Mari..."

Langkahnya terhenti.

"...berjumpa..."

Suara itu begitu lirih, tak lebih dari embusan napas yang terseret angin.

"...untuk... terakhir kali..."

Kalimat itu menggantung di udara.

Nakula perlahan menoleh ke belakang. Lorong galeri tetap lengang. Tak ada siapa pun selain dirinya. Hanya deretan lukisan yang diam membisu, serta keheningan yang menyesakkan dada.

Ia menyapu ruangan dengan pandangan penuh curiga.

Tidak ada.

Tidak seorang pun.

Lalu... suara siapa tadi?

Dan mengapa terdengar begitu rapuh, seolah seseorang tengah memanggilnya dari tempat yang sangat jauh—atau mungkin... dari balik kanvas yang baru saja ia tinggalkan?

 

 

 

 

Nakula mengembuskan napas perlahan, membiarkannya larut bersama embusan angin malam yang dingin. Pandangannya terangkat menatap rembulan purnama yang menggantung megah di langit, memancarkan cahaya keperakan yang menumpahi permukaan danau hingga berkilauan bak hamparan sutra.

Di sampingnya terletak sepiring sirutteok¹ yang baru ia beli di pasar sekitar dua jam yang lalu. Kue itu bahkan belum sempat disentuh. Kesunyian di tempat ini jauh lebih menggugah selera daripada makanan apa pun.

Desanya terlalu riuh.

Pasar dipenuhi teriakan para pedagang yang saling bersahutan, anak-anak berlarian tanpa mengenal lelah, sementara para tetua bercengkerama tanpa pernah kehabisan bahan pembicaraan. Kehidupan yang hangat, namun entah mengapa justru membuat benaknya terasa sesak. Sulit baginya menangkap seutas inspirasi di tengah kebisingan yang seolah tak pernah mengenal jeda.

Semakin lama ia tak melukis, semakin tipis pula isi kantongnya.

Kadang-kadang Nakula sendiri bertanya-tanya mengapa dahulu ia begitu keras kepala memilih jalan hidup sebagai seorang hwaga². Jalan itu tak menjanjikan kekayaan, bahkan sering kali hanya menghadiahinya hari-hari dengan perut setengah kosong. Namun setiap kali kuas menyentuh kanvas, segala keraguan lenyap begitu saja. Ada kepuasan yang tak mampu dibeli oleh kepingan uang mana pun.

Barangkali itulah alasan ia masih bertahan hingga hari ini.

Karena itu pula ia kini berada di tempat ini.

Duduk seorang diri di tepi danau yang keberadaannya diberitahukan oleh Sadewa, saudara kembarnya.

Danau itu tersembunyi jauh di tengah rimbunnya hutan, memerlukan hampir satu jam perjalanan kaki dari desa. Permukaannya memantulkan cahaya rembulan tanpa cela, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang anggun. Anehnya, ranting-ranting tua itu seakan sengaja memberi ruang bagi langit, membiarkan sang purnama bersinar utuh tanpa sedikit pun terhalang dedaunan.

Kunang-kunang beterbangan di antara rerumputan dan semak, memercikkan cahaya keemasan kecil yang menari mengikuti irama angin. Sesekali terdengar desir dedaunan, disusul nyanyian lirih serangga malam yang berpadu menjadi simfoni alam. Tak ada hiruk-pikuk manusia. Tak ada suara yang memaksa pikirannya bekerja.

Hanya ketenangan.

Ketenangan yang selama ini ia cari.

Meski demikian, sebelum berangkat, Sadewa telah berkali-kali mengingatkannya agar pulang sebelum mencapai tengah malam. Danau ini terlalu jauh dari desa, terlebih letaknya berada di tengah hutan yang mulai dihindari penduduk saat malam menjelang.

Nakula hanya tertawa mendengar kekhawatiran saudara kembarnya itu.

Baginya, tak ada yang perlu ditakutkan.

Bukankah gunung, hutan, dan segala yang hidup di dalamnya berada dalam lindungan Sanshin³? Selama manusia datang dengan hati yang tulus dan menghormati alam, sang penjaga gunung niscaya akan menunjukkan belas kasihnya. 

Baru saja Nakula hendak menyuapkan sepotong sirutteok ke dalam mulutnya, ada suara yang datang dari balik semak-semak.

Langsung saja ia menoleh.

Alih-alih membuang makanannya, Nakula justru dengan sigap memasukkan dua potong sirutteok sekaligus ke dalam mulutnya hingga kedua pipinya menggembung seperti tupai yang tengah menimbun bekal musim dingin. Sambil mengunyah tergesa-gesa, ia berdiri dan menatap waspada ke arah asal suara.

Semak-semak itu kembali bergoyang dengan perlahan dan makin lama semakin dekat. 

Kerongkongannya menelan ludah dengan susah payah.

Tidak mungkin manusia.

Penduduk desa tak pernah berani memasuki hutan ini selepas malam turun, apalagi mendatangi danau yang tersembunyi jauh di pedalaman. Seharusnya... hanya ada dirinya di sini.

Nakula memang mudah terkejut, tetapi bukan berarti ia takut pada hantu. Jika yang mengintainya adalah makhluk halus, barangkali ia hanya akan menjerit sesaat sebelum mengomel karena dibuat kaget.

Namun... Hutan adalah rumah bagi makhluk yang jauh lebih nyata.

Rumah bagi serigala, babi hutan, atau, kalau nasibnya sedang benar-benar buruk... harimau.

Astaga.

Seharusnya tadi ia sempat menulis surat wasiat untuk Sadewa.

Setidaknya berpesan agar saudara kembarnya itu menguburkannya dengan layak.

Ah, tidak.

Yang lebih penting... membakar buku berisi kisah cinta antara dua laki-laki yang ditulis Bima. Kalau sampai naskah itu ditemukan orang lain setelah kematiannya, nama mereka berdua pasti ikut terseret. Mati diterkam binatang buas saja sudah cukup memalukan, ia tidak ingin arwahnya masih harus menanggung malu karena dianggap pembaca setia tulisan Bima.

Sayangnya, semua penyesalan itu terlambat.

Nakula terus melangkah mundur seiring gerakan di balik semak yang semakin mendekat. Jemarinya bahkan mulai mencari-cari batu atau ranting yang bisa dijadikan senjata, meski ia sendiri ragu benda-benda itu akan berguna bila yang keluar nanti benar-benar seekor harimau.

Satu langkah lagi...

Satu langkah...

Dan tepat ketika ia bersiap kabur—bahkan sempat terpikir untuk nekat menceburkan diri ke tengah danau, sesosok makhluk menerobos keluar dari balik rimbun dedaunan.

Bukan harimau, terima kasih kepada para dewa...

Melainkan seekor rubah putih.

Namun bulu-bulunya yang seharusnya indah telah kusam oleh lumpur dan darah yang mengering. Tubuhnya berjalan tertatih, seolah setiap langkah menguras sisa tenaga yang dimilikinya. Pada sisi tubuhnya menganga luka panjang yang terus mengucurkan darah, meninggalkan jejak merah di atas rerumputan yang basah oleh embun malam.

Napas rubah itu terdengar berat.

Ia mengangkat kepalanya perlahan.

Sepasang mata hijau zamrud bertemu dengan mata sebiru lautan milik Nakula. Mereka saling memandang dalam diam, cukup lama hingga desir angin menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tepi danau.

Lalu, tanpa menggeram ataupun menunjukkan taringnya, rubah itu perlahan menekuk kedua kaki depannya.

Tubuhnya ambruk pelan ke tanah.

Ia meringkuk, gemetar hebat menahan nyeri, sementara napasnya semakin memburu. Meski demikian, kedua mata hijau itu tak pernah lepas dari Nakula.

Kewaspadaan yang semula memenuhi dada Nakula perlahan luruh, digantikan rasa iba yang datang tanpa diminta.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu berjongkok di hadapan rubah putih itu. Dengan hati-hati, agar tak menambah rasa sakitnya, Nakula mengulurkan tangan dan mengusap lembut kepala sang rubah.

Tak disangka, rubah itu sama sekali tidak menghindar.

Sebaliknya, ia memejamkan mata sesaat dan menyandarkan kepalanya lebih dalam ke telapak tangan Nakula, seolah menikmati sentuhan hangat yang sudah lama tak ia rasakan.

"...Kasihan sekali kamu." Suara Nakula tak lebih dari bisikan.

Pada dasarnya, ia memang selalu lemah jika berhadapan dengan hewan. Melihat seekor burung yang sayapnya patah saja sudah cukup membuatnya gelisah semalaman. 

Apalagi ini? 

Melihat tubuh rubah itu dipenuhi darah membuat dadanya terasa sesak. Padahal ukurannya jauh lebih besar daripada rubah biasa—hampir sebesar anak sapi—namun anehnya, tak sedikit pun rasa takut tumbuh di dalam dirinya.

Yang ada hanyalah keinginan untuk menolong.

Tanpa berpikir panjang, Nakula meraih ujung hanbok⁴ lusuh yang dikenakannya. Dengan sedikit tenaga, ia merobek kain itu menjadi beberapa lembar panjang.

"Maaf, ya."

Entah kepada rubah itu, atau kepada satu-satunya pakaian yang masih layak ia kenakan saat ini. 

Kini tubuh bagian atasnya dibiarkan telanjang, diterpa angin malam yang mulai menusuk kulit. Namun ia tak memedulikannya. Dengan cekatan, ia melilitkan sobekan kain itu mengelilingi luka di sisi tubuh sang rubah, menekannya perlahan agar aliran darahnya berkurang.

Rubah itu hanya meringis pelan.

Ia tidak menggeram, apalagi menggigit. Justru rubah ini membiarkan Nakula merawatnya seakan telah menaruh kepercayaan penuh kepada manusia asing yang baru beberapa saat dikenalnya.

"Begini dulu, ya. Nanti sesampainya di rumah, lukamu akan kubersihkan dengan benar."

Nakula tersenyum tipis.

Mungkin Sadewa akan mengomelinya habis-habisan karena pulang larut malam sambil membawa seekor rubah asing ke rumah.

Ah, sudahlah.

Omelan kakaknya ini bisa dipikirkan nanti.

Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa makhluk malang ini.

Nakula kemudian berdiri sembari menepuk-nepuk pelan lututnya.

"Ayo." Ia mengulurkan tangan ke arah rubah itu. "Kamu masih bisa jalan?"

Rubah putih itu seolah memahami ucapannya. Dengan susah payah ia menumpukan berat badannya pada keempat kaki, mencoba berdiri.

Satu langkah.

Tapi tubuhnya kembali roboh ke tanah. Napasnya tersengal, sementara luka di tubuhnya kembali mengeluarkan darah yang merembes melewati balutan kain.

Nakula memejamkan mata sesaat. "Ya sudah..." Ia menghela napas pasrah, sebelum berjongkok lagi di sisi rubah itu.

"Aku yang bawa."

Dengan susah payah ia menyelipkan kedua lengannya ke bawah tubuh sang rubah, lalu mengangkatnya ke dalam gendongan. Beratnya jauh melebihi perkiraannya hingga tubuh Nakula sempat oleng beberapa langkah. Otot-otot lengannya berteriak protes, sementara punggungnya terasa nyeri seketika.

"Astaga... ternyata kamu berat juga." Keluhnya pelan, diselingi tawa kecil yang dipaksakan.

Anehnya, rubah itu tidak meronta sedikit pun.

Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Nakula, memejamkan kedua mata hijaunya perlahan. Napasnya tetap berat, namun kini jauh lebih tenang dibanding beberapa saat sebelumnya.

Seolah untuk pertama kalinya malam itu... Ia merasa aman.

Nakula mengencangkan gendongannya, lalu mulai melangkah meninggalkan tepi danau, menyusuri jalan setapak yang diterangi cahaya rembulan.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

"Kepada seluruh dewa yang bersemayam di atas langit..."

Sadewa mengembuskan napas panjang seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Tolong lindungi saudara kembar saya yang satu itu. Kepalanya dipenuhi bakat melukis, tetapi entah mengapa sering kali kosong saat harus memikirkan keselamatan dirinya sendiri."

Sejak matahari tenggelam, ia tak berhenti mondar-mandir di depan rumah kecil mereka. Setiap kali angin menggoyangkan pepohonan di kejauhan, Sadewa akan menoleh penuh harap, hanya untuk kembali menghela napas ketika yang datang hanyalah kesunyian.

Bukannya ia berlebihan.

Ia hanya mengenal Nakula terlalu baik.

Jika sudah tenggelam dalam mencari inspirasi, dunia seakan berhenti berputar bagi saudara kembarnya itu.

Padahal sebelum berangkat, Sadewa telah berkali-kali mengingatkan agar ia pulang sebelum malam semakin larut. Hutan bukan tempat yang ramah selepas purnama naik tinggi.

Dan kini... Nakula memang pulang.

Hanya saja...

"..."

Sadewa memandang tanpa berkedip.

Saudara kembarnya berdiri di depan pintu dengan tubuh bagian atas yang sudah telanjang, rambut berantakan, napas tersengal, dan—yang paling membuatnya ingin menangis sekaligus tertawa... Seekor rubah putih berukuran besar sedang tergolek di dalam gendongannya.

Tubuh hewan itu dipenuhi luka dan bercak darah yang mulai mengering.

Sadewa memejamkan mata, lalu mulai menghitung dalam hati.

Satu...

Dua...

Tiga...

"Kepada seluruh dewa..." gumamnya lirih. "Tolong beri saya kesabaran."

Sementara itu, Nakula hanya menyeringai kikuk. Jemarinya menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, seolah tindakannya membawa pulang seekor rubah raksasa di tengah malam adalah hal yang lumrah.

Di dalam gendongannya, rubah putih itu hanya meringkuk lemah. Matanya terpejam, napasnya berat, seakan seluruh tenaganya telah habis di perjalanan.

Sadewa akhirnya membuka suara.

"...Nakula."

"Hm?"

"Kenapa kau pulang-pulang membawa rubah?"

Nakula mengernyit, seolah pertanyaan itu terdengar aneh. "Dia terluka, Dew." Ia menunduk memandangi rubah itu sesaat. "Kamu tidak lihat?"

"Saya lihat." Sadewa mengusap wajahnya pelan. "Tapi kau juga tahu sendiri. Banyak warga desa yang takut pada rubah. Terlebih yang sebesar ini."

"Lalu?" Nakula mengangkat sebelah alisnya. "Haruskah aku membiarkannya mati sendirian di tengah hutan hanya karena orang-orang takut kepadanya?"

Kalimat itu membuat Sadewa terdiam. Ia menoleh kepada rubah putih yang kini bahkan tak sanggup membuka mata, lalu menoleh kepada Nakula.

Tatapan saudaranya itu begitu tulus, tanpa sedikit pun keraguan atau rasa takut. Seolah yang dilihatnya bukanlah seekor rubah liar, melainkan makhluk hidup yang kebetulan sedang membutuhkan pertolongan.

Dan memang begitulah Nakula sejak kecil.

Tak pernah mampu menutup mata terhadap penderitaan makhluk lain.

Sadewa kembali mengembuskan napas panjang, semua bantahan yang sebelumnya telah ia susun di kepalanya buyar begitu saja.

"Baiklah..." Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Obati dia."

Nakula langsung mengangkat kepala. "Benarkah?"

"Kita biarkan dia tinggal di sini sampai lukanya sembuh."

Belum sempat Sadewa menyelesaikan ucapannya, wajah Nakula telah lebih dahulu berseri-seri. Senyum lebarnya merekah begitu terang hingga rasanya mampu mengalahkan cahaya lampu minyak di dalam rumah.

"Terima kasih, Dew!"

Nakula segera merebahkan rubah yang sudah lemas itu didalam rumah, lalu mengusap pelan kepalanya dengan penuh rasa syukur.

Sadewa hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Benar-benar..." gumamnya.

"Saya ini kadang tidak tahu, kau berhati terlalu baik... atau justru terlalu nekat."

Keesokan paginya, di sudut ruangan, rubah putih itu membuka kedua matanya perlahan. Manik hijau zamrudnya bergantian memandang Nakula dan Sadewa yang duduk didepannya dengan raut wajah penasaran. 

"Nah, karena kamu sudah bangun... sekarang waktunya aku mengobatimu."

Nakula tersenyum lebar, sementara di sampingnya Sadewa hanya mengangguk-angguk kecil dengan raut pasrah, seolah telah menerima kenyataan bahwa rumah mereka kini benar-benar memiliki seekor tamu yang tidak biasa.

"Semoga dia tidak menggigitmu," gumam Sadewa.

"Kalau menggigit, berarti dia masih punya tenaga. Itu kabar baik."

Jawaban santai itu hanya dibalas helaan napas panjang.

Sebelum menyentuh tubuh rubah tersebut, Nakula terlebih dahulu membilas kedua tangannya menggunakan air jernih yang mengalir dari mata air kecil di belakang rumah. Air itu begitu dingin hingga membuat jemarinya sedikit memerah, namun ia tetap mencucinya dengan saksama, memastikan tak ada tanah maupun debu yang tertinggal.

Setelah itu, ia kembali menghampiri sang rubah.

Rubah putih itu masih meringkuk lemah di atas tikar jerami. Bulu-bulu yang semula sudah begitu kusam, kini lebih kusam lagi, kusut, bahkan saling menempel akibat darah yang telah mengering sejak semalam. Napasnya terdengar lebih tenang daripada sebelumnya, tetapi tubuhnya masih sesekali bergetar menahan nyeri.

"Maaf ya... mungkin akan sedikit perih."

Suara Nakula terdengar begitu lembut.

Ia mengambil selembar kain rami bersih yang sebelumnya telah dibasahi menggunakan air matang yang direbus hingga mendidih, lalu didinginkan terlebih dahulu agar aman digunakan untuk membersihkan luka.

Dengan gerakan yang begitu lembut, ia membuka balutan kain yang semalam digunakan untuk menghentikan pendarahan.

Luka di sisi tubuh rubah itu kembali terlihat.

Panjang dan dalam.

Bekas cakaran atau sabetan benda tajam—Nakula sendiri tak mampu memastikan.

Ia mengembuskan napas pelan sebelum mulai mengusap darah yang mengering sedikit demi sedikit. Jemarinya bergerak hati-hati, membersihkan luka tanpa terburu-buru agar tidak merobek jaringan yang mulai menutup. 

Sesekali rubah itu meringis. Napasnya tercekat, dan tubuhnya menegang sesaat menahan rasa perih.

Melihat itu, tangan Nakula otomatis berhenti.

Sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.

"Sebentar saja..." Ia mengusap lembut kepala rubah tersebut dengan tangan yang lain. "Setelah ini... rasa sakitmu akan berkurang."

Entah karena memahami ucapannya atau sekadar merasakan ketulusan dalam sentuhan itu, rubah tersebut perlahan kembali mengendurkan tubuhnya.

Barulah Nakula melanjutkan pekerjaannya.

Setelah luka itu cukup bersih, ia mengambil beberapa lembar daun ssuk⁵ yang telah dipetiknya dari lereng bukit beberapa hari sebelumnya. Daun-daun itu memang selalu ia simpan sebagai persediaan obat, sebab sejak kecil ia diajari bahwa ssuk mampu membantu meredakan peradangan dan mempercepat penyembuhan luka ringan.

Daun-daun hijau itu dimasukkannya ke dalam lesung batu kecil. Lalu Nakula menumbuknya menggunakan alu. Perlahan daun-daun tersebut berubah menjadi tumbukan hijau pekat yang mengeluarkan aroma getir khas tumbuhan liar, bercampur wangi tanah yang menenangkan.

Nakula mengambil sedikit ramuan itu menggunakan ujung jarinya.

Kemudian mengoleskannya perlahan pada luka rubah tersebut.

Begitu pelan dan penuh hati-hati, seolah tekanan sekecil apa pun dapat menambah penderitaan makhluk malang itu.

Setelah seluruh permukaan luka tertutup ramuan, ia merobek selembar kain rami bersih menjadi beberapa bagian. Balutan baru dipasangnya dengan rapi, cukup erat agar tidak mudah bergeser, namun tetap longgar supaya darah masih dapat mengalir dengan baik.

"Nah..." Nakula mengamati hasil pekerjaannya sejenak. "Sudah selesai."

Senyum puas menghiasi wajahnya.

Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangan dan mengusap perlahan kepala rubah itu. Jemarinya menyisir bulu-bulu halus di sela kedua telinganya, memberikan belaian yang begitu lembut hingga menyerupai kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

Rubah putih itu membuka kedua mata hijaunya.

Untuk beberapa saat, ia hanya memandang Nakula dalam diam. Tatapan itu begitu dalam, seolah hendak mengingat wajah manusia yang tengah merawatnya dengan sepenuh hati.

Lalu, perlahan, Ia mendekatkan kepalanya.

Moncongnya menggesek pelan telapak tangan Nakula, menikmati kehangatan yang mengalir dari sentuhan itu. Bahkan sesaat kemudian ia memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam usapan lembut yang belum pernah ia rasakan sejak sekian lama.

Nakula terkekeh pelan. "Kamu manja juga, ya?"

Selama beberapa menit, keduanya hanya diam sambil menyalurkan kehangatan. Dan kini, Nakula yang semula tengah mengusap lembut sang rubah itu mendadak menghentikan gerakannya.

Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Pandangannya jatuh pada ujung salah satu ekor rubah tersebut. Di sela-sela bulu yang masih dipenuhi lumpur, tampak semburat warna yang berbeda.

Hijau.

Sangat samar karena tertutup lumpur, tetapi jelas bukan pantulan cahaya ataupun noda dedaunan.

Nakula mengernyit.

"Aneh..."

Ia bangkit sejenak untuk mengambil selembar kain rami yang masih bersih. Setelah membasahinya sedikit dengan air, ia kembali duduk di samping rubah itu.

"Hm... diam sebentar, ya."

Dengan penuh kehati-hatian, ia mulai menyeka lumpur yang melekat di ujung ekor tersebut.

Sedikit demi sedikit hingga lumpur itu luruh.

Dan semakin banyak yang terhapus, semakin jelas pula warna aslinya.

Bulu-bulu lembut berwarna hijau terang, membaur indah dengan bulu putih di sekitarnya. Warnanya mengingatkan Nakula pada daun muda yang baru disapa embun pagi. 

Matanya berkedip beberapa kali. "Lho..."

Ia memegang ujung ekor itu dengan sangat hati-hati, memeriksanya dari berbagai sudut.

"Benar-benar hijau..."

Nakula lalu mengalihkan pandangannya kepada sang rubah yang tengah menatapnya tenang.

"Kok ujung ekormu hijau...? Memangnya ada rubah yang bulunya seperti ini?"

Rubah putih itu hanya memiringkan kepalanya.

Sepasang mata hijau zamrudnya berkedip perlahan, tidak memahami pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tak lama kemudian ia mengembuskan napas pelan. Kepalanya kembali direbahkan di atas kedua kaki depannya, sementara ekornya melingkar santai di samping tubuh.

Nakula mengusap dagunya pelan.

"Aneh sekali..."

Di sudut ruangan, Sadewa yang menyaksikan pemandangan itu hanya menggeleng sambil melipat kedua tangannya di depan dada. 

Ya, tidak apa-apa.

Bagaimanapun juga, rubah itu hanyalah seekor rubah.

Selama diperlakukan dengan baik, kecil kemungkinan hewan itu akan melukai mereka. Lagi pula, Nakula telah membuktikannya sendiri. Sejak dibawa pulang dari hutan hingga kini, rubah putih itu tak sekali pun menunjukkan taringnya, apalagi berusaha menyerang.

Mungkin ia hanya sedang ketakutan.

Mungkin pula ia hanya ingin bertahan hidup.

Apa pun alasannya, Sadewa memilih untuk mempercayai penilaian saudara kembarnya.

Toh, mereka bukan siapa-siapa.

Mereka hanyalah rakyat jelata yang hidup dari hasil jerih payah sendiri, jauh dari gemerlap istana maupun intrik para bangsawan. Hari-hari mereka diisi dengan bekerja, mencari makan, dan berusaha bertahan melewati musim demi musim. Kehidupan sederhana itu memang tak selalu mudah, tetapi setidaknya cukup untuk mereka jalani bersama.

Sadewa percaya... Takdir, sekejam apa pun, tentu masih memiliki sedikit belas kasihan.

Bukankah penderitaan telah cukup akrab dengan rakyat kecil seperti mereka?

Mereka tak memiliki kekuasaan untuk diperebutkan.

Tak memiliki harta yang pantas dirampas.

Tak pula menyimpan rahasia besar yang dapat mengguncang negeri.

Yang mereka miliki hanyalah rumah sederhana, sepetak kehidupan yang damai, serta satu sama lain sebagai keluarga.

Karena itulah, Sadewa ingin percaya bahwa nasib tidak akan begitu kejam hingga menjadikan dua orang biasa seperti mereka sebagai sasaran permainan takdir.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

Nakula melangkah pulang dengan ayunan kaki yang terasa jauh lebih ringan daripada biasanya. Sebuah kantung kain kecil berisi kepingan uang tergantung di pinggangnya, sesekali berdenting pelan mengikuti langkahnya.

Hari ini adalah hari yang baik.

Beberapa lukisannya akhirnya terjual.

Bukan kepada penduduk desa seperti biasanya, melainkan kepada para bangsawan yang kebetulan datang ke pasar. Mereka berhenti cukup lama di depan lapaknya, memperhatikan satu demi satu lukisan yang dipajangnya, hingga akhirnya memutuskan membeli beberapa di antaranya.

Bagi orang lain, mungkin itu bukanlah sesuatu yang istimewa.

Namun bagi Nakula...

Itu adalah pencapaian yang begitu berarti.

Selama ini ia selalu merasa dirinya belum cukup baik. Setiap kali melihat karya para hwaga lain, rasa percaya dirinya perlahan menghilang. Menurutnya, sapuan kuas mereka jauh lebih hidup, komposisi warnanya lebih indah, dan setiap lukisan mereka seolah memiliki napas yang tak mampu ia hadirkan dalam karyanya sendiri.

Sering kali ia bertanya-tanya...

Apakah suatu hari nanti ia benar-benar pantas disebut seorang pelukis?

Namun keraguan itu tak pernah membuatnya berhenti.

Justru sebaliknya.

Nakula percaya bahwa selama tangannya masih mampu menggenggam kuas, ia akan terus melukis. Terus menuangkan kehidupan ke atas hamparan kanvas, menangkap keindahan dunia sebelum waktu sempat merenggutnya.

Barangkali suatu hari nanti...

Lukisannya pun akan mampu menyentuh hati seseorang.

Sama seperti hari ini.

Dan mengenai kembaran Nakula, Sadewa...

Bila Nakula memilih jalan hidup sebagai seorang hwaga, maka Sadewa menapaki jalan yang berbeda.

Sadewa adalah seorang sangin

Setiap pagi, ketika embun masih menggantung di pucuk-pucuk rumput, Sadewa telah lebih dahulu membuka lapaknya di pasar. Berbeda dengan pedagang lain yang menjajakan hasil panen atau makanan, ia menjual buku-buku salinan, gulungan naskah, pakaian, serta berbagai kain yang didatangkan dari desa-desa sekitar.

Pekerjaannya memang tidak semewah para saudagar besar.

Namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Tentu saja... Ada satu hal yang tak pernah berhasil Sadewa hindari.

Gosip.

Pasar adalah tempat di mana berita menyebar lebih cepat daripada angin.

Belum sempat matahari mencapai puncaknya, para ibu rumah tangga telah memperbincangkan pertengkaran tetangga mereka. Menjelang siang, para pedagang mulai berbisik mengenai pajak baru yang memberatkan rakyat. Sore harinya, pembicaraan berganti menjadi isu yang lebih besar—tentang bagaimana raja yang sekarang semakin semena-mena terhadap rakyatnya, tentang pejabat yang diam-diam memperkaya diri, hingga kisah perselingkuhan seseorang yang entah mengapa selalu terdengar jauh lebih menarik daripada urusan negara.

Sadewa tidak pernah berniat mendengarkan.

Sungguh.

Sadewa hanya ingin berjualan dengan tenang.

Namun telinganya tidak bisa ditutup.

Lagi pula, orang-orang seolah sengaja memilih lapaknya sebagai tempat mengobrol. Ada yang datang untuk membeli pakaian, tetapi akhirnya menghabiskan setengah jam menceritakan skandal keluarga bangsawan. Ada pula yang awalnya hendak membeli buku, namun malah sibuk membahas siapa yang diam-diam bertemu dengan janda desa sebelah.

Pada akhirnya, meski tak menginginkannya...

Sadewa mengetahui terlalu banyak hal.

Bahkan lebih banyak daripada kepala desa.

Sore itu pun tak berbeda.

Begitu matahari mulai condong ke barat, Sadewa menutup lapaknya, memanggul sisa dagangan, lalu berjalan pulang dengan wajah yang tampak lelah—bukan karena bekerja, melainkan karena seharian dipaksa menjadi "tempat sampah" bagi segala macam cerita.

Baru saja Sadewa membuka pintu rumah.

"Nah, pulang juga!" Nakula langsung menghampirinya dengan kedua mata berbinar. "Gimana? Ada gosip baru?"

Sadewa bahkan belum sempat meletakkan barang bawaannya.

Ia hanya memandang saudara kembarnya beberapa saat, lalu mengembuskan napas panjang yang entah sudah keberapa kalinya hari itu.

"...Saya ini kakakmu atau burung pembawa kabar?"

"Soalnya kamu selalu tahu semuanya."

"Bukan tahu." Sadewa mengusap wajahnya pelan. "Saya dipaksa tahu."

Nakula tertawa kecil, lalu duduk bersila di hadapan saudara kembarnya dengan penuh antusias, seperti anak kecil yang sedang menunggu dongeng sebelum tidur.

"Oh ya, tadi beberapa bangsawan membeli lukisanku."

"Selamat, Nakula. Senang?"

"Mhm. Nah, sekarang mana gosipnya?" 

Sadewa memejamkan mata sejenak. Ia tahu betul percuma menolak. Kalau Nakula sudah penasaran, ia akan terus membuntuti sampai akhirnya mendapatkan jawaban.

"...Baiklah." Sadewa menyerah. "Hari ini ada seorang pedagang kain yang ketahuan berselingkuh dengan istri tukang tembikar."

"Oalah..."

"Nah, terus katanya mereka ketahuan gara-gara si suami pulang lebih cepat."

"Wah."

"Lalu ada lagi kabar kalau beberapa pejabat kerajaan diam-diam menaikkan pungutan di desa sebelah."

Senyum Nakula perlahan memudar. "Itu kasihan rakyatnya..."

Sadewa mengangguk pelan. "Makanya saya bilang, dibandingkan mendengar kisah perselingkuhan, saya lebih berharap berita seperti ini tidak pernah benar."

Tak jauh dari mereka, rubah putih yang sejak tadi berbaring di sudut ruangan perlahan membuka matanya.

Sepasang manik hijau itu memandang kedua saudara kembar tersebut dalam diam.

Telinganya bergerak pelan ketika mendengar pembicaraan tentang gosip-gosip terkini. Lalu, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, rubah putih itu kembali merebahkan kepalanya.

Mungkin rubahnya berpikir bahwa kembar ini adalah manusia yang aneh.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

Dan tanpa terasa, beberapa bulan telah berlalu sejak malam ketika seekor rubah putih itu muncul di tepi danau.

Luka di tubuhnya telah lama sembuh.

Bekas-bekas darah yang dahulu mengotori bulunya pun kini tinggal kenangan. Setelah beberapa kali dimandikan oleh Nakula, bulu rubah itu kembali bersinar seputih salju, lembut dan bersih hingga tampak berkilau ketika diterpa sinar matahari.

Yang paling memikat perhatian, tentu saja, adalah ujung ekor-ekornya.

Semburat hijau lembut itu masih ada.

Bahkan kini tampak semakin indah.

Warnanya menyerupai dedaunan muda yang baru tumbuh di awal musim semi, kontras namun begitu serasi dengan bulu putih yang mendominasi seluruh tubuhnya.

Sering kali Nakula kehilangan fokus hanya karena memandangi warna tersebut.

"Indah sekali..." gumamnya lebih dari sekali.

Ia tak pernah bosan mengaguminya. 

Entah karena dirinya memang jarang melihat satwa liar, atau memang rubah yang tinggal bersamanya ini berasal dari spesies yang sangat langka.

Ia tak tahu.

Dan, sejujurnya, Nakula tidak terlalu peduli.

Baginya, Tira tetaplah Tira.

Ya.

Begitulah akhirnya Nakula memutuskan memanggil rubah itu.

Tira.

Nama sederhana yang muncul begitu saja ketika mereka sedang duduk menikmati matahari sore.

Anehnya, rubah itu langsung menoleh saat nama tersebut pertama kali diucapkan.

Sejak saat itu, nama itu seolah benar-benar menjadi miliknya.

Tira juga tak pernah meninggalkan rumah. Kebanyakan waktunya dihabiskan dengan berbaring di dekat Nakula yang tengah melukis, atau mengikuti ke mana pun pemuda itu pergi di sekitar halaman rumah.

Ia bahkan lebih tenang daripada kebanyakan anjing peliharaan.

Yang lebih mengherankan lagi adalah kebiasaannya makan.

Tira sama sekali tidak pilih-pilih.

Apa pun yang dimakan Nakula dan Sadewa, itulah yang akan ia santap. Nasi, sayuran liar, sup sederhana, bahkan sirutteok yang sesekali dibeli Nakula dari pasar.

Tak sekali pun ia menunjukkan tanda-tanda menginginkan daging.

Awalnya Nakula sempat khawatir.

"Rubah memang boleh makan begini, ya?"

Namun setiap kali makanan diletakkan di depannya, Tira selalu menyantapnya dengan tenang tanpa sedikit pun mengeluh.

Seolah ia memahami keadaan kedua saudara itu.

Seolah ia tahu bahwa pemiliknya hanyalah rakyat biasa yang hidup dari hasil menjual lukisan dan berdagang, bukan bangsawan kaya yang mampu menghidangkan daging di setiap waktu makan.

Karena itulah, setiap kali melihat Tira menghabiskan makanan sederhana yang mereka bagi bertiga, Nakula selalu tersenyum kecil.

"Aku beruntung bertemu denganmu."

Tira mengangkat kepalanya.

Tatapan mata hijau zamrudnya bertemu dengan manik lautan milik Nakula.

Lalu, seperti biasa, rubah itu menghampiri dan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang pelukis, menikmati usapan lembut yang selalu diberikan kepadanya tanpa pernah diminta.

Namun hari itu terasa berbeda.

Begitu Sadewa pulang lebih dahulu dan membuka pintu rumah, hal pertama yang ia lakukan seperti biasa adalah memanggil nama penghuni berbulu yang selalu menyambutnya.

"Tira?"

Tak ada jawaban. Ia menoleh ke sudut ruangan, tidak ada. Barangkali sedang berada di belakang rumah, pikirnya.

Namun setelah mengitari kebun kecil tempat Tira gemar berbaring di bawah pohon, sosok rubah putih itu tetap tak terlihat.

Aneh.

Beberapa saat kemudian Nakula tiba di rumah dengan wajah cerah. Senyum itu seketika memudar begitu melihat raut gelisah saudara kembarnya.

"Dew... Tira mana?"

Sadewa menggeleng perlahan. "Saya juga sedang mencarinya."

Seketika kepanikan menyelimuti keduanya.

Biasanya, setiap kali mereka meninggalkan rumah, Tira tak pernah pergi jauh. Ia akan menunggu dengan sabar di dalam rumah, meringkuk di dekat pintu masuk, atau berbaring di kebun belakang sambil berjemur di bawah sinar matahari.

Tak sekali pun ia menghilang tanpa jejak.

"Tira!"

Nakula berlari keluar, memanggil nama rubah itu berkali-kali.

Tak ada sahutan, tak ada bayangan putih yang berlari menghampiri seperti biasanya.

Mereka berdua segera menyusuri jalan-jalan desa, mencari ke setiap sudut yang mungkin didatangi Tira.

Di dekat sungai, di balik lumbung padi, di sekitar pasar yang mulai sepi... Namun semua jawabannya mengarah ke satu hal: Tira tidak ada dimana-mana. 

Berkali-kali Nakula hampir menghampiri warga untuk bertanya, tetapi setiap kali niat itu muncul, Sadewa segera menarik lengannya.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Kalau kita bertanya tentang seekor rubah sebesar Tira..." Sadewa menghela napas. "...mereka justru akan bertanya balik kenapa kita memelihara rubah liar."

Nakula terdiam.

Ia tahu Sadewa benar.

Tidak semua orang memiliki belas kasih yang sama terhadap hewan liar.

Terlebih kepada rubah.

Di desa, banyak yang percaya bahwa rubah adalah pembawa pertanda buruk, makhluk licik yang gemar menyesatkan manusia. Bila sampai warga mengetahui keberadaan Tira selama ini...

Nakula bahkan tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi.

Maka mereka hanya bisa terus mencari sendiri.

Satu jam berlalu.

Kemudian dua.

Langit sampai berubah menjadi gelap, menyisakan semburat jingga yang akhirnya ditelan malam.

Namun Tira... Tak kunjung ditemukan.

Dengan tubuh yang dipenuhi rasa lelah, kedua saudara itu akhirnya kembali ke rumah.

Mereka menjatuhkan diri di serambi depan.

Sadewa meluruskan kedua kakinya yang pegal akibat berjalan tanpa henti, sementara Nakula hanya memeluk kedua lututnya, menatap halaman kosong dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan.

"...Ke mana, ya, Tira..."

Sadewa menoleh ke Nakula. Dan jujur saja, Sadewa pun sebenarnya sama khawatirnya. Namun seseorang harus tetap berpikir jernih di situasi seperti ini. 

"Saya juga tidak tahu." Ia menepuk pelan bahu saudara kembarnya. "Besok pagi kita cari lagi."

Nakula tidak menjawab.

"Kamu juga belum makan kan, Nakula?"

"...Belum."

"Masuklah dulu. Setidaknya isi perutmu."

Nakula mengangguk kecil. "...Tapi Tira..."

Kalimat itu terputus begitu saja. Mendadak kedua matanya membelalak, seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya.

"Tunggu..." Ia berdiri begitu cepat hingga hampir kehilangan keseimbangan. "Kalau benar..."

Tanpa memberikan penjelasan apa pun, Nakula langsung berlari melewati halaman, menyusuri jalan setapak—menuju arah hutan.

"NAKULA!"

Sadewa sontak berdiri. "Hei! Mau ke mana?!"

Nakula tak menoleh. Ia terus berlari sekuat tenaga.

"Jangan ke hutan malam-malam!" Suara Sadewa menggema di belakangnya. "Itu berbahaya!"

Tetapi Nakula seolah tak lagi mendengar apa pun. Di dalam benaknya hanya ada satu tempat yang terus terbayang.

Danau.

Danau tempat ia pertama kali bertemu Tira.

Entah mengapa, firasatnya mengatakan... Rubah itu berada di sana.

Sementara di belakangnya, Sadewa hanya mampu mengepalkan tangan dengan wajah dipenuhi kecemasan. "Dasar keras kepala..." gumamnya pelan. 

Namun Sadewa memilih untuk tidak mengejar kembarannya. Karena Sadewa yakin saudara kembarnya akan baik-baik saja. 

Dan untuk Nakula.

Meskipun kulitnya berkali-kali tergores oleh ranting-ranting tajam, dan ia beberapa kali tersandung akar pohon hingga hampir terjatuh lantaran nekat berlari di tengah hutan di malam hari tanpa membawa obor, Nakula tidak memedulikannya.

Tidak.

Rasa perih yang menjalari sekujur tubuhnya sama sekali tidak berarti dibandingkan kegelisahan yang menggerogoti hatinya.

Beberapa bulan yang ia habiskan bersama Tira bukanlah waktu yang singkat. Makhluk itu bukan lagi sekadar rubah yang pernah ia selamatkan di tepi danau. Tanpa ia sadari, Tira telah menjadi bagian dari kesehariannya. Menemaninya melukis, menyambutnya setiap kali pulang dari pasar, bahkan tertidur di sampingnya ketika malam mulai larut.

Karena itulah, ia tak sanggup kehilangan Tira.

Langkahnya semakin cepat, napasnya memburu, hingga akhirnya kedua kakinya berhenti ketika hamparan danau yang begitu familiar itu kembali menyambut pandangannya.

Tempat ini...

Masih sama seperti beberapa bulan yang lalu.

Air danaunya tetap sebening kristal, memantulkan cahaya rembulan yang menggantung megah di langit malam. Pepohonan yang mengelilinginya masih berdiri kokoh, sementara angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan hingga terdengar desir yang menenangkan. Kunang-kunang pun masih beterbangan di atas permukaan air, menciptakan titik-titik cahaya keemasan yang membuat tempat itu tampak seperti negeri dalam dongeng.

Tidak ada yang berubah.

Masih seindah dan setenang dulu.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Di tepi danau, tepat membelakanginya, duduk sesosok... seseorang?

Atau...

Apakah sosok itu masih pantas disebut manusia?

Rambutnya terurai panjang hingga menyentuh tanah, seputih salju yang baru turun di musim dingin. Di ujung-ujung helainya, terselip gradasi hijau lembut, menyerupai pucuk daun yang baru tumbuh.

Dan yang paling membuat Nakula terpaku...

Di belakang tubuh sosok itu menjuntai sembilan ekor yang begitu besar.

Bahkan jauh lebih besar daripada tubuh pemiliknya sendiri.

Kesembilan ekor itu bergerak perlahan mengikuti embusan angin malam, bulunya putih bersih dengan ujung berwarna hijau yang sama seperti rambut panjangnya. Terlihat begitu lembut, begitu anggun, hingga menyerupai sembilan helai awan yang turun ke bumi.

Puluhan kunang-kunang beterbangan mengelilingi sosok tersebut.

Mereka berputar perlahan di sekitarnya, seolah tengah menari dalam diam, seakan menyambut kehadiran makhluk itu dengan penuh sukacita.

Pemandangan itu begitu indah.

Begitu... tidak nyata.

Nakula hanya mampu mematung. Tatapannya tak lepas dari sembilan ekor yang bergoyang perlahan itu.

Mengapa...

Mengapa ekor-ekor itu terasa begitu familiar?

Bulu putih... Dengan ujung berwarna hijau...

Dadanya berdegup semakin kencang. Ingatan tentang seekor rubah yang selama beberapa bulan tinggal di rumahnya perlahan memenuhi benaknya.

Tanpa sadar, bibirnya bergerak pelan.

"...Tira?"

Begitu nama itu terucap, sosok tersebut seketika menghentikan lamunannya... Dan dengan perlahan... Sosok itu menoleh ke belakang.

"Ya?"

Kedua mata Nakula membelalak, napasnya tercekat, dan ia hanya mampu berdiri mematung, menatap wajah sosok itu dengan penuh keterpanaan, seolah seluruh akal sehatnya menolak mempercayai apa yang tengah dilihatnya.

Perempuan?

Ah... tidak.

Begitu sosok itu membuka mulutnya, suara yang terdengar justru adalah suara seorang laki-laki. Lembut, rendah, dan begitu menenangkan, mengalun bersama desir angin malam hingga membuat jantung Nakula berdetak semakin tak karuan.

Namun...

Bagaimana mungkin ada laki-laki yang secantik ini?

Bibirnya merah merona, seolah baru saja disentuh kelopak bunga kamelia. Di bawah kedua matanya terlukis garis merah tipis yang semakin menonjolkan keelokan wajahnya. Kulitnya begitu pucat, bercahaya di bawah sinar rembulan, sementara sepasang mata hijau zamrud itu menatap Nakula dengan kelembutan yang sama seperti saat Tira selalu memandanginya.

Oh, para dewa...

Pantaskah bila Nakula pingsan sekarang juga?

Tidak.

Tidak boleh.

Nakula menelan ludah pelan, berusaha menenangkan dirinya yang kini dipenuhi kebingungan. Dengan langkah ragu, ia semakin mendekati sosok itu.

Anehnya, sosok yang diyakininya sebagai Tira itu tidak berdiri, tidak pula menunjukkan gelagat menyerang. Ia hanya tetap duduk di tepi danau, memandang Nakula dengan senyum yang begitu lembut hingga membuat rasa takut perlahan memudar.

"...Ini..." Suara Nakula bergetar. "...benar-benar kamu?"

Sosok itu menganggukkan kepala pelan. "Iya, Nakula."

Jawaban singkat itu membuat dada Nakula sesak.

Ia seharusnya mundur.

Ia tahu itu.

Di hadapannya kini bukan lagi seekor rubah putih yang gemar bermanja di pangkuannya.

Melainkan seorang gumiho⁷.

Makhluk dalam cerita rakyat yang selama ini hanya ia dengar dari kisah-kisah para tetua desa. Makhluk berekor sembilan yang konon memiliki kekuatan luar biasa, mampu berubah wujud menjadi manusia dengan paras yang tak tertandingi.

Dan kini...

Makhluk itu sedang tersenyum kepadanya.

Seolah memahami seluruh kekacauan yang tengah memenuhi benak Nakula, sosok itu kembali membuka suara.

"Kalau kamu bingung..." Ia menundukkan pandangannya sejenak ke arah pantulan bulan di permukaan danau. "...aku baru saja menjadi gumiho. Sekarang."

Nakula berkedip beberapa kali.

"Aku... tidak mengerti."

"Itu tidak apa-apa."

Senyum di wajahnya tak memudar sedikit pun. "Aku juga masih berusaha memahaminya."

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya suara jangkrik dan desir angin yang menemani keduanya. 

Beberapa saat kemudian, sosok itu memetik setangkai bunga liar yang tumbuh di samping tempatnya duduk. Dengan gerakan yang begitu anggun, ia mengulurkannya kepada Nakula.

"Aku..." Ia tersenyum tipis. "Tira."

Sesaat kemudian ia menggeleng pelan, seolah baru mengingat sesuatu.

"Ah... Namaku... Yudistira."

Nakula menerima bunga itu dengan kedua tangan, meski pikirannya masih dipenuhi rasa tak percaya. Jemarinya menggenggam tangkai bunga tersebut dengan hati-hati, sementara pandangannya tak pernah lepas dari wajah Yudistira.

Perlahan, ia ikut duduk di sampingnya.

Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara pada awalnya. Namun keheningan itu terasa begitu nyaman.

Sesaat kemudian, salah satu ekor Yudistira bergerak perlahan.

Lalu disusul ekor kedua.

Kemudian yang lainnya.

Kesembilan ekor itu melingkari tubuh Nakula dengan lembut, seolah memeluknya tanpa benar-benar mengurungnya—meskipun Nakula sekarang terlihat seperti gumpalan kapas. Bulu-bulu putihnya yang begitu halus menyentuh lengan, bahu, hingga pinggang Nakula, menghadirkan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Hehe..." Nakula spontan terkekeh kecil. "Geli..."

Yudistira menoleh dengan raut sedikit bingung. "Ekor-ekorku menggelitikmu?"

Nakula mengangguk sambil tertawa pelan.

"Iya..."

"Maaf."

Meski berkata demikian, ekor-ekor itu sama sekali tidak menjauh.

Sebaliknya, mereka justru semakin erat membelit Nakula dengan lembut, seolah telah mengenali kehangatan manusia yang selama berbulan-bulan merawat pemiliknya tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

"Jadi..."

Nakula baru saja membuka mulut untuk bertanya ketika Yudistira lebih dulu menjawabnya.

"Aku menjadi gumiho karena usiaku telah mencapai seribu tahun.  Dan hari ini adalah hari dimana aku mencapai usia seribu tahun."

Kalimat itu membuat Nakula membeku. "...Seribu tahun?" Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.

Yudistira hanya menganggukkan kepala pelan.

"Iya."

Nakula berkedip beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Berarti... selama ini umurmu..."

"Jauh lebih tua daripada yang kamu bayangkan."

Jawaban itu justru membuat Nakula semakin terdiam.

Seribu tahun.

Angka yang bahkan sulit ia bayangkan. Selama itu pula makhluk di hadapannya telah hidup, menyaksikan pergantian musim, lahir dan runtuhnya kehidupan, mungkin bahkan beberapa kali bergantinya seorang raja.

Yudistira mengangkat pandangannya ke langit malam. "Entahlah..." Senyumnya tipis, "Sepertinya Sanshin memberkatiku."

Ia menghela napas pelan. "Aku sendiri tidak mengerti mengapa Dewa Gunung memilihku menjadi seorang gumiho."

Jemarinya yang ramping dan pucat terulur perlahan. Ujung jarinya menyentuh seekor kunang-kunang yang melayang diam di hadapannya.

Serangga kecil itu terkejut, mengepakkan sayapnya dengan tergesa, lalu terbang berputar-putar di udara sebelum akhirnya kembali bergabung dengan kawanan kunang-kunang lainnya.

Nakula memandang wajah Yudistira cukup lama.

Semakin lama ia memperhatikan, semakin ia menyadari bahwa sosok di sampingnya tampak... kesepian.

Bukan kesepian yang lahir karena tidak memiliki teman.

Melainkan kesepian yang hanya dimiliki seseorang yang telah hidup terlalu lama.

"...Kamu..." Nakula akhirnya bersuara. "Kamu akan tinggal di danau ini?"

Yudistira terdiam beberapa saat.

"...Aku tidak mau." Jawabannya begitu lirih.

"Hm?"

"Aku tidak ingin tinggal sendirian di sini."

Nakula menoleh menatapnya. "Kenapa?"

Untuk beberapa saat, Yudistira tidak menjawab.

Kesembilan ekornya yang semula melingkari tubuh Nakula perlahan terlepas satu per satu, kembali merapat ke belakang tubuhnya. Kepalanya tertunduk, sementara jemarinya saling menggenggam dengan gelisah.

"Aku..." Ia menarik napas dalam. "...ingin tetap bersamamu."

Kalimat itu keluar begitu pelan.

"Hanya saja..." Yudistira menggigit bibir bawahnya. "...aku takut."

Nakula mengernyit. "Takut?"

"Mm."

"Takut apa?"

Yudistira kembali terdiam.

Bibirnya bergerak beberapa kali, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi setiap kata yang hendak keluar selalu tertahan di tenggorokan.

"Karena gumiho..." Kalimat itu terputus. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak."

Ada sesuatu yang sengaja Yudistira sembunyikan. Nakula dapat merasakannya, namun ia memilih untuk tidak memaksa karena itu adalah hak Yudistira. 

Keheningan kembali turun di antara mereka.

Suara air danau yang beriak pelan menjadi satu-satunya pengisi malam. Keduanya terdiam sambil menatap pemandangan danau didepannya. Dan beberapa saat kemudian, Yudistira mengangkat wajahnya.

Sepasang mata hijau zamrud itu menatap langsung ke dalam mata biru lautan. Tatapan Yudistira yang selama ini selalu tenang, kini dipenuhi keraguan.

"...Nakula."

"Iya?"

Yudistira mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. "Kalau kamu sudah tahu siapa aku..." Suaranya bergetar. "...kamu masih mau menerimaku?"

Bukan sebagai seorang gumiho,  apalagi sebagai makhluk yang telah hidup selama seribu tahun.

Melainkan...

Sebagai Tira.

Rubah putih yang selama berbulan-bulan tinggal di rumah kecil mereka, makan di meja yang sama, tidur di bawah atap yang sama, dan perlahan menemukan sesuatu yang telah lama hilang darinya,

sebuah tempat untuk pulang.

Dan Nakula, tanpa sedikit pun keraguan, langsung menganggukkan kepalanya.

"Tentu saja!"

Jawabannya begitu cepat hingga Yudistira bahkan tak sempat berkedip.

"Eh... soal Sadewa, gampang kok. Dia pasti mengerti."

Raut wajah Yudistira yang semula dipenuhi kecemasan seketika berubah cerah. Senyum lebar menghiasi wajahnya, begitu tulus hingga kedua matanya ikut menyipit. Kesembilan ekornya pun bergerak ke sana kemari dengan riang, bergoyang tak terkendali mengikuti suasana hatinya.

"Benarkah...?" tanyanya lirih, seolah masih sulit mempercayai jawaban yang baru saja ia dengar.

"Iya." Nakula tersenyum lebar. "Kamu kan tetap Tira yang sama."

Kalimat sederhana itu membuat dada Yudistira terasa hangat.

"Tapi, Yudistira."

"Mmm?"

Nakula menatap kesembilan ekor yang bergoyang pelan di belakang tubuh Yudistira.

"Ekormu... bisa disembunyikan, kan?"

Yudistira mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menganggukkan kepalanya.

"Bisa."

Baru saja kata itu terucap, kesembilan ekornya perlahan memudar, berubah menjadi butiran cahaya kehijauan yang larut bersama angin malam. Dalam sekejap mata, seluruh ekor itu lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Nakula membelalakkan matanya. "Wah..." Ia berdiri lalu berputar mengelilingi Yudistira, memastikan tidak ada satu ekor pun yang masih terlihat.

"Hebat sekali..."

Tangannya bahkan sempat menggapai ke belakang tubuh Yudistira, memastikan bahwa ekor-ekor itu benar-benar telah menghilang.

"Padahal tadi besar sekali."

Yudistira terkekeh pelan melihat tingkah polos Nakula.

"Kalau tidak disembunyikan, aku akan sulit hidup di antara manusia."

"Iya juga..."

Nakula mengangguk berkali-kali.

Kalau Yudistira berjalan ke desa dengan sembilan ekor sebesar itu, bukan hanya warga yang akan pingsan. Barangkali seluruh desa akan gempar.

Nakula pun mengulurkan tangan ke arah Yudistira.

"Ayo."

Yudistira mendongak.

"Kita pulang."

Senyum tipis kembali terukir di wajahnya. Tanpa ragu, Yudistira menyambut uluran tangan itu. Jemarinya yang dingin menyentuh telapak tangan Nakula, lalu menggenggamnya perlahan.

Hangat.

Rasanya sudah lama sekali... Yudistira tidak merasakan kehangatan seperti ini.

Yudistira pun mencoba berdiri. Namun baru dua langkah ia melangkah, tubuhnya langsung oleng ke samping. Untung saja Nakula sigap menahan lengannya sebelum ia benar-benar terjatuh.

"Kamu tidak apa-apa?"

Yudistira tersenyum kikuk. "Sepertinya... aku belum terbiasa."

"Belum terbiasa?"

"Berjalan sebagai manusia."

Nakula terdiam beberapa saat, lalu baru menyadari sesuatu.

Selama seribu tahun... Yudistira hidup sebagai seekor rubah. Tentu saja berjalan dengan dua kaki bukanlah sesuatu yang mudah baginya.

"Pelan-pelan saja." Nakula tersenyum menenangkan. "Tidak perlu terburu-buru."

Yudistira mengangguk kecil.

Mereka pun mulai menyusuri jalan setapak menuju desa.

Namun perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu sekitar satu jam malam itu terasa jauh lebih lama.

Setiap beberapa langkah, Yudistira akan kehilangan keseimbangan. Kadang ia tersandung batu kecil, kadang hampir terjatuh karena belum terbiasa menjaga tubuhnya tetap tegak.

Bahkan sesekali ia tanpa sadar hampir kembali bertumpu menggunakan kedua tangannya, kebiasaan yang selama ini melekat ketika masih hidup sebagai seekor rubah.

Nakula tak pernah mengeluh.

Setiap kali Yudistira hampir jatuh, ia akan menahannya.

Setiap kali langkah Yudistira melambat, ia akan ikut memperlambat langkahnya.

Supaya Yudistira semakin terbiasa menjadi manusia. 

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

"NAKULA?!"

Teriakan Sadewa menggema begitu pintu rumah terbuka dan Nakula melangkahkan kaki ke dalam.

Bagaimana mungkin ia tidak terkejut?

Saudara kembarnya itu menghilang begitu saja ke tengah hutan saat malam hari demi mencari Tira, membuatnya hampir ikut menyusul karena khawatir. Dan sekarang, setelah menghilang selama berjam-jam...

Nakula pulang sambil menggandeng tangan seorang laki-laki yang wajahnya luar biasa cantik.

Apa maksudnya ini?

Lalu... di mana Tira?

Sadewa menatap keduanya bergantian dengan wajah yang dipenuhi kebingungan.

"Nakula..." Ia menunjuk tangan mereka yang masih saling menggenggam. "...apa yang sebenarnya terjadi?"

"Sadewa, aku bisa jelaskan—"

"Kamu bukannya pergi cari Tira, malah pulang membawa laki-laki?!"

"Bukan begitu, Dew—"

"Aku Tira."

Suara lembut Yudistira langsung memotong perdebatan yang baru saja dimulai.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Nakula dan Sadewa sama-sama menoleh ke arah Yudistira.

Sadewa berkedip beberapa kali, lalu menunjuk laki-laki berambut putih di hadapannya dengan wajah tak percaya.

"...Kamu... Tira?"

Yudistira menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya."

Sadewa mematung, lalu ia perlahan mengangkat sebelah tangannya untuk memijat pelipis. Setelah dahinya berkerut cukup lama, pada akhirnya Sadewa menghela napas panjang.

"Baik..." gumamnya pelan. "Mungkin saya terlalu lelah berjualan hari ini."

"Nggak, Dew, ini benar-benar—"

"Atau mungkin semua orang di desa ini sedang diganggu makhluk hutan sampai-sampai mulai mengucapkan hal-hal yang tidak masuk akal."

Nakula hanya bisa tersenyum kikuk, sedangkan Sadewa kembali menatap Yudistira.

"Tira itu rubah."

"Iya."

"Bukan manusia."

"Iya."

"Jadi bagaimana mungkin ka—"

Belum sempat Sadewa menyelesaikan kalimatnya, tubuh Yudistira tiba-tiba diselimuti cahaya lembut berwarna putih kehijauan.

Dalam sekejap... Sosok laki-laki itu menghilang.

Yang kini di hadapan mereka adalah seekor rubah putih besar dengan satu ekor yang bergerak perlahan di belakang tubuhnya. Ujung ekornya berwarna hijau, persis seperti yang selama ini mereka lihat.

Rubah itu memiringkan kepalanya.

Manik hijau zamrudnya menatap Sadewa dengan tatapan yang begitu familiar.

Sadewa mengenali tatapan itu.

Tatapan yang selalu menyambutnya setiap kali pulang dari pasar. Tatapan yang selama beberapa bulan terakhir menemaninya makan malam.

"..."

Untuk beberapa saat, Sadewa kehilangan kemampuan berbicara. Ia menunjuk rubah itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Kemudian menoleh kepada Nakula, lalu kembali menatap rubah tersebut.

"Apa..." Sadewa menelan ludah. "...maksudmu... Tira itu... Gumiho?!"

"Iya!" jawab Nakula cepat. "Tapi jangan pusing dahulu! Dia baru menjadi gumiho hari ini!"

"Itu bukan kalimat yang membuat saya tidak pusing, Nakula!"

"Tapi memang begitu kenyataannya!"

"Justru itu masalahnya!"

Nakula buru-buru mulai menceritakan apa yang terjadi di danau malam itu, sementara Sadewa berkali-kali memegangi kepalanya yang terasa semakin berat mendengar penjelasan demi penjelasan yang terdengar mustahil.

Di tengah perdebatan dua saudara kembar itu...

Pijar putih kehijauan kembali menyelimuti tubuh rubah tersebut. Beberapa detik kemudian, Yudistira kembali berdiri dalam wujud manusianya.

Merasa dirinya menjadi penyebab keributan, ia memilih diam-diam berjalan ke sudut ruangan. Dengan rapi ia melipat kedua kakinya, lalu duduk di pojok rumah sambil memeluk kedua lututnya.

Sesekali matanya melirik ke arah Nakula dan Sadewa yang masih sibuk berdebat.

"...Aku harus bagaimana, ya..." gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.

Ekor-ekornya yang lupa disembunyikan bergerak pelan di belakang tubuhnya, memperlihatkan kegelisahan sang pemilik.

Melihat pemandangan itu, Nakula spontan menghentikan perdebatannya.

"Dew, nanti dulu."

"Apa lagi?"

"Tira..."

Nakula menunjuk ke arah pojok ruangan.

Sadewa ikut menoleh.

Di sana, Yudistira sedang duduk dengan wajah bersalah, sementara kesembilan ekornya melingkar di sekeliling tubuhnya seperti hendak mengecilkan keberadaannya.

Keduanya langsung terdiam.

Suasana yang semula dipenuhi perdebatan seketika berubah sunyi.

Nakula menjadi orang pertama yang bergerak. Ia berjalan menghampiri Yudistira yang masih duduk meringkuk di pojok ruangan, lalu berjongkok di hadapannya. Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh Yudistira ke dalam pelukan yang hangat.

"Maaf ya, Yudistira." Nakula mengusap pelan punggungnya. "Bukan salah kamu, kok. Kami berdebat bukan karena ingin mengusirmu."

Yudistira perlahan mendongakkan wajahnya. Mata hijaunya masih dipenuhi keraguan, namun pelukan Nakula membuat bahunya yang semula tegang sedikit mengendur.

Tak lama kemudian, Sadewa ikut mendekat.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya ikut berjongkok di depan Yudistira.

"...Tira—" Sadewa berhenti sejenak. "Ah, Yudistira."

Ia tersenyum tipis, meski masih terlihat canggung. "Maaf. Saya tidak bermaksud mengatakan hal-hal yang membuatmu sedih."

Pandangan Sadewa perlahan beralih ke sembilan ekor putih yang masih terbentang di belakang Yudistira.

"Hanya saja... Saya benar-benar tidak menyangka."

Ia terkekeh hambar.

"Bagaimanapun juga, gumiho selama ini hanyalah makhluk legenda bagi saya. Tiba-tiba mengetahui kalau rubah yang beberapa bulan tinggal bersama kami ternyata seorang gumiho... tentu saya kaget."

Yudistira menatap Sadewa beberapa saat, lalu menganggukkan kepala pelan. "...Aku mengerti." 

Suaranya terdengar jauh lebih tenang. "Aku juga pasti akan bereaksi seperti itu jika berada di posisimu."

Mendengar jawaban tersebut, Sadewa akhirnya tersenyum lega.

"Terima kasih sudah mengerti."

Perlahan, Yudistira menarik napas panjang.

Kesembilan ekornya yang sejak tadi memperlihatkan kegelisahannya mulai memudar menjadi butiran cahaya kehijauan, lalu menghilang satu per satu hingga tak lagi terlihat.

Kini ia tampak seperti manusia biasa. Dan raut wajahnya pun jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Malam yang panjang, perubahan wujud yang mendadak, ditambah perjalanan pulang yang menguras tenaga membuat rasa lelah akhirnya menyerangnya sekaligus.

Yudistira baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika matanya perlahan terpejam. Tak perlu waktu lama bagi Yudistira untuk tidur di pelukan Nakula.

"...Tidur?" gumam Nakula pelan.

Sadewa hanya menatap Yudistira yang telah tertidur pulas, lalu menghela napas kecil.

"Sepertinya dia benar-benar kelelahan."

Nakula merebahkan tubuh Yudistira yang semula dipelukannya ke lantai. Ia tersenyum tipis sebelum mengambil selimut dan menyelimutinya dengan hati-hati.

Setelah memastikan Yudistira tidur dengan nyaman, Sadewa perlahan menarik lengan Nakula.

"Keluar sebentar."

"Hm?"

"Ada yang ingin saya bicarakan."

Nakula menurut saja. Keduanya berjalan keluar rumah, membiarkan Yudistira beristirahat di dalam.

"Apa, Dew?"

Sadewa menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kamu yakin ingin membawa gumiho tinggal bersama kita?"

Nakula menghela napas pelan, "Apalagi sih?" Ia menatap saudara kembarnya itu dengan wajah pasrah. "Kamu sudah tahu jawabanku, kan?"

Sadewa terdiam sesaat.

"Nakula..." Suaranya kali ini jauh lebih serius. "Gumiho bukan sekadar rubah biasa."

Nakula tak menjawab.

"Dari semua cerita yang pernah saya dengar..." Sadewa menundukkan pandangannya. "...kehadiran gumiho selalu dikaitkan dengan kesialan."

Ia mengepalkan tangannya.

"Orang-orang percaya, jika gumiho menetap di suatu tempat, maka cepat atau lambat akan datang kematian, penyakit, bencana, atau pertanda buruk lainnya."

Nakula mendengarkan sampai selesai. Kemudian, ia mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih ke arah rumah sederhana mereka, tempat Yudistira sedang tertidur lelap setelah kelelahan.

Lalu ia kembali menatap Sadewa, "Menurutmu..." Nakula bertanya pelan. "Selama beberapa bulan ini, apa Yudistira pernah membawa kesialan ke rumah kita?"

Sadewa terdiam.

Ia mengingat kembali hari-hari ketika Tira masih hidup sebagai seekor rubah. Rubah itu tidak pernah merusak rumah, tidak pernah menyerang siapa pun, tidak pernah membuat masalah... Bahkan selalu menunggu mereka pulang dengan sabar.

"...Tidak."

"Ya sudah."

Nakula tersenyum tipis. "Kalau begitu, kenapa kita harus menilai Yudistira hanya karena cerita yang belum tentu benar?"

Sadewa menggigit bibir bawahnya. "Tapi legenda itu—"

"Legenda tetaplah legenda."

Nakula memotong dengan lembut, "Sedangkan Yudistira adalah seseorang yang benar-benar kita kenal." Ia menatap mata saudara kembarnya dengan sungguh-sungguh.

"Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan, Dew?"

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

Hari-hari pun berlalu dengan begitu cepat.

Dan ternyata, semua kekhawatiran Sadewa perlahan memudar seiring berjalannya waktu.

Yudistira diterima dengan sangat baik oleh penduduk desa.

Bahkan, jauh lebih baik daripada yang pernah mereka bayangkan.

Kepribadiannya yang lembut, sopan, dan selalu murah senyum membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya. Ia tak pernah sungkan membantu warga yang membutuhkan. Kadang ia membantu seorang nenek membawa hasil panennya pulang, kadang memperbaiki pagar milik tetangga yang roboh diterpa angin, atau sekadar menemani para lansia mengobrol di bawah rindangnya pohon ketika sore menjelang.

Anak-anak desa pun sangat menyayanginya.

Hampir setiap sore, mereka akan berlarian menghampiri Yudistira begitu melihat sosok laki-laki berambut putih itu berjalan melewati jalan utama desa.

"Kak Yudis!"

"Ayo main!"

Tanpa pernah menolak, Yudistira akan ikut bermain bersama mereka. Terkadang bermain petak umpet, membuat mahkota bunga, atau sekadar mengejar kupu-kupu di padang rumput hingga matahari mulai tenggelam di balik pegunungan.

Tawa anak-anak selalu terdengar setiap kali Yudistira berada di antara mereka.

Dan anehnya... Tak seorang pun merasa asing dengannya.

Seolah Yudistira memang telah lama menjadi bagian dari desa itu.

Lalu, siapa yang tidak menyukainya?

Parasnya begitu rupawan, dengan rambut putih sepanjang pinggang yang selalu tergerai rapi, mata hijau yang menenangkan, serta senyum lembut yang seakan mampu menghapus keresahan siapa pun yang melihatnya.

Namun bukan hanya wajahnya yang membuat orang-orang menyukainya.

Melainkan hatinya.

Yudistira selalu mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Ia mendengarkan setiap cerita dengan sabar, membantu tanpa pernah mengharapkan balasan, dan tak pernah sekali pun kehilangan senyumnya.

Tak membutuhkan waktu lama hingga nama Yudistira dikenal ke seluruh penjuru desa.

Bahkan ketika sesekali ia datang ke pasar untuk mengunjungi Nakula atau Sadewa, selalu ada saja pedagang yang memanggilnya.

"Yudistira! Ambil buah ini saja."

"Ini tteok⁸ yang baru matang, untukmu."

"Jangan lupa bawa sayur ini pulang."

"Ah, kain ini bagus untukmu. Anggap saja hadiah."

Awalnya Yudistira selalu menolak dengan sopan. Namun para pedagang justru memaksa sambil tertawa.

"Kamu terlalu sering membantu kami."

"Sesekali biarkan kami membalas kebaikanmu."

Pada akhirnya, Yudistira hanya bisa tersenyum malu sambil menerima pemberian mereka.

Sementara itu, Nakula yang menyaksikan semua kejadian tersebut hanya mampu menggelengkan kepala dengan wajah takjub.

"...Hebat sekali."

Ia benar-benar heran.

Bagaimana mungkin seseorang yang baru beberapa bulan tinggal di desa mampu berbaur sedekat itu dengan semua orang?

Bahkan beberapa warga tampak lebih akrab dengan Yudistira daripada dengannya yang telah tinggal di desa itu sejak lahir.

Barangkali...

Ini memang daya tarik seorang gumiho?

Pikiran itu sempat terlintas di benaknya.

Namun setiap kali melihat Yudistira tertawa bersama anak-anak, membantu warga tanpa pamrih, atau tersenyum tulus kepada siapa pun yang ditemuinya, Nakula kembali menggeleng pelan.

Bukan.

Bukan karena Yudistira seorang gumiho.

Melainkan karena memang begitulah dirinya.

Dan meskipun Yudistira tak pernah sekali pun memperlihatkan kesembilan ekornya kepada siapa pun selain Nakula dan Sadewa, kehangatan yang ia miliki sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh desa menerimanya.

Nakula pun tersenyum kecil.

Bagaimana mungkin seseorang seperti Yudistira disebut pembawa malapetaka dan kesialan?

Kalau memang semua gumiho seperti dirinya...

Barangkali bukan Yudistira yang salah.

Melainkan legenda-legenda lama itulah yang sudah waktunya diperbarui.

Namun, bagaimanapun juga...

Kesialan adalah sesuatu yang tidak pernah memilih kepada siapa ia akan datang.

Takdir akan terus berputar, tanpa memedulikan seberapa damai kehidupan seseorang. Hari ini mungkin dipenuhi tawa, tetapi esok bisa saja diselimuti duka.

Begitu pula dengan Nakula, Sadewa, dan Yudistira. Masa-masa tenang yang mereka nikmati perlahan mulai terusik.

Dalam seminggu terakhir, keresahan mulai menyelimuti seluruh desa.

Satu per satu hewan ternak milik warga ditemukan mati secara mengenaskan.

Awalnya hanya seekor kambing, kemudian dua ekor sapi, lalu beberapa domba. Hingga akhirnya, hampir setiap pagi selalu ada kabar buruk yang terdengar dari sudut desa yang berbeda.

Yang membuat seluruh warga bergidik bukanlah kematian hewan-hewan itu.

Melainkan cara mereka mati.

Tubuh setiap hewan selalu ditemukan dengan lubang besar yang menganga di bagian dadanya. Tidak ada bekas gigitan, tidak ada jejak cakar binatang buas, bahkan daging mereka nyaris tidak disentuh.

Hanya...

Jantung mereka yang menghilang.

Seolah seseorang sengaja melubangi tubuh hewan-hewan itu hanya untuk mengambil organ tersebut.

Akibatnya, para peternak mengalami kerugian yang tidak sedikit. Beberapa keluarga bahkan kehilangan seluruh ternak yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghidupan mereka.

Desa yang biasanya dipenuhi tawa kini berubah muram.

Orang-orang mulai mengunci kandang lebih rapat ketika malam tiba. Tak sedikit pula yang memilih berjaga hingga fajar demi melindungi ternak mereka.

Namun semua usaha itu sia-sia. Pelakunya tidak pernah terlihat dan tidak sedikitpun meninggalkan jejak. Seolah pelakunya datang bersama malam, lalu lenyap sebelum matahari terbit.

Ketakutan perlahan berubah menjadi kepanikan.

Desas-desus mulai bermunculan.

Ada yang mengatakan itu ulah siluman. Ada pula yang yakin seekor harimau gunung telah turun ke desa. Bahkan beberapa orang mulai menghubungkan kejadian tersebut dengan kutukan para dewa.

Kabar itu akhirnya sampai ke telinga kerajaan.

Dan hanya beberapa hari kemudian, rombongan kerajaan memasuki desa kecil tempat Nakula tinggal.

Suara derap kaki kuda memenuhi jalan utama. Kereta kerajaan yang dihiasi lambang keluarga kerajaan perlahan berhenti di tengah alun-alun desa.

Para warga segera berbondong-bondong mendekat. Mereka berbisik penuh antusias.

"Itu kereta kerajaan..."

"Benarkah beliau datang sendiri?"

"Astaga... Putra Mahkota..."

Tak lama kemudian, pintu kereta terbuka. Seorang pemuda berparas tampan dengan surai hitam dan segarus abu-abu turun dengan langkah yang tenang dan penuh wibawa.

Pakaiannya yang didominasi warna merah dihiasi sulaman emas yang berkilau diterpa cahaya matahari, sementara tatapannya tajam menyapu seluruh desa.

Dialah...

Arjuna.

Putra mahkota yang selama ini hanya dikenal melalui cerita. Dan tentu saja kedatangannya disambut gegap gempita oleh semua orang. 

"Salam untuk Putra Mahkota!"

"Selamat datang!"

"Terima kasih telah datang membantu kami!"

Arjuna membalas sambutan itu dengan senyum formal tanpa cela. Ia menganggukkan kepala dengan anggun sebelum perlahan mengamati wajah para penduduk yang berdiri di hadapannya.

Beberapa saat ia membiarkan keheningan menggantung sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Para warga sekalian..." Nada bicaranya tenang, namun cukup lantang untuk didengar semua orang. "Tidakkah kalian merasa... ada sesuatu yang aneh di desa ini?"

Para warga saling berpandangan. Bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara kerumunan.

"Aneh?"

"Maksud Putra Mahkota apa?"

Arjuna kembali melangkah satu langkah ke depan. "Bukankah menurut kalian kejadian ini terlalu teratur untuk disebut sebagai ulah binatang buas?"

Ia mengangkat pandangannya. "Hewan-hewan mati... Dan jantung mereka menghilang. Apakah kalian benar-benar tidak memahami arti dari semua itu?"

Kerumunan kembali menjadi sunyi. Sampai akhirnya, seorang pria tua mengangkat tangan dengan ragu.

"W-wahai Yang Mulia... Apakah ini ulah... Gumiho?"

Senyum tipis muncul di wajah Arjuna. "Benar sekali." Ia menatap seluruh warga satu per satu. "Di desa kalian... Ada gumiho."

Kalimat itu membuat kerumunan langsung gempar. Bisikan-bisikan yang semula pelan berubah menjadi suara-suara panik.

"Gumiho?"

"Jangan-jangan..."

"Pantas saja..."

Arjuna memanfaatkan kegelisahan itu. Dengan suara yang lebih tegas, ia kembali berbicara. "Kalian tentu mengetahui legenda tentang mereka. Gumiho selalu membawa kesialan. Di mana mereka menetap, di sana akan lahir bencana."

Tatapannya menyapu wajah setiap penduduk. "Lalu sekarang katakan padaku..." Ia berhenti sejenak. "Apakah kalian akan terus membiarkan kesialan menimpa desa ini?"

Keheningan menyelimuti seluruh alun-alun desa.

Tak seorang pun langsung menjawab.

Para warga saling berpandangan, seolah berharap orang lain lebih dahulu mengutarakan isi pikirannya. Beberapa mulai mengingat-ingat cerita lama yang mereka dengar sejak kecil. Tentang gumiho yang gemar memakan hati manusia, tentang desa yang hancur setelah kedatangan makhluk berekor sembilan, dan tentang malapetaka yang selalu mengikuti jejaknya.

Cerita-cerita yang selama ini hanya dianggap dongeng... Kini kembali menghantui benak mereka.

"Yang Mulia..."

Seorang peternak tua melangkah maju. Wajahnya tampak letih akibat kehilangan hampir seluruh kambing peliharaannya.

"Apakah Yang Mulia benar-benar yakin bahwa pelakunya adalah gumiho?"

Arjuna menatapnya tanpa sedikit pun keraguan.

"Selama bertahun-tahun, kerajaan telah mencatat berbagai kejadian serupa." Ia berjalan perlahan di hadapan kerumunan. "Hewan ternak mati, jantung mereka menghilang, dan tidak ada bekas gigitan ataupun daging yang dimakan."

Arjuna berhenti melangkah. "Semua catatan itu selalu mengarah pada satu makhluk. ...Gumiho."

Bisik-bisik para warga kembali terdengar.

"Tapi..." Seorang perempuan muda mengangkat suara dengan ragu. "Di desa kami tidak pernah ada gumiho."

"Benarkah?"

Pertanyaan Arjuna membuat perempuan itu terdiam.

"Apakah kalian benar-benar mengenal setiap pendatang yang datang ke desa ini?"

Arjuna kembali berbicara.

"Makhluk seperti gumiho mampu menyamar menjadi manusia. Mereka hidup di antara kalian. Tersenyum, berbicara, bahkan mendapatkan kepercayaan kalian. Tetapi ketika malam tiba..."

Sorot mata Arjuna berubah tajam. "...sifat asli mereka akan muncul."

Kalimat itu membuat beberapa warga tanpa sadar bergidik. Di antara kerumunan, beberapa orang mulai saling bertukar pandang.

"Pendatang..."

"Beberapa bulan terakhir memang ada pendatang..."

"Siapa?"

"Tunggu..."

Wajah seorang pedagang perlahan berubah.

"Bukankah..."

"Yudistira?"

Nama itu terucap pelan. Namun cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya ikut mengingat.

"Yang rambutnya putih itu?"

"Iya..."

"Dia memang baru datang beberapa bulan lalu."

"Dan kasus hewan ternak juga baru terjadi belakangan ini..."

"Tapi Yudistira orang baik."

"Dia sering membantu kita."

"Iya..."

"Mana mungkin dia..."

Keraguan mulai memenuhi wajah mereka. Dan Arjuna menangkap perubahan itu sambil tersenyum tipis.

"Makhluk seperti gumiho memang pandai mengambil hati manusia. Mereka akan membuat kalian lengah, membuat kalian percaya. Lalu ketika waktunya tiba... Mereka akan memperlihatkan wujud aslinya."

Suasana kembali dipenuhi bisikan. Sebagian mulai percaya, namun sebagian lagi masih ragu.

"Seekor harimau yang belum menerkam manusia... tetaplah seekor harimau. Apakah kalian akan menunggu sampai ia memangsa seseorang terlebih dahulu?"

Tak ada yang mampu menjawab pertanyaan dari Arjuna. 

"Selama makhluk itu masih berada di desa ini, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin keselamatan kalian. Kalian mungkin kehilangan ternak hari ini. Besok? Bisa jadi anak-anak kalian." Ujar Arjuna sambil tersenyum melihat para warga sudah begitu panik. 

Ayo, datanglah kepadaku, gumiho manis. 

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

"Sudah saya bilang dari beberapa bulan yang lalu, membawa gumiho ke rumah ini adalah keputusan yang salah!"

"Kamu juga akhirnya setuju, Dew. Kenapa sekarang justru menyalahkanku?!"

"Kamu lihat sendiri perbuatan Yudistira, Nakula!" Suara Sadewa meninggi, dipenuhi amarah sekaligus ketakutan yang selama ini berusaha ia pendam. "Memakan jantung hewan! Kalau hari ini hewan, selanjutnya siapa? Saya? Atau... jantungmu?!"

Nakula terdiam cukup lama.

Tatapannya beralih kepada Yudistira yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Yudistira hanya menundukkan kepala.

Kedua tangannya mencengkeram erat ujung pakaiannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Bahunya bergetar pelan, entah karena takut, sedih, atau merasa bersalah.  

Sadewa mengembuskan napas kasar.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa buntalan pakaian dan beberapa barang dagangannya yang telah ia rapikan.

"Saya akan pergi."

Nakula sontak menatap Sadewa tak percaya.

"Dew..."

"Saya memilih pindah ke desa lain daripada harus tinggal serumah dengan 'kesialan' yang suatu hari nanti mungkin akan merenggut nyawa kita."

Yudistira tampak semakin menundukkan kepalanya. Sementara Sadewa melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Pintu rumah tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.

Nakula hanya mampu menatap ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan saudara kembarnya itu. Setelah beberapa saat, ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mengusir rasa sesak yang memenuhi dadanya.

Kemudian ia membalikkan tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan Yudistira yang masih berdiri di tempat semula. Ia tak berani mengangkat wajahnya, apalagi menatap mata Nakula.

Nakula mengetahui satu hal dengan sangat jelas.

Bukan Yudistira pelakunya.

Hampir setiap malam ia terjaga karena sulit tidur. Berkali-kali ia melihat Yudistira telah lebih dahulu terlelap di dalam rumah, dan tak sekali pun ia pernah melihat gumiho itu keluar pada tengah malam.

Bahkan...

Tak pernah ada aroma darah yang menempel di tubuh Yudistira.

Padahal, jika benar dialah pelakunya, mustahil tidak ada bekas sedikit pun.

Dan yang semakin menguatkan keyakinannya... Adalah tangan Yudistira yang kini mencengkeram ujung pakaiannya sendiri dengan gemetar hebat.

Bukan gemetar seorang pembunuh. Melainkan gemetar seseorang yang takut dibenci dan kehilangan satu-satunya tempat yang selama ini ia anggap sebagai rumah.

Nakula mengembuskan napas pelan, kemudian ia melangkah mendekat.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala Yudistira, membelai rambut putih panjang itu dengan penuh kasih sayang.

"Aku tahu..." Suara Nakula begitu pelan, namun terdengar mantap. "...bukan kamu."

Yudistira membeku.

Perlahan ia mengangkat wajahnya, matanya mulai memerah karena air mata yang sedari tadi ia tahan.

"Aku percaya padamu."

"...Tapi..." Suara Yudistira bergetar hebat. "...tapi sekarang kita harus bagaimana, Nakula...?"

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh. Setetes demi setetes membasahi pipinya yang pucat sebelum jatuh ke lantai kayu rumah itu. Bahunya bergetar pelan, sementara jemarinya tanpa sadar kini mencengkeram erat baju Nakula, seolah takut laki-laki itu akan menghilang jika ia melepaskannya.

Nakula hanya mampu menggeleng pelan.

"Aku juga tidak tahu." Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali mengusap kepala Yudistira dengan lembut. "Tapi nanti malam... aku akan berbicara dengan warga."

Yudistira langsung mengangkat kepalanya.

"Aku akan meyakinkan mereka bahwa kamu bukan gumiho."

Mendengar itu, mata Yudistira membelalak. Dengan panik ia menggeleng berkali-kali hingga helaian rambut putihnya ikut bergoyang.

"Tidak!" Suaranya meninggi untuk pertama kalinya. "Tapi kamu bisa mati, Nakula!"

Napasnya memburu dan manik hijau yang selama ini terlihat tenang kini begitu panik.  "Mereka pasti akan berusaha membunuhku. Dan kalau kamu menghalangi mereka... atau melindungiku..."

Suara Yudistira perlahan mengecil. "...kamu juga akan mati."

Nakula hanya tersenyum tipis. Tangannya kembali terangkat, membelai kepala Yudistira dengan gerakan yang begitu lembut. Ia tahu, sejak masih menjadi rubah, Yudistira selalu merasa tenang setiap kali dielus seperti ini.

"Yudistira..." Suara Nakula terdengar begitu hangat. "...cantik."

Panggilan itu membuat Yudistira menggigit bibirnya, berusaha menahan isak yang semakin menjadi.

"Nanti malam..." Nakula melanjutkan dengan tenang. "...pergilah ke danau tempat kita pertama kali bertemu."

Yudistira menatapnya dalam diam.

"Bawa kanvas yang ada di dekat kasurku. Yang masih ditutupi kain."

Ia berhenti sejenak sebelum kembali berbicara.

"Kalau..." Napasnya tertahan sesaat, sebelum Nakula kembali melanjutkan ucapannya.  "...kalau aku tidak kembali, bukalah kanvas itu."

Yudistira mematung, ia menolak memahami makna di balik kalimat tersebut. Ia kembali menggeleng dengan keras, tidak mau melakukannya, apalagi membayangkannya...

"Tidak..."

Suaranya berubah menjadi tangisan.

"Tidak..."

Tanpa berpikir panjang, Yudistira langsung memeluk Nakula seerat mungkin. Pelukan itu begitu kuat hingga seolah ia ingin menghentikan waktu agar laki-laki di hadapannya tidak pernah pergi.

"Ayo kabur bersamaku..." Isaknya pecah. "Aku pasti bisa membantu kamu. Aku bisa bekerja, aku bisa menghidupi kita berdua, aku akan melakukan apa saja..."Yudistira semakin mempererat pelukannya.

"Nakula... Aku tidak mau kehilanganmu."

Nakula memejamkan matanya perlahan. Tangannya bergerak naik turun mengusap punggung Yudistira yang bergetar hebat akibat tangis yang tak lagi mampu dibendung.

Ia tidak menjawab.

Karena ia tahu... Seandainya mereka berdua melarikan diri malam ini, bukan hanya mereka yang akan diburu.

Sadewa pun akan ikut terseret.

Warga desa pasti akan mendatangi saudara kembarnya itu bila Nakula dan Yudistira tidak ada di rumah, memaksanya mengatakan ke mana mereka pergi.

Dan bila Sadewa tidak memberi jawaban... Bukan tidak mungkin kemarahan warga akan beralih kepadanya.

Nakula tidak ingin itu terjadi.

Jika memang negosiasi yang akan ia lakukan malam nanti berakhir dengan kegagalan... Maka biarlah hanya dirinya yang menanggung akibatnya.

Setidaknya...

Yudistira sudah berada jauh dari desa.

Dan masih memiliki kesempatan untuk terus hidup.

 

 

 

 

Mereka terus meneriakkan nama Yudistira, mencacinya karena ia adalah pembawa malapetaka. Tapi, wahai manusia... Apakah kalian sungguh yakin, bahwa gumiho lah yang jahat? 

 

 

 

 

 

Arjuna tersenyum lebar begitu melihat kesempatan yang selama ini ia nantikan akhirnya datang menghampirinya.

Pada akhirnya... Ia akan menangkap Yudistira.

Lalu memakan daging gumiho itu.

Begitulah legenda yang selama ini beredar di kalangan bangsawan dan para tabib istana. Konon, daging gumiho yang baru mencapai usia seribu tahun mampu menghadiahkan keabadian kepada siapa pun yang memakannya. Tak ada lagi penyakit, tak ada lagi usia tua, tak ada lagi kematian.

Dan Arjuna sangat menginginkan itu.

Dengan keabadian di tangannya, tak seorang pun akan mampu merebut takhtanya kelak. Ia akan memimpin Joseon selama yang ia kehendaki, mengukir namanya dalam sejarah sebagai raja yang tak pernah digantikan oleh siapa pun.

Tentu saja Arjuna mengetahui legenda tersebut sejak lama.

Namun legenda tetaplah legenda.

Sampai akhirnya, seseorang datang kepadanya dengan sebuah kabar. Seekor rubah baru saja menyelesaikan seribu tahun kehidupannya.

Dan kini... Rubah itu telah menjelma menjadi seorang gumiho.

Sejak hari itu, Arjuna tak pernah benar-benar melepaskan pengawasannya.

Meski dirinya adalah putra mahkota, kehidupan di dalam istana dipenuhi aturan yang mengekangnya. Ia tak bisa keluar masuk kerajaan sesuka hati. Ke mana pun ia pergi, selalu ada pengawal, dayang, hingga pejabat yang mengawasinya.

Karena itulah, ia memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk terus mengawasi Yudistira dari kejauhan.

Mengamati setiap langkahnya, menunggu saat yang tepat.

Dan kesempatan itu akhirnya datang.

Arjuna memahami satu hal tentang rakyat: mereka begitu mencintai rajanya. Mereka mempercayai keluarga kerajaan lebih daripada mempercayai diri mereka sendiri.

Selama seseorang berhasil menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka, maka mereka akan menurut.

Tak perlu banyak usaha.

Cukup membuat mereka yakin bahwa gumiho adalah ancaman. Bahwa selama makhluk itu masih hidup, desa mereka tak akan pernah damai. Bahwa kematian demi kematian yang mulai terjadi merupakan pertanda murka para dewa.

Maka rakyat akan melakukan sisanya sendiri.

Arjuna bahkan tak perlu mengotori tangannya. Betapa puasnya ia ketika menerima laporan dari anak buahnya. 

Beberapa hewan ternak di desa ditemukan mati dengan dada tercabik dan jantung yang menghilang—persis seperti kisah-kisah mengerikan tentang gumiho yang selama ini diwariskan turun-temurun.

Tak ada seorang pun yang menyadari... Bahwa semua itu bukanlah ulah Yudistira.

Melainkan perintah langsung dari Arjuna.

Hanya beberapa ekor hewan. Namun hasilnya sungguh luar biasa.

Rasa takut menyebar lebih cepat daripada api yang melalap hutan saat musim kemarau. Dalam hitungan hari, seluruh desa mulai membicarakan satu nama.

Yudistira.

Dan ketika ketakutan telah menguasai hati manusia... Tak lagi diperlukan bukti. Tuduhan saja sudah cukup dan membuat Arjuna tersenyum puas.

Betapa mudahnya manusia digerakkan. Cukup sedikit rasa takut, bisikan, dan kekuasaan. Lalu seluruh suara yang berbeda akan berubah menjadi satu.

Semuanya akan mengutuk Yudistira. Semuanya akan menginginkan kematiannya.

Betapa menyenangkan menjadi dirinya. Tak perlu menghunus pedang, apalagi sampai menumpahkan darah dengan tangannya sendiri.

Cukup menggerakkan bidak-bidaknya, dan seluruh papan permainan akan berjalan sesuai kehendaknya.

Rencananya pun sederhana.

Saat amarah warga telah mencapai puncaknya dan Yudistira tak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi. Arjuna akan muncul sebagai penyelamat menyelamatkan warga. 

Ia akan memerintahkan para warga untuk menyingkir. Lalu, dengan wajah penuh belas kasihan, ia akan berkata bahwa semua ini akan ia tangani demi keselamatan rakyat Joseon.

Yudistira akan dibawa ke istana. Bukan untuk diadili, tentu saja. Melainkan untuk dikurung. Dan setelah tak ada lagi seorang pun yang mengetahui keberadaannya...

Barulah Arjuna akan mengambil apa yang selama ini ia inginkan.

Saat malam akhirnya menyelimuti desa, para warga mulai berdatangan menuju rumah Nakula.

Di tangan mereka, obor-obor menyala terang, menerangi jalan setapak yang gelap. Sebagian membawa tombak kayu, sebagian lagi menggenggam cangkul, kapak, bahkan batu-batu besar. Wajah mereka dipenuhi amarah dan ketakutan, sementara teriakan demi teriakan mulai memenuhi udara malam.

Mereka tidak datang untuk bernegosiasi.

Mereka datang untuk membunuh.

Mereka menginginkan Yudistira mati agar desa mereka kembali aman.

Di depan kerumunan itu, Arjuna berdiri dengan tenang. Jubah kebangsawanannya berkibar pelan diterpa angin malam, sementara senyum tipisnya menghiasi sudut bibirnya.

Akhirnya... Saat yang ia tunggu telah tiba.

Barangkali sekarang Yudistira sedang meringkuk ketakutan di dalam rumah itu, menunggu ajalnya tiba.

Dan ketika keadaan telah benar-benar tak terkendali... Arjuna akan maju ke depan.

Berlagak menjadi penyelamat.

Menghentikan amukan warga, lalu membawa Yudistira pergi menuju istana.

Ah...

Betapa lamanya ia mendambakan keabadian itu.

Namun... Senyum di wajah Arjuna perlahan memudar.

Apa ini?

Ketika pintu rumah itu akhirnya terbuka, hanya satu orang yang keluar.

Nakula.

Tidak ada Yudistira.

Manik hitam Arjuna bergerak pelan, mengamati setiap sudut rumah yang terlihat dari pintu yang terbuka dengan saksama.

Ke mana gumiho itu? Apakah ia sudah melarikan diri? Atau masih bersembunyi di dalam?

Di sisi lain, sorak-sorai warga semakin menggema.

"Keluarkan gumiho itu!"

"Serahkan Yudistira!"

"Jangan lindungi pembawa sial!"

"Usir siluman itu dari desa kita!"

Namun di tengah riuhnya amarah yang membara, Nakula justru berdiri dengan begitu tenang. Tatapannya menyapu wajah seluruh warga satu per satu.

"Para warga sekalian..." Suaranya lembut, tetapi cukup jelas untuk terdengar oleh semua orang. "Apa yang membuat kalian begitu yakin bahwa Yudistira adalah seorang gumiho?"

Seketika kerumunan menjadi gaduh dan semua orang berebut menjawab.

"Karena hewan ternak mati satu persatu!!"

"Jantungnya hilang!"

"Dia datang tiba-tiba ke desa ini!"

"Sejak dia datang, kesialan mulai terjadi!"

"Itu semua sudah cukup menjadi bukti!"

Suara-suara penuh kemarahan saling bertumpuk, tak memberi kesempatan Nakula untuk berbicara. Namun ia tetap menunggu dengan sabar hingga keributan itu perlahan mereda. Setelahnya, Barulah Nakula kembali membuka mulutnya.

"Kalau begitu..." Tatapannya perlahan melembut. "Mengapa kalian begitu membencinya sekarang?"

Semua orang terdiam dan nakula tak mau membuang waktu dan melanjutkan.

"Padahal sebelumnya... Kalian semua menyayanginya." Ia melangkah maju dua langkah, berdiri semakin dekat dengan kerumunan warga.

"Bukankah kalian yang selalu memberinya makanan di pasar?"

"Bukankah anak-anak kalian yang setiap sore bermain bersamanya?"

"Bukankah kalian sendiri yang mengatakan bahwa Yudistira adalah orang yang paling baik hati di desa ini?"

Tak ada yang menjawab.

Nakula menarik napas panjang, kemudian mengucapkan kalimat yang telah ia siapkan sejak awal.

"Yudistira... Bukanlah gumiho. Jadi pulanglah dan beristirahat. Karena kalian tidak akan menemukan Yudistira dimanapun."

Hening itu hanya berlangsung sesaat. Detik berikutnya, warga kembali berteriak.

"Pembohong!"

"Dia melindungi siluman itu!"

"Jangan percaya kata-katanya!"

Arjuna memandang Nakula dengan tatapan meremehkan. Ia melangkah maju beberapa langkah hingga kini berdiri di hadapan para warga. Dengan wibawa seorang putra mahkota, suaranya terdengar tegas namun tetap tenang.

"Geledah rumahnya." Arjuna menatap lurus ke arah rumah sederhana itu. "Pastikan tidak ada satu sudut pun yang terlewat."

Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada seluruh warga.

"Demi keselamatan desa ini, kita harus membersihkan desa ini dari siluman yang membawa kesialan."

Begitu perintah itu keluar dari mulut sang putra mahkota, keraguan yang sempat muncul di hati sebagian warga lenyap seketika.

"Geledah rumahnya!"

"Tangkap gumiho itu!"

Puluhan orang serempak bergerak maju dan masuk ke rumah Nakula, menggeledahnya, yang lainnya mengecek sekitar pekarangan rumah Nakula. 

Mereka membongkar setiap sudut tanpa belas kasihan. Lemari kayu dibuka dengan kasar, tikar-tikar diangkat, peti penyimpanan dibalik, bahkan gentong air dan lumbung padi tak luput dari pemeriksaan. Sebagian lainnya menggeledah halaman belakang, kebun kecil milik Nakula, hingga kandang yang telah lama kosong.

Namun... Tidak ada siapa pun.

"Di sini tidak ada!"

"Belakang juga kosong!"

"Tidak ada jejak!"

"Tidak mungkin dia menghilang begitu saja!"

Laporan demi laporan terdengar dari berbagai arah, dan wajah para warga mulai berubah bingung. Mereka telah mencari ke setiap sudut rumah, tetapi sosok Yudistira benar-benar lenyap tanpa jejak.

Nakula hanya berdiri diam di tempatnya. Sementara itu, raut wajah Arjuna yang semula tenang mulai mengeras.

Tidak ada.

Bagaimana mungkin tidak ada?

Manik matanya menyipit tajam. Rahangnya mengatup begitu kuat hingga urat di pelipisnya tampak menegang.

Tidak mungkin gumiho itu lolos. Ia sudah menempatkan pengawalnya untuk memantau rumah Nakula dari pagi, dan tidak ada tanda-tanda Yudistira keluar. Kemana sebenarnya Yudistira pergi? 

"...Cari lagi." Perintahnya terdengar dingin.

Para warga saling berpandangan dengan ragu. "T-Tapi, Yang Mulia... kami sudah memeriksa semuanya...."

"Cari lagi." Nada suara Arjuna kali ini jauh lebih rendah. "...Sampai kalian menemukannya."

Tanpa berani membantah, para warga kembali mengacak-acak rumah itu untuk kedua kalinya.

Namun tetap saja, hasilnya sama.

Arjuna akhirnya mengembuskan napas panjang. Kesabarannya mulai habis melihat hal yang sia-sia ini.  Tatapannya perlahan beralih kepada Nakula yang sejak tadi tetap berdiri dengan wajah tenang.

"Kau."

Nakula mengangkat kepalanya. "Apa Yang Mulia yakin rumahku masih perlu digeledah?"

Arjuna melangkah perlahan menghampirinya. Setiap langkahnya dipenuhi tekanan yang membuat suasana semakin mencekam. "Kau menyembunyikannya."

"Bukankah Yang Mulia sendiri sudah melihat hasil penggeledahan mereka?" Nakula menjawab dengan suara tenang. "Tidak ada siapa pun di rumahku."

"Itu bukan jawabannya."

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

Keheningan sesaat justru membuat amarah Arjuna semakin memuncak. Dalam satu gerakan cepat, Arjuna mencabut pedang yang terselip di pinggangnya.

Kilatan baja memantulkan cahaya obor, dan Arjuna mengarahkan ujung pedang itu berhenti tepat di depan leher Nakula.

Beberapa warga sontak menahan napas.

Bahkan para pengawal Arjuna yang ditugaskan oleh raja untuk mendampingi Arjuna hari ini hanya bisa saling berpandangan, tak menyangka putra mahkota akan sampai mencabut pedangnya sendiri.

"Yang Mulia..."

Salah seorang pengawal hendak berbicara. Namun Arjuna mengangkat tangan, menghentikannya.

Tatapan tajamnya tak pernah lepas dari Nakula. "Di mana gumiho itu?"

Nakula menatap ujung pedang yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari lehernya.

Sedikit saja ia bergerak, maka kulitnya akan tersayat. Namun Nakula sama sekali tidak tampak gentar.

"Aku tidak tahu."

"Kau berbohong."

"Aku tidak berbohong."

Suara Nakula tetap tenang. "Kalaupun aku tahu, aku tetap tidak akan menyerahkan seseorang yang tidak bersalah."

Kalimat itu membuat sorot mata Arjuna berubah semakin gelap. "Berani sekali kau menentang perintah putra mahkota."

Nakula mengangkat pandangannya, menatap Arjuna tanpa sedikit pun menghindar.

"Aku hanya menolak kalian menuduh seseorang tanpa bukti."

"Tanpa bukti?" Arjuna terkekeh pelan. "Seluruh desa sudah menjadi buktinya."

"Tidak." Nakula menggeleng. "Ketakutan bukanlah bukti, desas-desus bukanlah bukti. Apa kalian melihat Yudistira datang ke kandang ternak kalian dan membunuh hewan kalian?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tak seorang pun segera menjawab.

Para warga yang semula sudah kembali yakin kini saling berpandangan. Beberapa mulai mengingat kembali hari-hari ketika Yudistira membantu mereka, menggendong anak-anak mereka yang tertidur, memperbaiki atap rumah yang bocor, atau membawakan hasil panen milik para lansia.

"...Aku tidak pernah melihatnya."

Suara itu terdengar lirih dari barisan belakang.

"Ak... aku juga tidak."

"Yang kulihat cuma ternaknya sudah mati..."

"Tapi memang tidak ada yang melihat Yudistira melakukannya..."

Keraguan mulai merambat di antara kerumunan. Mereka memang menemukan hewan-hewan ternak dalam keadaan mengenaskan. Namun, tak seorang pun pernah benar-benar melihat pelakunya.

Nakula memanfaatkan keheningan itu.

"Lihat?" Suaranya tetap tenang. "Kalian semua hanya mendengar cerita, hanya takut. Dan itu bukanlah bukti."

Tatapannya menyapu satu per satu wajah warga desa. "Kalau hanya karena seseorang datang dari tempat yang tidak kalian kenal, lalu semua kesialan langsung ditimpakan kepadanya... Apa bedanya kalian dengan orang yang menghukum tanpa mencari kebenaran?"

Beberapa warga perlahan menundukkan kepala. Bahkan genggaman mereka pada tombak dan obor mulai mengendur.

Arjuna melihat perubahan itu dan ini membuat darahnya mendidih.

Tidak.

Rencananya tidak boleh gagal hanya karena kata-kata seorang hwaga desa rendahan. 

"Kalian sedang dipermainkan." Suara Arjuna memecah keheningan.

"Yang Mulia..." Salah seorang pengawal melangkah maju pelan. "Mungkin sebaiknya kita menyelidiki lagi—"

"Cukup!"

Bentakan Arjuna membuat seluruh orang terdiam. Tatapannya kembali jatuh kepada Nakula.

Laki-laki itu... Terus-menerus menentangnya. Terus-menerus merusak rencana yang telah ia susun dari lama. Dan yang paling membuatnya muak... Nakula tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut. 

Memangnya siapa Nakula ini sampai sebegitu beraninya?

"Aku beri kau kesempatan terakhir." Suara Arjuna terdengar rendah. "Di mana gumiho itu?"

Nakula menatapnya tanpa berkedip. "Aku tidak akan menyerahkan orang yang tidak bersalah."

Senyum Arjuna perlahan menghilang.

"Begitu..."

Ia mengangguk pelan. "Kalau begitu..."

Dalam sekejap, pedang di tangannya terangkat tinggi. Dengan amarah yang telah memuncak, Arjuna mengayunkan pedangnya ke arah Nakula—tidak, lebih tepatnya kearah lehernya. 

Kilatan baja membelah udara malam. Nakula bahkan tidak sempat menghindar.

Tubuhnya limbung dan kakinya kehilangan tumpuan sebelum tubuhnya ambruk ke tanah. Kepalanya terlepas dari lehernya dan menggelinding ke dekat pintu masuk rumahnya sendiri. 

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti seluruh desa.

Obor-obor masih menyala, tentu.  Namun tak seorang pun berani bersuara.

Pedang di tangan Arjuna meneteskan darah ke tanah, dan darah dari leher yang tak berkepala itu mengucur ke tanah dibawahnya, membuat genangan dari warna merah pekat. 

Para warga membeku. Mereka datang dengan amarah, tentu, mereka mau membunuh Yudistira. 

Namun tak pernah membayangkan bahwa malam itu akan berakhir dengan darah seseorang yang selama ini mereka kenal sebagai pelukis baik hati desa mereka.

Arjuna mengembuskan napas pelan. Tatapannya dingin dan tidak peduli.  "Tidak ada seorang pun... Yang boleh menghalangi perintah putra mahkota."

 

 

 

 

 

Di duniaku yang tak lagi memilikimu, matahari tak pernah benar-benar terbit. Cahaya tak lagi menemukan jalannya, menyisakan malam yang abadi. Hanya di dalam mimpi, di tengah gelap yang memelukku, aku masih dapat bersamamu

Karena itu, jangan bangunkan aku. 

Biarkan aku tenggelam sedikit lebih lama dalam mimpi yang begitu indah hingga terasa menyakitkan, sebab hanya di sanalah aku masih bisa mencintaimu tanpa harus kehilanganmu lagi.

 

 

 

 

 

 

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seorang remaja berhati baik—teman Yudistira—yang tanpa ragu memutuskan untuk membantu mereka.

Tanpa banyak bertanya, ia meminjamkan satu set pakaian perempuan kepada Yudistira, lengkap dengan selendang yang menutupi sebagian rambut putih panjangnya. Rambut itu kemudian diikat sederhana agar tak terlalu mencolok.

"Tetap tenang," bisik remaja itu.

Yudistira menganggukkan kepalanya pelan.

Sebelum meninggalkan rumah, ia tak lupa mengambil kanvas yang telah dititipkan Nakula. Kanvas itu masih tertutup selembar kain, persis seperti pesan yang diberikan kepadanya.

Ia tidak berani membukanya.

Belum.

Yudistira tahu.

Ada mata-mata yang mengawasinya dari kejauhan.

Maka sepanjang perjalanan, ia menundukkan sedikit wajahnya dan berjalan di samping temannya dengan langkah anggun, berusaha menyerupai seorang perempuan desa. Sesekali keduanya saling berbincang pelan, lalu tertawa kecil, seolah mereka hanya dua gadis yang baru saja pulang dari pasar.

Tak sedikit pun Yudistira berani menoleh ke belakang.

Baru setelah mereka melewati beberapa jalan kecil dan yakin tak ada lagi tatapan yang mengikuti, remaja itu menggenggam tangan Yudistira dengan erat sebelum melepaskannya dengan tidak rela. 

"Sekarang!" 

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Yudistira segera berlari.

Langkahnya menembus semak-semak, menyusuri jalan setapak yang begitu ia hafal, menuju satu-satunya tempat yang terlintas di benaknya.

Danau.

Tempat pertama kali ia bertemu dengan Nakula.

Hari masih sore.

Langit belum sepenuhnya kehilangan cahayanya. Warna biru perlahan memudar, digantikan semburat jingga yang membentang di ufuk barat. Angin hutan berembus lembut, menggoyangkan dedaunan hingga menghasilkan suara gemerisik yang menenangkan.

Setelah berlari cukup lama tanpa berhenti, akhirnya Yudistira tiba di tepi danau.

Napasnya masih memburu.

Dengan hati-hati, ia meletakkan kanvas yang dibawanya di bawah sebuah pohon besar. Kanvas itu ia sandarkan pada batang pohon, memastikan kain penutupnya tetap terpasang agar tidak rusak atau terkena embun malam.

Semuanya sudah sesuai dengan pesan Nakula.

Kini... Tinggal menunggu.

Yudistira duduk perlahan di bawah pohon yang sama.

Tatapannya mengarah ke jalan setapak yang menghubungkan danau dengan desa.

Barangkali... Sebentar lagi Nakula akan muncul.

Ia menunggu.

Menit demi menit berlalu.

Semburat jingga di langit perlahan berubah menjadi merah tua sampai menghilang dan malam akhirnya mengambil alih seluruh langit.

Bulan purnama kembali menggantung tinggi, memantulkan cahayanya di permukaan danau yang tenang. Di sekelilingnya, ratusan kunang-kunang mulai bermunculan, menari perlahan di antara rerumputan dan pepohonan, persis seperti malam ketika mereka pertama kali bertemu.

Namun... Tak ada seorang pun yang datang.

Yudistira tetap menunggu.

Sesekali ia berdiri dan melangkah beberapa langkah menuju jalan setapak, berharap melihat siluet seseorang.

Tetapi tetap saja...

Kosong.

Ia kembali duduk sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang besar.

Tangannya memeluk kedua lututnya sendiri. Manik hijau itu terus memandangi permukaan danau yang beriak pelan tertiup angin malam.

Aneh... Mengapa Nakula belum datang? Apa negosiasinya gagal...?

Tidak, Yudistira tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Nakula pasti akan datang bersamanya, lalu keduanya akan kabur dari desa itu, mungkin kabur dari negara ini juga dan memulai hidup baru. 

Semakin larut malam, perasaan gelisah di dadanya semakin sulit diabaikan.

Ia menggenggam ujung lengan bajunya sendiri. 

"…Nakula..." Bisiknya lirih kepada angin yang berembus melewati danau.

"Semoga... Kamu baik-baik saja."

Namun memang... Semua yang datang pada akhirnya akan pergi. Begitu pula dengan orang-orang yang singgah di dalam hidup Yudistira.

Entah berapa lama ia menunggu di tepi danau itu.

Langit yang sudah diselimuti malam kini telah dipenuhi bintang. Kunang-kunang masih berterbangan di antara rerumputan dan pohon, sementara permukaan danau memantulkan cahaya rembulan dengan tenang.

Tetapi... Nakula tak kunjung datang.

Yudistira masih mencoba meyakinkan dirinya. Mungkin negosiasinya berjalan lebih lama, atau mungkin warga akhirnya mau mendengarkan.

Mungkin...

Namun semakin lama ia menunggu, harapan kecil itu perlahan runtuh.

Dengan hati yang terasa begitu berat, Yudistira menundukkan pandangannya ke arah kanvas yang entah ejak kapan sudah ia peluk erat di pangkuannya.

Tangannya gemetar.

Ia tahu...

Bila ia membuka kain penutup itu, berarti ia telah menerima kemungkinan yang sejak tadi ia tolak. Bahwa Nakula... benar-benar tidak akan kembali.

Isak pelan lolos dari bibirnya. Dengan jemari yang bergetar hebat, ia mulai membuka simpul kain yang membungkus kanvas itu dengan perlahan—seolah berharap waktu akan berhenti sebelum kain itu benar-benar terlepas.

Namun pada akhirnya, kain putih itu jatuh ke tanah.

Dan untuk sesaat, Yudistira hanya mampu membeku. Tangannya perlahan terangkat menutupi mulutnya sendiri.

"..."

Air matanya langsung jatuh tanpa mampu ia bendung. Dari setetes, dua tetes, lalu berubah menjadi tangisan yang tak lagi bisa ia tahan.

Dadanya sesak, sungguh. Begitu sesak hingga ia bahkan kesulitan menarik napas.

"...Nakula..." Namanya keluar dalam bisikan yang tak terdengar siapapun

Yang terbentang di hadapannya ternyata bukan sekadar sebuah lukisan.

Melainkan... Hadiah untuknya. 

Sebuah lukisan yang dilukis sendiri oleh Nakula.

Di atas kanvas itu tampak seekor rubah putih berbulu selembut salju, berdiri dengan anggun di bawah sebuah pohon besar yang dipenuhi bunga-bunga merah yang sedang bermekaran. Kesembilan ekornya menjuntai panjang di belakang tubuhnya, tampak begitu megah sekaligus lembut.

Latar lukisan itu didominasi warna keemasan, sehangat cahaya matahari yang selalu disukai Nakula.

Dan seperti yang Nakula kagumi berbulan-bulan lalu... Nakula benar-benar melukis ujung setiap ekor rubah itu dengan warna hijau dan begitu detil karena Nakula begitu menyukai ekor Yudistira. 

Nakula menyukai hijau milik Yudistira.

Tak ada satu pun detail yang terlewat. Bahkan sorot mata sang rubah pun dilukis dengan begitu hidup. Seolah-olah Yudistira benar-benar sedang menatap balik ke arah dirinya sendiri dari dalam kanvas itu.

Yudistira tak lagi mampu menahan tangisnya.

Air mata terus berjatuhan di atas lukisan itu.

Dengan terburu-buru ia mengusapnya menggunakan lengan baju, takut air matanya akan merusak setiap sapuan kuas yang telah dibuat Nakula dengan begitu hati-hati.

"Bodoh..." Suaranya pecah, ia memeluk kanvas itu erat-erat ke dadanya. "...bodoh..."

Isaknya semakin keras. "Seharusnya..."

Yudistira menundukkan kepalanya, hingga dahinya menyentuh permukaan kanvas itu. "...Seharusnya kamu yang memberikannya langsung kepadaku, Nakula..."

Tangisnya menggema pelan di tepi danau yang sunyi.

Tak ada seorang pun yang menjawab. Hanya desir angin malam yang berembus lembut, menggoyangkan dedaunan dan membawa suara tangisan Yudistira ke seluruh penjuru hutan.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

"Mau sampai kapan kau tidak mau memakan jantung manusia?"

Suara itu memecah keheningan malam, membuat Yudistira yang baru saja memejamkan mata perlahan membukanya kembali.

Ia tidak perlu menoleh.

Ia sudah sangat mengenal pemilik suara itu.

"...Bima."

Yudistira mengembuskan napas pelan, masih memandangi permukaan danau yang memantulkan cahaya rembulan.

Bima, sosok yang selama ini dikenal Nakula sebagai penulis kisah-kisah cinta antara dua lelaki di desa, berjalan santai menghampirinya. Senyum jahil tak pernah lepas dari wajahnya, seolah tak ada beban sedikit pun di dunia.

Siapa sangka...

Di balik penyamarannya sebagai manusia biasa, ia adalah seorang dokkaebi⁹ yang telah hidup jauh lebih lama daripada kebanyakan manusia.

"...Kenapa kamu tidak kembali ke desa?" tanya Yudistira tanpa sedikit pun menoleh. Kesembilan ekornya bergoyang pelan di belakang tubuhnya, menandakan bahwa ia sama sekali tidak tertarik meladeni percakapan itu.

"Bosan." Jawaban Bima terdengar ringan. "Di sana ribut sekali."

Yudistira memejamkan matanya kembali. "Kalau begitu, kembali saja."

"Loh, kok diusir?" Bima terkekeh pelan sambil menggaruk pipinya. "Sanshin saja tidak pernah mengusirku dari gunung ini."

Yudistira memilih diam karena ia tak ada sedikit pun niat untuk melanjutkan percakapan.

Melihat dirinya benar-benar diabaikan, Bima menghela napas panjang sebelum akhirnya berjalan mendekat dan berjongkok tepat di hadapan Yudistira.

"Yudistira. Kita ini sama-sama makhluk yang lebih daripada manusia biasa."

Yudistira tetap bergeming.

Setelah beberapa menit penuh keheningan, Bima membuka tas kain rami yang sedari tadi ia bawa di bahunya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain putih.

Bima membuka kain itu dengan perlahan, dan Aroma darah yang masih segar segera memenuhi udara malam. Di telapak tangan Bima, terbaring sebuah jantung manusia yang masih hangat.

"Aku membawakannya untukmu." Suara Bima kali ini jauh lebih serius daripada sebelumnya. "Setidaknya makanlah satu. Supaya kekuatanmu tetap stabil dan tubuh manusiamu tidak hancur."

Namun alih-alih menoleh, Yudistira justru memalingkan wajahnya semakin jauh. Tatapan hijaunya dipenuhi rasa muak.

"Jauhkan itu dariku, Bima."

Bima menghela napas pelan. "Kamu perlu makan."

"Aku tidak lapar."

"Itu bukan soal lapar."

Bima menutup kembali jantung itu dengan kain. "Kau tahu aturan seorang gumiho. Kalau kau terus menolak memakan jantung manusia, kekuatanmu akan terus terkuras."

Yudistira masih memandang danau. Angin malam mengibaskan rambut putihnya yang panjang.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

"Karena aku tidak mau."

Jawaban itu keluar tanpa sedikit pun keraguan.

Bima mengernyit. "Kau bisa mati."

"Aku tahu."

"Atau lebih buruk. Kau bisa kehilangan wujud manusiamu."

"Aku juga tahu."

Bima menatap Yudistira beberapa saat. "...Lalu kenapa kau tetap menolak?"

Baru setelah beberapa saat, Yudistira tersenyum tipis, namun Bima tahu, senyum itu begitu menyakitkan bagi Yudistira. 

"Karena..." Ia menundukkan pandangannya. "...aku tidak ingin menjadi alasan seseorang kehilangan orang yang mereka cintai."

Bayangan Nakula muncul di benaknya. Lelaki itu telah mengajarinya bahwa manusia bukanlah mangsa. Melainkan seseorang yang bisa tertawa, menangis, mencintai, dan dicintai.

"Aku tidak akan mengambil kehidupan seseorang, hanya untuk memperpanjang kehidupanku sendiri."

Bima memejamkan matanya sejenak sebelum ia kembali menatap Yudistira.

"Kau memang gumiho yang aneh."

"Aku tahu."

"Kau bisa mati."

Yudistira mengangguk kecil. "Kalau memang itu harga yang harus kubayar..." Ia kembali menatap pantulan bulan di permukaan danau.

"...aku akan menerimanya."

Bima terdiam. Para akhirnya, ia menyimpan kembali bungkusan kain itu ke dalam tasnya. Mungkin Bima akan memberikan jantung ini ke gumiho lain, atau membuangnya, entahlah. 

"Dasar keras kepala."

Yudistira hanya mendengus. "Jaga saja manusia-manusia di bawah sana, dokkaebi."

Bima mendecak pelan. "Lalu siapa yang akan menjagamu, gumiho?"

Yudistira hanya tertawa pelan—tawa yang begitu lirih hingga terdengar lebih seperti embusan napas daripada tawa itu sendiri.

Tak lama kemudian, ia mengembuskan napas panjang, sementara pandangannya tetap tertuju pada permukaan danau yang berkilauan diterpa cahaya bulan.

"Aku akan menjaga diriku sendiri..." Suaranya terdengar tenang. "...dan menebus dosaku hingga ajal menjemput, Bima."

Ia menoleh sekilas ke arah sahabat lamanya itu. "Jadi, tidak usah mengkhawatirkanku."

Bima langsung mengernyit. "Memangnya apa dosamu, Yudistira?" Ia menyahut cepat, seolah tak ingin membiarkan Yudistira terus menyalahkan dirinya sendiri.

"Kau bahkan tidak pernah memakan jantung hewan, apalagi jantung manusia. Lalu dosa apa yang sedang kau tebus?"

Yudistira terdiam. Kesembilan ekornya yang semula bergerak perlahan kini ikut terkulai, menyapu rerumputan di belakang tubuhnya.

Setelah cukup lama membisu, ia akhirnya membuka suara. "Dosaku... Adalah menjadi seorang gumiho."

Bima menghela napas pelan. "Yudistira..."

"Bila aku hanyalah rubah biasa..." Suara Yudistira mulai bergetar. "...tidak mungkin Nakula mati."

"Kematiannya bukan salahmu." Jawaban Bima datang begitu cepat. "Bukan karena kau seorang gumiho, karena kau berubah, apalagi karena keberadaanmu."

"Kalau saja aku tidak menjadi gumiho, tidak akan ada orang yang memburuku. Kalau tidak ada yang memburuku... Nakula tidak perlu melindungiku. Dan kalau Nakula tidak melindungiku..." Yudistira memejamkan matanya rapat-rapat. "...ia masih hidup."

Bima ingin membantah, namun tak satu pun kata keluar dari bibirnya.  Karena ia tahu, Yudistira tidak sedang mencari jawaban. Ia hanya sedang menghukum dirinya sendiri atas segala hal yang terjadi kepadanya dan Nakula. 

"Pulanglah, dokkaebi." Suaranya kembali tenang. "Aku ingin beristirahat."

Bima memutar bola matanya malas. "Dasar keras kepala." Ia berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor karena duduk di atas tanah.

"Kalau kau berubah pikiran..." Bima mengangkat tas kain raminya. "...kau tahu harus mencariku di mana."

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah meninggalkan tepi danau. Sosoknya perlahan menghilang di balik pepohonan yang diselimuti kabut malam.

Yudistira terus menunggu hingga suara langkah kaki Bima benar-benar lenyap—hingga aroma khas dokkaebi itu tak lagi tertinggal di udara.

Barulah topeng ketegarannya runtuh.

Ia menundukkan kepala, kedua bahunya mulai bergetar, dan air mata yang sedari tadi mati-matian ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan.

Setetes.

Lalu setetes lagi.

Dan akhirnya berubah menjadi isak tangis yang begitu pelan, seolah ia takut ada seseorang yang mendengarnya. Padahal beberapa tahun sudah berlalu, dan ia selalu sendiri. 

"Kenapa..." Suaranya pecah. "Kenapa takdir begitu kejam kepadaku...?"

Ia memeluk lututnya sendiri. Kesembilan ekornya ikut melingkari tubuhnya, seakan mencoba memberikan kehangatan yang tak lagi mampu diberikan siapa pun.

Selama ratusan tahun, hidupnya tak pernah benar-benar tenang.

Sejak masih menjadi seekor rubah biasa, Yudistira selalu hidup dalam pelarian. Manusia menganggap rubah sebagai pembawa sial, dan mereka mengusir Yudistira, melemparinya dengan batu, memburunya hanya karena kepercayaan yang diwariskan turun-temurun.

Namun bukan hanya manusia. Sesama rubah pun tak kalah mengerikan.

Semakin tua usia seekor rubah, semakin besar pula kemungkinan rubah itu akan diberkati Sanshin dan berubah menjadi gumiho. Dan karena itulah, rubah-rubah tua saling membunuh, menerkam, saling menghabisi sebelum salah satu dari mereka berhasil mencapai usia seribu tahun.

Tak pernah ada tempat yang benar-benar bisa ia sebut rumah, tak pernah ada seseorang yang benar-benar menunggunya.

Sampai akhirnya...

Ia bertemu Nakula.

Manusia pertama yang menyentuh kepalanya dengan lembut, manusia pertama yang membalut lukanya tanpa rasa takut, manusia pertama yang memberi nama dan  memanggil namanya dengan penuh kasih sayang.

Dan...

Manusia pertama yang mengajarkannya bagaimana rasanya dicintai. 

Namun ketika akhirnya Yudistira menemukan tempat untuk pulang, takdir justru merenggut rumah itu darinya.

Lantas, apa yang harus Yudistira lakukan sekarang?

Bukankah sejak awal, ketika ia baru saja menjadi gumiho, keinginannya hanyalah menjadi manusia seutuhnya. Begitulah ajaran yang diwariskan dari para gumiho yang lebih tua.

Memakan banyak jantung manusia, hingga pada akhirnya seluruh sifat siluman dalam dirinya akan memudar, dan ia dapat hidup sebagai manusia yang sesungguhnya.

Dulu... Yudistira sempat menginginkan itu.

Ia ingin berjalan di antara manusia tanpa rasa takut, tanpa perlu menyembunyikan ekornya, tanpa perlu terus-menerus hidup dalam pelarian.

Namun segalanya berubah ketika ia bertemu Nakula.

Hari-hari sederhana yang mereka lalui bersama terasa jauh lebih berharga daripada seribu tahun kehidupannya sebagai rubah. 

Padahal kehidupannya hanyalah kehidupan biasa. Makan malam seadanya, mendengar Nakula mengeluh karena lukisannya tak kunjung laku, membantu Sadewa membereskan rumah, duduk bertiga di beranda sambil memandangi langit malam.

Semua itu... Membuat keinginannya untuk menjadi manusia perlahan menghilang.

Bagaimana mungkin ia membunuh manusia lain demi menjadi "sempurna", ketika manusia yang paling ia cintai justru mengajarkannya arti kehidupan?

Bagaimana mungkin ia mengambil seseorang dari keluarganya, ketika ia sendiri tahu betapa menyakitkannya kehilangan rumah?

Maka sejak hari itu, Yudistira mengubur keinginannya sendiri.

Ia memilih menjalani hidup apa adanya. Ia memakan makanan yang sama seperti Nakula dan Sadewa, meskipun makanan itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi tubuh seorang gumiho.

Ia tahu tubuhnya perlahan akan melemah, ia tahu kekuatannya akan terus terkikis, ia tahu suatu hari nanti hal itu bisa merenggut nyawanya.

Namun ia tidak peduli.

Karena Yudistira tahu, Nakula mencintainya apa adanya.

Entah saat ia masih seekor rubah putih, ketika ia menjelma menjadi gumiho berekor sembilan, maupun jika suatu hari nanti ia benar-benar menjadi manusia.

Nakula tidak pernah mencintai wujudnya.

Nakula mencintai dirinya.

Karena itulah, sejak awal Yudistira bahkan enggan memakan jantung makhluk hidup. Jangankan jantung manusia, jantung hewan pun tak pernah sekali pun ia sentuh.

Namun, saat hewan-hewan ternak di desa mulai ditemukan mati dengan dada yang tercabik dan jantung yang menghilang, semua tuduhan langsung mengarah kepadanya.

Padahal, Yudistira saja tak sanggup melihat darah mengalir dari seekor rusa yang terluka, apalagi merobek dada makhluk hidup dengan tangannya sendiri.

Namun siapa yang mau mendengar penjelasan gumiho?

Tak ada.

Semuanya mencapai puncaknya pada hari ketika Nakula berdiri seorang diri menghadapi seluruh warga desa.

Hari yang terus menghantui Yudistira hingga kini. Memang, ia tidak melihat kejadian itu secara langsung, namun Bima-lah yang menceritakan semuanya.

Tentang bagaimana Nakula tetap berdiri tegak meski pedang diarahkan ke lehernya, bagaimana ia tetap membela Yudistira sampai akhir, bagaimana ia menolak menyerahkan seseorang yang tidak bersalah, meski nyawanya sendiri menjadi taruhannya.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Bima bagai pisau yang perlahan mengiris hati Yudistira.

Yudistira hanya mampu terdiam sebelum kembali mengutuk dirinya sendiri.

Andai Nakula tidak pernah bertemu dengannya.

Andai ia tidak pernah membiarkan dirinya tinggal di rumah itu.

Andai ia memilih pergi sejak luka di tubuhnya sembuh.

Andai ia tetap hidup sendirian di hutan.

Andai...

Andai ia tidak pernah menjadi gumiho.

Mungkin...

Nakula masih bisa melukis di bawah cahaya matahari, masih bisa pulang ke rumah dan bercanda bersama Sadewa. Masih menikmati kehidupannya selayaknya warga desa lainnya. 

"Maaf karena aku egois, Nakula...."

 

 

 

 

 

Di duniaku yang telah kehilangan terang, kebisingan tak pernah berhenti menggema. Maka izinkan aku terus memelukmu dalam dekap yang tak akan kulepaskan, di dalam mimpi yang begitu memikat hingga kenyataan tak lagi layak untuk dipilih.

 

 

 

 

 

 

Yudistira perlahan membuka matanya.

Aroma makanan yang begitu harum memenuhi seluruh rumah, membangunkannya bahkan sebelum cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela sempat menghangatkan wajahnya.

Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia mengucek-uceknya perlahan. Rambut putihnya tampak sedikit berantakan akibat baru bangun tidur. 

Ia turun dari kasur dengan langkah gontai, masih mengantuk, lalu berjalan menuju dapur mengikuti aroma yang begitu ia kenal.

Benar saja, Nakula tengah sibuk berdiri di depan kompor.

Lelaki itu sesekali mengaduk masakannya, sesekali mencicipinya dengan sendok. Begitu menyadari langkah kaki Yudistira, senyumnya langsung mengembang lebar.

"Pagi, cah ayu."

Sapaan itu terdengar begitu hangat, dan Yudistira yang masih setengah sadar hanya mengangguk malas.

"...Pagi, Mas..." Suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan mendekati Nakula, lalu memeluk tubuh kekasihnya yang lebih tinggi darinya dari belakang. Kedua lengannya melingkar di pinggang Nakula, sementara pipinya ia tempelkan begitu saja pada punggung lelaki itu.

Nakula hanya terkekeh pelan. "Kok masih ngantuk banget?"

Yudistira menggumam tidak jelas sebagai jawaban.

"Masak apa...?" Tanyanya malas, bahkan matanya kembali terpejam seolah berniat melanjutkan tidurnya sambil berdiri.

"Ayam teriyaki." Nakula kembali mengaduk wajan di depannya. "Semalam kamu bilang pengin makan ayam teriyaki, kan?"

"Oh..." Yudistira mengangguk pelan. "Iya..."

Tak lama kemudian, ia melepaskan pelukannya dengan enggan. Bukannya duduk di kursi, Yudistira justru naik begitu saja ke atas meja makan, lalu duduk di sana sambil mengayun-ayunkan kakinya dengan mata terpejam. 

Nakula hanya melirik sekilas sebelum terkekeh geli.

Ia sudah terbiasa.

Yudistira memang suka duduk di tempat-tempat yang menurut orang lain tidak lazim. Kadang di atas meja makan, di sandaran sofa, pernah pula ia menemukannya duduk santai di atas lemari dapur sambil membaca buku.

 Nakula tidak pernah mempermasalahkan itu. Selama Yudistira merasa nyaman, baginya sudah lebih dari cukup.

Beberapa menit kemudian, masakannya akhirnya selesai. Nakula mematikan api kompor, lalu membagi ayam teriyaki hangat itu ke dalam dua piring. Aroma manis gurih dari sausnya langsung memenuhi ruangan.

"Sudah jadi."

Mendengar itu, Yudistira langsung turun dari meja dengan semangat. Ia menarik kursinya, duduk dengan rapi, lalu tersenyum lebar kepada Nakula.

"Terima kasih, Mas."

"Harus dihabiskan."

"Iya."

Keduanya pun mulai menikmati sarapan mereka.

Tak banyak percakapan yang terdengar, hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring, ditemani angin pagi yang masuk melalui jendela dapur.

Sesekali, Yudistira diam-diam mencuri pandang ke arah Nakula.

Memperhatikan bagaimana lelaki itu makan dengan tenang, sesekali meniup nasi yang masih panas, lalu menyelipkan rambutnya yang jatuh ke depan telinga.

Tanpa sadar... Nakula juga melakukan hal yang sama.

Diam-diam ia melirik Yudistira yang sedang asyik menikmati ayam teriyakinya dengan wajah puas. Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya sama-sama terdiam selama beberapa detik.

Lalu tertawa kecil bersamaan.

Tak ada alasan khusus, apalagi ada hal lucu yang terjadi.

Mereka hanya merasa bahagia. Sesederhana karena masih bisa saling memandang di pagi hari, di rumah yang mungkin tak mewah, tetapi selalu dipenuhi kehangatan.

Menjelang sore, sinar matahari mulai menghangatkan ruang keluarga melalui jendela besar yang menghadap halaman belakang. Cahaya keemasan jatuh di lantai kayu, membuat suasana rumah terasa begitu tenang.

Nakula baru saja selesai menyiram tanaman hias yang berjajar rapi di teras, sementara Yudistira duduk bersila di atas sofa sambil memangku semangkuk potongan buah yang baru saja ia siapkan.

"Mas."

"Hm?"

Nakula menoleh begitu memasuki ruang keluarga. Yudistira mengangkat sepotong semangka menggunakan garpu kecil.

"Buka mulut."

Nakula tersenyum lebar melihat Yudistira. "Disuapin?"

"Iya."

Tanpa banyak bicara, Nakula menurut. Begitu semangka itu masuk ke mulutnya, Yudistira langsung tersenyum puas, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang sangat penting.

"Gimana?"

"Manis."

"Kan? Aku yang milih."

"Manis kayak kamu."

Nakula mengusap pelan kepala Yudistira hingga rambut putihnya sedikit berantakan.

"Hebat." 

Yudistira mendengus pelan, meski sudut bibirnya tak mampu menyembunyikan senyumnya.

Tak lama kemudian, Nakula ikut duduk di sampingnya.

Yudistira langsung bersandar begitu saja ke bahu Nakula, seakan itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Nakula pun membiarkannya, bahkan secara refleks meraih jemari Yudistira dan menggenggamnya pelan.

Beberapa menit kemudian, Nakula meraih remote televisi yang tergeletak di atas meja.

"Nonton?"

Yudistira mengangguk kecil. "Boleh."

Televisi pun menyala. Mereka memilih sebuah film komedi romantis yang sudah lama masuk daftar tontonan Yudistira.

Sepanjang film berlangsung, Yudistira berkali-kali tertawa hingga tubuhnya bergetar, sementara Nakula lebih sering menoleh ke arah kekasihnya daripada benar-benar memperhatikan jalan cerita.

"Apa?" Yudistira akhirnya menyadari tatapan itu.

Nakula hanya menggeleng sambil tersenyum. "Nggak apa-apa."

"Kok lihatin aku terus?"

"Soalnya cantik."

Yudistira langsung mengerucutkan bibirnya. "Aku lagi nonton."

"Iya."

"Tapi Mas malah lihatin aku."

"Soalnya aku lebih suka lihat kamu."

Kalimat sederhana itu berhasil membuat pipi Yudistira memerah. "Mas gombal aja ih!"

Nakula terkekeh pelan. "Tapi bener."

Yudistira pura-pura memalingkan wajahnya kembali ke televisi, padahal senyumnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

Beberapa saat kemudian, tanpa sadar kepalanya kembali bersandar di bahu Nakula. Tangannya masih menggenggam jemari lelaki itu dengan erat.  Sesekali ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan Nakula, menikmati kehangatan yang selalu berhasil membuatnya merasa tenang.

Namun baru saja dua-duanya menikmati filmnya, mata Yudistira sudah mulai membuka menutup, tanda bahwa ia kembali mengantuk. 

"Capek?"

"Sedikit."

"Kalau ngantuk, tidur saja."

Yudistira menggeleng. "Mau nemenin Mas."

Nakula tersenyum tipis, lalu meraih selimut tipis yang terlipat di ujung sofa dan menyelimuti Yudistira sampai sebatas dada.

Yudistira terkekeh kecil. "Aku bukan anak kecil."

"Iya, tapi gampang masuk angin."

Tak lama kemudian, kepala Yudistira semakin merosot hingga kini benar-benar bersandar di dada Nakula. Kelopak matanya terasa semakin berat, sementara Nakula mengusap lembut rambut putihnya berulang kali tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

Tak lama... Napas Yudistira mulai terdengar teratur. Ia tertidur.

Nakula menunduk sebentar, mengecup pelan puncak kepala kekasihnya, lalu kembali memandang layar televisi dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Mari berjumpa di mimpi selanjutnya, Yudistira."

 

 

 

 

 

Malam-malam yang tak berkesudahan berpaling dari cahaya bulan, membiarkan aku tenggelam dalam mimpi yang hitam pekat. Dan di sanalah kau berdiri—begitu memikat, begitu tak tergapai—hingga bahkan kegelapan pun terasa lebih hangat daripada dunia yang harus kutinggali tanpamu.

 

 

 

 

 

 

Kepalanya terasa seperti hendak pecah.

Yudistira terbangun dengan napas memburu. Tangannya refleks memegang kepalanya yang berdenyut hebat, seolah ada sesuatu yang terus-menerus menghantam bagian dalam tengkoraknya.

Rasa sakit itu, semakin hari semakin menjadi-jadi. Bahkan untuk sekadar membuka mata dan bangun dari pembaringan kini terasa begitu menyiksa.

Ia mengembuskan napas pelan, berusaha mengatur ritme napasnya di tengah rasa nyeri yang tak kunjung mereda.

"Sudah bangun?"

Suara seseorang membuat Yudistira perlahan menoleh. Di samping tempat tidurnya, Bima tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.

Lima ratus tahun telah berlalu sejak hari kematian Nakula. Dan selama lima ratus tahun itu pula, Yudistira tak pernah sekalipun turun dari gunung untuk menemui manusia.

Ia memilih menetap di danau tempat pertama kali Nakula menemukannya.

Danau itu masih sama—tersembunyi jauh di tengah hutan, belum pernah dijamah manusia. Hanya pepohonan tua, suara burung, dan desir angin yang setia menemaninya.

Melihat Yudistira terus hidup seorang diri, Bima akhirnya membangun sebuah rumah kayu sederhana di tepi danau agar sahabatnya itu tak lagi tidur beratapkan langit.

Meski begitu, Bima sendiri jarang datang.

Hingga beberapa hari lalu. Burung-burung hutan, rusa-rusa liar, bahkan roh-roh kecil penjaga gunung mulai mengabarkan sesuatu yang sama.

Energi Yudistira semakin tidak stabil.

Aura seorang gumiho yang biasanya hangat kini berubah kacau, bahkan sesekali menekan makhluk hidup di sekitarnya. Karena itulah Bima datang setelah hampir seratus tahun lamanya ia tidak mengunjungi danau ini.

Dan apa yang ia temukan jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

Lima ratus tahun.

Lima ratus tahun Yudistira hidup tanpa pernah memakan satu pun jantung makhluk hidup.

"Yudistira." Bima mengulurkan tangannya. Di telapak tangannya terdapat sesuatu yang dibungkus kain putih.

"Makan."

Yudistira bahkan tidak perlu melihat isinya. Aroma darah yang menusuk hidung langsung memenuhi ruangan. Refleks, ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya sambil memalingkan wajah.

"Berhenti..." Suaranya terdengar lemah. "...berhenti mencoba menyuapiku dengan jantung manusia, Bima."

Bima mengembuskan napas panjang, tangannya mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Yudistira..." Nada suaranya mulai meninggi.

"Kau terus mempertahankan wujud manusiamu. Tidak pernah kembali menjadi rubah, tidak pernah berburu., bahkan tidak mau memakan jantung makhluk hidup. Kau ini sebenarnya mau hidup atau mau mati?!"

Yudistira tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata seperti biasa—memilih untuk diam.

Sikap itu justru membuat Bima semakin kehilangan kesabarannya.

"Cukup."

Bima meletakkan jantung manusia itu di atas nakas di samping tempat tidur. Lalu dalam satu gerakan cepat, ia mencengkeram kerah pakaian Yudistira dan menariknya hingga tubuh gumiho itu terduduk.

"Yudistira!"

Karena terkejut, kekuatan yang selama ini ditekan Yudistira lepas begitu saja. Seketika aura hijau keperakan memenuhi ruangan.

Satu per satu ekor putihnya bermunculan di belakang tubuhnya.

Bima terdiam karena kaget dengan apa yang menyambut indra penglihatannya, matanya membelalak, dan tangannya perlahan melepas kerah pakaian Yudistira.

"Tidak..." Pandangannya terpaku pada ekor-ekor putih itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bima menghitungnya satu per satu.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

"Empat..."

Tidak mungkin. Yudistira seharusnya memiliki sembilan ekor. Bagaimana bisa ekornya kini tersisa empat...?

Bima menatap sahabatnya dengan wajah pucat. "Yudistira... Mengapa ekormu tinggal empat?"

Yudistira menundukkan kepalanya.

Setiap ekor yang hilang adalah harga yang harus dibayar oleh seorang gumiho yang terus memaksakan hidup tanpa memakan jantung makhluk hidup.

Dan selama lima ratus tahun terakhir, Yudistira telah kehilangan lima ekornya. Menandakan bahwa usia Yudistira akan berhenti tepat di seribu tahun. 

Bagaimana bisa Yudistira menahan rasa sakit yang sebegitu menyiksa tubuhnya? 

Padahal satu ekor yang hilang itu rasanya seperti berjumpa dengan kematian dengan begitu menyakitkan. Apa Yudistira akan menahan semua rasa sakitnya sampai seluruh ekornya hilang? 

"...Aku... tak apa."

Suara Yudistira terdengar begitu pelan, tenggelam di dalam keheningan ruangan.

Bima yang sejak tadi berdiri di belakangnya hanya mengembuskan napas panjang. "Dari awal kau mendengar kabar putra mahkota meninggal karena dipenggal pun, kau mengatakan hal yang sama, Yudistira."

Yudistira hanya tersenyum tipis.

Ia tidak membalas perkataan Bima. Dengan tubuh yang masih lemah, ia perlahan bangkit dari pembaringannya. Langkahnya tertatih, seolah setiap pijakan menguras sisa tenaganya sedikit demi sedikit.

Bima refleks hendak menahan lengannya. "Yudistira..."

"Aku tidak apa-apa."

Meski berkata demikian, napasnya tetap terdengar berat. Perlahan ia berjalan keluar dari kamar, menyusuri lorong rumah yang sunyi hingga akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang selalu ia kunci rapat selama lima abad terakhir dan ia buka pula setiap hari setiap kali ia merindu. 

Ruangan itu kosong, hanya ada satu lukisan yang selalu ia pandangi setiap hari.

Lukisan pemberian Nakula yang tak pernah sekalipun berpindah dari tempatnya.

Bima ikut berhenti di belakangnya.

Ia memandang punggung Yudistira yang kini tampak jauh lebih kurus dibanding beberapa abad sebelumnya.

Jemari Yudistira yang pucat perlahan terangkat. Ujung jarinya menyentuh bingkai kayu lukisan itu dengan begitu hati-hati, seolah ia takut sentuhan sekecil apa pun akan merusaknya.

Senyum kecil kembali terukir di wajahnya—namun senyum itu dipenuhi kerinduan yang takkan pernah sembuh.

"Tahukah kamu..." Suara Yudistira memecah kesunyian. "...kenapa setiap hari aku merasakan sakit seperti ini, Bima?"

Bima menggeleng pelan. "Kenapa?"

Yudistira menatap lukisan dari Nakula.  "Karena aku bertemu Nakula."

Bima mengernyit. "...Apa maksudmu?"

"Di dalam mimpi." Yudistira tersenyum lirih. "Ia masih hidup di dalam mimpiku."

Bima menatap Yudistira dengan mata membelalak, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

"...Apa?" Suara Bima berubah pelan. "Apa yang sudah kau lakukan dengan kekuatanmu sendiri, Yudistira?"

Yudistira tidak langsung menjawab. Jemarinya masih membelai pinggiran bingkai lukisan itu dengan penuh kasih. Seolah Nakula benar-benar berada di balik kanvas tersebut.

"Aku..." Ia menarik napas perlahan. "...menggunakan kekuatanku setiap hari."

Bima mulai merasakan firasat buruk. "...Untuk apa?"

"Untuk membuat Nakula tetap berada di dalam mimpiku."

Yudistira memejamkan matanya. "Supaya setiap kali aku tertidur, aku bisa bertemu dengannya."

"Yudistira, kau gila."

Yudistira hanya tertawa pelan.

"Kau menggunakan kekuatan spiritualmu setiap hari hanya demi mempertahankan mimpi?"

"Iya."

"Kau tahu apa akibatnya?"

"Aku tahu."

"Tidak."

Bima menggeleng keras. "Sepertinya kau sudah tidak bisa berpikir dengan benar lagi."

Ia melangkah mendekati Yudistira. "Wujudmu sudah mulai melemah, rohmu semakin tidak stabil. Dan kalau kau terus memaksakan kekuatanmu seperti ini..."

Bima mengepalkan tangannya. "...lima ratus tahun lagi kau akan mati."

"Apakah..." Yudistira kembali memandangi lukisan pemberian Nakula. "...mati masih begitu penting bagiku, Bima?"

Bima membisu.

"Sejak hari Nakula meninggalkan dunia ini..." Yudistira mengusap perlahan wajah rubah yang terlukis di atas kanvas. "...aku sudah kehilangan segalanya. Yang tersisa dariku hanyalah kenangan. ... Aku hanya ingin menghabiskan sedikit waktu bersamanya."

Air mata Yudistira kembali jatuh tanpa suara. "Walaupun itu hanya mimpi."

Bima menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak melihat temannya yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri atas segala hal yang terjadi. 

"Yudistira..." Suara Bima melembut. "Nakula tidak akan menyukai tindakanmu."

Yudistira tak menjawab.

"Ia mempertaruhkan nyawanya agar kau tetap hidup. Kalau ia tahu kau mengorbankan sisa umurmu hanya untuk memaksakan sebuah mimpi..." Bima menundukkan kepalanya. "...ia pasti akan sangat sedih."

Dan lagi-lagi Yudistira memilih diam, membuat Bima mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. 

"Bima, aku boleh minta tolong?"

 

 

 

 

 

Aku hanya memiliki mimpi yang dimaniskan oleh kehadiranmu, mimpi yang usianya tak lebih panjang dari sekejap mata. Aku tahu ini akan berlalu dan menghilang seperti embun yang disentuh fajar. Karena itu, sebelum aku kembali terbangun dalam dunia yang tanpamu, jangan lepaskan tanganku... walau hanya untuk sesaat.

 

 

 

 

 

 

Bima berbaur dengan kerumunan manusia itu begitu mudah, meski tubuhnya menjulang jauh lebih tinggi dibandingkan orang-orang di sekitarnya. Dengan tinggi yang hampir menyentuh dua meter, sosoknya sesekali menarik perhatian pejalan kaki. Namun, di zaman yang telah berubah ini, tak ada yang benar-benar mempermasalahkannya. Orang-orang hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Di kedua tangannya, ia membawa sebuah lukisan yang telah berusia lebih dari sembilan abad.

Lukisan itu dibungkus dengan kain putih yang mulai menguning dimakan usia. Meski begitu, Bima membawanya dengan sangat hati-hati, seolah benda itu jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

Itu memang bukan lukisannya.

Melainkan milik Yudistira.

Satu-satunya peninggalan Nakula yang selama ratusan tahun selalu dijaga oleh gumiho itu.

Tak lama kemudian, langkah Bima berhenti di depan sebuah bangunan megah yang baru selesai dibangun.

Sebuah museum.

Pintunya memang masih tertutup untuk umum, kain-kain ucapan selamat masih tergantung di halaman depan, sementara beberapa pekerja terlihat hilir mudik menyelesaikan sentuhan terakhir sebelum peresmian beberapa hari lagi.

Bima mengembuskan napas pelan. "Inikah tempatnya..."

Ia melangkah mendekati pintu masuk.

Beruntung, petugas keamanan yang berjaga di sana tidak langsung mengusirnya. Setelah mendengar bahwa Bima ingin menyerahkan sebuah benda bersejarah kepada pemilik museum, seorang petugas akhirnya bersedia mengantarkannya masuk.

Beberapa menit kemudian, Bima sudah berdiri di hadapan pemilik museum.

Tanpa banyak basa-basi, ia membuka kain pembungkus lukisan itu perlahan. Begitu permukaan kanvas tua itu terlihat, mata sang pemilik museum langsung membelalak.

Ia bahkan refleks mengenakan sarung tangan sebelum mendekat.

"Ini..." Jemarinya bergetar ketika memperhatikan tekstur kanvas dan pigmen warna yang masih bertahan dengan sangat baik. "Usia lukisan ini..."

Ia menelan ludah. "...sudah sangat tua."

Pandangannya tak lepas dari sapuan kuas yang begitu halus, komposisi warna yang hangat, serta detail rubah putih berekor sembilan yang memenuhi kanvas itu.

"Indah sekali..."

Bima hanya menganggukkan kepala pelan. "Lukisan ini aku serahkan kepada museum."

Sang pemilik museum menatapnya tidak percaya. "Begitu saja?"

"Iya."

"Tapi lukisan seperti ini nilainya luar biasa."

Pria itu segera membuka laci mejanya. "Kalau Anda bersedia menjualnya, saya akan membayar berapa pun yang Anda minta."

Bima hanya tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. "Aku tidak datang untuk menjualnya. Pintaku hanyalah, rawatlah lukisan itu."

Tatapan Bima perlahan beralih kepada lukisan tersebut.

"Jangan biarkan ia rusak. Itu saja permintaanku."

Pemilik museum terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala dengan sungguh-sungguh. "Saya berjanji, lukisan ini akan kami rawat sebaik mungkin. Dan akan menjadi salah satu koleksi paling berharga di museum ini."

Mendengar jawaban itu, Bima akhirnya merasa sedikit lega.

Setidaknya...

Apabila suatu hari nanti Yudistira benar-benar menghilang dari dunia ini, masih akan ada sesuatu yang menjadi saksi bahwa Nakula pernah hidup.

Bahwa pernah ada seorang pelukis sederhana yang mengabadikan seseorang yang paling ia cintai ke atas kanvas.

Usai berpamitan, Bima melangkah keluar dari museum.

Embusan angin sore menyapa wajahnya. Ia berhenti sejenak di anak tangga depan museum, lalu mengembuskan napas panjang.

Manik kuningnya menyapu kota yang terbentang di hadapannya. Gedung-gedung menjulang tinggi, kendaraan melintas tanpa henti, orang-orang berjalan cepat sambil menatap benda kecil bercahaya di tangan mereka.

Bima tersenyum tipis. "Benar-benar sudah berubah..."

Rasanya baru kemarin ia masih mengenakan hanbok sederhana, berjalan di jalanan tanah desa yang dipenuhi pepohonan.

Kala itu, surat adalah satu-satunya cara menyampaikan rindu. Seseorang harus menunggu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, hanya untuk menerima beberapa lembar balasan yang ditulis dengan tinta di atas kertas panjang.

Menulis pun bukan perkara mudah.

Ia masih mengingat bagaimana jemarinya berkali-kali menghitam oleh tinta, bagaimana kuas harus dicelupkan perlahan sebelum kembali menorehkan satu demi satu huruf pada gulungan kertas yang terasa begitu panjang dan merepotkan.

Kini, semua berubah hanya dalam satu kedipan mata. Dunia sudah bergerak jauh lebih cepat daripada siapa pun yang pernah ia bayangkan.

Bima tentu saja harus terus berbaur dengan manusia.

Sebagai makhluk yang terlahir dengan tugas untuk menjaga mereka, sementara usianya sendiri tak akan pernah berhenti berjalan, ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti perubahan zaman. Jika manusia terus berkembang, maka ia pun harus ikut melangkah bersama mereka.

Begitulah caranya bertahan dan keberadaannya tidak menimbulkan kecurigaan.

Kerajaan berganti menjadi negara, pedang berganti menjadi senjata api, surat berubah menjadi pesan yang dapat dikirim hanya dalam hitungan detik, rumah-rumah kayu sederhana berganti menjadi gedung-gedung yang menjulang tinggi hingga seolah hendak menyentuh langit.

Bima telah menyaksikan semuanya.

Ia melihat peperangan datang dan berlalu, melihat wabah merenggut jutaan nyawa, melihat manusia saling mencintai, saling mengkhianati, saling memaafkan, lalu kembali mengulang kesalahan yang sama.

Selama hampir seribu tahun itu, ia telah membantu begitu banyak manusia. Mengulurkan tangan kepada mereka yang tersesat, melindungi mereka yang masih bisa diselamatkan, dan mengantarkan mereka yang telah tiba di penghujung takdirnya.

Begitu banyak kisah telah ia saksikan.

Begitu banyak perpisahan yang telah ia lewati.

Namun, dari seluruh luka yang pernah ia lihat... Hanya ada satu penyesalan yang tak pernah benar-benar meninggalkannya.

Satu kejadian yang terus menghantuinya, bahkan setelah hampir seribu tahun berlalu.

Malam ketika Nakula memilih tetap tinggal dan membiarkan seorang manusia mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan seorang gumiho.

Andai saat itu Bima datang lebih cepat.

Andai saat itu Bima lebih berani melawan takdir yang telah digariskan.

Mungkin semuanya akan berbeda.

Mungkin Nakula masih hidup.

Mungkin Yudistira tidak perlu menghabiskan hampir seribu tahun hidupnya hanya untuk merindukan seseorang yang tak akan pernah kembali.

Penyesalan itu tak pernah memudar barang sekalipun. Ia tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu, mengendap jauh di dalam hati Bima.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

Bagi Bima yang selama ini kesulitan berbaur dengan manusia, menjalankan tugas yang diberikan kepadanya ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sanshin terus menyuruhnya mendekati manusia, mengenal mereka, memahami kehidupan mereka, lalu menjaga mereka dari balik bayang-bayang.

Masalahnya... Mana ada manusia yang mau berkenalan dengannya?

Tubuh Bima terlalu besar, terlalu tinggi pula.  Bahkan di antara laki-laki dewasa, sosoknya tampak menjulang bak sebuah pohon tua.

Setiap kali ia mencoba mendekati desa, orang-orang selalu menoleh ke arahnya dengan waspada. Ada yang memilih menjauh, ada pula yang berbisik-bisik tidak jelas. 

Anak-anak yang melihatnya bahkan langsung bersembunyi di belakang orang tua mereka, lalu berlari sambil menangis ketakutan.

Hal itu membuat Bima berkali-kali menggaruk tengkuknya sendiri dengan bingung. "Apa... wajahku semenyeramkan itu?"

Ia bahkan sempat berkaca di permukaan sungai. Merapikan rambut ungunya yang berantakan, membenarkan pakaian yang dikenakannya, bahkan mengusap debu yang menempel di bahunya.

Namun hasilnya tetap sama : orang-orang masih takut.

Padahal kini wujudnya sudah sepenuhnya menjadi manusia.

Apa yang salah sebenarnya...?

Bima mengembuskan napas panjang. "Kalau begini terus... Bagaimana aku bisa menjalankan tugasku sebagai seorang dokkaebi?"

Dengan langkah lesu, ia memutuskan kembali ke hutan. Mungkin hari ini memang bukan harinya. Bima akan mencoba hari esok hingga para warga menerimanya. 

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Seseorang tiba-tiba menarik pelan ujung lengan bajunya. 

Bima sontak menoleh. "...Eh?"

Di belakangnya berdiri seorang anak laki-laki kecil. Rambutnya hitam legam dengan semburat biru muda yang tampak berkilau ketika terkena cahaya matahari.

Sepasang mata birunya yang jernih menatap Bima tanpa sedikit pun rasa takut.

Justru anak itu menatap Bima dengan penuh rasa penasaran.

"Kakak..." Anak itu tersenyum lebar. "...keren sekali."

Bima berkedip beberapa kali.

"Keren?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"

"Iya!"

"Apa yang keren dariku?"

Anak kecil itu langsung menjawab tanpa berpikir. "Kakak besar." Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Gagah." Kemudian ia tersenyum semakin lebar. "Dan pasti kuat!"

Bima hanya bisa memiringkan kepalanya dengan bingung. Belum pernah ada manusia yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.

Belum sempat ia menjawab, anak kecil itu sudah lebih dulu menggenggam tangannya.

"Ayo main sama aku!"

"Hah?"

"Main!"

Tanpa memberi kesempatan Bima menolak, anak itu langsung menariknya menuju lapangan kecil di dekat desa. Dan entah bagaimana, Bima menurut saja.

Mereka bermain hingga matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan. Mulai dari berlari mengejar capung, menyusun batu-batu kecil di pinggir sungai, bahkan berlomba melempar kerikil ke permukaan air hingga memantul berkali-kali.

Tak terasa, langit mulai berubah jingga. Suara seorang perempuan memanggil dari kejauhan, membuat anak kecil itu refleks menoleh.

"Ah... Aku harus pulang." 

Anak kecil itu menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor, lalu kembali menghadap Bima. "Kakak." Senyumnya masih sama cerahnya. "Besok kita main lagi, ya?"

Bima tersenyum kecil. "Iya."

Barulah setelah melambaikan tangan dan hendak berlari pulang, anak kecil itu tiba-tiba berhenti.

"Oh iya!" Ia berbalik sambil tersenyum lebar. "Aku belum bilang namaku."

Bima menunggu dengan sabar. Anak kecil itu membusungkan dadanya dengan bangga.

"Namaku Nakula!"

Dan dari situlah Bima mengenal Nakula.

Hari demi hari berganti menjadi bulan, lalu tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Anak kecil yang dahulu menyeret tangannya untuk diajak bermain itu perlahan tumbuh menjadi seorang pemuda yang rajin, tekun, dan begitu mencintai pekerjaannya sebagai seorang pelukis di desa.

Meski fisik Bima tak berubah, ia menyaksikan sendiri setiap fase kehidupan Nakula. 

Melihatnya belajar memegang kuas, melihatnya berkali-kali gagal hingga hampir menyerah, melihatnya tersenyum begitu lebar saat berhasil menjual lukisan pertamanya.

Dan tanpa sadar, keduanya menjadi begitu akrab.

Bahkan berkat Nakula pula, para warga yang dahulu selalu menjauh darinya mulai membuka hati.

"Aku jamin Bima bukan orang jahat."

Kalimat sederhana itu terus diucapkan Nakula kepada siapa pun yang masih memandang Bima dengan curiga.

Awalnya hanya satu dua orang yang percaya. Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang mulai menerima kehadiran Bima sebagai bagian dari desa.

Tak ada lagi anak-anak yang menangis ketakutan ketika melihatnya. Mereka justru berlarian menghampiri Bima untuk meminta digendong atau diajak bermain. Para orang tua pun mulai menyapanya ketika berpapasan.

Semua itu berawal dari seorang anak kecil bernama Nakula. Karena itulah, Bima selalu merasa berutang budi kepadanya.

Nakula juga sering datang mengunjunginya. Terkadang hanya untuk mencari inspirasi sebelum mulai melukis, terkadang pula sekadar meminta pendapat mengenai warna atau komposisi sebuah lukisan.

Dan di waktu-waktu tertentu... Nakula datang hanya untuk membeli buku yang ditulis sendiri oleh Bima.

Sebenarnya Bima tidak pernah berniat menjadi penulis. Ia hanya mengisi waktu luangnya yang terasa tak berujung. Menjadi seorang dokkaebi berarti hidup jauh lebih lama daripada manusia, dan ada saat-saat ketika kesunyian terasa begitu menyesakkan.

Maka ia menulis tentang berbagai kisah, perjalanan, manusia. 

Dan yang paling sering... Tentang kisah cinta antara dua laki-laki.

Awalnya Nakula membaca tulisan-tulisan itu dengan wajah yang penuh kebingungan. Ia bahkan beberapa kali menggaruk kepalanya sendiri setelah menutup halaman terakhir.

"Kenapa mereka tidak jujur dari awal saja?"

Atau...

"Kalau saling suka, kenapa malah saling menghindar?"

Komentar-komentar polos itu selalu berhasil membuat Bima tertawa. Daripada mengomentari 'mengapa harus laki-laki bersama dengan laki-laki?', Nakula lebih memilih untuk mempertanyakan isi ceritanya. 

Padahal banyak warga menatap Bima dengan aneh karena tulisannya, tapi Nakula tidak. 

Ia membeli tulisan Bima satu demi satu hingga tanpa disadari menjadi pelanggan paling setia yang pernah dimilikinya.

Bahkan terkadang, sebelum membeli, Nakula sudah lebih dulu bertanya dengan penuh semangat.

"Hari ini ada cerita baru, kan?"

Melihat antusiasme itu, Bima selalu tersenyum kecil. Seolah-olah tulisan yang awalnya hanya ia buat untuk mengusir bosan akhirnya benar-benar menemukan pembacanya.

Dan semakin lama mengenal Nakula, semakin Bima memahami seperti apa manusia itu sebenarnya.

Nakula bukan orang yang sempurna. Ia sering ceroboh. Terkadang terlalu impulsif hingga membuat Sadewa—saudara kembar Nakula—mengelus dada berkali-kali.

Sering pula terlalu mudah iba kepada siapa pun yang sedang kesusahan.

Namun justru karena itulah, ia begitu dicintai oleh semua orang.

Nakula selalu menyapa setiap orang yang ditemuinya, ia tak pernah ragu membantu siapa pun, meski dirinya sendiri sedang kesulitan, ia mampu membuat orang lain tersenyum hanya dengan kehadirannya.

Seolah kehangatan adalah sesuatu yang secara alami selalu mengikuti langkahnya.

Bagi Bima yang merupakan seorang dokkaebi yang baru beberapa puluh tahun hidup di dunia manusia... Nakula adalah manusia terbaik yang pernah ia temui.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

"Bima, menurutmu... Yudistira mau bersamaku?"

"Bima, apa sebaiknya aku memberinya hadiah?"

"Bima, coba bantu aku memilihkan baju yang cocok untuk Yudistira."

"..."

Bima hanya mengernyitkan dahinya. Astaga, nama yang sama diucapkan kembali oleh Nakula. 

Yudistira.

Sudah beberapa minggu terakhir, Nakula tak pernah berhenti menyebut nama itu. Saat mereka sedang minum teh, Yudistira. Saat Nakula melukis, Yudistira. Saat mereka berjalan pulang dari pasar, Yudistira lagi.

Seolah dunia Nakula kini hanya dipenuhi oleh satu nama tersebut.

Bima sampai mengusap wajahnya pelan. "Siapa sebenarnya Yudistira itu?"

Ia benar-benar penasaran. Bima sudah mengenal Nakula sejak laki-laki itu masih anak-anak. Ia tahu betul bagaimana sifat Nakula yang mudah akrab dengan siapa saja.

Namun, belum pernah sekalipun ia melihat Nakula seheboh ini hanya karena seseorang. Dan anehnya, Bima sama sekali tidak merasa terganggu.

Justru ia merasa senang.

Sudah lama sekali ia tidak melihat sepasang manik biru milik Nakula berbinar secerah itu ketika membicarakan seseorang.

Tatapan Nakula begitu berbeda, ada kebahagiaan yang sangat sulit disembunyikan olehnya—senyum yang selalu muncul tanpa Nakula sendiri sadari. 

Bima akhirnya mengembuskan napas pelan. "Siapa dia sebenarnya?"

Pertanyaan itu membuat Nakula yang sedari tadi begitu bersemangat langsung terdiam. Alih-alih menjawab, Ia tertawa kecil.

Jemarinya menggaruk pelan tengkuk yang sama sekali tidak terasa gatal.

"Temanku..."

Bima menaikkan sebelah alisnya. "Hanya teman?"

"Iya..."

"Orang desa sini?"

Nakula menggeleng. "Belum."

"Belum?"

"Dia belum sempat keluar rumah."

"Lho?"

"Dia... baru sampai."

Jawabannya semakin membuat Bima bingung.  Bima memandang Nakula beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pasrah.

"Kalau begitu, kenalkan saja padaku. Aku mau berteman dengannya juga."

Mata Nakula langsung berbinar. "Benarkah?"

"Iya."

"Ayo!"

Tanpa memberi kesempatan Bima mengubah pikirannya, Nakula langsung menarik lengannya menuju rumah sederhana tempat ia tinggal bersama Sadewa.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya tiba.

Pintu rumah itu perlahan terbuka. Belum sempat Bima melihat siapa pun di dalam, sesosok laki-laki berambut putih panjang tiba-tiba berlari kecil menghampiri Nakula.

Tanpa ragu, ia langsung memeluk Nakula dengan erat.

"Nakula..." Suara laki-laki ini begitu lembut.

Nakula terkekeh pelan sambil membalas pelukan itu, "Yudis..." Ia mengusap lembut rambut putih panjang milik laki-laki tersebut. "Kamu rindu, ya?"

Orang bernama Yudistira itu tidak berkata apa-apa, hanya menganggukkan kepala pelan sambil tetap memeluk Nakula, seolah enggan melepaskannya walau hanya sesaat.

Pemandangan itu membuat Bima tanpa sadar tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, pelukan mereka akhirnya terlepas. Barulah Yudistira mengalihkan pandangannya ke arah Bima.

Dan pada detik itu pula, senyum kecil di wajah Bima menghilang. Manik kuningnya sedikit menyipit begitu merasakan aura dari Yudistira, ia bisa merasakan aura yang sama sekali bukan milik manusia.

Begitu lembut, namun dipenuhi energi spiritual yang luar biasa besar.

Di sisi lain, Yudistira juga membeku. Sepasang mata hijaunya menatap lurus ke arah Bima. Tatapan mereka saling bertemu, namun tak ada satu kata pun yang terucap.

Keduanya langsung memahami satu hal: 'Dia bukan manusia.'

Bima dapat merasakan aroma spiritual khas seekor gumiho yang baru saja memperoleh wujud manusianya.

Sementara Yudistira mengenali energi hangat yang hanya dimiliki oleh seorang dokkaebi.

Baik Bima dan Yudistira hanya saling memandang satu sama sekali dalam diam, sampai akhirnya Nakula yang sama sekali tidak menyadari ketegangan itu tersenyum lebar.

"Oh iya, Yudistira..." Ia menunjuk ke arah Bima dengan bangga. "Ini Bima, sahabatku sejak kecil."

Lalu ia beralih menunjuk Yudistira. "Dan Bima, ini Yudistira, orang yang paling kusayangi."

Keduanya sama-sama menundukkan kepala dengan sopan sebagai bentuk salam perkenalan.

Nakula yang melihat hal itu langsung tersenyum lebar.

"Nah, ayo masuk dulu."

Ia mempersilakan Bima memasuki rumahnya. Yudistira pun bergeser memberi jalan, sebelum ketiganya duduk mengelilingi meja kayu sederhana yang berada di ruang tengah.

Suasana awalnya terasa begitu hangat.

Nakula bercerita tanpa henti mengenai lukisan yang sedang ia kerjakan, sesekali mengeluh karena belum menemukan inspirasi baru. Yudistira mendengarkan dengan senyum lembut sambil sesekali menimpali, sedangkan Bima hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Namun, dibalik wajah tenangnya, Bima berkali-kali mencuri pandang ke arah Yudistira. Bukan karena ia terpikat oleh paras gumiho itu.

Tentu saja bukan.

Melainkan karena nalurinya sebagai seorang dokkaebi terus mengingatkannya akan satu hal.

Gumiho memakan jantung manusia.

Dan sebagai makhluk yang bertugas menjaga manusia, Bima tidak mungkin mengabaikan kenyataan tersebut. Terlebih, manusia yang sedang berada di hadapan Yudistira adalah Nakula.

Manusia terbaik yang pernah ia kenal.

Ia tidak akan membiarkan Nakula menjadi korban, apa pun yang terjadi. Tatapan Bima perlahan berubah semakin tajam, seolah berusaha membaca setiap gerak-gerik Yudistira.

Sedikit saja gumiho itu menunjukkan niat buruk, maka Bima tak akan ragu menghentikannya.

Sementara itu, Yudistira yang sejak tadi duduk dengan tenang tampaknya menyadari tatapan tersebut. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya dari Nakula menuju Bima.

Tak ada kata-kata yang terucap, dan Yudistira hanya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu ia tersenyum—senyum yang begitu lembut, tanpa sedikit pun permusuhan.

Tatapan itu seolah berkata, "Aku tahu apa yang sedang kau khawatirkan. Tapi tenanglah, aku tidak akan pernah menyakiti manusia ini."

Bima terdiam. Ia masih belum sepenuhnya percaya. Namun entah mengapa, ia tidak merasakan sedikit pun hawa membunuh dari gumiho yang berada di hadapannya.

Yang ia rasakan justru sesuatu yang lain.

Kasih sayang yang begitu dalam... Hingga Bima yang telah hidup puluhan tahun dapat merasakannya hanya dari cara Yudistira memandang Nakula.

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

Bima tahu betul apa yang terjadi setelah kematian Nakula.

Ia melihat semuanya.

Melihat bagaimana Yudistira memilih mengurung dirinya dari dunia luar, melihat bagaimana rumah yang dahulu selalu dipenuhi tawa kini berubah menjadi tempat yang sunyi tanpa suara, melihat bagaimana gumiho itu berhenti tersenyum.

Bima melihat cahaya di sepasang manik hijau milik Yudistira perlahan menghilang, seolah sebagian dari jiwanya ikut mati bersama Nakula.

Padahal Bima tahu. Ia tahu bagaimana keduanya saling mencintai.

Ia melihat sendiri bagaimana Nakula selalu membicarakan Yudistira dengan mata yang berbinar, melihat bagaimana Yudistira diam-diam selalu memandang Nakula dengan kelembutan yang tak pernah ia berikan kepada siapapun.

Tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mengucapkan perasaannya.

Namun mereka tidak perlu melakukannya.

Karena cinta itu telah terlihat jelas dari setiap tatapan, setiap senyum, dan setiap perhatian kecil yang mereka berikan satu sama lain.

Bima masih mengingatnya dengan sangat jelas. Hari itu, Nakula datang menghampirinya sambil membawa sebuah kanvas yang masih ditutupi kain.

Senyumnya begitu lebar dan cerah.

"Bima." Ia memanggil penuh semangat. "Coba lihat."

Perlahan Nakula membuka kain penutup kanvas itu. Di atasnya tergambar seekor rubah berekor sembilan dengan bulunya yang seputih salju. Ujung kesembilan ekornya dihiasi warna hijau yang begitu lembut.

Tatapan rubah itu dipenuhi kehangatan. Seolah-olah, ia sedang memandang seseorang yang paling berharga di dunia.

"Bagaimana?" Nakula tersenyum bangga. "Indah, bukan?"

Bima mengangguk pelan.

"Indah."

Nakula terkekeh kecil. "Aku melukis ini diam-diam untuk Yudistira.

Wajahnya memerah karena malu. "Aku ingin memberinya kejutan."

Bima hanya ikut tersenyum saat itu.

Namun ternyata, kejutan itu tak pernah sempat diberikan oleh Nakula, dan Yudistira pada akhirnya membukanya sendiri. 

Yang datang lebih dahulu... Adalah kematian Nakula. 

Bima masih mengingat malam itu. Mengingat bagaimana ia berlari sekuat tenaga ke rumah Nakula, ia ingat suara teriakan para warga, kobaran obor yang menerangi malam.

Dan yang paling Bima ingat adalah sosok Nakula yang berdiri seorang diri, melindungi seseorang yang dicintainya.

Lalu Bima ingat juga kala pedang milik putra mahkota menebas leher Nakula. 

Bima datang terlambat.

Sangat terlambat.

Yang mampu ia lihat hanyalah kepala Nakula yang terlepas dari tubuhnya, sementara darah mengalir membasahi tanah yang selama ini menjadi tempat mereka tertawa bersama.

Jemarinya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah memenuhi dadanya, namun yang lebih besar dari amarahnya adalah penyesalan.

Ia gagal.

Gagal menjaga manusia yang selama ini paling ia sayangi—manusia yang selalu mempercayainya, manusia yang tak pernah menyakiti siapa pun, manusia yang bahkan di detik terakhir hidupnya masih memilih melindungi orang lain.

Sejak malam itu, rasa bersalah terus menggerogoti hati Bima.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Tak pernah berkurang sedikit pun rasa bersalah dan segala penyesalannya. 

Dan akhirnya, Bima mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu-satunya cara yang terpikir olehnya untuk menebus kegagalan itu...

Adalah menjaga Yudistira.

Melindungi satu-satunya orang yang ditinggalkan Nakula, apa pun risikonya. Meski itu berarti melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh Sanshin.

Seorang dokkaebi seharusnya melindungi manusia, bukan membunuh mereka. Namun Bima tetap melakukannya di tempat-tempat yang jauh dari peradaban.

Ia memburu manusia-manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya—mereka yang membunuh, memperkosa, menyiksa, dan merenggut nyawa orang lain tanpa penyesalan.

Jantung mereka kemudian ia ambil untuk Yudistira makan, agar gumiho itu dapat terus hidup.

Setiap kali tangannya berlumuran darah, Bima selalu teringat senyum Nakula.

Namun, alih-alih Yudistira memakan jantung manusia itu, Yudistira menolak. Selalu saja menolak semua pemberiannya. Lantas, Bima harus apa? 

Ditambah lagi, semakin sibuk dirinya menghadapi berbagai konflik yang terus muncul di dunia manusia, semakin jarang pula Bima memiliki waktu untuk mengunjungi Yudistira.

Zaman terus berubah dan manusia terus menciptakan masalah baru.

Perang, keserakahan, pengkhianatan, pembunuhan seolah tidak pernah ada akhirnya.

Sebagai seorang dokkaebi yang ditugaskan menjaga keseimbangan, Bima tidak bisa tinggal diam. Ia harus terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membantu mereka yang masih bisa diselamatkan, sekaligus menghukum manusia-manusia yang telah kehilangan hati nuraninya.

Namun, setiap kali ia memiliki sedikit waktu luang, langkahnya selalu berakhir di rumah kecil milik Yudistira. Dan setiap kali datang, Bima selalu membawa hal yang sama.

Sebuah jantung manusia.

Ia masih berharap, suatu hari Yudistira akhirnya mau memakannya, berharap gumiho itu mau memperpanjang hidupnya. 

Sayangnya, harapan itu selalu berakhir sama.

"Tidak."

Jawaban Yudistira tak pernah berubah.

Ia selalu menolak dengan senyum kecil yang begitu menyakitkan—menunjukkan bahwa hidup lebih lama bukan lagi sesuatu yang ia inginkan.

Ada yang lebih parah dari semua ini. Yudistira ternyata menggunakan kekuatan spiritualnya setiap kali ia tertidur. Bukan untuk bertarung, apalagi melindungi diri dari makhluk yang mengancamnya. 

Melainkan untuk menciptakan sebuah dunia. Dunia kecil yang hanya berisi dirinya dan Nakula. Sebuah mimpi yang terus ia ulang, malam demi malam, agar suara Nakula tidak memudar dari ingatannya.

Agar wajah Nakula tetap hidup, agar pelukan hangat itu tidak pernah benar-benar hilang.

Bima tidak pernah benar-benar memahami jalan pikiran Yudistira.

Andai dirinya berada di posisi gumiho itu... Ia akan memilih tetap hidup selama mungkin. Karena selama ia hidup, kenangan tentang Nakula juga akan tetap hidup bersamanya.

Tapi Yudistira berbeda.

Baginya, hidup tanpa Nakula bukanlah kehidupan, melainkan hukuman terberat untuknya. 

Bima tidak bisa menyalahkannya.

Karena, bagaimanapun juga, orang yang paling mengenal Nakula bukanlah dirinya—melainkan Yudistira.

Bima tidak pernah memahami seperti apa rasanya mencintai seseorang sedalam itu, mencintai hingga rela mengikis umur sendiri hanya demi sebuah pertemuan di dalam mimpi.

Namun tetap saja, setiap kali melihat keadaan Yudistira, dadanya terasa sesak. Terlebih sejak hari ketika jumlah ekor Yudistira hanya tersisa empat.

Saat itu Bima benar-benar menyadari bahwa waktu mereka tidak lagi banyak.

Lalu tahun demi tahun berlalu.

Satu per satu ekor itu menghilang.

Setiap kali satu ekor lenyap, tubuh Yudistira akan melemah selama berhari-hari. Wajahnya semakin pucat, dan napasnya semakin pendek.

Dan senyumnya semakin jarang terlihat.

Hingga akhirnya, hari itu tiba. Hari ketika ekor kedua terakhir menghilang.

Menyisakan...

Satu ekor terakhir.

Bima masih mengingat semuanya.

Yudistira terjatuh di lantai sambil memegangi dadanya, tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi wajahnya, dan tangisnya pecah tanpa mampu ia tahan.

Bima segera berlutut di sampingnya, menggenggam erat jemari Yudistira yang terasa begitu dingin.

"Genggam tanganku." Suara Bima bergetar. "Aku di sini."

Namun rasa sakit itu terlalu besar.

Air mata Yudistira terus mengalir, bahkan ketika proses menghilangnya ekor itu telah lama selesai.

Tangisnya tak kunjung berhenti, rasa sakit pada tubuhnya begitu luar biasa hingga rasanya kematian lebih baik daripada semua ini. Namun Yudistira tetap bertahan. 

Bima pun sadar, bahwa... Beberapa tahun lagi, ketika ekor terakhir itu menghilang... Tak akan ada lagi gumiho bernama Yudistira di dunia ini.

Namun setelah mengetahui ajalnya semakin dekat... Yudistira tetap tidak berubah. Ia masih menolak memakan jantung yang dibawa Bima, masih mengurung dirinya di dalam rumah.

Bahkan keluar untuk sekadar melihat langit pun tidak pernah lagi. Hari-harinya hanya dihabiskan di depan lukisan pemberian Nakula.

Atau...

Di dalam mimpi yang sengaja ia ciptakan sendiri.

Bima hanya bisa berdiri di depan pintu rumah itu sambil menggenggam kantong berisi jantung yang kembali gagal ia berikan.

Dadanya terasa begitu berat.

"Yudistira..." Suaranya lirih. "Hingga akhir hidupmu... Apakah kau akan terus menghukum dirimu sendiri seperti ini?"

 

 

 

 

 

"Sekali saja, terakhir, biarkan aku bertemu denganmu."

 

 

 

 

 

 

Besok.

Besok malam.

Yudistira tahu.

Ia tahu betul bahwa ketika malam esok berakhir, dirinya pun akan ikut lenyap dari dunia ini.

Setelah menghabiskan sembilan ratus sembilan puluh sembilan tahun mengurung diri di dalam rumah, akhirnya Yudistira mendorong perlahan pintu kayu yang selama berabad-abad menjadi batas antara dirinya dan dunia luar.

Engsel pintu itu berderit pelan, dan udara malam menyambut wajahnya untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Dengan langkah yang tertatih, ia mulai berjalan. Tubuhnya sudah jauh lebih rapuh daripada dahulu, setiap langkah terasa berat—seolah seluruh usianya kini benar-benar bertumpu pada satu ekor terakhir yang masih tersisa di belakangnya.

Tanpa sadar, langkahnya membawanya menuju danau.

Danau yang masih sama seperti yang Yudistira ingat.

Airnya tetap jernih, pepohonan masih berdiri mengelilinginya, dan bulan purnama masih memantulkan cahayanya di permukaan air yang tenang.

Seakan-akan waktu tak pernah menyentuh tempat itu.

Yudistira perlahan duduk di tepi danau. Manik hijaunya yang telah kehilangan cahaya memandangi riak air dalam diam.

Di sinilah... Ia pertama kali bertemu Nakula.

Di sinilah... Nakula menemukannya kembali ketika ia baru saja berubah menjadi seorang gumiho.

Semua kenangan itu kembali berputar di dalam kepalanya.

Tawa Nakula, suara lembutnya, sentuhan hangat jemarinya, pelukan yang selalu membuatnya merasa pulang...

Perlahan, air mata menetes membasahi pipinya.

Satu tetes, satu disusul satu lagi. 

Namun tak ada isak, tak ada suara tangis. Yudistira hanya membiarkan air matanya jatuh dalam keheningan malam, bahkan kesedihannya pun telah terlalu lelah untuk bersuara.

Setelah tangisnya perlahan mereda, ia kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju desanya, tempat yang dahulu menjadi rumahnya bersama Nakula.

Perjalanan itu terasa begitu panjang. Bukan karena jaraknya, melainkan karena tubuh Yudistira tak lagi sekuat dulu.

Kakinya beberapa kali gemetar, napasnya berkali-kali terputus. Namun ia tetap berjalan, selangkah demi selangkah.

Hingga akhirnya Yudistira sampai. 

Namun sudah tidak ada lagi desa yang ia kenal. Tak ada rumah sederhana tempat Nakula melukis, tak ada toko kecil milik Sadewa, tak ada pasar yang selalu ramai setiap pagi.

Yang tersisa hanyalah hamparan tanah luas.

Dan berbagai titik cahaya yang berkilauan dari kejauhan.

Yudistira menyipitkan matanya. "Kunang-kunang..." gumamnya lirih. "...banyak sekali."

"Itu bukan kunang-kunang."

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari sampingnya.

Yudistira perlahan menoleh. Di sana telah berdiri Bima. Namun Bima juga telah berubah. Mungkin Yudistira sendiri yang tidak begitu memperhatikan Bima sebelumnya. 

Hanbok yang dahulu selalu dikenakannya telah lama menghilang. Kini, tubuh besarnya dibalut pakaian modern yang sama sekali asing bagi Yudistira.

Rambutnya dipotong lebih pendek, sepasang sepatu hitam menutupi kakinya, dan di pergelangan tangannya melingkar sesuatu  yang tak pernah dilihat Yudistira sebelumnya.

Meski begitu, senyum di wajah Bima masih tetap sama seperti seribu tahun yang lalu.

"Itu kota." Bima menatap lautan cahaya di kejauhan. "Dan itu lampu-lampunya."

Yudistira kembali mengalihkan pandangannya ke depan. "...Begitu."

Bima menatap teman lamanya itu dalam diam. "Kamu terlalu lama mengurung diri di rumah itu, Yudistira."

Suara Bima terdengar lembut,  "Hampir seribu tahun. Sudah banyak sekali yang berubah. Kerajaan sudah lama runtuh, dinasti berganti, perang datang dan pergi, manusia belajar menciptakan berbagai hal yang dahulu bahkan tidak pernah kita bayangkan."

Bima mengembuskan napas pelan. "Zaman sudah berjalan terlalu jauh."

Yudistira hanya menganggukkan kepala kecil. Perubahan dunia tak lagi memiliki arti baginya, karena dunia yang ia inginkan, telah berhenti bergerak sejak hari ketika Nakula mengembuskan napas terakhirnya.

Namun Yudistira ingin melihat dunia yang sudah berubah tuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi dari dunia ini. 

Dan Bima, yang sudah memahami isi hati Yudistira bahkan sebelum gumiho itu sempat mengucapkan keinginannya, perlahan menggenggam tangannya.

Jemari Yudistira terasa begitu dingin, rapuh. Seolah hanya dengan sedikit tenaga saja, ia akan hancur menjadi debu yang diterbangkan angin.

Bima menggenggamnya sedikit lebih erat.

"Besok..." Suara Bima terdengar pelan, namun penuh keteguhan. "...kita akan berjalan-jalan."

Yudistira menoleh perlahan.

"Kita akan melihat dunia yang selama ini berubah tanpa sempat kau lihat."

Bima tersenyum tipis. "Aku akan mengajakmu melihat kota, melihat laut, melihat bunga-bunga yang bermekaran, melihat langit malam yang kini dipenuhi cahaya manusia."

Ia berhenti sejenak sebelum kembali menatap lurus ke depan. "Setidaknya... Sebelum semuanya berakhir." Manik kuning Bima perlahan beralih kepada Yudistira. "Nikmati hari terakhirmu di dunia ini. Dengan tawa, bukan dengan air mata."

Yudistira terdiam. Sudah hampir seribu tahun berlalu sejak terakhir kali seseorang mengatakan hal seperti itu kepadanya.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Bima mengembuskan napas lega.

"...Baik." Yudistira menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan ajakan Bima.

Pada akhirnya Yudistira memutuskan keluar, untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang pernah mempertemukan dirinya dan Nakula

 

 

· · ─ ·✶· ─ · ·

 

 

Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menembus jendela kamar di rumah Bima. Setelah Yudistira setuju dengan ajakannya, Bima segera mengajak Yudistira untuk tidur di rumahnya, dan keduanya berpindah menggunakan kekuatan Bima. 

Usai membasuh mukanya,  Yudistira menatap pakaian yang diletakkan Bima di atas meja di ruang tengah. 

"Bima..."

"Hm?"

"Ini... dipakainya bagaimana?"

Bima yang sedang menyeduh teh langsung menoleh. Begitu melihat Yudistira memegang kaus putih dan celana panjang dengan wajah kebingungan, ia tak mampu menahan tawanya.

"Apa?"

"Lucu saja."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Bima berjalan menghampirinya sambil masih terkekeh kecil. "Sudah hampir seribu tahun berlalu, Yudistira. Sekarang tidak ada lagi orang yang memakai hanbok setiap hari."

Ia mengambil kaus putih itu. "Masukkan kepala ke sini."

Yudistira menurut. "Kok gelap? Bukannya ini untuk kepala?"

"Itu lengan bajunya."

"..."

Bima kembali tertawa. Ah, ia merindukan ini. Akhirnya, pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat Yudistira memasang wajah kebingungan seperti anak kecil.

Setelah beberapa menit, akhirnya Yudistira berhasil mengenakan pakaian modern.

Kaus putih sederhana dipadukan dengan celana panjang hitam dan sebuah jaket tipis berwarna krem. Rambut putihnya tetap dibiarkan tergerai panjang hingga melewati pinggang.

Yudistira menatap dirinya melalui cermin.

"Rasanya..." Ia menggerakkan kedua lengannya perlahan. "...aneh."

"Tidak terbiasa?"

Yudistira mengangguk. "Hanbok jauh lebih longgar."

"Tapi ini lebih nyaman untuk berjalan." Bima tersenyum. "Percayalah."

Tak lama kemudian, keduanya keluar dari rumah.

Yudistira langsung terdiam. Jalan tanah yang dahulu selalu ia injak kini telah berubah menjadi jalan hitam yang begitu rata.

Kereta kuda sudah tidak ada. Sebagai gantinya, benda-benda besar dari besi melaju begitu cepat di atas jalan.

Mata Yudistira membulat memperhatikan semuanya.  "Itu..."

"Bukan kereta." Bima mengikuti arah pandangnya. "Itu mobil."

"Mobil..." Yudistira mengulang pelan.

Bunyi klakson terdengar bersahutan, lampu lalu lintas berganti warna. Manusia berjalan tergesa-gesa sambil memegang benda pipih bercahaya di tangan mereka.

Yudistira terus menoleh ke sana kemari. "...Mereka membawa batu bercahaya?"

"Itu namanya ponsel."

"Bisa untuk apa?"

"Hampir semuanya."

Yudistira mengernyit. "Hampir semuanya?"

"Iya."

"Berkirim surat?"

"Bisa."

"Menggambar?"

"Bisa."

"Berbicara dengan orang yang jauh?"

"Bisa."

"Mendengarkan musik?"

"Bisa."

Yudistira terdiam cukup lama. "...Manusia benar-benar luar biasa."

Bima tersenyum kecil. "Iya. Mereka selalu berkembang."

Hari itu, Bima benar-benar menepati janjinya. Ia mengajak Yudistira berkeliling.

Mulai dari naik kereta cepat, menaiki lift yang membuat Yudistira refleks memegang lengan Bima karena merasa lantainya bergerak sendiri, melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang hingga seolah menyentuh langit, bahkan masuk ke perpustakaan yang menyimpan jutaan buku.

Menjelang sore, Bima mengajaknya menuju pantai yang menurutnya cukup sepi. 

Begitu aroma asin menyentuh hidungnya, langkah Yudistira perlahan terhenti. Hamparan air biru membentang tanpa ujung, ombak datang silih berganti, memecah di bibir pantai sebelum kembali ke lautan.

Yudistira memandangi semuanya tanpa berkedip.

"...Indah."

Sangat indah. Selama hidupnya, ia belum pernah melihat laut sedekat ini.

Ia perlahan melepas alas kakinya, lalu membiarkan ombak kecil menyentuh telapak kakinya. Air yang dingin membuatnya sedikit terkejut. Namun sesaat kemudian, ia tersenyum.

Bima hanya memandanginya dari kejauhan, membiarkan Yudistira menikmati dunia yang hampir seribu tahun tak sempat ia lihat.

Yudistira berjalan perlahan, membiarkan ombak kecil menggelitik telapak kakinya setiap kali air laut datang menyapa bibir pantai.

Begitu indah.

Begitu damai.

Andai Nakula ada di sini...

Pasti laki-laki itu sudah menarik lengannya ke sana kemari sambil tertawa lepas. Mencipratkan air laut ke arahnya tanpa peringatan, lalu kabur ketika Yudistira membalasnya. Hingga pada akhirnya, keduanya akan sama-sama basah kuyup, saling menyalahkan sambil tertawa tanpa henti.

Tanpa sadar, sudut bibir Yudistira terangkat.

Dan jam telah menunjukkan pukul lima sore.

Tujuh jam lagi...

Dan hidupnya akan berakhir.

Aneh. Yudistira sama sekali tidak merasa takut.

Hari ini sudah lebih dari cukup baginya. Ia telah melihat dunia yang berubah begitu jauh dari masa yang ia kenal, melihat manusia menciptakan begitu banyak keajaiban, melihat langit yang kini dipenuhi cahaya-cahaya buatan, melihat laut yang sejak dahulu tetap setia memeluk daratan.

Dan yang terpenting, ia masih mengingat Nakula dengan begitu jelas.

Suara lembutnya, tawanya yang selalu riang, manik birunya yang selalu berbinar setiap kali menatap dirinya, bahkan cara Nakula tersenyum pun masih terukir begitu sempurna di dalam ingatannya.

Yudistira mengembuskan napas pelan.

Ia bersyukur.

Setidaknya... Ia tidak melupakan apa pun.

Dan untuk itu, ia juga berterima kasih kepada Bima.

Dokkaebi itu sengaja berdiri cukup jauh darinya, hanya mengawasi dari kejauhan tanpa mengganggu sedikit pun.

Memberinya ruang dan waktu agar Yudistira dapat menikmati sisa hidupnya seorang diri.

Pantai itu pun sudah lengang, hanya terdengar debur ombak yang silih berganti memecah kesunyian. Karena tak ada seorang pun di sekitarnya, Yudistira tak lagi repot-repot menyembunyikan ekor terakhirnya.

Perlahan, ekor putih itu muncul dari balik tubuhnya. Bulu-bulunya yang seputih salju bergoyang lembut diterpa angin laut, dan ujung hijau pada ekornya berkilau diterpa cahaya senja.

Yudistira memejamkan mata sejenak untuk merasakan angin dan mendengarkan ombak yang begitu menenangkan. 

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti lantatan sebuah suara asing memecah keheningan.

Klik.

Yudistira membuka matanya perlahan.

Suara itu terdengar lagi.

Klik.

Bukan suara ombak, apalagi suara burung. Melainkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia dengar selama hidupnya.

Dengan perlahan, ia menoleh ke belakang.

Di sana... Seseorang berdiri beberapa meter darinya.

Di kedua tangannya tergenggam sebuah benda kecil berbentuk kotak berwarna hitam yang sedang diarahkan ke Yudistira.

Begitu menyadari dirinya ketahuan, orang itu tampak terkejut. Perlahan, ia menurunkan benda tersebut dari depan wajahnya.

Dan pada saat itulah waktu seakan berhenti.

Sepasang manik hijau Yudistira melebar dan napasnya tercekat. Air mata mengalir begitu saja tanpa sempat ia sadari.

Bibirnya bergetar pelan menyebut nama sosok yang begitu ia rindukan berabad-abad lamanya. 

 "...Nakula?"

Merasa namanya dipanggil, orang itu tampak sedikit kebingungan.

Namun, alih-alih mundur karena melihat kesunyian pantai dan sosok asing berekor putih di hadapannya, ia justru melangkah mendekat dengan hati-hati.

Sorot matanya dipenuhi rasa penasaran.

Tak ada rasa takut, tak ada pula keinginan untuk melarikan diri.

Padahal ekor terakhir Yudistira masih terlihat jelas, bergoyang pelan diterpa angin laut. Dan orang itu langsung tau bahwa sosok berambut putih itu bukanlah manusia. 

"Ya?" Orang itu berhenti tepat beberapa langkah di depan Yudistira. "Kamu kenal aku?"

Suara itu masih sama, masih hangat, masih lembut. 

Air mata Yudistira jatuh semakin deras. Dadanya terasa sesak, begitu sesak hingga ia tak sanggup lagi berdiri tegak. Perlahan, kedua lututnya menyentuh pasir pantai.

Tangannya mencengkeram erat dadanya sendiri, seolah berusaha menahan rasa yang selama ini ia pendam agar tidak meluap sekaligus.

Setelah seribu tahun... Akhirnya...

Ia dapat melihat Nakula lagi.

Bukan dalam mimpi dan kenangan, melainkan tepat di hadapannya.

"Kamu... gapapa?" Orang itu langsung ikut berjongkok di depannya, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

Yudistira buru-buru menganggukkan kepala, meski air matanya tak kunjung berhenti mengalir.

"...Maaf."

"Maaf untuk apa—"

Kalimat itu bahkan belum sempat selesai. Yudistira lebih dahulu maju untuk memeluk orang itu seerat yang ia mampu.

Tubuhnya bergetar hebat, tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa. Ia menangis sejadi-jadinya, seolah seluruh kesedihan selama seribu tahun tumpah dalam satu pelukan.

Yudistira tidak mungkin salah.

Tidak mungkin.

Ia hafal segalanya.

Perawakan Nakula, wajahnya, suaranya, tatapan matanya, bahkan aroma tubuh yang samar terbawa angin pun terasa begitu familiar.

Orang ini...

Adalah Nakulanya.

Meski Yudistira tahu, Nakula yang berada di hadapannya kini hanyalah reinkarnasi. Ia tak memiliki satu pun ingatan tentang kehidupan mereka dahulu.

Tak mengingat danau, rumah kecil mereka, lukisan yang diberikan untuknya... 

Dan tidak mengingat Yudistira.

Namun... Itu tidak apa-apa.

Cukup dengan mengetahui bahwa Nakula kembali lahir ke dunia ini... Bahwa ia masih diberi kesempatan untuk melihatnya sekali lagi... Sudah lebih dari cukup.

Sementara itu, Nakula hanya membeku beberapa detik karena terkejut dipeluk oleh orang asing yang bahkan baru pertama kali ia temui.

Namun entah mengapa, ia tidak memiliki keinginan untuk  melepaskan pelukan itu. Sebaliknya, dadanya justru ikut terasa sesak melihat tangisan Yudistira.

Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap lembut punggung Yudistira.

"Semua akan baik-baik saja..." Ucapnya pelan. "Tak apa."

Yudistira kembali terisak. Ia begitu merindukan Nakula, ia sungguh rindu, ia berharap waktu berhenti sejenak supaya ia bisa memeluk Nakula lebih lama. 

Mengapa dipertemukannya harus di akhir kehidupannya? 

Namun, penyesalan tak lagi memiliki arti sekarang. Tak ada yang dapat mengubah seribu tahun yang telah berlalu. Tak ada yang mampu memutar waktu.

Maka Yudistira memutuskan untuk menikmati setiap detik yang masih tersisa.

Setelah tangisnya perlahan mereda, ia akhirnya melepaskan pelukannya. Jemarinya mengusap kasar sisa air mata di pipi sebelum menundukkan kepala.

"...Maaf tiba-tiba memelukmu."

Orang di hadapannya hanya tersenyum kecil. "Gapapa. Kamu sudah lebih baik sekarang?"

Yudistira mengangguk pelan. "...Mhm."

Senyum lembut kembali menghiasi wajahnya. Meski di balik senyum itu, sepasang manik hijau tersebut masih dipenuhi kesedihan yang begitu dalam.

"Kok kamu tidak kabur?"

Nakula terlihat bingung. "Hm?"

"Kamu tahu aku bukan manusia." Yudistira melirik sekilas ekor putih yang masih bergoyang pelan di belakang tubuhnya. "Kamu tetap mendekat."

Bukannya menjawab, Nakula justru memperhatikan ekor itu cukup lama. Lalu, tanpa ragu, ia berkata, "...Kamu gumiho, ya?"

Yudistira membeku, "...Bagaimana?" Ia menatap Nakula tak percaya. "Bagaimana kamu bisa tahu?" Padahal ekornya hanya tersisa satu. Tak ada lagi sembilan ekor megah yang dahulu menjadi ciri khasnya.

Nakula menggaruk pelan pipinya. "Aku juga nggak tahu. Tapi, perasaanku bilang begitu."

Yudistira semakin terdiam.

"Aku..." Nakula menatap laut sejenak sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada Yudistira. "...selama ini mencarimu."

Jantung Yudistira serasa berhenti berdetak. "...Mencariku?"

Nakula mengangguk. "Beberapa bulan yang lalu aku pergi ke museum. Di sana ada sebuah lukisan. Lukisan rubah putih berekor sembilan."

Yudistira menahan napasnya.

"Itu... Lukisan yang sangat indah. Aneh sih sebenarnya, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tapi waktu berdiri di depannya..." Nakula memegang dadanya sendiri. "...hatiku sakit. Sakit sekali. Seolah aku pernah kehilangan seseorang yang sangat penting."

Yudistira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air matanya mulai menggenang lagi.

Nakula melanjutkan ucapannya. "Terus... Aku mendengar suara."

Yudistira perlahan mengangkat wajahnya. "Suara?"

"Iya."

"Sangat pelan. Seperti..." Nakula mengingat-ingat. "'Mari... berjumpa... tuk terakhir...'. Jadi aku mulai mencarimu. Aku nggak tahu kenapa. Tapi aku merasa... harus ke sini."

Nakula tersenyum kecil. "Tadi waktu aku lihat kamu dari jauh... Ekormu persis seperti rubah di dalam lukisan itu: putih dengan ujungnya berwarna hijau. Aku langsung tahu, itu kamu."

Yudistira tak lagi mampu menahan air matanya.

Kepalanya kembali tertunduk, dan bahu kurusnya bergetar pelan.

Lukisan itu... Lukisan yang dahulu dilukis oleh Nakula dengan penuh kasih sayang. Lukisan yang selama hampir seribu tahun ia jaga lebih berharga daripada hidupnya sendiri, dan lukisan yang kemudian ia titipkan kepada Bima agar diserahkan kepada museum, supaya dunia tetap mengenang karya terakhir Nakula.

Dan kini reinkarnasi Nakula sendiri yang menemukannya.

Seolah takdir, setelah memisahkan mereka selama seribu tahun... Akhirnya memilih mempertemukan mereka kembali.

Meski... Hanya untuk terakhir kalinya.

Nakula terdiam cukup lama. Ombak datang silih berganti, namun kegaduhan di dalam pikirannya jauh lebih keras daripada suara laut di hadapannya.

"...Yudistira."

"Hm?"

"Siapa aku sebenarnya?"

Yudistira membeku sejenak.

Nakula menggenggam kamera hitam di tangannya lebih erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa.

"Aku tahu aku tidak mengenalmu. Aku juga tahu aku tidak mengingat apa pun. Tapi setiap kali melihatmu..." Nakula menekan dada kirinya pelan, "...hatiku sakit. Sakit sekali. Rasanya seperti aku sudah menunggumu sejak lama."

Ia mengangkat wajahnya. Manik birunya menatap lurus ke dalam mata Yudistira.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada kita?"

Yudistira hanya bisa membalas tatapan itu dalam diam. Begitu banyak cerita, begitu banyak kenangan, tawa, tangis, dan janji yang pernah mereka ukir bersama. Bagaimana mungkin semuanya bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata? 

Lagipula, waktu Yudistira hampir habis.

Yudistira perlahan tersenyum.

"Kamu benar-benar masih sama," katanya lembut. "Selalu ingin tahu segalanya."

Ia mengangkat sebelah tangannya. Telapak pucatnya terbuka menghadap langit.

"Kalau begitu... biarkan aku memperlihatkannya padamu."

Nakula mengerjap bingung. "Memperlihatkan?"

Yudistira mengangguk kecil. "Seluruh hidupku. Seluruh kenanganku. Semua yang kita lalui bersama—mulai dari malam ketika kamu menemukanku sebagai rubah yang terluka, hingga hari ketika kamu meninggalkanku."

Mata Nakula melebar. "Bisa... dilakukan?"

"Bisa." Suara Yudistira tenang, seolah sedang membicarakan hal yang paling biasa. "Karena kenangan seorang gumiho tidak hanya tersimpan di pikiran, melainkan juga di dalam rohnya."

Perlahan, cahaya putih mulai muncul di ujung jemari Yudistira. Awalnya hanya sebesar kunang-kunang, lalu semakin banyak. Puluhan, ratusan cahaya kecil berputar mengelilingi tubuhnya, menerangi langit yang mulai berubah menjadi malam. 

Nakula terpaku. Indah sekali. 

Seolah seluruh bintang di langit turun untuk mengelilingi Yudistira.

Semua cahaya itu kemudian berkumpul, menyatu menjadi satu bola cahaya putih sebesar kedua telapak tangan. 

Di dalamnya, bayangan-bayangan mulai muncul dan berputar pelan: sebuah pemandangan indah di tepi danau, seorang pemuda berambut biru yang sedang melukis, seekor rubah putih, tawa, tangisan, pelukan, dan segala kenangan yang pernah mereka bagi.

Yudistira menatap bola cahaya itu dengan senyum lembut yang penuh kasih. 

"Ini... adalah seluruh hidupku. Dan juga seluruh hidupmu."

Nakula menatapnya tanpa berkedip. "Kalau aku menerimanya... aku akan mengingat semuanya?"

"Semua," jawab Yudistira. "Kamu akan melihatnya, merasakannya, dan mengingatku."

Untuk sesaat, hanya debur ombak yang terdengar.

Nakula mengulurkan tangannya perlahan. Namun sebelum jemarinya menyentuh bola cahaya itu—

"Tunggu!"

Suara Bima menggema dari kejauhan. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di antara mereka. Manik kuningnya memancarkan keterkejutan bercampur amarah.

"Jangan lakukan ini, Yudistira."

Yudistira hanya tersenyum kecil. "Bima... kamu ternyata tahu akibatnya."

Suara Bima bergetar. "Begitu bola kenangan itu berpindah, ekor terakhirmu tidak akan sanggup menopang jiwamu lagi. Kamu bahkan tidak akan sempat menunggu tengah malam. Kamu akan menghilang... saat ini juga."

Nakula langsung menoleh kepada Yudistira. "Apa?"

Yudistira tetap tersenyum—senyum yang sama seperti seribu tahun lalu. Lembut, tenang, dan tanpa sedikit pun penyesalan.

"Aku memang akan mati malam ini," katanya pelan. "Entah beberapa jam lagi atau beberapa menit lagi. Apa bedanya?"

"Tidak!" Suara Bima meninggi. "Kamu sudah menderita selama ini! Setidaknya... Nikmati waktumu sampai batasnya tiba!"

Yudistira menggeleng pelan. "Bima... selama seribu tahun, aku hidup hanya karena satu harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti aku bisa bertemu Nakula sekali lagi." Ia memandang Nakula dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Dan sekarang, harapan itu sudah menjadi kenyataan. Kalau aku bisa mengembalikan seluruh kenangan kepadanya, maka aku tidak lagi memiliki penyesalan."

Yudistira mengangkat bola cahaya itu dengan kedua tangan. Cahayanya terasa hangat, selembut pelukan, selembut Nakula-nya yang selalu dirindukannya.

Tangan Nakula berhenti hanya beberapa senti di atas bola cahaya itu. Dadanya berdegup begitu keras hingga rasanya mau meledak. Dalam hati, sesuatu berteriak keras, putus asa.

Jangan. Tolong jangan.

"Apa... benar tidak ada cara lain?" Suara Nakula terdengar begitu penuh kesedihan, air matanya sudah menggenang sebelum ia sadari.

Yudistira menggeleng pelan, senyumnya begitu lembut hingga terasa menyakitkan. "Kalau hanya dengan bercerita, aku tidak akan sempat. Seribu tahun terlalu panjang untuk dijelaskan dengan kata-kata..." Ia menatap bola cahaya di telapak tangannya dengan pandangan penuh kasih sayang. "Kenangan bukan hanya sesuatu yang dilihat, Nakula. Ia harus dirasakan... hingga ke dalam jiwa."

Bima memalingkan wajahnya jauh. 

Jemarinya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Hatinya hancur. 

Ia tahu tak ada yang bisa menghentikan Yudistira. Gumiho itu selalu seperti ini—keras kepala, rela mengorbankan segalanya demi cinta yang satu itu. 

Sama seperti seribu tahun lalu, ketika memilih mengurung diri bersama lukisan Nakula. Sama seperti saat ia perlahan-lahan menghabiskan nyawanya hanya demi bisa bertemu dalam mimpi.

Yudistira mengangkat pandangannya. Matanya yang sehijau zamrud itu menatap Nakula denhan penuh kelembutan. "Jangan menangis..."

Nakula baru sadar air matanya sudah mengalir deras di pipinya. Ia buru-buru menyeka, tapi air mata itu tak mau berhenti. "Hah...? Aku... menangis?" 

Rasa asing yang menyakitkan membanjiri dadanya. 

Kesedihan yang tak beralasan, rasa kehilangan yang begitu dalam, kerinduan yang seolah sudah berabad-abad tertahan. Semuanya menyesakkan tenggorokannya hingga ia sulit bernapas, seolah ada lubang besar di dadanya yang tak bisa ditambal.

Yudistira mengulurkan bola cahaya itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Cukup sentuh. Setelah itu... kamu akan mengingat semuanya. Kita."

Nakula menarik napas gemetar. Dengan hati yang hancur, ia mengangkat tangannya perlahan. Ujung jemarinya menyentuh permukaan cahaya putih yang hangat itu.

 

 

"Ayo, kamu bisa jalan tidak?"

Seekor rubah putih berlumuran darah. Pemuda berambut biru muda menggendongnya dengan penuh kasih, meski langkahnya tersandung di tanah berbatu.

 

 

"Kok ujung ekormu hijau?"

Jemari lembut mengusap ujung ekornya dengan penuh sayang. Tawa kecil. Mata biru yang berbinar penuh keajaiban.

 

 

"Aku... Yudistira."

Sembilan ekor putih bermekaran di bawah bulan. Kunang-kunang menari di sekitar danau. Seorang pelukis yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

 

"Ayo pulang."

Tangan mereka saling menggenggam, hangat, penuh janji.

 

 

Lukisan demi lukisan. Pelukan yang penuh kelembutan. Tawa yang tak pernah habis. Hari-hari damai yang terasa seperti surga.

"Yudistira... Cantik."

 

 

Api yang membakar. Teriakan mengerikan. Pedang yang berkilauan. Arjuna. Darah. 

Sebuah kepala terpenggal jatuh ke tanah. Lukisan terakhir yang dibuat untuk Yudistira. Tangisan yang tak pernah berhenti di tepi danau, malam demi malam.

 

 

Seribu tahun kesendirian yang mencekik. Lukisan yang dijaga seperti harta paling berharga. Mimpi yang diulang-ulang hingga jiwa terkoyak. Ekor yang lenyap satu demi satu. Jantung manusia yang selalu ditolak. Tangisan tanpa suara. Kesepian yang membunuh. Penyesalan yang tak pernah pudar. Dan harapan kecil yang tetap menyala meski nyaris mati.

Lalu...

Pantai ini. Senja ini. Pertemuan yang dinanti selama seribu tahun.

 

 

 

 

"NAKULA!" Suara Bima menyadarkannya. 

Mata Nakula terbuka lebar. Tubuhnya limbung hebat. Napasnya tersengal-sengal. Air matanya sudah mengalir deras tanpa bisa ia tahan. 

Semua kenangan itu bukan mimpi. Semua itu nyata. Cinta mereka nyata. Pengorbanan Yudistira nyata. Rasa sakit yang ditanggung selama seribu tahun... juga nyata.

Namun Yudistira sudah tersenyum lemah, tubuhnya memancarkan cahaya putih yang sama. Bulu-bulu ekor terakhirnya perlahan berubah menjadi butiran cahaya yang begitu indah. 

"Bukan..." bisik Nakula parau. "Bukan seperti ini... tolong..."

Ia langsung merengkuh tubuh Yudistira seerat mungkin, seolah pelukannya bisa menghentikan kepergian itu. "Tidak! Jangan pergi... Tolong jangan tinggalkan aku lagi..."

Nakula menangis sejadi-jadinya, tangisnya pecah menjadi isak yang menyayat hati. Kali ini ia menangis bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai Nakula yang telah mengingat segalanya.

Ia memeluk Yudistira begitu erat hingga tangannya gemetar, berharap dengan segenap jiwa agar pelukan ini cukup kuat untuk menahan kepergiannya.

Yudistira mengangkat tangannya yang sudah tembus pandang. Dengan sisa kekuatan terakhir, ia mengusap pipi Nakula dengan lembut, persis seperti yang selalu ia lakukan dalam mimpi-mimpi mereka selama seribu tahun.

"Nakula..." suaranya nyaris hilang, hanya hembusan angin yang penuh kasih, "...akhirnya kita bertemu lagi."

Senyumnya tetap seteduh dan seindah seribu tahun lalu—saat Nakula pertama kali menemukannya sebagai gumiho di pinggir danau. 

 

 

 

 

 

Kau mempesona

 

 

 

 

• 

 

 

Sorot lampu memenuhi ruangan megah itu. Tepuk tangan bergema tanpa henti ketika nama Nakula dipanggil sebagai pemenang utama lomba fotografi tingkat internasional.

Di layar raksasa di belakangnya, terpampang sebuah foto yang membuat seluruh ruangan terdiam.

Seorang laki-laki berambut putih panjang berdiri di tepi pantai saat matahari mulai tenggelam.

Rambutnya diterpa angin dan senyumnya begitu lembut.

Di belakang tubuhnya, satu ekor putih dengan ujung kehijauan berkibar pelan, seolah menyatu dengan cahaya senja.

Begitu indah.

Begitu damai.

Nakula menerima piala itu dengan kedua tangan, lalu berdiri di depan mikrofon.

Pembawa acara tersenyum hangat. "Bagaimana perasaanmu setelah memenangkan lomba fotografi tingkat internasional ini, Nakula?"

Nakula menatap cukup lama foto yang terpampang di belakangnya.

Senyumnya begitu tipis. "...Aku merasa sedih."

Jawaban itu membuat pembawa acara sedikit terkejut. "Sedih? Kenapa?"

Nakula menghela napas pelan. "Karena sosok yang aku potret ini... sudah tiada."

Seluruh ruangan menjadi hening.

Tatapan Nakula masih belum lepas dari foto tersebut. "Tapi..." Kali ini ia tersenyum. "...aku juga merasa bahagia. Karena pada akhirnya, semua orang akan mengingatnya."

Jemarinya menggenggam piala itu sedikit lebih erat. "Sama seperti dirinya dahulu. Ia memilih menitipkan lukisan karya orang yang paling ia cintai kepada sebuah museum."

Nakula menarik nafasnya yang mendadak terasa berat. 

"Supaya... Meski sang pelukis telah lama meninggalkan dunia ini, semua orang tetap dapat mengenalnya."

Nakula menatap sekali lagi wajah Yudistira yang terlihat begitu cantik dalam foto itu.

"Dan sekarang adalah giliranku. Giliranku memastikan bahwa dunia juga mengenal orang yang selama seribu tahun menjaga cinta itu seorang diri.

"Nama orang di foto ini adalah Yudistira."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

¹Kue beras yang dikukus dalam kukusan tanah liat. Dibuat dari tepung beras dan kacang merah, kacang-kacangan, atau kacang hijau. ²istilah umum untuk seorang pelukis. ³dewa penjaga gunung. ⁴Pakaian tradisional yang dipakai masyarakat pada era Dinasti Joseon. ⁵Tanaman ini adalah sejenis Artemisia yang tumbuh liar di pegunungan, lereng bukit, dan ladang. ⁶istilah paling umum untuk pedagang. ⁷makhluk mitologi rubah berekor sembilan dari cerita rakyat Korea. ⁹makhluk mitologi dan cerita rakyat Korea yang sering disamakan dengan goblin atau raksasa.

 

Notes:

Hayo siapa yang bikin Arjuna tau kalau Yudis itu gumiho?

And from a painter to photographer :]