Work Text:
Kepala Juhoon menggeleng sambil tangannya mengangkat beberapa barang di atas meja. Pandangannya menyapu permukaan meja mencari satu benda kecil yang fungsinya sangat dibutuhkan detik ini juga. Penghapus.
Teman sebangkunya terlihat sudah mencak-mencak tak karuan sambil berjongkok memeriksa bawah meja. Setelahnya, satu tangannya dijulurkan ke kolong meja, memeriksa dengan saksama setiap jengkalnya. Nihil, kolong mejanya tidak menyimpan satu barang apapun. Saat tangannya dikeluarkan, sehelai kertas kecil melayang dan terjatuh dengan gerakan pelan ke lantai.
Seonghyeon hanya menatap secarik kertas yang perlahan terjatuh di hadapannya. Ia merasa tak cukup waktu untuk melihat apakah kertas itu mencakup tulisan yang penting atau tidak karena penghapus yang sedang dicarinya adalah hal paling krusial dalam hidupnya sejak beberapa menit lalu. Namun, tangannya memungut kertas kecil itu seperti bergerak sendiri tanpa kendali.
Panik banget sih. Nulis not baloknya salah, ya? :P
Tulisan acak-acakan yang sangat dikenalinya terpampang jelas di sana. Ia menyipitkan mata seraya tangannya meremas kertas kecil di tangannya dengan kekuatan penuh. Tubuhnya berbalik ke arah belakang kelas, tepatnya ke meja paling belakang yang terletak di ujung kanan. Pemilik meja tersebut terlihat menjulurkan lidahnya sambil kedua tangannya naik sejajar telinga sambil digerak-gerakkan tanda mengejek.
Seonghyeon berjalan dengan tergesa sambil menghentakkan kakinya. Kedua alisnya terlihat bertaut dengan bibirnya yang mengerucut.
“Balikin gak!”
“Pinjemlah sama sahabat sebangku lu.”
Setelah itu, lelaki beralis tebal tersebut menunjukkan senyum miring sambil mengangkat alis.
“Penghapus Juhoon juga gak ada!”
“Terus?”
Suara gebrakan meja yang cukup kencang terdengar beberapa detik kemudian. Seonghyeon duduk di samping Keonho lalu mencubit satu lengannya dengan mengeluarkan seluruh tenaganya. Namun, lelaki yang dicubit lengannya itu seperti tidak terlihat merasakan rasa sakit yang berarti.
“Lu nyubit atau ngapain, sih? Gak ada rasanya sama sekali.”
Seonghyeon yang tampak putus asa akhirnya menyatukan kedua tangannya di dada sambil menatap wajah Keonho dengan tatapan memohon. Bibirnya kembali mengerucut, kedua alisnya kembali bertaut, serta bola matanya menyiratkan permohonan yang terlihat sungguh imut. Ia memajukan wajahnya hingga tersisa beberapa senti dari wajah Keonho.
“Keonho, please. Not baloknya kan dikumpulin lima menit lagi. Balikin, ya?”
Darah Keonho berdesir pelan kala melihat wajah Seonghyeon yang sungguh dekat di hadapannya. Ia memalingkan wajahnya dengan cepat sambil berdeham mengusir gelenyar aneh yang mendadak muncul di dada.
“Iya, gue balikkin.”
Keonho mengambil tempat pensilnya dan mengambil beberapa penghapus dari sana. Ia buka telapak tangannya dan dijulurkan ke arah Seonghyeon sehingga terlihat terdapat empat penghapus di telapak tangannya. Tatapan mata Seonghyeon melebar karena melihat banyaknya penghapus yang diambil oleh Keonho.
“Ini punya siapa aja?”
“Pokoknya gue ambil dari meja lu sama Juhoon, terus meja belakang lu.”
“Gila ya, lu!”
Seonghyeon yang menyimpan rasa kesal secara tak sadar meremas satu tangan Keonho yang menengadahkan penghapus dengan kedua tangannya. Ia meremas hingga tangan Keonho yang sebelumnya menengadah menjadi tertutup. Seonghyeon meremas dengan kencang hingga tangan mereka bergetar.
“Ngeselin!”
Setelahnya, ia melepas genggaman kedua tangannya dari tangan Keonho lalu mengambil keempat penghapus itu. Sebelum beranjak, ia mengepalkan tangannya seperti hendak meninju Keonho lalu berlari kecil kembali ke mejanya. Setelah Seonghyeon menghilang dari pandangan, Keonho melirik tangannya yang sebelumnya digenggam oleh Seonghyeon. Gelenyar aneh itu datang kembali. Sudut bibirnya terangkat tipis.
——
Langkah Seonghyeon tertahan saat melihat lorong menuju kantin dipenuhi oleh beberapa kakak kelas yang dikenal sebagai pentolan sekolah. Mereka mengisi sisi-sisi lorong sambil mengobrol dengan kencang. Suara tawapun mengudara silih berganti dengan percakapan yang Seonghyeon tidak dapat dengar dengan jelas.
Seonghyeon menautkan kedua tangannya cemas. Sebenarnya ia tidak takut, tetapi ia segan melewati gerombolan kakak kelas yang seakan membuat teritori sendiri di sana. Namun, perutnya dari tadi sudah keroncongan.
Saat ini sudah jam-jam mendekati selesainya jam istirahat. Ia tidak sempat makan dari tadi karena mengerjakan tugas kimia yang harus dikumpulkan sebelum jam istirahat usai. Sayang sekali, saat tugasnya sudah selesai, ia tidak bisa menemukan kotak bekal di tasnya. Sepertinya bekalnya tak sengaja tertinggal di meja makan tadi pagi karena terburu-buru ingin berangkat bersama dengan ayahnya.
Saat Seonghyeon berniat membalikkan tubuhnya, satu tangan merangkul bahunya. Ia dapat merasakan dorongan ringan dari rangkulan di bahunya menuju kantin.
“Ayo, bareng gue.”
Saat ia menoleh ke samping, ia melihat wajah Keonho yang menatap lurus ke depan. Saat melewati gerombolan kakak kelas di lorong, Keonho tak disangka menyapa beberapa orang dengan akrab.
“Bang Io! Bang Zen! Bang Dul! Lewat ya, Bang!”
Mereka yang disapa melemparkan senyum dan balas menyapa dengan sapaan hangat. Mereka berjalan dengan tangan Keonho yang masih merangkul hingga ke dalam kantin. Mungkin karena tubuh mereka berdekatan, Seonghyeon merasa seperti dapat mendengar degup jantung Keonho yang berdetak cepat. Seonghyeon menatap Keonho dengan tatapan mengejek.
“Deg-degan banget, tuh. Lu takut ya karena tadi lewatin mereka?”
Keonho langsung melepas rangkulannya dengan cepat. Ia menatap sosok di sampingnya dengan tatapan memicing seraya menaikkan satu alisnya.
“Harusnya gue yang bilang gitu. Lu aja tadi mau puter balik pas liat mereka di sana.”
Seonghyeon memutar kedua matanya lalu meninggalkan Keonho berdiri di sana. Ia berjalan menuju penjual mi ayam langganannya jika tidak membawa bekal. Sementara, Keonho menatap punggung Seonghyeon yang makin berjalan menjauhinya. Sedetik kemudian ia menundukkan kepala menatap lantai dengan tatapan kosong sambil satu tangannya memegang dada.
“Bener deg-degan, sih, tapi bukan karena itu, kayaknya.”
——
Di tengah kunyahan mi ayamnya, Seonghyeon berusaha melemparkan pertanyaan kepada Juhoon. Ia memegang bahu Juhoon dan berusaha membuat Juhoon menatap ke arahnya.
“Mwenurwut lwu, Kweonhwo bwaik atwau jwahat?”
Juhoon terkekeh pelan melihat Seonghyeon yang bersusah payah berbicara dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanannya.
“Telen dulu, anjir. Sabar dikit, napa.”
Seonghyeon mengangguk lalu mengisyaratkan dengan tangan untuk menunggunya menyelesaikan kunyahannya. Setelah beberapa detik, Seonghyeon menelan mi ayamnya lalu kembali menepuk bahu Juhoon.
“Menurut lu, Keonho baik atau jahat?”
“Maksudnya?”
Seonghyeon menegakkan tubuhnya lalu menggeser arah tubuhnya hingga ia berhadapan langsung dengan Juhoon di samping.
“Abis tadi dia nemenin gue masuk kantin pas kakel-kakel udah mulai nongkrong depan kantin. Padahal, biasanya, kan dia ngumpetin barang gue mulu di kelas.”
Juhoon tergelak mendengar topik perbincangan mereka sekarang. Ia tidak menyangka Seonghyeon akhirnya membicarakan perilaku Keonho kepadanya. Juhoon sudah lama memendam analisis perilaku Keonho yang dirasa berbeda hanya kepada Seonghyeon.
“Dia baik. Sama semua orang dia baik. Dia kan jahil ke lu doang.”
Seonghyeon diam beberapa saat. Ingatannya berusaha memutar kejadian-kejadian selama di kelas yang terdapat Keonho di dalamnya.
Keonho pernah ngumpetin seragam olahraganya dan ia baru sadar pas jam pulang sekolah. Berakhir ia lima menit mencari-cari di tiap kolong meja, tapi tiba-tiba Keonho datang ke hadapannya sambil mengangkat tote bag berisi seragam sekolahnya tinggi-tinggi. Ia lantas menjewer telinga Keonho keras-keras.
Keonho pernah ngumpetin ponselnya. Saat ia sudah berjalan ke meja guru berniat mengadu, Keonho berteriak menyuruhnya melihat ke atas lemari di belakang kelas. Kemudian ia meninju lengan Keonho dengan sekuat tenaga. Di ingatannya, Keonho memang selalu bertingkah aneh kepada dirinya. Keonho tidak pernah berinteraksi dengan temannya yang lain seperti Keonho berinteraksi dengan dirinya.
Akan tetapi, terdapat juga ingatan ketika Keonho menemaninya dihukum berdiri di luar kelas sambil mengangkat tangan selama jam pelajaran berlangsung karena tidak membawa buku pelajaran. Kalau mendengar dari ucapan teman sebangkunya, sebetulnya Keonho membawa bukunya, tetapi Keonho malah berkata ia tidak membawanya seakan seperti meminta dengan cuma-cuma agar ia dihukum dengan sukarela. Pada waktu itu, Seonghyeon lebih memercayai kalau Keonho memang sama seperti dirinya yang tidak membawa buku.
“Woy, malah bengong dia.”
Seketika kesadaran Seonghyeon kembali menuju saat ini. Mi ayamnya yang masih tersisa setengah dan Juhoon yang duduk berhadapan dengannya.
“Gimana?”
Seonghyeon hanya mengangkat bahu membiarkan pertanyaan Juhoon menghilang begitu saja tanpa jawaban.
“Mungkin aja, dia suka sama lu.”
Seonghyeon yang baru saja menyuap mi ayamnya yang sempat diangguri beberapa menit lalu langsung tersedak. Juhoon buru-buru mengambil botol minumnya lalu memberikannya kepada Seonghyeon.
“Santai aja, kali.”
Setelah selesai minum, Seonghyeon tidak melanjutkan makannya dan tidak pula merespons ucapan Juhoon barusan. Ia hanya mengaduk-aduk mi ayamnya dengan asal.
“Yah, tapi, kalau gue gak suka balik, gimana?”
Juhoon menatap Seonghyeon dengan tatapan tak percaya. Ia menyentil dahi Seonghyeon pelan.
“Ngartis banget, anjir.”
Seonghyeon mengaduh lalu mengelus dahinya berusaha mengusir rasa sakit dari sentilan kejam Juhoon barusan.
“Panjang umur. Tuh, anaknya dateng.”
Juhoon mengedikkan kepala ke arah pintu kelas setelah berbicara. Seonghyeon membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Keonho yang berjalan masuk. Keonho mengacak-acak rambutnya sambil mengendurkan simpul dasi supaya bisa bernapas dengan lebih leluasa. Seragamnya tampak agak basah oleh keringat, wajahnya juga tampak penuh dengan peluh.
Merasa dirinya menjadi pusat atensi seseorang, Keonho melihat ke sekitar. Ia mendapati Seonghyeon sedang menatapnya dengan lamat hingga tubuhnya tidak bergerak sesentipun. Pandangan matanya benar-benar lurus ke arah Keonho, tetapi ia tahu pikiran sosok itu tidak di sana. Keonho tersenyum miring lalu menggebrak meja Seonghyeon. Tidak kencang, tetapi cukup untuk membuat kesadaran Seonghyeon kembali, bahkan hingga gelagapan karena sosok yang ditatapnya tadi secara tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
“Kenapa lu ngeliatin gue? Naksir?”
Seonghyeon mendecakkan lidah sambil mengayunkan tangan mengusir kehadiran Keonho di dekatnya.
“Apaan, sih. Sana, ah, bau keringet. Ngapain, sih, main basket siang bolong?”
“Kok lu tau gue abis main basket?”
“Kan biasanya juga gitu.”
“Merhatiin gue banget, ya.”
“Bacot.”
Juhoon memandangi kedua sosok di hadapannya sambil mengeluarkan tawa. Tak habis pikir karena keduanya selalu punya energi untuk saling memberikan ejekan satu sama lain.
——
Keonho terkesiap saat tiba-tiba Seonghyeon duduk menghampirinya. Ia memeluk buku dan tempat pensil miliknya di dada lalu menaruhnya asal di meja sampingnya.
“Temen lu lagi dispen, kan?”
Keonho mengedikkan bahu pertanda mengiyakan. Ia memandangi Seonghyeon dari atas hingga bawah dengan tatapan penuh tanya.
“Numpang, ya. Gue lagi pusing belajar fisika, gak mau duduk di depan.”
Seonghyeon membuka bukunya lalu mulai menulis di buku tulisnya. Ia seperti tenggelam dalam kegiatannya hingga tatapan Keonho yang dari tadi terpatri ke arahnya sama sekali tidak mengganggunya.
“Katanya pusing belajar fisika?”
Seonghyeon mengangkat wajahnya yang menunduk. Lalu, ia mengangkat buku tulisnya ke hadapan wajah Keonho.
“Ini matematika.”
Keonho terkekeh pelan.
“Ada, ya, orang pusing belajar fisika, tapi malah belajar matematika.”
“Ada, gue.”
Tangannya terulur secara tiba-tiba. Seperti tak sadar, ia mengusak rambut Seonghyeon pelan. Saat tangannya masih berada di atas sana, Keonho membeku. Seonghyeon yang tidak pernah mempersiapkan diri mendapat perlakuan seperti itu dari Keonho buru-buru menjauhkan kepalanya. Tangannya mendorong lengan Keonho menjauhinya.
“Ah, jangan berantakin.”
Akhirnya, Seonghyeon kembali menatap rumus matematika di bukunya dengan penuh minat. Sementara, Keonho masih diam mencerna kelakuan impulsifnya barusan. Ia berusaha duduk menghadap depan, berusaha menghilangkan sosok Seonghyeon dari pandangan.
Mungkin aja, dia suka sama lu.
Suara Juhoon terdengar secara tiba-tiba dari alam bawah sadarnya. Ia membulatkan mata lalu menatap ke depan mencari-cari keberadaan Juhoon. Juhoon masih duduk di tempatnya, terlihat menyimak penjelasan guru di depan. Gue sinting ya, batinnya.
Seketika, rumus matematikanya tidak semenarik tadi. Ia diam-diam menolehkan pandangnya ke arah Keonho si samping. Keonho sedang melayangkan pandangan ke depan, entah mendengarkan penjelasan guru atau hanya pura-pura mendengarkan.
Seonghyeon membuka mulut hendak melontarkan pertanyaan. Namun, keraguan seperti mendadak muncul tepat sebelum dirinya mulai berbicara.
Lagian gue mau nanya apaan, eh, lu suka sama gue, ya? Pede gila. Atau gue yang suka sama lu, ya? Lah, kenapa jadi gue.
Seonghyeon bergelut dengan pikirannya sendiri dengan tatapannya yang masih terpaku pada Keonho. Keonho merasakan tatapan tak henti dari sampingnya. Mau tak mau ia menolehkan kepalanya.
“Ngapain, sih, lu liatin gue?”
Suara Keonho membuat kesadarannya kembali ke ruang kelas. Ia menggaruk pelan kepalanya lalu berusaha mencari topik pembicaraan yang masuk akal.
“Lu hari Sabtu dateng ke closingan acara cup sekolah, gak?”
Seonghyeon menghembuskan napas lega karena otaknya dapat bekerja dengan baik.
“Ogah, ngapain.”
“Dih, gak dukung sekolah sendiri banget.”
“Emang dukung sekolah berarti harus dateng acara gituan?”
“Iya.”
“Emang harus banget dateng?”
“Iya.”
“Yaudah, kalo gitu dateng sama gue. Mau?”
“Hah?”
Seonghyeon mengerjapkan matanya sambil menatap Keonho dengan tatapan bingung. Keonho yang ditatap tersenyum lebar hingga menampakkan giginya.
“Katanya gue harus dateng. Gue mau dateng, tapi kalo sama lu.”
Lagi-lagi, omongan Juhoon kembali memenuhi kepalanya. Pikirannya jadi kembali menerka-nerka, apakah Keonho benar-benar suka padanya? Akan tetapi, kenapa juga ia harus repot memikirkan hal itu? Seharusnya tidak penting, tetapi ia sungguh ingin memastikan perkataan Juhoon tadi siang. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengangguk.
“Yaudah.”
——
Seonghyeon mengetuk-ngetukkan satu kakinya sambil menatap beberapa manusia yang berlalu lalang. Ia mencari-cari sosok Keonho yang katanya sudah sampai lebih dulu darinya. Jauh dalam hatinya, Seonghyeon merutuki keputusannya karena bersedia datang bersama Keonho ke acara sekolahnya. Hanya dilanda rasa penasarannya mengenai perasaan Keonho kepada dirinya, ia sampai rela datang hari ini bersamanya. Oleh karena itu, agar mereka tak menghabiskan waktu terlalu lama bersama, Seonghyeon meminta agar mereka datang mendekati penampilan bintang tamu utama acara ini, HiVi.
Tiba-tiba pipinya merasakan sensasi dingin yang cukup membuatnya berjengit. Ia menoleh dan terlihat Keonho tersenyum memamerkan gigi dengan satu tangannya menempelkan gelas plastik dengan embun di luarnya.
“Dingin!”
Keonho tertawa kecil lalu menyeruput minuman yang tadi sempat singgah di pipi Seonghyeon.
“Minumannya cuma satu?”
Keonho mengangguk sambil terus menyeruput minumannya. Ia memberi isyarat kepada Seonghyeon untuk segera masuk ke dalam venue.
Perasaan kalau kayak di film-film harusnya orang yang nyamperin ngasih minumannya, deh. Berarti dia gak suka sama gue, ya?
Seonghyeon menggeleng pelan, mengusir pikiran itu sebelum berkembang terlalu jauh. Ia berjalan dengan tergesa mengikuti langkah Keonho yang sudah agak jauh di depan.
Sementara, Keonho yang sudah berjalan duluan merutuki kelakuannya barusan. Ia memandangi gelas plastik di tangannya seolah berharap minuman itu bisa kembali penuh.
Harusnya kan gue kasih ke dia, anjir. Kenapa malah gue minum sendiri, ya? Padahal tadi gue udah minum minuman ini juga. Kembung deh perut.
“Keonho!”
Keonho menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Ia melihat beberapa kakak kelas di sana melambaikan tangan.
“Halo, Bang!”
“Tumben banget lu dateng ke acara gini. Sama siapa lu?”
Keonho menoleh ke belakang mencari keberadaan Seonghyeon. Setelah terlihat, ia berjalan ke arahnya lalu merangkul bahu Seonghyeon.
“Sama temen gue, nih.”
“Oh, ini yang waktu itu bareng sama lu ke kantin, ya?”
Keonho mengangguk sambil tersenyum tipis. Sementara, Seonghyeon tampak bingung harus bereaksi seperti apa karena dirinya tiba-tiba ditarik ke depan para kakak kelas yang sama sekali tak dikenalnya, selain fakta bahwa mereka termasuk pentolan sekolah. Akhirnya, Seonghyeon menyelipkan anak rambut ke telinganya lalu tersenyum canggung.
“Halo, gue Seonghyeon.”
Tawa mereka pecah melihat tingkah canggung Seonghyeon saat memperkenalkan diri. Keonhopun juga tak bisa menyembunyikan gelak tawanya.
“Salam kenal, Seonghyeon. Yaudah, kita duluan, ya. Baek-baek lu berdua.”
Mereka pergi tepat setelah mengucapkan salam perpisahan. Seonghyeon menatap Keonho dengan tatapan kesal. Ia melepaskan tangan Keonho yang merangkul bahunya.
“Lu jangan main asal narik gue, anjir. Gue kan gak kenal.”
“Lah, orang gue ditanya dateng sama siapa. Gue kan datengnya sama lu, ya gue narik lu, lah.”
“Iya, sih.”
Akhirnya, mereka meneruskan langkah mereka untuk masuk ke dalam venue. Mereka berjalan bersisian tanpa bicara. Hanya terdengar suara percakapan dari sekitar mereka.
“Lu kesel sama gue?”
Keonho membuka percakapan memecah keheningan di tengah-tengah langkah mereka. Seonghyeon tetap melangkah, tetapi mulutnya diam. Lalu, ia menarik napas pelan.
“Gak, sih. Sebenernya gue cuma gak nyaman aja tadi karena gue kayak diketawain.”
Keonho menyunggingkan senyum.
“Maaf ya, kalau tadi gue gegabah narik lu gitu aja. Harusnya gue gak kayak gitu. Tapi gue yakin mereka tadi gak ngetawain ke arah yang negatif. Kalo menurut gue, sih, tadi lu lucu pas ngenalin diri malu-malu, gitu.”
“Lucu as in lucu ngelawak atau gimana?”
“Hmm, lucu. Rasanya gue pengin cubit pipi lu.”
Pandangan mata Keonho tepat menatap netra Seonghyeon dengan lembut. Sepersekian detik Seonghyeon terdiam.
Setelahnya, seringai jahil menghiasi wajah Keonho.
“Abis itu lu gue tinggal di sana sendirian.”
Tepat setelah Keonho menuntaskan perkataannya, Seonghyeon memukul bahu Keonho dengan kencang.
——
“Keonho, kita stay di sini aja, ya. Abis ini HiVi soalnya.”
Keonho menatap wajah Seonghyeon lalu mengangguk. Mereka berdiri tidak terlalu dekat dengan panggung, mereka agak di belakang. Namun, dengan jarak sebesar itu menurut Seonghyeon sudah cukup untuk menikmati penampilan HiVi nanti.
“Lu taun lalu juga gak dateng ke acara ini?”
Seonghyeon berbicara dengan volume suara yang agak dinaikkan sedikit. Berusaha agar suaranya tidak tenggelam dari suara musik yang mengalun dari speaker dan suara penonton di sekitarnya yang ikut bernyanyi.
Keonho menjawab pertanyaan Seonghyeon dengan gelengan kepala. Pandangannya menyapu venue tempat ia berdiri. Sumber cahaya hanya terdapat dari lampu sorot di panggung dan lampu-lampu kecil berbentuk bintang yang tersebar di langit-langit. Beberapa orang, yang wajahnya tampak familiar, memakai kaus panitia dan tak henti-henti berjalan ke sana kemari, tampak sibuk mengurus berbagai hal di sana sini. Terkadang, beberapa orang tampak menyapa mereka berdua.
Di sekitar mereka, puluhan orang menikmati acara dengan caranya masing-masing. Ada yang ikut bernyanyi, ada yang duduk mengobrol di pinggir, ada pula yang mengantre makanan dari tenant di belakang. Beberapa pasangan berdiri saling berpegangan tangan ataupun saling merangkul dengan romantis. Semburat merah seketika terlihat dari kedua pipinya hingga telinga ketika ia melirik Seonghyeon berdiri di sebelahnya yang saat ini tengah memerhatikan panggung di depan, mencoba menikmati lagu dari band lain sambil menunggu HiVi yang setelahnya akan menghibur penonton pada malam ini.
Setelah menunggu, akhirnya waktu HiVi tampilpun tiba. Setelah MC bercakap basa-basi dengan penonton, HiVi membawakan lagu yang tampaknya sangat sesuai dengan masa yang sedang mereka lalui. Lagu Remaja oleh HiVi mengalun dengan merdu. Beberapa penonton bersorak begitu intro lagu terdengar.
Seonghyeon ikut tersenyum kecil, bibirnya langsung bergerak mengikuti lirik yang bahkan belum mencapai bait pertama. Ia mendendangkan suara dengan pelan mengikuti vokalis yang bernyanyi di panggung. Sementara, Keonho menatap Seonghyeon sambil meresapi lirik lagu yang sedang dinyanyikan bait per bait.
Ini cuma gue kali ya yang anggep dunia seakan milik berdua.
Sadar ditatap oleh Keonho, Seonghyeon mengalihkan pandangan lalu tersenyum lebar hingga matanya melengkung.
“Seru, ya!”
Jangan tanya bagaimana keadaan jantung Keonho sekarang. Detaknya terlalu keras hingga, mungkin saja, bisa menandingi speaker di tiap sudut venue yang mengumandangkan lagu. Keonho berdeham pelan berusaha mencari suaranya yang seperti tertelan dalam senyuman manis Seonghyeon barusan.
“Lu seneng?”
Seonghyeon mengangguk tanpa ragu.
“Iya.”
Jawaban itu terdengar biasa saja. Namun, bagi Keonho, satu kata itu cukup membuatnya berharap lebih dari yang seharusnya.
Setelah lagu pertama selesai, HiVi membawakan lagu selanjutnya berjudul Curi-Curi. Lagu tersebut merupakan salah satu lagu favorit Seonghyeon dari band tersebut. Bibirnya kembali bersenandung menikmati alunan musik dari lagu kesukaannya.
Seonghyeon tidak sadar sejak kapan ia mulai terbiasa dengan keberadaan Keonho di sampingnya. Padahal, beberapa minggu lalu, sosok itu hanya dikenal sebagai orang paling menyebalkan yang selalu membuat dirinya kesal.
Namun, malam ini terasa berbeda.
Setiap kali penonton di sekitar mereka bergerak terlalu berlebihan, Keonho selalu refleks menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tidak sampai mengganggu, hanya cukup untuk memastikan Seonghyeon tidak terdorong atau kehilangan keseimbangan.
“Lu dari tadi kayak lagi ngejagain gue, deh.”
Keonho menoleh sekilas.
“Maksudnya?”
“Ya, dari tadi kalau ada orang nyenggol gue, lu langsung geser.”
“Emang kenapa?”
“Gapapa. Cuma aneh aja.”
Keonho mengangkat bahu lalu kembali melihat panggung.
“Daripada lu jatoh, nanti gue yang disalahin.”
Seonghyeon hampir membalas dengan ejekan seperti biasanya. Namun, entah kenapa kali ini ia mengurungkan niatnya. Jawaban Keonho tetap terasa menyebalkan, tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya terasa lebih ringan.
Selama lagu terus mengalun, Seonghyeon mencoba kembali fokus pada panggung. Ia menikmati suara penyanyi, lirik yang sudah ia hafal, dan suasana malam itu. Namun, wajah Keonho seperti tanpa permisi terus menghiasi pikirannya. Senyuman jahilnya, juluran lidah mengejeknya, suara tawanya.
Ia menekan telapak tangannya di dada. Ada perasaan asing yang tidak bisa ia jelaskan di sana. Detakannya terasa lebih cepat setiap pikirannya mengingat segala hal tentang sosok di sampingnya.
Tanpa sadar lengan mereka beberapa kali bersenggolan karena penonton di sekitar ikut bergoyang. Seonghyeon menoleh sekilas. Keonho terlihat sedang menatap lurus panggung di depan. Bukan ke arahnya.
Entah keberanian itu datang dari mana, Seonghyeon mendekatkan dirinya sedikit. Ia menaruh perhatian seutuhnya pada kehadiran Keonho di samping yang masih menatap ke depan. Lalu, ia mencondongkan wajah ke arah telinga Keonho.
“Lu pencuri, ya.”
Keonho menoleh dengan wajah bingung. Ia bukanlah penggemar HiVi seperti Seonghyeon yang sudah mengenal lagu ini lebih dulu. Namun, sejak tadi ia mendengarkan liriknya dengan saksama. Ketika akhirnya mengerti maksud perkataan Seonghyeon, ekspresinya berubah.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Iya.”
Keonho menatap Seonghyeon beberapa detik sebelum melanjutkan.
“Gue simpen yang gue curi dari lu di di sini, ya.”
Tangannya menunjuk dada sendiri. Seonghyeon terpaku. Sebelum sempat mencari jawaban, tangan Keonho yang lain bergerak perlahan, menyelip di antara jemarinya dan menggenggam tangannya.
Gestur sederhana, tetapi cukup untuk membuat semua suara di sekeliling mereka terasa menjauh sesaat.
Seonghyeon tidak langsung menjawab. Matanya jatuh pada tangan mereka yang sekarang menyatu. Keonho sempat hendak menarik tangannya lagi, seolah takut kelewatan. Namun, secara perlahan Seonghyeon mengeratkan genggamannya.
Tatapan mereka bertemu. Setelah sekian lama, keduanya seolah saling menemukan. Tidak ada ejekan, tidak ada perdebatan kecil. Di tengah riuh suara penonton yang ikut bernyanyi, genggaman itu menjadi jawaban yang sejak lama mereka cari. Untuk pertama kalinya, mereka tidak perlu lagi menebak apa yang selama ini mereka rasakan.
