Actions

Work Header

the person i needed

Summary:

after a year apart, keonho and seonghyeon reunite and rediscover their unfinished love

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Keonho menenteng tas belanjanya yang cukup berat di satu tangan. Sementara, tangan satunya memegang leher belakangnya sembari memutar-mutar kepala. Area punggung hingga lehernya terasa kaku sejak ia bangun tadi pagi. Ia yakin posisi tidurnya yang tidak pas membuatnya tersiksa seperti ini karena beberapa kali masalah ini dirasakannya.

Saat ini ia berada di salah satu mal yang jarang didatanginya. Lelaki itu berkunjung karena ada keperluan bertemu dengan klien di cafe lantai bawah. Setelah meeting-nya selesai, ia tiba-tiba teringat dengan isi kulkasnya yang sudah mulai kosong karena akhir bulan telah tiba. Jadilah, dirinya sekalian berbelanja banyak keperluan sebelum pergi meninggalkan tempat ini. Ia juga memutuskan untuk berkeliling sejenak melihat-lihat toko yang tersedia di sana.

Saat ia hendak turun ke lantai bawah, ia melihat kursi pijat yang terletak tak jauh darinya, tepat berada di samping eskalator. Ia kembali meraba belakang lehernya yang masih terasa kaku dan kebas sampai saat ini. Setelah berdiri di depan kursi pijat selama beberapa menit, ia memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi kursi itu untuk memijat bagian belakangnya.

Ia menaruh kantung belanjanya di samping lalu perlahan duduk di kursi. Di sandaran tangannya tertera harga dan barcode pembayaran.

Lumayanlah, sepuluh ribu per sepuluh menit. Coba dulu aja.

Ponsel dikeluarkan dari kantung celana, lalu tangannya memencet aplikasi bank digital. Ia mengarahkan kameranya menuju barcode, memasukkan kata sandi, lalu menaruh ponselnya di paha. Tak lama kemudian, kursi pijat itu bergerak.

Lelaki itu tidak mengira kursi pijatnya akan bergerak naik sedikit lalu posisi duduknya sedikit berubah menjadi lebih terbuka ke belakang.

“Eh!?”

Ia berseru tertahan karena tidak menyangka kursi pijatnya bekerja dengan ekstra untuk memosisikan tubuhnya. Setelahnya, bagian punggungnya merasakan gerakan memijat dari kursi itu. Awalnya semua terasa nyaman, tetapi lama kelamaan pijatannya menjadi makin kencang. Ia menggigit bibirnya menahan rasa cukup pedih di punggungnya. Setelahnya, bagian tangan dan kakinya juga merasakan tekanan. Namun, alih-alih dipijat, sebenarnya tangan dan kakinya lebih terasa seperti ditekan dengan kuat.

“Aduh, sakit!”

Pekik kesakitan tak tertahan keluar dari bibirnya karena tidak menyangka kursi pijat sepuluh ribunya ini bisa menyiksanya sedemikian rupa. Tepat saat kursinya kembali memberikan tekanan di kakinya, urat kaki kirinya seperti tertarik. Matanya membulat karena ia merasakan kram yang datang tiba-tiba.

“Aw, tolong!”

Sesosok lelaki yang sedang berjalan melewatinya sembari menatap ponsel akhirnya mengangkat kepala. Ia menoleh ke asal suara dan menemukan sosok yang terlihat sedang disiksa oleh kursi pijat.

“Keonho?”

“Tolongin, Mas. Kaki saya kram, aduh.”

Lelaki itu berjalan dengan tergesa menghampirinya lalu memencet tombol stop di sandaran tangan kursi. Kursi pijat itu perlahan menurunkan sandaran, mengembalikannya ke posisi semula. Tekanan yang diberikan sebelumnya berangsur menghilang. Keonho buru-buru memindahkan ponsel yang tadinya berada di paha ke atas kursi. Lalu, ia melompat berdiri dan menekuk kakinya yang tadi terasa kram. Ia menundukkan kepalanya melihat ke arah kakinya yang sedang ditekuk.

“Aduh, aduh. Untung aja. Makasih ya, Mas.”

Saat ia menengadahkan kepala, ia mengenali sosok yang sangat familiar berada di hadapannya. Setitik rasa nyeri muncul di dadanya tanpa permisi. Netranya memusatkan pandangan ke sosok yang selalu menemani dirinya pada masa kuliah dahulu. Gaya khasnya masih sama. Kacamata hitam di atas kepala yang menghalau poninya menutupi dahi, tetapi disisihkan sejumput poni kanannya menutupi dahi. Tatapan mata teduhnya seperti tak berubah walaupun mereka telah tak berjumpa selama kurang lebih setahun.

“Seonghyeon? Hai.”

Sapaan sungguh canggung keluar dari bibirnya tanpa bisa dicegah. Hal itu diperparah dengan satu tangannya yang tiba-tiba terangkat dan melambaikan tangan dengan gerakan yang kaku. Sosok di hadapannya tertawa melihat tingkah Keonho yang terlihat begitu canggung.

“Hai, Keonho. Leher sama punggung kenapa? Salah bantal lagi? Atau karena renang?”

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan, Keonho tak bisa menahan senyum yang terukir di bibirnya. Lelaki di hadapannya masih mengingat segala hal tentangnya. Sedetik kemudian, Seonghyeon menutup mulutnya.

“Sorry, terlalu ikut campur.”

Keonho menggelengkan kepala sambil tetap mempertahankan senyum setelah mendengar ucapan Seonghyeon. 

“Gak kok.”

Ia kembali meraba lehernya. Ekspresinya berubah seolah menahan sakit yang cukup parah, bahkan gerak-geriknya tanpa sadar menunjukkan bahwa ia sedang mencari perhatian dari Seonghyeon.

“Iya. Salah bantal, nih, kayaknya. Sakit banget.”

Seonghyeon terkekeh melihat kelakuan Keonho yang rasa sakitnya terasa dilebih-lebihkan.

“Sesakit itu emang?”

“Iya. Soalnya diputusin, sih.”

Tepat setelah Keonho berkata demikian, kekehan Seonghyeon memudar digantikan dengan bibirnya yang mengatup rapat. Tatapannya tidak lagi hangat melainkan berubah menjadi kosong karena ia sedang melihat jauh ke dalam pikirannya sendiri. Keonho yang melihat perubahan ekspresi itu berdeham pelan untuk menarik Seonghyeon kembali dari lamunannya. Seonghyeon terdiam lalu kembali tertawa kecil.

“Keonho, jangan gitu.”

Suara tawa sumbang terdengar setelahnya. Keonho sadar ucapannya barusan tampaknya sudah melewati batas. Akhirnya, ia mengambil tas belanjanya lalu berpamitan karena merasa tidak enak.

“Bercanda. Yaudah, gue duluan ya.”

Sebelum punggung Keonho bergerak terlalu jauh, Seonghyeon berteriak.

“Keonho, mau ngobrol dulu, nggak?”

Keonho membalikkan tubuhnya dan melengkungkan senyum tipis.

“Ngobrol?”

Seonghyeon menggaruk tengkuknya.

“Iya. Kalau kamu lagi gak buru-buru.”

Keonho melirik jam di pergelangan tangannya, pura-pura berlagak sibuk seakan-akan ia punya janji bertemu dengan orang lain setelah ini. Padahal, pekerjaannya hari ini sudah selesai.

“Boleh. Gak buru-buru, kok.”

——

Seonghyeon memutar kunci pintu, mencabut dari lubang, lalu menaruhnya di meja. Ia mempersilakan Keonho duduk di sofa, lalu buru-buru berjalan ke dapur untuk mematikan kompor. Di atasnya, sebuah teko berisi air masih berada di sana.

“Emang boleh, ya, baru ketemu berapa menit langsung masuk ke apartemen mantan?”

Seonghyeon yang sedang memindahkan teko dari kompor ke meja tergelak. Namun, pergerakannya yang tiba-tiba itu membuat beberapa bulir air terjatuh dari corong teko dan mengenai tangannya.

“Aduh, panas!”

Seonghyeon bergegas menaruh teko ke meja lalu membuka tangannya. Namun, pergerakan Keonho secepat kilat menghampirinya. Ia memegang tangan Seonghyeon yang tadi terlihat terkena cipratan air panas. Kulitnya terlihat memerah. Ia mengelus dengan ibu jarinya sambil meniup pelan, tidak tahu apakah embusan angin kecil itu dapat membuat tangan Seonghyeon terasa lebih baik atau tidak.

Seonghyeon mematung melihat perilaku Keonho yang tidak pernah berubah sejak dulu. Lelaki itu masih sama, sigap dan penuh perhatian. Tanpa disadari, dadanya terasa sesak. Bukan sesak yang membuat dirinya kesulitan bernapas, melainkan sesak yang lahir dari perasaan yang selama ini ia pendam, yang akhirnya menemukan celah untuk kembali mengusik hatinya.

“Gak sakit, kan?”

Seonghyeon hanya memberikan gelengan singkat. Ia berniat melanjutkan kegiatannya untuk menuang air panas dari teko ke dalam termos. Sedetik sebelum Seonghyeon sempat kembali menyentuh teko, Keonho menepis tangan itu dengan lembut.

“Biar aku aja.”

Seonghyeon bergerak menjauhi meja, membiarkan Keonho maju agar dapat mengakses meja lebih leluasa. Selanjutnya, Keonho membuka tutup termos dan menuang air panas dari teko dengan hati-hati. Teko itu ia taruh di tempat cuci piring setelahnya.

“Air panas buat nyeduh teh kalau pagi, ya?”

Keonho melayangkan tatapannya menuju Seonghyeon yang terlihat membulatkan matanya. Ia menggigit sedikit bibir bawahnya menahan gemas dari ekspresi terkejut Seonghyeon yang ditangkap netranya.

“Maaf, ya. Tadinya pengin ajak ngobrol di mal aja, tapi aku lupa tadi lagi masak air.”

Tak disangka, gedung apartemen Seonghyeon berada di atas mal yang sedang dikunjungi Keonho. Entahlah apakah ini hanya sebuah kebetulan atau memang kisah mereka berdua dapat dirajut kembali dengan perlahan-lahan.

“Kamu masih sama aja. Bahaya, tau. Lain kali jangan lupa pasang timer, ya.”

Seonghyeon hanya membalas dengan anggukan. Kemudian, ia mendorong bahu Keonho dari belakang menuju sofa. Keonho terkekeh pelan saat Seonghyeon mendorongnya.

“Duduk lagi. Makasih udah bantuin.”

Seonghyeon membuka kulkas lalu menuang air putih dingin ke dalam gelas. Tak lupa juga ia tambahkan es batu di sana. Ia membawa gelas tersebut ke hadapan Keonho dan menyodorkannya.

“Makasih udah inget.”

Seonghyeon memutuskan untuk duduk di sebelah Keonho. Ia menoleh ke samping melihat Keonho yang sedang meneguk airnya dengan cepat.

“Pelan-pelan aja, nanti kes—“

Belum sempat Seonghyeon melanjutkan kalimatnya, suara batuk Keonho terdengar memenuhi ruangan apartemen itu. Keonho menepuk-nepuk dadanya pelan, berusaha melegakan napasnya yang terasa sesak. Sementara, Seonghyeon mengusap punggung Keonho dengan lembut, membantunya bernapas lebih tenang.

Beberapa detik kemudian, batuknya telah mereda. Setelah dirinya menaruh gelas di meja, hanya keheningan yang menemani mereka. Keonho secara pelan melirik Seonghyeon di sebelahnya, yang dilirik ternyata juga melakukan hal yang sama. Keduanya sontak mengeluarkan tawa secara bersamaan.

“Kita baru ketemu lagi, tapi udah chaos banget, gak, sih? Kursi pijetlah, kena air panaslah, keselek airlah.”

Keonho mengedikkan bahu pertanda setuju. Ia tersenyum sampai memamerkan giginya.

“Kalau sama kamu emang ujungnya selalu chaos.”

Seonghyeon hanya mengerucutkan bibir mendengar ucapan Keonho barusan. Keonho yang sudah lama tidak melihat ekspresi menggemaskan barusan akhirnya mengulum senyum.

“Kamu apa kabar? Masih sering renang?”

“Aku baik. Dua hari lalu aku baru renang lagi. Mungkin karena beberapa bulan udah lama gak renang, ditambah posisi tidur aku kurang pas, jadinya leher sama punggung aku sakit.”

Seonghyeon menyunggingkan senyum tipis mendengar jawaban Keonho yang panjang itu. Tanpa sadar, ia merindukan kebiasaan kecil tersebut, mendengarkan Keonho bercerita tentang apapun, mulai dari hal-hal penting hingga hal sederhana yang terjadi.

“Mau aku pijetin punggungnya, nggak, kayak dulu?”

Kayak dulu.

Keonho tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengubah posisi duduknya sehingga membelakangi Seonghyeon. Punggung lebarnya kini menghadap lelaki itu, seolah menjadi jawaban yang mengizinkan Seonghyeon melakukan apa yang ingin dilakukannya.

Tanpa aba-aba, Seonghyeon mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di atas punggung lelaki itu. Seonghyeon memijat punggung Keonho dengan perlahan. Ibu jarinya memberi tekanan ringan di sepanjang sisi tulang belakang, lalu diberikan gerakan memutar pada otot-otot yang terasa menegang di sekitar bahu. 

Setelah itu, ibu jarinya berpindah ke pangkal leher, menekan secara perlahan. Seonghyeon bergerak menyusuri sisi leher hingga bahu, mengurai satu per satu simpul tegang yang mengganjal. Tekanan yang diberikan tidak terlalu kuat, tetapi cukup membuat rasa pegal perlahan memudar.

Bahu Keonho yang semula terangkat perlahan turun, napasnya terdengar lebih panjang dan teratur. Sudut bibirnya bahkan melengkung tipis, menikmati sentuhan yang membuat tubuhnya jauh lebih rileks.

“Eh, kayaknya aku punya alat pijet kecil gitu, deh. Kemarin aku tinggalin di sofa ini. Coba tolong liat di sela-sela.”

Keonho mengangguk pelan. Tangannya mulai meraba permukaan sofa, menyusuri tiap lipatan dan celah yang masih bisa dijangkaunya. Namun, selama beberapa saat mencari, alat pijat yang dimaksud tak juga ditemukan. Ia lantas mengangkat salah satu bantal sandaran. Alih-alih menemukan benda yang dicari, pandangannya justru tertumbuk pada selembar foto polaroid yang terselip di bawahnya.

Keonho mengambil foto itu perlahan.

Sudut bibirnya terangkat begitu melihat isinya. Potret lama dirinya dan Seonghyeon semasa kuliah. Dalam foto itu, Keonho tersenyum lebar hingga giginya terlihat, menatap lurus ke arah kamera. Sementara, Seonghyeon, yang berada di sebelahnya, memejamkan mata sambil mengecup pipi Keonho tanpa sedikitpun merasa malu.

Jemari Keonho mengusap permukaan foto itu dengan hati-hati, seolah takut menggores kenangan yang melekat di dalamnya. Senyumnya tidak benar-benar pudar.

“Ketemu, nggak?”

Suara Seonghyeon membuat Keonho menoleh sekilas. Namun, justru Seonghyeon  yang membeku di tempat. Tatapannya terpaku pada foto yang kini berada di tangan Keonho, foto yang selama ini diam-diam ia simpan.

Itulah foto yang paling ia sukai dari sekian banyak potret yang mereka miliki. Foto yang selalu berhasil mengembalikannya pada masa ketika segalanya terasa begitu sederhana. 

Hampir setiap malam, foto itu pernah berada dalam genggamannya. Ia memandanginya dalam diam, berharap kenangan yang membeku di selembar polaroid itu mampu menghidupkan kembali hangat yang perlahan memudar. Setidaknya, untuk beberapa saat, ia bisa mengingat seperti apa rasanya menjadi begitu bahagia bersama Keonho.

“Kamu masih nyimpen ini?”

Seonghyeon awalnya ingin berbohong, tetapi ia memutuskan untuk mencurahkan isi hatinya dengan jujur.

“Iya.”

Seonghyeon menarik napas pelan.

“Aku gak pernah bisa buang.”

Keonho kembali menatap foto itu lama. Senyuman kecil kembali menghiasi wajahnya.

“Aku pikir kamu benci semua yang berhubungan sama aku.”

Seonghyeon buru-buru menggelengkan kepala.

“Kalau aku benci, gak mungkin foto itu ada di sana.”

Kalimat itu membuat keduanya kembali terdiam.

Selama beberapa saat, hanya terdengar suara napas mereka yang memenuhi ruangan. Keonho mengembalikan foto itu, tetapi jemari mereka tak sengaja bersentuhan.

Sentuhan kecil yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Namun, tidak ada yang berniat untuk menarik tangan masing-masing. Bagi mereka yang sudah setahun mencoba terbiasa tanpa satu sama lain, sentuhan itu terasa seperti mengingatkan kembali semua hal yang pernah mereka miliki.

Keduanya saling menatap, membiarkan rindu yang selama ini disimpan diam-diam muncul ke permukaan.

Lalu, sebelum pikirannya berubah, Seonghyeon menarik Keonho ke dalam pelukannya.

Keonho sempat terdiam, seolah tubuhnya butuh waktu untuk memercayai bahwa pelukan itu benar-benar nyata. Namun, beberapa detik kemudian, kedua tangannya perlahan terangkat dan membalas pelukan tersebut.

Pelukan itu awalnya terasa canggung, tetapi kehangatan perlahan kembali menemukan tempatnya. Seolah mereka hanya sedang melanjutkan sesuatu yang sempat terhenti.

“Leher sama punggung aku udah gak sakit.”

Seonghyeon terkekeh membuat pelukan mereka berguncang pelan.

“Bohong.”

“Beneran.”

Keonho ikut tertawa setelahnya. Suara tawa yang sudah lama tidak Seonghyeon dengar, tetapi masih terasa begitu akrab.

Beberapa detik berlalu sebelum Keonho kembali bersuara.

“Ternyata yang aku butuhin orangnya, bukan cuma pijetannya.”

Notes:

beneran abis nyobain kursi pijet terus sakit banget T_T