Work Text:
lorong motel kecil itu terasa begitu panjang dan sempit. setiap langkah terasa menyesakkan hingga akhirnya kakania berhenti di depan salah satu kamar, mengatur napas, dan menenangkan detak jantungnya yang berdebar begitu kencang. ia tidak tahu mengapa ia merasa begitu tidak tenang. seharusnya tadi dia tidak terburu-buru mengejar petunjuk dan tidak mengajak salah satu anggota squadnya begitu saja. ia membaca lagi nomor kamar itu.
“kamar 025.”
menurut petunjuk yang dia dapatkan, seharusnya disini adalah bekas kamar yang ditempati anggota manus vendictae 2 hari lalu. dia sudah bertanya kepada resepsionis, katanya memang ditempati oleh 2 orang namun hanya meminta kamar dengan satu ranjang. dan mereka pergi sejak 2 hari lalu, petugas kebersihan juga sudah membersihkan kamar itu. tapi kakania tidak mau menyerah, karenanya dia meminta izin untuk mengecek sebentar berharap masih ada jejak yang tertinggal disana.
“ayolah kakania, kalau memang tidak ada apapun yang tertinggal disana, setidaknya kamu sudah berusaha.”
kakania memasukkan kunci dan memutar knop pintu. terlihat kamar yang cukup luas untuk kamar yang diakomodasikan untuk satu orang saja. meja, kursi, dan sofa sepanjang kira-kira 1,5 meter ada disana, tidak heran bisa dipakai untuk 2 orang dengan harga 1 orang saja.
Ia hanya punya waktu 15 menit yang diberikan oleh petugas motel, tanpa menunggu lebih lama lagi ia segera mengecek seluruh sudut dan isi kamar itu. Tak lupa ia menggunakan peralatan untuk mendeteksi energi arcanum yang tertinggal.
Nihil.
Kamar itu sangat rapi dan bersih. Bahkan cermin miliknya tidak menunjukkan tanda keberadaan apapun. Kakania menghela napas dalam, merasa kecewa namun dia ingat dengan siapa yang sedang dia kejar. Kakania memutuskan untuk menghubungi kapten timnya. Sejak bergabung dengan History Guard, dia mendapat dukungan peralatan salah satunya alat komunikasi milik yayasan. Meski dia masih asing dengan benda ini, setidaknya dia tahu menggunakan fitur dasar untuk menghubungi kapten timnya.
“Agen Kakania meminta dihubungkan dengan kapten squad 89 untuk laporan lapangan.”
“Permintaan sedang diproses, harap menunggu sejenak. Pip.”
Setelah suara pip terakhir, kakania menunggu sejenak, tidak sampai 1 menit muncul suara lain dari alat komunikasi itu. Kapten timnya memang sangat cekatan kalau sudah menyangkut pelanggaran kakania yang pergi tanpa pamit!
“Seberapa penting pelanggaranmu sampai-sampai kamu pergi tanpa ada yang tahu? Kamu tahu ini juga bisa dibilang sebagai percobaan pengkhianatan kan?”
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”
“Kita memang sering bertentangan pendapat hingga akhirnya kamu mengakali perintah untuk kepentinganmu, tapi kali ini bahkan satu patah kata pun tidak ada. Kuharap ini tidak bertentangan dengan misi utama kita. Jadi, apa yg kamu temukan?”
Kakania lega, kaptennya masih memiliki ruang untuk mendengarkan dan tidak terlalu mengikuti secara tetap dengan aturan yayasan yang kaku itu.
“Maaf, tadi aku menemukan sedikit petunjuk dan langsung mengejarnya. Mengingat dia bisa langsung hilang kapan saja.”
“Petinggi manus vendictae?”
“Bukan. Itu nona semmelweis.”
“....”
“aku mengikuti jejak-jejak yang terputus disana-sini yang membuatku ragu, hingga ke sebuah motel. Staf resepsionis bilang ada 2 orang dengan ciri-ciri persis seperti yang disebutkan oleh nona lorelei mengenai nona semmelweis dan nona valentina. Dan reservasi kamarnya menggunakan nama Valentina. Aku sempat ragu dengan jejak-jejak ini namun semuanya menjadi cukup masuk akal jika dia tidak bisa sepenuhnya menghapus jejak milik orang lain diluar kuasanya. Di kamar yang mereka gunakan aku tidak menemukan apapun, sudah 2 hari berlalu. Mungkin semmelweis hanya sempat menghapus jejak di kamar ini secara menyeluruh.”
Semmelweis. Orang yang sedang dikejar dan dicari oleh kakania hingga ke motel ini. Seorang investigator yayasan yang pernah dia temui di vienna. Setelah storm 1914 itu, dia mendengar semmelweis melanggar perintah dan selamat dari bom bunuh diri milik yayasan lalu kabur. Sekarang dia menjadi buronan yayasan. Meski hal ini tidak termasuk dalam misi utama kakania disini, tapi pencarian semmelweis jelas tidak bisa dihiraukan begitu saja.
“.... Ya. Itu masuk akal. Jika semmelweis bepergian sendirian, kemampuannya lebih dari cukup untuk menghapus jejak keberadaannya. Namun bila dia bersama orang lain, buka. Tidak mungkin orang ini tidak sengaja menyisakan jejak tanpa sepengetahuannya. Kerja bagus, setidaknya kita tahu dia masih hidup dan punya pendukung. Kali ini kamu dimaafkan. Selanjutnya apa yang mau kamu lakukan?”
“Aku lelah setelah berlarian, aku akan istirahat sejenak lalu kembali ke penginapan kita atau mungkin sebaiknya aku tidur disini saja? Toh kalian sudah tahu lokasinya.”
“Terserah, yang penting kamu tidak menggunakan namaku untuk tagihan dan terlambat untuk melanjutkan misi besok.”
“Terimakasih kapten! Aku tahu kamu sangat pengertian!.”
Saluran komunikasi diputus.
Kakania meregangkan tubuhnya. Memeriksa kamar itu sekali lagi sebelum memutuskan keluar. Masih pukul 9 malam, masih sempat kalau mau kembali ke penginapan.
“Sebaiknya aku kembali saja, aku sudah dapat akomodasi gratis, tidak perlu mengeluarkan uang disini.”
Sejak bergabung dengan yayasan, kakania perlu menghemat setiap pengeluarannya karena semua tabungannya lenyap bersama “storm”.
Kakania berjalan ke pintu, saat hendak memegang gagang pintu, tangannya tiba2 dililit oleh benang merah.
“Huh?”
Belum sempat bereaksi, muncul benang-benang lain yang melilit tubuh, kaki, dan tangannya yang lain juga menjatuhkan tas yang berisi peralatan miliknya.
“ Apa ini!!?? Musuh??”
Gadis itu berusaha melepaskan diri, menolehkan wajahnya berusaha mencari sumber benang ini.
“Tidak perlu terburu-buru seperti itu, tidak bisakah kamu santai sedikit?”
Terdengar suara dari belakangnya. Suara yang yang hanya sempat dia dengar kurang dari beberapa jam namun sangat familier.
“Semmelweis?”
“Ya?”
“....!!!”
Semmelweis menggerakkan jarinya, membuat benang-benang itu berderit dan membalikkan kakania ke hadapannya. Kakania terdiam melihat wanita di depannya. Ia nampak begitu berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Rambut coklat gelapnya masih sama, wajahnya masih sama, namun aura dan senyumnya terasa berbeda. Berganti pakaian dan warna mata saja tidak cukup untuk mengganti ekspresi seseorang kan?
“Sudah lama ya, nona kakania.”
“....”
“Tidakkah kamu mau memberi salam atau sepatah kata apapun?”
“Ah… Semmelweis…”
“Ya?”
Kakania sulit mengeluarkan apa yang ingin dia katakan. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia utarakan.
Semmelweis menghela napas.
“Maukah kamu menemaniku mengobrol? Itu keahlian seorang psikiater bukan?”
“Semmelweis kenapa kamu bergabung dengan manus vendictae?”
“Langsung ke intinya ya, kukira tadi kamu kehilangan suaramu.”
Kakania diam menatap semmelweis.
“Kenapa tidak? Yayasan tidak bisa membantuku bertahan hidup dari infeksi the beyond, apalagi membantuku mencapai tujuanku, bahkan mereka berniat membunuhku di tempat hanya karena mengabaikan satu perintah saja. Jadi apakah tetap bergabung dengan mereka adalah pilihan terbaik?”
kakania tercekat. dia tidak tahu bagaimana menjawabnya. dia tahu setiap orang punya alasan masing-masing untuk melakukan sesuatu, sama seperti dirinya. dia bergabung dengan yayasan terutama sebagai agen lapangan terdepan, history guard, semata ingin mewujudkan ideologinya menyelamatkan orang sebanyak mungkin. dia mengikuti jejak yang ditinggalkan semmelweis semata untuk memuaskan rasa ingin tahu sekaligus janjinya kepada marcus untuk mencari tahu kebenarannya.
“Apakah kamu sebegitu terkejutnya mendengar pengakuanku? kukira kamu juga punya tujuanmu sendiri.”
“bukan begitu, hanya saja aku tak menyangka. kukira kamu diancam atau lainnya. di mataku kamu tidak terlihat seperti orang yang akan netral saja ketika melihat apa yang terjadi ketika seseorang memakai masker berbentuk tangan itu.”
“tidakkah lebih nyaman mengobrol sambil duduk? akan kuseduhkan teh.”
semmelweis mengangguk. ia menarik jari-jarinya yang menjadi tautan dari benang-benang merah yang melilit kakania. memposisikan kakania duduk di sofa, tentu dia tetap dalam keadaan terikat.
“memang benar, aku lebih suka berinteraksi dengan mereka yang memiliki akal sehat, sementara orang-orang yang memakai masker berbentuk tangan itu cenderung memiliki sifat yang kuhindari. namun bukan berarti aku diancam. bom jantung milik lindsay lebih mengancam nyawa.”
sambil menjawab pertanyaan kakania, tangan semmelweis dengan cekatan menyeduh dan menghidangkan dua cangkir teh, satu untuk kakania dan satu untuk dirinya sendiri.
“jadi kamu disini sukarela? rasanya tidak terdengar seperti dirimu. ah maaf, bukan berarti aku sangat mengenal dirimu. kita hanya pernah bertemu sekali, sisanya hanya cerita dari orang-orang.”
“aku paham maksudmu.” semmelweis menyeruput tehnya. “tapi aku menyebutnya balas budi. valentina dan lorelei, orang yang ingin kamu undang ke pameran isolde itu, membantuku melewati masa paling genting dalam transformasi menjadi the infected.” semmelweis memberi jeda, “dan kamu juga.” sambungnya lirih, berharap kakania tidak mendengarnya.
“eh? bagaimana?”
“aku sudah mengirim lorelei ke yayasan, mereka tidak akan menyakiti maupun memanfaatkannya secara berlebihan setelah terbukti dia bisa membantu meredakan gejala storm syndrom. sementara untuk valentina–”
“tunggu dulu, tadi kamu juga menyebutku membantumu? apa maksudmu? lalu memangnya tidak apa-apa kamu membeberkan semua motifmu disini?”
“valentina memintaku membantunya mengamankan posisi faksi dalam manus vendictae. awalnya dia akan bekerja sama dengan heinrich, tapi katanya dia sudah meninggal. jujur saja ini sangat merepotkan, tapi aku bukan orang yang tidak tahu balas budi–”
“valentina dan heinrich saling kenal dan bersekongkol??”
“astaga kamu senang sekali memotong omongan orang lain ya, tidak bisakah kamu membiarkanku menyelesaikannya dulu? ini minumlah, kamu bahkan belum menyentuh gelas tehmu.”
“maaf nona semmelweis, tapi bagaimana aku bisa mengambil cangkirku kalau kamu mengikatku seperti ini?”
“seperti ini.” semmelweis mengambil cangkir kakania, duduk disamping dan mendekatkan cangkir ke mulut kakania untuk diminum. “permisi,” katanya sambil melepas kacamata kakania.
ugh, dia tahu! kakania hendak menggunakan arcane skill menggunakan kacamata miliknya ketika semmelweis mendekat. kakania mengerutkan keningnya.
“ada apa? apakah teh nya bukan selera seorang bangsawan menengah?” semmelweis terkekeh, dia tahu kenapa kakania kesal. semmelweis berbisik di dekat telinga kakania. “sepertinya sejak terakhir kita bertemu kamu sangat sibuk ya? bagaimana kalau sesekali bersantai dan melepas stres?”
“hah?”
“aku bukan orang yang tidak tahu balas budi, jadi aku akan membantumu.” semmelweis meraba kancing kerah kakania, melepaskannya.
“t-tunggu dulu—”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Ah!”
kakania terbangun dari tidurnya, napasnya tidak teratur.
“mimpi?”
seandainya itu memang demikian, namun nyatanya ini bukan mimpi. kakania terbangun tanpa pakaian, hanya selimut yang menutupinya saat ini. pakaiannya tergantung rapi di gantungan lemari. semalam ia datang ke motel ini untuk mengejar petunjuk, melaporkan, lalu ditangkap. ia ingat semua kejadian semalam bersama semmelweis.
kakania menutupi wajahnya dengan kedua tangan. perasaannya campur aduk. ia tahu bahwa dirinya tidur dengan sangat lelap semalam, karena ia bangun dengan badan yang terasa segar bugar. tapi dia juga mereka bingung dan malu dengan kejadian semalam. melirik jam di atas meja, kakania menepuk pipinya sendiri. yang sudah terjadi biarlah terjadi, dia harus segera kembali ke squadnya. saat mengambil pakaian, dia melihat secarik kertas diatas amplop.
“Nikmatilah tidur dan sarapanmu.”
ah begitu, semmelweis sudah memesankan kamar dan sarapan untuknya. kakania membuka amplop dan melihat isinya. matanya terbelalak. dia memakai pakaian dengan tergesa-gesa.
“kalau bertemu lagi, aku akan memeras semua yang ingin kuketahui darinya nanti!”
