Work Text:
Tak terasa hari ini tiba secepat ini.
Ketika lilin dinyalakan, orang-orang berkerumun, dan kau tampil dengan setelan terbaikmu. Kamu bersiap, merangkai doa-doa yang akan kamu panjatkan sebelum lilin tersebut kamu padamkan.
Lalu perlahan kamu meniupnya.
Aneh. Mereka, orang-orang itu, tidak mendekatimu. Mereka hanya berdiri mengelilingimu sembari mengucapkan doa terbaik untukmu.
Dan hanya aku, hanya aku yang meraihmu dan memelukmu, mencurahkan semua kasih sayangku padamu.
Hanya aku untukmu.
Satu demi satu, mereka melangkah pergi. Aku terheran karena mereka justru menepuk pundakku bukannya berpamitan denganmu.
Kuletakkan hadiah yang dibawa teman-temanmu di atas meja.
Aneh. Apakah tema ulang tahunmu untuk tahun ini adalah Lili putih?
Kubawa ragaku padamu. Kugenggam tanganmu dan kutepuk pelan pipimu.
Oh sayang, selalu kuingat tiap detail saat kau meraihku. Bagaimana hangatnya tanganmu di genggamanku dan eratnya pelukanmu.
Tak lupa bagaimana kamu menangkup wajahku, menarikku lebih dekat denganmu dan bagaimana rasanya bibir kita berbagi rindu.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Benar, kan?
Aku tidak mungkin melupakannya.
Bagaimana mungkin aku melupakan netramu?
Bagaimana mungkin aku melupakan sentuhanmu?
Dan tidak mungkin aku melupakan suaramu, kan?
Oh Dongmin, mana mungkin aku melupakanmu.
Bahkan, sekarang, walaupun dirimu kini ada di dunia yang tak bisa kujangkau, aku masih ingat usapan ibu jarimu di pipiku yang basah.
Oh Dongmin, selamat. Selamat ulang tahun.
Kali ini kau merayakan dengan banyaknya Lili putih dan juga doa tulus dari semua orang.
Akan tetapi, bisakah kamu berdoa untukku? Doakan aku agar tidak melupakan suaramu. Doakan aku bisa melanjutkan hari tanpamu.
Happy Birthday, Dongmin.
Dengan tubuhmu yang telah membiru.
Tolong tunggu aku, semoga waktu segera mengantarkanku kepadamu.
