Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-01
Words:
3,413
Chapters:
1/1
Kudos:
8
Hits:
117

Small Steps, Big Memories

Summary:

Musim liburan sekolah akhirnya tiba, dan keluarga Junghwan-Hanjin memutuskan untuk membawa putri kecil mereka, Haeun, berlibur selama tujuh hari ke China. Bagi Haeun yang baru berusia empat tahun, ini adalah kali pertamanya berpergian ke luar negeri.

Notes:

Haeun memanggil Junghwan dengan sebutan Papi dan Hanjin dengan sebutan Papa.
Gongzhu / Xiao Gongzhu / Gongzhu Baobao = Panggilan kesayangan bahasa Mandarin yang artinya tuan putri/putri kecil.
Nainai / Popo = artinya Nenek.

Work Text:

Liburan sekolah telah tiba. Keluarga Junghwan-Hanjin biasanya akan mengambil jadwal liburan keluarga di musim ini. Liburan kali ini, mereka memilih China sebagai destinasi. 

Rencana perjalanan meliputi mengunjungi Guangzhou, Chengdu dan Shanghai selama tujuh hari. Mereka akan naik pesawat domestik untuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya.

Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Haeun. Pasalnya, Haeun baru saja dibuatkan paspor dan China menjadi destinasi luar negeri pertamanya. Di usia Haeun yang keempat tahun, Junghwan-Hanjin menilai usianya sudah cukup paham untuk diajak jalan-jalan ke luar negeri.

Karena liburan mereka cukup lama kurang lebih selama tujuh hari, mereka membawa dua koper besar. Saat membereskan barang keperluan Haeun, Hanjin sempat bingung apakah perlu membawa stroller atau tidak, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak membawa. Di tempat-tempat wisata nanti, mereka berniat menyewa saja. 

Lompat ke hari H penerbangan. Pesawat akan berangkat pagi hari sehingga mereka sudah tiba di bandara sejak subuh. Destinasi pertama adalah Guangzhou, dengan durasi penerbangan hampir empat jam. Setelah mendarat di bandara Guangzhou, mereka sekeluarga naik taksi online menuju hotel. 

Saat tiba di hotel, belum memasuki jam check in, jadi mereka hanya menitipkan koper lalu keluar untuk mencari makan siang. Menu hari ini adalah nasi daging babi panggang, menu yang dipilih sendiri oleh Haeun. Mereka memesan tiga porsi, satu porsi untuk Hanjin, satu setengah porsi untuk Junghwan, dan setengah porsi sisanya diambil untuk Haeun. 

Haeun sudah pandai makan sendiri, bahkan bisa makan pakai sumpit walaupun masih menggunakan sumpit training. Mereka sekeluarga menghabiskan makanan sampai tak bersisa. 

Setelah makan, mereka memutuskan kembali ke hotel untuk check in dan beristirahat sebelum mulai jalan-jalan menikmati kota. Tidur di pesawat dirasa kurang cukup karna tidak begitu nyaman. Saat berjalan balik ke hotel, Haeun sudah bergelayut di kaki Junghwan. Saat ingin digendong ia merengek tidak mau dan kukuh berjalan sendiri walaupun dengan kondisi matanya sudah hampir tertutup karena mengantuk.

Tiba di hotel, mereka check in lalu masuk ke kamar. Haeun berlari ke arah kasur namun hanya berdiri di pinggirnya dan tidak langsung naik. Haeun patuh tidak tidur di kasur dengan baju luar (baju yang dipakai dari luar). Ia ingin ganti baju tetapi terlalu ngantuk untuk menggantinya sendiri.

“Papaaaa, tolong…” panggil Haeun lirih sambil menadahkan kedua tangannya pasrah.
“Sini Papi gendong. Ganti baju di kamar mandi sekalian kamu juga harus cuci kaki dan cuci tangan.” ucap Junghwan.

Mau tidak mau Haeun pasrah digendong ayahnya karena sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur. 

Setelah Haeun cuci kaki, cuci tangan dan berganti baju, ia segera berhambur ke kasur dan tidur melintang di tengah-tengah kasur.

“Astaga. Haeun memang kecil sih tapi kalau melintang gini, aku nggak kebagian tempat.” ucap Hanjin saat ia ingin bergabung di kasur.
“Sini aja, sayang, bareng aku.” ujar Junghwan sambil menarik Hanjin ke kasur sebelah.

Setelahnya Hanjin dan Junghwan berbaring dengan Junghwan memeluk Hanjin dari belakang. 

“Babe, jangan kebablasan tidurnya, ya? Bangun sebelum Haeun bangun.” ucap Hanjin mengingatkan.
“Iya, sayang. Udah tenang aja.” jawab Junghwan.

Cukup lama mereka beristirahat, sudah lewat setengah jam.

“Papaaaa...” panggil Haeun mencari keberadaan ayahnya.
“Di sini, xiao gongzhu.” jawab Hanjin yang masih mengantuk.

Haeun yang baru saja bangun, turun dari kasur lalu menghampiri kasur sebelah. Di sana, orang tuanya sedang tidur saling berpelukan.

“Ih Papa, nggak tidur bareng aku.” rengek Haeun ingin memisahkan pelukan mereka.

Junghwan yang semula masih terlelap langsung tersadar begitu mendengar rengekan Haeun. Ia berniat menjahili Haeun dengan merekatkan pelukannya dengan Hanjin.

“Papiiii, minggir!” rengek Haeun makin kencang.
“Babe, jangan diisengin ah, anaknya”. tegur Hanjin.

Junghwan hanya tertawa geli lalu melepaskan pelukannya, kemudian mengangkat Haeun untuk duduk di kasur.

“Good morning, princess”. ucap Junghwan jahil.
“Ih, pasti Papi sengaja tadi kan? Lagian ini udah nggak pagi, Papi.” tuduh Haeun.  
“Gongzhu baobao, siap-siap yuk! Udah mau jalan lagi nggak?” tanya Hanjin mengalihkan perhatian.
“Mauuuu!” seru Haeun semangat.

Setelahnya, mereka bersiap-siap untuk pergi jalan ke menara ikonik Guangzhou. 

Setibanya di area menara, Hanjin banyak memotret Haeun menggunakan kamera. Haeun berpose ke sana kemari dengan lincah. Sementara itu, Junghwan hanya mengintil sambil membawa tas berisi barang-barang mereka. Sesekali Junghwan mengambil ponselnya untuk memotret pemandangan di sana, sekaligus memotret Hanjin secara candid.

“Babe, kamu mau difotoin nggak? Sini.” panggil Hanjin.  
“Kamu aja sini, aku fotoin.” balas Junghwan. Sebelum Junghwan meraih kamera di tangan Hanjin, Haeun sudah berteriak memanggil.
“Papi, Papa, berdirinya deketan.” ucap Haeun sambil mendorong pelan orang tuanya agar berdiri berdampingan.  
“Papa, gimana cara pencet kameranya? Haeun mau coba fotoin Papi sama Papa.”

Hanjin mengajari Haeun memakai kamera lalu berpesan agar memegang kameranya hati-hati.

Setelahnya Haeun memotret orang tuanya. Ia berkali-kali menekan tombol potret sambil memberi instruksi pose.

“Papi ganti gaya!”  
“Papa jangan jauh-jauh berdirinya!”
“Papi cium papa!”

Kalimat terakhir membuat Hanjin freeze. Junghwan langsung mengambil kesempatan untuk mengecup pipi Hanjin cukup lama, membuat raut muka Hanjin terlihat bingung dan menggemaskan.

Haeun benar-benar kesenangan mengambil foto-foto Papi dan Papanya.

“Papaaa, gimana cara lihat fotonya?” tanya Haeun menghampiri tempat mereka berdiri. Hanjin pun tersadar dari kagetnya. Junghwan yang melihat raut wajah Hanjin hanya bisa tertawa gemas.

“Sini Papa ajarin.” 

Mereka melipir duduk ke bangku taman yang tersedia di area tersebut, lalu bersama-sama melihat hasil foto yang diambil Haeun.

“Muka Papa lucu.” ujar Haeun, merujuk pada foto saat Papanya dicium Papinya.

Mendengar ucapan tersebut, muka Hanjin memerah karena malu. Junghwan yang ikut melihat pun tertawa kecil.

“Ish Papa diledekin.” rajuk Hanjin.
“Hehehe. Nggak apa-apa, Papa imut kok.” ucap Haeun polos.

Junghwan makin-makin lebar tawanya.

Setelah puas melihat-lihat foto, mereka pergi mencari makan malam di restoran yang menjual dimsum. Haeun meminta dibelikan dua buah baozi isi kacang hitam. Sementara Hanjin dan Junghwan berbagi porsi besar pangsit kuah.

Setelah mengisi perut, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. 

Keesokan paginya, mereka sekeluarga mengunjungi safari terbesar di Guangzhou. Hanjin sebelumnya sudah membeli tiket masuk untuk mereka bertiga, termasuk tiket trem safari yang mengelilingi taman. Setelah melewati gerbang pemeriksaan identitas, mereka mengantre untuk naik trem safari. 

Selama perjalanan mengelilingi taman, Haeun tak berhenti-hentinya takjub melihat satwa-satwa di sana. Sambil mengagumi satwa ia siap berpose ke kamera. Lagi-lagi, Junghwan mengambil ponselnya untuk memotret Hanjin dari belakang. 

“Papa, ayo kita foto bareng pakai kamera.” ujar Haeun.
“Pake HP aja, Papi ayo selfie.” ucap Hanjin sambil mengubah posisi duduk dan memanggil Junghwan di sebelahnya.

Posisi duduk mereka pun berganti. Semula Haeun di pinggir, Hanjin di tengah, dan Junghwan di sebelah Hanjin. Kini, Hanjin duduk di pangkuan Junghwan dan Haeun duduk di pangkuan Hanjin agar selfie jadi lebih mudah. 

Mereka sekeluarga tidak hanya duduk di atas trem. Sesekali mereka turun untuk melihat satwa lebih dekat lalu lanjut naik trem hingga ke ujung jalur. Setelah sampai di ujung, mereka sekeluarga naik kereta gantung untuk kembali ke gerbang utama lalu keluar dari taman safari. 

Setelah keluar dari safari, mereka mencari makan di luar area tersebut. Seharian ini mereka baru sarapan di hotel, belum makan siang yang proper, hanya mengganjal perut dengan nasi kepal.

“Haeun mau makan baozi kayak kemarin lagi.” ucap Haeun.
“Makan yang banyak dong gongzhu, baozi nggak cukup.” ujar Hanjin menasihati.   
“Kalau makan bihun aja boleh nggak?” tanya Haeun memelas.
“Boleh. Ya udah, kita cari rumah makan mi yang jual bihun juga.” jawab Hanjin menyanggupi.  
“Sayang, seharian belum makan yang proper, Haeun nggak sakit perut tah nanti?” bisik Junghwan ke Hanjin saat mereka berjalan ke tempat makan.  
“Nggak apa, nanti dagingnya dibanyakin. Haeun udah pasti nggak mau makan yang lain. Nanti malam kalau anaknya lapar, ada bubur ketan hitam.” jawab Hanjin sambil berbisik.

Setelah makan, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri demi penerbangan ke kota selanjutnya besok.

Sejak pagi, mereka sudah menunggu di kursi ruang tunggu boarding gate. Pesawat mereka terjadwal berangkat pada siang hari. Haeun sedari tadi tiduran telentang di pangkuan Papi dan Papanya.

“Haeun ngantuk…” keluh Haeun.  
“Tidur aja, princess.” ucap Junghwan sambil mengelus lembut rambut Haeun.  
“Nanti kalau aku tidur, ketinggalan pesawatnya.”  
“Astaga. Nggak dong, xiao gongzhu. Papa pasti bangunin kalau nanti udah bisa masuk pesawat. Masih sejam lebih kok.” jawab Hanjin menenangkan.
“Oke, aku tidur. Nanti tolong Papa bangunin, ya? Papa nggak sakit kan kakinya kalau Haeun tidur di sini?” tanya Haeun perhatian.
“Papi nggak ditanya? Papi sakit loh kakinya, princess, kepalanya berat.” goda Junghwan jahil.
“Ishh, ya udah Haeun tidur di paha Papa aja.” kesal Haeun sambil bersiap untuk bangun.
“Papi bercanda.” ujar Junghwan menahan badan Haeun agar tidak jadi bangun. Hanjin yang melihat hanya bisa menghela napas, sudah terbiasa dengan kelakuan suami dan anaknya.

Tidak lama, Haeun menusuk perut Junghwan dengan jarinya.

“Rasain. Sakit kan Papi pasti?” ucap Haeun.

Tusukan jari Haeun benar-benar hanya terasa geli di perut Junghwan, sama sekali tidak ada sakitnya. Junghwan hanya tersenyum gemas melihat Haeun membalas kejahilannya.

Sejam berlalu, gate dibuka dan penumpang dipersilakan masuk ke pesawat. Mereka sekeluarga masuk bersama penumpang lainnya. Pesawat terbang sesuai jadwal menuju Chengdu.

Penerbangan dari Guangzhou menuju Chengdu memakan waktu sekitar dua setengah jam. Setelah tiba di bandara Chengdu, mereka mengambil koper lalu menuju area pemberhentian bus. Mereka naik bus khusus yang tersedia dan turun tepat di pusat kota. Sesampainya di pusat kota, mereka menggeret kopernya sebentar untuk menuju hotel. 

Setibanya di hotel, mereka check in lalu menuju kamar.

“Papi, Papa, kita langsung pergi lagi?” tanya Haeun.
“Gongzhu, mau langsung pergi? Nggak mau tidur dulu?” tanya Hanjin balik.
“Haeun nggak ngantuk, pergi aja. Tapi jangan banyak jalan, Haeun capek.” pinta Haeun.

Junghwan dan Hanjin menyanggupi permintaan Haeun. Mereka akhirnya menyiapkan barang keperluan di tas kecil lalu langsung jalan keliling kota tanpa beristirahat sejenak di hotel.

Mereka sekeluarga pergi ke salah satu kafe estetik menggunakan subway, yang sebelumnya sudah dicari rekomendasinya oleh Hanjin di xiaohongshu.

Mereka turun di stasiun dekat kafe. Di area sekitar kafe tersebut, banyak yang menjual suvenir serba panda. Haeun yang melihat suvenir-suvenir lucu itu tidak bisa menahan rasa gemasnya.

“Papiiii, boleh beli ini nggak?” pinta Haeun memelas sambil menunjuk gantungan kunci boneka panda kecil.

Junghwan menghela napas pasrah lalu membayarkan barang yang ditunjuk Haeun.

“Satu lagi boleh nggak, Papi?” tanya Haeun memelas.
“Satu lagi buat siapa, princess?” tanya Junghwan balik.  
“Buat nainai.” jawab Haeun.

Bukannya Junghwan ingin berburuk sangka ke anak sendiri, tetapi seperti yang sudah-sudah, barang yang dikasihkan ke nainai (mamanya), pasti berakhir kembali ke Haeun. Mamanya dan mamanya Hanjin pasti diam-diam mengembalikan barang pemberian Haeun sambil berkata untuk disimpan di rumah saja, tahu kalau Haeun suka karena barang yang dibelikan kebanyakan boneka atau figur mainan kecil. Tak heran rak penyimpanan boneka di kamar Haeun sudah hampir penuh.

“Buat nainai beli yang lain ya? Tas aja atau payung, nainai pasti suka. Sekalian beli buat popo juga.” bujuk Junghwan.  
“Nainai sama popo sukanya ini?” tanya Haeun.
”Iya, suka. Tasnya bisa dipakai belanja ke pasar.”
“Oke. Beli dua.” 

Junghwan mengambil tas yang dipilih Haeun untuk dibayar. 

Hanjin sedari tadi memperhatikan interaksi suami dan anaknya merasa bersyukur karena suaminya cukup tegas namun tetap lembut saat memberi pengertian. 

“Princess, masih mau lihat-lihat lagi?” tanya Junghwan.
“Nggak ada, Papi.” jawab Haeun.
“Sayang, masih mau lihat sesuatu nggak?” tanya Junghwan kepada suaminya.
”Nggak ada, babe. Kamu sendiri masih mau keliling?” tanya Hanjin balik.  
“Nggak, Sayang. Yuk, kita jalan ke kafe aja.”

Setelah mereka puas berkeliling, mereka menuju kafe yang dimaksud. Haeun memilih ingin minum coklat panas, Hanjin memesan iced latte, lalu Junghwan memesan strawberry smoothie.

Mereka menunggu minuman mereka yang sudah dibayar di meja pojok, cukup tenang dan luas untuk mereka bertiga.

Di kafe tersebut, selain menikmati minuman dan suasana, Hanjin tidak lupa meminta pelayan kafe di sana untuk memotret momen mereka bertiga. Setelah minuman habis, mereka kembali ke hotel naik subway.

Sesampainya di hotel, hari belum terlalu larut. Jadi setelah mereka bergantian mandi, Haeun meminta dibacakan cerita dari buku bacaan yang ia bawa.

“Papiiii, tolong bacain.” pinta Haeun sambil dirinya tengkurap di kasur memegang buku bacaan.
“Hari ini ceritanya soal apa, princess?” tanya Junghwan bergabung duduk di kasur lalu mengangkat Haeun agar duduk di pangkuannya.
“Train! Warnanya merah.” sahut Haeun.  
“Kereta merah, ya? Wah, ini kereta uap zaman dulu.” Junghwan mulai bercerita sambil menunjuk gambar-gambar yang ada di buku bacaan tersebut.

“Dia pake batu bara, bunyinya tut tut gujes gujes.”

Haeun bertepuk tangan kagum.

“Papi, apa kita bisa naik kereta?” tanya Haeun.
“Bisa dong, besok kita naik kereta.” jawab Junghwan yakin.
“Beneran, Pi?” tanya Haeun memastikan.
”Iya, gongzhu.” kali ini Hanjin jawab.
“Wahhh.” heboh Haeun.
“Haeun mau bobo cepat biar bisa naik kereta pagi-pagi.” ucap Haeun menambahkan.

Haeun mengambil buku bacaan dari tangan Junghwan lalu taruh di kopernya, kemudian kembali naik ke kasur.

“Terima kasih Papi dan Papa. Love you.” ucap Haeun sambil beranjak mengecup sekilas pipi kedua orang tuanya sebelum ia merebahkan diri.

“Haeun…” ucap Hanjin pasrah setelah melihat Haeun lagi-lagi tidur di kasur secara melintang.
”Sini, Sayang.” ucap Junghwan menarik Hanjin untuk tidur di kasur sebelah.

Akhirnya mereka semua beristirahat untuk memulihkan energi agar bersiap untuk kegiatan besok.

Agenda hari ini adalah setelah sarapan mereka ke stasiun kereta untuk pergi ke kota kecil di sebelah. Mereka dari hotel menuju stasiun menggunakan taksi online. Setibanya di stasiun, mereka masih harus menunggu beberapa menit sebelum bisa masuk ke kereta. Setelah bisa dipersilakan masuk, mereka melewati gate pemeriksaan identitas lalu naik kereta dan duduk di kursi yang sudah ditetapkan dari bukti pemesanan.

“Papi, Papa, loh kok kita sudah turun? Cepet banget sampainya, nggak berasa.” tanya Haeun heran.  
“Karena memang dekat kotanya, gongzhu.” jawab Hanjin.  
“Tadi kita di kereta cuma 20 menit aja.” jawab Junghwan menambahkan.

Haeun cuma angguk-anggukkan kepalanya saja.

Perjalanan mereka naik kereta memang sebentar karena kota yang mereka tuju sangat dekat dengan Chengdu, yaitu Dujiangyan. Di kota ini mereka ingin mengunjungi patung panda raksasa tiduran yang sedang selfie. Dari stasiun cukup jalan kaki sekitar tiga sampai lima menit. 

Sepanjang berjalan kaki, Haeun tidak berhenti-hentinya bernyanyi. 

“Lihat kebunku, penuh dengan bunga...” 
“The wheels on the bus go round and round, round and round…”  
“Dari terbit matahari, sampai pada masuknya, biarlah nama Tuhan dipuji…”

Dari kejauhan patung panda raksasa sudah terlihat, Haeun yang semula masih bernyanyi, berhenti dan melepaskan pegangan tangannya dari Papi-Papanya.

“Wah, lucunya panda.” ucap Haeun kagum.

“Gongzhu baobao, sini Papa fotoin.” panggil Hanjin.

Haeun segera berlari ke dekat panda lalu berdiri di spot yang menurutnya bagus. Kemudian Hanjin mengambil foto.

“Sayang, mau minta orang fotoin kita bertiga nggak?” tanya Junghwan menghampiri Hanjin.
“Boleh, babe. Bentar aku cari orang yang sekiranya bisa dimintain tolong.” jawab Hanjin.
“Udah, aku aja. Kamu sama Haeun tunggu di sini.” 

Hanjin memperhatikan bagaimana Junghwan meminta tolong orang untuk memotret mereka dengan bahasa mandarin yang menurut Hanjin cukup lancar.

Orang yang dimintai tolong memotret sebanyak tiga jepretan. Setelah selesai, mereka mengucapkan terima kasih.

“Babe, kok tadi bilang minta tolongnya lancar?” tanya Hanjin takjub.
“Iya dong, siapa dulu?” jawab Junghwan tengil.
Hanjin hanya tersenyum geli mendengar jawaban suaminya. 

Setelah mereka puas mengambil foto, mereka pergi mencari makan siang di area sekitar sana. Menu hari ini hui guo ruo (daging babi tumis). Resep aslinya sebenarnya memakai cabai kering sehingga makanan ini cukup pedas namun agar Haeun bisa makan, daging babi tumis tersebut dimasak dengan saus kacang manis.

Setelah makan, mereka jalan-jalan sebentar di area tersebut sebelum pergi ke stasiun untuk kembali ke Chengdu.

Setelah sampai di stasiun di Chengdu, dari stasiun mereka naik taksi online untuk menuju hotel. Mereka memutuskan untuk tidak terlalu larut sampai di hotel karena harus beres-beres barang, bersiap pindah ke kota selanjutnya besok.

“Sayang, kamu mandi duluan aja, biar aku beresin barangnya.” ucap Junghwan setelah mereka sampai di kamar.
“Iya, Papa mandi. Haeun bantu Papi beresin barang.” ujar Haeun mengikuti Junghwan.  
“Xiao gongzhu, bantu Papi lipat baju-baju kamu, ya?” ujar Hanjin lembut.  
“Oke.” sahut Haeun menyanggupi.

Sementara Hanjin mandi, Junghwan membereskan barang-barang seperti baju-baju kotor, oleh-oleh dan sedikit baju bersih yang tersisa, mengelompokkan ke koper mana barang-barang tersebut bisa masuk. Di sebelahnya, Haeun sibuk melipat baju-baju miliknya dengan muka serius, ia memastikan lipatannya rapi sesuai ajaran Papi-Papanya.

Beberapa menit kemudian, Hanjin selesai mandi. Junghwan sudah hampir selesai membereskan barang, sekitar 85%. 

“Babe, gantian mandinya. Aku lanjutin beresin barangnya. Eh lupa, Haeun mandi duluan.” sahut Hanjin.  
“Princess, ayo mandi.” panggil Junghwan. 
“Oke, Papi.” jawab Haeun.

Hanjin yang melihat lipatan baju yang dikerjakan Haeun sungguh terkejut. Pasalnya, lipatan Haeun benar-benar mengikuti ajarannya dan suaminya, sangat rapi. Setelah mengecek lipatan baju, Hanjin memasukkan baju tersebut ke dalam koper, lalu membereskan barang yang belum sempat dibereskan Junghwan.

Lompat ke pagi hari. Mereka sekeluarga sudah berada di bandara, di kursi ruang tunggu untuk masuk pesawat. Haeun sedang menikmati milk tea yang sebelumnya dibeli di gerai minuman di bandara. Hanjin menyalin dari gelas besar gerai milk tea ke dalam gelas kecil milik Haeun.

Haeun meminum pelan-pelan milk tea punyanya, menjadi pemandangan yang sangat lucu. Benar-benar terlihat dari muka Haeun kalau ia tidak mau milk tea-nya cepat habis.

“Lucu banget, Sayang, mukanya Haeun. Tolong fotoin dong pake kamera.” bisik Junghwan ke Hanjin.  
“Foto pakai HP kamu aja, kalau kamera ketahuan dong, anaknya sadar kamera.” bisik Hanjin.

Junghwan benar-benar mencari posisi agar bisa memotret Haeun secara diam-diam.

Tak lama kemudian, mereka dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Pesawat dari Chengdu menuju Shanghai memakan waktu hampir tiga jam.

Tiba di bandara Shanghai mereka naik taksi online menuju hotel. Sesampainya di hotel, mereka check in lalu menitipkan koper mereka di resepsionis karena tidak naik ke kamar terlebih dahulu, melainkan langsung keluar jalan-jalan.

“Gongzhu baobao, beneran nggak mau bobo dulu, mau langsung jalan?” tanya Hanjin memastikan.
“Iya, Papa. Ayo kita ke menara yang Haeun lihat di YouTube waktu itu.” jawab Haeun

Rencana jalan kali ini atas permintaan Haeun saat di pesawat, yang ingin saat mereka sampai hotel langsung pergi, tidak perlu ke kamar. Tempat yang ingin mereka tuju yaitu area menara ikonik Shanghai. Mereka ke sana menggunakan subway.

Mereka turun di stasiun dekat area menara. Dari stasiun sudah terlihat menara ikonik Shanghai. Junghwan mengambil kamera dari tas yang ia bawa sebelum Hanjin mengambil kameranya.

“Sayang, princess, lihat sini. Papi fotoin.” ucap Junghwan memanggil suami dan anaknya.

Walaupun sedikit terkejut karena tahu-tahu suaminya sudah siap dengan kamera, Hanjin tetap berpose bersama Haeun yang berdiri berjejeran.

Mereka berjalan ke spot yang lebih dekat dengan pemadangan menara ikonik Shanghai lalu ke bangunan bersejarah bergaya Renaissance Perancis untuk mengambil foto yang lebih bagus.

Setelah puas berfoto, mereka menyusuri jalan sekitar sana sebelum mencari makan malam. Setelah makan malam, mereka kembali ke hotel.

Jalan-jalan hari ini tidak dimulai pagi-pagi sekali. Setelah makan siang, barulah mereka keluar dari hotel untuk pergi ke akuarium terbesar di Shanghai.

Setelah melewati pemeriksaan tiket, mereka diarahkan menuju lantai tiga. Alur perjalanan akuarium dimulai dari lantai paling atas lalu berkeliling hingga lantai paling bawah.

Setiap lantai, menampilkan keberagaman laut yang berbeda, Haeun tak henti-hentinya takjub. Haeun juga mencoba membaca papan informasi yang dipasang di setiap area untuk menunjukkan ikan apa yang ada di tangki tersebut.

“Papa, susah bacanya. Ini apa?” tanya Haeun.
“Pari besar. Da yao yu.” jawab Hanjin menjelaskan pelan-pelan.  
“Da yao yu.” ucap Haeun mengikuti.

Mereka berpindah ke area berikutnya.

“Wowww, jellyfish.” seru Haeun semangat.

“Papi, Papa, boleh Haeun bawa pulang?” tanya Haeun menunjuk-nunjuk ubur-ubur di depannya.
“Nggak bisa dibawa pulang, princess.” jawab Junghwan dengan lembut.  
“Kenapa? Nggak bisa Papi beli?” tanya Haeun lagi. “Bisa, tapi bukan yang berenang di sana. Kalau princess mau, nanti malam kita makan ubur-ubur.” tawar Junghwan.  
“Noooo… jangan dimakan, Papi. Tidak jadi beli ubur-ubur.” ucap Haeun sedih.

Junghwan hanya bisa menghela napas. Hanjin yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum geli dan menghampiri keduanya untuk menenangkan mereka. 

Setelah sampai di lantai paling bawah akuarium, mereka keluar area lalu pergi mencari makan malam. Menu hari ini ikan panggang.

“Princess tadi nggak bolehin Papi makan ubur-ubur tapi princess malah minta makan ikan. Ini ikan yang di aquarium loh.” ucap Junghwan
“Beda, Papi. Ini ikannya boleh dimakan. Lagian Papi juga suka makan ikan jadi nggak boleh protes.” kesal Haeun
“Makasih ya, princess.” ujar Junghwan menahan tawanya.  
“Makasih kembali, Papi. Papi makan yang banyak, Haeun makan sedikit saja.” ucap Haeun beralasan.

Hanjin tidak mungkin membiarkan Haeun makan sedikit, ia menaruh suwiran ikan yang sudah dipisah durinya di mangkuk Haeun.

“Gongzhu juga makan yang banyak. Papa udah suwirin ikannya.” ucap Hanjin.  
“Makasih, Papa.” ujar Haeun lirih. 

Haeun makan dengan bibir sedikit menekuk karena harus menghabiskan ikan yang sudah disuwir ayahnya.

Setelah mereka kenyang makan, mereka kembali ke hotel. Malam ini sudah malam terakhir sebelum besok siang mereka pulang.

Keesokan harinya, mereka tiba di bandara pagi hari. Masih ada waktu beberapa menit sebelum penerbangan.

“Nggak mau pulang. Haeun masih mau jalan-jalan.” keluh Haeun.  
“Lain kali kita jalan-jalan di sini lagi ya, princess.” jawab Junghwan menenangkan.

Haeun tidak menjawab hanya mengubur wajahnya di pelukan Hanjin. Junghwan mengelus rambut Haeun memaklumi. Kemudian beralih mengelus lembut rambut Hanjin dan mengecup singkat pucuk kepalanya.

“Kamu sedih juga ya, Sayang, udah mau pulang?” tanya Junghwan.  
“Sedih, tapi lebih sedih lihat Haeun sedih.” 
“Lain kali kita jalan-jalan ke sini yang lebih lama ya?” 

Hanjin tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya lalu mengambil jemari Junghwan. Junghwan membalas dengan mengaitkan jemari mereka.