Actions

Work Header

Ceremonial Lies

Summary:

Sasuke dan hinata sepakat untuk melakukan pernikahan kontrak.
"Aku tidak ingin pernikahan ini diketahui selain oleh keluarga kita" Ujar hinata angkuh.
"Aku setuju. Lagipula aku tidak sebahagia itu untuk memamerkanmu sebagai istriku"

Chapter 1: Contract

Chapter Text

Naruto belongs to M. Kishimoto. Made for entertainment purposes only, not for profit!

Don't repost, translate, or copy my work to any other platform without my explicit permission.

Pernikahan kontrak? cerita yang klise.  Tapi, ayo kita bersenang-senang^^

 

Ink 1
Contract

**
"Aku tidak ingin pernikahan ini diketahui selain oleh keluarga kita" Ujar hinata angkuh.

"Aku setuju. Lagipula aku tidak sebahagia itu untuk memamerkanmu sebagai istriku" Ujar sasuke mendengus geli. Dia hanya kalah cepat mengatakan syarat itu dari hinata.

"Kau fikir aku tidak?" Ujar hinata setengah sewot.

Sasuke membuang wajah kesamping dengan tatapan bosan. Belum ada sehari bersama perempuan ini, dia sudah jengah dengan sikapnya yang mendahulukan emosi. Lihat saja, wajahnya sudah sangat tidak bersahabat, dan nada bicaranya seperti dia akan menyanyikan lagu milik celine dion.

"Point selanjutnya?" Tanya sasuke mengalihkan topik. Kalau tidak begini, pembahasan dengan aroma emosi hinata akan memakan waktu berjam-jam, dan dia tidak sedang memiliki waktu lebih selain untuk istirahat.

Hinata mencebik mendengar pertanyaan sasuke, lalu menyindir laki-laki itu sebelum mulai menyebutkan point kedua dari perjanjian mereka.

"Cih, Kau membangun kesombonganmu itu sama besar dengan mansion ini" Dia tidak bisa menahan kalimat ini hanya untuk dirinya sendiri.

"Point kedua, masing-masing dari kita akan menempati kamar berbeda dan tidak ada sentuhan fisik yang intim" Ujar hinata menyatukan dua syarat itu dalam satu point.

"Aku menolak" hinata reflek mendelik mendengar penolakan sasuke. Siapa tadi yang berkata tidak sebahagia itu menikahinya? Lalu sekarang malah menolak adanya sentuhan fisik? Sebelum dia menyemburkan kalimat panjang, sasuke sudah terlebih dahulu menjelaskan alasannya.

"Aku tidak ingin keluargaku curiga kalau mereka berkunjung kemari dan mendapati kita pisah kamar. Lalu, soal sentuhan fisik yang intim. Apa kau tidak berfikir kita akan datang keacara keluarga tanpa bergandengan tangan?" Jelas sasuke. Sasuke tau kalau hinata sudah merangkum alasan miliknya diotak gadis itu sebagai hal yang memang laki-laki itu fikirkan. Padahal kenyataannya sasuke tidak peduli apapun selain ketenangannya agar tidak terusik, termasuk karena pernikahan ini.

Hinata menelan semua kalimatnya dengan rasa malu, meski ia enggan mengakui itu. Rasanya seperti dia yang menginginkan sasuke sampai bisa berfikir kearah sana. Ugh, menjijikkan hinata.

"Baiklah kita bisa melakukan sentuhan fisik sebagai bagian dari sandiwara. Tapi aku tetap tidak mau sekamar denganmu" Perut sasuke rasanya mual mendengar perkataan hinata. Seperti dia memaksa gadis itu sekamar dengannya saja. Sasuke yang awalnya ingin memikirkan solusi dari permasalahan ini akhirnya hanya mengendikkan bahu saja.

"Aku tidak butuh jawaban bisu seperti itu"

"Tidak ada solusi yang praktis selain satu kamar"

"Jawabanmu seperti orang yang tidak mampu berfikir. Kau yang menolak jadi kau juga yang harus cari solusi" Hinata bersedekap dengan tatapan yang tajam kearah sasuke. Sedangkan yang ditatap tidak merasa terintimidasi sekalipun.

Saat sasuke hendak berbicara, hinata membuat pria itu hanya terlihat membuka mulut dengan berkata "Kita lanjut ke point ketiga. Terlalu membuang waktu jika menunggu solusi darimu" sembari mengibaskan satu tangannya didepan wajah.

"Tidak mencampuri urusan masing-masing" Ujar hinata menyebut point ketiga dalam perjanjian. Sasuke tersenyum menahan emosi terhadap perlakuan hinata karena gadis itu bukan hanya membuat sasuke menelan kalimatnya, tapi juga emosinya.

Sepertinya ini keberuntungan karena sasuke bukan tipe laki-laki yang suka kekerasan fisik. Dia, walaupun terlihat tak beretika dan sangat sombong, tetaplah seorang Uchiha yang memiliki sikap gentleman. Perlukah hinata mengingat ini? Oh tidak perlu, biarkan saja gadis itu bertemu pria buruk yang akan menjadi kekasihnya nanti, sehingga dia bisa bersyukur menikahi suami dengan track record sempurna diberbagai aspek seperti dirinya.

"Dan bersikap professional" Tambah sasuke.

"Point keempat. Kau tidak memiliki hak atasku, dan akupun begitu. Dan oh karena kau menyinggung tentang kecurigaan. Beberapa hal boleh dilakukan asal masih berada dibatas kewajaran guna melancarkan sandiwara kita sampai hari perceraian tiba" Ujar hinata.

"Kau tidak perlu memperjelas batas kewajaran karena aku tidak akan melewati batas itu"

"Siapa tau. Aku hanya berjaga-jaga"

"Tidak akan hinata. Kalau aku melakukannya, artinya aku sudah tidak waras" ujarnya terkekeh.

"Selagi bukan ucapan tertulis bermaterai, aku tidak mempercayai ucapanmu"

"Ya terserah kau saja. Lagipula mungkin itu untuk melindungiku juga" Ujar sasuke membuat hinata curiga.

"Maksudmu?"

"Yah, siapa tau kau rentan melewati batas kewajaran itu bukan?" Jelas sasuke dengan seringai yang tampak menyebalkan dimata hinata.

"Oh, aku tidak tau kau memiliki kepercayaan diri yang membuatmu tampak memalukan sasuke" Hinata tak habis fikir dengan laki-laki didepannya ini. Dia katanya? Rentan melewati batas? Mati saja sasuke dan fikiran bodohnya itu.

"Memalukan?" sasuke tertawa kecil

"Hinata. Itu akan terasa memalukan kalau ucapanku ternyata salah, tapi melihat reaksimu, sepertinya aku benar?" lanjutnya dengan seringai yang masih tampak menyebalkan dimata hinata.

"Kau hanya terlalu membanggakan diri. Kalau aku memang serentan itu, tidak akan ada point kedua dan ketiga. Ck" Balas hinata menatap sasuke sinis.

"Beberapa hal tidak penting memang dibutuhkan agar niat kita tidak terlihat terlalu jelas" Ujar sasuke dengan anggukan. Seolah dia sedang membantu hinata mempertahankan harga diri gadis itu.

"Tidak usah diperpanjang, aku menyetujui point keempat" Lanjut sasuke sambil mengibaskan tangannya. Sepertinya sasuke sedang membalas perlakuan hinata tadi padanya saat hinata hendak membalas ucapannya.

"Kau sangat sangat terlatih menjadi orang yang semena-mena" Ujar hinata dengan menekan tiap kata. Dia tidak habis fikir dengan sikap laki-laki itu yang menghentikan pembicaraan dengan kesimpulan seolah apa yang dia ucapkan benar.

Sasuke hanya mengendikkan bahu sebagai respon. Hinata yang tak tahan dengan kearoganan sasuke kemudian mengambil bolpoint. Dia tidak tahan berada didalam satu ruangan yang sama dengan laki-laki ini. Sasuke hanya diam melihat bagaimana perempuan didepannya ini begitu tergesa membuka lembar selanjutnya, tanpa membaca perjanjian tersebut lebih detail, lalu membubuhkan tanda tangan dengan suara goresan pena yang terlalu berlebihan.

"Kau hanya mengisi empat point dalam kontrak kita?" Tanya sasuke dengan satu alis terangkat. Dalam surat perjanjian yang sasuke buat, dia memberi sepuluh daftar kosong untuk hinata isi, tapi perempuan itu ternyata hanya mengisi empat.

"Empat point itu sudah mencakup segalanya" Jelas hinata menaruh pena disamping kertas. Dia sudah selesai menandatangani kontrak.

"Baiklah" sasuke mengangguk kemudian mengambil kertas berisi kontrak itu, lalu membubuhkan tanda tangannya. Hinata tersenyum saat melihatnya. Isi kontrak itu membuatnya aman dengan segala tetek bengek pernikahan yang rumit. Dia tidak perlu bersikap layaknya istri pada umumnya, karena itu hanya status.

"Itu artinya kau juga setuju bahwa point tersebut bersifat fleksibel"

"Apa? Fleksibel?"

"Ya"

"Sebentar. Apa maksudmu?" Ujar hinata dengan penuh rasa curiga. Dia tidak menemukan makna yang baik dari kombinasi kata tersebut.

Sasuke menyodorkan kertas kontrak mereka kepada hinata, lalu berkata "Bacalah. Aku tak membuat kontrak ini menjadi dua lembar jika tidak mencantumkan hal penting bukan?" Ujar sasuke menyeringai. Dia puas melihat wajah idiot hinata.

Hinata mengambil kertas tersebut dengan perasaan tak nyaman. Logikanya membenarkan ucapan sasuke. Sebelumnya dia tidak menganggap serius tentang mengapa kontrak pernikahan mereka terdiri dari dua lembar. Dia hanya berfikir bahwa mungkin itu hanya berisi kalimat formalitas saja.

Matanya memindai tiap kalimat dari awal. Tidak ada yang aneh dilembar pertama, tapi begitu dia membuka lembar kedua. Kalimat yang tercantum disana membuat hinata melotot. Disana tertera bahwa point yang disetujui oleh kedua belah pihak bersifat fleksibel dan pihak suami memiliki tingkat keputusan tertinggi dalam memutuskan kondisi apa yang mengharuskan mereka untuk melanggar aturan tersebut demi keuntungan yang lebih besar.

"Kondisi apa menurutmu yang membuat aturan yang kita setujui bersifat fleksibel?" Tanya hinata mencoba mencari sisa kewarasan diotak sasuke.

"Aku belum memikirkannya, klausa itu hanya untuk berjaga-jaga"

"Aku tidak percaya. Kalau kau belum memikirkannya, tidak mungkin ide ini muncul"

"Aku hanya berjaga-jaga, takut beberapa hal yang mengganggu kelancaran bisnis kita terjadi"

"Anggap aku mempercayai bualanmu itu. Tapi disini jelas-jelas kau mengambil keuntungan lebih dengan menjadikan keputusanmu sebagai yang utama" Hinata geram sekali dengan sikap sasuke.

"Tidak mungkin kau bukan? Temperamenmu buruk"

"Itu bukan alasan saat kau bisa menjadikan ini sebagai keputusan bersama" Ujar hinata yang kini mulai tidak bisa membendung emosi—lagi.

"Kau jelas-jelas menipuku" Tambahnya mendesis.

"Aku tidak menipumu hinata. Kau saja yang tidak teliti membaca keseluruhan berkas ini"

"Ganti bagian itu" Ujar hinata yang lebih mirip sebuah perintah. Oke dia akui ini kesalahannya, tapi enggan mengakuinya pada sasuke.

"Tidak bisa, kita sudah menandatanganinya"

"Kita buat ulang. Simple"

"Kau fikir materai untuk pernikahan kontrak bisa kau dapat dengan mudah?"

"Ya kalau itu kau. Gunakan kekuasaan yang selalu kau sombongkan itu" Ujar hinata bersedekap. Dia tidak mau pernikahan ini menjadi jerat bagi kebebasannya.

"Dan membuat keluarga kita tau? Tidak terimakasih. Aku tidak mau terjebak denganmu selamanya"

"Apa maksudmu!"

"Pengajuan materai untuk yang kedua kalinya, memicu kecurigaan dan penelusuran ulang. Itu akan berisiko tinggi diketahui oleh keluarga kita" Jelas sasuke. Informasi merupakan salah satu aspek penting dalam meraih kekuasaan, dan uchiha selalu menanamkan Pelajaran ini pada tiap generasinya. Tak heran bukan jika mereka bisa sampai semakmur ini.

"Kau tenang saja. Meskipun kekuasaan tertinggi ada padaku, aku tidak akan menggunakannya sembarangan. Kau harus memaknai kalimat terakhir dari klausa tersebut. Kalau bukan karena keuntungan yang lebih besar, empat point itu tidak akan bersifat fleksibel" Jelas sasuke dengan emosi yang sepertinya naik ke permukaan.

"Tapi tetap saja itu tidak membuatku tenang!"

"Aku tidak bertanggung jawab dengan itu. Kau sendiri yang memilih untuk tidak membacanya" Ujar sasuke telak yang membuat hinata hanya bisa menatapnya dengan wajah emosi dan tangan yang terkepal.

"Awas saja ucapanmu tidak sejalan dikemudian hari" Ujar hinata penuh kebencian. Lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Sasuke menghela nafas berat setelah kepergian hinata dengan suara debuman pintu yang keras. Tangannya memijat pelipisnya pelan untuk mengatasi pening yang tiba-tiba saja menyerangnya.

"Tidak ada hal baik darinya" komen sasuke. Bagaimana bisa perempuan itu tidak memiliki satupun kelebihan selain nama keluarga besarnya. Kepala sasuke menggeleng heran.

"Aku berharap empat tahun adalah waktu yang singkat untuk dihabiskan dengan perempuan seperti dia"

.

.

.

TBC 

9/5/26

Best Regards

Lotushym