Chapter Text
-
Kyungsoo keluar dari ruang sidang dengan wajah yang terlihat puas, ia kembali memenangkan sidang kasus pembunuhan berantai terhadap remaja-remaja tidak bersalah, jika saja ia tidak memiliki banyak kesabaran, mungkin pelaku memiliki banyak luka pukulan darinya sekarang.
Saat berjalan di koridor menuju kantornya, ia bertemu dengan sahabatnya yang merupakan seorang Detektif, Park Chanyeol, sedang bersandar pada dinding dengan kepala yang tertunduk, Kyungsoo pun menghampirinya.
"Oh, Hyeongsa-nim, apa yang kau lakukan di sini?"
Chanyeol mendongak, wajahnya yang selalu tampak jenaka kini serius, bahkan ada kerutan tipis di dahinya.
"Aku perlu membicarakan sesuatu dengan mu, Kyungsoo-ya."
.
.
.
.
.
"Apa sih yang kau bicarakan!?"
"Aku serius, menurutku kita harus kembali mengusut kasus ini, Geomsa-nim."
"Demi Tuhan Park Chanyeol, ini kasus 14 tahun lalu! Dan bukankah pelakunya sudah tertangkap?"
"Tapi aku merasa ada yang janggal!"
Kyungsoo melempar punggungnya pada sandaran kursi seraya membuang napas dengan kasar, kemudian menatap tajam Chanyeol yang masih memandangnya dengan tatapan anak anjing, mereka sedang di kantor milik Kyungsoo omong-omong.
"Kau tahu kan apa risikonya jika kita melanjutkan ini?"
"Ya!"
"Kau punya Sehun dan Jongin, kenapa harus menyeret ku juga?"
Chanyeol terdiam sejenak, "aku membutuhkan mu, hanya kau yang bisa membantu ku dalam hal ini."
Salah satu alis milik Kyungsoo terangkat, "kau yakin sekali, Hyeongsa-nim?"
"Berhenti memanggil ku Hyeongsa-nim, nama ku Chanyeol!"
"Kau memang seorang Hyeongsa, bodoh!"
Chanyeol mendudukkan dirinya di salah satu kursi, bibir tebalnya melengkung ke bawah, Kyungsoo memandangnya dengan geli.
"Kumohon Kyungsoo-ya, kau satu-satunya harapan ku."
"Sulit Yeol, jaksa yang menangani kasus itu adalah Kim Sunggyu Sunbaenim."
"Aku sudah menanganinya, Kyung." ucap Chanyeol dengan senyum miring menyebalkan.
__________
Kim Sunggyu sedang berjalan menyusuri koridor kantor kejaksaan, ketika tiba-tiba tubuhnya ditarik ke salah satu ruangan, dan pintu ruangan tersebut tertutup dengan cukup keras.
"Apa yang kau inginkan?" tanya pria itu pada pria lain yang lebih muda, berdiri menjulang di hadapannya, mereka berada di ruang Interogasi, keduanya dipisahkan oleh meja di tengah.
Pria lebih muda-Chanyeol-yang sebelumnya memasang wajah serius, kini berubah kikuk, tangannya mengusap belakang lehernya.
Eumm begini, Geomsa-nim, apakah Anda ingat kasus pembunuhan 14 tahun lalu? Kasus Sungai Han."
"Ya, aku Jaksa penuntutnya saat itu. Ada apa?"
Chanyeol kembali memasang wajah serius, dan Sunggyu mulai curiga bahwa Detektif itu memiliki perilaku bipolar.
Lalu, Detektif tersebut menekan telapak tangannya di atas meja, tubuhnya sedikit membungkuk menghadap sang Jaksa senior.
"Saya mohon, beritahu saya apa yang terjadi 14 tahun lalu, saya merasa ada kejanggalan dalam kasus ini."
Sunggyu terdiam, kemudian memalingkan wajah, Chanyeol menghela napas.
"Geomsa-nim, saya tahu Anda diancam oleh atasan Anda saat itu."
Pria yang lebih tua kembali menatap Chanyeol, kini mata sipitnya sedikit membulat.
"Bagaimana kau tahu?"
Chanyeol sendiri pun sebenarnya juga terkejut, ia hanya mencoba memancing sang Jaksa, tetapi siapa sangka hal tersebut benar-benar terjadi, dengan itu Chanyeol kembali memainkan perannya di sini.
"Saya hanya tahu, dan saya ingin kerja sama Anda untuk kembali mengusut Kasus Sungai Han."
"Apa kau serius?"
"Ya, terpidana salah tangkap juga berhak mendapatkan keadilan."
Sunggyu menatap mata Detektif muda itu, dan melihat kesungguhan di kedua mata bulatnya yang berbinar, ia kemudian menghela napas.
"Baiklah, beri aku waktu beberapa hari untuk mengurus semuanya, karena rasa bersalah ini selalu mencekik ku."
“Lagipula, aku memang menunggu orang seperti mu, Park Hyeongsa-nim.”
﹏﹏﹏﹏﹏﹏
"Tamat!" seru Chanyeol dengan semangat.
Sedangkan Kyungsoo, Jaksa itu masih berada di dunianya.
"Kyungsoo-ya, tutup mulut mu, atau lalat akan masuk dan membuat mu tersedak."
"Di kantor ku tidak ada lalat!"
Kyungsoo akhirnya kembali ke kenyataan, pria manis itu mengacak rambutnya yang sebelumnya rapi.
"Apa semudah itu membujuk Kim Sunggyu!? Maksudku, kariernya akan terancam, dan karier kita juga!"
"Cerita ku barusan bukan karangan."
Kyungsoo menatap sahabatnya yang masih tersenyum lebar, "kau benar-benar serius soal
ini?"
Chanyeol mengangguk dengan tegas, "ya, aku tidak akan mundur Doh Geomsa-nim."
Pria yang lebih kecil di antara mereka berdua itu menghela napas, "kenapa aku merasa ini
tidak akan berjalan dengan baik."
“Bicaralah yang baik-baik, Kyungsoo-yaa,”
Kyungsoo kembali melempar tatapan tajam pada sahabat jangkungnya itu, “keluar dari
ruangan ku!”
"Hehe, sampai jumpa besok!"
***
Matahari kembali menyinari Seoul hari itu, di sebuah apartemen cukup mewah, sinarnya menembus tirai tipis salah satu kamar dengan dinding serba putih.
Selimut tebal di atas ranjang mulai bergerak, memperlihatkan rambut berwarna hitam, selimut itu terbuka, sosok di baliknya membuka mata dengan perlahan, keningnya mengeryit karena sinar matahari yang menyorot wajahnya.
“Kenapa terang sekali..? Apa aku berpindah alam..?”
“Tunggu..”
Sosok itu melihat sekelilingnya, dan seketika matanya membulat sempurna, ia segera
terduduk dan berteriak.
“INI BUKAN RUMAHKU!???”
“KYUNGSOO-YA KENAPA KAU BERTERIAK?”
‘KYUNGSOO!?’
Sosok itu segera mencari cermin, dan menukan cermin berukuran sedang yang tergantung di
dinding, ia melihat pantulannya adalah wajah yang sangat familiar, namun itu bukan
wajahnya.
"IGE MWOYAA!??"
[Di sisi lain]
“Sialan! Kenapa tempat ini berantakan sekali, sih!? Bagaimana bisa dia masih hidup?? Rumahnya seperti tempat sampah!”
Orang itu memandang sekellilingnya dengan jijik, bagaimana tidak, kasur yang bau apek, kertas-kertas yang ia tebak sebagai dukomen berbagai kasus, sampah mie cup dan botol soju kosong berserakan di ruangan yang cukup luas itu.
“Pantas saja dia masih sendirian sampai sekarang, mengurus dirinya sendiri pun tidak bisa.”
Ia tahu, mereka sedang bertukar tubuh entah bagaimana, dan ia yakin siapa yang mengisi tubuh aslinya saat ini.
“Park Chanyeol, aku tidak akan memaafkan mu jika terjadi sesuatu pada tubuhku yang indah.” Ucap Kyungsoo.
Benar, jiwa Kyungsoo lah yang menempati raga milik Chanyeol, dan jiwa Chanyeol menempati raga milik Kyungsoo di luar sana.
Chanyeol-yang kini tubuhnya ditempati oleh jiwa Kyungsoo-mulai memunguti barang-barang yang berserakan ketika ponsel yang ada di meja berdering menandakan adanya panggilan masuk, pria itu sempat ragu untuk menjawab karena secara teknis itu bukan ponsel miliknya.
Namun akhirnya, pria itu menjawab panggilan tersebut tanpa melihat nama atau nomor yang tertera di layar, dan melempar kembali barang-barang yang sebelumnya ia punguti.
"Yeoboseyo?"
"Chanyeol-ah, aku mendapatkannya, kita bertemu hari ini di Restoran Exhorizon jam 2 siang."
"Ne?"
"Eoh, bawa juga temanmu yang seorang Jaksa, siapa? Ahhh Doh Kyungsoo Geomsa, sampaijumpa, aku harus mengurus sesuatu, kkeuneo."
Pip.
Chanyeol terdiam, kedua matanya berkedip beberapa kali, kemudian melihat id name yang tertera, Kim Sunggyu Geomsa.
"Apa mereka sudah seakrab itu!?"
Kemudian pria itu mencari kontak miliknya, dan menemukannya di urutan paling atas.
Uri Kyungie❤
"Ihh, ada apa dengan emoji cinta itu."
Chanyeol mendial nomor tersebut, nada sambung segera terdengar, dan akhirnya terhubung.
"Kyungsoo! Apa yang terjadi!?"
"Mana aku tahu! Dan kenapa dari banyak tubuh aku harus berakhir di tubuh mu?"
"Memangnya kenapa?"
"KAU BERANTAKAN SEKALI SIALANNN"
Terdengar kekehan di seberang sana, Chanyeol membuang napas kasar.
"Kau sangat menikmati berada di tubuh ku, huh?"
"Tentu saja, Suho Hyung sangat pandai memasak, dan kamarmu rapi sekali Kyungsoo-yaa."
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh barang-barang ku!"
Tawa menggelegar terdengar, ini sangat aneh mendengar suara mu sendiri sedang tertawa keras, Chanyeol memutar kedua matanya dengan malas.
"Dwae-sseo, Sunggyu Sunbae menghubungi ku, dan meminta kita untuk bertemu dengannya di Restoran Exhorizon jam 2 siang."
"Kita? Apa 'kau' juga ikut?"
"Ya, aku juga tidak tahu kenapa aku harus ikut."
"Baiklah, dan Kyung-ah, kau harus pergi ke kantor ku, Banjang-nim meminta ku untuk
datang hari ini."
"Apa kau serius?"
"Ku mohon, atau dia akan marah dan mengamuk pada semua orang."
"Dan kau meminta ku datang agar aku menjadi samsaknya??"
"Bukan seperti itu! Lagi pula kau sekarang menggunakan tubuhku, kan?"
"Tapi tetap saja aku akan merasakan sakitnya, bodoh!"
"Dia tidak akan memukul mu jika kau datang, aku janji!"
Chanyeol menghembuskan napas, menyerah.
"Oke, aku akan datang, kau juga harus datang ke kantor ku hari ini, DAN JANGAN MENENDANG PINTU!"
"Baik! Dan, Kyungsoo-ya.."
"Apa?"
"Bagaimana cara memakai benda-benda mu yang ada di kamar mandi? Dan maaf, aku menjatuhkan botol kaca berisi sesuatu kemudian pecah.."
"PARK CHANYEOL!!!"
[Seoul Mapo Police Station]
Chanyeol melangkahkan kaki jenjangnya memasuki kantor kepolisian, jujur saja ia mulai Qgugup, bagaimana ia harus bersikap setelah ini? Apa dirinya harus benar-benar bertingkah seperti Chanyeol? Tapi bagaimana!?
“Hyung-nim!”
Pria itu menoleh dan mendapati seorang pria berkulit tan dan cukup tinggi menghampiri, dia Kim Jongin, salah satu junior Chanyeol di timnya.
“Apa?” tanyanya ketika Jongin berdiri di hadapan pria itu dengan 2 cangkir kopi.
“Apakah ini untukku? Kebetulan aku sedang membutuhkan kafein.”
Chanyeol mengambil salah satu cangkir tanpa menunggu balasan dari yang lebih muda, dan Jongin pun tampak tidak mempersalahkannya ketika ia melirik melalui sudut mata, sepertinya pria jangkung itu sering melakukan ini.
"Ah iya Hyung, Banjang-nim memanggil mu ke ruangannya."
"Aku tahu. Terima kasih untuk kopinya, aku akan menemui beliau sekarang."
Chanyeol melangkah pergi setelah kembali menyerahkan cangkir kopi yang tersisa setengah kepada Jongin, sedangkan pemuda itu melihat cangkir tersebut kemudian Chanyeol secara bergantian.
"Apakah hanya perasaan ku saja? Chanyeol Hyung sedikit berbeda, dan juga.."
"Hyung-nim! Ruangan Banjang-nim ada di sebelah kiri!"
Pria jangkung itu berhenti berjalan, dan segera menuju arah yang sudah diberi tahu oleh pria yang lebih muda, telinganya memerah samar, dan Jongin dapat melihatnya sekilas.
"Mwoya.."
[Kantor Kejaksaan]
Brak!
Kedua orang lainnya yang berada di ruang kantor, terperanjat dari kursi mereka, dan semakin
terkejut ketika melihat siapa yang memasuki ruangan dengan membanting pintu.
"Kyungsoo!?/Hyung??"
Kyungsoo terdiam di depan pintu, dirinya lupa bahwa kini yang ia gunakan bukan tubuhnya sendiri.
"Ups..."
"A-a-apa yang terjadi, Hyung?" tanya yang lebih muda di antara mereka dengan gugup.
Tidak biasanya Kyungsoo masuk dengan membanting pintu seperti barusan, ia selalu datang dengan senyap, bahkan terkadang Wooyoung-anggota termuda di tim Kyungsoo-tidak menyadari saat Kyungsoo datang dan masuk ke ruangan mereka.
"Apa kau belum minum kopi hari ini, Kyungsoo-ya?" tanya anggota tertua di sana, Jinhwan.
Cengiran gugup terukir di bibir Jaksa itu, yang justru membuat kedua anggotanya semakin gelisah, Wooyoung segera menghampiri sisi Jinhwan.
"Hyung.. Ku rasa ada yang salah dengan Kyungsoo Hyung.."
"Apakah dia mulai sinting? Karena kasus kemarin?" ucap Jinhwan mendongak pada Wooyoung"
Wooyoung mengangkat bahunya, kemudian berteriak ketika ia menoleh dan mendapati
wajah Kyungsoo berada di hadapannya.
"HYUNG!"
"Hehe, kalian tampak asik membicarakan ku."
"Hyung! Kau aneh sekali hari ini, sungguh!"
Kyungsoo tidak berkata apa pun lagi untuk saat ini, dan mulai berjalan menuju meja miliknya.
"Aku akan menceritakannya nanti, tetapi untuk sekarang, aku ingin kalian mencari apa pun yang berhubungan dengan kasus pembunuhan berantai di Sungai Han 14 tahun lalu."
“APA!?”
cont.
