Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-04
Updated:
2026-10-12
Words:
7,353
Chapters:
4/?
Comments:
10
Kudos:
59
Bookmarks:
3
Hits:
602

nightshifters

Summary:

Woojin terkekeh, “kalo ini film porno, lu udah nyium gue sekarang. sayangnya, ini drama gotik. Jadi, harusnya sekarang lu udah gigit gue dan abisin darah gue sampe gue mati. Masalahnya, emang lu bisa ngelakuin itu tanpa nambah beban di hidup lu yang abadi ini?”

Chapter 1: 00

Chapter Text

Kwon ohyul, kurang lebih 100 tahun usianya. Tinggal di kos-kosan yang sempit dan tanpa jendela, seperti bagaimana dia membutuhkannya. Walaupun begitu, ini 2026. Harga properti yang paling tidak layak untuk manusia di ibu kota bisa mengabiskan keringat yang diperas sampai tetes terakhir selama sebulan. Itu mengapa dia mencoba berbaur, berpura-pura menjadi manusia di balik lensa kontak coklatnya dan meja kasir mini market demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Kwon ohyul, bahkan dari sebelum hidupnya berubah, tidak pernah merasakan kekayaan. Terkadang kehidupan yang amat panjang ini membuatnya bertanya-tanya. Apakah ini sungguh sebuah ‘hadiah’?

Itu yang dikatakan penciptanya dulu, saat perubahan besar baru saja terjadi di hidupnya. Seorang wanita kaya yang misterius menculik ohyul yang sedang mengantarkan paket ke rumah-rumah. Di bawah pohon bertajuk lebar dan berdaun rindang, taring itu menusuk lehernya dan ohyul pikir itu adalah akhirnya. Rupanya wanita itu tertarik padanya dan ingin merubahnya menjadi seperti dia. Ohyul tidak pernah tau pasti usia wanita itu. tetapi dia terlihat seperti seusianya saat dia mengalami perubahan. Ohyul terkurung di rumah mewah itu selama bertahun-tahun. Bukan untuk merasakan kekayaan, melainkan disiksa. Dia dihidangi anak-anak muda untuk dia tiriskan darahnya setiap hari bersama wanita itu meski dengan penuh rasa bersalah. Laki-laki, perempuan, mereka terus berdatangan dengan iming-iming upah yang besar. Ohyul harus melihat mereka mati dihadapan dirinya sendiri dan oleh tangannya sendiri selama berpuluh-puluh tahun. Namun, dia tidak punya pilihan lain karena rasa haus itu benar-benar menyiksanya.

Pada akhirnya ohyul memilih melarikan diri dari penjara itu. suatu malam dia kabur secara diam-diam dan melewati jamuan makan malamnya. Dia kabur, menyebrangi sungai-sungai, pegunungan, pedesaan sampai hampir mati di tengah perjalannya. Perjalanan yang akhirnya merubah seluruh kebiasaannya. Ohyul pergi ke tempat yang paling jauh yang pernah dia pikirkan di kepalanya. Ohyul pergi ke utara, seoul tepatnya, di tahun 2020 dengan keadaan dirinya yang masih seperti anak kuliahan. Ohyul yakin wanita itu pasti mencarinya. Tapi persetan. Untuk sekarang ohyul hanya ingin bebas.

Maka disinilah dia sekarang, terjebak dalam kebingungannya sendiri di kamar kosnya yang sempit dan pengap.

Dua jam yang lalu dia mengirimkan pesan ke manajernya kalau dia tidak bisa mengisi shift malam ini. Sampai sekarang dia masih menunggu jawaban manajernya sementara dalam satu jam lagi dia sudah harus mengisi shift. Kalau manajernya belum menemukan pengganti maka bencana baginya. dia tau soal resiko potong gaji. Tapi ini demi kebaikan semua orang.

Malam ini adalah malam bulan purnama dimana bulan akan terlihat lebih terang dan bulat sempurna. Ini adalah malam yang selalu menjadi ketakutannya dan dia sudah menemukan caranya sendiri untuk tidak menunjukkan dirinya yang sebenarnya secara tidak sengaja di depan para manusia. Malam ini, dia harus mengunci dirinya di dalam peti es rusak yang dia jadikan seperti peti mati. Dia akan berpuasa di dalam peti itu sampai setidaknya besok siang. Dia akan tidur malam ini. mungkin akan sedikit menyiksa bagi para nokturnal seperti dirinya. Ini seperti melawan metabolismenya sendiri tapi ini demi kebaikan semua orang dan traumanya. Malam ini akan menjadi malam yang sangat haus dan dia takut kalau harus membunuh orang yang tidak bersalah lagi.

Ohyul menatap layar ponselnya dengan wajah kusut. Kakinya tidak berhenti bergerak naik-turun yang merupakan sebuah kebiasaan sejak dirinya kecil saat dia gelisah. Rupanya di jaman sekarang orang-orang memberikan hal semacam itu nama. Seingat ohyul orang-orang sering menyebutnya dengan ADHD. Dia sering membuka internet untuk membaca soal kelainan ini.

Ohyul menjambak rambutnya, dia mengumpat, “sialan!” lalu merubuhkan tubuhnya di atas kasurnya yang hampir tidak pernah dia tempati selain untuk menumpuk baju sekali pakai. Kipas angin kecil yang dari tadi berputar di atas meja belajarnya, yang menengok ke kanan dan kiri untuk menyebar tiupan anginnya, bertiup tepat di samping wajahnya. Ohyul membawa ponselnya ke atas wajahnya dan menetap di ruang percakapan yang sama.

“ini kalo gue gak berangkat sekarang, terus toko kosong, makin abis gue. Baca dong, pak!” kata ohyul, berbicara sendiri.

Biasanya ini berhasil. Tahun-tahun sebelumnya dia selalu mendapat pengganti. Sialnya tahun ini manajernya tidak kompeten. Ohyul memutuskan menunggu lima belas menit lagi. Kalau dia tidak mendapat jawaban, artinya dia terpaksa berangkat kerja untuk malam ini.

Saat jam menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit, ohyul masih tidak melihat hilal jawaban dari manajernya. Dia tidak punya pilihan lain selain tetap berangkat kerja meski sambil menggerutu dan menyelipkan umpatan-umpatan di setiap langkah menuju minimarket tempat kerjanya.

***

“woi, ohyul, lama banget lu? itu barang-barang baru dateng jadi gue yang rapihin. Gue juga ada janji, jadi harus gue batalin. Kemana sih lu?”

Semua omelan itu langsung disemprotkan ke wajah ohyul saat dirinya baru saja memasuki minimarket dengan hoodie yang ditarik sampai menutupi matanya. Dia mendongak dan menarik sedikit hoodie-nya ke belakang untuk melihat gadis SMA yang bekerja paruh waktu di balik konter kasir, masih dengan rompi biru minimarketnya. Wajah gadis itu terlihat sangat marah dengan alis yang mengerucut ke tengah dan kening yang mengkerut. Ohyul merasa bersalah. Tapi dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Sehingga dia hanya mengatakan maaf dan masuk ke bagian belakang toko untuk mengambil rompinya.

Saat dia keluar, gadis itu sudah tidak ada di konter. Ohyul memahaminya.

Sebenarnya gadis itu dan ohyul sudah tidak memerdulikan perbedaan usia lagi. Itu mengapa mereka berbicara dengan sangat kasual. persetan dengan usia. Bahkan usia ohyul yang sekarang ini palsu. Orang-orang tidak pernah tau sudah berapa lama dia hidup sebagai anak 21 tahun. Dan gadis SMA itu juga mengingatkannya dengan dirinya sendiri seratus tahun lalu yang hanya mencoba untuk bertahan hidup. Ohyul hanya mencoba untuk memperlakukan gadis itu dengan penuh pengertian.

Ohyul mengisi shiftnya dengan mulai membersihkan lantai seperti biasanya. Walaupun melakukannya dengan kepala panas dan hati yang gelisah, dia tetap melakukannya. Dia juga menyusun box-box makanan yang baru datang ke atas rak. Dia tidak pernah benar-benar tau rasa makanan-makanan yang dia selalu pegang itu karena saat dia 21 tahun, saat dimana korea selatan masih berupa joseon, makanan bahkan akan langsung basi jika tidak segera dimakan. Bayangkan saja berapa banyak campuran bahan kimia yang dimasukkan di dalamnya agar makanan ini bisa tahan di dalam sebuah kemasan plastik selama sehari atau berhari-hari. beruntung sekarang dia hanya bisa mengonsumsi darah.

Pembeli terus datang dan pergi dan ohyul mencoba untuk melayaninya dengan penuh senyuman yang terpaksa. Langit semakin gelap dan bulan semakin terlihat terang di balik awan cirus yang abu-abu. Ohyul semakin panik. dia berdiri di balik konter, menunggu pembeli dengan sabar saat pikirannya semakin kacau.

Manajer sialan. Gue abisin lu besok.

Walaupun itu sudah pasti tidak akan pernah terjadi. terkadang amarahnya yang suka meluap-luap membuatnya lupa dengan traumanya sendiri.

Semakin malam, ohyul menjadi semakin gelisah. Dia mulai tidak bisa diam di balik konter kasir. Dia semakin tidak sabaran menunggu pembeli yang lama memilih apa yang mereka mau beli di depan lemari minuman dingin. Setelah itu ohyul merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, indra pengelihatan dan penciumannya menjadi semakin tajam. Sekaan dia bisa membaca isi pikiran semua orang di dalam toko dalam satu waktu.

Yang dia takutkan pun mulai terjadi. Bising. Kepalanya seperti sedang di putar secara aggresif di atas permainan marry-go-round. Setiap pembeli yang masuk baunya semakin membuatnya ingin muntah, dia mencoba untuk tidak memuntahkan darah ke wajah mereka saat membantu mereka untuk bayar. Ohyul semakin pusing. Dia sudah tidak bisa menahan rasa mual dan pusing di kepalanya.

Bulan di langit mulai terlihat semakin jelas saat awan-awan cirus itu perlahan bergesar. Bulan itu menyala, merah dan terang. Saat ombak di laut menjadi semakin tinggi, ohyul bisa merasakan darahnya seperti ikut ditarik keluar dari isi perutnya. Akhirnya dia berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya yang isinya darah sapi yang dia minum tadi pagi dan siang.

Darah sapi itu sesungguhnya tidak lezat. Tapi apapun untuk membuatnya tidak membunuh manusia dan mengembalikan rasa bersalahnya.

Ohyul, dengan perut kosongnya, sudah tidak tahan lagi. Dia haus dan dia sangat pusing. Dia benar-benar sudah tidak bisa kembali ke dalam minimarket atau seseorang bisa mati di tangannya dan ohyul tidak ingin itu terjadi.

Pokoknya nggak akan pernah terjadi lagi.

Persetan semuanya.

Ohyul meninggalkan pelanggannya. Dia memilih keluar lewat pintu belakang dengan sedikit sempoyongan. Di belakang toko adalah sebuah gang sempit yang kotor dan bau dimana dia biasa membuang sampah setiap selesai shiftnya. Dia melihat langit di atasnya dimana bulan purnama terlihat sangat jelas. Bulat dan terang bersinar seperti manisan. Ohyul tersenyum melihatnya, di rindu bisa makan manisan. Selain itu, itu juga satu-satunya cara dia bisa melihat sinar matahari setelah sekian lama hidup menghindarinya.

Sebuah pot bunga terjatuh dan menimbulkan suara keras dari keramik yang pecah. Ohyul dengan cepat memutar kepalanya ke sumber suara dan menemukan seekor tikus got yang gemuk yang berdecit, berlari-lari kecil untuk menghindar dari manusia. Tikus itu tidak tau kalau ada yang seharusnya lebih dia takuti dari manusia. Ohyul mendesis, taringnya tampak memanjang dari deretan gigi depannya. Dia tidak punya pilihan lain saat rasa haus itu mulai menguasai isi kepalanya. Ohyul menghampiri tikus itu dan menerkamnya.

Kwon ohyul, kurang lebih 100 tahun usianya, adalah seorang vampir pemakan tikus got.