Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 9 of Temen tapi demen
Stats:
Published:
2026-08-05
Words:
1,275
Chapters:
1/1
Comments:
16
Kudos:
95
Bookmarks:
3
Hits:
1,061

Bangun Bilang Sayang atau Malah Hilang

Summary:

Ada satu tanya yang akhirnya terlontar juga. Kita itu apa?

Notes:

hiiiiii jumpa lagi sama temen tapi demen ini yaaa, semoga masih lahap disantap <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Angin pagi tak pernah terasa sesejuk ini, Keonho kernyitkan dahi tanda tidurnya tak selelap tadi. Lelaki Ahn itu berniat naikan selimut saat sadari ada sang teman dalam peluk. Teman? Keonho tundukan pandang untuk dapati Seonghyeon dalam peluknya, wajah cantiknya bersandar pada dadanya pun Keonho reflek eratkan peluknya pada pinggang sang teman.

"Jangan resek!"

Wajah Keonho didorong mundur, Seonghyeon yang awalnya terpejam harus bangun sebab Keonho mengganggu. Bibir si manis maju-maju dan makin maju saat Keonho hanya tertawa tanggapi protes temannya.

Ditertawakan buat Seonghyeon geram, ia lantas bangun sembari dorong tubuh Keonho supaya berbaring telentang dan tanpa aba-aba ia naik untuk duduki perut milik Keonho. Rambut Seonghyeon mencuat kesana kemari, milik Keonho tentu sama bentuknya. Lalu ada Keonho yang tawanya reda atas tingkah laku Seonghyeon yang terjadi di luar prediksinya.

Jemari Seonghyeon tangkup wajah mengantuk milik Keonho, badannya menunduk untuk beri kecup yang jelas buat Keonho gugup.

Satu kecupan dua kecupan Keonho tak berani menghitung lagi sebab wajahnya panas sekali sepagi ini sudah diciumi Seonghyeon tanpa henti. Seluruh wajah Keonho dicium, diberi afeksi yang jelas buat kinerja jantung Keonho tak seperti biasa.

"Nakal ya, pacarku pagi-pagi nakalin aku."

Ekpresi pongo milik Keonho buat Seonghyeon heran. Memang sudah bukan teman kan?

Si manis Eom itu tundukan lagi wajahnya untuk beri gigit di pipi Keonho. "Kok bengong?"

"Kita pacaran?"

Alis Seonghyeon menukik tajam dengar tanya yang dilontarkan lelakinya. Amnesia atau gimana? Seonghyeon jadi keki, bangunlah ia dari atas tubuh Keonho hanya untuk beri cubit yang buat Keonho mengaduh penuh drama.

Langkah kaki Seonghyeon menghentak rewel di dalam kamarnya, berjalan tinggalkan Keonho yang masih kumpulkan nyawa sembari jawab "Pikir sendiri." Dan pintu kamar mandi tertutup nyaring seolah jadi pelampiasan emosi di pagi ini.

Yang ditinggalkan garuk kepalanya, duduk di atas ranjang sebelum akhirnya bertanya pada diri sendiri. "Yang kemaren bukan mimpi?"

 

...

 

"Keonho, kita itu apa si?"

Satu tanya terucap buat Keonho terdiam. Angin sore terbangkan rambut keduanya pelan-pelan, seolah beri sapa kalau nggak apa-apa. Jatuh hati pada teman boleh saja. Keonho telak mengaku dia jatuh hati pada temannya.

"Seonghyeon maunya apa?"

Pertanyaan dilempar balik oleh Keonho. Matanya teduh tatap mata temannya, beri rasa aman dan seolah pastikan kalau rasanya memang tumbuhnya sudah lama.

"Maunya jadi pacar, nggak mau temenan lagi."

Ah elah. Maaf kalau gelagapan, maaf kalau mendadak cupu kaya gini. Mana sangka Seonghyeon akan seterus terang ini.

"Emangnya udah cinta kok udah pacar-pacar aja sih?" Keonho naikan alisnya dengan satu senyum geli yang timbul di wajahnya.

"Sebellllll!"

Aduh, Keonho kalah telak kalau sudah begini. Tangannya terulur untuk usap pipi Seonghyeon pelan-pelan.

"Sukanya udah lama, denialnya itu yang selalu ada. Gue pikir ini cuma rasa sayang yang timbul karena udah lama sama-sama, nyatanya gue yang nggak mau ngaku aja kalau emang jatuh suka. Lama-lama gue kebiasa ngasih perhatian yang emang terlalu berlebihan buat dilabeli perhatian antar teman." Ucapannya Keonho jeda untuk lihat respon Seonghyeon, tapi si manis dalam pangkuan malah sibuk gesekan pipi di telapak tangannya.

Gemasnya.

"Yang salah tuh di sini gue, cintanya nggak salah, tapi cara gue ambil kesempatan setelah ciuman pertama kita di kolam yang salah. Nggak seharusnya gue ambil terlalu banyak karena lu mau, nggak seharusnya teman demikian, dan gue nggak akan bikin pembenaran atas apa yang gue lakuin dengan status yang cuma teman. Tapi yang mau gue tekankan apa yang gue lakuin setelahnya itu bentuknya gue kalau naksir, gue jatuh hati. Gue jatuh hati sama teman sendiri." Degup jantung Keonho makin tak karuan.

Ditatapnya wajah ayu sang teman. "Seonghyeon?" Gugupnya ekspresi Keonho buat Seonghyeon tertawa kecil. Wajahnya maju untuk gesekan hidungnya pada hidung milik Keonho.

"Jadi cah ayu ini siapanya Keonho?"

"Pacarku, cah ayu pacarnya aku. Pacarnya Keonho."

Geli diperut buat Keonho mau semaput. Tawa manis Seonghyeon jadi bumbu atas rasa yang nyatanya bersambut mesra.

"Iya, aku pacarnya Keonho."

Aduh, Seonghyeon kesusahan menahan senyum. Wajahnya panas, pipinya merah dan tatap bungah tepat di depan mata timbulkan rasa hangat yang kalau dirasa ya sampai dada.

"Aku juga udah lama suka." Seonghyeon mengaku pada akhirnya. "Kamu itu baik sama semuanya, tapi kebaikan kamu ke aku itu rasanya beda. Akunya terlalu nyaman dilimpahi kasih sayang sampai aku ngambil terlalu banyak. Aku tanya kita itu apa karena aku nggak mau label teman yang ada sama kita akhirnya malah bikin kamu jauh dan nanti kita nggak jadi apa-apa. Makasih karena udah jatuh cinta sama temenmu sendiri ya. Tenang aja, jatuhnya sama-sama kok."

Persetan dengan tugas yang minta diselesaikan. Keonho cuma mau sayang-sayang yang ada dalam pangkuan. Semakin dipeluk pinggangnya, jaraknya makin nihil dirasa dan jantung yang detaknya tak biasa iringi peluk mereka sore itu. Hangatnya buat Seonghyeon mendusal pada leher Keonho. Mengusak hidungnya di sana buat pacarnya tertawa setelahnya, geli dirasa tapi tak apa-apa. Ya kenapa? Apasih yang enggak buat pacarnya.

Pacar ya.

Pacar hehe.

"Keonho?"

"Iya sayang?"

"Aku mau disayangin yang banyak."

"Dikabulkan sayang. Ada lagi cah ayu?"

"Katanya dikabulkan, terus aku diciumnya kapan?"

Akan Keonho sanggupi, akan Keonho kabulkan pinta si kekasih hati. Keonho bahkan tak kuasa tahan senyumnya sendiri lantaran tanya manis yang dilontarkan. Pun jika akhirnya pagut mesra terjalin setelahnya. Ada Keonho dan Seonghyeon yang sama-sama lega sebab statusnya sudah ada. Tangan Seonghyeon melingkari leher milik lelakinya, sesekali ia usap rambut milik Keonho sembari nikmati cumbu yang dibagi. Bibirnya disesap nikmat, disayang-sayang sama yang tersayang dengan cara yang buat mabuk kepayang.

Seonghyeon melenguh senang saat tangan Keonho eratkan peluk pada pinggang. Yang ada dalam pangkuan sudah tak berjarak, apalah arti jarak saat Keonho bahkan tengah asik melahap bibir milik kekasihnya. Manis dan selalu manis. Lidah Keonho mengetuk mesra, mengetuk untuk diberi ijin merasa kekasihnya lebih jauh, sesap liur milik Seonghyeon yang ujungnya buat kepala pening. Keonho menghisap lidah Seonghyeon sampai si manis terkesiap, melenguh manja seolah naikan ego Keonho tanpa batas yang jelas. Napas keduanya berhembus saling beriringan, berlomba tarik udara untuk penuhi paru-paru selepas beri jeda untuk rasa yang makin penuh di dada.

Ibu jari Keonho usap bibir bawah Seonghyeon pelan, nikmati rupa ayu kekasihnya yang habis ia cumbu mesra.

"Mau lagi..." Ketagihan disayang lagi, penolakan jelas bukan jalannya lantaran akan Keonho sanggupi sampai rasa sayangnya tak bisa diganti presensinya.

 

...

 

Kenyataan menghantam Keonho, semalam bukan bunga tidurnya. Seonghyeon sudah jadi miliknya dan pantas saja Seonghyeon merajuk sebab Keonho malah lupa. Lelaki Ahn itu cengar cengir sendiri, pun teringat semalam Seonghyeon tak mau dipulangkan. Merengek minta bobo sama-sama yang akhirnya buat Keonho ijin pada orangtua Seonghyeon supaya anaknya menginap saja.

Pintu kamar mandi milik Keonho terbuka setelahnya, Seonghyeon keluar dari sana dengan wajah segar setelah cuci muka dan sikat gigi. Korden kamar milik Keonho pun dibuka lebar buat sinar matahari tak malu lagi. Kalau Keonho merasa sedang di surga mungkin itu hanya angannya sebab presensi Seonghyeon cantiknya luar biasa.

"Ini pacarku ya?" Malu-malu Seonghyeon dibuatnya. Si manis itu terkikik melihat rambut Keonho yang berantakan tapi sudah melempar tanya.

"Belum pacar kalau belum cuci muka sama sikat gigi." Tak pernah secepat ini Keonho beranjak, kamar mandi jadi tujuannya selepas ucapan kekasihnya. Seonghyeon yang melihat hanya tertawa saja lantaran uniknya Keonho ya lucu saja. Si manis itu matikan AC dan setelahnya buka jendela kamar milik Keonho lebar-lebar. Dihirupnya udara pagi yang segar, sembari pejamkan mata ia nikmati sapaan matahari yang mengenai wajahnya.

"YAKKKK!"

Bahkan Seonghyeon tak sadari presensinya tapi ada Keonho yang jahil keluar dari kamar mandi hanya untuk curi kecup di pipi. Jelas Seonghyeon memaki tapi pintu kamar mandi yang ditutup serta dikunci setelahnya buat Seonghyeon menghela napasnya.

Gila, baru hari pertama sudah dibuat salah tingkah sebegininya. Kedepannya Seonghyeon harus siaga sebab presensi Keonho yang sekarang jadi kekasihnya sudah mendefinisikan banyak salah tingkah yang akan terjadi tanpa aba-aba.

Tapi tak apa, jatuh cinta pada teman sendiri adalah hal yang Seonghyeon syukuri. Bangun bisa bilang sayang, presensinya nggak hilang malah jadi yang tersayang.

Oh sungguh, Seonghyeon kasmaran.

Notes:

Gigitan terakhir dari temen tapi demen alias kita selesaikan di sini buat cerita ini. Nanti jumpa lagi sama keonhyeon yang lainnya ya <3

Series this work belongs to: