Chapter Text
Jooyeon nggak pernah nyangka kebanjiran bakal masuk ke bingo list-nya di tahun ini. Setelah mendapatkan pekerjaan yang lumayan oke dan harus berpindah dari kamarnya yang sejuk dan rumahnya yang asri, pekerjaannya yang baru membuat ia harus tinggal dan bertahan hidup di sebuah kawasan yang terbilang cukup ramai dan sumpek di Jakarta Utara. Banyak pikiran what if muncul di kepalanya.
What if… kemarin nggak tanda tangan Offering Letter? What if ia memilih meneruskan kebun kopi orang tuanya? Bisa jadi teman-teman kuliahnya terkencing-kencing kalau tahu ia sudah menjadi juragan kopi di kota asalnya! Tapi ia sendiri memilih untuk mencoba merantau karena kapan lagi ia muda dan berbahaya seperti lagu Superman is Dead. Ia juga mau sesekali mencoba menjadi ikon pergaulan bebas di ibukota dan tidak stuck di kampung halamannya.
Oke, kembali ke posisi Jooyeon sekarang. Kali ini, ia sedang ada di pertigaan jalan raya—lumayan berjarak dengan kosnya. Jooyeon sedikit lagi sampai ke kosnya, tapi yang jadi masalah sekarang adalah motor Astrea-nya yang ogah dia ganti (mengandung emotional value) mogok di tengah banjir selutut. Kakinya yang jenjang dan celana kain yang baru ia setrika tadi pagi juga sudah rembes karena banjir dan ia tidak sempat menggulungnya. Badan Jooyeon yang dibungkus jas hujan plastik gocengan hasil gacha oleh tangan ibu warung mulai kuyup dan gemetar. Punggung dan tangannya terasa basah karena lubang yang hadir tanpa ada aba-aba. Yah, Jooyeon juga gak bisa berharap apa-apa sama jas hujan seharga parkir di ruko.
‘Bisa-bisanya lho Jakarta yang katanya pusat bumi kebanjiran!’ Keluhnya dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan jalanan sudah sepi. Entah karena banjir, hujan deras, atau kombinasi keduanya—Jooyeon yakin orang-orang lebih memilih untuk menginap di kantor dibanding pulang. Apa jangan-jangan dirinya keasyikan lembur dan menikmati kantor barunya, ya? Gawat pokoknya. Tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk bantu mendorong motornya kembali ke kosnya. Kaki Jooyeon sudah gemetar dan sepertinya hujan juga tidak akan lekas berhenti.
“Oon…,” gerutunya pelan. Jujur, dia lebih takut terkulai lemas karena banjir dan cuaca dingin sekarang daripada takut kena begal. Ia juga baru ingat terakhir makan jam 1 tadi dan memilih untuk tidak makan waktu malam hari. Haduh! Mau berhenti jalan pun, dia tidak berani sendiri karena gelap gulita… Alhasil, ia memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan badan lemas sambil memikirkan cara untuk ijin ke supervisornya besok. Yah, namanya anak baru—pasti susah kalau ijin sepele begini.
“Woi!”
Sayup-sayup ia mendengar suara laki-laki yang seolah-olah memanggil Jooyeon. Depannya jalan kosong. Ia menengok ke belakang juga jalan kosong. Masa dari atas sih? Setan? Duh, takut! Bisa-bisanya sudah kehujanan, kebanjiran, motor mogok—masih saja diganggu setan.
Modaro le…, pikirnya.
“Woiii yang bener aja gue nggak kedengeran…” lanjut suara itu.
Ternyata betulan dari atas. Jooyeon dengan sedikit takut menengok ke salah satu toko yang ia lewati. Terlihat siluet pemuda berbadan ramping, mungkin sedikit lebih pendek dari dia, dan semakin ia memicingkan mata, baru ia sadar sesuatu.
“Spider-Man?” Ia mengernyitkan alisnya.
Sosok itu melompat turun dari gedung dengan segala atraksinya. Betul rupanya ia Spider-Man, seperti yang sering ia lihat (lebih tepatnya, mengintip handphone teman di sampingnya) di sosial media. Fisiknya lebih kecil dari perkiraan dia dan bajunya benar-benar… ketat. Seperti melihat selebgram yang terlihat beda antara di sosial media dan fisiknya, ia jadi punya banyak pertanyaan.
Mau ngapain coba malam-malam dan hujan begini? Patroli? Nggak kedinginan pakai baju gitu aja? Eh, tapi dia pakai jumper sih harusnya aman. Tapi harus banget celananya seketat itu?
“Sendirian aja?” tanya sosok Spider-Man itu. Jooyeon hanya mengangguk pelan, masih terheran-heran. Pahlawan lokal itu lalu menunjuk motor Jooyeon yang masih dipegang oleh lelaki rambut panjang itu.
“Oh!” Dari nadanya, ia terdengar seperti remaja, atau mungkin 20an awal. ‘Tidak mungkin seumuran dengannya’ pikir Jooyeon.
“Mogok bang motornya?”
Jooyeon mengangguk lagi, menahan rasa excited-nya. It does feel like meeting a celebrity.
“Yuk, gue anter balik! Motornya gue taruh di parkiran deket sini aja, besok lo ambil. Kebetulan gue abis nangkep begal di Priok,” lanjut si topeng merah itu.
“Boleh Spi- eh maksudnya Mas Spider-Man,” jawab Jooyeon kelu. Dengan bahasa gaul dan tingkah laku kayak mahasiswa gini, pantaskah Spider-Man dipanggil Mas Spider-Man? Mas Spi? Tapi sopankah kalau ia hanya memanggil tanpa embel-embel Mas?
Sosok Spider-Man itu mengeluarkan jaring-jaringnya dari pergelangan tangan dan membungkus motornya tanpa babibu, selayaknya abang paket yang sudah biasa membungkus kendaraan untuk dipaketkan ke luar kota. Astrea kesayangannya itu ditarik dan ditaruh atas punggungnya, lalu dibawa ke atas gedung, seolah-olah motor tersebut seringan tas ransel. Jooyeon segera melipir sambil melihat sosok itu bergerak ke arah parkiran mana yang Spider-Man itu maksud. Tidak lama kemudian, Spider-Man kembali sambil membawakan segelas jahe panas yang entah dapat dari mana.
“Dari Pak Satpamnya. Besok pagi lo dateng aja ke Menara Satu. Nanti bilang sama satpamnya ambil motor titipan Spider-Man. Jahe?” tawarnya sambil menyodorkan jahe panas. Karena sudah menggigil dan perlu sedikit kehangatan, Jooyeon menerimanya dan segera meminumnya.
“Makasih ya, Mas.”
Spider-Man mengacungkan jempolnya.
“Ngomong-ngomong, rumah lo di mana? Gue anter sekalian! Banjirnya nggak bakal surut ampe subuh gue rasa.”
“Pokoknya dari bunderan masih lurus, terus di komplek sih Mas…”
“Hop in. Tenang aja, gue kuat kok.”
Jadilah malam itu Jooyeon digendong oleh pria yang badannya lebih mungil dari dirinya sembari menahan mabuk darat karena terlalu sering berayun-ayun di antara gedung, ruko, dan rumah warga sampai ke depan kosnya. Lucu dipikir-pikir kalau ada orang yang melihat pemandangan mas-mas jangkung sambil digendong Spider-Man yang sering viral di sosial media. Ia terkekeh pelan.
“Bang, jangan sambil ketawa atuh… Jadi berat…” gerutu Spider-Man.
“Eh iya! Maap Mas.”
Jooyeon tidak pernah cerita ini ke teman-teman kantornya karena takut ego dia tercoreng.
–
Hari apes memang tidak pernah tertulis di kalender. Baru semalam ia membantu dua orang yang kelihatan kasihan dan putus asa. Harap-harap ia menerima ganjaran baiknya, Jiseok malah bangun terlambat dan saluran air di apartemennya mampet. Baju dinasnya (sebagai Spider-Man!) masih basah kuyup dan kepalanya seperti berputar-putar, entah ini gejala flu atau vertigo. Buru-buru, ia membasuh muka dengan air galon dan gosok gigi. Jam menunjukkan pukul 08.30 dan kantornya masuk jam 09.00. Masih ada 30 menit untuk ia berganti baju dan menyemprotkan parfum sebanyak-banyaknya supaya tidak bau badan, lalu memesan ojek dan membeli sarapan di kafetaria dekat kantornya.
Tepat 10 menit dari ia melirik jam, ia sudah rapi dan segera keluar dari apartemen studionya melalui balkon. Kamarnya lumayan strategis karena tidak berhadapan dengan gedung lain dan tetangganya tidak ada yang tahu karena sudah sibuk dengan urusan masing-masing di apartemen murah itu. Lututnya mendarat di salah satu mobil mercy merah, senada dengan sneakersnya, dan ia segera membuka aplikasi ojek, mengabari driver kalau ia sudah perjalanan ke depan.
Sepanjang perjalanan, ia melihat sekelilingnya. Jalan-jalan sudah surut—kering bahkan— dan orang-orang mulai bekerja biasa. ‘Memang banjir tidak akan menghalangi hustle culture di ibukota’, pikirnya.
“Pak, stop di foodcourt aja,” Jiseok menepuk punggung driver tersebut dan motornya berhenti. Ia segera berjalan menuju foodcourt buat antre bubur kacang hijau kesukaannya, dengan harapan sakit kepalanya berkurang dan ia tidak jatuh flu. Walaupun dia punya kekuatan super, ia juga bisa jatuh sakit. Apalagi ia tinggal sendiri!
“Eh lo tau nggak begal di Priok semalem?” Sayup-sayup, ia mendengar suara dua orang bercakap-cakap di antrean belakangnya ketika menunggu bubur kacang hijau dengan santan dan ketan hitam sebagai topping itu dibungkus. Alis Jiseok terangkat, ingin tahu kelanjutannya. Maka jadilah ia sedikit memundurkan kepalanya dan mempertajam pendengarannya.
“Weh iya barusan banget gue liat di Instagram. Itu Spider-Man ya yang nangkep? Mana pas ujan gede lagi.”
“Emang lo punya Instagram, Joo? Kok nggak follow gue sih?”
“Punyaaa.. Tapi gue ngintip pake Instagram kantor sih. Ntar gue follow deh.”
“Ah elu, padahal udah sebulan masih nggak temenan ya sama orang kantor…”
Sayup-sayup, terdengar suara kekehan familar di telinga Jiseok. Suara tawa yang semalam ia dengar di gendongannya.
“By the way nih, entar mau temenin gue ambil motor di Menara Satu nggak? Semalem mogok terus gue titipin di sana. Lo sering ke Menara Satu kan?”
Mendengar ini, Jiseok sedikit menengokkan kepalanya—entah penasaran atau kembali memastikan sesuatu. Di belakangnya ada dua pria, satu berambut pendek dan satu lagi berambut sebahu legam dan dikuncir separuh. Ia tidak yakin apa pria tersebut bekerja di sekitar kompleks kantornya, tapi melihat perawakan dan caranya berbicara—termasuk logatnya—ia yakin akan satu hal.
Jiseok tersenyum kecil dan mengambil kacang hijau yang sudah dibungkus oleh penjual di depannya. Sebelum ia meninggalkan foodcourt, ia kembali menengok ke belakang sekilas, berusaha menghafal muka pria gondrong di belakangnya.
Joo.
