Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-06
Words:
1,030
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
62
Bookmarks:
2
Hits:
438

It's Midnight, So Close Your Eyes

Summary:

"Kamu belum ngantuk? Udah tengah malem, lho.”

Samar-samar di tengah lagu yang terputar melalui penyuara, Max mendengar ucapan lembut suaminya dari arah belakang. Max yang sudah tenggelam pada bait-bait lirik lagu pun bergerak untuk menyudahi sesinya dan mematikan daya ponselnya.

"Belum. Tapi aku udah mau tidur, kok."

Work Text:

Menu makan malam Max dan George sama seperti yang sudah-sudah: satu bakul nasi putih hangat, sepiring tumis kangkung dengan racikan saus tiram instan, dan beberapa potong tempe goreng yang dibumbui dengan bawang putih ditumbuk halus.

Menu yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sebagai santapan yang membosankan, namun untuk Max dan George yang sedang terengah-engah di himpitan ekonomi saat ini, rasanya sajian tersebut jadi hal yang paling mewah dan terasa dekat.

Pasangan serasi ini paling sering bertemu di malam hari setelah seharian mencari pundi-pundi rupiah. Max terbiasa berangkat pagi-pagi buta untuk menarik pelanggan yang membutuhkan jasa transportasinya. Kemudian pulang sejenak untuk mengantar George yang bekerja di sebuah toko buku lawas sampai matahari tenggelam. Sehingga pada saat malam menjadi satu-satunya waktu di mana Max dan George bisa bertemu kembali dan beristirahat di pelukan masing-masing.

Dalam pusaran badai pikiran yang berkecamuk tanpa akhir, Max kini duduk terpekur di teras kos dengan kedua telinga yang disumpal penyuara jemala. Pandangannya terarah ke langit untuk memandang bulan purnama sembari menerima sejuknya semilir angin malam.

Dari segala kesibukan menjadi supir ojek online dan hiruk pikuk jalanan yang membuat kesabarannya mendidih, setidaknya Max masih bisa menemukan ketentraman saat malam hari ketika banyak aktifitas terhenti dan orang-orang sudah tidur terlelap hingga esok pagi.

Kegundahan masih hinggap di dalam diri Max. Periode keuangan akhir bulan yang berkontradiksi dengan kenaikan harga di mana-mana seakan menjadi sebuah bongkahan batu besar yang tertahan di kerongkongannya. Barisan surel permohonan kerja di berbagai perusahaan bonafit yang Max kirimkan tak kunjung menerima balasan sehingga membuat ia teronggok bisu di teras. Dan melihat nominal angka yang tersisa di rekening semakin membuat Max seperti diikat kuat oleh seutas tali tambang yang mencekik lehernya hingga sesak.

Inginnya Max bersikap acuh tak acuh dan fokus pada apa yang hendak ia tuju. Namun rentetan pertanyaan personal dari sanak keluarga yang kerap menodong Max tanpa basa-basi itu lambat laun jadi berputar hebat di dalam kepalanya.

“Kamu belum ngantuk? Udah tengah malem, lho.”

Samar-samar di tengah lagu yang terputar melalui penyuara, Max mendengar ucapan lembut suaminya dari arah belakang. Max yang sudah tenggelam pada bait-bait lirik lagu pun bergerak untuk menyudahi sesinya dan mematikan daya ponselnya.

“Belum. Tapi aku udah mau tidur, kok.”

Max menoleh ke arah George yang bersandar di ambang pintu. Tampak nyaman dalam balutan kaus Max yang terlihat kebesaran dan membiarkan ujungnya jatuh menutupi paha George.

“Aku ke kasur duluan ya,” George mengulas senyum tipis. “Jangan kelamaan di luar, nanti masuk angin.”

Max membalas dengan tersenyum lembut.

“Iya, sayang.”

Malam semakin larut dan angin yang dingin semakin membuat tubuh bergidik. Max akhirnya beranjak dari kursi dan masuk ke dalam. Mengunci pintu secara dua putaran dan menutup jendela kamar kos rapat-rapat lalu meletakkan ponsel miliknya di atas meja.

Semburat oranye yang tercipta dari lampu di nakas sebagai satu-satunya penerangan menyebarkan percikan hangat ke setiap sudut ruangan.

George sudah duduk bersandar di ujung ranjang dengan selimut yang menutupinya sampai pinggang. Menepuk sisi kasur yang kosong sebagai isyarat bagi Max untuk datang menghampirinya di sana.

Pemandangan yang menenangkan itu berhasil membuat Max tersenyum dan dadanya terasa penuh. Kehadiran George selalu mampu membuatnya utuh dan menghempas kuat segala kegelisahan yang menyelimuti pikirannya.

Sepintas kemudian Max bergabung dengan George di ranjang dan menuntun kekasihnya untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Menuntun halus kepala George untuk berbaring di ceruk lehernya sembari memeluk tubuh George yang selalu terasa nyaman.

“Kamu overthinking lagi?”

Max menyunggingkan senyum tipis sembari menerawang ke arah langit-langit kamar kos yang tidak pernah berubah selama mereka huni dua tahun belakangan.

“Keliatan ya?”

“Kamu kalo lagi banyak pikiran jadi pendiam,” George memilin kaus Max sembari menghirup aroma tubuh Max yang menjadi favoritnya. “Padahal biasanya banyak tingkah.”

“Kamu lebih suka aku yang pendiam atau banyak tingkah?”

“Aku lebih suka kamu yang apa adanya.”

“Jangan apa adanya, dong. Kalo kata Tulus, tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan.”

“Aku mah bukan jaksa yang banyak nuntut,” George mendongak guna menatap Max lebih jelas. “Dari awal aku udah yakin sama apa yang aku mau, dan itu kamu.”

Max terkekeh sembari menggerakkan tangan kanannya untuk menelusup ke dalam kaus George dan membelai kulitnya yang halus. Memberi kecupan-kecupan manis di dahi, pelipis, pipi, dan berakhir di bibir George yang selalu menjadi kesukaannya.

“Justru karena itu sayang, aku berusaha biar selalu bisa memenuhi apa yang kamu mau dan kamu butuhkan.”

“Semua yang kamu usahakan, lakukan, dan kasih untuk aku itu udah lebih dari cukup, sayang,” tangan George terulur untuk membelai pipi suaminya. “Jadi, kamu lagi ada masalah apa?”

Jeda beberapa saat menjadi jembatan yang memisah perbincangan mereka. Max masih memeluk George namun tatapannya terasa kosong.

“Aku bingung, kenapa ya aku selalu ngerasa ga berhasil,” Max membuang napas berat dan George dengan sabar menanti barisan kalimat yang akan Max utarakan. “Aku apply kerja sana-sini tapi belum ada satu pun panggilan yang dateng. Aku coba peruntungan dengan banting setir jadi ojol tapi nyatanya gaji tetep pas-pasan. Dan aku yang biasanya cuek sama omongan orang, sekarang malah jadi kemakan beneran.”

Tangan George yang semula membelai pipi kini bergerak turun untuk mengusap dada Max.

“Kamu pasti capek, kan?”

Max tertegun, “Aku bahkan baru bisa ngaku sekarang kalo sebenernya aku capek,” kedua matanya menatap milik George yang masih setia memperhatikannya. “Aku lemah, ya?”

“Engga sayang,” George mengecup rahang Max. “Justru kamu itu kuat karena bisa nerima hal-hal yang kamu rasain selama ini.”

George mengulas senyum tanpa memutus kontak mata dengan Max.

“Tapi bukan berarti dikuat-kuatin kalo emang udah ga sanggup, ya. Mengeluh itu wajar, kok.”

Kalimat terakhir membuat Max terenyuh dan semakin mendekap erat tubuh George yang berbaring di pelukannya. Mencium dahi George dalam-dalam untuk menyalurkan perasaan Max yang semakin membuncah.

“Aku minta maaf, aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu.”

Mendengar penuturan Max membuat George menekuk bibir dan melayangkan protes kecil.

“Jangan bilang gitu, jangan minta maaf,” George menarik kaus Max pelan dan mendekatkan wajah mereka berdua. “Kamu itu satu-satunya orang yang sayang sama aku dan perjuangin aku dari dulu. Bahkan keluargaku aja ga pernah bersikap baik kayak kamu.”

Setiap kata yang terlontar dari mulut George diucapkan dengan bergetar dan menahan air mata yang mulai menggenang di kedua pelupuknya. Max menempelkan dahinya pada George yang memejamkan mata dan ia memangkas jarak hingga belah bibir mereka menyatu.

“Dan kamu satu-satunya rumah tempat aku pulang, George-ku sayang.”