Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-31
Updated:
2026-08-08
Words:
4,729
Chapters:
1/2
Kudos:
4
Hits:
84

Kecupan untuk Bayi Besar

Summary:

Cuma daily kakak cantik sama adek timnas, halo dek kalah gg sama timnas ini mah

BACA NOTE DULU DEH MENDING....

Notes:

gw gila, makasih. Enjoy yah kalo mau hujat dan marah tidak terima ga masalah,, 🙂‍↕️ gw terima dengan senang hati loh ya 😃

sekali lagi gw terangin kalo GW UDAH GILA makasih udah baca.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text


ya intinya gitu njir belum kepikiran #jujurjanggal

Sore ini matahari bersinar cukup terik seperti memanggang bumi rasanya. Seola-olah tiap orang punya matahari tepat sejengkal di atas kepala mereka masing-masing, tentu kondisi ini membuat James mengeluh di setiap menit dan detik. Padahal AC mobil sudah dinyalakan dan sudah super dingin menurut Carmen, namun masih juga belum cukup buat lelaki di sebelahnya berhenti meracau kepanasan.

 

"Men gila gabisa dingin lagi kah, gerah bangettt lu ga gerah apa?!"

 

Carmen merotasikan bola matanya sebal, sudah terlalu malas menanggapi James yang tak henti-hentinya berkicau karena gerah. Lagian mau bagaimana lagi, namanya juga musim panas, ya sesuai judulnya saja pasti panas lah otak kok ga dipake buat mikir. Jadi daripada membuang tenaga berdebat dengan James lebih baik Carmen diam dan fokus menyetir, sebentar lagi ada belokan dan ia harus segera menurunkan James di sebuah gedung yang menjadi tujuan mereka, biar ia bisa cepat mendinginkan kepalanya dan menjauhkan sumber masalah serta emosinya.

 

Tidak perlu menunggu lama karena skill mengemudi Carmen yang luar biasa ugal-ugalan, mereka akhirnya sampai di tempt tujuan. Di depan sebuah gedung dengan sebuah logo club sepak bola terpampang besar, Carmen buru-buru menepikan mobilnya lalu menoleh sambil tersenyum formal kearah James. 

 

"Sudah sampai ya tuan putri, lekas lah engkau menghampiri kesatria pelari mu itu sebelum GUA YANG MALAH NENDANG LU KELUAR DARI MOBIL GUA."

 

James mendelik mendengar ucapan Carmen, sensi amat sih,,, mang kenapa nYak. Tapi James memilih menurut dan melepas seatbeltnya sambil merangkul tas selempang miliknya. "Iya iya kenapa sih marah marah mulu, hamil ya lu?" James balas berucap asal tanpa menoleh kearah Carmen sekalipun, tidak tau saja dia kalau Carmen sudah melotot sebal mendengar ucapan yang James lontarkan. Jika tidak cepat-cepat sudah bisa di pastikan James akan habis nafas karena di piting lehernya oleh Carmen.

 

James masih belum sadar rupanya, ia masih santai membenarkan rambutnya sambil menyiapkan mental untuk membuka pintu mobil, bersiap untuk menghadapi panas luarbiasa yang akan menyengat tubuhnya. 

 

"Yaudah cabut ya, makasih me- WOI!"

 

James buru-buru membuka pintu mobil sebelum terlambat, walau kaosnya malah jadi korban gara-gara ditarik Carmen- mungkin habis ini kaosnya bakal longgar tapi yang penting selamat lah. Beruntung James berhasil keluar dari mobil dan dari cengkraman Carmen, sebelum menutup pintu ia sempat menampilkan jari tengahnya untuk gadis di kursi kemudi, yang tentunya sama juga di balas jari tengah oleh Carmen lalu langsung ditinggal tancap gas oleh gadis itu.

 

Di perhatikannya mobil itu melaju di jalanan, setelah itu James membawa langkahnya untuk masuk ke dalam gedung. Sempat ia disapa oleh pegawai yang berjaga di depan, yah karena James sudah sangat familliar di lingkungan ini jadi tentu ia sudah akrab dan balik menyapa si pegawai dengan ramah. Kemudian dibawa lagi langkahnya menuju suatu tempat lain.

 

Sudah kepalang hafal James dengan rute yang sudah biasa ia lewati kalau kemari, dulu sih kebingungan setengah mampus dan tidak mau jauh jauh dari sosok yang bekerja disini. Tapi sekarang mah chill aja bosku, bahkan James sudah kenal beberapa pegawai dan rekan-rekan lain. Begitu tiba di ujung loromg yang menampilkan pintu kaca terbuka lebar dan hamparan rumput hijau membentang luas, mata James otomatis menyipit karena silau. Ia gunakan salah satu tangannya sebagai payung agar tetap dapat melihat sekitar, kan tidak lucu kalau misal dia kesandung atau jatuh atau apalah yang memalukan, lapangan itu lagi rame banget loh ya.

 

Seolah Vampire yang takut akan sinar matahari, James memilih menghimpit dinding sepanjang jalan menuju tribun, berusaha memilih tempat teduh agar tidak terkena panas secara langsung.

 

Penampilan James cukup mecolok bisa dibilang, dengan kaos longgar tanpa lengan yang ia padukan dengan outher oversize (jujur ia agak menyesal pakai outer gede dan bahannya yang jatuh itu, walau bisa menghalau panas tapi bikin super duper mega gerah..., untung stylish) dan celana jorts sebetis lengkap dengan tas selempang besar yang ia bawa buat atensi salah satu pemain yang tengah rehat sejenak itu langsung cepat menemukannya. Di tambah warna rambut ginger-nya yang mencolok dibanding warna rambut orang-orang sekitar, makin-makin buat sosoknya mudah dikenali.

 

Cubarsi jadi terdistraksi dari kegiataannya untuk sesaat, hanya untuk mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang begitu ia kenal sedang berjalan menghimpit tembok. Ia hanya diam mengamati, mengikuti gerak gerik lelaki itu, dari James yang mulai menaiki anak tangga tribun dan memilih kursi di atas yang tidak terlalu panas serta teduh kemudian duduk di sana.

 

Tingkah laku sederhana yang malah buat Cubarsi terkekeh gemas melihatnya, sudah kecintaan jadi maklum saja. Duh rasanya ingin ia cepat-cepat menyudahi kegiatan berlatih yang itu itu terus agar ia bisa segera menghampiri si kakak cantik diatas tribun sana, ingin dia rasanya namun apadaya. Pelatih malah kembali menyalakan peluit pertanda sesi latihan harus dimulai kembali. Sebelum itu ia tatap lamat lamat sosok James di tribun dengan binar harap semoga si kakak cantik sadar kalau ia sudah sadar akan kehadirannya. Dan benar saja, beruntungnya Cubarsi hari ini karena James langsung melambaikan tanggannya sambil tersenyum manisss sekali, mana matanya menyipit entah karena panas atau berusaha memfokuskan pandangannya untuk melihat dirinya tapi masa bodo, James luar biasa manis hari ini.

 

Untuk menjawab lambaian tangan dan senyum manis si kakak cantik, Cubarsi balik melambaikan tangannya singkat lalu kembali berlari ke kerumunan pemain di tengah lapangan, sesekali menengok ke belakang seolah memastikan James masih ada di tempatnya dan melihat jawabannya.

 

Permainan latihan kembali dimulai (duh gw ga paham bola njir?!? pjok aja kalo ada materi futsal cuma gw bayangin doang kagak pernah gw lakuin?!?!) dan dari tempatnya duduk James ikut memperhatikan ke arah lapangan. Netranya menelaah tiap tiap orang dengan jersey yang senada, mencari kekasihnya di antara gerombolan orang yang sedang berkumpul di tengah lapangan.

 

Tidak butuh waktu lama untuk James menemukan Cubarsi di tengah lapangan, tengah berlari menuju ke posisinya. Selama latihan di mulai James hanya diam memperhatikan permainan, menikmati suasana pertandingan yang tengah berlangsung. Sesekali melihat-lihat atraksi tendangan, sundulan, atau apalah ia tidak begitu paham tapi cukup menyenangkan untuk ditonton. 

 

Sesekali ia memperhatikan Cubarsi yang tengah bermain, memang nakal anak itu kakinya suka asal menjegal orang untuk merebut dan mempertahankan bola. Kadang ikut meringis kalau kalau melihat ada pemain yang jatuh tersungkur atau semacamnya, duh memang tidak sakit ya...dia saja ikut merasa ngilu padahal cuma ngelihat doang ga ngerasain.

 

Sepanjang permainan James sama sekali tidak peduli soal tim Cubarsi berhasil gol banyak atau tidak, dia mah tidak mendukung tim mana pun, paling ikut bersorak kalau ada yang mencetak gol, nol minat mendukung kekasihnya sendiri. Sampai dua puluh menit sesi permainan berlangsung peluit dari coach pun sudah berbunyi lantang menandakan permainan telah usai, semua pemain lantas mulai berkumpul menghampiri sang pelatih.

 

Cukup lama James menunggu di tribun selama sesi penutupan dan pendingan dan akhirnya sudah terlihat hilal nya karena satu persatu mulai meninggalkan lapangan, berpencar kesana kemari. Termasuk juga Cubarsi yang langsung berlari dari tengah lapangan, James tertawa kecil melihat anak itu berlari dengan riang kearah tribun, pandangan mereka bertemu sesaat yang malah makin buat Cubarsi menaiki anak tangga tribun dengan tidak sabaran.

 

"Awas jatoh" James menegur sebelum kejadian, memperhatikan langkah yang di pijak lelaki itu takut takut kalau tiba-tiba salah pijak.

 

Pau tersenyum lebar begitu tiba di hadapan James, girang betul anak ini. Tanpa perlu di suruh Pau langsung mendudukan diri di samping James, netranya menatap lekat lekat sosok cantik di sebelahnya tanpa bergeser setitik pun. "Kakak kapan kesini??" Tanya Pau dengan polos, padahal ia sudah lebih dulu melihat kedatangan James sedari tadi tapi pura pura tidak tau saja lah, mungkin dia mau modus atau basa-basi.

 

James inisiatif memberikan tumblr minumnya kepada Pau, isinya hanya air putih saja yang sudah setengah ah yang penting masih bisa diminum. Tentu Pau terima tumbrl itu untuk di minum. "Tadi jam berapa ya lupa deh aku, pas sebelum kamu main" Jawab James kemudian, ia kembali sibuk mencari cari sesuatu di tasnya.

 

"Kakak cari apa?"

 

James menoleh sekilas mendengar pertanyaan Pau, "Handuk, aku udah bawain buat kamu tapi kok malah gaada ya? bentar"

 

Pau hanya diam mengamati, ikut melirik ke dalam tas James berusaha membantu mencari dengan melihat. Untungnya juga ketemu, James menghela nafas lega begitu ia berhasil menemukan handuk kecil yang bersembunyi di dalam tasnya. Lalu dengan telaten mulai mengusap peluh di wajah dan leher Pau.

 

Diperlakukan manis secara tiba-tiba seperti itu mana bisa Pau menahan senyumannya, wajahnya yang memerah karena matahari jadi bertambah merah gara-gara perlakuan James. Pau terkekeh gemas yang kemudian digenggam balik tangan James yang masih fokus mengusap wajahnya, buat James malah ikut tersenyum salah tingkah. 

 

"Apasih, itu loh muka kamu mateng banget. Kamu ga risih apa keringetan banyak gitu?"

 

Pau menggeleng pelan sebagai jawaban, malah secara tiba-tiba mengecupi dan mengusap sayang pergelangan tangan james berkali kali, duh dik keliatan banget kecintaannya tuh. James sendiri langsung tertawa geli dengan tingkah laku si brondong yang kelewatan manis, mudah luluh sekali ia dengan kelakuan Pau.

 

"Kakak cantik banget, tadi habis foto?" Pau tiba-tiba mengalihkan topik. Sepertinya ia terdistraksi dengan penampilan James hari ini, masih keliatan segar dan luar biasa cantik. Rambut ginger-nya yang di tata dan jejak riasan di wajah ayu James yang bisa langsung Pau lihat, bahkan perona pipi yang sebelumnya samar terlihat kini mendadak mencolok di pipi James, sepertinya lelaki itu jadi salah tingkah gara gara pujian yang Pau lontarkan, loh kan memang fakta kalau James hari ini cantik pake banget.

 

Pau lagi lagi dibuat gemas dengan gerak gerik yang lebih tua, ia tertawa kecil dan menangkup wajah James dengan salah satu tanganya. Habis si kakak malah berusaha memalingkan wajahnya, memangnya kenapa sih kan dia pengen melihat wajah James. "Kok gitu saltingnya, sinii lihat akuu"

 

Pau coba untuk mengarahkan wajah James menghadap dirinya walau James lebih memilih untuk memalingkan wajah, tampak enggan untuk balik menatap Pau di hadapannya. 

 

"Lihat aku dulu, heii" Pau makin gencar mencuri tatapan dari sang kekasih, menahan dagu James agar tetap menghadap wajahnya. Membiarkan James yang sudah pasrah memberontak menjadi malu malu kucing untuk menatap. Dari jarak sedekat itu, rasanya ia bisa memperhatikan setiap detail yang biasanya luput ketika mereka berbicara dari seberang ruangan. Matanya terlebih dahulu jatuh pada sepasang mata yang masih enggan menatap balik, kemudian turun mengikuti garis hidungnya hingga berhenti pada bibir yang sejak tadi mengerucut kecil karena malu.

 

Sudah berkali-kali ia melihat wajah itu, tetapi entah kenapa selalu saja ada sesuatu yang membuatnya ingin memperhatikannya sedikit lebih lama. Seperti bagaimana alis si cantik yang bergerak ketika kesal, sudut bibirnya yang terangkat ketika senang, sampai kebiasaan kecilnya memalingkan wajah setiap kali mendapat pujian.

 

Seolah terhipnotis, Pau sama sekali tidak memalingkan pandangannya sedikit pun hanya terpaku pada sosok James. Ditatap sebegitu intens nya James sendiri mana tahan, degup jantungnya berdetak tidak karuan, gugup juga tiba-tiba menyergap dengan perasaannya yang dibuat campur aduk. Duh bisa stop ga sih, kebiasaan nih si Cubarsi kalau natep orang ga bisa santai.

 

Untuk memutuskan tatapan mereka James langsung mengalihkan pandangannya ke arah lapangan, sambil menoleh supaya Pau terdistraksi dan juga ikut mengikutinya. Dan sesuai jebakan, begitu James menoleh Pau sempat terdiam sejenak yang kemudian ia mengikuti arah pandang James. Mungkin mengira ada sesuatu yang menarik di lapangan hingga buat kakak cantiknya menoleh tiba-tiba, tapi nyatanya tidak ada apa-apa di sana, hanya tanah lapang yang sudah kosong melompong.

 

Dengan raut kecewa Pau langsung balik menghadap James kembali, bibirnya sedikit mengerucut sebal. "Kenapa sih kak?" Protesnya, mukanya sudah betulan bete mungkin lelah latihan, terkena panas terus menerus, dan sekarang malah diisengi oleh James.

 

Yang lebih tua malah balik meledek dengan mengendikkan bahunya tanpa rasah bersalah, dan pura pura sibuk membereskan barang bawaannya. "Udah kamu ganti dulu sanaaa, terus habis ini pulang." Tegur James kemudian, ia juga dengan iseng mendorong dorong bahu Pau supaya cepat beranjak. Helaan nafas terdengar setelahnya, masih dengan ekspresi sebal nan kecewa Pau memilih menurut dan mulai bangkit. Ia sempat mengambil salah satu tangan James yang menganggur dan dengan santai nya Pau mengecup punggung tangan itu.

 

Gerakan spontan yang buat James langsung diam tak berkutik, sedangkan Pau malah langsung pergi meninggalkan nya begitu saja. Menuruni anak tangga tribun dan perlahan mulai menghilang dari pandangan James. Sumpah muka James sudah semerah kepiting rebus saat ini, bahkan ia masih terdiam sambil berkedip kedip merasa tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi.

 

Pau Cubarsi sialan, lihat saja nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil Pau. Pau sendiri masih sibuk mengemudi sedangkan di kursi penumpang James duduk dengan santai, memandangi kaca dan tidak banyak bicara karena jujur ia mendadak jadi mengantuk, mungkin akibat jadwal tidurnya yang berantakan jadi sore-sore begini malah sudah mengantuk. 

 

Pau di sebelahnya ikut melirik sekilas. Diperhatikan nya sang kekasih yang duduk lemas dengan mata yang mulai sayup-sayup menutup, ia terkekeh pelan kemudian dengan lancang salah satu tanganya berpindah posisi ke atas kepala James. Mengusak surai lembut itu sambil sesekali menjawil pipi James. Jelas dibalas erangan kesal dari yang lebih tua karena malah menganggu disaat ngantuk ngantuknya.

 

"Arrghh!"

 

Tidak takut sama sekali, Pau malah makin gencar menjawil dagu James sambil mencubit pelan.

 

"Pauu! jangan jahil gitu ah"

 

James tepis tangan Pau yang menggoda dirinya, tubuhnya semakin dirapatkan ke sisi pintu mobil tampak enggan disentuh atau diganggu. Kepalang gemas tapi Pau pilih untuk mengalah, tidak lagi menganggu James. Malahan tangannya ia bawa turun mencoba untuk menggenggam pergelangan tangan yang lebih tua, beruntung tidak ada penolakan jadi Pau dapat leluasa menggenggam tangan James sambil ia usap pelan.

 

"Nanti mau makan diluar atau di rumah aja?" Pau bertanya dengan lembut. Sesekali ia menatap James yang tidak menjawab sama sekali, masih pada posisinya bersandar lemas pada kaca mobil. "Heii aku nanya lohh kok ga dijawab"

 

Usai teguran itu, James hanya balas dengan melirik malas, lalu diam dan malah bengong menatap jalanan di depan. Kepalang gemas, Pau tangkup wajah James dengan satu tangannya, mengapit pipi lelaki itu sampai bibirnya menggerucut lucu.

 

"Kalo ada yang nanya itu dijawab cantikkkkk, kakak cantik mau makan di mana? mau delivery atau di luar"

 

"Di rumah"

 

"Hm? berarti delivery aja?'

 

James mengangguk lesu sebagai tanggapan, terlalu mengantuk untuk berdebat soal makan malam. Untung Pau juga peka untuk memilih makanan pesan antar, jadi tidak perlu repot repot memasak.

 

Sepanjang perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Pau fokus mengemudi sedangkan James bahkan sudah terlelap lebih dahulu, begitu pulas sampai tidak sadar kalau tangnnya dimainkan dengan gemas oleh Pau layaknya stress ball.

 

Setibanya di apartemen James dengan Pau yang sudah memarkirkan mobilnya, ia berniat untuk membangunkan si cantik yang masih pulas tertidur di sebelah. Tapi tidak tega rasanya, James tampak damai dalam lelapnya, wajahnya tenang dengan hembusan nafas yang teratur, dan matanya yang sedikit terbuka-ciri khas James ketika tidur. Pau malah terkekeh gemas, sempat menimang-nimang untuk ia gendong saja pacarnya itu atau dibangunkan.

 

Dua pilihan yang beresiko sebenarnya karena ia sudah menebak reaksi James kedepannya. Kalau digendong nanti dia akan terperanjat dan marah-marah sepanjang jalan, sedangkan kalau dibangunkan James bakal sama kagetnya atau mungkin malah merengek. Dan dari resiko tersebut, Pau memilih untuk membangunkan James.

 

Ditepuknya pelan pundak James. "Kak...bangun yuk udah sampai"

 

James menggeliat pelan, perlahan membuka matanya yang berat akan kantuk. Menguap pelan sambil menoleh ke arah Pau. "Emmnh?'

 

"Udah sampe apart, bangun dulu habis ini bisa tidur lagi." Bujuk Pau sambil menepuk pelan pipi James. Pelampiasan gemas dengan tingkah lelaki itu, ia kemudian keluar dari mobil dan memutar untuk membukan pintu kursi penumpang.

 

Tangannya terulur ke arah James dan diterima dengan baik. James masih sedikit linglung, hampir saja oleng kalau tidak segera Pau tangkap tubuhnya dan merangkulkan tangannya dengan erat dipinggang ramping yang lebih tua. Usai menutup kembali pintu mobil dan memastikan mobil sudah terkunci, mereka pun berjalan beriringan ke unit James.

 

Pau masih setia merangkul James dengan erat, membiarkan lelaki itu bersandar nyaman pada dirinya. Masih mengantuk sepertinya karena cara berjalannya yang terkesan malas dan tak bertenaga, gapapa dah pundak kiri penuh tas tapi pundak kanan di senderin James, cuma ini masalah hidup yang bisa Pau terima.

 

Begitu tiba di depan pintu unit milik James, Pau langsung menekan kode sandi dan setelah pintu terbuka entah dapat kekuatan dari mana James langsung melepas sepatunya dan berlari terbirit-birit masuk ke dalam kamar yang tak lama terdengah dentuman kasur, Pau bisa menebak kalau si cantik langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.

 

Sebelum menyusul, Pau terlebih dahulu menaruh barang barang di sofa dan melepas jaket yang ia kenakan. Baru setelahnya ia menyusul James yang sudah terlebih dahulu berada di kamar. Bisa Pau lihat James yang sedang tengkurap di atas kasur dengan wajahnya tenggelam di bantal. Pau menghampiri dan duduk di tepi kasur, sambil mengelus lembut surai yang lebih tua.

 

"Gak mandi dulu? biasanya langsung mandi"

 

James menggeleng pelan. "Nanti ah, mau tiduran bentar. Kamu kalo mau mandi duluan aja gapapa"

 

Pau menurut, ia kemudian menunduk sedikit untuk mengecup singkap pucuk rambut James sebelum bangkit dan menuju ke kamar mandi. Sudah hal biasa Pau menumpang tinggal di apatemen James selama mereka berpacaran, tapi bukan mokondo loh ya, memang tidak boleh menginap di tempat tinggal pacarnya sendiri? Pau kan juga mau tidur berpelukan sambil cium-cium kakak James cantiknya itu. Bahkan saking seringnya Pau menginap, beberapa potong pakaian dan barang-barang Pau banyak yang ditinggal di apartemen, katanya sih biar tidak repot bolak balik dan mempermudah, jadi James biarkan saja asalkan Pau masih mau ikut andil dalam urusan bebersih. 

 

Selama Pau mandi, James akhirnya bangkit dari tidurnya dan langsung melempar outer dan beltnya ke atas kasur. Tubuhya begitu lelah hari ini rasanya, habis semalam ia baru bisa tidur jam tiga pagi, belum lagi jam enamnya ia sudah harus bangun dan bersiap-siap kembali untuk sesi pemotretan. Kalau James tidak tepat waktu, nanti dia bakal kena omel habis-habisan dari Carmen. Membayangkannya saja sudah ogah, makanya James begitu mengantuk akibat kurang tidur dan kelelahan. Beruntungnya hari ini ia dipulangkan lebih awal sehingga di jam tujuh malam ia sudah sampai di apart dan bisa beristirahat sejenak,

 

Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Pau yang bertelanjang dada dengan celana pendek serta handuk di kepalanya. James memilih acuh, masih sibuk membersihkan wajahnya dengan cleansing balm. Habis sudah sering ia lihat hal seperti itu, memang apa yang mau dilakukan kalau Pau begitu? Duh skip dulu ya malam ini, soalnya James lelahhh sekali puasa dulu ya.

 

Pau juga tidak menujukkan gerak gerik aneh atau yang bagaimana, biasa saja dan langsung membuka lemari pakaian. Mencari pakaiannya di tumpukan lipatan baju, begitu ketemu juga langsung ia pakai. Setelah itu, Pau malah memungut outer dan belt James yang tadi dilempar asal oleh pemiliknya, mengantung belt di tempatnya dan kemudian keluar kamar. Berniat menjemur handuk dan menaruh pakaian di tumpukan baju kotor mungkin.

 

Sekembalinya Pau ke dalam kamar, eksitensi James sudah tidak ada di sana. Sementara suara shower yang menyala dari kamar mandi menandakan adanya seseorang di dalam sana. Pau sendiri tidak mau berbuat yang aneh-aneh, ia sama lelahnya hari ini. Latihan rutin yang selalu menguras tenaga dan fisiknya jelas sangat melelahkan rasanya, jadi ia memilih untuk langsung merebahkan diri di atas kasur sembari menunggu James selesai mandi.

 

Cukup lama menunggu sambil bermain ponsel, James akhirmya keluar dari kamar mandi. Sudah segar dengan piyama lengkap bewarna hijau satin, duh melihatnya Pau jadi terpesona. Kenapa sih si kakak itu mau bagaimana pun tetap cantik secara effortless? kan Pau jadi mau cium.

 

"Kak..."

 

"Hmm"

 

James tidak menoleh, melainkan balik menatap lewat pantulan cermin. Sekarang dirinya tengah berdiri di depan kaca, berniat memakai perawatan wajahnya sebelum tidur. Tapi rupanya bayi besar nya itu malah keliatan mencurigakan dari pantulan kaca.

 

Lama menunggu balasan dari Pau yang tak kunjung menjawab dan malah menatapnya terus terusan, James akhirnya memilih cuek dan kembali melanjutkan memijat wajahnya dengan toner. 

 

"Kakak sayang..."

 

"Ck! apasih"

 

Tepat setelah James berdecak sebal. Pau tiba-tiba merengkuhnya dari belakang, dengan erat memeluk pinggangnya dan langsung bersandar manja di ceruk leher James. Jelas ini siaga satu buat James, dia lagi skincarean woy?! ini mah alamat sia sia dia udah pakai toner sama serum wajah, karena kemudian Pau langsung membubuhkan kecupan gemas ke pipi James.

 

Yang dimana saking gemasnya, Pau malah seperti menghisap ketimbang mencium. Bahkan bunyi kecipak basah terdengar begitu Pau menyudahi kecupannya, pipi James juga langsung basah gara-gara kelakuan Pau. Alih-alih memberontak atau menampilkan ekspresi marah, James malah memejamkan matanya pasrah, bahkan helaan nafasnya begitu berat terdengar. Sebenarnya ini jauh lebih berbahaya daripada James yang mengelak atau semacamnya, tapi Pau memilih tidak peduli dengan bahaya yang akan datang, ia malah menampilkan cengiran lebar sambil membubuhkan kecupan kecupan di perpotongan leher yang lebih tua.

 

"Kakak cantik banget sih...gak bisa tahan buat ga cium kakak. Maaf ya cantik soal skincarenya" Celetuk Pau kemudian. Ia tatap netra kekasihnya melalu cermin, berharap harap si cantik mau luluh dengan wajah memelasnya.

 

"Pau...."

 

"Hmnnn??"

 

"Aku lagi pake skincare loh...."

 

"Iya, biar tambah cantik kan??"

 

Sumpah demi apapun James kesal melihat wajah tengil sosok yang tengah memeluknya erat ini. Ingin sekali ia jitak kuat-kuat dahi kekasihnya tapi ia urung dan memilih untuk melepaskan rengkuhan Pau dari pinggangnya. Sudah habis tenaganya hari ini, daripada marah-marah malah bikin tua mending dia lepaskan afeksi Pau dari badannya.

 

Yang sayangnya mau seberapa kuat James mencoba melepaskan diri dari pelukan Pau, malah makin kencang dan erat pula Pau memeluknya. Demi apapun, James jadi bete eh tolong deh iya habis ini james kelonin tapi biarin dia selesain kegiatannya dulu plis.

 

"Pau lepas ah" Tegur James ketus, tanpa rasa kasihan menampar tangan Pau yang melingkar di perutnya. Tapi respon Pau malah balik tersenyum penuh maksud sambil menggeleng pelan, enggan melepaskan pelukannya.

 

"Aku gasuka ya kalo kamu band-EH"

 

Dalam sekali gerakan. Pau dengan mudah mengangkat tubuh James dan menggendongnya bridal. James yang kepalang kaget langsung berpegangan erat di leher yang lebih muda, sambil menatap tak percaya bercampur geram.

 

Belum sempat James protes, Pau langsung merebahkan James dengan hati hati di atas kasur. Diikuti dengan dirinya yang ikut tiduran di sebelah James, memeluk erat si cantik agar tidak bisa kemana mana yang kemudian menarik selimut sampai menutupi kepala mereka.

 

Haduhhh ini kenapa lagi sihhhh?!?!

 

Disekap begitu James jelas meronta-ronta minta di lepaskan, atau minimal dibuka deh selimutnya. Sumpah demi apapun pengap banget di dalam selimut itu.

 

Berbeda dengan James yang rusuh bergerak kesana-kemari mencari celah untuk kabur, Pau malah tertawa girang. Senang betul ia menganggu James, dan bahkan makin makin-makin erat memeluk James, benar benar ingin mengunci pergerakan kekasihnya.

 

"SUMPAH LEPAS GAKKKK, PANAS BANGETTTT!"

 

James merengek-rengek, kepalanya menggeleng-geleng ribut berusaha mengais udara. Pau akhirnya mengalah, ia longgarkan pelukannya dan langsung menyingkap selimut. Begitu selimut disingkkar James langsung buru-buru meloloskan diri dan bernafas dengan rakus, ia juga langsung menatap garang pelaku dari kejadian ini. Awas saja si Cubarsi itu, akan ia pastikan bocah itu tidak akan bisa berlari lagi.

 

Ditatap sebegitu ganasnya oleh James, Pau malah masih setia terkikik geli. Habis lucu sekali James saat itu, dengan wajah yang total memerah seperti tomat dan tatapannya yang malah terlihat seperti kucing yang sedang merajuk, Pau tidak bisa untuk tidak tertawa geli. Senang betul ia buat pacarnya naik pitam.

 

Untungnya Pau masih punya rasa bersalah juga, soalnya usai melayangkan tatapan yang kalau dihiperbolakan seolah bisa menghunuskan laser James langsung beranjak dari tempat tidur tanpa berbicara sepatah kata pun. Derap langkahnya juga terkesan di hentak-hentakkan, ah alamat diambekin sampai beberapa hari kedepan ini mah...Pau yang sadar dengan perubahan sikap si cantik langsung ikut beranjak dari kasur dan mengampiri James, berusaha membujuk.

 

"Sayang..."

 

James sama sekali tidak menjawab panggilan manis dari Pau. Ia justru kembali menyibukkan diri di depan cermin, seolah tidak mendengar apa pun.

 

Pau yang melihatnya memilih untuk tidak langsung memaksakan diri. Ia sebenarnya ingin segera menghampiri, tetapi melihat James yang masih enggan berbicara membuatnya mengurungkan niat. Tidak mau salah langkah dan justru membuat keadaan semakin buruk, Pau memilih memberinya sedikit waktu untuk menenangkan diri sembari memikirkan cara lain untuk meminta maaf.

 

Tidak lama kemudian James selesai dengan kegiatannya, lagi-lagi tanpa obrolan atau hal lainnya ia langsung berjalan meninggalkan kamar, Pau yang melihat langsung mengekori. Rupanya James hanya mampir ke dapur untuk meminum air, disaat inilah Pau mulai memberanikan dirinya untuk meminta maaf. Maka sebelum James menyelesaikan minumnya ia langsung menghampiri James, tidak terlalu dekat dan masih berjarak.

 

"Sayang...aku minta maaf.."

 

Permintaan maaf Pau tidak langsung di beri respon oleh James,  menandaskan minumnya terlebih dahulu baru ia balik tatap Pau yang masih tetap pada posisinya. Melihat wajah Pau yang begitu memelas akan perhatian membuat James mendengus jengkel, ingin rasanya ia cubit kuat-kuat pipi Pau, habis gemas sekali. Mana sosok pemain bola yang ganas kalau di lapangan? ini yang ada malah anak anjing yang memasang muka sedih meminta dimaafkan.

 

James memilih untuk jual mahal terlebih dahulu, mau melihat se menyesal apa Pau dengan tindakan yang telah ia lakukan tadi. Sambil bersandar di meja pantry, ia pasang wajah datar seolah permintaan maaf itu belum cukup untuk meluluhkan hatinya.

 

Pau masih diam, tidak bergeming.

 

James tatap lamat-lamat wajah yang lebih muda, bagaimana Pau yang besar mendadak menciut hanya karena perubahan sikapnya saja. Mata sedikit menunduk, bibirnya mengatup rapat, sementara kedua tangannya hanya diam di sisi tubuh. Benar-benar seperti orang yang sedang menunggu keputusan hakim atas nasibnya sendiri.

 

James hampir dibuat tertawa kalau saja ia tidak ingat kalau harus menjaga image dan akting marah. Untuk mencairkan suasana, ia berdehem singkat sambil lalu menunjuk Pau dengan dagu.

 

"Kenapa malah diem?" tanyanya akhirnya, masih berusaha terdengar ketus.

 

Pau refleks mengangkat wajahnya, langsung menatap James dengan sayu. "Aku nungguin kakak..."

 

"Nungguin apa? aku udahan marahnya? cih sampe tahun depan juga masih marah akunya" ujar James ketus.

 

Bukan nya tersinggung atau bagaimana dengan ucapan James yang terkesan menyindir, Pau hanya terdiam sebentar. Tidak mundur atau membela diri, ia malah mengangguk kecil. Sedikit buat James membatin sebal, kiranya Pau akan berlutut ke atau meminta maaf heboh atau apalah setelah ia sindir begitu.

 

"Kakak masih marah?" 

 

Pertanyaan orang bodoh njir....ga lihat nih udah se jengkel apa muka James saat ini?

 

"Mikir sendiri anjing." maki James dengan kesal. Hendak meninggalkan dapur tapi lengannya sudah keburu dicekal oleh Pau, dan ditarik mendekat.

 

"Apaan pegang pegang? lepas!"

 

Pau tidak mendengarkan perintah James, ia sekarang malah menggenggam erat kedua tangan sang kekasih sambil menatap dalam manik James. Seolah berucap melalui matanya.

 

Di tatap sebegitu dalamnya, James langsung salah tingkah dan gugup sendiri. Tidak menyangka juga akan diperlakukan seperti ini, tapi James masih ingin menjaga citra nya dengan berusaha mati matian mengontrol wajahnya agar tetap terlihat marah.

 

“I’m sorry, okay? I really am.”

 

James masih diam, menunggu Pau selesai berbicara.

 

“I know you’re mad at me. I just... I didn’t mean to upset you.” Ia berhenti sebentar, lalu menatap James dengan wajah memelas.

 

“Could you forgive me, please?”

 

Ah, luluh James kalau sudah diperlakukan semanis ini. Dibiarkannya Pau mengusap wajahnya lembut, sambil matanya tak henti henti menatap James dengan sarat penuh kasih sayang dan rasa sesal. Lalu James mengambil tindakan terlebih dahulu dengan mendekatkan diri dan mengelus sayang pundak tegap Pau.

 

"Iya di maafin, janji ga nakal kaya tadi?"

 

Pau mengangguk ribut. Mengiyakan permintaan James. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Pau menghela napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur.

 

"Sini.."

 

James merentangkan kedua tangannya. Tapi malah dibalas tatapan bloon dari Pau yang tampak bingung dengan rentangan tangan James yang terbuka. Sebenarnya ia paham, tapi masih takut kalau James ternyata masih marah bagaimana?

 

"Ck! kenapa malah bengong?! akunya ga dipeluk??"

 

Rupanya sudah tidak marah lagi. Karena kini si cantik sudah menagih pelukan. Maka dengan girang Pau langsung menangkap James untuk ia rengkuh erat-erat. Saking erat dan bahagianya tubuh James sedikit terangkat gara-gara perbedaan tinggi badan dan kekuatan. Menimbulkan tawa renyah dari James waktu merasakan tubuhnya terangkat.

 

Pau juga mengecupi singkat ceruk leher putih susu si cantik, hanya kecupan kecil karena gemas dan untungnya tidak mendapatkan protesan dari James. Karena kali ini Pau mau mencari aman terlebih dahulu, menahan diri untuk tidak mengecupi pipi gembil pacarnya karena kalau sampai benar benar ia lakukan bisa dibunuh beneran dia nanti.

 

"Cium bibir boleh?"

 

James terkekeh geli mendengar pertanyaan Pau. Tapi mengangguk sebagai jawaban dan mempersilahkan Pau untuk mengecup bibirnya singkat.

 

Awalnya memang hanya kecupan manis yang berulang-ulang karena gemas. Lalu berujung lebih dari sekedar bibir yang saling menempel menjadi lumatan dan sesapan satu sama lain.

 

Keduanya menikmati waktu bercumbu mereka, menyesap bibir secara bergantian sambil mengajak daging tak bertulang itu untuk berkelit menyalurkan perasaan bahagia yang membuncah.

 

Sampai kemudian nyaringnya bunyi bel dari pintu depan mengalihkan perhatiaan mereka. James yang lebih dahulu meminggirkan kepalanya, menyudahi kegiatan bercumbu mereka. Pau mendesah frustasi begitu tautan bibir terlepas, begitu enggan berpisah dengan ranum manis dengan rasa strawberry kesukaannya.

 

"Kenapa kak? cuekin aja" rengek Pau manja. Ia kembali mendekatkan wajahnya hendak mencumbu kembali bibir James. Tapi kalah cepat dengan tangan si cantik yang tiba tiba membekap mulutnya.

 

"Deliver nya udah nyampe itu lohh, bayar gih, aku laper mau makan"

 

Kalimat yang berhasil buat Pau cemberut parah. Bisa-bisanya menyudahi cumbuan cuma gara-gara abang kurir dan lapar. Karena tidak ingin membuat James marah lagi, Pau memilih untuk menurut. Meninggalkan James di dapur sedangkan ia ke depan untuk mengambil pesanan makanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

hehe :D

Notes:

loh kok lu baca sampe habis...nagih ya?