Actions

Work Header

Love latters

Summary:

"Apa yang kamu lakukan?!" Ness bertanya, dengan panik berusaha meraih surat di tangan Bunny tersebut.

"Kamu menyukai Michael Kaiser? Sahabatmu sendiri?" Bunny malah melayangkan pertanyaan lain.

"Bukan urusanmu! Berikan padaku sekarang!"

"Apa Kaiser tahu soal perasaan kamu?"

Tubuh Ness membeku dengan wajah pucat pias ketika Bunny berkata seperti itu. Hal itu justru malah membuat Bunny menyeringai penuh arti.

"Aku tidak akan memberitahu Kaiser, tapi --- kamu harus mau jadi kekasihku."

"Apa ... Apa yang kamu katakan?!!" Ness jelas terkejut.

"Jadi kekasihku, ah ralat--- maksudnya jadi kekasih pura pura ku. Bagaimana?"

•••

Atau

Ness akhirnya menyetujui permintaan Bunny untuk menjadi kekasih pura puranya. Kaiser yang tahu berita Ness berpacaran dengan Bunny mencoba untuk tidak terpengaruh. Tapi sayangnya hal itu gagal.

Notes:

Aku nggak tau kenapa, tapi ide ku soal fanfic kainess selalu meluap-luap. Dan ide cerita ini muncul saat aku melihat potongan video soal surat cinta, benar benar konyol wkwk

Jadi yah ini dia ceritanya, aku minta maaf karena menulis dalam bahasa Indonesia, sejujurnya aku melakukan ini karena ingin memberi asupan untuk diriku sendiri dan juga teman teman kainess di negaraku yang bisa dihitung jari 😭🙏

Untuk fans kainess lainnya jika melihat cerita ini dan sekiranya kalian tidak paham dengan beberapa kata atau kalimat yang kutulis, kalian bisa menanyakannya. Jangan ragu 🩷

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Ness berdiri mematung ketika sosok besar berambut perak dengan iris mata berwarna merah itu berada tepat di depan loker miliknya yang terbuka. Namun yang membuat Ness panik adalah surat itu… Surat dengan pita berwarna biru dan hiasan bunga mawar sekarang berada di tangan Bunny.

Itu adalah suratnya! 

Surat yang ia tulis berisi pengakuan cintanya pada Kaiser dan betapa Ness sangat mengagumi Kaiser.

Surat yang seharusnya tersimpan di tempat yang tidak dapat dijangkau di sudut lokernya. Sekarang surat itu, entah bagaimana, berada di tangan Bunny.

Pria tampan dengan bekas luka di sebelah matanya itu tersenyum menyeringai sambil memainkan surat di tangannya. Ia bersiul jahil ketika melihat keberadaan Ness yang mematung.

"Apa yang kamu lakukan?!" Ness bertanya. Ia menghampiri Bunny dengan raut wajah yang terlihat panik.

"Tidak sengaja aku menemukan surat ini terjatuh. Hmm… kukira ini surat untukku karena ada tepat di bawah loker milikku,  ternyata nama penerimanya adalah Kaiser?" Bunny memiringkan sedikit kepalanya. Ia lantas menyeringai ketika melihat wajah Ness yang terkejut dan memerah.

Sepertinya pria itu malu karena suratnya telah dibaca oleh Bunny.

"Berikan surat itu padaku!" Ness berseru sambil mencoba merebut surat di tangan Bunny itu.

Namun, Bunny malah dengan sengaja menjauhkannya ke atas. Perbedaan tinggi keduanya membuat Ness jadi harus sedikit melompat ketika Bunny berjinjit dan masih berusaha menjauhkan Ness dari surat itu.

"Kamu menyukai Michael Kaiser? Sahabatmu sendiri?" Bunny malah melayangkan pertanyaan lain. Tangannya masih berusaha menghindari Ness.

"Bukan urusanmu! Berikan padaku sekarang!" Ness menggeram kesal.

Bibirnya mengerut dan wajahnya terlihat marah, tapi alih-alih seram, Bunny malah dibuat terkekeh melihat itu. 

'Gemas' batinnya tanpa sadar ketika melihat Ness.

"Berikan, Bunny! Apa masalahmu sebenarnya, huh?! Itu milikku!" Ness tanpa sadar merengek. Ia seolah dibuat mati kutu karena apa pun yang dia lakukan untuk meraih kembali surat itu, Bunny selalu bisa menghalanginya.

Tapi lagi-lagi, Bunny seolah menikmati kemalangan Ness; pria itu malah memasukkan surat itu ke dalam bajunya. Menghempit surat di antara dadanya dan juga seragam sepak bolanya.

Ness menatap nanar dengan pundak yang lesu.

Suratnya yang cantik dan sudah disemprot pewangi kini malah masuk ke baju Bunny yang basah oleh keringat sehabis bermain bola. 

Itu menjijikkan, meskipun Ness tidak mencium bau keringatnya, tetap saja! Suratnya sudah kotor sekarang…

"Apa Kaiser tahu soal perasaan kamu?" 

Sebuah pertanyaan lagi dilayangkan Bunny.

Tubuh Ness seketika membeku dengan wajah pucat pias ketika Bunny berkata seperti itu. Hal itu justru malah membuat Bunny menyeringai penuh arti.

"Ah… Jadi Kaiser tidak tahu soal perasaanmu, ya?" Pria berambut perak itu bersiul jahil.

Ness yang tersadar lantas mengepalkan tangannya dengan penuh kekesalan.

"Apa maumu sebenarnya?! Kenapa kamu menggangguku?" Ness sudah muak. Ia sudah tidak peduli lagi dengan surat yang mungkin sudah tidak ada sekarang.

Kesabarannya sudah habis untuk meladeni Bunny yang sepertinya masih ingin mempermainkannya.

"Aku tidak akan memberitahu Kaiser, tapi—kamu harus mau jadi kekasihku." 

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Ness berkedip bingung. Ia mencoba memproses apa yang baru saja ia dengar.

Sementara itu Bunny terlihat menunggu jawabannya dan tanpa dia sadari kupingnya memerah karena malu.

"Apa… Apa yang kamu katakan?" Ness jelas terkejut.

Bunny menghela napas. Ekspresi jahil di wajahnya seketika menghilang digantikan keseriusan. Ia menatap Ness dengan tatapan sungguh sungguh sebelum berkata ...

"Jadi kekasihku, ah ralat--- maksudnya jadi kekasih pura pura ku. Bagaimana?"

 

Notes:

Aku janji bab depan Kaiser akan muncul dan kehebohan soal hubungan Ness dan Bunny pun akan segera di mulai 🤭