Actions

Work Header

Real Date Story

Summary:

Jihoon selalu ada buat Hanzhen, sampai acara dating show yang diproduseri Hanzhen sendiri membuatnya sadar, ia nggak cuma pengen "selalu ada" sebagai teman.

Notes:

Istilah produksi TV (PD, control room, cast, dsb.) disederhanakan untuk kebutuhan cerita, bukan gambaran akurat 100% proses syuting sungguhan.

Work Text:

“Jiiii, halo..” 
“Halo, Zhen…”
“Kamu harus tahu, bentar lagi program acaraku udah mau tayang.” ucap Hanzhen di ujung telpon dengan semangat.
“Wihhh, congrats, Zhen. Aku pasti bakalan nonton kalau udah tayang.” sahut Jihoon bangga.
”Ajakin Tante, Jiejie Hana, Ddori, Coco, tante Rita, tante Reni, tante Shelly…” Hanzhen menyebutkan satu per satu nama tante-tantenya Jihoon.  
“Bujug, sekampung banget nih yang diajak nonton.”
“Iyalah harus. Mereka yang selalu support aku. Makasih, Han Jihoon yang baik hati udah ngenalin aku ke keluarga kamu yang baik, seneng ada yang bangga sama aku.”
“Eh, omongan lu. Banyak yang bangga sama kamu, Zhen. Termasuk aku juga bangga, keren banget kamu bisa capai ke titik ini. Nanti aku ajakin semua keluarga aku. Sebarin ke temen-temen juga. Kamu nggak perlu makasih-makasih ke aku karna kamu deserve ini semua.”  
“Hmmm…” gumam Hanzhen.

Lama mereka diam, tidak ada suara, sampai Hanzhen memutus keheningan.

“Ji, kamu masih di sana?”
“Masih, kenapa? Jangan bilang dari tadi kamu diem karna nangis?” tanya Jihoon sambil menghela napasnya.
”Tunggu aku di sana. Aku beresin barang aku dulu terus langsung jemput di kantor.” tambah Jihoon.
”Nggak usah,” ucap Hanzhen lirih.
“Udah kamu tunggu aja. Kali ini aku nggak mau dibantah.”  
“Oke. Hati-hati, Ji. See you.”  
“Oke. See you.” 

Setelah memutus panggilan telepon, Jihoon yang semula masih di balkon kafe masuk ke dalam dan memberesekan barang-barangnya lalu keluar menuju kantor Hanzhen.

Sebagai latar belakang, sejak lima tahun yang lalu, setelah lulus kuliah, Hanzhen bekerja di stasiun TV swasta yang memiliki divisi program digital. Berawal dari staf produksi hiburan untuk konten digital, ia perlahan naik menjadi asisten produser hingga akhirnya menjadi produser utama yang memegang program acaranya sendiri.

Sementara itu, Jihoon, teman Hanzhen sejak masa sekolah menengah, bekerja sebagai copywriter di creative agency. Jihoon lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di rumah atau di kafe daripada datang ke kantor.  

Sesampainya di kantor Hanzhen, ternyata Hanzhen sudah menunggu di lobi. Tepat saat Jihoon berdiri di depannya, Jihoon menawarkan pelukan.

“Mau peluk?” tawar Jihoon.
“Mau…”

Hanzhen menggenggam sebelah tangan Jihoon dan membawanya ke tempat parkir yang berada di belakang gedung. Begitu sampai, Hanzhen memeluk Jihoon erat yang langsung dibalas Jihoon dengan sama eratnya. Hanzhen meluapkan beban yang sedari tadi dipendamnya, mencari rasa aman dalam pelukan hangat Jihoon.

Beberapa saat kemudian, mereka terpaksa melepaskan pelukan mereka karena perut Hanzhen mendadak berbunyi.

“Hadeh kebiasaan, Zhen... Pasti belum makan siang, deh,” tuduh Jihoon menghafal kebiasaan buruk Hanzhen yang sering lupa makan jika sudah terlalu fokus bekerja.
”Bukan sengaja lupa kok yang kali ini,” jawab Hanzhen mencari pembelaan.
“Tapi?”
”Tapi tadi pas banget baru mau nyuap makanan, mendadak dipanggil soal rencana tayang program acara yang aku mention tadi di telpon.”  
“Jadinya tayang kapan?” tanya Jihoon penasaran.
“Belum tahu. Masih perlu dibawa meeting lagi. Nanti kalau udah final bakal aku kabarin.”

Jihoon hanya mengangguk-angguk paham lalu mengelus lembut rambut Hanzhen.

“Ya udah, yuk, makan.” ajak Jihoon.

Mereka akhirnya pergi ke sebuah rumah makan prasmanan siap saji, tempat pelanggan bisa mengambil lauk sendiri untuk ditimbang sebelum dibayar. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka duduk yang berada tepat di sebelah kasir, lalu menikmati makanan dalam diam.

Lompat ke minggu-minggu berikutnya, Hanzhen berada di puncak kesibukannya mengurus semua keperluan pra-produksi dating show berjudul Real Date Story, sebuah acara di mana terdapat tujuh peserta dikumpulkan di satu lokasi selama tujuh hari untuk menemukan pasangan. 

Masa persiapan dua bulan itu menjadi fase paling menyita energi bagi Hanzhen. Di masa ini, untungnya ada Jihoon yang siap sedia menjadi “supir pribadi” yang mengantar-jemput Hanzhen dari kantor. Hafal dengan kebiasaan buruk Hanzhen, sering lupa makan jika sudah terlalu sibuk bekerja, Jihoon juga rutin mengirimkan makanan dan minuman ke kantor Hanzhen. Kedatangan pesan antar makanan dari Jihoon menjadi alarm bagi Hanzhen untuk beristirahat sejenak.

Namun, badai datang tiga hari sebelum syuting utama dimulai. Salah satu peserta laki-laki, seorang pengacara, mendadak membatalkan keikutsertaan secara sepihak karena harus menangani kasus pejabat negara. Tak ada waktu untuk mencari cast baru dan enggan mengorbankan waktu serta tenaga tim jika harus menunda jadwal, rapat memutuskan Hanzhen yang turun sebagai cast pengganti. 

Secara teknis, Hanzhen didatangkan belakangan di hari ketiga. Di hari pertama dan kedua, ia masih bisa memantau dari control room sebagai PD lalu di hari ketiga saat gilirannya masuk ke arena syuting sebagai peserta, tanggung jawab penyutradaraan di control room diserahkan ke Assistant PD senior. 

Beberapa jam sebelum syuting profil, saat Hanzhen sedang di-makeup oleh penata rias, ia ingin menelepon Jihoon tapi merasa ragu. Karena tidak ingin terlalu kelamaan berpikir, diputuskan untuk mengirim pesan singkat di WhatsApp saja. Isi pesannya berupa pemberitahuan tanggal tayang program dan kabar bahwa ia akan sulit dihubungi selama seminggu ke depan karena proses syuting utama akan dimulai.

Jihoon yang menerima pesan tersebut memaklumi soal kondisi Hanzhen. Ia paham betul alur kerja di sana karena pernah magang bersama Hanzhen selama dua bulan di stasiun TV tersebut, sebelum akhirnya memilih jalur karier yang berbeda sebagai copywriter.

Hari pertama dan kedua syuting utama berjalan lancar. Loncat ke hari ketiga syuting, Hanzhen duduk gelisah di  salah satu ruang tunggu. Kegugupannya memuncak setelah penata rias selesai memoles wajahnya.

“Kakk, yang tenang napa. Kelihatan banget tegangnya nanti di kamera gimana?” protes Ella, salah satu asisten produser yang bertugas menemani Hanzhen.
“Aku balik ke control room aja apa ya? Kok kayaknya lebih gampang ngarahin acara, dari pada jadi peserta,” ucap Hanzhen.
“Nggak bisa, udah nggak ada jalan puter balik.” tegas Ella.
“Aku boleh nelpon Jihoon dulu nggak sebentar?” tanya Hanzhen memelas.
“Nggak boleh Kak. Kan ada aturannya no contact selama tujuh hari buat peserta.”   
“Semenit aja please, pake HP kamu…” 

Belum ada jawaban, Ella masih tampak menimbang-nimbang, sementara Hanzhen menunggu pasrah.

“Semenit aja loh, ya. Benar kan ini nomor Kak Jihoon?” 

Pada akhirnya Ella mengizinkan Hanzhen menelepon Jihoon dari ponselnya. Ella sendiri memang punya nomornya karena mereka cukup saling mengenal. Jihoon cukup sering datang ke kantor membawakan makanan hingga membuat beberapa karyawan dekat Hanzhen ikut mengenalnya.

Pada panggilan pertama, Jihoon langsung mengangkatnya.

“Halo, La.” sapa Jihoon di seberang sana.
“Jiiii, ini Hanzhen.” jawab Hanzhen cepat.
“Kenapa, Zhen?”
“Jiii aku buru-buru banget. Maaf, boleh nggak kasih aku semangat? Aku tiba-tiba down mau syuting. Maaf repotin.”  
“Nggak repotin. Santai aja, Zhen. Kamu udah persiapin segalanya yang terbaik. Aku percaya sama kamu pasti bisa lewatin syuting tujuh hari ini. Good luck. Nggak perlu takut, kamu harus inget banyak orang termasuk aku yang selalu support kamu.”

Ella memberi isyarat agar panggilan segera diakhiri karena sebentar lagi giliran Hanzhen masuk ke set.

“Thank you so much, Jihoon. Bener-bener nenangin aku banget. Babay.”
“Terima kasih kembali. Babay.”

Hanzhen mengakhiri panggilan telepon dan mengembalikan ponsel milik Ella. Setelahnya bersiap di depan pintu, menunggu giliran masuk.

Secara ajaib, begitu melangkah ke set, Hanzhen jauh lebih tenang dan berhasil menguasai dirinya. Seluruh peserta menyelesaikan tujuh hari syuting dengan aman. Syuting pun selesai dan memasuki proses post-production.

Lompat ke hari H penayangan program, hampir seluruh tante Jihoon berkumpul di rumahnya untuk nonton bareng acara yang diproduseri Hanzhen. Program tersebut memiliki empat episode utama dan satu episode spesial behind the scenes, dengan durasi masing-masing empat puluh menit.

Di episode pertama, keluarga Jihoon hanya memberikan reaksi biasa sambil melontarkan pujian atas garapan program Hanzhen. Namun di akhir episode, preview untuk episode kedua menampilkan cuplikan sekelibat kemunculan seorang peserta yang belum terlihat jelas wajahnya.

Melihat cuplikan satu detik tersebut, keluarga Jihoon langsung heboh.

“Itu Hanzhen bukan, sih?”
“Kenapa cuma sekilas doang, sih? Nggak kelihatan.”
“Masa, sih, itu Hanzhen?”
“Tapi semirip itu!”
“Hanzhen bukannya produser, kok kelihatan turun tangga kayak peserta?”

Untuk meredakan kehebohan keluarganya, Jihoon cepat-cepat mengklik tombol play untuk episode dua. Sejujurnya, ia sendiri juga penasaran apa figur di layar itu benar-benar Hanzhen.

Tiga puluh menit pertama episode dua belum menunjukkan tanda-tanda kemunculan Hanzhen. Namun di sepuluh menit terakhir, Hanzhen akhirnya muncul di layar dan diperkenalkan sebagai peserta susulan. Semua orang di ruang tamu rumah Jihoon benar-benar terkejut.

“Wah beneran Hanzhen.”
“Kok bisa?!”  
“Hanzhen cakep banget.”
“Kejutan apa ini?”
“Hanzhen secakep ini, makin nggak mau dia sama Jihoon.”

Kalimat terakhir yang diucapkan salah satu tantenya sukses membuat Jihoon bungkam.

Di tengah kehebohan keluarganya yang masih membahas dua episode yang baru saja mereka tonton, Jihoon menyelinap ke kamarnya. Jihoon ingin menelepon Hanzhen, tampak menimbang apakah sekarang waktu yang tepat karena khawatir mengganggu Hanzhen di tengah kesibukannya. Namun tak disangka ponselnya berdering, Hanzhen menghubunginya duluan.

“Zhen, halo. Baru mau aku call.” sapa Jihoon terlebih dahulu.
“Halo… eh, kamu habis nonton acaranya ya, Ji?”
“Iya.. aku sekeluarga udah nonton dua episode awal. Keren banget, Zhen.  Tante-tante aku juga kasih komen positif, muji-muji kamu. Oh ya sama satu lagi, aku ada pertanyaan…”

Sebelum Jihoon bisa melanjutkan kalimatnya, Hanzhen memotong.

“Ji… eh, maaf banget aku potong. Oh ya soal pertanyaan…”
“Kenapa, Zhen?”
“Besok kamu sibuk nggak, Ji?”
“Hah? Nggak. Nggak sibuk.”
“Besok makan di Haidilao, yuk. Udah lama kan kita nggak makan siang bareng, aku traktir.”
“Eh nggak perlu sampe traktir. Tapi, iya, boleh besok siang makan di sana. Mau dijemput?”
“Nggak ngerepotin?”
“Nggak, lah. Ya udah besok dijemput jam 11, gimana?”
“Boleh. Besok kita baru bahas ya. Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan soal acara aku, jadi simpen dulu. Besok aku jelasin.” terang Hanzhen.
“Oke, deh. See you.”
“See you.” 

Hanzhen berpikir untuk mengajak Jihoon makan dan menjelaskan semuanya secara langsung daripada lewat telepon.

Keesokan harinya, Jihoon datang lebih awal dan menunggu di sofa ruang tamu apartemen Hanzhen.

“Ji, maaf. Kemarin diajak company dinner buat rayain tayangnya acara sampe malem, makanya hari ini kesiangan. Sebentar ya, tinggal keringin rambut. Kalau mau minum, ambil aja di kulkas.
“Santai aja, Zhen. Siniin hairdryer-nya, aku bantu keringin rambut kamu.”

Mereka duduk di ujung sofa dekat stopkontak lalu Jihoon membantu Hanzhen mengeringkan rambutnya.

Setelah Hanzhen selesai bersiap, mereka keluar gedung apartemen berangkat menuju restoran. Perjalanan di mobil kali ini ditemani hening yang agak janggal. Biasanya ada hari-hari di mana mereka bisa diam saja dengan tenang dan nyaman, namun kali ini ada keheningan yang sulit dijelaskan. Tahu-tahu, mereka sudah sampai di tempat tujuan.

“Yuk, turun,” ucap Jihoon memecah keheningan.

Di Haidilao, pelayan resto menyambut dan mengantar mereka ke tempat duduk. Setelah duduk, mereka memesan makan lewat tab.

“Ji, mau dibuatin saus kayak biasanya?” tanya Hanzhen.
“Boleh.”

Hanzhen menuju station sauce dan meracik saus di dua mangkuk. Jihoon mengikutinya dari belakang untuk mengambil complementary seperti buah dan camilan ringan. Setelahnya, mereka kembali ke tempat duduk.

“Zhen, udah boleh ajuin pertanyaan?” tanya Jihoon hati-hati.

Hanzhen meneguk ludah gugup.

“Boleh…” jawab Hanzhen namun terasa ada keraguan.
“Kalau belum siap, nggak apa kok.”
”Nggak apa.”  
“Beneran?”

Ditanya seperti itu membuat Hanzhen semakin gugup.

“Ji, aku jelasin aja. Jadi kamu bisa tanya berdasar penjelasan aku.”  
“Oke.”  
“Jadi… ada cast yang tiba-tiba batal bikin aku harus turun tangan gantiin. Kamu inget chat aku soal info tanggal tayang? Itu aku awalnya pengen call kamu jelasin tapi jujur hari itu aku agak ragu dan cukup mumet makanya berakhir cuma kabarin lewat chat. Terus inget call aku lewat nomor Ella? Saat itu aku lagi nunggu di ruang tunggu buat pertama kali muncul dan karena keterbatasan waktu aku cuma ngomong buat minta semangat tanpa bisa jelasin lebih lanjut. Maaf ya, aku sama sekali nggak bermaksud nutupin ini semua dari kamu.”

Penjelasan panjang dari Hanzhen memberi Jihoon perasaaan lega yang sebelumnya mengganjal di dada.

“Aku seneng kamu percaya sama aku buat ceritain ini semua, yang sebenarnya kamu nggak ada kewajiban buat jelasin ini ke aku.”  
“Nggak… aku tetep harus jelasin. Kamu penting buat aku.”

Mereka melanjutkan makan mereka dengan obrolan ringan, mengejar cerita yang tertinggal selama beberapa minggu belakangan.

“Zhen, di episode selanjutnya nggak ada ciumannya kan?” 

Pertanyaan Jihoon yang tiba-tiba dan terdengar random membuat Hanzhen tersedak.

“Uhukkk… uhukkk.” 

Jihoon menyodorkan segelas air putih dan beranjak ingin menghampiri Hanzhen namun Hanzhen cepat-cepat menahan dengan mengangkat tangan.

“Aku nggak apa-apa kok,” ucap Hanzhen menenangkan.
“Sorry, sorry, Zhen. Maaf kalo pertanyaannya bikin kamu nggak nyaman.
“Nggak, Ji. Nggak apa-apa. Kamu bisa lihat sendiri nanti jawabannya di episode minggu depan.”

Jihoon hanya mengangguk-anggukan. Dari jawaban Hanzhen, seharusnya Jihoon bisa tenang karena sepertinya tidak ada adegan yang perlu Jihoon khawatirkan. Iya, kan?

Setelah hari itu, Jihoon kembali sering mengantar-jemput Hanzhen ke kantor, memesan makanan melalui aplikasi, atau datang langsung menemui Hanzhen. 

Sembari menunggu Hanzhen pulang kerja, Jihoon menonton episode tiga dan empat sendirian di kafe dekat stasiun TV Hanzhen bekerja. Nonton bareng keluarganya lagi jelas bukan pilihan yang tepat, ia menghindari komentar-komentar nyeleneh yang memojokkan dirinya.

Di episode selanjutnya, terlihat Hanzhen yang mulai digoda cast lainnya. Sepertinya banyak yang tertarik padanya, baik laki-laki maupun perempuan. Hanzhen tidak hanya pasif menerima perhatian namun juga menanggapi dengan mengikuti atmosfer keintiman suasana di set.

Jihoon yang menonton kedekatan Hanzhen dengan para cast dari layar laptop hanya bisa pasrah. Mendadak, udara di kafe terasa begitu panas.

“Dor!” Hanzhen mengagetkan dari belakang.  
“Aaaa.” Jihoon terperanjat, refleks menutup layar laptopnya rapat-rapat.
“Hahahahaha” Hanzhen tertawa lebar melihat kelakuan Jihoon. Menurutnya sangat lucu karena ia menangkap basah Jihoon sedang menonton acaranya. 

“Ngapain tiba-tiba panik gitu, deh Ji? Kayak ke-gep nonton yang aneh-aneh,” ujar Hanzhen tengil.
“Nggak ya… nggak panik biasa aja.” 
“Masa?” Hanzhen yang semula berdiri di belakang kursi, berjalan mendekatinya bertumpu tangan di meja sementara Jihoon duduk di kursinya.  
“Panas nggak sih, Zhen? Jangan terlalu deket deh. Makin gerah.”
“Nggak panas kok.” Hanzhen semakin iseng untuk mendekatkan wajahnya untuk menggoda Jihoon. 

Tak mau kalah dan malu sendiri, Jihoon membalas dengan tiba-tiba berdiri, membuat jarak di antara mereka semakin menipis .

“Seneng ya godain orang gini? Syuting tujuh hari kemarin dapet lesson apa aja?” tanya Jihoon berbisik tepat di telinga Hanzhen.

Hanzhen tergagap.

“Nggak belajar apa-apa.” jawabnya sambil berusaha memalingkan mata ke arah lain.   
“Oh nggak belajar. Emang udah jago, ya? Diem-diem punya skill flirting.” goda Jihoon sementara tangannya meraih lengan Hanzhen agar Hanzhen menatap matanya. 

Mereka saling mengunci tatapan selama beberapa saat sebelum suara dering ponsel Hanzhen memutus kecanggungan tersebut. Hanzhen cepat-cepat mundur untuk menerima panggilan telepon.

Selesai menerima telepon, Hanzhen buru-buru pamit kepada Jihoon padahal telepon barusan bukan hal yang urgent. Hanzhen hanya ingin menghindar.

“Ji maaf banget, tapi something comes up.” 
“Oh, oke. Mau dianter nggak?”
“Nggak usah,” jawab Hanzhen cepat.

Walau bingung, Jihoon terpaksa membiarkan Hanzhen pulang sendiri. Ia mengerti situasi barusan mungkin membuat mereka berdua kurang nyaman.

Memasuki minggu berikutnya, Hanzhen benar-benar mulai menghindar. Ia beberapa kali menolak ajakan antar-jemput dengan alasan berangkat lebih pagi dan pulang lebih larut. Ajakan makan bareng juga beberapa kali ditolak, walau makanan yang dikirim Jihoon tetap diterima, karena Hanzhen merasa tidak enak jika menolak, ucapan terima kasih disusul balasan pesannya hanya ditulis singkat-singkat atau bahkan sekadar diberi reaksi stiker. 

Tidak tahan dengan situasi canggung ini, Jihoon mencari cara untuk bertemu dan mengobrol langsung melalui Ella, asisten produser yang memang sudah kenal dekat.

[Jihoon] La, sorry banget ganggu… lagi sama Hanzhen nggak?
[Ella] nggak Kak. Kak Hanzhen udah balik duluan.
[Jihoon] Oh… Bukannya Hanzhen seringnya pulang malem ya, La?
[Ella] nggak kak, Kak Hanzhen akhir-akhir ini lagi riset buat garap program baru, jadi nggak sampe malem pulangnya.
[Jihoon] Oh gitu ya, La. Makasih ya infonya.
[Ella] sama-sama kak.

Meski rencananya malam ini Jihoon akan menunggu Hanzhen pulang, informasi dari Ella bahwa Hanzhen sudah keluar dari kantor dari tadi membuat niat itu diurungkan. Jihoon memutuskan untuk mencobanya besok dengan datang lebih awal.

Keesokan harinya, Jihoon berniat makan siang di restoran langganannya dan Hanzhen. Rencananya, ia akan membungkus makanan dari sana lalu mengantarkannya langsung ke kantor Hanzhen. Namun, saat melangkah masuk ke restoran, terjadi hal di luar dugaan.

“Kak Jihoon! Halo!” sapa Ella sambil melambaikan tangan ke arah Jihoon.

Hanzhen yang duduk membelakangi pintu terkejut mendengar nama yang disebut Ella.

“Sendiri aja Kak?” tanya Ella saat Jihoon mendekat.
“Iya nih.” jawab Jihoon.
“Gabung sini, Kak.”
“Eh, aku tadinya mau take away aja.”
“Oh buru-buru Kak?”
“Nggak sih.” jawab Jihoon ragu. 

Peka bahwa ada kecanggunggan di antara Jihoon dan Hanzhen, Ella makin iseng menahan Jihoon. 

“Kalau nggak buru-buru, udah, sini duduk.” ujar Ella sambil menarik pelan lengan Jihoon dan bergeser agar Jihoon duduk berhadapan dengan Hanzhen, sementara Ella di sebelahnya.

“Ngobrol kek kalian.” celetuk Ella di sela-sela mereka makan.
“Ngobrol kok.” sahut Jihoon.
“Apaan, mana ada. Masa cuma tawarin makan sama ngomong makasih. Canggung bener. Berantem ya kalian?” tuduh Ella curiga.
“Nggak berantem.” jawab Hanzhen lirih, hampir tak terdengar.
“Tuh kan. Kalau nggak berantem, minimal ada apa-apa deh kalian.” tuding Ella lagi.

Jihoon mencuri pandang ke arah Hanzhen. Ketika Hanzhen hendak membalas tatapannya, Jihoon cepat-cepat memalingkan muka. Ella yang menyaksikan pemandangan itu hanya mampu menghela napas, lelah dengan kelakuan kakak-kakaknya. Tak betah dengan atmosfer kaku tersebut, Ella memutuskan sesuatu.

“Kakak-kakak, aku duluan ya. Tiba-tiba sakit perut. Tolong bayarin punyaku dulu.” ucap Ella cepat. Sebelum Jihoon dan Hanzhen sempat merespon, Ella sudah melesat keluar restoran.

“Yuk bayar.” ajak Hanzhen. 

Sebelum Hanzhen berdiri, Jihoon sudah menahannya duluan.

“Sebentar, Zhen.” 

Hanzhen kembali duduk tegak.

“Zhen, mau gimana pun kita perlu ngobrol. Tapi aku nggak masalah buat nunggu sampai kamu siap. Lebih baik kamu bilang salahnya aku di mana. Kamu boleh benci aku, tapi tolong jangan hindari aku.”

Hanzhen menggelengkan kepalanya cepat, tidak setuju dengan pernyataan Jihoon.

“Kamu nggak salah apa-apa. Maaf. Nanti pulang kerja aku bisa.”
“Oke. Nanti aku tunggu di parkiran kayak biasa. Kabarin aku jam pulangnya.”
“Oke. Yuk balik.” 

Sekitar jam enam sore, Jihoon sudah menunggu di dekat lobi kantor. 

“Ji.” panggil Hanzhen yang baru keluar.

Jihoon yang semula memainkan ponselnya segera menoleh dan mengulurkan tangan, berniat mengambil alih tas Hanzhen.

“Eh nggak apa. Aku bisa bawa sendiri.” ujar Hanzhen.

Jihoon tidak mendengarkan, ia justru mengulurkan tangannya yang lain berniat menggenggam jemari Hanzhen sebelum akhirnya ia tersadar dan menarik tangannya kembali.

“Eh, maaf.” Jihoon dengan cepat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Hanzhen terlihat bingung tetapi tidak mau membuat Jihoon merasa canggung, ia justru meraih dan memegang pelan ujung kemeja Jihoon. Jihoon sekuat tenaga menahan senyumnya sepanjang berjalan menuju parkiran.

Jihoon melajukan mobilnya menuju apartemen Hanzhen. Begitu mobil berhenti di depan lobi, Hanzhen mengisyaratkan agar Jihoon ikut naik.

“Kita turun aja.” ajak Hanzhen.

Jihoon menurut, memarkirkan mobilnya lalu mengekor di belakang Hanzhen. Setibanya di dalam apartemen, mereka duduk bersisian di sofa ruang tamu. 

Jihoon berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokan, berusaha meredakan gugup yang sedari tadi muncul. 

“Zhen… aduh, jujur sebenarnya aku udah nyiapin mau ngomong apa, tapi entah kenapa aku gugup banget. Maaf, ya.” ungkap Jihoon jujur.  
“Nggak apa. Santai aja. Aku juga mau minta maaf.”

Sebelum Hanzhen ngomong lebih lanjut, Jihoon mengubah posisi tubuhnya menghadap Hanzhen. Tangannya hendak terulur memegang tangan Hanzhen namun mendadak berhenti di udara. Hanzhen yang peka segera menggenggam tangan Jihoon terlebih dahulu, memberi gestur agar Jihoon mulai bicara.

“Aku nggak mau ngundur masalah ini lebih lama, kita udah temenan lama, Zhen. Aku cuma mau tahu alasan kenapa sejak kita ketemu di kafe waktu itu, kamu jadi hindarin aku? Apa ada kelakuan aku yang bikin kamu nggak nyaman? Soal flirting aku? Maaf kalau memang itu bikin kamu nggak nyaman.” jelas Jihoon.

Hanzhen mencerna semua pertanyaan Jihoon. Walau agak ragu, ia juga tidak ingin memendamnya lebih lama.

“Sebenarnya aku kaget. Kamu sama sekali nggak pernah lama natap mata aku sebelumnya. Kamu pernah tanya soal apa ada adegan ciuman di acara aku, aku lihat kamu nonton acara aku sendirian, lalu selanjutnya kamu ngomong dengan nada flirting kayak gitu. Aku bukan nggak nyaman soal perlakuan kamu tapi aku jadi bertanya, sebenarnya kamu kenapa sih, Ji?” jelas Hanzhen.

Pertanyaan dari Hanzhen jelas membuat jantungnya berdegup kencang, tidak pernah terpikir sebelumnya olehnya. Perasaan tidak nyaman yang muncul saat ia nonton sendirian acara Hanzhen akhirnya pecah hari itu.

“Aku cemburu, Zhen. Aku cemburu lihat peserta lain bebas flirting sana sini sama kamu. Cemburu lihat senyum manis kamu tertuju ke orang lain. Aku tahu aku nggak berhak cemburu, tapi aku nyatanya nggak bisa nyangkal perasaan aku sendiri.” ungkap Jihoon blak-blakan.

Pernyatan Jihoon barusan sukses membuat Hanzhen tertegun. Ia berusaha mengatur napasnya sebelum ia memastikan lebih lanjut perasaan Jihoon.

“Ji, jangan bilang kamu…?” Hanzhen menggantung kalimatnya.  
“Iya, Zhen. Kalau kamu mau tanya apa aku sayang sama kamu? Jawabannya iya.” Jihoon menjeda kalimatnya, mengelus lembut jemari Hanzhen sebelum melanjutkan.
“Kalau kamu tanya lagi apa sayangnya cuma sekadar sayang ke teman… nggak, lebih dari itu. Rasa sayang dan peduli aku bukan cuma sebagai temen. Aku senang selama ini kamu banyak andalin aku. Tapi kalau aku boleh egois, aku nggak mau cuma jadi temen yang saling mengandalkan. Tapi aku mau kita bisa berbagi suka duka, saling melibatkan soal masa depan. Intinya, aku mau kamu jadi pasangan aku.”

Hanzhen melihat kejujuran dari sorot mata Jihoon. Ia begitu terharu begitu menyadari Jihoon peduli dan sayang kepadanya.

“Ji, nggak ada yang namanya egois.” Hanzhen menjeda, bergantian mengelus pelan jemari Jihoon.
“Aku awalnya juga mau tepis perasaan aku yang lihat kamu lebih dari sekadar teman karena aku takut kalau kita udah nggak bisa temenan lagi. Tapi aku nggak mau nyangkal kalau aku juga sayang kamu.”

Usai saling mengungkap perasaan, keheningan tercipta di antara mereka. Keduanya saling mengunci tatap dalam jarak dekat. Jihoon memajukan posisi duduknya lalu mengusap lembut poni Hanzhen.

“Boleh?” bisik Jihoon lembut.

Hanzhen mengangguk pelan, membisikkan kata 'boleh' tanpa bersuara.

Mendapat lampu hijau, Jihoon mengelus pipi Hanzhen sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka. Ciuman dimulai dengan sangat lembut, saling menikmati bibir satu sama lain. Jihoon menyangga tengkuk Hanzhen untuk memperdalam cumbuan, sementara Hanzhen mengalungkan kedua tangannya di leher Jihoon, berpindah duduk di pangkuannya. Jihoon beralih dari menyesap lembut bibir atas lalu menggigit bibir bawah untuk membuka akses membelai lidah. Penyatuan itu bertahan lama dan intens sampai akhirnya mereka melepaskan pagutan untuk meraup pasokan udara.