Actions

Work Header

Liebesrausch

Summary:

Keluarga Herder dan keluarga Spencer telah menjalin hubungan yang erat selama beberapa generasi. Kerja sama di antara kedua keluarga bukan sekadar mengenai urusan bisnis dan kekuasaan, tetapi telah berkembang menjadi sebuah ikatan. Nama Herder dikenal luas di Jerman, sementara keluarga Spencer memiliki pengaruh besar di tanah kelahirannya sendiri. Selama bertahun-tahun, kedua kepala keluarga telah saling membantu dalam berbagai urusan, menjaga kepentingan masing-masing, dan memastikan agar hubungan tersebut tetap menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Bagi sang kepala keluarga Spencer dan Director Herder, kerja sama semata tidak lagi cukup. Mereka menginginkan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar perjanjian yang ditandatangani di atas kertas. Maka, sebuah kesepakatan baru pun dibuat. Putra keluarga Herder dan putri keluarga Spencer akan dipersatukan dalam sebuah perjodohan. Pernikahan itu diharapkan menjadi ikatan yang tidak hanya menyatukan dua orang, tetapi juga mengikat kedua keluarga untuk generasi yang akan datang.

Notes:

Fanfiction ini tidak mengikuti alur atau canon dari manga Moriarty the Patriot. Banyak isinya diubah untuk keperluan cerita. Jangan lupa meninggalkan jejak dan vote. 

Work Text:

Berlin, 1878.

Rumah keluarga Herder berada di ujung jalan Unter den Linden. [Nama] baru berusia tujuh tahun kala itu. Kereta kuda yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang. Gadis kecil itu menggigil; hawa dingin di Jerman begitu berbeda dari apa yang biasa ia rasakan di London. Ibunya menggenggam tangannya erat-erat, namun genggaman itu terasa kaku—seperti seseorang yang sedang memegang barang berharga yang wajib dijaga, bukan seorang anak yang patut dicintai.

"Ayahmu sudah mengatur segalanya," ucap sang ibu sewaktu mereka menuruni kereta. "Kau akan tinggal di sini selama tiga bulan. Keluarga Herder adalah sekutu lama kita. Kau harus berperilaku baik."

Sekutu. Kata itu terasa begitu asing dan berat di telinga [Nama]. Gadis kecil itu sadar dirinya tidak dikirim untuk menimba ilmu, melainkan dititipkan-persis seperti barang jaminan dalam sebuah perjanjian politik antarbangsawan yang tak sanggup ia pahami.

Pintu utama berdecit. Seorang pria paruh baya menyambut mereka. Di belakangnya, berdiri seorang anak laki-laki seusia dengannya. Von Herder. Bocah itu tergolong tinggi untuk usianya, dengan rambut pirang bagaikan matahari. Yang paling menyita perhatian [Nama] adalah kain hitam yang menutupi kedua matanya. 

Kain itu terikat di belakang kepala, melenyapkan seluruh ekspresi dari separuh wajahnya. Satu tangan sang anak laki-laki bertengger di belakang punggung. Ia menjelma serupa boneka yang dipajang di etalase toko.

"Ini putra kami, Von Herder," ujar sang kepala keluarga, Director Herder, sambil menepuk bahu putranya. "Von, sambut tamu kita."

Herder maju selangkah, lalu membungkukkan tubuh, memberi salam hormat. "Selamat datang di rumah kami," ucapnya. "Aku berharap perjalanan kalian menyenangkan, Frau Spencer und Spencer."

[Nama] terpaku pada wajah rupawan sang bocah. Keduanya masih anak-anak. Bahkan di usianya yang terbilang teramat muda, [Nama] sudah mengerti satu hal: mereka berdua hanyalah komoditas dagangan yang bernilai sama. Dan anak laki-laki asing di hadapannya mungkin adalah satu-satunya jiwa di dunia ini yang sanggup memahami takdirnya.

Von Herder. Putra tunggal keluarga Herder- anak laki-laki yang menurut kedua orang tua mereka kelak akan menjadi pasangan hidupnya.

Kalimat itu telah membuat [Nama] menghabiskan waktu berhari-hari membayangkan seperti apa sosok calon tunangannya. Dalam imajinasi sang dara, Von mungkin adalah bocah yang angkuh, kaku, dan berbicara dengan cara yang membuatnya naik pitam— stereotip khas aristokrat Jerman. 

Gadis kecil itu bahkan sempat mengkhayalkan mereka akan bercakap-cakap topik menjenuhkan, membaca buku bersama di perpustakaan, lalu saling bertukar hadiah seperti tokoh dalam buku cerita yang pernah dibacakan pengasuhnya di London.

Bayangan itu bertahan hingga ia melangkahkan kaki ke rumah Herder. Entah mengapa, imajinasi itu terasa masuk akal baginya. Jika ia terpaksa harus tinggal di Jerman karena sebuah ikatan perjodohan, setidaknya ia ingin tahu orang seperti apa yang telah merenggutnya dari tanah Inggris.

Namun, kenyataan memutarbalikkan segalanya. Von jauh lebih riuh dari yang pernah ia bayangkan. Anak laki-laki berambut pirang itu hampir tak pernah benar-benar diam. Pagi-pagi sekali, suaranya sudah terdengar bersahut-sahutan dengan para pelayan. Usai sarapan, sosoknya bisa ditemukan di taman, di ruang tamu bersama anjing peliharaan keluarga Herder, di ruang musik, atau entah di sudut rumah yang mana lagi.

Von memang buta, tetapi tidak seperti gambaran sosok rapuh yang ada di benak [Nama]. Ia tidak terlihat lemah, tak selalu membutuhkan uluran tangan untuk menuntun jalannya. Sebaliknya, lelaki itu tampak terbiasa dengan kegelapan dunianya, hingga seringkali membuat orang lain kerepotan karena berusaha mengejar langkah kakinya.

 


 

Di Inggris, suasana makan malam di rumah [Nama] jauh lebih familiar-hidangan disajikan berurutan dalam tahapan formal yang sudah ia hafal, percakapan keluarga berlangsung dengan ketat namun terprediksi, dan ia tahu persis kapan harus meraih peralatan makan. Namun di rumah Herder, Abendbrot-makan malam khas Jerman-terasa begitu berbeda.

Di tengah meja terdapat sebuah keranjang rotan berisi beberapa potong Brot: roti khas Jerman dengan kulit luar yang keras dan bagian dalam yang padat. Ada roti gandum dengan taburan biji-bijian, sementara di sebelahnya tersaji beberapa potong white bread. Tepat di samping keranjang, diletakkan piring kecil berisi mentega, keju, dan irisan tipis daging asap.

[Nama] sempat menatap hidangan itu dengan kening berkerut. Di rumahnya di London, makan malam selalu diidentikkan dengan hidangan hangat yang terstruktur, sementara meja di hadapannya kini terasa seperti perpaduan antara santapan utama dan aneka makanan pendamping yang bebas diambil sesuai selera.

Di hadapan [Nama] sendiri tersaji semangkuk Kartoffelsuppe—sup kentang hangat dengan kuah berwarna kekuningan. Potongan kentang, wortel, dan daun bawang mengambang di permukaannya. Aroma lada dan rempah yang digunakan untuk membuat sup sungguh menggugah selera. 

Di sebelah mangkuk sup, hadir sepiring Bratwurst yang baru saja diangkat dari panggangan. Sosis itu disajikan berdampingan dengan Sauerkraut-kol fermentasi-serta Kartoffelpüree, kentang tumbuk yang dicampur dengan mentega.

[Nama] menatap Sauerkraut dengan curiga sebelum akhirnya memberanikan diri mencicipi sedikit menggunakan ujung garpunya. 

Beberapa kali gadis kecil itu tolah-toleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tata kramanya tak melenceng. Sang gadis bahkan sempat memperhatikan seorang pelayan merapikan pisau dan garpu dengan tata letak yang berbeda dengan etiket makan di Inggris. Alih-alih bertanya dan mempermalukan diri, [Nama] memilih menelan rasa ingin tahunya bulat-bulat.

Ada pula hidangan lain: irisan Gurke-mentimun segar berbalut saus- beberapa lembar daun selada. Di dekatnya, diletakkan piring berisi irisan tipis Schinken—ham yang dipotong tipis.

Keluarga Herder mulai mengambil roti, mengolesnya dengan mentega, lalu menumpuk keju atau daging di atasnya. [Nama] mengamati kebiasaan tersebut. Dia terbiasa melihat roti diposisikan sebagai menu sarapan atau kudapan ringan, bukan pilar utama di meja makan malam.

Sebagai penutup, para pelayan membawakan loyang Apfelstrudel yang masih menguapkan udara hangat. Lapisan pastry tipis berwarna keemasan membungkus potongan apel yang telah dimasak bersama gula dan aroma kayu manis yang menguar harum. Saat sepotong Apfelstrudel disajikan di atas piringnya, mata [Nama] yang semula nampak lesu langsung berbinar-meski ia bergegas memasang wajah datar demi menjaga martabatnya.

Namun di antara seluruh sajian mewah itu, fokus [Nama] selalu saja kembali pada sosok Von.

Anak laki-laki di hadapannya mengenali koordinat setiap hidangan di meja murni berdasarkan ingatan dan indra peraba. Ia tahu pasti keranjang roti berada di sebelah kirinya, mangkuk sup berada di depan dada, dan piring sosis terletak di kanan. Tangannya menggerakkan pisau dan garpu, memotong Bratwurst menjadi potongan kecil sebelum menyuapnya. Ketika berniat mengambil roti, jari-jari meraba tepian keranjang, lalu memilih sepotong tanpa ragu-ragu.

Sesekali Von meminta pelayan menyebutkan hidangan baru yang disajikan di meja, tetapi begitu mendengarnya sekali, ia langsung menghafal posisinya seketika. Von meraih sepotong roti, mengoleskan mentega, lalu menumpuk selembar keju di atasnya.

"Kalau kau belum terbiasa dengan makanan di sini, cobalah yang ini," lontar si anak laki-laki sembari menggeser piring roti sedikit ke arah [Nama].

"Roti dengan keju?" tanya [Nama].

"Iya."

"Itu saja?"

"Kalau kau mau, tambahkan ham."

Von mengambil kembali sepotong roti dari piringnya sendiri. Ia memosisikan ujung pisau tepat di tengah permukaan roti, lalu menyapukan mentega secara perlahan. "Jangan mulai dari pinggir."

[Nama] mengamati gerakan anak laki-laki itu dengan saksama. "Kenapa?"

"Karena kalau dioles dari pinggir, menteganya akan mudah meleber keluar."

Von menggerakkan bilah pisau dari pusat roti menuju tepi luar, meratakan mentega sedikit demi sedikit hingga mendekati batas kulit roti. Setelah itu, ia memutar posisi roti dan mengulang gerakan yang sama ke sisi yang lain.

"Mulai dari tengah," terang Von, "lalu ratakan ke luar. Jangan ditekan terlalu kuat."

[Nama] meraih pisau dan mencoba meniru instruksi tersebut. Namun baru dua kali usapan, mentega yang ia ambil terlampau banyak dan mendadak menumpuk tebal di salah satu sisi roti.

Von mendadak terdiam. "Kamu mengambilnya terlalu banyak, Fräulein Spencer."

"Aku kira memang harus banyak," cicit [Nama] untuk membela diri.

"Mentega itu makanan, bukan salep."

[Nama] menoleh padanya dengan raut wajah kesal. "Aku kan baru pertama kali mencobanya!"

Von menutup mulut untuk meredam tawa yang siap meledak kapan saja. Anak laki-laki berambut pirang itu lantas mengambil pisau dari tangan [Nama] dan memperagakannya sekali lagi-kali ini dalam tempo yang lebih lambat.

"Sedikit saja. Letakkan tepat di tengah."

[Nama] meraih pisaunya kembali dan menirukan panduan itu. "Seperti ini?"

"Ya."

"Lalu?"

"Tarik perlahan ke kanan, lalu dari tengah ke kiri."

"Seperti ini?"

"Du hast recht (kamu benar)."

[Nama] menghembuskan napas, "kalau begitu, apakah aku sudah bisa dianggap menjadi orang Jerman?"

Von terdiam sesaat sebelum terkekeh renyah. "Noch nicht (belum sepenuhnya)."

"Kenapa?"

"Karena kau masih orang Inggris."

[Nama] mengembungkan kedua pipinya sebal. "Kalau begitu, aku akan belajar!"

"Belajar apa?"

"Cara makan seperti orang Jerman yang baik dan benar."

​[Nama] menatap sekerat roti di genggamannya. Mentega di atasnya tak lagi menumpuk tebal, meski sisa-sisa gumpalan kuning itu masih meluber hingga ke tepi luar. "Mr. Herder," panggil [Nama].

​"Ya?"

​"Bagaimana kau tahu mentegaku meluber?"

​Tangan Von yang hendak meraih cangkir mendadak mematung di udara.

​[Nama] menatap wajah berpenutup kain hitam itu lekat-lekat. "Kan, kamu tidak bisa melihat."

Von yang baru saja hendak meraih cangkir minumannya mendadak menghentikan pergerakan tangannya di udara. 

[Nama] menatap paras berpenutup kain hitam itu dengan rasa ingin tahu."Kamu kan tidak bisa melihat."

​"Aku memang tidak bisa melihat."

​"Lalu bagaimana kamu bisa tahu?"

​Von tersenyum, "karena aku bisa mendengarnya."

​"Mendengar mentega?" cetus [Nama] keheranan.

​"Tentu saja tidak," Von tertawa garing, "aku mendengar denting pisaumu saat beradu dengan piring. Tadi, bilah pisaumu beberapa kali menabrak bagian luar kulit roti. Lagipula—"

​Von mengulurkan tangan, menahan sapuan pisau sang gadis. "Kamu mendadak berhenti mengoles, Fräulein."

 


 

[Nama] menyadari bahwa tinggal di Jerman bukan sekadar persoalan membiasakan diri dengan udara yang lebih dingin atau bahasa yang terdengar asing di telinganya. Ada begitu banyak kebiasaan kecil yang berbeda dari kehidupan yang selama ini ia kenal di Inggris. Bahkan hal-hal sederhana seperti cara orang-orang menyapa, waktu makan, cara berpakaian, hingga bagaimana mereka menghabiskan hari Minggu membuat [Nama] beberapa kali terdiam dengan ekspresi bingung. Tentu saja, dia enggan mengaku terkena culture shock. Bagi [Nama], melabeli diri bingung sama saja menyerahkan harga diri dan mengakui ketahuannya yang nol besar. Maka, setiap kali kebudayaan lokal menyudutkannya, ia akan memasang raut galak, berpura-pura sudah paham luar-dalam. Sayangnya, Von  punya radar tajam untuk mengendus kebohongannya.

"Kenapa jendelanya dibuka? Dingin sekali!" protesnya sembari menarik selimut hingga sebatas dagu.

​Von, yang sedang bersantai di dekat perapian, tersenyum. "Itu tradisi kami—rutin membiarkan angin menyapu isi rumah demi sirkulasi udara. Orang Jerman menyebutnya Lüften. Kau akan terbiasa."

​[Nama] mendengus. "Aku tidak mau terbiasa."

​Von memiringkan kepala, mengukir senyum. "Kamu mengatakan hal serupa sewaktu pertama kali menyentuh roti gandum.”

 [Nama] langsung menatapnya tajam. "Beda."

 "Apa bedanya?"

 "Roti dengan ham dan keju ternyata rasanya enak."

 "Jadi kamu mengaku, Fräulein?”

 "Aku tidak mengaku apa-apa!" [Nama] langsung memalingkan wajah, menyembunyikan rona tipis di pipinya. Ia mulai merutuki kemampuan Von yang terlampau lihai mengaitkan dan mengingat setiap ucapan sepele yang pernah keluar dari mulutnya.

Beberapa hari kemudian, Von mulai mengenalkannya pada kebiasaan-kebiasaan lain di rumah keluarga Herder. Ia menunjukkan bagaimana orang-orang di rumah itu biasanya menikmati roti dan makanan sederhana di pagi hari, bagaimana pakaian harus disesuaikan dengan cuaca, dan mengapa semua orang membawa mantel ketika keluar meskipun matahari terlihat cukup terang. Ia juga menjelaskan bahwa makan malam di rumah mereka tidak selalu berarti hidangan besar seperti pesta keluarga. Terkadang hanya ada roti, keju, daging dingin, mentega, acar, dan berbagai makanan sederhana lainnya.

[Nama] mulai mengenal kebiasaan lain. Ia belajar bahwa orang-orang Jerman sangat menghargai ketepatan waktu. Ia mulai terbiasa dengan sapaan yang berbeda, dengan penggunaan bahasa formal kepada orang yang lebih tua, dan dengan kebiasaan keluarga Herder menghabiskan waktu bersama di rumah. Ia juga mulai mengenal kebiasaan berjalan-jalan di luar rumah, menikmati taman, serta menghabiskan sore tanpa harus selalu melakukan sesuatu yang besar. 

Di rumahnya di Inggris, ia terbiasa mendengar orang dewasa berbicara dengan kalimat yang lebih panjang dan halus. Bahkan ketika seseorang tidak menyukai sesuatu, mereka akan mengatakannya dengan cara yang menurut [Nama] terdengar lebih lembut. Di rumah Herder, ia menemukan bahwa beberapa orang justru mengatakannya secara langsung. Tidak kasar, tetapi cukup terus terang hingga [Nama] beberapa kali salah mengartikannya sebagai kemarahan.

Anak lelaki berkebangsaan Jerman itu menjelaskan, Tidak semua perkataan harus dianggap sebagai penghinaan. Kadang-kadang orang hanya mengatakan apa yang mereka pikirkan tanpa maksud menyakiti."Kadang, orang-orang hanya mengutarakannya secara jujur, tanpa ada niat 

Guna mempermudah adaptasinya, Von telaten mengajari [Nama] beberapa kosa kata dan tata krama dasar. Dari kapan harus mengujarkan Guten Morgen atau Guten Abend, hingga pemakaian sebutan penghormatan yang tepat. [Nama] kerap mengulang-ulang kalimat itu hingga lidahnya tak lagi kelu.

"Ulangi," kata Von.

"Guten Morgen."

"Bagus."

"Guten Morgen."

"Kenapa diulang?"

"Supaya aku ingat."

Von tampak berpikir sebentar. "Kalau orang yang lebih tua dan belum terlalu dekat, kau bisa mengatakan Guten Morgen, Guten Tag, atau Guten Abend, tergantung waktunya." Ia kemudian menambahkan, "Dan kalau perlu, gunakan Herr atau Frau diikuti nama keluarganya." 

Von juga mengingatkan [Nama] agar selalu menyapa orang dewasa terlebih dahulu. Ketika bertemu tamu keluarga, ia mengajarinya untuk berdiri dengan sopan dan menjawab salam. Von kemudian menjelaskan bahwa cara berbicara kepada orang yang lebih tua juga dapat berubah tergantung hubungan mereka. Kepada orang dewasa yang belum dikenal, [Nama] sebaiknya menggunakan bahasa yang sopan dan tidak langsung memanggil mereka hanya dengan nama depan. Kepada orang yang sudah dekat dengan keluarga, caranya bisa lebih santai, tetapi tetap harus memperhatikan usia dan kedudukan mereka. Jika seseorang memperkenalkan dirinya dengan sebutan tertentu, [Nama] sebaiknya mengikuti cara yang digunakan orang tersebut. Semua itu terdengar rumit bagi [Nama], terutama karena ia masih belajar bahasa Jerman, tetapi Von menjelaskannya dengan sabar.

Ketika seorang kerabat datang berkunjung, [Nama] bahkan melihat Von mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ia memperhatikan dengan saksama sebelum akhirnya ikut melakukannya.

"Kenapa harus berjabat tangan?" tanyanya setelah tamu itu pergi.

"Karena itu cara menyapa."

"Di Inggris juga begitu."

"Berarti kamu tidak akan kaget dengan cara menyapa ala Jerman."

"Aku kaget karena kau melakukannya dengan sangat serius."

Von tersenyum. "Aku tidak bisa melihat orang yang sedang menjabat tanganku. Jadi aku harus memastikan aku melakukannya dengan benar."

Kebiasaan yang paling disukai [Nama] justru datang pada hari Minggu. Rumah keluarga Herder terasa jauh lebih tenang. Tidak banyak aktivitas seperti hari-hari biasa. Para pelayan bekerja lebih santai, keluarga menghabiskan waktu bersama, dan Von sering mengajaknya berjalan-jalan di sekitar kediaman. 

Gadis itu mungkin belum sepenuhnya menyatu dengan ritme kehidupan di tanah Jerman. Lidahnya mungkin masih akan terpeleset melafalkan kata, kepalanya masih akan pening saat mendengar percakapan yang terlalu cepat, dan hatinya mungkin masih sering diam-diam membandingkannya dengan kenangan manis di Inggris. Namun, di tempat ini, ia tahu ia tidak lagi berjalan sendirian.

 


 

Berlin, 1892

 

Pada usia dua belas tahun, [Nama] mulai menyerap pemahaman yang kian terang perihal apa yang orang-orang sebut sebagai romansa. Alasannya bukan cuma karena sang wanita menginjak fase pubertas, melainkan karena sang wanita makin giat membaca novel picisan, mencuri dengar obrolan para wanita dewasa di rumah, serta diam-diam mengamati sejoli yang kerap bertandang ke kediaman Herder.

Bagi [Nama], seorang anak laki-laki yang mendambakan gadis pujaannya idealnya pasti memamerkan gestur istimewa. Menghadiahkan sekuntum bunga, membukakan pintu, merangkai rayuan—atau mungkin menorehkan surat cinta yang membuat sang gadis merona.

Minimal. Begitulah doktrin yang diagungkan cerita-cerita fiksi. Sebab itulah, usai bertahun-tahun hidup berdampingan dengan Von, ada satu ganjalan besar di hati [Nama] yang tak pernah sanggup ia utarakan secara tuntas. Von benar-benar buta terhadap sinyal romantis yang diberikan sang wanita.  

 Von tak bisa melihat ketika [Nama] sengaja bersolek atau saat gadis itu mengenakan gaun tercantiknya. Sang pria berambut pirang itu pun tak mampu melihat ketika [Nama] sengaja merapat, menanti sepatah kata sanjungan berlabuh.

Von memang luput memindai rupa, tetapi pendengarannya lihai menangkap derap langkah yang sedikit berubah, membedakan nada suara. Penciumannya peka mencerap aroma parfum. Sayangnya, cara Von mengekspresikan perhatian tak pernah seirama dengan fantasi [Nama].

Sore itu, mereka duduk bersisian di taman kediaman Herder. [Nama] sengaja mengikis jarak, mengambil posisi duduk  di sebelah Von hingga bahu mereka bersentuhan. Sang wanita bahkan merebahkan tangan di atas bangku, yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari telapak tangan Von.

Dalam imajinasinya, Von akan merasakan kedekatan ini dan meraih tangannya. Detik demi detik merambat pergi tanpa ada keajaiban. Von justru sibuk meraba-raba permukaan meja kayu di samping mereka, berjuang menjejaki cangkir tehnya.

"Dasar bodoh."

Gerakan Von terhenti seketika. "Siapa?"

"Kau."

"Aku?"

"Iya, siapa lagi?!"

Von menghentikan pencariannya. "Kenapa?”

[Nama] menatap Von dengan raut gusar. "Kamu tidak sadar? Aku sudah menebar sinyal berkali-kali! Aku memakai pita baru, mengenakan gaun berbeda, duduk serapat ini di sampingmu, bahkan sengaja bergeming menantikan kau bersuara. 

Aku berusaha membuatmu paham bahwa aku ingin kau memperhatikanku lebih dari biasanya, tapi kau malah sibuk memburu cangkir teh. 

Kau kaku sekali, Von! Apa tak pernah terlintas di kepalamu bahwa aku ingin mendengar ucapan manis? Sekali saja. Tidak perlu muluk-muluk—cukup bilang aku cantik atau kau senang berada di

Von terdiam sejenak, sebelum pulasan senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku tak bisa melihat pita atau gaun yang kau pakai, [Nama]. Aku juga tak bisa memindai parasmu saat kau bergeming di dekatku. Jika kau menginginkan sesuatu dariku, kau harus mengutarakannya. 

Aku memang mengenali derap langkahmu, intonasi bicaramu, bahkan deru napasmu saat bersungut-sungut. Namun, aku tak punya kemampuan membaca isi kepalamu. Ketika kau duduk serapat ini, aku hanya tahu kau ada di sisiku. Saat kau membisu lebih lama, aku paham kau sedang menanti sesuatu, tapi aku tak tahu apa itu. 

Jadi, jangan merajuk hanya karena aku gagal menangkap hal-hal yang bahkan tak sanggup kukenali lewat mata.”

[Nama] menggembungkan pipinya. "Justru itu letak masalahnya! Aku tidak mau harus mendikte semuanya padamu. Kalau aku harus berujar, 'Von, puji aku cantik,' atau 'Von, genggam tanganku,' kadar romantisnya hilang! Aku ingin kamu memikirkannya secara spontan.”

Von terkekeh. Lelaki berambut pirang itu mengulurkan tangannya menyusuri permukaan kayu hingga ujung jarinya menyentuh telapak tangan [Nama]. "Kalau begitu, bimbing aku," bisiknya. "Aku memang tak mampu melihat tindakanmu, tetapi aku bisa belajar meresapi caramu bertutur. Jadi, jika aku melewatkan kode-kodemu, jangan lantas berpaling. Beri tahu aku bahwa aku telah melewatkannya.”

[Nama] tertegun, "Ha. Kamu sangat merepotkan, Von.”

Senyum Von kian mekar. "Kamu juga sama merepotkannya denganku."

"Aku tidak merepotkan siapa pun, ya!"

"Baiklah, kau tidak merepotkan. Kalau begitu, kau cerewet."

[Nama] seketika mendelik. Gelak tawa anak lelaki itu pun kembali menggema di taman.

 


 

Sore berikutnya, [Nama] masih mengumpulkan harga dirinya yang agak terluka demi memancing perhatian romantis Von. Mereka kembali ke taman belakang, area favorit Von untuk merawat deretan kelopak bunga yang ia tanam sendiri. [Nama] berada tak jauh darinya, berpura-pura tekun membaca buku, padahal manik [warna mata] milik sang gadis lebih sering mencuri pandang pada tiap gerak-gerik Von.

Hari itu, Von tampak sibuk memetik beberapa tangkai bunga di dekat pagar. Rasa ingin tahu [Nama] seketika mencuat. Sang wanita berambut [warna rambut] itu mengatupkan bukunya pelan-pelan, mengamati detail gerakan anak itu. Ketika Von berbalik dan melangkah mendekat membawa seikat bunga, ritme jantung [Nama] berpacu.

Jangan-jangan, pikir sang gadis. Apakah deretan kode kemarin akhirnya membuahkan hasil? Apakah Von mulai paham?

"Jangan bergeming dulu, [Nama]. Aku punya sesuatu untukmu," ucap Von sembari melangkahkan kedua kaki jenjangnya. "Tadi aku menemukan bunga yang kurasa sangat cocok untuk seseorang yang hobinya ngomel padaku. Aku tak tahu pasti apakah ia akan menyukainya, tapi aroma dan tekstur kelopaknya sangat indah."

Von mengangkat tangannya, mengulurkan seikat bunga segar itu lurus ke depan. "Ini untukmu.”

[Nama] terpaku di tempat. Seluruh kebisingan taman mendadak lenyap. Rona merah menjalar cepat menutupi pipinya, netranya berbinar menatap buket sederhana itu. Jadi ... Von benar-benar merangkai bunga untuknya? Setelah sekian banyak kegagalan? Setelah ia mengutuk ketidakpekaan anak itu?

Namun sebelum [Nama] sempat meraihnya, gadis pelayan yang kebetulan berdiri di dekat situ bersuara dengan nada gamang. "Herr Herder ..." Gadis itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku bukan Fräulein Spencer.” 

Von mendadak tertegun, tangannya melayang di udara. "Hah?”

Gadis pelayan itu meringis. "Tuan salah arah. Fräulein Spencer duduk di sebelah kiri Tuan."

Von perlahan memalingkan wajahnya ke arah sumber suara pelayan, lalu beralih perlahan ke arah [Nama] yang mendadak membisu. Wajah [Nama] yang semula merona karena malu kini membara akibat menahan jengkel.

Von menundukkan kepalanya sedikit, berdehem. "Oh. Berarti ..." Dia mengangkat bunganya kembali, "... aku baru saja menyerahkan bunga ini pada orang yang salah?"

Gadis pelayan itu mengangguk sembari mengulum senyum. "Benar, Herr Herder."

[Nama] membenamkan wajahnya rapat-rapat ke balik kedua telapak tangan. "Aku tidak percaya."

Saat [Nama] menurunkan tangannya dan menatap Von dengan malu, anak laki-laki itu justru terhibur oleh kekeliruannya sendiri. Tanpa rasa bersalah, Von kembali meraba arah, menatap lurus ke titik di mana suara [Nama] terdengar. 

Pelayan tadi bergegas mundur sembari menahan tawa yang nyaris pecah.

"Baiklah, mari kupastikan dulu. [Nama]?" tanya Von memastikan. 

"Apa?!" sahut [Nama] ketus.

"Kau tepat di hadapanku, kan?"

"Iya!"

Von mengulas senyum, lalu menyodorkan bunga itu tepat ke pangkuan [Nama]. "Kalau begitu, bunga ini sah milikmu."

[Nama] menerima bunga itu dengan raut wajah yang masih merah padam. "Kau benar-benar konyol."

Von tertawa renyah. "Aku tahu."

[Nama] memandangi kuntum bunga segar di genggamannya, lalu bergumam. "Padahal aku sempat mengira kau mendadak jadi pria romantis."

Von memiringkan kepalanya, terkekeh. "Bukankah aku memang romantis?"

"Tidak setelah kau salah menyerahkan bunga pada pelayan!"

"Tapi pada akhirnya bunga itu berlabuh padamu, kan?"

[Nama] terdiam seribu bahasa. Sang gadis bermaksud melontarkan kalimat pedas, namun bibirnya justru mengkhianati nuraninya—mengukir senyum tipis yang tak mampu disembunyikan. "Dasar menyebalkan."

Von tersenyum puas. "Artinya kau menyukai bunganya?”

[Nama] buru-buru memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya sembari memeluk tangkai bunga itu lebih erat. "... sedikit."

 


 

Delapan tahun melintasi waktu sejak [Nama] pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, dan sepanjang bentangan masa itu, banyak hal mengecambah. Bahasa Jermannya yang semula patah-patah kini lebih fasih. Meski aksen British masih samar-samar menyalut artikulasinya, ia sudah piawai menyelami percakapan tanpa perlu bergantung pada bantuan penerjemah. 

Kebiasaan masyarakat setempat pun tak lagi asing. Roti gandum keras dan irisan keju kini menjadi santapan yang familier, ketepatan waktu tak lagi membuatnya terhenyak, dan ia telah terlatih menghadapi etiket jamuan makan yang kaku. Delapan tahun berhasil mengikis keterasingan Jerman di matanya.

[Nama] bertengger di ceruk jendela, mengamati Von yang sejak tadi tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Bertambahnya usia membuat figur Von makin tinggi menjulang. Uniknya, tangan pemuda itu seolah tak pernah mampu berpisah dari komponen mekanis yang menurut [Nama] terlampau menjenuhkan.

Hari itu pun tak ada bedanya. Meja kerja Von disesaki serakan logam, perkakas kikir, pegas, dan kerangka besi—susunan yang membuat [Nama] paham bahwa Von sedang merakit sesuatu yang berpotensi memicu kegemparan bagi orang dewasa biasa.

"Von, menurutmu jika suatu hari nanti kita menikah, pesta seperti apa yang kau bayangkan?"

Von tak langsung bersuara. Kedua tangannya tekun memadukan komponen miniatur pada senjata di genggamannya. Ia bahkan tak menoleh; pertanyaan [Nama] lewat bagai desir angin berlalu. "Hm? Pernikahan?"

Pemuda itu memutar baut mungil menggunakan obeng, bergeming sejenak demi memastikan posisinya tak meleset setitik pun. Raut wajahnya teramat serius, walau fokusnya murni tersedot oleh objek logam di hadapannya. "Ich weiß nicht. Aku belum pernah menimbangnya. Mengapa mendadak bertanya begitu?"

[Nama] memaku pandangannya. Ia paham betul tabiat Von saat terdistraksi oleh rakitannya. Namun, jawaban seringkas itu tetap menyisakan sedikit rasa jengkel.

"Aku hanya penasaran. Kita sudah bertahun-tahun menetap di bawah atap yang sama, dan aku paham betul kultur Jerman. Jika kelak kita melangkah ke jenjang itu, aku ingin tahu gambaran di kepalamu. Apakah kau memimpikan perayaan yang megah atau justru yang bersahaja?"

Von akhirnya mendongak. Memindai [Nama] sejenak sebelum kembali bertaut pada komponen di tangannya. "Soal lokasi, katedral sudah cukup."

[Nama] mengangguk pelan. Logika yang sangat tipikal seorang Von. Namun sebelum ia sempat merangkai tanggapan, Von sudah kembali mendedikasikan atensinya pada senjata di atas meja.

"Lalu bagaimana dengan jamuannya? Aku sudah cukup khatam dengan kuliner Jerman. Aku membayangkan perpaduan hidangan khas sini dengan tradisi dari kampung halamanku."

Von menggeser lempengan baja ke tepi. "Das klingt gut."

Ia meraih komponen lain, memasangnya dengan luwes, lalu melanjutkan dengan intonasi datar. "Kamu yang pegang kendali soal menu, Frau Spencer. Bagiku yang terpenting porsinya mencukupi. Tapi jika kau ingin mempertahankan cita rasa lokal, Sauerbraten atau olahan daging panggang bisa jadi pilihan. Dan tentu saja, kue pernikahan."

[Nama] menahan senyum. Setidaknya Von mulai kooperatif. "Aku juga ingin menyisipkan hal-hal dari latar belakang keluargaku. Meski delapan tahun di sini membuatku melebur dengan Jerman, aku enggan menanggalkan akarku."

Tangan Von terhenti kaku di atas meja. "Jika itu penting bagimu, wujudkan saja."

Ucapannya lugas, tak menyisakan ruang untuk perdebatan. Si pirang kembali memegang komponen lain, menelitinya dengan cermat. "Pernikahan bukanlah soal patuh pada tradisi. Yang terpenting adalah kenyamanan kedua belah pihak. Jadi, jika kau ingin membawa tradisi keluargamu, lakukan saja."

[Nama] tersenyum hangat. "Jawaban yang bijaksana."

Von mengangguk tipis. "Danke."

"Nah, bagaimana dengan busana? Apakah kamu akan mengenakan setelan formal sebagaimana pria Jerman pada umumnya?"

Von menyahut tanpa jeda. "Anzug."

[Nama] berkedip. "Setelan jas?"

"Ya." Von mengukir senyum. "Hitam atau warna gelap. Praktis, efisien, dan sesuai tata krama."

[Nama] mengangguk sambil membayangkan gambarannya. "Masuk akal. Aku juga membayangkan dekorasi bunga—tak perlu berlebihan, asal cukup menyegarkan ruangan. Oh, dan harus ada alunan musik."

Von kembali sibuk memutar komponen. "Musik boleh saja."

"Kau bahkan tak menyimak ucapanku."

"Aku mendengarkan tiap kata."

"Konsentrasimu terkunci pada senjata itu."

"Kapasitas otak ku sanggup memproses dua hal bersamaan," balas Von santai, tangannya lincah memutar baut logam.

"Baiklah. Kalau begitu, pertanyaan paling krusial: usai menikah nanti, di mana kita akan menetap? Tetap di Jerman, atau berpindah ke negara lain?"

Kali ini Von menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan obeng ke meja dan menatap [Nama] lurus-lurus dari balik penutup mata yang bertengger di wajah tampan sang pria. "Jerman," jawabnya.

"Alasannya?"

"Sebab aku sudah memahami ekosistemnya. Bengkel kerjaku bertempat di sini. Aku mengenali medan akses logistikku, masyarakatnya dan lain sebagainya. Berpindah ke negara asing berarti membangun infrastruktur dari nol."

Von kembali meraih obengnya, "tapi jika kau bersikeras ingin menetap di Inggris, aku tak keberatan."

[Nama] tersenyum, "aku pun tak keberatan. Setelah delapan tahun, Jerman sudah menjelma menjadi rumah kedua bagiku."

Von mengangguk, "gut." Ia mengunci komponen terakhir pada senjata tersebut.

[Nama] mengamati pemuda itu beberapa saat sebelum sebuah kesadaran menyenggol benaknya. "Tunggu. Sejak tadi konsentrasi kamu sebenarnya didominasi oleh senjata itu, kan?"

"Tepat."

Kejujuran itu membuat [Nama] bungkam. Von menguji fungsi mekanisme senjatanya. Air mukanya terlihat puas atas hasil karyanya, menimang benda tersebut dari pelbagai sudut. "Jika tak kutuntaskan detik ini, aku bisa lupa urutan presisi komponennya."

[Nama] menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas. "Jadi, selagi aku mengulas perihal masa depan kita, kau sibuk merangkai alat pembunuh?"

"Demikian kenyataannya."

"Dan kau tak merasa bersalah sedikit pun?"

"Sama sekali tidak."

[Nama] menghembuskan napas pasrah, walau segaris senyum tak mampu disembunyikan. Delapan tahun mengenali Von telah membentuk pemahamannya bahwa pemuda itu memang eksentrik. Bahwa urusan masa depan dan mekanisme senjata bisa beriringan tanpa sekat di kepalanya. Namun setidaknya, jawaban Von amat gamblang. Von mendambakan perayaan yang ringkas, berbasis di Jerman, dengan kebebasan menu serta perpaduan tradisi yang luwes.

[Nama] memperhatikan Von yang mendadak membongkar kembali bagian mungil senjatanya.

"Von."

"Hm?"

"Jika hari pernikahan kita benar-benar tiba, berjanjilah untuk tidak merakit senjata di tengah acara."

Von bergeming. Ia menoleh dengan raut teramat serius. "Aku tak akan melakukannya."

[Nama] bernapas lega. "Bagus."

Von menambahkan, "... Kecuali dalam situasi darurat."

[Nama] seketika memejamkan mata rapat-rapat. "Von!"

"Apa?"

"Itu bukan komitmen yang ingin kudengar!"

Von kembali melanjutkan rakitannya sembari bersenandung. [Nama] hanya mampu menggelengkan kepala. Delapan tahun di Jerman mengajarkan banyak hal—kultur, bahasa, dan pola pikir masyarakatnya. Kecuali Von. Pemuda Jerman itu sanggup menuturkan masa depan dengan nada tenang selagi memegang senjata peledak.

"Von ... bagaimana jika kita melangsungkan pernikahannya di Inggris saja?"

Gerakan tangan Von terhenti. Ia tak langsung menyahut. Kepalanya sedikit miring, menimbang ide tersebut walau gesturnya mengisyaratkan hal itu bukanlah persoalan pelik. Dia membaringkan obeng di meja lantas menyandarkan punggungnya.  Seringai menyebalkan pun mengembang di paras tampan Sang mekanik. 

"Jika itu kehendakmu, silakan. Aku tak keberatan."

Von mengedikkan bahunya, menyerahkan kendali sepenuhnya ke tangan [Nama]. "Jika kau mendambakan pernikahan di Inggris, kita ke Inggris. Jika kau memilih Jerman, kita di Jerman. Aku tak punya hak untuk memaksakan kehendak tunanganku."

Ia kembali menjangkau senjatanya, namun kurva senyum usil masih bertengger di bibirnya.

"Lagi pula, esensinya bukan terletak pada lokasinya. Selama sosok yang kunikahi adalah dirimu, aku tak peduli di mana bumi yang kita pijak."

[Nama] bungkam. Dadanya terasa menggelitik karena di hinggapi kupu-kupu. Ia menatap Von yang telah kembali tenggelam dalam kesibukannya, mengulas senyum tipis.

"Jika kamu memilih Inggris, aku akan melangkah bersamamu. Jika kau memilih Jerman, aku akan menetap di sisimu. Jadi, aku pun tak punya alasan untuk memusingkan geografisnya."

Von meraih obengnya kembali. "Yang menggelitik justru melihatmu begitu tekun membedah tiap detailnya—menu, busana, dekorasi, musik, lokasi, hingga tradisi. Padahal usia kita baru lima belas tahun."

Ia terkekeh pelan. "Jadi, jika kelak kau mantap memilih Inggris, pastikan memberiku warta jauh-jauh hari."

[Nama] mengerutkan kening, "untuk apa?"

"Agar aku bisa bersiap." Von mengangkat senjata yang baru saja tuntas dirakitnya dengan puas. "Dan mungkin merakit satu varian senjata baru."

"Untuk apa kamu merakit senjata baru di hari pernikahan?!"

"Sekadar antisipasi—siapa tahu ada pengacau yang berniat merusak hari bahagia kita."

 


 

Berlin, 1894

Kini [Nama] telah menginjak usia dua puluh empat tahun, sementara Von genap dua puluh enam. Waktu menumbuhkan banyak perubahan, tetapi beberapa tabiat enggan pudar. Salah satunya adalah kegandrungan Von menenggelamkan diri berjam-jam di meja kerja—dikelilingi perkakas yang berserakan— seakan-akan perputaran dunia bergantung pada satu baut yang belum terpasang. 

Pagi itu, kediaman mereka disesaki tumpukan kotak-kotak kayu dan koper yang sebagian besar telah terkunci rapat. Mereka akan menanggalkan Jerman untuk sementara demi bertolak ke Inggris. Bagi [Nama], keputusan pindah ini terasa janggal sekaligus familier. Inggris adalah tanah yang pernah ia tinggalkan bertahun-tahun silam, dan kini ia berencana kembali bersama pria yang merakit komponen senjata di hadapannya saat mereka masih belia. 

Von duduk di samping meja makan, memilah lembaran dokumen sebelum menjejalkannya ke dalam tas kulit. Ekspresinya kelewat tenang. Baginya, agenda mereka sekadar pindah ke distrik sebelah. [Nama], yang tengah memindai daftar inventaris barang, akhirnya menatapnya dengan sangsi.

Sang wanita paham Von mendulang tawaran kerja baru di Inggris. Namun, deskripsi pekerjaan yang dituturkan pria itu sejak awal terlampau dangkal. "Jadi, coba jabarkan sekali lagi. Apa sebenarnya posisi pekerjaanmu di Inggris?"

Von mengangkat pandangan dari dokumennya. Segaris senyum terukir di bibirnya—terlalu santai untuk ukuran seseorang yang memboyong kehidupannya ke lintas negara.

"Inventor. Tapi tak usah membayangkan pekerjaan megah berbelit. Mereka sekadar membutuhkan keahlian seseorang untuk merancang dan merakit aneka mekanisme artileri. Aku bekerja di balik layar, bergelut murni dengan cetak biru dan perkakas."

Ia menyisipkan lembaran dokumen terakhir ke dalam tas. "Intinya, aku murni perakit senjata. Aku merancangnya, orang lain yang mengeksekusinya. Jadi, jangan mengira aku akan pulang saban petang membawa dongeng heroik perihal menyelamatkan mahkota kerajaan."

[Nama] memaku pandangannya cukup lama. Ada kejanggalan yang terbungkus rapi dalam penjelasan sesederhana itu, tetapi ia tak punya pijakan untuk menaruh curiga. Lagi pula, kemampuan Von dalam urusan mekanik memang sudah melampaui rata-rata sejak mereka masih belia.

"Perakit senjata?"

Von mengangguk. "Ya, kurang lebih demikian. Mereka mencari spesialisasi khusus, dan kebetulan kualifikasiku cocok. Kompensasinya memuaskan dan fasilitasnya terjamin, jadi kupikir, mengapa tidak?"

Dia menyunggingkan senyum sembari mengedikkan bahu. "Lagi pula, kamu pernah mengutarakan kerinduan untuk kembali ke Inggris, bukan? Ini momen yang pas. Anggap saja ini kesempatan melawat yang dibayar."

[Nama] menurunkan catatan di tangannya, membalas Von dengan senyum. "Kalau begitu, aku bersyukur. Aku memang sudah lama ingin menginjakkan kaki lagi di Inggris. Setelah menetap di Jerman bertahun-tahun, rasanya aneh membayangkan kita akan bertolak ke sana."

Von mengangguk pelan. "Begitu pun aku."

Pria itu mendekat, meraih koper berukuran masif yang tampak berat, lalu mengangkatnya tanpa tanding. "Semua sudah terencana. Kita berangkat pekan depan."

[Nama] mengamati ketangkasan Von. "Kau tampak terlalu santai."

Von menoleh. "Apakah aku harus panik?"

"Bukan panik, tapi kita memboyong hidup ke negara lain. Kau punya tenggat kerja baru, aku harus membereskan logistik. Wajar jika ada sejumput rasa cemas."

Von memposisikan koper di dekat pintu, lantas mengukir senyum hangat. "Aku sudah mengkalkulasi segalanya. Akomodasi telah siap, posisi kerja menanti, dan perjalanan kita memiliki arah yang jelas. Tak ada variabel yang perlu dicemaskan."

Ia kembali melangkah ke meja kerjanya. "Lagi pula, aku punya satu faktor pamungkas yang membuat segalanya terasa ringan."

"Apa?"

Von menatap [Nama] dengan binar mata yang cerah. "Kehadiranmu. Jika aku melangkah seorang diri, mungkin rasanya akan asing. Tapi karena kau ada di sisiku, kepindahan ini sekadar perpindahan alamat biasa."

 

Tangan kanannya meraih jari–jari [Nama], mengusapnya. "Dan jika kau merasa canggung di Inggris nanti, kita akan melaluinya bersama."

[Nama] mengulas senyum, "baiklah. Aku pegang ucapanmu."

Von membalas senyuman itu sebelum kembali berfokus pada meja kerjanya. Sang lelaki menyingkap kotak kecil yang memuat deretan komponen. 

"Kau masih berniat merakit sesuatu saat ini?"

"Hanya menyempurnakan bagian kecil."

"Kita berangkat pekan depan, barang-barang belum tuntas dikemas, dan kau malah asyik merakit senjata?"

Von tertawa renyah. "Justru karena tenggatnya makin dekat, aku harus menuntaskannya sekarang."

[Nama] menggeleng sembari terkekeh. Dia sudah mengenal tabiat Von untuk repot-repot memicu perdebatan sepele itu.

 


 

London,  1894

Dia minggu berselang, pijakan kaki mereka akhirnya menyentuh tanah Inggris. London menyambut kedatangan mereka dengan dekapan udara dingin dan gulungan langit kelabu—persis seperti memori yang tersimpan di kepala [Nama]. Metropolis itu tampak kian padat dan riuh, namun masih memancarkan aroma khas yang menyalut nostalgia.

Von berdiri bergeming di sisinya saat mereka turun dari gerbong kereta. Matanya menyapu sekeliling, lantas menarik napas dalam-dalam.

"Jadi, inilah Inggris."

[Nama] mengulas senyum. "Ya. Selamat datang kembali."

Von meliriknya, "maksudmu, selamat datang kembali untukmu?"

"Untuk kita."

"Baik. Untuk kita."

Di balik sandiwara label "perakit senjata", ada riwayat identitas yang diselubungi kerahasiaan kaku. Von Herder bukanlah sekadar montir senjata biasa. Dia telah diikat oleh MI6 sebagai inventor—sosok vital di balik tirai yang bertugas merancang, memodifikasi, dan menjajaki teknologi intelijen guna menyokong operasi rahasia monarki. 

Tugasnya menuntut kerahasiaan mutlak hingga tingkatan teratas, membuat siapa pun, termasuk kerabat terdekat, tak boleh mengendus detailnya. Untuk saat ini, Von memilih membiarkan [Nama] menetap dalam ilusi aman bahwa ia sekadar perakit artileri biasa.

"Dan mengenai pekerjaanku, tak perlu dipikirkan terlalu dalam," seloroh Von. "Aku  bergelut dengan besi dan peluru. Aku tak akan terseret dalam hal berbahaya."

"Benarkah?"

"Benar."

Pulasan senyum yang tampak begitu meyakinkan hingga [Nama] tak memiliki celah untuk meragukannya. "Kalau begitu, aku tak akan mencampuri urusan kerjamu."

Von tersenyum puas. "Gadis pintar." Ia lantas menyusupkan jarinya ke sela jari [Nama], menggenggamnya erat. "Selamat datang kembali di rumah, [Nama]."

London tak pernah mengira bahwa salah satu pilar rahasia yang menjaga stabilitas kekaisaran tetap kokoh berada di tangan seorang pria yang lebih suka menghabiskan malamnya merakit komponen peledak sembari bertukar canda manis dengan sang tunangan.

 


 

Hari-hari awal mereka di London relatif mulus. [Nama] mulai merajut kembali ingatannya tentang kota yang pernah menjadi latar masa kecilnya, sementara Von perlahan membaur dengan lingkungan kerja barunya. Kediaman mereka memang belum sepenuhnya terasa seperti 'rumah'; setidaknya barang-barang mulai keluar dari koper, dan mereka tak lagi terpaksa menyantap makan malam di atas peti kayu serbaguna.

Sore itu, Von melangkah melewati pintu tepat saat [Nama] sibuk menata jajaran buku di rak. Pria itu menanggalkan tas kulitnya di atas kursi, lantas melepas sarung tangan kulit yang membalut jemarinya. Jelaga hitam membayang tipis di celah jarinya—penanda kaku bahwa harinya dihabiskan bergelut dengan baja dan mesin.

[Nama] melirik tangan itu sejenak sebelum kembali menata buku-bukunya. Von  mendekat, menyandarkan bahu ke bingkai rak sambil menghadap sang tunangan. Air muka pemuda Jerman itu kelewat tenang untuk orang yang mau mengumumkan sesuatu yang penting. "Aku mungkin akan lebih sering mendekam di bengkel mulai pekan depan."

Gerakan [Nama] terhenti seketika dan berpaling menghadap sang kekasih. "Sering?” Kata sederhana itu terdengar datar. Tapi di baliknya ada hal yang hanya bisa ditangkap telinga yang sudah hafal setiap perubahan nada bicaranya.

Von mengangguk. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu menyunggingkan senyum. "Ya. Beban kerjanya melonjak. Mereka minta beberapa cetak biru selesai dalam tenggat ketat, jadi aku harus lebih sering di sana. Mungkin aku pulang larut beberapa malam ke depan.”

[Nama] memaku pandangannya tanpa berkedip. Keheningan menjembatani mereka. Von yang semula santai mulai menangkap perubahan suasana di hadapannya. Tapi bukannya menjelaskan, ia malah memasang raut polos tanpa dosa.

"Kenapa menatapku seperti itu?"

[Nama] bersedekap dada. "Kedepannya, kamu akan sering di bengkel, pulang larut malam, dan menghabiskan sebagian besar harimu di sana?”

"Kurang lebih demikian."

[Nama] menyipitkan matanya. "Di sana ada perempuan?"

Sesaat kemudian, seulas senyum jahil perlahan mekar di tampan wajah Von. Kekehan lolos dari bibir. Tandanya jelas: [Nama] baru saja terjebak dalam perangkap. Von memperpendek jarak, menundukkan kepala hingga wajah mereka semakin dekat. Kilat jahil berpendar di balik matanya.

"Jadi itu konklusi pertama yang melintas di kepalamu?"

[Nama] bergeming, "aku hanya mengajukan pertanyaan."

"Tentu,” Von mengangguk kuat-kuat, meski bibirnya tak sanggup menahan tawa. "Lantas bagaimana jika memang ada?"

Sorot mata [Nama] seketika menusuk. "Jika ada, aku akan memastikan kau kehilangan akses untuk menemuinya lagi."

Tawa Von pecah. Ia menutupi mulut dengan sebelah tangan, meski bahunya sudah bergetar. Ia berjuang keras menahan tawa agar wajahnya tampak serius, tapi gagal total. Ia tidak tahan untuk terus menggoda [Nama], yang mendadak ke topik perselingkuhan hanya gara-gara urusan bengkel. "Astaga ... aku sekadar mengabarkan soal bengkel dan kau sudah menyusun skenario perselingkuhan."

"Aku tidak menuduhmu selingkuh.”

Von mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi—gestur khas yang selalu muncul saat ia merasa memegang kendali atas argumen. "Kau mempertanyakan keberadaan perempuan," tunjuknya.

"Bukankah itu hal yang wajar?"

Dia berdeham, berpura-pura mengatur nada suara. "Baiklah, aku akan menjawab jujur," ujarnya, sengaja menggantung kalimatnya sambil menikmati ketegangan yang ia buat sendiri. "Ada.”

"Benarkah?"

"Ya. Dia rekan kerjaku!"

[Nama] menatapnya dengan raut hampa selama beberapa saat, sedang mencerna ucapan pria di hadapannya, sebelum tangannya perlahan meraih buku tebal di meja. Von masih terkekeh, belum menyadari bahaya yang mengintai.

"Perempuan itu mengenakan kacamata—aw!"

Buku tebal itu mendarat tepat di ubun-ubun Von, membungkam ocehannya. Von tersentak, refleks menepuk kepala yang baru saja kena timpuk buku. "Kau memukulku pakai buku sekeras ini hanya karena aku menyebut sosok wanita. Lantas bagaimana kalau kubilang dia cantik sekali?”

[Nama] menjangkau buku kedua. Von seketika mengambil langkah mundur. "Tunggu." Ia mengangkat kedua telapak tangan. "Aku bercanda!"

[Nama] tetap mendesaknya, "Von!"

"Baik, baik! Aku menyerah!" Von mundur teratur hingga punggungnya menabrak tepi meja. Ia masih berani melempar seringai lebar, meski mulai mewaspadai benda di genggaman [Nama]— terlebih karena dia tidak bisa melihat benda apa yang ada di tangan kekasihnya. Siapa tau, [Nama] sedang memegang guci sekarang. 

"Aku akan menjawab dengan jujur," ratapnya sambil menikmati suasana dramatis yang ia bangun sendiri. "Memang ada perempuan di bengkel."

[Nama] mendadak bergeming, genggamannya pada buku tidak sekuat sebelumnya.

"Namanya ..." Von sengaja menggantung nama itu di udara seperti benang yang siap diputus. [Nama] menahan napas, sudah bersiap melayangkan buku kedua sebagai vonis.

"Mesin Bubut," jawab Von. 

Buku kedua urung melayang. Von pasrah menerima akibatnya. [Nama] menurunkan bukunya pelan. Von membuka mata perlahan, mengedip beberapa kali seolah baru tersadar dari kejahilan panjang. "Kedua," gumam Von datar.

[Nama] menatapnya tanpa ekspresi. "Apa?"

"Benjolan kedua," ulang Von sembari meraba tengkoraknya hati-hati.

[Nama] berjuang mati-matian menahan senyum. Bibirnya terkatup rapat, namun kerutan tawa di sudut matanya tak sanggup berbohong. "Rasanya setimpal," sahutnya.

Von meraba luka-lukanya satu per satu: benjolan kecil dari serangan pertama, disusul benjolan kedua yang mulai menyembul tak jauh dari sana—bagai dua bukit kembar yang bertengger di kepalanya. "Ini penganiayaan," protesnya, meski suaranya kembali bergetar menahan tawa.

[Nama] tersenyum, "nenurutku ini sangat menghibur.”

"Baiklah. Aku mengaku kalah." Von melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan [Nama]. "Untuk meluruskan segalanya: aku tak punya simpanan. Tak ada perempuan lain yang perlu kau risaukan. Aku murni terikat tenggat pekerjaan yang menumpuk di bengkel."

[Nama] masih bersungut-sungut, bibir mengerucut. "Kenapa tidak bilang saja sejak awal?" gerutunya.

Von memamerkan senyumnya—bukan senyum usil. "Sebab ekspresi cemburumu selalu menggemaskan, walau aku tak sanggup melihatnya secara langsung," akunya.

[Nama] mengacungkan bukunya lagi, tanpa niat menyakiti.

Von refleks mundur selangkah, menaikkan tangannya. "Ampun."

"Kalau begitu berhenti memicu masalah."

"Diterima." Von mengangkat kedua tangan sebagai tanda takluk. "Tapi aku tetap merasa tersanjung."

[Nama] mengerutkan kening. "Tersanjung?”

"Tentu." Von tersenyum lebar. "Artinya kau begitu protektif dan enggan membagiku dengan wanita lain."

[Nama] langsung memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang merebak.

Von lantas meraba salah satu benjolan di kepalanya, lalu berujar, "Hanya saja, aku punya satu kekhawatiran."

"Apa lagi?"

Von menunjuk kepalanya sendiri. "Jika kau seimpulsif ini saban hari, aku bisa pulang dari bengkel dengan tiga benjolan sekaligus."

Manik [warna mata] memicing. "Jangan memprovokasiku untuk menambah benjolan ketiga."

Von tertawa renyah. "Gut, Schatz! (aku mengerti, sayang!)”

[Nama] mendengus pelan, lalu kembali menata buku, menyusuri punggungnya satu per satu agar rapi. Tapi beberapa detik kemudian, ia melirik Von yang masih mengusap kepala dengan raut antara meringis kesakitan dan bahagia.  

"Dan ... jangan terlalu sering pulang larut."

"Tentu." Tangannya meraih salah satu buku dari tumpukan, lalu membantu tunangannya menyisipkan buku itu ke sela-sela rak dengan hati-hati. "Aku akan mengirim warta kalau terpaksa pulang lewat jam makan malam," janjinya.

"Bagaimana cara kau mengirim warta?" cetus [Nama] setengah mengejek. "Kamu kan tidak bisa melihat, love."

"Aku bisa meminta bantuan rekan kerja untuk menuliskan pesan," sahut Von santai, "atau mengutus kurir. Atau ..." Von memutar tubuh menghadap sumber suara, "... aku bisa bergegas pulang dan menyampaikannya secara langsung. Karena kamu akan menungguku di rumah, bukan?”

[Nama] memalingkan wajah lagi. Karena tahu Von tak bisa melihat gestur itu, ia hanya bergumam, "Tidak."

"Du lügst (kamu berbohong)."

[Nama] mendengus, tapi ia tak lagi sanggup membendung senyumnya. Von memang tak bisa melihat wajah itu, tapi telinganya menangkap nada di balik dengusan tersebut—dan itu sudah lebih dari cukup.

Dua benjolan kecil kini resmi bertahta di kepala Von. Ia merabanya satu per satu dengan jemari, seperti menghitung pencapaian berharga.  Von tahu persis di mana sang kekasih berdiri—dari deru napasnya atau aroma parfum mawar sang kekasih. Dan kalau ada satu hal yang [Nama] yakini malam itu, itu bukan kecurigaan bahwa Von berselingkuh. Dia justru yakin satu hal: selama mereka menetap di London, benjolan di kepala Von akan tumbuh jauh lebih cepat ketimbang kecepatan mereka membongkar isi koper. 

 


 

Hari-hari awal mereka di London relatif mulus. [Nama] mulai merajut kembali ingatannya tentang kota yang pernah menjadi latar masa kecilnya, sementara Von perlahan membaur dengan lingkungan kerja barunya. Kediaman mereka memang belum sepenuhnya terasa seperti 'rumah'; setidaknya barang-barang mulai keluar dari koper, dan mereka tak lagi terpaksa menyantap makan malam di atas peti kayu serbaguna.

Sore itu, Von melangkah melewati pintu tepat saat [Nama] sibuk menata jajaran buku di rak. Pria itu menanggalkan tas kulitnya di atas kursi, lantas melepas sarung tangan kulit yang membalut jemarinya. Jelaga hitam membayang tipis di celah jarinya—penanda kaku bahwa harinya dihabiskan bergelut dengan baja dan mesin.

[Nama] melirik tangan itu sejenak sebelum kembali menata buku-bukunya. Von  mendekat, menyandarkan bahu ke bingkai rak sambil menghadap sang tunangan. Air muka pemuda Jerman itu kelewat tenang untuk orang yang mau mengumumkan sesuatu yang penting. "Aku mungkin akan lebih sering mendekam di bengkel mulai pekan depan."

Gerakan [Nama] terhenti seketika dan berpaling menghadap sang kekasih. "Sering?” Kata sederhana itu terdengar datar. Tapi di baliknya ada hal yang hanya bisa ditangkap telinga yang sudah hafal setiap perubahan nada bicaranya.

Von mengangguk. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu menyunggingkan senyum. "Ya. Beban kerjanya melonjak. Mereka minta beberapa cetak biru selesai dalam tenggat ketat, jadi aku harus lebih sering di sana. Mungkin aku pulang larut beberapa malam ke depan.”

[Nama] memaku pandangannya tanpa berkedip. Keheningan menjembatani mereka. Von yang semula santai mulai menangkap perubahan suasana di hadapannya. Tapi bukannya menjelaskan, ia malah memasang raut polos tanpa dosa.

"Kenapa menatapku seperti itu?"

[Nama] bersedekap dada. "Kedepannya, kamu akan sering di bengkel, pulang larut malam, dan menghabiskan sebagian besar harimu di sana?”

"Kurang lebih demikian."

[Nama] menyipitkan matanya. "Di sana ada perempuan?"

Sesaat kemudian, seulas senyum jahil perlahan mekar di tampan wajah Von. Kekehan lolos dari bibir. Tandanya jelas: [Nama] baru saja terjebak dalam perangkap. Von memperpendek jarak, menundukkan kepala hingga wajah mereka semakin dekat. Kilat jahil berpendar di balik matanya.

"Jadi itu konklusi pertama yang melintas di kepalamu?"

[Nama] bergeming, "aku hanya mengajukan pertanyaan."

"Tentu,” Von mengangguk kuat-kuat, meski bibirnya tak sanggup menahan tawa. "Lantas bagaimana jika memang ada?"

Sorot mata [Nama] seketika menusuk. "Jika ada, aku akan memastikan kau kehilangan akses untuk menemuinya lagi."

Tawa Von pecah. Ia menutupi mulut dengan sebelah tangan, meski bahunya sudah bergetar. Ia berjuang keras menahan tawa agar wajahnya tampak serius, tapi gagal total. Ia tidak tahan untuk terus menggoda [Nama], yang mendadak ke topik perselingkuhan hanya gara-gara urusan bengkel. "Astaga ... aku sekadar mengabarkan soal bengkel dan kau sudah menyusun skenario perselingkuhan."

"Aku tidak menuduhmu selingkuh.”

Von mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi—gestur khas yang selalu muncul saat ia merasa memegang kendali atas argumen. "Kau mempertanyakan keberadaan perempuan," tunjuknya.

"Bukankah itu hal yang wajar?"

Dia berdeham, berpura-pura mengatur nada suara. "Baiklah, aku akan menjawab jujur," ujarnya, sengaja menggantung kalimatnya sambil menikmati ketegangan yang ia buat sendiri. "Ada.”

"Benarkah?"

"Ya. Dia rekan kerjaku!"

[Nama] menatapnya dengan raut hampa selama beberapa saat, sedang mencerna ucapan pria di hadapannya, sebelum tangannya perlahan meraih buku tebal di meja. Von masih terkekeh, belum menyadari bahaya yang mengintai.

"Perempuan itu mengenakan kacamata—aw!"

Buku tebal itu mendarat tepat di ubun-ubun Von, membungkam ocehannya. Von tersentak, refleks menepuk kepala yang baru saja kena timpuk buku. "Kau memukulku pakai buku sekeras ini hanya karena aku menyebut sosok wanita. Lantas bagaimana kalau kubilang dia cantik sekali?”

[Nama] menjangkau buku kedua. Von seketika mengambil langkah mundur. "Tunggu." Ia mengangkat kedua telapak tangan. "Aku bercanda!"

[Nama] tetap mendesaknya, "Von!"

"Baik, baik! Aku menyerah!" Von mundur teratur hingga punggungnya menabrak tepi meja. Ia masih berani melempar seringai lebar, meski mulai mewaspadai benda di genggaman [Nama]— terlebih karena dia tidak bisa melihat benda apa yang ada di tangan kekasihnya. Siapa tau, [Nama] sedang memegang guci sekarang. 

"Aku akan menjawab dengan jujur," ratapnya sambil menikmati suasana dramatis yang ia bangun sendiri. "Memang ada perempuan di bengkel."

[Nama] mendadak bergeming, genggamannya pada buku tidak sekuat sebelumnya.

"Namanya ..." Von sengaja menggantung nama itu di udara seperti benang yang siap diputus. [Nama] menahan napas, sudah bersiap melayangkan buku kedua sebagai vonis.

"Mesin Bubut," jawab Von. 

Buku kedua urung melayang. Von pasrah menerima akibatnya. [Nama] menurunkan bukunya pelan. Von membuka mata perlahan, mengedip beberapa kali seolah baru tersadar dari kejahilan panjang. "Kedua," gumam Von datar.

[Nama] menatapnya tanpa ekspresi. "Apa?"

"Benjolan kedua," ulang Von sembari meraba tengkoraknya hati-hati.

[Nama] berjuang mati-matian menahan senyum. Bibirnya terkatup rapat, namun kerutan tawa di sudut matanya tak sanggup berbohong. "Rasanya setimpal," sahutnya.

Von meraba luka-lukanya satu per satu: benjolan kecil dari serangan pertama, disusul benjolan kedua yang mulai menyembul tak jauh dari sana—bagai dua bukit kembar yang bertengger di kepalanya. "Ini penganiayaan," protesnya, meski suaranya kembali bergetar menahan tawa.

[Nama] tersenyum, "nenurutku ini sangat menghibur.”

"Baiklah. Aku mengaku kalah." Von melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan [Nama]. "Untuk meluruskan segalanya: aku tak punya simpanan. Tak ada perempuan lain yang perlu kau risaukan. Aku murni terikat tenggat pekerjaan yang menumpuk di bengkel."

[Nama] masih bersungut-sungut, bibir mengerucut. "Kenapa tidak bilang saja sejak awal?" gerutunya.

Von memamerkan senyumnya—bukan senyum usil. "Sebab ekspresi cemburumu selalu menggemaskan, walau aku tak sanggup melihatnya secara langsung," akunya.

[Nama] mengacungkan bukunya lagi, tanpa niat menyakiti.

Von refleks mundur selangkah, menaikkan tangannya. "Ampun."

"Kalau begitu berhenti memicu masalah."

"Diterima." Von mengangkat kedua tangan sebagai tanda takluk. "Tapi aku tetap merasa tersanjung."

[Nama] mengerutkan kening. "Tersanjung?”

"Tentu." Von tersenyum lebar. "Artinya kau begitu protektif dan enggan membagiku dengan wanita lain."

[Nama] langsung memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang merebak.

Von lantas meraba salah satu benjolan di kepalanya, lalu berujar, "Hanya saja, aku punya satu kekhawatiran."

"Apa lagi?"

Von menunjuk kepalanya sendiri. "Jika kau seimpulsif ini saban hari, aku bisa pulang dari bengkel dengan tiga benjolan sekaligus."

Manik [warna mata] memicing. "Jangan memprovokasiku untuk menambah benjolan ketiga."

Von tertawa renyah. "Gut, Schatz! (aku mengerti, sayang!)”

[Nama] mendengus pelan, lalu kembali menata buku, menyusuri punggungnya satu per satu agar rapi. Tapi beberapa detik kemudian, ia melirik Von yang masih mengusap kepala dengan raut antara meringis kesakitan dan bahagia.  

"Dan ... jangan terlalu sering pulang larut."

"Tentu." Tangannya meraih salah satu buku dari tumpukan, lalu membantu tunangannya menyisipkan buku itu ke sela-sela rak dengan hati-hati. "Aku akan mengirim warta kalau terpaksa pulang lewat jam makan malam," janjinya.

"Bagaimana cara kau mengirim warta?" cetus [Nama] setengah mengejek. "Kamu kan tidak bisa melihat, love."

"Aku bisa meminta bantuan rekan kerja untuk menuliskan pesan," sahut Von santai, "atau mengutus kurir. Atau ..." Von memutar tubuh menghadap sumber suara, "... aku bisa bergegas pulang dan menyampaikannya secara langsung. Karena kamu akan menungguku di rumah, bukan?”

[Nama] memalingkan wajah lagi. Karena tahu Von tak bisa melihat gestur itu, ia hanya bergumam, "Tidak."

"Du lügst (kamu berbohong)."

[Nama] mendengus, tapi ia tak lagi sanggup membendung senyumnya. Von memang tak bisa melihat wajah itu, tapi telinganya menangkap nada di balik dengusan tersebut—dan itu sudah lebih dari cukup.

Dua benjolan kecil kini resmi bertahta di kepala Von. Ia merabanya satu per satu dengan jemari, seperti menghitung pencapaian berharga.  Von tahu persis di mana sang kekasih berdiri—dari deru napasnya atau aroma parfum mawar sang kekasih. Dan kalau ada satu hal yang [Nama] yakini malam itu, itu bukan kecurigaan bahwa Von berselingkuh. Dia justru yakin satu hal: selama mereka menetap di London, benjolan di kepala Von akan tumbuh jauh lebih cepat ketimbang kecepatan mereka membongkar isi koper—dan Von, dengan segala keterbatasan dan kelicikan, akan terus menikmati setiap detiknya.

 


 

Dua tahun terakhir membuat hubungan [Nama] dan Von semakin sukar disebut tunangan. Mereka sudah jauh meninggalkan masa ketika obrolan tentang pernikahan hanya sebatas gurauan remaja. Von kini berusia tiga puluh tahun, sementara [Nama] dua puluh delapan. Kehidupan mereka di London pun jauh lebih mapan dibandingkan saat pertama kali menjejakkan kaki di kota itu. 

Rumah yang dulu dipenuhi tumpukan peti kayu kini terasa seperti rumah sungguhan, pekerjaan Von kian stabil, dan orang-orang di sekitar mereka mulai menganggap pernikahan tinggal soal waktu.

Von tak pernah menampiknya. Sesekali ia sengaja melempar candaan soal lingkar cincin atau gaun pengantin, semata demi melihat rona merah menjalar di pipi [Nama]. Namun satu kebiasaan tak pernah luntur darinya: Von tetaplah seorang pria Jerman gila kerja yang betah berjam-jam mengurung diri di bengkel. Ruangan kerja yang berdampingan dengan markas rahasianya itu sesak oleh perkakas besi, potongan logam, cetak biru, dan aneka mekanisme rumit. Bagi Von, tempat itu adalah suaka bagi kreativitasnya; bagi [Nama], tak ubahnya rival utama yang kerap mencuri waktu sang kekasih.

​Siang itu, [Nama] bermaksud menyusul Von ke bengkel. Ia tak berniat menyulut perdebatan; ia sekadar ingin mengantarkan bekal siang lantaran Von lagi-lagi lupa menyantap sarapannya. Namun saat pintu terbuka, percakapan dari dalam menghentikan langkahnya. Ada suara Von, dipadu tawa seorang wanita. Dari ambang pintu, [Nama] mendapati seorang wanita berambut coklat gelap berdiri di samping meja kerja Von sembari meneliti selembar dokumen.

Von membungkuk, jari telunjuk ramping menekuni sebuah mekanisme, sementara kedua lengan perempuan itu bertumpu di tepi meja. [Nama], yang semula hanya berniat mengantar makanan, mendadak merasakan sengatan panas menjalari dadanya. Ia mengenal betul sifat Von-pria itu memang luwes kepada siapa saja, tapi tak pernah sedekat ini. Karena itulah, pemandangan di hadapannya terasa mencurigakan.

"Von."

Von yang tengah memeriksa mekanisme itu langsung mendongak. Senyum merekah di wajahnya begitu mendapati suara [Nama] di pintu. "Oh, kau datang."

Ia hendak melangkah menghampiri, tapi perempuan di sampingnya lebih dulu menoleh dan tersenyum sopan kepada [Nama]-sama sekali tak tampak panik maupun merasa bersalah. Namun bagi [Nama], justru itulah yang membuat benaknya dipenuhi aneka dugaan.

[Nama] tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu sambil memegang kotak makan yang tadi dibawanya. Wajahnya tenang, terlalu tenang malah. Sang wanita tidak tersenyum, menyapa, bahkan tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan dari wajah cantik sang wanita. hanya tatapan datar yang perlahan berpindah dari Von kepada perempuan di sampingnya.

"Kenapa diam saja? Kau datang untuk mengantar sesuatu?"

Suasana bengkel yang tadinya santai seketika berubah pekat. Moneypenny, yang semula hendak menyapa, malah terdiam. Melirik Von dengan kening berkerut, mengirim sinyal bahaya melalui bisikan yang sayangnya luput ditangkap pria itu.

Tatapan [Nama] menghunjam Moneypenny. Lalu bergeser menelanjangi Von. Kemudian kembali menyasar Moneypenny. Tak sepatah kata pun terlontar. Tetapi justru diamnya [Nama] membuat suasana terasa semakin mengerikan.

​"Biar ku kenalkan. Ini Frau Moneypenny, rekan kerjaku. Moneypenny, ini Frau Spencer, tunanganku."

Von menunjuk perempuan itu dengan santai, lalu mengambil dokumen dari tangannya. Ia sama sekali tak menyadari perubahan yang sudah terjadi pada aura [Nama].

"Moneypenny sedang membantuku memeriksa beberapa bagian desain ini. Ada sejumlah hal yang mesti disesuaikan sebelum dikirim. Jadi kalau tadi kau melihat kami terlalu dekat, itu karena kami sedang bekerja, bukan karena hal lain.

[Nama] tersenyum tipis. "Tentu saja." Ia menarik napas panjang. "Ini yang kau maksud dengan pekerjaan yang menumpuk?"

"Das stimmt genau. (Itu benar sekali.)"

Sang wanita mengangkat kotak makan yang dibawanya. "Aku cuma mengantarkan makan siangmu. Tapi rupanya kau sedang sibuk."

Von mengernyitkan dahi. Ia sudah cukup lama mengenal [Nama] untuk paham bahwa nada bicara semacam itu biasanya pertanda ada yang tak beres.

"Tunggu. Jangan langsung pergi."

Von meletakkan dokumen di meja lalu melangkah mendekat. Namun [Nama] justru mundur selangkah. 

"Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Lanjutkan saja."

"Pekerjaan memang sedang menumpuk, tetapi keberadaan Moneypenny di sini murni urusan logistik," sela Von.

[Nama] melirik Moneypenny sejenak. Sang agen, yang sudah paham betul duduk perkaranya, menatap Von dengan ekspresi geli.

"Sepertinya aku perlu menjelaskan." Moneypenny menyilangkan tangan di depan dada. "Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu, Nona. Tapi kalau kamu mengira aku dan Herder punya hubungan di luar pekerjaan, jawabannya tidak. Kami hanya rekan. Tidak lebih."

Von yang berdiri di samping mereka langsung mengangguk. "Benar. Aku bahkan heran kenapa kau bisa berpikir begitu. Aku dan Frau Moneypenny sekadar bekerja bersama. Ia bagian dari tim yang sama, dan aku membutuhkannya untuk menguji beberapa desain."

Moneypenny tersenyum. "Kalau Nona Spencer sedang dibakar cemburu, katakan saja secara terbuka. Tak perlu memasang wajah seolah sedang merancang rencana pembunuhan."

[Nama] menghunjamnya dengan tatapan tajam. "Aku tidak cemburu."

"Oh, tentu saja tidak," goda Von. Pria berambut pirang itu mempersempit jarak, memamerkan senyum usilnya. "Kamu 'kebetulan' mengantar bekal, mendapati kekasihmu bersama perempuan lain, lalu mendadak ingin balik kanan. Sama sekali tak berkaitan dengan rasa cemburu, bukan?"

Moneypenny menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. [Nama] menatap Von beberapa detik. Ia sebenarnya tahu dirinya sudah salah paham, tetapi mendengar Von menggodanya justru membuat rasa malu berubah menjadi kesal.

"Von, jangan mulai."

"Aku hanya mengatakan fakta."

Ia mengambil kotak makan dari tangan [Nama] dan meletakkannya di meja. Namun senyum jahilnya tidak hilang. "Tapi aku harus mengakui, aku sedikit tersanjung. Setelah bertahun-tahun, ternyata kau masih bisa cemburu hanya karena melihatku bekerja dengan wanita lain."

Moneypenny akhirnya tergelak. "Herder, sebaiknya kamu berhenti menggoda tunanganmu."

Von menoleh kepadanya. "Memangnya kenapa?"

Moneypenny menunjuk [Nama] dengan dagunya. "Sebab kau sedang menggali liang kuburmu sendiri."

Von terdiam. [Nama] menarik napas dalam-dalam. Moneypenny sudah mengambil langkah mundur, sementara Von-pria yang semestinya paling paham watak kekasihnya-masih berani tersenyum manis.

​"Jika kubilang aku senang melihatmu cemburu, apakah aku akan kena masalah besar?"

[Nama] tak menjawab. Ia hanya meraba-raba meja, mencari benda yang bisa dipakai untuk memberi Von pelajaran. Tak berapa lama, terdengar bunyi benturan keras-ia baru saja menghantam kepala Von dengan kunci T. Moneypenny sontak memalingkan wajah sambil mengurut dada. Von rupanya menyerahkan diri pada ajalnya.

Beberapa menit berselang, bengkel itu diselimuti keheningan. Moneypenny berdiri di dekat rak, menatap pemandangan di hadapannya dengan raut campuran antara iba dan geli.

Von tersungkur di sudut ruangan. Ia terduduk lesu di lantai, rambutnya berantakan, jasnya kusut, dan wajahnya memancarkan penyesalan mendalam atas seluruh keputusan hidup yang baru saja diambilnya.

"Tuan Herder?" Moneypenny mendekat sedikit dan melihatnya yang hanya bersandar di dinding. "Kamu masih hidup?"

Von mengangkat sebelah tangannya yang terkulai lemas. "Aku... seharusnya diam saja tadi."

Moneypenny mengangguk. "Benar sekali."

"Aku seharusnya tidak menggodanya. Seharusnya kujelaskan semuanya sejak awal."

[Nama], yang sejak tadi berdiri dua meter dari mereka, akhirnya menghela napas panjang. Rasa kesal yang sempat memenuhi kepalanya sudah lenyap sepenuhnya. Yang tersisa kini justru rasa malu karena sudah salah sangka, terlebih karena Moneypenny jelas-jelas tak berbuat apa pun.

Ia menghampiri sang agen. "Nona Moneypenny..."

Moneypenny berpaling. "Ya?"

[Nama] menundukkan kepala sedikit. "Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Seharusnya saya tidak langsung menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat kalian bekerja bersama-apalagi saya bahkan belum pernah mengenal Anda sebelumnya. Saya benar-benar minta maaf sudah membuat situasi jadi seperti ini."

Moneypenny tersenyum, "tidak apa-apa. Aku mengerti. Kalau aku berada di posisimu dan melihat Von berdiri sedekat itu dengan wanita lain, mungkin aku juga akan salah paham."

Ia melirik Von yang masih terdiam di pojokan. "Meski menurutku bagian paling lucu justru dia sendiri yang memperkeruh keadaan."

[Nama] menoleh ke arah Von. Pria itu masih duduk di sudut bengkel, tak berkutik.

Moneypenny melanjutkan dengan nada santai. "Dan jangan cemas. Aku tidak punya ketertarikan semacam itu pada Tuan Herder. Kami rekan kerja. Dia memang cerdas, tapi terlalu menyebalkan untuk dijadikan pasangan."

Von mengangkat kepala. "Aku masih bisa mendengar, tahu."

"Berarti pendengaranmu masih berfungsi baik," sahut Moneypenny.

"Jadi sekarang kalian berdua bersekongkol melawanku?"

[Nama] menghela napas, "Aku sudah bilang aku minta maaf." Ia kemudian berjalan mendekati Von dan berjongkok di depannya. "Dan aku benar-benar salah."

"Kalau kau minta maaf, aku bisa memaafkan." Von kemudian menambahkan dengan suara pelan, "Tapi aku punya satu syarat."

[Nama] menyipitkan mata, curiga. "Apa?"

Von menunjuk kepalanya yang benjol. 

"Gencatan senjata. Jangan pukul aku lagi."

"Syarat yang sangat masuk akal." timpal Moneypenny. 

[Nama] memutar bola mata, malas. "Baiklah, aku janji."

Von tersenyum, "kalau begitu, kau sudah kumaafkan." Ia lantas mencoba berdiri, tapi gagal.

Moneypenny mengangkat alis. "Kau kehilangan kendali atas tubuhmu sendiri?"

"Untuk sementara waktu," keluh Von dengan nada dramatis. 

[Nama] menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. "Astaga ..."

Moneypenny malah tertawa. "Sepertinya pukulanmu cukup ampuh, Nona Spencer." Perempuan berambut coklat gelap itu menoleh ke arah Von. "Kurasa kau baru saja kalah untuk kedua kalinya."

Von menatap langit-langit bengkel, "hari yang berat."

[Nama] akhirnya duduk di samping Von. Ia membuka wadah bekal kayu dan menyodorkan sepiring makanan ke pangkuan pemuda itu. "Ini, makan siangmu."

Von membau hidangan itu. "Setelah kau membantaiku?"

"Anggap saja ini bentuk kompensasi."

Von menerima kotak tersebut dengan wajah pasrah. Moneypenny memperhatikan keduanya beberapa saat sebelum tersenyum. Dari cara [Nama] memarahinya, lalu dari cara Von tetap berusaha menggoda meskipun hampir tidak bisa bergerak, jelas sekali hubungan mereka sudah jauh melampaui sekadar dua orang yang tinggal bersama. Mereka hanya belum menyebutnya secara resmi, tapi pernikahan mereka memang tinggal menunggu waktu. Sebab kalau seseorang masih mau membawakan makan siang setelah membuat pasangannya babak belur, dan si babak belur itu masih sempat balas menggoda, hubungan macam apa lagi yang perlu dijelaskan?

Von mungkin akan bersilat lidah menyangkalnya, tapi menyaksikan pemuda itu terduduk lemas di sudut bengkel dengan rambut mencuat, benjolan segar di kepala, dan kotak makan di pangkuan-Moneypenny menarik satu simpulan: Von Herder sudah menemukan seorang wanita sebagai pawang. Dan yang lebih lucu, pria itu tampaknya menikmati betul setiap detik kekalahannya. 

[Nama] kemudian kembali menoleh kepada Moneypenny. "Sekali lagi, saya minta maaf, Nona Moneypenny. Saya benar-benar salah paham. Seharusnya saya tidak langsung menarik kesimpulan hanya karena melihat Anda bersama Von. Apalagi anda ternyata hanya partner kerjanya."

Ia tersenyum canggung. "Sebagai permintaan maaf, kalau Anda tidak keberatan, bagaimana kalau suatu hari kita minum teh bersama? Saya ingin mengenal Anda dengan lebih baik. Lagipula, setelah kejadian memalukan tadi, rasanya saya memang harus menebus kesalahan saya

Moneypenny sempat tampak sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum hangat. Ia menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengamati [Nama] lebih saksama. Tawaran itu terdengar tulus, dan ia tak melihat alasan untuk menolaknya.

"Tidak perlu sampai merasa bersalah seperti itu. Saya tidak tersinggung, sungguh. Tapi kalau kau memang mengajakku minum teh, aku tidak akan menolak. Kebetulan aku juga ingin mengenalmu. Selama ini aku hanya mendengar namamu dari Tuan Herder."

Ia melirik Von yang masih duduk di pojokan. "Dan sekarang aku paham mengapa ia bisa bertekuk lutut di hadapanmu."

Von yang tengah mengunyah langsung mendongak. "Aku---"

Belum sempat kalimatnya rampung, tangan [Nama] sudah kembali mendarat di kepalanya. Moneypenny membekap mulutnya, berusaha keras menahan tawa melihat ekspresi Von.

"Jangan ikut bicara."

"Baik."

"Tuan Herder, saya rasa Anda sebaiknya belajar kapan waktunya diam."

 


 

Persiapan pernikahan ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang pernah dibayangkan [Nama]. Selama ini ia selalu mengira bagian tersulit dari menikah hanyalah mencocokkan tanggal dan mengurus tumpukan dokumen. Namun ketika hari-harinya mulai disita oleh daftar panjang yang seolah tak berkesudahan, ia baru paham: merajut pernikahan butuh banyak persiapan daripada sekedar mengucap janji di depan altar.

Sejak matahari pagi menyapa, ruang tamu mulai riuh oleh dua insan yang berdiskusi soal tempat resepsi, desain undangan, pakaian, katering, hingga rangkaian bunga yang anehnya selalu beranak pinak setiap kali satu urusan selesai. Von lebih banyak mendengarkan, sementara [Nama] sibuk mencatat dengan pena yang tak henti menari di atas kertas. 

Kini keduanya duduk bersanding di ruang tengah, dikepung lembaran draf yang tersebar disana–sini. [Nama] tengah mencoret beberapa menu katering yang dirasanya terlalu berlebihan, sementara Von memegang daftar yang baru saja dibacakan untuknya. Jari telunjuk Von bergerak perlahan menyusuri garis tulisan—kebiasaan kecil yang membantunya memetakan letak informasi di atas kertas, meski matanya tak lagi mampu membaca.

"Jadi, kita punya beberapa pilihan menu untuk makan malam. Aku pikir opsi yang ini paling pas karena tidak terlalu berat, dan sepertinya sebagian besar tamu akan suka.”

Von mengangguk. Tangannya terulur, menepuk lembar kertas di hadapannya. "Kalau begitu, pilih yang menurutmu paling lezat. Aku percaya padamu. Tapi ingat, jangan pilih porsi yang terlalu irit hanya demi estetika. Aku tidak mau tamu kita pulang sambil menahan lapar."

Bibirnya menyunggingkan senyum nakal. "Aku paham betul jalan pikiranmu—kadang kamu terlalu sibuk memoles tampilan luar sampai lupa hal-hal mendasar seperti itu. Jadi untuk urusan menu, sepenuhnya kuserahkan padamu. Tapi aku punya satu syarat: pastikan kau sendiri ikut makan.”

[Nama] menoleh. "Kamu justru orang yang paling sering lupa makan kalau sudah berjam-jam tenggelam di bengkel. Jangan membalik kenyataan."

Tawa Von pecah seketika. Tangannya terulur meraih jemari [Nama] di atas meja, lalu menggenggamnya. "Baiklah, kita buat perjanjian. Kalau kau lupa makan, aku yang tegur. Kalau aku yang lupa, kau boleh memarahiku. Adil, kan? Lagi pula, bukankah hal-hal seperti ini yang akan kita lakukan seumur hidup nanti?"

Ibu jari Von mengusap punggung tangan [Nama]. "Dan kalau aku terlalu larut berkutat dengan perkakas bengkel, kau punya hak penuh untuk menyeretku pulang. Aku janji tak akan protes."

[Nama] tersenyum jahil. "Benarkah? Bahkan kalau kau sedang merakit pesanan yang sangat penting?"

Rambut pirang Von ikut bergoyang saat ia mengangguk-angguk, memasang mimik serius. "Kalau yang memanggil adalah istriku, tentu aku akan langsung pulang.”

Kalimat terakhir itu menghentikan napas [Nama] sejenak. Meski sakramen mereka belum diresmikan, sebutan "istriku" yang meluncur dari bibir Von sanggup membuat wajah sang kekasih merah bagai tomat.

Karena kamu mirip gorila saat sedang marah! batin Von. Tak mungkin kalimat itu ia ucap, bisa–bisa dia berakhir di ranjang rumah sakit dalam keadaan kritis. 

Urusan menu catering hanyalah awal dari  perdebatan mereka. Ujian berikutnya hadir saat memilih pakaian pengantin. demi mendapatkan bahan terbaik, mereka menyusuri kawasan Savile Row—jalan bersejarah di Mayfair, London, yang terkenal dengan penjahit tailor-made terbaik di dunia.

Di dalam butik, [Nama] memilihkan  gulungan kain untuk bahan jas Von. Dia menjelaskan warna dan teksturnya satu per satu, lalu menuntun tangan Von untuk merasakannya langsung. Ujung jari Von mengusap permukaan kain, menilai ketebalan, serat, dan kelembutannya. Setelah beberapa saat, ia mengangguk.

“Yang ini."

"Kau yakin?"

"Kalau teksturnya senyaman ini, kemungkinan besar warnanya juga tak akan mengecewakan."

Kedua alis [Nama] menukik, "kamu bahkan tidak tahu bahan ini warnanya apa."

"Aku tak perlu melihatnya. Matamu yang akan menikmati warna itu. Kalau menurutmu bagus, berarti memang bagus."

Netra [warna mata] [Nama] menatap wajah pria itu cukup lama sebelum akhirnya sebuah senyuman terukir di paras manisnya. "Kadang-kadang aku heran, dari mana datangnya rasa percayamu yang begitu besar padaku?"

Von tak langsung membalas. Ia mengusap pinggiran kain itu sekali lagi sebelum melepaskannya.

"Karena aku mengenalmu sejak kita masih anak–anak, Schatz," sahut Von sambil memutar tubuhnya tepat ke arah sumber suara. "Kalau kamu bilang kain ini cocok untukku, aku percaya. Aku tidak perlu melihatnya sendiri, karena aku tau tunanganku tidak akan membiarkan calon suaminya terlihat konyol dipernikahannya.”

"Padahal, kamu sering bertingkah konyol."

Satu alis Von terangkat. "Itu bentuk penghinaan terhadap calon suamimu, tahu."

"Jangan menampik fakta."

"Baiklah, catat kata-katamu. Akan kuingat baik-baik."

"Silakan saja."

"Nanti setelah kita sah menikah, aku akan terus mengingatkanmu bahwa kau pernah menyebut calon suamimu ini konyol."

[Nama] hanya bisa menggelengkan kepala. 

Urusan pakaian selesai, tetapi menentukan cincin pernikahan justru membawa Von pada masalah level dewa. Untuk urusan ini, mereka memutuskan untuk menyewa delman ke Hatton Garden, distrik perhiasan legendaris di pusat kota London. 

[Nama] mencoba setiap cincin yang dipajang, sementara Von mendengarkan penjelasan detail dari sang pengrajin mengenai kadar logam dan lekuk desainnya. Von memang tak mampu menatap keindahan permata itu. Tapi si mekanik sanggup membaca ketebalan, bobot, dan kehalusan tiap sisinya.

Ketika [Nama] memilih cincin dengan permata ruby yang simpel namun elegan, ia menyuruh Von untuk memegang dan merasakannya sendiri. 

Ujung jari Von menyusuri pola cincin tersebut, "yang ini."

"Kenapa? Apa yang beda?"

"Entahlah. Rasanya ... pas saja di tanganku."

[Nama] mengamati air muka suaminya. "Padahal kamu tidak tau wujudnya."

"Aku tahu." Von menggenggam cincin itu erat–erat. "Sejak awal aku sudah bilang, kan, kalau urusan cincin aku mengikuti seleramu. Lagi pula, cincin ini akan menetap di jariku setiap hari. Jadi yang paling penting bukan seberapa indah bentuknya.”

Si lelaki mengembalikan perhiasan itu ke telapak tangan [Nama]. "Yang paling penting adalah siapa yang akan memasangkannya nanti.”

[Nama] terpaku, "kamu sengaja menggombal, ya?"

Tawa renyah Von bergema. "Mungkin saja."

"Jangan merayuku di sini."

"Aku cuma menyuarakan isi kepalaku.”

Dari semua rentetan persiapan, momen yang paling membuat dada [Nama] berdesir hebat justru datang ketika mereka membicarakan hari H. Malam telah larut ketika mereka duduk berdua di sudut kamar. Seluruh tumpukan dokumen telah disingkirkan, rumah kembali direngkuh keheningan yang damai. Hanya ada mereka berdua, berdampingan dalam jarak yang begitu rapat.

[Nama] menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Von, menghirup aroma parfum cedarwood kekasihnya. "Perasaanku tidak enak, love.”

Von memiringkan kepala sedikit, meletakkan pipinya di puncak kepala [Nama]. "Tidak enak bagaimana, Schatz?"

"Karena sebentar lagi kita akan menikah.."

Von terkekeh, "aku juga merasakan hal yang sama."

"Padahal dulu, waktu di Jerman, kita cuma bisa membicarakannya sambil tertawa."

"Ternyata waktu berjalan secepat ini, ya."

[Nama] mendongak sedikit. "Kamu juga gugup?"

Von terdiam sejenak, menimbang perasaannya. "Sedikit."

"Seorang Von Herder bisa gugup?”

"Tentu saja, aku ini manusia biasa." Von terkekeh.

"Tapi bukan karena takut menikah denganmu. Aku cuma sedikit cemas... bagaimana kalau nanti aku salah mengucapkan kalimat janjiku di hadapan semua orang?"

[Nama] tertawa lepas. "Kau pasti akan salah ucap, aku yakin itu."

"Jelas tak masalah," sahut Von santai, mengukir senyum lebar sembari menekan kepalanya makin dalam di pucuk kepala sang dara.

“Kenapa tidak masalah?”

"Karena mau segugup apa pun ucapanku nanti, pada akhirnya aku tetap akan pulang bersamamu sebagai suamimu." Von mempererat remasan tangannya. "Dan cuma bagian itu yang penting buatku."

Malam kian larut. Rencana pernikahan mereka memang belum tuntas sepenuhnya; masih ada puluhan hal yang mesti diurus, serangkaian keputusan yang harus diambil, dan mungkin akan ada satu dua perdebatan yang kembali meletup. Namun di dalam ruangan yang hangat itu, tak ada lagi ruang untuk keraguan. Hari yang mereka nanti sudah mengambang

 


 

Hari pernikahan mereka akhirnya tiba setelah perjalanan yang teramat panjang. Bagi [Nama], percakapan yang dulu hanya terlontar sebagai gurauan remaja yang tengah pubertas, kini terwujud di depan mata. Bertahun-tahun telah berganti sejak mereka masih berusia lima belas tahun di Jerman—masa ketika kata "pernikahan" sebatas kelakar tentang apakah kelak mereka akan menikah di Inggris atau Jerman.

Semua yang mereka rakit bersama, baik di London maupun Jerman—rutinitas kerja, kebiasaan sehari-hari, perdebatan, makan malam, hingga suara bising dari bengkel tempat Von bekerja—perlahan mengendap menjadi separuh jiwanya. 

Kini Von berdiri di depan altar dengan setelan jas rapi dan rambut pirang yang disisir ke belakang. Bagi orang lain, mungkin terasa asing melihat seorang pria yang tak dapat melihat berdiri menanti di altar, tanpa tahu seperti apa paras perempuan yang akan menjadi istrinya.

Namun Von telah lama berdamai dengan dunianya. Ia membaca kehidupan lewat  suara dan sentuhan. Keduanya telah dipasangkan sejak belia sehingga Von sudah hafal luar kepala setiap detail tentang [Nama]—bahkan hal-hal terkecil yang kerap luput dari perhatian orang lain.

Kaki [Nama] mulai melangkah menuju altar. Tatapan para tamu tertuju pada sang pengantin perempuan, tapi fokus [Nama] hanya terkunci pada satu pria di atas altar. 

[Nama] paham betul, Von sedang memetakan kehadirannya lewat pendengaran. Begitu [Nama] berhenti tepat di hadapannya, Von sedikit menengadah,  menyambut tatapan dari manik [warna mata] yang ia tahu sedang terarah kepadanya.

Upacara dimulai. Bisik-bisik tamu luruh menjadi hening saat kalimat demi kalimat sakramen dibacakan. Manik [warna mata] milik [Nama] curi-curi pandang ke arah Von. Lelaki berambut pirang itu mungkin tak tahu seindah apa ruangan itu dihias atau siapa saja yang hadir, tapi ia tahu pasti siapa perempuan yang memilih menggenggam takdir bersamanya.

Saat pengucapan janji tiba, [Nama] menarik napas dalam-dalam. Suaranya sempat bergetar pada kalimat pertama, "Aku, [Nama] Spencer, menerima engkau, Von Herder, sebagai suamiku. Aku berjanji untuk selalu mencintai dan menghormati suamiku, dalam keadaan suka maupun duka. Untuk senantiasa taat kepada suami, menjagamu, dan mendukungmu agar kita dapat bertumbuh bersama dalam menggenapi rencana indah Tuhan.” 

Von tak langsung bersuara. Tangannya justru meremas telapak tangan sang istri kuat–kuat. Pria itu menarik napas dalam–dalam sebelum membalas janji suci Sang istri. 

"Aku, Von Herder, berjanji untuk terus menjadikan engkau istriku. Aku berjanji untuk terus mengasihimu dengan tulus, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Aku berjanji menjaga diriku hanya untukmu, serta menuntun dan mendukungmu agar engkau dapat menjadi apa yang engkau cita-citakan.”

Saat janji itu usai, [Nama] balas meremas tangan Von. Senyum simpul terukir di wajah kedua mempelai. [Nama] menyematkan cincin pertama ke jari Von. Dibelainya tangan sang suami untuk memastikan cincin itu terpasang sempurna sebelum melepaskan genggaman. Von menggerakkan jarinya sedikit, merasakan cincin yang kini melingkar di jari manisnya.

Lantas giliran Von meraih tangan [Nama]. Dengan gerakan yang begitu berhati-hati, ia menuntun cincin itu melingkar di jari manis sang istri.

Suasana yang semula hening pun pecah oleh riuh tepuk tangan. Von sedikit memiringkan kepala, mendekatkan wajahnya pada perempuan berambut [warna rambut] itu. Tangannya terangkat, mendarat di pipi sang istri—mengenali kembali wajah yang selama ini melengkapi dunianya lewat sentuhan. [Nama] mengikis jarak, lalu memagut bibirnya pada bibir sang suami dalam untaian sebelum akhirnya melepaskan. 

Di tengah riuh sorakan dan tepuk tangan orang-orang di sekitar mereka, keduanya tetap bergeming, dunia di luar sana lenyap begitu saja. Hari itu, mereka bukan lagi dua orang yang mengejar masa depan. Mereka telah menyatu dalam setiap langkah yang akan mereka tapaki bersama, sebagai sepasang suami istri. 

 

TAMAT