Chapter Text
“Name?”
“Kean.”
Hela napas muncul, “There’s tons Kean here, sweety. Kean Rodriguez, Kean Hanzel, Kean William — ”
“I’m Kean,” jeda sesaat, tubuhnya sedikit menunduk, bibirnya lanjut membisik. “Kean Parker.”
Wanita paruh baya berbadan gemuk dengan kacamata bertengger di puncak hidungnya itu menatap sebentar ke arah pemuda di depannya. Memerhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kean ikuti arah matanya bergulir sambil berpikir, apa ada yang salah dengan penampilannya?
Suara cap stempel terdengar. Buku dengan sampul tebal berwarna merah tua disodorkan ke arahnya. Kean mengangguk dan tersenyum singkat. “Thanks.” Buku tersebut diambilnya lalu pergi.
“There’s nothing left you have to say, kak.”
“Sean, aku minta maaf. Sumpah aku nggak sengaja.”
“Oh, great,” jeda sejenak. Langkahnya berhenti tiba-tiba, lalu terdengar napasnya ditarik berat. “Jadi all of a sudden semuanya nggak sengaja ya, kak? Termasuk ngechat sayang itu juga nggak sengaja kah?”
Kean terkesiap begitu baru menginjakkan kaki di koridor disambut percakapan tersebut. Dan Kean juga tau kalau dia nggak seharusnya buat sampai berhenti dan mengamati adegan itu dari kejauhan.
“Sean, ini masih di kampus, kamu mau diliat orang-orang?”
Pemuda yang dipanggil Sean diam sebentar. Matanya mengedar ke sekeliling. Suara mereka sebenarnya tidak terlalu besar, pun tidak ada juga yang begitu menaruh perhatian ke arah mereka. Waktu sadar Sean menengok ke arahnya, Kean buru-buru memalingkan wajah ke arah buku yang barusan dia pinjam.
“So do I. Makanya aku udah bilang. Putus. Selesai. Jangan ganggu aku lagi. Kurang jelas apa gimana, kak?”
Kean kenal pemuda berwajah kecil dengan perawakan jangkung yang pakai jaket warna monokrom itu. Itu kakak tingkat yang pernah jadi asisten dosennya di semester kemarin. Namanya Jonathan. Kean cukup kenal baik dirinya karena Jonathan suka bantu dirinya semasa Kean masih menjadi praktikannya. Orangnya ramah dan kebetulan dianugerahi otak cemerlang hingga bisa menyandang status asisten dosen.
Sekarang Kean lihat mantan asdosnya itu sedang mengusap wajahnya kasar. Jonathan memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum kembali menghadap pemuda di hadapannya. “Sean, kita bisa obrolin ini dulu. Tapi nggak di sini. I need you to calm down, okay? And please jangan ambil keputusan sepihak gitu dong?”
“Kamu selingkuh juga emang ngobrol dulu sama aku?”
Gasp.
Kean buru-buru menutup mulutnya begitu mendengar hal mengejutkan itu. Tubuhnya dipalingkan ke arah berlawanan biar tidak ketahuan sedang menguping. Koridor depan perpustakaan sepi dan mereka nampaknya juga nggak terlalu peduli dengan eksistensi Kean yang nangkring di dekat pintu perpustakaan.
Jonathan kelihatan nggak bisa kasih perlawanan lagi selain bilang ‘maaf’ dan ‘aku nggak sengaja’ yang jujur menurut Kean sih alasan yang jelek. Well, sebenarnya juga nggak akan ada sih alasan bagus untuk perselingkuhan.
Nggak lama karena percakapan alot yang nggak ada ujungnya, Sean kelihatan kembali melanjutkan perjalanan dan melewati Kean. Sosok Jonathan nggak lagi ikutin pemuda yang statusnya sudah jadi mantan kekasihnya itu. Kean cuma dengar suara helaan napas kasar yang diikuti derap kaki menjauh dari sana, berlawanan dengan arah Sean pergi.
Merasa tontonannya sudah hilang, Kean juga ikut pergi. Destinasi selanjutnya mungkin tempat duduk di samping gedung dekanat yang suka jadi spot dia untuk ngadem sambil makan siang. Dia ada kelas sekitar satu jam lagi jadi dia kepikiran hendak waktu sambil baca buku dan makan di sana.
Terik matahari cekat-cekit menembus punggungnya yang dilindungi kemeja juga ransel berwarna hijau tua miliknya. Kean membuka bungkus permen karet yang sedikit penyok dari saku jeansnya, dengan gerakan satu tangan memasukkannya ke dalam mulut serta membuang bungkusnya ke arah tong sampah. Bibirnya bersenandung pelan. Di tangannya buku sampul merah tebal berisi sejarah panjang abad pertengahan itu dia ketuk-ketuk menyesuaikan irama yang keluar dari headset kabel yang menggantung di daun telinganya.
“Enjoying your day, Parker?”
Langkah Kean sontak berhenti begitu suara familiar tiba-tiba masuk ke indra pendengarannya. Suara tawa yang melengking menyusul suara tersebut. Tangannya bergerak melepas paksa headset yang dipakainya. Kepalanya seperti dihantam gelombang hebat secara paksa. Membuatnya limbung hampir jatuh ke tanah. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, atas bawah, depan dan belakang; suara tersebut tidak dapat dia prediksi datang dari mana. Wujudnya tak nampak. “Where the fuck are you?” desis Kean.
Suara tersebut masih sibuk tertawa meledek. Lalu secara tiba-tiba, sesuatu terasa seperti menarik kerah kemejanya maju. Kean masih belum dapat melihat wujud dari sumber suara sialan ini. Tangannya meninju-ninju udara, berusaha menemukan sosok yang kurang ajar ini. Sebuah cahaya menusuk netra muncul menyakitkan, untuk seperkian detik, cahaya tersebut memudar dan sosok dengan kilat-kilat biru di sekujur tubuhnya menampakkan diri. Wajahnya terpaut sejengkal dari tubuh Kean, bahkan Kean dapat merasakan sengatan menyakitkan di sekujur tubuhnya begitu sosok tersebut mendekat.
“Miss me, Parker?”
Serempak dengan kalimat tersebut lolos, Kean sudah dihempas jauh ke belakang hingga punggungnya menabrak beton dengan keras. Gerakan tersebut membuatnya terbatuk hebat, seakan paru-parunya hampir lepas karena guncangan dahsyat tersebut. Kean mengintip ke arah bangunan yang barusan dia hantam, gawat, retak sedikit.
Kean berdiri. Menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan kawasan tersebut sepi. Hanya beberapa orang yang melintas itu pun dengan jarak yang lumayan jauh. Tapi Kean rasanya tidak bisa mengorbankan hal tersebut untuk meladeni sosok di hadapannya. Kean tidak mau merusak fasilitas kampus atau beresiko diketahui orang lain, oke?
“Oke, oke, wait.” Kean mengusap tengkuknya yang nyeri. “Here? For real, Electro? Di kampus?”
Sosok tersebut perlahan menunjukkan wujud utuhnya. Pupil matanya penuh dengan kilat putih samar. Dirinya tertawa. “Kenapa? Takut ketahuan?”
“C’mon, mate,” Kean mengusap wajahnya frustasi. Sungguh takut setengah mati kalau saja seseorang lewat dan melihat dirinya dan Electro. “Okay, let’s make it quick, shall we? What do you want?”
Sosok tersebut melangkah mendekat, posisi Kean terpojok dengan tembok yang menempel dengan punggungnya. Tangannya mengulur ke depan berjaga-jaga.
“I just miss us, okay?” Nada suaranya berubah ramah. “Don’t you think it’s kinda rude to ask your old friend in that tone, Parker?”
Jemari Kean naik ke arah kancing teratas kemeja flanelnya, perlahan membuka satu persatu. Kaus merah ketat dengan ornamen jaring laba-laba yang membalut sekujur tubuh mengintip di baliknya. Electro memerhatikan gerakan Kean dan terkekeh pelan, “I don’t want a fight, Parker. Just have a friendly chit-chat, please? Ayolah, kita dulu teman, kan?”
Kean tidak bisa mengendurkan pengawasannya. Tangannya tetap dalam posisi siaga, takut jika ada gerakan tiba-tiba lagi. Electro menjilat bibirnya sekilas. “I got nobody in this world anymore, Parker.”
Kalimat yang tiba-tiba itu membuat pergerakan Kean terhenti sejenak.
“Last week my mom was found dead,” air wajahnya menyendu. Walau hampir sekujur tubuh Electro diselimuti kilat-kilat kecil dengan warna biru yang menyakitkan mata, Kean masih dapat melihat binar matanya yang meredup ketika mengatakan hal tersebut.
“My mom was,” hela napas berat dihembuskan. “Found all bleeding on the floor. House messy as hell. Barang-barang Ibuku bahkan hilang semua.” Matanya naik ke arah Kean, menatapnya lamat-lamat. “Even my mom’s ring wedding. It’s gone, Parker.”
Kean masih diam di tempatnya. Mendengarkan Electro yang lagi-lagi menghela napasnya. Suaranya tak koheren, seakan siap menumpahkan sesuatu di dalam dadanya.
“Police was there but no help. They knew it was my mom. They reject to inspect it because it was my mom!”
Alisnya menukik tajam, bibirnya gemetar hebat. Kilat-kilat putih di dalam bola matanya berganti warna menjadi merah samar. Angkara murka memenuhi setiap syarafnya yang berdenyut. Tangannya mengepal mantap. Ia bahkan tidak dapat mengeluarkan setetes air mata bentuk dari rasa dukanya. Hanya getir yang mencecap lidah dan meninggalkan rasa menusuk hatinya.
“I have no friends to tell about this. They still looking for me. Berusaha biar aku dikurung lagi di penjara lab mereka. Like I was not a human before.”
Electro menoleh kembali ke arah Kean. Tatapan matanya melas. Tingkat kewaspadaannya perlahan menyusut. Seakan dia bisa merasakan bahwa Electro tidak berusaha memanipulasinya, seakan dia bisa merasakan bahwa Electro mengatakan hal yang sebenarnya.
“Parker, aku tahu bahkan pertemuan terakhir kita nggak berakhir begitu baik.” Langkahnya maju beberapa senti, namun Kean tidak mengambil langkah mundur lagi. “But I really, really, really need your help,” bisiknya memohon.
Lampu di beberapa lantai di dalam bangunan berkedip mencurigakan. Terdengar gemuruh orang-orang yang protes. Kean kembali menatap Electro yang seperti menunggu jawabannya.
“Okay, look, I don’t know if I can really help you but — ”
“Why?” cekat Electro. Suaranya berubah rendah mengancam. “Because I’m used to be your enemy?”
Kean mengitarkan bola mata ke sembarang arah, berusaha mencari alasan yang logis. “No, no. I’m not a police, mate! I’m just — ”
“A friendly neighbourhood,” Electro memangkas jarak lagi. “You’re a spiderman.”
Kean menoleh ke kanan dan kiri. Takut jika ada yang mendengar. Ada sengatan yang menyentuh ujung syarafnya hingga ia secara otomatis kembali berpaling ke arah Electro. Hembusan napas yang panas menerpa wajahnya.
“Jadi spiderman pilih-pilih siapa aja yang harus dia selamatkan, ya?” Electro mendecih di depan wajahnya. “Even if it means I’m gonna back and destroy this city once again, Spidey?”
Maka dalam hitungan tak sampai satu kedipan mata, tubuh Kean dihempas lagi ke arah samping hingga menubruk kencang tong sampah besi yang bergoyang dan akhirnya tumpah di sampingnya. Beruntung Kean gesit bangun dan menghindar. Kemeja flanelnya langsung ia tanggalkan, kakinya berusaha berlari menjauh dari area gedung yang ramai. Tangannya menarik topeng kainnya yang disembunyikan di area saku. Dalam sekejap busananya total berubah, tasnya dilempar sembarang, berdoa saja semoga laptopnya tidak retak setelah ini.
Kedua kakinya mendarat di atas tanah kosong yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung kampus. Tubuhnya dalam posisi merangkak di atas tanah. Tubuhnya berputar-putar waspada. Electro kembali tidak memunculkan wujudnya membuat Kean harus ekstra menajamkan semua indra kepunyaannya. Suara angin kencang datang dari sudut utara, kepalanya sigap menoleh, menunduk cepat begitu sebuah kursi besi berkarat melewatinya; hampir menghancurkan tengkoraknya. Kean menoleh ke arah sumber lemparan tersebut datang, Electro muncul.
“I just want your help, Parker!” Electro menghembuskan suara penuh murka. Benang-benang listrik keluar dari jemari elektro yang mengepal. Telapak tangannya bertemu, jemarinya saling menggenggam. “I just need your help! Is this too much to ask?”
Kean melemparkan tubuhnya ke udara begitu bola listrik meledak tepat beberapa meter di hadapan wajahnya. Jelas suara berisik tersebut mengundang perhatian beberapa manusia untuk megintip dari kejauhan. Kean dapat mendengar suara bisik-bisik terkejut dari kerumunan yang tak berani mendekat tersebut. Beberapa di antaranya mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut.
Kean kembali mengarahkan fokusnya ke arah Electro. Sekujur tubuhnya memancarkan cahaya merah menyala. Suhu di sekitar semakin membakar. Seakan Electro memerangkap segala energi panas untuk mengurung Kean. Keringat total membasahi tubuhnya. Pendar cahaya kuning mengelilingi sekitarnya, secara tak sadar, tubuhnya sudah terangkat dengan tubuh kaku karena disengat dengan keji oleh aliran listrik yang terus keluar dari jemari Electro yang berputar udara. Mempermainkan tubuh Kean yang menggeliat berusaha melepaskan diri.
“You don’t gotta do this for me, Parker. Aku rasa kita di pihak yang sama. Aku memang belum tahu siapa yang menyerang ibuku, tapi aku jelas tahu dia bukan manusia.
He’s one of your enemy too.”
Tubuh Kean dihempas lagi ke atas tanah. Suara bedebum menyakitkan terdengar. Kean bawa dirinya dengan cepat kembali bangun.
“What do you mean?!”
Electro belum sempat menjawab saat tangannya berusaha kembali mengeluarkan hantaran listrik manakala Kean lebih dulu mengeluarkan jaring untuk memerangkap tubuhnya dalam bola jaring besar. Kean berlari sekuat tenaga, mengitari tubuh Electro yang berusaha memberontak. Jaringnya dia tembakkan ke atas gedung tua di, dengan gerakan cepat, dirinya tarik dan buat Electro menghantam kuat temboknya hingga hancur berantakan.
Oke, Kean rasa dia nggak bisa menjaga diri untuk tidak menghancurkan fasilitas kampus.
Electro hendak bangkit begitu Kean sudah menerjangnya lebih dulu. Di tangannya memegang ember berisi air yang dia ambil sembarang dari keran di sudut taman untuk menyemprot tanaman. Begitu air mengguyurnya dari ujung kepala hingga kaki, Electro merasakan sengatannya berbalik ke arahnya. Jeritannya memekik telinga. Kean mengambil selang di sana, kembali menyemprotkannya ke arah Electro yang lengah.
“The fuck, Parker!”
“Don’t call my name!”
Electro mengerang dengan hujaman tak henti. Dengan sisa tenaga dirinya berusaha bangun. Wujudnya kembali menghilang. Kean mematikan keran air tersebut. Kepalanya menoleh ke sana dan kemari, berusaha agar tidak kehilangan jejak Electro lagi.
“I hope you can rethink about that, Parker. I’m not any different like the other victims you tryna save in this city.” Bisikan tersebut kembali muncul. Tapi wajah Electro tidak terlihat di mana pun.
“Where the fuck are you?!” teriak Kean. Tak ada sahutan. Sunyi. Suhu di sekitarnya perlahan menurun. Bahkan awan sedikit menghalangi matahari di atas sana, memberi suasana sedikit mendung. Tak ada lagi sengatan tipis yang membuat kulitnya berjenggit. Electro sudah tidak ada di sana.
Sorak sorai terdengar dari kejauhan. Kean menjatuhkan selang air tersebut ke tanah. Mengambil tasnya yang tergeletak mengenaskan di atas tanah sampai matanya menangkap sosok di kerumunan yang berteriak.
Mantan dari mantan asdosnya? Tersenyum ke arahnya sambil ikut bertepuk tangan.
Kean terdiam sejenak lalu menembakkan jaringnya ke gedung di sampingnya. Mengayunkan tubuh menjauh dari area tersebut.
“Susu, telor, mie, mentega, ugh… apa lagi ya?” Kean menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedikit menyesal karena tak menuliskan pesanan Bibi May di notes ponsel karena dia tidak mau dengar omelan karena belanjaan kurang, tapi ingatannya samar-samar.
Tangannya mengambil keranjang di depan meja kasir. Menelusuri koridor swalayan tersebut perlahan sambil mengingat-ingat apa yang perlu dibeli.
Telur, minyak goreng, mentega, susu, kopi.
Es krim di dalam lemari pendingin menarik perhatiannya. Varian baru! Rasa lebih seru!tertulis di atas tutup kacanya. Kean mendekat, tangan terulur membuka kaca tersebut sampai sebuah tangan lebih dulu bergerak membukanya.
Itu…
Kean berhenti di tempat. Membiarkan laki-laki dengan bakutan kaos abu-abu dengan outer itu lebih dulu mengambil es krim yang dia inginkan. Wajahnya tak sempat menoleh ke arah Kean. Melenggang begitu saja setelah mendapatkan yang dia inginkan. Setelah sosok itu pergi, barulah Kean mendekati lemari pendingin itu lagi dan menemukan kalau itu stok terakhir dari varian baru tersebut.
Cool.
Kean berdiri mengantri di belakang laki-laki tersebut. Dari jarak sedekat ini, dia leluasa mengamati fitur wajah yang ia intip tadi siang itu. Dari samping, Kean terpukau dengan lekuk tulang hidungnya yang tinggi, tapi matanya punya sorot teduh yang indah. Dalam hati Kean berbisik, gimana bisa mantan asdosnya itu selingkuh dari laki-laki seindah ini?
Entah kebetulan atau bagaimana, ternyata rute pulang mereka searah. Kean berjalan beberapa meter di belakangnya. Kantung kresek berisi belanjaan titipan Bibi May bersuara setiap diayun dan sesekali menubruk tubuhnya. Jalannya memelan, seakan takut jarak mereka tiba-tiba pendek dan dia akan ketahuan. Walau sebenarnya Kean juga tidak punya niat membuntuti, sih.
“MINGGIR! SEMUA MINGGIR!”
Kepala Kean tertoleh cepat manakala suara pekik dari ujung jalan memanggil. Nampak segerombolan tanah menggumpal yang berjalan membelah kerumunan yang sibuk. Di belakang sana, beberapa mobil polisi mengekor dengan sirine yang bersahutan. Merasa situasi darurat memanggil, Kean langsung berlari ke sebuah lorong sepi. Melepaskan baju kasualnya dan mengganti dengan kostum kebanggannya.
Kean mengayun tubuhnya di udara mengejar mobil yang melaju ugal-ugalan tersebut. Beberapa mobil yang terparkir di bahu jalan habis ditabrak hingga baret. Tak hanya suara sirine, suara klakson kendaraan yang kena hantam pun terdengar.
Hop! Kean berhasil mendaratkan tubuh di atas mobil yang melaju. Angin kencang menguji keseimbangannya. Tubuhnya dibawa merangkak dan merayap pelan sampai tepat di samping kaca kemudi.
“Hey,” Kean mengetuk-ngetuk jendela. “Hey, buddy, please open, this.”
Begitu melirik ke arah spiderman yang berada di samping, sosok pelaku berbaju serba hitam dengan tubuh gempal itu mendesis tak suka. Setir dibanting sampai hampir sembilan puluh derajat dengan tukik tajam di persimpangan jalan. Gerakan tersebut hampir membuat Kean limbung jatuh, untung dengan cekatan jaringnya menempel lagi ke pintu mobil tersebut.
“Hey, man! We won’t anyone hurts, okay? So please slow down, okay?”
Kaca mobil tersebut akhirnya dibuka. Namun bukan sapaan yang diterima Kean, sosok gempal itu malah melempar ludah ke arahnya.
“What the fuck is that for?!” Kean mengerang kesal. “You know what? We can talk but I don’t want it anymore. You piss me off.” Lalu Kean dengan cepat membungkam mulut pelaku dengan jaringnya.
Mobil tersebut oleng karena pengemudinya panik. Kean melompat ke arah tengah jalan. Menembakkan jaring sebanyak-banyaknya agar menghalau laju mobil tersebut.
Jaring-jaring tersebut hampir saja jebol demi menghalau kecepatan mobil yang menggila di badan jalan. Untung saja mesin segera mati ketika mobil tersebut sedikit terpental ke sebuah bangunan dengan damage yang tidak terlalu parah.
Mobil-mobil polisi berhenti mengejar. Mereka keluar dan menodongkan pistol ke arah mobil target. Keluar asap tipis dari kap depan dan sedikit mengaburkan pandangan. Kean menghalau dengan tebasan tangannya. Begitu pandangannya berhasil menembus asap tersebut, dilihatnya sosok tersebut sudah tak ada di bangku kemudi.
Kompak dengan sadarnya Kean ketidakhadiran sosok tersebut, suara jeritan kembali muncul dari belakang tubuhnya. Begitu dirinya menoleh ke arah sumber suara, matanya membulat di balik topeng.
“Help please….”
Rintihan tersebut keluar dari bibir laki-laki berkaos abu-abu yang tadi mencuri stok terakhir es krim Kean di swalayan. Suaranya terkunci di tenggorokan, tercekat karena lehernya dikelilingi lengan bergumpal lemak dan sebuah pelatuk yang dinginnya mencium pelipis.
“Hey, spidey,” tegurnya dengan nada mengejek. Bibirnya menyungging meremehkan. “If you getting near to me.” Lengannya merapatkan cekikan brutalnya. Laki-laki itu tersedak. “He’s dead.”
Oke, Kean harus putar otak sekarang.
“Hey, man? Easy there, okay?” Kean melangkah perlahan. Mendekat ke arahnya yang matanya menyalang ke arahnya. “Dia nggak salah. It’s about you and me.” Jeda sejenak. “And police too. And um, the owner of the car you stole,” tambahnya.
Sosok itu menggeram marah. Pistolnya semakin didekatkan ke pelipis laki-laki di kekapannya. “He will dead I swear! Jangan mendekat!” teriaknya garang.
Yang paling penting untuk dilakukan sekarang adalah dengan meredam sedikit ketegangan yang terjadi, maka Kean memberikan isyarat kepada para polisi untuk menurunkan pistol mereka.
“Man, you know you can’t do that, right?” Kean masih berusaha mendistraksi. “Semuanya udah turunin pistolnya, it’s your turn now.”
Tapi lawan bicaranya itu enggan melonggarkan dekapannya. Matanya masih menyalang awas. Kean menghela napas.
“Okay, whatever.”
Kean melangkah maju. Sang pelaku langsung berbalik ke arahnya, menggeram. “Stop it there, spidey!”
“You won’t hear any of us juga, kan? It’s over now.”
Kean menjerat pistol yang berada di genggamannya. Menguncinya, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian tungkainya bergerak cepat mengambil kesempatan di celah lengah. Lengan satunya dibuka paksa. Lalu tubuh laki-laki yang di dekapan sosok tersebut ditembak Kean dengan jaringnya. Saat Kean menarik, pinggangnya ditangkap mantap oleh Kean.
Wajah mereka terpaut jarak kurang dari sejengkal. Sekarang Kean bisa memerhatikan dengan seksama bentuk mata yang ditutupi dengan bulu mata yang cantik itu. Tulang hidungnya memang luar biasa apik. Lalu bibir tebalnya yang sehat alami. Gurat manis itu. Bibirnya menyunggingkan senyum, matanya tepat menatap Kean dari balik topengnya.
“Thank you, spidey.”
DOR!
“Tiarap! Tangan di belakang!”
Kean melirik ke arah sosok pelaku yang sudah berhasil dibekap oleh polisi. Kedua tangannya dikunci di belakang tubuh gempalnya. Tas berisi ratusan lembar uang tersebut sudah berhasil diamankan. Beberapa polisi nampak mendekati mobil yang tadi digunakan pelaku. Si pemilik mobil menangis di sisinya. Menatap nanar bentuk bodi mobilnya yang sudah tak karuan.
“Can we…”
Fokus Kean kembali ke arah laki-laki di pelukannya. Begitu suara tersebut menegurnya, Kean refleks melepaskan kedua lengannya. Menatapnya canggung. “I’m sorry. Are you okay?”
“Yeah, I’m okay. Thanks.” Senyumnya kembali terbit. Sejenak Kean lupa dengan fakta bahwa laki-laki di hadapannya ini baru saja putus hubungan dengan kekasihnya hari ini.
Seakan Kean jatuh ke pusaran yang jauh. Kean yakin kalau dirinya tidak bisa tidur tanpa siluet senyum cantik itu mengantarnya ke alam mimpi malam ini.
“Hai, sayang! Bibi buat sup kesukaan kamu. Ayo bersih-bersih teru — What is this — what happen with you, Kean?!”
Kean terkekeh kecil begitu suara jerit Bibi May mengisi rungunya. Wajahnya menunjukkan gurat khawatir yang jelas. Dahinya mengkerut, alisnya naik dengan mata membulat. Kean meringis begitu lengannya yang sobek dengan bekas luka menganganya dipegang oleh sang bibi.
“Kamu kenapa?!”
“I’m okay.” Kean mengangkat kantung belanjanya. “Hehe, aku tadi jatuh waktu beli belanjaan Bibi.”
Alasan tersebut jelas tidak masuk akal melihat bentuk luka yang tercetak di atas kulitnya. Tapi Bibi May tidak bertanya lebih lanjut. Ia lalu menuntun keponakannya itu ke arah meja makan. Melepaskan tas ransel di punggungnya. Lalu mengambil kotak obat.
“Aw!”
Kean meringis kecil begitu lukanya diguyur alkohol. Sejujurnya itu bukan luka besar. Tapi jelas terlihat dan menyakitkan tentu saja. Bibirnya digigit. Bibi May membubuhkan obat dengan kapas di atas kulitnya dengan perlahan. Sesekali ikut meringis bersama Kean.
“Bener jatoh?” tanyanya lagi. Sejujurnya benar-benar tidak percaya alasan Kean. Kean yang mendengar mengangguk kuat, “Iya, Bibi. Mana ada aku bohong,” belanya.
Bibi May cuman balas dengan hela napas tipis. Setelah selesai membersihkan luka Kean, dirinya menepuk lembut bahu pemuda itu. “Makan dulu baru tidur.” dan Kean menurut.
Kean melempar tasnya ke atas kasur begitu masuk ke kamar. Merebahkan pula tubuhnya di atas sisa tempat yang ada. Seharian ini dihempas berkali-kali oleh Electro dan berlarian membuat energinya habis sampai ke dasar.
Tubuhnya dibalik. Matanya menilik ke arah meja belajarnya. Buku sejarah yang dia pinjam untuk mengerjakan tugas teronggok begitu saja di sana. Lalu ingatan Kean ditarik ke kejadian tadi siang di perpustakaan. Melihat adegan dramatis putusnya hubungan asisten dosennya sampai dengan kejadian sore tadi.
Kean mengusap wajahnya kasar. Senyum mantan dari asisten dosennya itu kembali muncul kembali ke permukaan. Kean rasa tidak waras dan tidak pantas.
“Breaking news! Dikabarkan bahwa terjadi perkelahian antara spiderman dan pengendali listrik yang sempat memporak-porandakan kota beberapa waktu yang lalu di area sebuah kampus. Kabar baiknya, spiderman menang dan berhasil mengusir sosok tersebut. Namun pertanyaannya, apakah sosok tersebut akan kembali lagi?”
Kean termenung mendengar berita tersebut. Wajah Electro yang membara teringat lagi. Nada suaranya yang memelas, membisik permohonan, hingga ancaman yang mengatakan bahwa ia akan kembali merusak kota.
“With great power comes great responsibility, Parker. Remember that.”
Kilas suara Paman Ben terputar di benak Kean.
Kean bangun sejenak. Termenung di ujung kasurnya.
Apakah dia sungguh harus membantu Electro?
[]
