Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-15
Words:
2,065
Chapters:
1/1
Comments:
22
Kudos:
56
Bookmarks:
3
Hits:
328

Kepincut Kakak Komdis

Summary:

At his first day at college, George get scolded by a ridiculously handsome diciplinary committe. So that after all, he thinks that ospek isn't really that bad.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“LANGKAHNYA DIPERCEPAT!”

“PANDANGAN LURUS KE DEPAN!”

“TIDAK ADA INTERAKSI!”

“TIDAK ADA INSTRUKSI UNTUK BERBICARA!”

Suhu Kota Malang jam enam pagi ini menyentuh angka 17 derajat celcius, membuat semua teriakan panitia ber-arm band hitam dengan wajah yang dibuat-buat sangar itu masuk telinga kanan lantas keluar lewat telinga kiri. George menguap sembari mengikuti langkah teman-teman di depannya. Dasi hitamnya terpasang asal-asalan, sebab ia nyaris saja terlambat bangun dari tidurnya untuk mengikuti rangkaian pertama ospek fakultas. 

“Kamu, berhenti!” Seseorang menghadang langkahnya, membuat ia reflek minggir keluar dari barisan.

George mengerjap. Sepersekian detik, pandangannya turun ke arm band yang terpasang di lengan kiri laki-laki di hadapannya.

Warna hitam. Komdis.

George lantas balik menatap wajah sosok itu. “Kenapa, Kak?” Tanyanya.

Laki-laki itu menaikkan alis. Dagunya menunjuk ke kaki George, membuatnya kemudian mengikuti pandangan panitia komdis yang barusan mengeluarkannya dari barisan. Detik selanjutnya, George menepuk dahinya, seraya dalam hati merutuki kebodohannya. Karena ia bangun kesiangan dan hampir saja melewati jam open gate, ia jadi terburu-buru ketika mengenakan kaus kaki, sehingga yang digunakannya bukanlah sepasang kaus kaki berwarna putih yang instruksinya telah tertera di guidebook ospek, melainkan kaus kaki berwarna putih di kaki sebelah kanan, dan kaus kaki berwarna kuning di kaki kirinya.

“Udah tau salahmu di mana?” Tanya komdis itu.

George mengangguk sembari menutup mata—menahan malu.

Komdis di hadapannya itu mengeluarkan sebuah lakban hitam. Diguntingnya lakban itu beberapa sentimeter, kemudian ditempelkan di nametag yang dikenakan George.

“Keluarin buku catatan kamu.”

George mengerjap. “Hah?”

“Keluarin. Buku. Catatan. Kamu,” ulangnya dengan penuh penekanan. “Jangan-jangan salah bawa juga, kayak kaus kaki kamu?”

George cepat-cepat menggeleng sembari melepas tas ranselnya kemudian membukanya. Beruntung George membawa buku catatan sesuai instruksi, sehingga ia tidak kena semprot lagi. George menyerahkan buku catatannya itu kepada komdis yang masih memegang gunting dan lakban, lalu ia melihat sendiri bagaimana lelaki itu kembali menempelkan lakban hitam di sampul buku catatannya.

“Ini, masukin lagi ke dalam tas,” ucapnya sembari menyerahkan kembali buku catatan George. “Sekarang langsung masuk ke venue, cari barisan kelompok kamu. Mengerti?”

George memasukkan kembali buku catatannya ke dalam tas. Ia membungkuk sedikit kepada komdis di hadapannya itu, lantas bergegas masuk ke dalam aula. George sedikit melirik id card yang dikenakan laki-laki itu sebelum benar-benar berlalu pergi.

Max Emilian Verstappen.

***

“MAKANANNYA DIHABISKAN!”

“KALAU ADA TEMANNYA YANG NGGAK HABIS, DIBANTU!”

“AYO TEMANNYA DIBANTU! KATANYA SOLID?!”

George melirik kanan-kirinya. Ada beberapa teman perempuan di kelompoknya yang terlihat enggan untuk menghabiskan menu sayur di catering makan siang yang telah dibagikan.

George menghela napas. “Guys, siapa yang nggak mau sayurnya? Sini kasih gue,” ucapnya dengan suara pelan.

Dengan itu, kotak makan George penuh dengan sayuran yang dilimpahkan teman-teman sekelompoknya. Ia menelan ludah sejenak, kemudian berusaha untuk memakannya perlahan-lahan, sebab makan siang yang telah dibagikan sudah membuatnya cukup kenyang.

“WAKTUNYA SISA 2 MENIT LAGI!”

“George… Lo beneran bisa habisin?”

“KALAU ADA YANG NGGAK HABIS, SATU KELOMPOK TERIMA KONSEKUENSI!”

Sembari terus mengunyah sayuran yang semakin terasa begitu pahit di lidah dan kerongkongannya, George merasakan air mata mulai keluar di ujung matanya. Ditelannya sayuran itu dengan cepat, mati-matian mengabaikan gejolak di perutnya yang seolah ingin kembali mengeluarkan makanan yang telah dikunyahnya dengan susah payah.

“George, please habisin, ya?” Bisik salah satu teman kelompoknya.

George mengangguk, meski rasanya seperti kerongkongannya hendak memuntahkan semua isi perutnya.

“WAKTU HABIS! SEMUANYA ANGKAT TANGAN!”

Tepat sekali. Kotak makannya habis. Bersih. George mengangkat kedua tangan, membiarkan panitia ber-arm band hitam berkeliling mengecek kotak makan tiap-tiap kelompok. 

Saat seorang komdis selesai mengecek kelompoknya, George menoleh kepada panitia dengan arm band berwarna merah—panitia divisi kesehatan.

“Kak!” Panggilnya.

Salah satu panitia kesehatan menghampiri.

George sudah tidak kuat. Perutnya kewalahan menerima makan siang yang terlalu banyak. Ia mulai merasa bahwa sayuran yang baru saja ditelannya seolah naik kembali ke kerongkongannya. Rasa panas menjalar di dada hingga ke lehernya. 

George menutup mulutnya sembari menatap panitia kesehatan yang menghampirinya itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Panitia itu paham, lantas membantu George untuk berdiri dan menuntunnya ke kamar mandi.

Benar saja. Di kamar mandi, George memuntahkan nyaris semua yang ditelannya ketika makan siang barusan. Panitia di sampingnya membantu memijat tengkuknya dan mengoleskan minyak kayu putih di sana.

“Kamu punya alergi, kah?” Tanyanya.

Saat terasa muntahnya sudah selesai, George memencet tombol flush, kemudian mengusap ujung bibirnya. “Nggak ada, Kak.”

“Yakin? Makanannya tadi nggak cocok, ya?”

George menggeleng. Ia lalu bangkit berdiri, berjalan ke wastafel untuk membersihkan wajahnya. “Tadi ngabisin sayurannya teman-temen, Kak. Hehe.”

“Yaudah, kalau gitu kamu istirahat di ruang kesehatan dulu, ya? Biar–”

“Nggak usah, Kak,” George memotong. “Aku lanjut rangkaian selanjutnya aja gapapa. Masih kuat, kok.”

Panitia kesehatan itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk. “Oke, kalau ada apa-apa, bilang, ya?”

***

Matahari pukul empat sore ini memang tidak terlalu terasa panas. Namun jika berada di bawahnya sembari dibentak-bentak komdis dan setelah melalui rangkaian ospek yang membosankan, tentu sebagian besar mahasiswa baru akan merasa bahwa rasa lelah mereka perlahan naik ke ubun-ubun.

Termasuk George.

Ia masih berusaha berdiri tegak, meski kepalanya sedikit ditundukkan sebab ia mulai merasa pusing. Perutnya nyaris kosong, karena hampir semua makanannya telah dimuntahkan tadi siang.

“SEMUA INSTRUKSI SUDAH TERTULIS JELAS DI GUIDEBOOK! KENAPA MASIH ADA SAJA YANG MELANGGAR?!”

“BAHKAN TADI ADA YANG TERLAMBAT DATANG!”

“ADA YANG ATRIBUTNYA SALAH!”

“SATU MELANGGAR, SEMUANYA MENERIMA KONSEKUENSI!”

George merasakan matanya berkunang-kunang, dan perlahan pandangannya mulai memburam. Gemetar ia menoleh ke panitia kesehatan yang berdiri tidak jauh dari barisan kelompoknya. Saat pandangannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan tajam seorang komdis—yang tadi pagi pertama kali menemukannya menggunakan kaus kaki yang beda sebelah—detik itu juga George benar-benar tidak sadarkan diri.

Max yang saat itu sedang berkeliling di pinggir barisan langsung bergerak cepat menopang tubuh George yang jatuh pingsan.

“Kesehatan! Ada yang pingsan!” Serunya.

Max berdecak saat melihat panitia kesehatan yang masih bingung mencari tandu. Maka dengan cepat dirinya merengkuh bahu George dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain diselipkannya di bawah lutut yang lebih muda. Detik selanjutnya, Max langsung menggendong tubuh George dan membawanya keluar dari barisan, mengabaikan panitia kesehatan yang baru saja tiba membawa tandu.

Sembari berjalan membawa George di gendongannya, Max melirik wajah pucat si mahasiswa baru. Tanpa sadar, seulas senyum tipis terbit di wajahnya yang bahkan sedari pagi sudah disetel agar terlihat galak itu.

“Maba aneh,” bisiknya.

***

Ruang kesehatan hanya diterangi lampu neon yang berdengung pelan. George membuka mata perlahan, disambut bau minyak kayu putih dan obat-obatan yang menyengat. Kepalanya masih terasa berat, seperti ada yang mengganjal di dalamnya.

“Udah sadar?”

Suara itu bukan suara panitia kesehatan yang ia kenal. George menoleh, dan mendapati sosok laki-laki ber-arm band hitam duduk di kursi plastik di samping velt bed yang ia tempati, dengan tas ransel—tas George sendiri—tergeletak di pangkuannya.

“Kak... Max?” George mengerjap, masih mencoba mencerna situasi. Ingatannya soal bagaimana ia sampai di sini samar-samar. Yang terakhir ia ingat hanyalah pandangan yang memburam dan suara komdis yang membentak bersahut-sahutan

“Nah, tau nama gue,” Max menyeringai kecil, meski nada suaranya tetap berusaha dibuat datar. “Ini tas lo ketinggalan di barisan.”

George buru-buru duduk, meski kepalanya langsung berdenyut protes. “Kak, makasih ya. Maaf ngerepotin.”

Max hanya mengangguk, lalu meletakkan tas itu di ujung velt bed. Matanya sekilas menatap wajah George yang masih pucat.

Panitia kesehatan datang membawa segelas air hangat dan sebungkus biskuit, menginterupsi keduanya. Max kemudian bangkit dari duduknya, membiarkan panitia kesehatan duduk di kursi yang tadi ia tempati. “Ini diminum dulu, terus biskuitnya dimakan pelan-pelan. Gula darah kamu pasti turun tadi.”

George menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia meneguknya perlahan, sementara Max hanya berdiri di sudut ruangan, memperhatikan tanpa banyak bicara.

Ketika jam menunjukkan pukul lima sore, rangkaian ospek hari itu resmi ditutup. Sebagian besar mahasiswa baru sudah membubarkan diri, berjalan pulang dalam rombongan kecil sambil bertukar cerita soal betapa melelahkannya hari pertama ospek fakultas mereka. George masih duduk di ruang kesehatan, menunggu izin pulang dari panitia yang bertugas.

“Kamu tinggal di mana?” Tanya panitia kesehatan itu.

“Kost, Kak. Di Suhat.”

Detik selanjutnya, Max menyahut dari arah pintu.

“Gue anter.”

Semua yang ada di ruangan itu menoleh serempak.

“Lo yang anter?" Panitia kesehatan itu bertanya, nada suaranya sedikit ragu.

“Iya. Gue kan yang gendong dia tadi, sekalian aja gue pastiin dia sampe kost dengan selamat,” Max menjawab santai, seolah itu keputusan paling wajar di dunia.

Namun tidak semua orang setuju. Seorang komdis lain—perempuan dengan arm band yang sama, terlihat lebih senior dari Max—menghampiri dengan wajah tidak nyaman.

"Max, lo yakin? Itu nggak etis, tau. Lo komdis, dia maba. Ntar kalau ketauan lo anter dia pulang berdua doang, image lo yang kena, bisa jadi omongan," ucapnya setengah berbisik, meski George masih bisa mendengar dengan jelas.

“Terus lo maunya gimana? Dia dibiarin jalan sendirian padahal abis pingsan?” Balas Max, nada suaranya mulai meninggi.

“Ya minta anter ojol lah, atau temennya yang satu kelompok.”

“Temen sekelompoknya udah pada pulang duluan. Lo suruh gue nyariin satu-satu di antara ratusan maba yang udah bubar?” Max mendengus, tangannya bersedekap. “Gue cuma anter dia sampe kost, bukan ngapa-ngapain. Kalau itu masalah buat lo, ya udah, gue tanggung jawab sendiri.”

Perempuan itu masih terlihat kurang sreg, tapi akhirnya menyerah juga melihat betapa kerasnya kepala Max kalau sudah bersikeras. “Terserah lo deh. Tapi jangan lama-lama, langsung balik ke venue buat eval.”

Max mengangguk singkat, lalu berbalik menatap George yang masih terduduk canggung menyaksikan perdebatan yang sebenarnya soal dirinya sendiri. “Yuk. Bisa jalan, kan?”

George mengangguk buru-buru, meski pipinya entah kenapa terasa sedikit menghangat. Ia turun dari velt bed, hendak menyampirkan tasnya sendiri, tapi Max keburu mengambil alih dan menggendong tas itu di satu bahunya.

“Kak, aku bisa bawa sendiri, kok.”

“Diem aja. Lo baru abis pingsan, nggak usah sok kuat.”

George tidak membantah lagi. Mereka berdua berjalan keluar dari ruang kesehatan menuju parkiran, melewati mahasiswa baru lain yang masih berkerumun menunggu jemputan. Beberapa pasang mata melirik heran melihat seorang komdis berjalan berdampingan dengan seorang maba, tapi Max tidak peduli, ia tetap berjalan dengan langkah santai seperti biasa.

Sesampainya di parkiran, Max membuka jok motornya. Ia mengeluarkan jaket himpunan berwarna biru tua, menyerahkannya ke George.

“Pake,” ucapnya singkat.

George mengerjap. “Gimana, Kak?”

Max berdecak. “Ini jaket, lo pake. Malang lagi dingin banget ini, musim maba soalnya,” ucapnya dengan berusaha terdengar ramah.

George ragu-ragu menerima jaket itu, kemudian memakainya sembari Max menyalakan motor matic nya. Ia bisa merasakan jantungnya yang entah mengapa berdegup lebih kencang, pun perutnya yang terasa geli, dan wajahnya yang makin memanas. Wangi parfum Max menyeruak masuk ke indra penciumannya, George tanpa sadar meremat pelan jaket himpunan Max yang terasa hangat di tubuhnya.

***

Sepanjang perjalanan menuju kost George, tidak ada yang benar-benar membuka pembicaraan kecuali George yang sesekali memberitahu arah jalan. Hingga akhirnya, mereka tiba di depan sebuah bangunan tiga lantai bercat putih gading dengan pagar beraksen kayu.

“Kak,” George memberanikan diri membuka suara lagi setelah dirinya turun dari motor. “Makasih ya, buat hari ini. Ngebantuin pas aku pingsan, terus sekarang nganterin pulang. Maaf jadi ngerepotin, sampe Kakak harus berantem sama panitia lain.”

“Itu bukan berantem,” Max menjawab santai, meski sudut bibirnya sedikit terangkat. “Cuma beda pendapat aja. Lagian gue yang nawarin duluan, bukan lo yang minta.”

“Tetep aja, jadi bikin Kakak susah.”

Max menoleh, menatap George sekilas. “Lo tau nggak, dari tadi pagi lo udah bikin gue rempong? Kaus kaki beda sebelah, muntah abis makan siang, terus pingsan pas sore. Kalau gue nggak suka nolongin, ngapain gue capek-capek gendong lo tadi?”

George terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Wajahnya semakin memanas, terutama saat ia tanpa sadar memperhatikan wajah Max yang tadi pagi terlihat galak, kini justru terlihat lebih lembut ketika tidak sedang berteriak-teriak memberi instruksi. Untungnya langit sore yang mulai jingga menyamarkan rona di pipinya.

Max menyerahkan tas George yang tadi digantungnya di hanger motor. Tangannya sempat bersentuhan sedikit dengan tangan George sebelum ditarik kembali. “Istirahat yang bener. Besok masih ada rangkaian osfak.”

"Siap, Kak."

Max mengangguk, lalu menurunkan kembali kaca helmnya. Namun sebelum ia benar-benar membawa motornya melaju, dirinya menyempatkan untuk menoleh kembali. “George,” panggilnya

"Ya, Kak?"

“Kaus kakinya besok jangan beda sebelah lagi.” Ada nada jahil yang terselip di kalimatnya, membuat George tertawa kecil meski tubuhnya masih lelah.

“Oh iya, Kak,” George menginterupsi saat Max sudah menyalakan kembali mesin motornya.

“Apa?”

George menunduk, rona merah makin terlihat jelas di kedua belah pipinya. Ia menggigit bibir sejenak sebelum berucap; “habis osfaknya selesai, boleh jalan, nggak? Ma-maksudku… Buat ucapan makasih aja.”

Detik selanjutnya, Max benar-benar tersenyum. Kontras sekali dengan wajah komdis yang ditunjukkannya sedari pagi.

“Selesain dulu osfaknya. Kalau di rangkaian selanjutnya buku sama nametag lo nggak kena lakban lagi, baru boleh jalan sama gue.”

George terkekeh. Ia memalingkan wajah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian, ia mengangguk.

Notes:

WHAHAHAHAHAHA karena menyambut musim maba... inilah my 'when ya' gueh....