Work Text:
Begitu Han memasuki ruang introgasi, dia langsung tahu (dan benar-benar paham) bahwa akan berhadapan dengan seseorang yang tidak mudah diajak kompromi. Dari cara duduk dan tatapannya saja membuat Sang Detektif membuang napas sebelum melempar berkas dokumen ke atas meja lalu duduk di seberang Si Model Papan Atas.
Di luar sepertinya masih hujan, pasti akan enak sekali menyantap ramyeon dan pajeon dengan sekaleng bir sambil menikmati tayangan ulang siaran langsung Ulang Tahun Woongki yang tidak sempat-sempat Han tonton karena saking sibuknya.
Kasus selalu datang beruntun, baru saja selesai yang satu kemudian langsung menyusul yang lainnya. Sungguh melelahkan dan menyita waktu. Semakin banyak saja kriminalitas di dunia ini, kenapa orang-orang tidak bisa menjalani hidup tanpa melampaui batas. Tak perlu menjadi malaikat segala karena sabar memang ada batasnya tapi jangan sampai melanggar hukum dan aturan yang ada.
“Yah.”
Suaranya berat. Lirikan Han sempat jatuh ke mulut mungil yang dipoles gincu merah bata.
“Kau tahu sendiri aku ini sibuk sekali loh.”
Sesuai dugaan, gaya bicaranya membuat Han semakin hilang selera untuk melakukan introgasi. Tangan tersilang di depan dada, rautnya jengah bercampur menantang, “bisa kita mulai secepat-
“Anda sudah boleh pergi.”
“...hhah?”
“Anda sibuk sekali kan. Ya sudah silahkan pergi.”
“Kau…
Wajah cantiknya (Han akui, sosok itu memang sangat rupawan) yang semula jutek perlahan berubah bingung. Jika memang dia sesibuk itu ya sudah pergi saja, Han juga sebenarnya malas menghadapi orang-orang seperti dia. Lebih baik akhiri detik ini juga.
“Silahkan Zhang Shuaibossi, anda sudah boleh pergi sekarang.”
Keheranan pria tinggi bertambah-tambah, “apa? Bukannya kau harus- aku- kenapa-
“Untuk sekarang status anda resmi sebagai saksi. Tapi perlu diingat bahwa kami akan tetap selalu mengawasi dan mungkin masih sesekali mendatangi anda untuk memintai keterangan. Anda boleh didampingi pengacara, pokoknya mohon kerja samanya. Nah silahkan, kami tidak akan menganggu jadwal anda lebih lama lagi.”
Han heran kenapa dia justru tampak tidak puas.
“Yah, kau itu bisa kerja yang benar tidak sih. Bagaimana bisa kau- maksudku, satu pertanyaan saja belum kau-
Oh Ya Tuhan.
Dia memang tipikal yang paling Han hindari, “pengakuan anda terbukti benar. Alibi anda jelas, tidak ada celah maupun keraguan sama sekali- nah, setidaknya sejauh penyidikan awal. Dan hasil pemeriksaan sudah keluar, perkiraan kematian korban dua jam lebih awal dari kedatangan anda. Semua CCTV rusak, rekamanpun hilang tapi berdasarkan penyelidikanku di TKP memang ada orang lain yang datang ke rumah korban sebelum anda. Dia cukup teliti, tidak meninggalkan sedikitpun sidik jari tapi ada satu kelopak bunga di beranda ruang tengah yang copot dan aku menemukannya tepat di luar pagar belakang. Pot bunga letaknya tepat di depan pintu, saat aku keluar kakiku juga nyaris mengenainya jadi mungkin pelaku juga melakukan kecerobohan yang sama dan tidak sadar bahwa ada satu kelopak bunga yang menyangkut di celana atau di sepatunya. Kelopak yang lalu terbang ketika dia kabur melompati pagar.”
Ugh. Han paling tidak suka bicara panjang lebar tapi si model itu memang harus diberi penjelasan.
Han hirup napas panjang-panjang sebelum lanjut berkata, “karena melihat mayat mantan kekasih anda terpotong-potong, maaf, membuat anda kembali mual, saat itu anda memang muntah, kami menemukan tetesannya di ambang pintu kamar korban dan jejaknya di closet kamar mandi, kandungan di dalamnya sesuai dengan apa yang anda makan pada event amal malam itu. Setelah muntah anda tak sadarkan diri lalu- nah, pokoknya status anda sebagai tersangka sudah resmi dicabut. Maka dari itu silahkan pergi jika memang itu yang anda inginkan, Zhang Shuaibossi. Tadi anda bilang anda sangat sibuk kan?”
Dia tercenung, Han merasa melihat seekor kucing oren yang kebingungan. Pertama kali lihat, rautnya sekilas seperti serigala dingin tapi jika diperhatikan lama-lama malah bagaikan kucing yang sebenarnya manja dan suka dielus.
“Zhang Shuaibossi?”
“Mana handphonemu.”
“Permisi?”
“Simpan kontakku. Mulai sekarang aku hanya mau memberi keterangan jika kau yang bertanya, tidak petugas lain apalagi Si Bocah Kelebihan Energi yang membuat mulutku berbusa!”
Han melirik ke arah samping, di mana berdiri tegap juniornya Park Juwon yang berpaling muka karena malu.
“Aku saksi kan, aku punya hak untuk bungkam. Aku tidak akan buka mulut jika bukan kau yang-
Entah untuk keberapa kalinya Han menghela napas hari ini. Tapi dia turuti, demi penyelidikan. Han keluarkan handphone dari saku jaket, “berapa nomor anda?”
“Sini, aku tidak mau dia dengar.”
Oke, turuti saja. Batin Han, semakin cepat semakin baik. Dia sodorkan benda pipih yang Shuaibo terima dengan kerutan samar.
“Kau suka Ahof?”
Han terdiam. Ahof adalah rookie grup yang tanpa sengaja dia cari tahu beberapa bulan lalu untuk keperluan kasus penguntit idol. Lagu-lagu mereka ternyata sesuai selera Han, beranggotakan lima orang pemuda yaitu Steven, Jeongwoo, Woongki, JL dan Daisuke yang sebulan ini sudah menjadi peralihan sempurna bagi Han dari pekerjaan yang melelahkan.
“Dan biasmu JL?”tanya Shuaibo lagi menilik casing handphone dan wallpaper Han.
“Oh, anda tahu Ahof?”
“Tentu saja! Aigo, bukannya kau sudah punya data lengkapku eoh. Seharusnya kau tahu kalau Discovery Entertainment dan F&F masih dibawah naungan yang sama yaitu MLB Company- wah, kau sangat menyukai Ahof. Lihat tampangmu haha.”
Shuaibo berdiri bangkit dengan senyuman kemenangan. Dia berlalu pergi setelah mengembalikan handphone Han seraya berbisik, “kau boleh menghubungiku di luar pekerjaan, Tuan Detektif. Aku bisa membocorkan informasi penting tentang idolmu.”
What.
Tidak hanya nada bicara yang menggoda tetapi sentuhan tersirat dia berikan melalui jemari yang mengelus singkat bahu kanan Han.
Si Detektif terdiam selama Shuaibo melangkah meninggalkan ruangan. Barulah Han terkesiap ketika Juwon bertanya, “Sunbae, apa sungguh tidak apa-apa membocorkan proses penyelidikan kita?”
“Oh, soal kelopak bunga?”
“Dan yang lain.”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku tahu dia tidak akan mengatakannya kepada orang lain dan tidak akan ambil pusing soal itu.”
“Semoga.”
“Aku jamin.”
“Kenapa kau yakin sekali?”
“Entahlah, mungkin karena aku sudah paham bagaimana sifat aslinya.”
“Yeoksi. Park Han.”
“Bukan, bukan, bukan. Dia memang gampang dibaca kok.”
“Hmm. Iya sih.”
“Wolf outside kitty inside.”
“Wah."
"Wae?"
"Barusan kau tersenyum, Sunbae.”
“Apa aku tidak pernah tersenyum sebelumnya?”
Juwon langsung menggeleng dan Han kembali memasang tampang malas andalannya. Dia berdiri bangkit, “kau sudah makan?”
Juwon cemberut, “belum. Model itu benar-benar menyulitkanku.”
“Ramyeon?”
“Roger!”
"Tapi kau yang masak."
"Sunbaeeee."
Park mendengus dan bergerak keluar ruangan dengan diekori oleh si junior. Hati kecilnya berdetak senang, jari-jarinya gatal untuk segera menghubungi nomor terbaru dalam list kontaknya.
= Kkeut =
