Actions

Work Header

Maafin aku ya kakak sayang

Summary:

Habis konser di Los Angeles, Keonho balik ke hotel dan langsung ngeliat Juhoon, temen satu grup sekaligus kekasihnya, lagi ngambek gara-gara Keonho ketahuan kebanyakan kasih fan service di atas panggung. Mulai dari terlalu lama meluk fans dan nggak buru-buru ngelepasnya, sampai berbagai fan service lainnya. Alhasil, Keonho harus bujuk Juhoon pake rayuan, pujian, sama kecupan-kecupan kecil yang manja biar pacarnya itu nggak ngambek lagi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Konser di Los Angeles baru saja selesai beberapa jam lalu. Kini mereka udah di hotel, beres-beres sisa riasan dan keringat panggung. Saat ini Keonho lagi mandi, sementara Juhoon sedang duduk cemberut gak jelas sendirian di ruang tengah. Dia juga gak paham kenapa bisa se kesel ini. Entah kenapa kamar hotel mereka juga jadi lebih dingin, lebih dingin daripada panggung yang baru aja mereka tinggalin.

Juhoon duduk meringkuk di ujung sofa, kaos kebesaran membungkus tubuhnya, lutut ditarik rapat ke dada. Bibirnya cemberut kayak bebek, tatapannya kosong menerawang layar televisi yang mati. Tak lama, Keonho keluar dari kamar mandi. Ia menutup pintu pelan, melempar jaket panggungnya asal ke kursi, lalu berhenti sejenak mengamati sosok di sofa itu. Ia tahu betul akar dari suasana ini.

Sepanjang pertunjukan tadi, ia memang sedikit kebablasan. Keonho tau fan service itu emang tuntutan pekerjaan, tapi kali ini ia kelamaan senyum ke arah kerumunan, kelamaan menikmati sorak-sorai yang menggema. Sampai di satu momen di ujung panggung saat dia mendekat ke barisan depan buat high-five, salah satu fans tiba-tiba meluk dia, refleks, saking excited-nya. Bukannya langsung lepas, dia malah diam sejenak. Dan pas itu juga, dari sudut mata, dia sempet nangkep Kakak kesayangannya lagi berdiri di sisi panggung, natap ke arahnya. Mukanya datar bener-bener nggak ada senyum yang biasanya selalu muncul tiap kali mata mereka ketemu. Keonho langsung tau, ini bakal panjang urusannya.

Ia melangkah pelan, lalu berlutut di hadapan sofa.

"Kak…" panggilnya, lirih. Tak ada sahutan.

"Kakak," ulangnya, menyentuh betis Juhoon yang terbungkus celana training. "Lihat aku, dong."

Juhoon masih enggan menoleh. Hanya menghela napas dan membuang pandang ke jendela. Keonho tersenyum tipis. Duh, ngambeknya kok bisa segemesin ini sih. Padahal harusnya dia yang ngerasa bersalah, tapi liat muka cemberut pacarnya malah bikin dia pengen unyel bibir kekasihnya yang kaya bebek itu.


"Aku tahu kakak marah. Aku juga tahu sebabnya. aku jelasin yaa....please?"


"Udahlah gaperlu. Bukan aku doang kok yang gampang klepek-klepek liat senyum kamu," akhirnya Juhoon bersuara, serak sisa teriakan di panggung tadi.

"Klepek-klepek gimana maksudnya?" Keonho menggigit bibir menahan tawa. "Emang aku pernah natap orang lain kayak aku natap kamu?"

Juhoon mendengus, mencoba menahan senyum yang mau muncul. "Gombal. Baru juga masuk kamar udah mulai."

Keonho ikutan naik ke sofa, ngesot dikit sampai lututnya nempel lutut Juhoon. "Lah kan beneran. Masa aku boong?"

Ditariknya pelan tangan Juhoon yang meluk lutut sendiri, terus digenggam. "Udah, jangan meluk lutut mulu. Meluk aku aja."

Juhoon masih enggan menatap, tapi genggaman tangannya tak dilepas.


Keonho menyentuh dagu Juhoon dengan lembut. "Kakak please liat akuuuu."

Perlahan Juhoon menoleh. Matanya sayu, campuran lelah dan kesal. "Dasar narsis, seneng kan liat orang pada teriakin nama kamu, makanya tadi dipeluk anteng-anteng aja nggak mau lepas, kaya enjoy banget tuh di peluk orang-orang sampe ga sadar aku tadi di situ." Ucapnya ketus, tanpa jeda, mulutnya masih cemberut kayak bebek.

Keonho tertawa kecil, mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka nyaris bersentuhan. "Lucu banget sih kalo cemburu. Aku suka banget kalo kakak ngambek karena cemburu sama aku." Ia mengecup pelan ujung hidung Juhoon ringan.

"Maaf ya," bisiknya lagi, mengecup kening Juhoon. "Lain kali aku gak gitu lagi, sumpahhh"

'' satu hal yang kakak harus tau, tiap aku senyum ke fans, yang ada di kepalaku tetep kakak kok" Ujar Keonho sambil tersenyum manis.

"Bohong banget," gumam Juhoon, meski nadanya sudah jauh lebih lunak dan pipinya yang agak memerah

"Nggak bohong, sayang." Keonho ngusap pipi Juhoon pake ibu jari, pelan, "Kamu tuh yang paling aku sayang satu dunia, satu alam semesta aku berani sumpah pocong"

Juhoon masih diem, tapi bibirnya ga semonyong tadi.

" udah ah marah-marahnya, aku kan mau sayang-sayangan sama kakak" lanjut Keenan, senyumnya makin lebar. “Lebih sayang aku apa mbappe” Ujar juhoon “Pertanyaan konyol, ya kakak lah” Jawab keonho cepat “ emang kamu gak sadar tadi pas nyanyi aku sampe lupa lirik sendiri gara-gara kamu ngeliatin aku, masa kamu masih ngeremehin cinta aku"

"Bohong," gumam Juhoon, tapi pipinya mulai merah. Kekasihnya emang paling jago luluhin hatinya.

"Nggak bohong sayang. Tanya aja member lain, aku ketinggalan part gara-gara bengong liatin kamu." Keonho makin nunduk, ngedeketin wajahnya.

"Kamu tuh judes banget tau kalo lagi ngambek, tapi gemes juga kaya squishy. Pipinya bulet gemiy nyoi. Gimana cara ya coba, bisa gemes dan judes at the same time?" Ujar keonho sambil mainin pipi kesayangannya itu.

Bahu Juhoon keliatan udah mulai turun, ketegangannya dikit-dikit ilang kayak es batu yang meleleh pelan-pelan. Keonho buru-buru manfaatin momen itu, ngerangkul pinggang Juhoon, narik lebih deket sampe hampir nempel.

"Udah, jangan ngambek lagi," bisiknya, dahi nempel dahi. "Aku kan cuma sayang kamu doang."

Juhoon menatapnya lama, lalu menghela napas menyerah. "Kamu tuh selalu bisa bujuk aku kayak gini…" Hancur juga benteng pertahanan yang ia buat sejak tadi.

Keonho tersenyum, mengecup bibir Juhoon singkat, lembut, tak tergesa.

"Besok kan kita libur," bisiknya. "Mau jalan-jalan, atau di kamar aja?”

"Di kamar aja," jawab Juhoon pelan. "Aku capek banget."


"Oke besok kita cuddle seharian yaa my squishy gemoy." ucap Keonho sambil memeluk kekasihnya.

Juhoon hanya ketawa dapet panggilan aneh dari kekasihnya itu

Suasana yang tadi tegang perlahan mencair sepenuhnya. Juhoon akhirnya membalas pelukan, jemarinya mencengkeram bagian belakang kaos Keonho.

"Udah nggak marahkan ?" tanyanya keonho pelan.

"masih dikit." Suara Juhoon udah jauh lebih lunak dari yang tadi. "Tapi kamu ganteng banget sih. jadi susah buat kesel."

"Nah, gitu dong." Keonho nyengir kesenengan, ngedeketin wajahnya lagi. "Aku bakal ganteng terus sampe kamu lupa kenapa tadi marah."

Juhoon mendelik geli, tapi nggak protes waktu Keonho ngangkat dagunya pelan. Nggak ada kata-kata lagi setelah itu cuma bibir yang ketemu lagi, lebih lama dari yang tadi, lebih dalam, dan lebih lembut.

Pas mereka akhirnya lepas, napas berdua udah agak berantakan.

"Aku cinta kakak," bisik Keonho, dahi nempel dahi. "Beneran."

"Aku juga." Juhoon akhirnya senyum penuh, ngambeknya udah hilang semua. "Tapi lain kali jangan kebanyakan caper ke fans. Kasian Martin harus nenangin mereka."

Keonho ketawa, nyium ujung hidung Juhoon, hidung favoritnya sekali lagi. "Siap. Janji."

Mereka pindah posisi Keonho narik Juhoon biar rebahan bareng di sofa yang emang cukup luas buat berdua. Sesekali dia masih nyium pipi dan hidung favoritnya itu sambil ngoceh pelan.

"Kamu keren banget tadi, tau nggak." 

"Suara kamu tuh, selalu bikin aku merinding tau." ujar keonho menggoda kakak kesayangannya

"Geli banget sih kamu," ucap Juhoon sambil tertawa. Ia mengecup pipi Keonho sekilas.

Perlahan, kecupan itu mulai bergeser. Dari wajah turun ke rahang, lalu ke leher. Juhoon menghela napas pelan ketika bibir Keonho menyentuh kulitnya di sana. Tangan Keonho yang tadi hanya mengusap punggung kini merayap ke pinggangnya, merasakan kehangatan kulit yang masih sedikit lembap.

“adeek…” suara Juhoon terdengar agak serak.

“Hmm?” Keonho mengangkat wajah sebentar, matanya gelap tapi tetap penuh kasih.

“Boleh?”Ucap keonho. Juhoon menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Pelan-pelan… Geli” Keonho tersenyum, lalu kembali menunduk.

Bibirnya menelusuri leher Juhoon dengan hati-hati, meninggalkan kecupan basah yang membuat tubuh kakaknya itu sedikit menggeliat.

Jari-jari menyentuh sisi tubuh dengan gerakan memuja.“kak kamu sadar gak kamu indah banget” bisiknya di sela napas. “Setiap inci indahnya” ujarnya dengan mata sayu.

Juhoon mengangguk sambil memejamkan mata, tak lupa satu tangannya memegang rambut Keonho.

 

Notes:

Hi guys! This is my first ever time writing, so please bear with me 🥹🤍

If you notice any mistakes or have any feedback/suggestions, feel free to leave them in the comments! I’d really appreciate it. Hope you enjoy reading! ♡