Work Text:
Sebuah kebohongan dirancang bukan untuk menipu orang lain, melainkan untuk menenangkan ketakutan kita sendiri.
Shazfa Adesya selalu tahu bahwa dirinya adalah makhluk yang payah dalam urusan menerima kasih sayang. Di bawah hari yang terik itu, saat punggungnya menyandar pada besi pegangan koridor lantai delapan gedung sekolah yang sedingin es, ia beranggapan bahwa dunia sedang menertawakannya secara sangat sopan. Tangannya yang mulai kebas mencengkeram buket bunga mawar—lengkap dengan gambar konyol Kyungsoo dan Kai, dua member EXO favorit Kak Esther yang sengaja ia potong dan rekatkan satu per satu semalaman suntuk di kamar rumahnya sebelum mereka lulus. Semalaman, dengan gunting manual dan lem yang belepotan di sudut-sudut jemarinya, Shazfa merangkai sesuatu yang ia sebut sebagai bentuk apresiasi adik kelas.
Apresiasi. Satu lagi kata bentukan yang ia ciptakan demi menyelamatkan harga dirinya yang rapuh.
Ketika pintu raksasa hall itu akhirnya terbuka, kerumunan keluarga serta wisudawan tumpah ke lorong, mata Shazfa bereaksi cepat. Naluri dan impulsnya selalu tajam merebut fokus di tengah keramaian, namun rasa tidak aman yang mendalam seketika memaku tubuhnya tetap di tempat. Ketakutannya yang besar akan penolakan menuntutnya untuk diam, memperhatikan gerak-gerik kakak kelasnya itu dari kejauhan, menolak untuk melangkah lebih dulu karena ketakutan setengah mati menghadapi realita.
Esther Geraldine keluar dari pintu raksasa itu seperti sebuah lukisan yang diberi nyawa. Cewek itu begitu rapi, manis, dan bersinar terang di bawah pendar lampu gedung. Di sekelilingnya, kawan-kawannya berebut memberikan buket, mulai dari bunga matahari yang mekar besar, lily putih yang anggun, hingga hydrangea biru yang mahal. Entahlah, Shazfa sendiri nggak terlalu tahu banyak tentang bunga. Di sanalah ia berdiri, meraba plastik buket mawarnya yang murah, merasa mengecil dan tidak berarti di antara kerumunan yang mengelilingi Esther.
Lucu, pikir Shazfa, membiarkan pikirannya terkubur dalam diam yang pekat. Kira-kira Kak Esther suka replay memori pas kita kekunci di ruang OSIS berdua ngga ya? Atau memori itu cuma aku aja yang inget? Cuma aku yang inget kayak orang gila?
Setelah berkutat dengan puluhan pasang mata yang menatapnya, Esther akhirnya menoleh. Netra cokelat beningnya membulat. Tangannya melambai tinggi ke udara, menembus jarak yang memisahkan mereka. "Shaz!"
Dunia Shazfa runtuh dan terekonstruksi ulang dalam satu detik yang fatal. Ia tersenyum sumringah—senyum konyol, idiot, dan tak berdaya yang selalu gagal ia sembunyikan setiap kali Esther berada dalam radius tiga meter dari tubuhnya. Ketertarikan yang menggebu itu mendadak menang, merebut kembali kendali atas akal sehatnya.
"Hey, kamu dari kapan di sini?" tanya Esther begitu melangkah menghampirinya, membawa aroma hangat floral dari rambutnya.
Shazfa menunduk sedikit, menangkap pendar di mata Esther. "Ngga lama kok, Kak. Aku bawain ini." Ia menyodorkan buket mawarnya.
"Omg! Lucu banget ini buketnya... wait, ada Kyungsoo & Kai?!" Esther memekik senang. Matanya berbinar memandangi potongan gambar bias-nya yang ditempel dengan sisa-sisa lem yang mengering.
"I thought you might like it," gumam Shazfa, masih dengan senyum sumringah yang sama, mengabaikan debar aneh yang mulai mengetuk dinding dada kirinya.
"Like it? I LOVE it!" Tanpa ragu, Esther mengajak foto berdua.
Saat mereka berdiri berdampingan di depan kamera ponsel setelah Esther meminta tolong orang asing yang lewat untuk mengambil foto mereka, Shazfa merasakan dorongan aneh yang merayap di dadanya. Esther hari ini memakai heels, membuatnya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mendominasi ruang di antara mereka. Shazfa ragu-ragu menaikkan tangannya, hendak menaruhnya di belakang bahu yang lebih tua untuk merangkulnya—sebuah pose wisuda yang normal bagi orang lain. Namun, kepalanya yang terlalu banyak berpikir langsung menahan gerak jemarinya. Ketakutannya atas penolakan berbisik di telinga Shazfa bahwa dia tidak layak menyentuh kain kebaya hitam Esther. Tangannya gemetar samar di udara, takut akan jarak yang mungkin tercipta jika Esther merasa tidak nyaman, hingga akhirnya tangan itu jatuh kembali ke sisi tubuhnya tanpa pernah sempat menyentuh kulit yang lebih tua.
Mereka berdua senyum dan foto ke kamera. Mengambil beberapa gambar yang kelak akan Shazfa tatap sampai parunya membusuk.
"Kak Esther pindahannya kapan?" tanya Shazfa kemudian, saat mereka duduk di bangku lorong, menjauh dari kerumunan yang bising. Shazfa sebenarnya sedih kalau mikir mereka bakalan pisah kota, apalagi Esther harus bersiap merantau lebih dulu ke Depok. Jarak kota asal mereka menuju tanah rantau terasa seperti ribuan kilometer bagi hatinya yang enggan kehilangan. Namun, ia masih bangga banget Kak Esther bisa achieve impiannya buat kuliah di kampus nomor satu itu.
"Kayaknya seminggu sebelum ospek gitu, masih lama kok," jawab Esther, menyugar rambut hitamnya yang tertata rapi.
"Kak Esther bakal di sini dong?" Shazfa bertanya penuh harap.
"Hmmm engga deh? Aku mau liburan gitu, kado Mama Papa."
"Fun! Mau kemana?"
"Jepang!" Esther tersenyum sangat lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi.
"That’s one of your dream destinations!" Shazfa ikut tersenyum.
Esther terkekeh lembut, "Kok kamu inget sih?"
Shazfa agak malu, jiwanya terguncang karena rahasianya hampir terbuka, namun ia buru-buru ngeles dengan tameng rasionalnya. "Aku kan emang jago hafalan," jawabnya, menyembunyikan fakta bahwa ia menyimpan setiap detail tentang Esther di kepala yang sudah penuh dengan rumus Penalaran Umum itu.
"Bener juga," Esther percaya begitu saja. Kecenderungannya yang ramah dan trusting membuatnya tidak pernah sadar tatapan yang terpaku padanya secara sembunyi-sembunyi. "Kamu jadi pengen ke UI juga?"
Shazfa mengangguk, matanya menatap lurus ke dalam netra Esther. "Iya. Nanti ketemu Kak Esther lagi." Jujur banget sih, Shazfa, jawabnya?
"Kok malah aku? Hahaha," Esther ketawa, suara renyahnya terdengar seperti melodi yang menyakitkan. Lalu matanya menangkap sinyal dari wanita paruh baya bergaun rapi di ujung koridor—mamanya. "Eh aku duluan ya. Makasih banget udah nyempetin dateng! Semoga kamu keterima juga di UI tahun depan, nanti kita main, oke?"
Shazfa pulang dari acara wisuda itu dengan membawa dua hal: tekad bulat untuk ikut merantau dan masuk UI demi mengejar matahari yang bernama Esther Geraldine, dan sebuah kepastian konyol yang ia sembunyikan di balik kegelapan hatinya sendiri—bahwa ia mencintai seorang perempuan.
***
Satu tahun berlalu tanpa riak yang berarti. Di kota asal mereka, kehidupan batin Shazfa mati suri setiap hari dan ia hanya bisa menghabiskan waktu di meja belajarnya. Obrolan mereka terkikis jarak. Shazfa hanya menjadi penonton setia di balik layar ponselnya, sesekali membalas Instagram Story Esther seperti memuji makanan yang diunggahnya, atau sekadar menyisipkan kata "cantik" yang disamarkan sebagai kelakar adik kelas ramah dari OSIS.
Namun Shazfa berhasil membuktikan ambisinya. Ia belajar sampai gila, menahan semua kelelahan, menolak semua ajakan temannya untuk datang ke acara noraebang idol favoritnya. Dorongan hatinya menuntut kesempurnaan akademis demi satu tujuan: menyusul Esther ke tanah rantau yang sama. Dan akhirnya, jaket kuning UI itu bisa ia kenakan di atas bahunya.
Seminggu setelah perkuliahan dimulai, setelah ia resmi menjadi anak rantau di Depok dan berulang kali mencoba mencocokkan jadwal yang padat, mereka akhirnya berjanji bertemu di sebuah kafe kecil di dekat kosannya.
Pintu kafe berdenting. Shazfa melongo di sudut meja melihat sosok yang baru saja masuk.
Esther melangkah masuk dengan gaun kasual yang pas di tubuhnya. Namun yang membuat napas Shazfa tertahan, membuat seluruh oksigen di paru-parunya mendadak menguap, adalah rambut Esther yang kini berwarna merah menyala yang melengkapi kulit cantiknya yang tercium matahari dengan lembut itu. Sebuah sisi baru dari Esther Geraldine yang nggak pernah dilihatnya.
"Shaz! Hey, kamu apa kabar?" Esther duduk di depan Shazfa, mengukir senyum paling hangat yang sangat Shazfa rancang dan rindukan dalam beberapa bulan terakhir.
"Kak Esther rambutnya dicat merah?" Shazfa membeo, mengabaikan pertanyaan Esther. Pertanyaan itu nggak teregistrasi dengan benar di dalam otaknya yang mendadak lumpuh karena pikirannya terlalu penuh dengan si cantik berambut merah di depannya.
"Huh? Oh, iya, baru aja kemaren aku cat! Bagus nggak?" jawab Esther sambil menyentuh helai rambut merahnya dengan jemari yang lentik.
"Iya, cantik, Kak," jawab Shazfa spontan. Detik berikutnya, panik melanda dirinya. Ketakutan akan penyimpangan perasaannya membuat lidahnya blabbing tanpa arah. "Warnanya—warna rambut Kak Esther cantik gitu, cocok sama Kak Esther... I like red!"
Esther terkekeh manis, menyipitkan matanya hingga membentuk bulan sabit yang sempurna. "Makasih ya, Shazfa. Kamu masih lucu kalo ngomong, kangen deh."
Dada Shazfa bergemuruh hebat, rasa panas merayap dari lambung menuju tenggorokannya. Apa aku sakit ya? Apa aku homesick? Apa aku terlalu stress sama ospek? Kenapa jantungku kayak mau lompat keluar sih?
Hari itu, di antara tegukan matcha yang pahit dan perbincangan canggung tentang perkuliahan, Shazfa menyadari dua hal baru yang mutlak di dalam hidupnya: Pertama, ia ternyata menyukai perempuan. Kedua, perempuan itu adalah Esther Geraldine, yang sudah berlarian di pikirannya entah dari kapan.
***
Bulan-bulan berikutnya berputar seperti ilusi yang menyenangkan sekaligus menyiksa. Sebagai sesama perantau dari kota yang sama, mereka mulai sering bertemu. Sekadar makan siang bersama di kantin, warung sekitar kampus, cafe, atau menumpang baca buku di perpustakaan. Kalau ada waktu lebih, mereka nyempetin untuk nonton film bareng. Shazfa membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu, membiarkan angan-angannya merangkai mimpi-mimpi kecil bahwa perlahan tapi pasti, ia bisa berada di sisi Esther untuk selamanya.
Ia yakin kalau dia bisa mencari cara untuk masuk ke dalam hati si kakak cantik. Berdasarkan riset yang ia lakukan tiap malam—yaitu bacaan manga yuri dan serial Girls Love Thailand di YouTube yang ia tonton di balik selimut kamar kosnya—Shazfa sudah paham dan hafal berbagai cara untuk mengutarakan perasaannya itu. Ia menyusun rencana demi rencana, menunggu waktu yang tepat supaya strateginya berhasil tanpa memicu penolakan yang ia takuti.
Sampai di suatu sore di bulan November, dunia Shazfa dihancurkan tanpa suara di pelataran kampus yang bising.
Mereka sedang duduk di pelataran ketika seorang laki-laki berkaos hitam dengan kalung salib yang bergantung di kerahnya menghampiri mereka. Laki-laki itu tinggi, jangkung, dan wajahnya terlihat sangat ramah karena senyumnya membentuk lesung pipi yang simetris.
"Esther, kunci kamu ketinggalan di mobil aku," kata laki-laki itu sambil menyodorkan gantungan kunci.
Esther menoleh, dan dalam sepersekian detik yang fatal itu, Shazfa melihat sebuah pendar di mata Esther yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah binar penuh kehangatan dan ketergantungan yang tidak pernah ditujukan untuk dirinya. Sebuah binar yang hanya ada jika Esther berada di dekat sesuatu yang ia anggap sebagai rumah yang aman.
"Oh! Thank you, ya," tanggap Esther lembut, sebelum menoleh ke arah Shazfa yang seketika tubuhnya membeku menjadi es. "Shaz, kenalin, ini Brian. Pacar aku. Dia anak Ilkom juga, kating kamu berarti."
Dunia Shazfa seperti mendadak hening. Suara bising pelataran kampus, klakson kendaraan, dan tawa mahasiswa lain menguap begitu saja ke dalam ruang hampa.
"Brian," laki-laki itu mengulurkan tangan dengan ramah. "Shazfa, kan? Esther sering cerita tentang lo. Katanya adek kelas yang paling pinter waktu di OSIS."
Shazfa membalas uluran tangan itu secara refleks. Tangannya terasa sedingin mayat di bawah genggaman Brian yang hangat. "Shazfa, Kak."
Laki-laki. Seorang laki-laki yang normal. Plus seiman juga.
Sederhana, tapi kenyataan itu menghantam Shazfa tepat di dadanya, Nggak pernah sekalipun nama Brian muncul di percakapan mereka selama ini. Nggak di chat, nggak di Instagram Story yang tiap hari ia pantau seperti informan, nggak juga di sela-sela obrolan santai mereka saat nonton film di kosannya. Brian muncul begitu saja entah dari mana, membawa kunci rumah, membawa tawa yang begitu pas bersanding dengan Esther, membawa kalung salib yang serupa, dan membawa seluruh keabsahan yang tak akan pernah bisa Shazfa raih seumur hidupnya.
Rasa tidak aman yang dulu sempat Shazfa kubur sewaktu masih di SMA perlahan merayap naik, mencengkram lehernya dengan kuku-kuku yang tajam. Jantungnya seolah diingatkan kembali pada posisi aslinya yang terasing.
Ternyata aku masih ga tahu apa-apa tentang Kak Esther, bisik batinnya yang hancur.
Perasaan hangat yang Shazfa kumpulkan selama beberapa bulan terakhir—tiap kali mereka makan siang bareng, tiap kali Esther memujinya lucu—seketika terasa dangdut, picisan, dan menjijikkan. Semua ilusi bahwa mereka "dekat" mendadak runtuh tanpa sisa. Bagi Esther, Shazfa memang cuma adek kelas dari OSIS yang rajin dan lucu. Cuma itu. Nggak kurang, nggak lebih.
Sedangkan Brian? Brian adalah sosok yang dengan mudahnya melangkah masuk ke dalam realita Esther yang seharusnya. Sosok yang normal di mata masyarakat. Sosok yang pas di mata papa Esther yang seorang pastor. Sosok yang tidak perlu bersembunyi di balik alasan "jago hafalan" hanya untuk sekadar mengingat detail-detail kecil dari seorang yang ia kasihi.
Malam itu, di kamar kos rantaunya yang sempit dan sepi, Shazfa duduk menatap langit-langit kamarnya yang bercahaya redup. Dada kirinya terasa sangat sempit, seolah ada sesuatu yang dipaksa mekar secara brutal di tempat yang tidak seharusnya. Ketakutannya yang mendalam akan penolakan berpadu dengan rasa terancam yang mencabik-cabik ketenangannya, melahirkan badai di dalam organ dadanya. Ia nngak akan pernah melangkah maju untuk mengaku. Shazfa terlalu takut menghadapi kenyataan bahwa jika ia bersuara, Esther akan menatapnya dengan pandangan asing atau menolaknya sungguhan. Lebih baik membiarkan perasaan ini mengurung tubuhnya sendiri daripada harus melihat dunia Esther hancur karena kehadirannya.
Lalu, batuk pertama itu datang.
Tenggorokannya terasa panas dan seperti mau robek, gatal yang membius dari dalam paru-parunya hingga ia harus berlutut di depan kloset kamar mandi. Ketika ia terbatuk keras di atas telapak tangannya, cairan yang keluar bukan sekadar dahak biasa.
Sebuah kelopak bunga mawar berwarna merah darah, basah dan bercak merah segar, tergeletak diam di atas telapak tangan Shazfa yang pucat.
Hanahaki.
Penyakit konyol dari cerita fiksi tragis yang pernah ia baca di koleksi manga miliknya. Bunga yang tumbuh dari cinta tak terbalas, mengakar secara kejam di paru-paru, memakan oksigen hingga sang penderita mati kehabisan napas atau memilih jalan operasi untuk mengangkat bunga itu beserta seluruh memori tentang orang yang dicintainya.
Shazfa menatap kelopak bunga di tangannya dengan mata merah yang basah. Mengangkat memori tentang Kak Esther? Ia tertawa sumbang di tengah tangisnya yang sunyi. Cuma satu yang ada di pikiran dia: Nggak akan pernah.
Ia lebih memilih membiarkan mawar-mawar itu mencakar parunya sampai hancur daripada hidup sebagai cangkang kosong yang tidak mengenali cinta pertamanya.
***
Bulan-bulan berikutnya adalah proses pembusukan yang lambat, senyap, dan luar biasa menyakitkan bagi Shazfa Adesya.
Ia tetap menemui Esther. Ketakutannya untuk kehilangan kendali atas kedekatan mereka membuatnya menolak untuk menjauh, ia ingin tetap memegang porsi interaksi terkecil yang bisa ia miliki, meskipun itu berarti ia harus menjadi wadah bagi racun yang mematikan. Setiap kali mereka duduk bersama di sekitar kampus Depok dan Esther tersenyum sambil menceritakan betapa manisnya Brian, bagaimana Brian membantunya bla bla bla, tenggorokan Shazfa terasa seperti dibakar api. Ia akan pamit ke kamar mandi dengan senyum canggung yang dipaksakan, mengunci pintu bilik toilet, dan memuntahkan segumpal kuntum mawar merah yang berdarah dan penuh duri ke dalam wastafel.
Rambut merah Esther yang indah, yang dulu ia puji dengan tulus, kini terasa seperti kobaran api yang membakar dada Shazfa dari dalam setiap kali netranya mengagumi helai warna itu.
"Shaz, kamu kayak pucat belakangan ini. Kamu sakit kah?" tanya Esther di suatu sore di perpustakaan pusat, menempelkan punggung tangannya ke dahi Shazfa dengan penuh perhatian.
Sentuhan itu begitu hangat, begitu lembut hingga membuat seluruh pertahanan terakhir Shazfa runtuh dan ia ingin menangis saat itu juga di pelukan yang lebih tua. Esther yang selalu ingin memastikan semua orang di sekitarnya baik-baik saja terpancar jelas, tanpa pernah tahu bahwa perhatian itulah yang menyiram akar mawar di dada Shazfa menjadi semakin subur.
"Cuma cape kuliah aja, Kak. Kayaknya homesick," Shazfa berbohong lagi, menahan sebutir kelopak mawar yang sudah mendesak di pangkal tenggorokannya hingga suaranya terdengar sangat parau.
"Jangan terlalu diforsir dong," kata Esther penuh perhatian. "Bilang aku kalau ada apa-apa ya."
Shazfa menatap mata cokelat bening itu, menatap kalung salib yang melingkar di leher Esther. Keputusasaan yang pekat membuatnya meloloskan sebuah kalimat yang rapuh. "Kak Esther... kalau... kalau suatu hari aku ga ada, Kak... Kak Esther bakal kangen aku ga?"
Esther mengerutkan dahi sejenak, lalu tertawa kecil, menganggapnya sebagai keluhan anak rantau yang kelelahan. "Ngomong apa sih, Shazfa? Ya kangen lah. Kamu kan adek kesayangan aku."
Adek kesayangan.
Kalimat itu terngiang di benak Shazfa Adesya. Kata-kata yang menegaskan bahwa nggak akan pernah ada ruang romansa bagi mereka berdua. Shazfa tersenyum tipis—senyumnya yang sudah mau hancur—lalu buru-buru berdiri dan berlari menuju toilet terdekat sebelum darah pekat dan bunga mawar membanjiri mulutnya di hadapan wanita yang ia kasihi.
Sebulan kemudian, Shazfa berhenti masuk kuliah secara total.
Ia mengurung diri di dalam kamar kos rantaunya yang sempit dan pengap. Orang tuanya di kota asal tidak tahu apa-apa karena Shazfa selalu menyembunyikan kondisinya dengan alasan kesibukan kegiatan kuliah yang padat. Dalam kesendirian yang pekat, di bawah selimut yang berbau apak, paru-parunya sudah menjelma menjadi taman bunga mawar yang mekar dengan sempurna, membelit saluran pernapasan secara kejam, menusukkan duri-durinya yang hitam ke dalam dinding daging dadanya.
Ia menolak berobat. Ia menolak operasi. Sisi keras kepalanya menolak untuk pasrah pada amnesia selektif yang ditawarkan dunia medis. Bagi Shazfa, mati membawa ingatan utuh tentang senyum Esther jauh lebih berharga daripada hidup sebagai manusia normal yang melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
Di malam terakhirnya, ketika nafasnya terasa sudah hampir hilang sepenuhnya dan dadanya terasa robek oleh duri mawar yang mencuat dari dalam parunya, Shazfa meraih ponselnya dengan jari yang gemetar hebat. Dengan sisa kesadaran yang menggelap, ia mengetik satu rangkaian pesan terakhir untuk Esther melalui draft email, memprogramnya untuk terkirim secara otomatis di tanggal yang ia tentukan. Sebelum ia pergi, Shaz ingin menjadi egois, ia ingin menanamkan eksistensinya di kepala Esther selamanya, menantang posisi Brian dan struktur dunia yang mengurung cewek itu.
Di atas lantai kos yang dingin dan sepi, Shazfa memuntahkan setangkai mawar utuh berduri tajam, berlapis darah pekat yang kental. Pandangannya menggelap sepenuhnya. Bau mawar begitu menyengat, memenuhi seluruh ruangan, membungkus nafas terakhirnya dalam harum yang tragis, sunyi, dan hancur.
Tuhan telah lama mati di kamar kos itu, dan Shazfa pergi tanpa pernah sempat mengucapkan selamat tinggal. Namun ia sempat berdoa kepada-Nya supaya Esther tetap hidup bahagia.
***
Esther Geraldine baru mengetahui kabar kematian itu empat hari kemudian.
Ibu Shazfa menghubungi dari kota asal mereka lewat telepon di suatu pagi yang mendung dengan suara yang hancur total, mengatakan bahwa Shazfa telah ditemukan meninggal di kamar kos rantaunya akibat kelainan paru-paru akut yang parah. Pemakaman telah dilakukan secara tertutup setelah jenazahnya dipulangkan.
Hari itu, seluruh dunia Esther yang serbateratur mendadak berhenti berputar. Garis-garis lurus di kepalanya patah menjadi potongan yang kacau.
Ia duduk di tepi ranjang kamarnya yang rapi, menatap layar ponselnya yang sepi. Tidak ada lagi balasan Instagram Story dari akun dengan profil anime itu, tidak ada lagi candaan atau tangisan aneh tentang film yang mereka tonton bersama, tidak ada lagi Shazfa Adesya yang memandangnya dengan mata berbinar seperti orang idiot di sudut cafe dekat kosannya. Keheningan yang muncul di kamar itu terasa begitu mencekam, begitu sepi, dan Esther membencinya dengan seluruh jiwanya.
Dan kemudian, sebuah notifikasi email masuk ke kotak masuk ponselnya. Sebuah pesan terjadwal yang dikirimkan oleh sistem atas nama Shazfa.
***
To: Esther Geraldine
Kak Esther,
Kalau kakak baca ini, berarti aku udah ga bisa ikutan nonton film di watchlist letterboxd kakak lagi.
Maaf ya, aku bohong soal jago hafalan. Aku cuma selalu nyatet semua hal tentang Kakak di kepalaku karena aku suka aja buat ngingetnya.
Maaf juga karena aku sebenernya suka sama Kakak hehe. Yang ini nggak bohong, i think i see kak Esther lebih dari kakak seperjuangan pdd, tapi sebagai seorang perempuan yang pengen aku peluk bahunya waktu wisuda dulu, tapi aku terlalu takut buat lakuin itu lol.
Nggak perlu merasa bersalah ya, Kak. Bunga-bunga di dadaku ini mekar karena aku yang milih buat melihara mereka. Aku ga menyesal pernah jatuh cinta sama Kak Esther. Never.
Semoga Kakak bahagia sama Kak Brian. Makasih udah pernah ngajak aku foto berdua hari itu.
With Love,
Shazfa <3
***
Esther terpaku di tempatnya duduk. Ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai tanpa suara.
Sebuah guncangan hebat yang luar biasa mengerikan menghantam tepat di tengah dadanya, membuat seluruh pasokan udaranya mendadak macet. Suka? Shazfa suka aku?
Berminggu-minggu setelah kematian Shazfa, Esther hidup dalam labirin pikiran yang menyiksa batinnya tanpa ampun. Kecenderungannya yang terbiasa menganalisis setiap detail mulai bekerja membedah masa lalu. Doktrin dan ketakutan akan penyimpangan moral yang ditanamkan sejak kecil mulai memberontak dengan hebat terhadap kenyataan yang ada di depannya saat ini.
Selama ini, ia menyangkal perasaan asing, gugup, dan hangat yang selalu muncul setiap kali Shazfa menatapnya dengan binar itu. Ia menyadari bahwa ia telah bersembunyi di balik sosok Brian yang normal, berlindung di balik norma sosial yang aman, dan mengenakan gaun kesucian yang diharapkan keluarganya hanya untuk membantah sisi dirinya yang menolak patuh pada dogma. Tembok tebal penolakan batin yang mencengkram kepalanya telah membuatnya menjadi seorang pengecut yang mengorbankan ketulusan seorang gadis demi sebuah citra yang bersih di mata jemaat gereja papanya.
Suatu sore di musim hujan yang pekat, Esther mendatangi koridor kamar kos bekas Shazfa yang sudah kosong melompong karena barang-barangnya telah diangkut oleh keluarganya kembali ke kampung halaman. Ia berdiri kesepian di lorong tanah perantauan yang dingin itu, menghirup udara lembap yang rasanya masih menyisakan samar-samar wangi mawar merah dan aroma anyir logam darah yang tipis.
Esther merosot, berlutut di atas lantai lorong yang dingin dan berdebu itu.
Air mata yang ia tahan selama berbulan-bulan di bawah topeng ketenangannya akhirnya pecah seada-adanya. Pertahanan dirinya hancur total. Ia menangis hingga bahunya terguncang hebat, meraung dalam sepi koridor yang tidak akan pernah mengembalikan gadis yang keras kepala itu.
Ia menyadari semuanya saat segalanya sudah berada di titik terlambat yang absolut. Ia menyadari bahwa di balik ketakutannya pada penghakiman orang-orang, ada sebagian besar dari jiwanya yang merindukan cara yang lebih muda memandangnya, seolah Esther adalah satu-satunya matahari di semesta Shazfa.
Dan amarah yang besar mulai bangkit di sela tangisnya. Ia marah pada Shazfa yang memilih mati memelihara mawar-mawar berduri itu di dalam parunya karena ketakutannya akan penolakan, daripada harus berbicara jujur di depan wajahnya. Namun, ia jauh lebih membenci dirinya sendiri, si penipu ulung yang menggunakan Brian sebagai tameng untuk membunuh perasaan Shazfa secara tidak langsung.
Esther meremas dadanya sendiri yang terasa luar biasa sesak dan perih. Di sana, di dalam hatinya yang terlambat menyadari, sebuah duri mawar tak kasat mata baru saja mulai menancap pelan-pelan ke dalam dagingnya, mengakar secara kejam, bersiap untuk menuntut balas atas duka yang tidak akan pernah menemui jalan pulangnya.
***
Dua minggu setelah sore di koridor kos itu, badai batin Esther mencapai puncaknya di teras depan rumahnya di Depok. Esther nggak merantau sendiri, ketika dia keterima di UI, keluarganya memutuskan untuk pindah sekaligus. Toh, mereka juga sudah ada rumah di sini.
Malam itu udara bertiup sangat dingin, membawa sisa bau tanah basah.
"Ther, kamu kenapa sih sebulan ini? Berubah banget. Gak pernah mau diajak jalan, dichat juga singkat banget," tanya Brian, wajah lesung pipinya menatap penuh kekhawatiran saat tangannya bergerak mencoba meraih jemari Esther di atas meja.
Esther menarik tangannya perlahan, menyembunyikannya di bawah meja. Pandangannya malam itu runtuh, menyisakan kekosongan yang mutlak di matanya yang menatap lurus ke arah kegelapan jalanan.
"Brian... kita selesai ya," bisik Esther, suaranya terdengar sangat datar, dingin seperti es.
Brian terbelalak, seluruh tubuhnya menegang tidak percaya. "Hah? Gimana maksudnya? Kita gak ada berantem sama sekali! Papa sama Mama kamu juga udah restuin kita, kan?"
"Nggak ada masalah sama kamu, Yan. Masalahnya ada di aku," Esther bangkit dari kursinya, menolak untuk menatap wajah laki-laki baik yang seiman itu. "Aku cuma... baru sadar kalau selama ini aku hidup isinya bohong terus cuma buat muasin ekspektasi orang lain. Dan harga dari kebohongan itu... terlalu mahal untuk aku bayar dengan nyawa orang lain."
Brian pulang malam itu dengan kemarahan dan kebingungan yang tidak akan pernah menemukan pelabuhannya.
Setelah Brian pergi, Esther melangkah masuk ke dalam rumah, berjalan melewati ruang tengah menuju ruang kerja papanya. Di sana, sang papa sedang duduk di balik meja kayu besar, membaca di bawah pendar lampu yang kuning hangat, potret dari seluruh otoritas moral yang selama ini mengontrol hidup Esther.
"Esther? Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya sang papa lembut, meletakkan kacamata bacanya.
Esther berdiri kaku di depan meja, kalung salib kecil di lehernya terasa seperti besi panas yang membakar kulitnya. "Papa... Esther baru aja putus sama Brian."
Papa Esther mengernyitkan dahi, wajahnya menegang. "Kenapa? Brian anak yang baik, taat di gereja juga. Kenapa putus?"
"Esther capek, Pa," suaranya bergetar samar, namun ada sedikit pemberontakan yang akhirnya pecah menembus tembok ketakutannya selama dua dekade. "Esther selama ini cuma jadi anak penurut buat papa karena Esther bohong.”
“Esther menyukai seseorang... seorang perempuan, Pa. Dan dia udah pergi selamanya karena Esther pengecut."
Suasana ruangan itu mendadak hening dan mencekam, seolah-olah seluruh kehangatan telah pergi meninggalkan rumah itu. Wajah sang papa memerah karena amarah dan kekecewaan yang besar, tangannya menggebrak meja kayu dengan keras. "Esther! Jaga omonganmu! Kamu tahu apa yang kamu katakan itu salah?! Masuk ke kamarmu dan pikirkan kembali sampai pikiran buruk itu hilang dari kepalamu!"
Esther tidak membalas. Ia menatap papanya dengan tatapan hampa, sebuah senyum getir terukir di bibirnya. Doa-doa yang ia panjatkan seolah menguap menjadi kesia-siaan di tengah-tengah rasa putus asa tempat ini. Bagi Esther, kedamaian yang selama ini ia cari telah lama hilang bersama email dari Shazfa Adesya.
Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruang kerja papanya, mengunci diri di dalam kamar mandi kamarnya yang putih bersih. Hidupnya yang selalu berpola rutin malam itu hancur total oleh kekakacuan yang dia rasakan. Ia mengambil sebuah gunting besar dari dalam laci meja riasnya.
Di depan cermin kamar mandi yang silau, dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang akhirnya tumpah membanjiri pipinya setelah berbulan-bulan ia tahan di bawah tuntutan sosialnya, Esther Geraldine mulai memotong rambut merah menyalanya secara asal-asalan, kasar, dan brutal.
Helai-helai rambut merah sewarna api—warna yang dulu dipuji Shazfa sebagai sesuatu yang cocok dan indah—jatuh berserakan di atas lantai keramik kamar mandi yang putih bersih. Potongan rambut itu terlihat sangat berantakan, menyakitkan, dan tak bernyawa. Ia memotongnya terus-menerus hingga menyisakan rambutnya yang sepanjang dagunya.
Esther menjatuhkan gunting itu ke lantai, lalu ikut merosot, berlutut di tengah-tengah hamparan rambut merahnya yang telah hancur.
Tiba-tiba, sebuah rasa sakit yang luar biasa panas dan tajam meremas dada kirinya dengan kekuatan penuh. Paru-parunya seolah kehabisan seluruh pasokan oksigen dalam hitungan detik. Saluran udaranya menyempit secara brutal, seolah ada akar-akar tajam berserat kasar yang sedang melilit dan mencakar jaringan daging di dalam dadanya dari dalam.
Esther terbatuk hebat. Sekali. Dua kali. Suaranya terdengar sangat parau, tercekik, dan penuh dengan rasa sakit yang riil di dalam kesunyian kamar mandi yang dingin.
Hingga pada batukan ketiga yang paling keras dan menyiksa, di atas lantai keramik yang putih bersih, ia memuntahkan sebutir kelopak bunga mawar berwarna merah darah yang basah oleh sisa air matanya sendiri.
Kelopak mawar merah darah yang pekat. Sewarna dengan rambut merah yang baru saja ia potong habis dari kepalanya. Sewarna dengan kebun mawar berduri yang telah menggerogoti dan membunuh Shazfa Adesya di dalam kamar kos rantaunya yang sepi itu.
Esther menatap sebutir kelopak mawar berdarah itu dengan netra cokelatnya yang melebar ngeri, namun bibirnya perlahan mengukir sebuah senyum paling hancur yang pernah ada di wajahnya. Di bawah pendar lampu kamar mandi yang dingin, ia akhirnya menyadari kebenaran yang paling kejam dari hidupnya: bahwa penyakit Hanahaki tidak hanya lahir dari cinta sepihak yang putus asa, melainkan juga bisa menular dan mekar sempurna melalui penyesalan yang terlambat, mendalam, dan tidak akan pernah menemui jalan pulangnya.
Kebun mawar ini sekarang milikku, Shazfa, bisik batinnya yang tercekik, menatap kelopak merah di atas lantai. Aku nggak akan pernah meminta siapapun buat mencabut akarnya.
Tuhan mungkin tidak pernah mati di dalam rumah papanya, namun malam itu, di atas lantai kamar mandinya yang penuh dengan potongan rambut merah dan sisa darah, Esther Geraldine tahu bahwa ia telah menerima tawaran neraka yang dirangkai untuk mereka berdua. Ia bersumpah akan membiarkan mawar-mawar milik Shazfa tumbuh subur mengonsumsi seluruh organ dadanya, membiarkan duri-durinya mencakar parunya sampai habis, hingga tiba harinya ia bisa menyusul sang pemilik cinta pertama ke dalam kegelapan abadi yang harum dan sepi.
