Work Text:
Besok sebenarnya jadwal mereka libur selama lima hari. Staff sama sekali nggak menyuruh mereka latihan atau bikin konten, karena lima hari itu memang sengaja dikosongkan buat istirahat sebelum mereka mulai sibuk mempersiapkan tour dan comeback.
Tapi entah kenapa, liburan kali ini nggak ada satu pun dari mereka yang kepikiran buat pulang ke rumah masing-masing. Awalnya mereka cuma mau santai-santai di dorm. Sekalian nemenin James yang hampir selalu sendirian setiap kali libur karena yang lain biasanya pulang ke rumah.
Tapi pas lagi santai nonton TV di ruang tengah, entah kenapa lima bocah itu malah sama-sama merasa harus melakukan sesuatu yang produktif. Ujung-ujungnya, mereka tetap datang ke ruang latihan.
Di salah satu sudut, Martin dan Juhoon sedang duduk berdekatan di depan laptop. Keduanya memang nggak ikut bikin choreography, karena kali ini Juhoon ingin berkontribusi dalam membuat beat. Speaker di samping laptop masih mengalunkan potongan beat yang mereka buat sejak tadi.
Kepala mereka juga nyaris bersentuhan setiap kali sama-sama membungkuk melihat layar, mereka berdua benar benar larut.
Tapi entah kenapa, buat seseorang yang dari tadi memperhatikan dari seberang ruangan, pemandangan itu cukup untuk bikin darahnya naik.
“Ini gedein bass-nya dikit, Tin. Biar lebih nendang,” ujar Juhoon sambil menunjuk layar.
Martin mengangguk dan menggeser pengaturan di laptop.
“Segini?”
“Dikit lagi.”
“Segini?”
“Nah, itu.”
Juhoon tersenyum kecil.
Sejak siang tadi, mereka memang nggak bisa dipisahkan. Dari tadi cuma berdua di pojokan, sibuk bikin beat, ngobrol ngalor-ngidul, sesekali ketawa sendiri karena hal yang bahkan nggak diketahui tiga orang lainnya.
Dan entah kenapa hari ini Juhoon juga kelihatan lebih banyak senyum pas sama Martin.
Hal itu nggak luput dari perhatian Keonho.
Dari seberang ruangan, Keonho yang sedang latihan gerakan sama James dan Seonghyeon kembali melirik ke arah mereka.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Sampai akhirnya ia mendecakkan lidah.
“Tai lah... kenapa deket banget sih mereka berdua,” gumamnya pelan.
James yang kebetulan mendengar langsung menoleh.
“Hah kenapa?”
“Nggak.”
Keonho buru-buru menghadap cermin lagi, pura-pura sibuk membenarkan gerakannya.
Tapi baru beberapa detik, matanya kembali melirik.
Dan kali ini pemandangannya malah bikin dia semakin sebal.
“Eh, lu kalau senyum gitu mirip kucing banget dah Jju.”
Martin tiba-tiba mencubit pelan pipi Juhoon.
Juhoon langsung merona.
“Apaan sih, jangan gitu ah.”
Tapi bukannya menjauh, Juhoon malah mencubit lengan Martin balik.
“Lu yang mulai.”
“Aw!”
Martin tertawa kencang dan langsung membalas cubitan itu sampai keduanya saling dorong kecil. Nggak lama, mereka malah jatuh guling-guling di lantai sambil ketawa.
Kesabaran Keonho benar benar habis di buatnya. Sebuah ide buruk melintas di kepalanya. Ia mulai cari perhatian agar Kakak kesayangannya itu menjauh dari martin.
"HAHAHA SI ASIK TUH BERDUAAN YANG LAIN MAH CUMA NGONTRAK" Ujarnya keras hingga tawanya menggema memantul di dinding ruangan.
James dan Seonghyeon yang masih sibuk dengan latihan mereka bahkan cuma melirik sekilas.
Juhoon dan Martin juga cuma menoleh sekilas, lalu kembali sibuk dengan laptopnya. Sama sekali tak terusik, seakan Keonho hanya angin lalu.
Kesal tidak di gubris ia mencoba untuk cari perhatian lagi, kali ini jauh lebih ribut. Keonho sengaja mendorong bahu Seonghyeon hingga oleng, lalu menariknya lagi seolah itu cuma candaan biasa. Seonghyeon yang tidak siap sampai harus melangkah mundur beberapa kali menahan keseimbangan, wajahnya bingung setengah kesal.
"Woy ngapain si, gila lu ya!" Ujar seonghyeon yang kesal karena tiba-tiba di dorong
Keonho malah tertawa lebih keras, "HAHAHA, lucu banget anjir, Yon"
Tetap diabaikan, yang di caperin malah makin asik berduaan. Ego konho mulai menjadi-jadi, darahnya makin naik ke ubun-ubun. Sebagai anggota termuda yang selalu menjadi pusat perhatian, di abaikan adalah hal yang paling ia benci. Ia mulai melompat-lompat kecil sambil berteriak dalam hati, "Ayo dong, liat aku, aku juga bisa kok bikin kakak ketawa sampe guling-guling!" ujarnya sambil melompat tidak jelas
Di tengah lompatannya yang makin tak terkendali, kaki Keonho tiba-tiba tersandung kabel speaker yang melintang di lantai. Tubuhnya oleng ke samping. Kedua tangannya refleks terulur untuk menahan tubuh, tetapi terlambat.
Brak!
Kelingkingnya menghantam sudut meja latihan dengan keras. Rasa nyeri itu langsung menjalar hingga ke pergelangan tangannya, membuat Keonho meringis dan spontan menarik tangannya ke dada.
"AAAARGH SAKIT" Teriak Keonho dengan lantang
Teriakannya kali ini murni karena ia kesakitan bukan lagi drama.
"Sakit banget! Kelingking gua! Anjing, kayaknya patah nih! Tolong sakit Tolonggg"
Keonho langsung meringkuk di lantai sambil memegangi tangan kanannya. Air matanya langsung mengalir deras.
“Anjing, sakit banget!” Keonho mengerang, wajahnya meringis parah. “Gua mau mati, bang. Sumpah, gua mau mati.”
James yang masih berdiri beberapa langkah darinya langsung menoleh. “Hah? Apaan sih, lebay banget”
“Bang...” Keonho tiba-tiba menarik napas panjang, suaranya berubah lirih di sela isakannya. “Password handphone gua 030108. Please, amanin data gua.”
James langsung melongo, pertama karena itu ulang tahun juhoon, kedua karena ia belum pernah ketemu sama orang yang lebaynya tuh lebay banget.
“...Hah?”
“Kalau gua kenapa-kenapa......”
“WOY, LO KENAPA-NAPA APANYA?!” Teriak Seonghyeon
“Gua ngerasa hidup gua udah tinggal sebentar lagi yon.” Ujarnya lemah
“ITU LITERALLY CUMA KELINGKING KESELEO???” Ujar Seonghyeon
Keonho meringis semakin keras.
“Lu berdua nggak tahu rasanya!” Ucap Keonho sambil kembali menangis
Martin yang akhirnya sadar situasinya langsung menghampiri dan berjongkok di samping Keonho.
“Udah, udah. Jangan digerak-gerakin dulu tangannya.”
Keonho malah semakin BETE ketika Martin menyentuh bahunya.
“Gara-gara lu...”
“Hah?”
“Ini semua gara-gara lu.”
Martin mengernyit bingung.
“Gara-gara gue apaan?”
Keonho cuma menangis sambil memeluk tangannya.
Martin menghela napas, tapi wajahnya jelas khawatir.
“Udah, tahan dulu. Manager bentar lagi sampai.”
Di tengah keributan itu, Juhoon cuma berdiri di tempat. Matanya nggak lepas dari tangan Keonho yang mulai membengkak dan memerah. Wajahnya perlahan pucat, karena panik dan takut. Suara James, Martin, dan Seonghyeon yang saling bersahutan juga mulai samar terdengar samar di telinganya.
Keonho masih menangis.
Dan entah kenapa, melihat Keonho kesakitan seperti itu membuat kepala Juhoon benar-benar kosong.
Ia ingin maju dan menenangkan Keonho tapi rasanya sulit sekali.
Ia ingin jongkok di samping Keonho, ingin nanya seberapa sakit tangannya, atau setidaknya melakukan sesuatu.
Tapi tubuhnya nggak bergerak.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, lalu kembali lemas. Bibirnya sempat terbuka, tapi suaranya nggak kunjung keluar.
Akhirnya, manager mereka datang bersama seorang staff lain sambil membawa tandu. Setelah melihat kondisi Keonho, mereka langsung membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Keempat member lainnya ikut menyusul, masih dengan wajah tegang dan pikiran yang penuh kemungkinan buruk.
Di rumah sakit, setelah diperiksa dan dironsen, dokter menjelaskan hasilnya. "Patah kecil di kelingking. Cukup parah, tapi tidak separah yang dibayangkan. Masih bisa berlatih dance, asal tidak pakai gerakan yang membebani tangannya. Pakai splint saja selama satu-dua minggu, dan jangan banyak tingkah nanti juga sembuh” Ujar sang dokter
Sekembalinya ke asrama, Keonho sudah mengenakan splint kecil di kelingkingnya. Begitu memasuki ruangan, ia langsung memasang ekspresi sedih paling maksimal ke semua orang, ngga sih sebenernya cuma buat narik simpati kakak cantiknya soalnya tangannya udah gak sesakit itu.
Martin yang melihat Keonho masuk mulai membuka suara “Jadi gimana, parah gak? masih sakit gak?” .
“Ini penyakit serius banget, Bang. Kata dokter kalau gue stres atau kebanyakan aktivitas, bisa tambah parah. Jadi untuk sementara gue harus dijaga baik-baik. Kalau ada yang gue minta, tolong diturutin, ya. Gue nggak mau kondisi gue memburuk gara-gara kalian nggak perhatian.”
Seonghyeon langsung tertawa kecil.
“Lu mah emang dari sononya manja. Jangan mentang-mentang kena musibah, terus semua orang harus ngikutin kemauan lu.”
“yon, gue baru pulang dari rumah sakit loh? Bisa nggak sedikit aja punya rasa kasihan?”
Keonho langsung mendengus, sedangkan Martin hanya tersenyum melihat kelakuan maknae mereka.
“Udah, jangan ledekin terus. Kita bantu kok, tapi lu juga jangan sengaja manfaatin tangan lu yang sakit buat caper ya.”
Keonho tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih ke Juhoon.
Berbeda dari yang lain, Juhoon sejak tadi hanya diam. Matanya masih sembap, bahkan ada sisa air mata yang belum sepenuhnya mengering di pipinya. Sejak kejadian di ruang latihan tadi, ia memang terlihat paling terpukul.
Begitu menyadari Keonho memperhatikannya, Juhoon segera mengusap pipinya dan bertanya lirih,
“Masih sakit banget ya?” Ujar Juhoon Lirih.
Keonho terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka Juhoon masih menangis.
Padahal sekarang tangannya sudah tidak sesakit tadi, udah gak sakit malah cuma nyeri biasa.
Melihat mata Juhoon yang masih berkaca-kaca, Keonho justru merasakan sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Ternyata, di balik sikapnya yang selama ini terlihat
acuh, Juhoon masih menyimpan rasa khawatir yang begitu besar. Duh dia jadi kangen manja-manja sama kakak cantiknya itu.
Dan tentu saja, Keonho langsung melihat kesempatan.
Ia bergeser sedikit mendekat.
“Kak Jju, iya masih sakit huhu, kalo kesenggol kaya mau patah. Tapi kayaknya kalau kamu yang jagain aku, aku bakal lebih cepat sembuh.”
Juhoon menatapnya sebentar, seolah tahu Keonho mulai mencari perhatian. Namun melihat wajahnya yang masih pucat membuat Juhoon tetap mengangguk.
“Kalau masih sakit bilang, minta tolong, Jangan dipaksa bergerak, ya.” Ujarnya penuh Khawatir
Keonho tersenyum kecil (padahal dalem hati udah loncat)
“Iya, Kak Jju.”
Malam itu, Keonho benar-benar mulai memanfaatkan keadaannya.
Saat makan malam tiba, ia sengaja duduk di sebelah Juhoon. Ia menatap makanan di depannya beberapa lama sebelum akhirnya mengangkat tangannya
“Kak Jju...”
Juhoon menoleh.
Keonho menunjukkan splint di kelingkingnya dengan ekspresi memelas.
“Aku gabisa mam. Nyeri banget sumpah, boleh gak aku minta tolong suapin.”
Juhoon sebenarnya tahu Keonho masih bisa makan sendiri. Namun entah karena merasa kasihan atau memang tidak tega menolaknya, ia akhirnya mengambil sendok dan mulai menyuapi Keonho perlahan.
Keonho langsung tersenyum puas.
“Pelan-pelan makannya,” ujar Juhoon sambil memastikan makanan yang diberikan tidak terlalu banyak. “Jangan sengaja bikin aku terus-terusan nyuapin kamu cuma karena kamu tahu aku nggak tega nolak.”
Keonho tertawa kecil.
“Kalau aku bilang aku memang sengaja, kamu masih mau nyuapin?”
Juhoon hanya menggeleng, tapi tetap melanjutkan.
Dari seberang meja, James dan Seonghyeon hanya saling pandang. Mereka sudah tahu persis apa yang sedang dilakukan Keonho.
Saat malam semakin larut, semua member mulai masuk kamar masing-masing.
Juhoon yang seharusnya kembali ke kamarnya bersama James sudah berdiri di dekat pintu ketika suara Keonho terdengar lagi.
“Kak Jju... temenin tidur bareng aku malam ini, dong.”
Juhoon menoleh.
Keonho menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku masih agak takut kalau malam nanti tanganku sakit lagi, kamu kan tau bang Martin kalo udah tidur kaya mayat susah bgt di bangunin, Seonghyeon juga mana mau bantu aku..”
Kali ini Juhoon tidak langsung menjawab.
Ia tahu Keonho mungkin sedang melebih-lebihkan rasa sakitnya.
Tapi ia juga tahu dirinya sendiri belum benar-benar tenang sejak melihat Keonho jatuh.
Akhirnya ia menghela napas pelan.
“Iya. Aku temenin malam ini. Tapi cuma malam ini, ya. Jangan sampai besok kamu pura-pura sakit lagi cuma supaya aku tetap di sini.”
Keonho langsung tersenyum.
“Iya, Kak Jju. Aku janji.”
Martin sama Seonghyeon yang sekamar dengan Keonho cuma bisa geleng -geleng.
Malam itu, di atas kasur yang cukup untuk dua orang, Keonho langsung merapat begitu Juhoon berbaring di sebelahnya. Jarak yang awalnya masih tersisa beberapa senti perlahan ia habiskan sampai bahu mereka hampir menempel.
“Deketan sedikit, Kak.”
Juhoon menoleh, lalu mendengus pelan. “Kamu itu dari tadi udah nempel banget sama aku. Masih kurang nempel juga?”
Keonho menggeleng sambil menarik selimut sampai ke dada. “Masih ada jarak. Aku nggak suka kalau tidur masih ada jarak gini. Lagian tangan aku lagi sakit, aku butuh sesuatu yang bikin nyaman.”
Juhoon ingin membalas, tapi melihat wajah Keonho yang sudah mulai mengantuk membuatnya hanya menghela napas dan bergeser sedikit lebih dekat. Keonho langsung tersenyum puas, lalu dengan santai menyandarkan kepalanya di bahu Juhoon.
Beberapa menit mereka hanya berbaring dalam diam.
Kemudian Keonho kembali bergerak.
“Kak Jju.”
“Hm?”
“Tangan kiri kamu elusin perut aku juga, dong”
Juhoon langsung menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “,Perasaan yang sakit itu kelingking kamu. Kenapa sekarang perut kamu juga harus dielus?”
“Aku tahu. Tapi badan aku masih pegal semua gara-gara jatuh tadi. Kalau kamu elusin, aku pasti lebih gampang tidur. Aku cuma minta sedikit, kok.”
“Kamu nih benar-benar manfatin aku karena tahu aku nggak tega nolak kamu, ya?”
Keonho tersenyum kecil. “Kalau aku bilang iya, kamu masih mau?”
Juhoon menggeleng, tetapi akhirnya tetap meletakkan tangannya di atas perut Keonho dan mengusapnya perlahan.
“Nah, gitu. Dari tadi sebenarnya tinggal nurut aja.”
Keonho memejamkan mata. Sentuhan Juhoon yang perlahan dan lembut membuat tubuhnya benar-benar rileks. Untuk beberapa saat, kamar kembali sunyi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napas mereka yang semakin teratur.
Namun di tengah keheningan itu, Keonho tiba-tiba membuka mata.
“Kak Jju...”
Juhoon masih mengusap perutnya. “Apa lagi?”
“Kamu masih sayang sama aku, ya?”
Gerakan tangan Juhoon perlahan berhenti.
Ia tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu membuat suasana yang sebelumnya ringan mendadak berubah. Keonho yang tadi masih tersenyum kini ikut terdiam, menunggu jawaban Juhoon dalam gelap.
“Aku nggak tahu,” jawab Juhoon akhirnya, suaranya begitu pelan. “Aku udah berkali-kali nyoba buat yakinin diri sendiri kalau perasaan aku ke kamu udah selesai. Setelah kita putus, aku pikir lama-lama aku juga bakal terbiasa nggak punya kamu lagi. Aku pikir kalau aku menjauh, semuanya bakal lebih gampang.”
Juhoon menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Tapi ternyata setiap kali kamu sakit, setiap kali kamu kelihatan nggak baik-baik aja, aku masih panik kaya dulu. Tadi waktu kamu jatuh, aku bahkan nggak bisa mikir. Aku cuma berdiri di sana dan takut banget kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi sama kamu. Aku sampai nggak peduli lagi sama apa pun, aku cuma pengen kamu baik-baik aja.”
Keonho menatap wajahnya.
“Aku juga masih sayang sama kamu, Kak Jju.”
Tangan kirinya perlahan mencari tangan Juhoon, lalu menggenggamnya erat.
“Aku tahu aku yang mutusin dulu. Aku tahu setelah itu aku malah bikin kamu bingung karena aku nggak pernah benar-benar ngejelasin apa yang ada di kepala aku. I'm sorry kalau waktu itu aku childish banget. Aku cuma...mikir kalo pergi adalah keputusan yang paling benar, padahal sebenarnya aku cuma takut. Aku takut kalau kita terus bareng, aku bakal makin bergantung sama kamu...”
Keonho berhenti sebentar. Tatapannya turun, jemarinya masih menggenggam tangan Juhoon.
“Tapi ternyata setelah aku pergi, rasanya jauh lebih sakit. I thought I'd be okay without you, tapi ternyata nggak pernah benar-benar bisa. Aku masih nyari kamu di mana-mana. Masih pengen cerita ke kamu kalau ada sesuatu yang bikin aku excited, masih pengen denger suara kamu sebelum tidur, masih pengen lihat kamu marah kalau aku kebanyakan bercanda. Bahkan hal-hal kecil tentang kamu masih sering muncul di kepala aku tanpa aku minta.”
Ia tertawa kecil, getir.
“I guess... I was just too damn stubborn to come back. Aku terlalu gengsi buat ngaku kalau sebenarnya aku masih sayang sama kamu.”
Mata Juhoon mulai berkaca-kaca.
“Aku juga kangen sebenarnya,” katanya lirih. “Aku kangen semuanya. Tapi aku pikir kamu sudah nggak mau aku lagi. Jadi aku berusaha menerima kalau mungkin emang kita sampai di sini.”
Keonho menggeleng pelan.
“Aku nggak pernah berhenti mau kamu.”
Juhoon menatapnya.
“Makanya kali ini aku yang minta. Balik lagi sama aku, ya, Kak Jju? Aku nggak mau kita terus pura-pura biasa aja padahal kita sama-sama masih ngerasa sesuatu. Aku nggak bisa janji semuanya bakal langsung sempurna, tapi aku janji aku bakal ngomong kalau ada masalah. Aku nggak akan tiba-tiba pergi lagi dan ninggalin kamu sendirian buat nebak-nebak apa salah kamu.”
Juhoon terdiam lama.
Lalu perlahan ia mengangguk.
“Iya.”
Keonho tersenyum.
“Iya itu maksudnya apa?”
Juhoon tertawa kecil di sela matanya yang masih basah.
“Iya, aku mau balik sama kamu. Tapi kali ini kamu juga harus benar-benar jaga hubungan kita. Jangan cuma manis pas lagi takut kehilangan aku.”
Keonho mengangguk cepat.
“Aku janji.”
“Dan jangan manfaatin tangan kamu yang sakit buat manja berlebihan.”
Keonho langsung tersenyum jahil.
“Kalau yang ini aku nggak bisa janji, soalnya enak banget di perhatiin kamu”
“Keonho.”
“Yaudah, aku usahain.”
Juhoon akhirnya tertawa kecil.
Keonho mengangkat tangannya yang sehat, lalu menyentuh rambut Juhoon. Jarinya perlahan menyisir rambut itu sebelum telapak tangannya mengusap kepala Juhoon dengan lembut.
“Jangan nangis lagi, Kak Jju.”
“Aku nggak nangis.”
“Mata kamu merah.”
“Karena kamu bikin aku bingung dari tadi.”
Keonho tersenyum lembut.
“Maaf.”
Juhoon akhirnya bergeser mendekat dan menyembunyikan wajahnya di dada Keonho.
Keonho langsung merangkulnya.
“Udah. Sekarang tidur. Aku di sini.”
Juhoon mengangguk kecil.
Tapi sebelum benar-benar memejamkan mata, ia mengangkat wajahnya dan menatap Keonho beberapa detik.
Keonho membalas tatapan itu.
“Kak Jju...”
“Hm?”
Mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat sampai keduanya bisa merasakan napas masing-masing.
Keonho terdiam sesaat, seolah masih memastikan bahwa semua ini benar-benar terjadi. Setelah sekian lama hanya bisa menatap Juhoon dari jauh, sekarang orang itu kembali berada di dalam pelukannya.
Tangannya yang sehat perlahan naik, menyentuh sisi wajah Juhoon dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi yang masih sedikit basah oleh sisa air mata.
“Kak Jju...” suaranya nyaris berbisik.
Juhoon tidak menjawab. Ia hanya menatap Keonho dengan mata yang masih berkaca-kaca, lalu perlahan mendekat.
Keonho pun ikut memiringkan wajahnya.
Bibir mereka bertemu.
Awalnya hanya sebuah kecupan singkat, nyaris seperti keduanya masih ragu apakah mereka benar-benar boleh melakukan itu lagi. Namun ketika Juhoon tidak menjauh, Keonho kembali mendekat dan mengecup bibirnya sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama.
Tidak ada terburu-buru.
Keonho hanya menahan wajah Juhoon dengan lembut, sementara Juhoon mencengkeram ujung kausnya seolah takut kalau ia melepaskan pegangan, semua yang baru saja mereka temukan akan hilang lagi.
Ciuman itu akhirnya berakhir perlahan. Dahi mereka masih saling menempel, napas keduanya terdengar pelan di tengah kamar yang sunyi.
Keonho tersenyum kecil.
“Aku kangen banget sama kamu.”
Juhoon menundukkan wajahnya karena malu, tetapi Keonho kembali mengecup keningnya sebelum menariknya masuk ke dalam pelukan.
Kali ini Juhoon tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya memeluk Keonho lebih erat.
Dan gak lama, keduanya tertidur dalam posisi masih saling berpelukan, seolah tidak ingin memberi kesempatan sedikit pun bagi jarak untuk kembali muncul di antara mereka.
