Actions

Work Header

How to Lose a Girl and Gain a Sungchan in 7 Days

Summary:

Anton galau karena cintanya gagal, untung ada sungchan yang siap nemenin dia.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Semua orang punya hari yang kurang disukai masing-masing, tapi buat Anton, hari itu jatuh di hari Rabu.

Bukan karena jadwal mata pelajaran yang padat atau piket kebersihan kelas yang bikin pegal. Rabu jadi hari paling tidak Anton sukai cuma karena satu hal, hari itu jadwal ekskul musik dan tari setiap setelah pulang sekolah. Yang artinya, koridor lantai dua bakal ramai banget, dan Anton harus ekstra tebal muka kalau mau bolak-balik lewat depan ruang seni pas mau pulang cuma buat sekedar nyapa—atau setidaknya ketahuan ada—oleh Carmen.

Anton sudah menyukai Carmen sekitar... entahlah, delapan bulan? Sembilan bulan? Anton tidak pernah benar-benar menghitung tanggal resminya. Yang dia ingat, semuanya bermula dari tugas kelompok Sejarah di semester lalu, waktu Carmen tiba-tiba meminjamkan pulpen warna warni tanpa diminta cuma karena melihat catatan Anton yang berantakan. Sejak saat itu, Anton merasa ada yang beda.

Carmen itu tipe cewek yang gampang disukai siapa saja. Dia ramah, tawanya lepas, dan selalu bawa suasana hidup di mana pun dia berada. Selama beberapa bulan terakhir, Anton merasa posisinya sudah lumayan bagus. Mereka sering perginya barengan kalau ada acara kelompok, sering saling reply Story Instagram, dan Anton bahkan sudah tahu apa saja makanan dan minuman kesukaan Carmen.

 

"Lu mau ke mana lagi, Ton?”

Anton menoleh ke arah pintu kelas. Sungchan berdiri di sana sambil menyandarkan bahu di bingkai pintu, memegang botol air mineral yang baru dibelinya dari kantin bawah. Bel pulang sekolah baru aja bunyi sepuluh menit yang lalu, bikin lorong kelas mulai sepi.

Sungchan itu teman Anton dari zaman masih belepotan es krim di bangku SD. Kalau ada orang yang paling tahu seluk-beluk hidup Anton—dari ukuran sepatu sampai hal-hal paling tidak penting—jawabannya pasti Sungchan. Penampilan Sungchan tipe yang bikin orang gampang sadar kalau dia ada di ruangan, jangkung, badannya tegap karena rajin olahraga, dan mukanya tipe-tipe yang bikin adek kelas segan kalau belum kenal. Tapi buat Anton, Sungchan cuma temannya yang suka lupa naro kunci motor dan hobi ngabisin camilan di kamarnya. 

"Ke kantin bentar. Mau beli jajan," jawab Anton pendek sambil membetulkan kerah kaosnya.

Sungchan mengernyit. "Malah mau jajan. Ekskul udah mau mulai tuh.”

"Bukan buat gue," sahut Anton pelan, berusaha kelihatan kasual. "Buat Carmen. Mau beliin batagor sama es teh plastik. Dia kan ada latihan ekskul juga hari ini.”

Sungchan diam sebentar. Matanya menatap Anton datar, tidak ada ekspresi berlebihan, cuma gestur mengangguk pelan yang hampir tidak kelihatan. "Oh. Ya udah. Jangan lama-lama.”

"Sip. Titip tas gue bentar ya!" panggil Anton sambil sudah melangkah cepat menyusuri koridor.

Sungchan cuma menggeleng kecil dari belakang, memperhatikan punggung Anton yang menghilang di belokan tangga tanpa mengatakan apa-apa lagi.

 

Kantin sore-sore begini udah mulai sepi. Anton langsung menuju salah satu pedagang, memesan seporsi batagor dan es teh plastik. Setelah membayar dan memegang kantong plastik di tangannya, Anton berjalan menuju area taman belakang—tempat biasanya anak-anak ekskul tari kumpul dulu sebelum mulai latihan sore.

Langkahnya santai. Di kepalanya, Anton sudah menyusun beberapa opsi kalimat sapaan yang tidak kedengaran terlalu dibuat-buat. 'Nih, tadi gue kebetulan lewat kantin' atau mungkin 'Latihan lu masih lama? Btw ini buat lu.' Simpel, tidak agresif, tapi cukup perhatian.

 

Tapi begitu Anton melewati deretan pohon di dekat gazebo taman, langkahnya mendadak terhenti.

Suara gelak tawa yang familiar terdengar dari balik dinding pembatas. Itu suara Carmen. Anton sudah mau melangkah maju untuk memanggil nama cewek itu, tapi gerakannya tertahan begitu matanya menangkap pemandangan di sudut gazebo.

Carmen tidak sendiri. Dia duduk di bangku kayu, rapat dengan seseorang di sampingnya.

Jiwoo. Anak kelas sebelah yang juga ikut ekskul tari.

Awalnya Anton pikir mereka cuma lagi bercanda biasa sebelum latihan. Tapi begitu Carmen tertawa pelan, tangannya terulur untuk menyelipkan helai rambut Jiwoo ke belakang telinga. Gerakannya pelan, teratur, dan penuh kehangatan yang tidak pernah Anton lihat saat Carmen berinteraksi dengan teman-teman cowok lainnya.

"Capek banget ya hari ini, Sayang?" suara Carmen terdengar lembut banget, beda sama nada bicaranya kalau lagi bareng anak-anak lain.

Jiwoo menyandarkan kepalanya di bahu Carmen sambil mengangguk pelan. "Sedikit... tapi gara-gara Kamu samperin jadi mendingan."

Carmen ketawa pelan, nunduk dikit buat ngacak-ngacak rambut Jiwoo gemes. "Dasar lebay.” gumam Carmen halus.

 

Dan sebelum otak Anton selesai memproses apa yang baru saja dia dengar dan lihat, Jiwoo mencondongkan badan, mendaratkan kecupan singkat tapi manis tepat di bibir Carmen. Carmen tidak menghindar sama sekali. Malah, cewek itu makin mengikis jarak, membiarkan Jiwoo menyandarkan kepalanya lagi sambil jemari mereka bertaut rapat di atas paha.

Begitu sadar kalau apa yang dia lihat itu 100% nyata, Anton langsung berbalik.

Dia berjalan cepat—setengah berlari—meninggalkan area taman tanpa menoleh sedikit pun. Otaknya riuh rendah, berisik dengan berbagai benturan fakta yang mendadak menghantam kepalanya, Carmen suka cewek. Carmen sama Jiwoo. Carmen... pacaran sama Jiwoo.

Dan yang paling bikin sesak, Anton sama sekali tidak punya kesempatan dari awal. Bukan karena dia kurang perhatian, bukan karena dia kurang tampan, tapi memang karena orientasi Carmen yang sama sekali tidak mengarah ke cowok.

 

Anton berakhir di tangga darurat lantai tiga—area paling sepi di sekolah yang makin sepi kalau jam pulang.

Dia duduk di anak tangga kedua dari atas, menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Kantong plastik berisi batagor dan es teh yang tadi dia beli ditaruh begitu saja di samping kakinya, es batu di dalamnya sudah mulai mencair dan mengencerkan cairan cokelat di dalamnya.

Anton memegangi kepalanya sendiri, mendesah keras. "Anjir... asli, goblok banget gue."

Dia tidak marah pada Carmen. Dia juga tidak membenci Jiwoo. Rasa yang mendominasi dadanya cuma kombinasi antara malu, bingung, dan kekecewaan yang menumpuk jadi satu gumpalan aneh di tenggorokannya. 

 

Suara langkah kaki yang lumayan berat terdengar menaiki anak tangga dari lantai bawah. Anton tidak memedulikannya, mengira itu mungkin penjaga sekolah. Tapi langkah itu berhenti tepat di tangga bawah tempat dia duduk.

"Lu ngapain di sini? Katanya cuma mau beli jajan sebentar."

Anton tidak perlu mendongak buat tahu siapa pemilik suara itu.

Sungchan berdiri di sana, berdiri sambil membawa tas sekolah Anton di bahunya. Wajahnya kelihatan biasa saja, tapi matanya yang tajam menyapu penampilan Anton dari atas sampai bawah—melihat posisi duduk Anton yang berantakan dan kantong plastik jajanannya yang mengembun di lantai.

"Lu nyariin gue?" suara Anton agak serak, lebih pelan dari biasanya.

"Iya. Ekskul hari ini dibatalin, jadi kelas udah pada kosong" jawab Sungchan santai. Dia melangkah naik, meletakkan tas Anton di lantai, lalu tanpa permisi ikut duduk di sampingnya. Karena tangga darurat itu tidak terlalu lebar, bahu Sungchan yang lebar otomatis menempel tipis di lengan Anton. "Nih." Sungchan menyodorkan botol minumnya.

Anton mengambilnya tanpa protes. "Makasih."

 

Suasana hening sebentar. Cuma ada suara angin sore yang terdengar samar-samar. Sungchan tidak langsung menanyakan apa yang terjadi. Dia cuma duduk di sana, membiarkan Anton menyelesaikan heningnya sendiri. Itu salah satu sifat Sungchan yang selalu Anton syukuri, Sungchan tahu kapan harus rewel dan kapan harus diam.

"Chan," panggil Anton akhirnya, matanya menatap lurus ke bawah tangga di depannya.

“Apa?"

"Gue baru dari taman."

"Tau. Kan lu mau nemuin Carmen."

Anton terkekeh pelan, tawa garing tanpa rasa humor sama sekali. "Gue liat dia... sama Jiwoo."

Sungchan menoleh sedikit, menatap samping wajah Anton. "Jiwoo?"

"Iya. Mereka..." Anton mengusap mukanya kasar dengan sebelah tangan. "Anjir, canggung banget gue mau ngomongnya. Mereka kelihatannya pacaran. Tadi gue liat mereka ciuman.”

Sungchan tidak kelihatan kaget melompat atau menampakkan ekspresi dramatis. Dia cuma menaikkan sebelah alisnya tipis, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. "Oh."

"Kok respon lu cuma 'oh' doang sih?!" Anton mendadak agak sewot, walau tidak benar-benar marah. "Gue lagi patah hati nih, minimal lu kaget dikit napa!"

"Lah, terus gua harus gimana?" sahut Sungchan datar, walau sudut bibirnya terangkat sedikit. "Gua cuma... ya udah. Berarti lu emang gak ada harapan dari awal. Bukan salah lu.”

"Iya sih... tapi tetep aja rasanya aneh banget," gumam Anton. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding belakang lagi, memejamkan mata. "Gue merasa bego banget udah kegeeran selama berapa bulan ini."

 

Melihat Anton yang benar-benar kempis energinya, raut wajah Sungchan perlahan melunak. Bercandaannya hilang. Dia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, lalu mengangkat tangannya. Dengan gerakan pelan dan agak kaku, Sungchan menepuk-nepuk puncak kepala Anton beberapa kali.

"Udah, gak usah lebay," kata Sungchan, suaranya mendadak jauh lebih lembut dari biasanya. "Bagus lu tahunya sekarang daripada lu nembak terus makin canggung. Lagian... masih banyak hal lain.”

Telapak tangan Sungchan terasa hangat di kepala Anton. Usapannya teratur, tenang, dan entah kenapa bikin rasa sesak di dada Anton agak berkurang. Anton tidak menolak perlakuan itu. Buat Anton, Sungchan adalah tempat paling aman untuk kelihatan lemah tanpa perlu takut di-judge. Dari dulu, kalau Anton lagi ada masalah—entah itu nilai ujiannya jelek atau berantem sama saudaranya—Sungchan selalu punya cara sendiri buat ada di sampingnya.

Anton membiarkan tangan Sungchan berada di kepalanya sebentar, menikmati rasa tenang yang mengalir. Dia ngerasa ibu jari Sungchan sempat mengusap pelipisnya pelan sebelum ditarik kembali.

Saat itu, Anton pikir itu refleks Sungchan yang kebiasaan ngacak-ngacak rambutnya dari kecil. Anton sama sekali gak menyadari... kalau tatapan mata Sungchan yang tertahan di wajahnya detik itu punya arti yang jauh beda dari sekadar 'sahabat'.

 

Malamnya di kamar, Anton sama sekali gak bisa tidur.

Dia telentang di kasur sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Usapan telapak tangan Sungchan di kepalanya pas di tangga darurat sore tadi entah kenapa masih kerasa hangat di kulit kepalanya. Rasanya aneh. Padahal Sungchan udah sering banget nepuk atau ngacak-ngacak rambutnya dari dulu, tapi kenapa sore ini respon di dadanya beda banget?

Anton miringin badannya, menatap dinding kamar tempat foto-foto lamanya sama Sungchan terpajang.

Gara-gara sentuhan kecil sore tadi, memori Anton mendadak kayak diputar ulang. Kepala Anton mulai memproses ulang hal-hal yang selama bertahun-tahun ini cuma dianggapnya sebagai kebiasaan "sahabat dari kecil".

Dia teringat pas kelas 10 lalu. Waktu Anton mendadak demam tinggi pas upacara, bukannya nungguin petugas PMR bawa tandu, Sungchan yang langsung panik dan menggendong Anton di punggungnya dari lapangan ke UKS. Sungchan bahkan rela bolos jam pelajaran cuma buat duduk di samping kasur UKS, telaten nungguin sambil ganti-ganti kain kompresan di jidat Anton. Pas Anton bangun kebingungan, Sungchan cuma nyeletuk datar, "Lu berat banget, Ton. makan yang bener biar gak sakit lagi, gua gamau gendong lu lagi.” 

 

Anton juga teringat kejadian hujan deras di pertengahan semester kemarin. Anton yang lupa bawa payung terjebak di parkiran karena motornya mogok. Tanpa diminta dua kali, Sungchan nyusul hujan-hujanan—ninggalin temen-temen futsalnya yang lagi main di lapangan—cuma buat bantu nuntun motor Anton sampai ke bengkel terdekat. Pas Anton merasa bersalah karena bikin bajunya basah kuyup, Sungchan cuma merangkul lehernya asal, "Santai aja kali, kayak sama siapa aja lu.”

 

Bahkan hal-hal kecil harian yang tadinya kelihatan sepele, mendadak terasa beda banget pas dipikirin malam ini. 

Sungchan yang selalu refleks misahin daun bawang dari piring makan Anton karena tahu Anton gak suka.

Sungchan yang selalu otomatis pindah jalan di posisi luar kalau mereka lagi jalan kaki bareng di trotoar.

Sungchan yang gak pernah sekalipun protes walau harus nungguin Anton siap-siap atau ngerapihin tas lama banget.

Selama ini, Anton selalu mikir perlakuan Sungchan itu wajar karena mereka udah temenan dari SD. Tapi malam ini, setelah fokusnya ke Carmen hilang, mata Anton kayak baru dibuka.

 

Sabtu malamnya, Sungchan seperti biasa main ke rumah Anton.

Lampu kamar sengaja dipadamkan sebagian, menyisakan lampu belajar dan cahaya temaram dari layar laptop Anton yang lagi memutar film action asal-asalan.

Anton rebahan telentang di karpet bawah, kepalanya disandarkan di pinggir kasur. Sementara Sungchan duduk di lantai persis di sampingnya, menyandarkan punggungnya ke kasur sambil fokus menatap layar laptop.

“Chan," panggil Anton pelan di tengah-tengah adegan film yang lagi ramai.

"Hm?" Sungchan tidak menoleh, tapi matanya tetap fokus mendengarkan.

"Menurut lu... gue kurangnya di mana ya?”

Gerakan tangan Sungchan yang baru mau mengambil keripik kentang terhenti. Dia menunduk, menatap Anton yang lagi menatap langit-langit kamar. "Maksud lu?"

"Ya... soal Carmen," gumam Anton, suaranya agak tertahan. "Maksud gue, oke lah Carmen ternyata emang suka cewek. Tapi kadang gue mikir... apa muka gue emang gak ada aura-aura yang bikin orang tertarik apa ya? Kenapa dari dulu cerita cinta gue gak ada yang berhasil ya.”

Sungchan diam sebentar. Dia meletakkan kembali bungkus keripiknya ke lantai, lalu memutar posisi duduknya jadi agak miring, menghadap penuh ke arah Anton yang masih rebahan di bawahnya.

Dari posisi ini, Anton bisa merasakan tatapan mata Sungchan yang jatuh pas di mukanya. Suasana kamar yang makin gelap bikin garis wajah Sungchan kelihatan lebih tegas dari biasanya.

"Lu gak kurang apa-apa, Ton," kata Sungchan datar. Tapi kali ini ada nada serius yang bikin Anton refleks menolehkan kepala, menatap balik mata Sungchan.

"Gak usah ngehibur gue lah. Lu kan biasanya paling rajin ngeledek gue."

"Gua gak lagi ngehibur," potong Sungchan cepat. Dia menatap mata Anton lurus-lurus, gak ada keraguan sama sekali. "Lu manis. Lu pinter walau kadang agak bego kalau soal perasaan. Lu ramah sama semua orang. Kurang lu cuma satu."

Anton mengernyit. "Apaan?”

"Lu suka sama orang yang salah."

Kalimat itu diucapkan Sungchan dengan nada yang tenang banget, tapi entah kenapa sukses bikin tenggorokan Anton mendadak gatal. Jarang banget Sungchan memuji dia terang-terangan seperti itu—apalagi pakai kata 'manis'. Biasanya kata yang dipakai Sungchan buat mendeskripsikan Anton paling tidak jauh-jauh dari 'batu', 'berisik', atau 'repot'.

 

Sebelum Anton sempat membalas atau memecah rasa canggung yang mendadak menebal di antara mereka, Sungchan tiba-tiba mengulurkan tangannya.

Jemari Sungchan yang panjang dan hangat menyenggol pelan pipi Anton, lalu dengan gerakan sangat kasual menyapu seuntai rambut Anton yang menutupi dahinya. Sentuhannya singkat—cuma sekitar dua atau tiga detik—tapi ujung jari Sungchan sempat menempel agak lama di pelipis Anton sebelum cowok jangkung itu menarik tangannya kembali.

 

Deg.

 

Jantung Anton mendadak meloncat kaget. Rasa hangat bekas sentuhan jari Sungchan di pipinya seolah tertinggal, bikin kulit mukanya mendadak rasanya agak panas.

Anton refleks memegang pipinya sendiri, matanya melotot kecil menatap Sungchan. "Lu... ngapain jir?”

Sungchan yang menyadari perubahan reaksi Anton cuma menaikkan sebelah alisnya, kelihatan santai banget seolah baru saja menepis debu biasa. "Rambut lu udah panjang tuh, awas ada razia. Potong sana."

"Ya... ya gak usah pakai diusap-usap juga!" sahut Anton gagap, nadanya agak kebingungan sendiri. Dia mendudukkan dirinya dengan cepat, menjauh sedikit dari Sungchan. "Aneh lu.”

Sungchan tidak membalas lagi. Dia cuma mendengus pelan, lalu kembali memalingkan wajahnya menatap layar laptop. Tapi kalau Anton perhatikan lebih jeli dalam kegelapan kamar itu, ada senyum tipis banget yang terukir di sudut bibir Sungchan.

 

Sementara itu, Anton duduk bersila di karpet sambil memegangi dadanya sendiri yang mendadak berdetak agak tidak beraturan.

Dia menatap samping profil wajah Sungchan dari jarak dekat. Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan bahunya yang lebar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun masa pertemanan mereka... Anton mendadak sadar kalau temannya dari kecil ini sebenarnya... sangat ganteng.

"Anjir, mikir apaan sih gue?!" Anton membatin panik dalam hati, langsung menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat buat membuang pikiran aneh itu.

 

Memasuki minggu berikutnya, rasa sadar yang tiba-tiba itu berubah jadi krisis berat buat Anton.

Dia mulai panik. Setiap kali Sungchan jalan di sampingnya, Anton mendadak sadar betapa gantengnya cowok itu. Setiap kali Sungchan menyenggol bahunya, kulit Anton rasanya tersengat. Kebiasaan-kebiasaan Sungchan yang dulu dianggap biasa—kayak Sungchan yang suka melilitkan tangan di leher Anton kalau jalan bareng, atau nyengir tipis pas Anton lagi ceroboh—sekarang malah bikin otak Anton kelabakan. 

"Gue udah gila. Fix, gue udah gak waras," bisik Anton pada dirinya sendiri di depan cermin toilet sekolah.

Dia mencoba mencari jawaban logis dari semua kekacauan ini. Anton kan suka cewek. Dia suka Carmen selama bertahun-tahun. Carmen itu cewek. Jadi, secara hukum alam di kepalanya, dia itu straight. 

Karena bingung berat dan belum bisa mencerna perubahan perasaannya, refleks Anton adalah menjauh.

 

Selama tiga hari berturut-turut, Anton menghindari Sungchan pakai seribu alasan garing. Pulang duluan, makan siang di perpustakaan, dan pura-pura sibuk. Sungchan yang menyadari perubahan itu awalnya membiarkan, tapi pas hari Kamis sore Anton menolak ajakan pulang bareng sambil gak berani menatap matanya, sabar Sungchan habis.

 

Sore itu hujan turun deras. Anton berdiri di koridor sekolah, berniat menerobos hujan pakai jas hujan plastik murah dibanding harus pulang bareng Sungchan.

"Lu mau ke mana pake plastik begitu?" suara bass Sungchan mendadak terdengar di sebelah kirinya.

Anton melompat kaget. Sungchan berdiri di sana memegang helm, menatap Anton rapat-rapat. "Lu kenapa sih dari kemaren?”

"Gak kenapa-kenapa!" sahut Anton terlalu cepat.

"Gak kenapa-kenapa dari mana? Dichat bales cuma 'oh', 'ya'. Lu ada masalah apa?" suara Sungchan menajam samar. "Kalau ada masalah ngomong, Ton. Gak usah ngilang begini."

Anton menelan ludah, bau parfum maskulin Sungchan bikin otaknya makin pusing. "Gue... gue gak ada masalah sama lu, Chan. Gue cuma lagi pusing sama diri gue sendiri.”

Sungchan mendesah pelan. Kemarahannya luntur melihat raut muka Anton yang bener-bener kebingungan. Sungchan mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Anton pelan. "Udah agak reda nih hujannya. Ayo, ikut gua.”

 

Motor Sungchan membelah jalanan basah yang masih lengang bekas hujan. Anton duduk di jok belakang, pegangan ke jaket Sungchan dengan jarak yang canggung. Biasanya, Anton bakal nyender santai ke punggung Sungchan atau asal meluk pinggangnya kalau Sungchan lagi ngebut. Tapi sore ini, telapak tangan Anton kerasa dingin dan jarak semeter rasanya kayak benteng tebal.

Sungchan menyadari itu. Dari kaca spion motor, dia bisa liat muka Anton yang ditekuk sambil nunduk menatap aspal.

Begitu sampai di spot bukit kecil bekas tepi waduk yang sepi, Sungchan mematikan mesin. Angin sore bekas hujan menusuk kulit, tapi pemandangan kota di bawah sana yang mulai menyalakan lampu-lampu jalanan kelihatan cantik banget.

 

Sungchan turun dari motor, melangkah ke pembatas besi, lalu menyandarkan badannya di sana. Anton mengekor pelan-pelan, berdiri di samping Sungchan sambil memeluk tangannya sendiri karena kedinginan.

"Nih," Sungchan mendadak membuka jaket parasut hitam yang dia pakai, menyisakannya cuma pakai seragam. Tanpa omong banyak, dia menyampirkan jaket tebalnya itu ke bahu Anton. "Dipake. Lu dari tadi menggigil gitu.”

Anton mengerjap. Bau parfum Sungchan—campuran wangi citrus dan kayu manis yang khas banget—langsung menyeruak begitu jaket itu berpindah ke tubuhnya. "Lah... lu nanti kedinginan gimana?"

"Gua gak gampang sakit kayak lu," sahut Sungchan pendek, walau tangannya terulur buat membetulkan kerah jaket itu di leher Anton biar angin gak masuk.

Jari-jari Sungchan sempat tidak sengaja menyenggol kulit leher Anton. Dan detik itu juga, Anton refleks menahan napasnya. Pipinya mendadak kerasa panas banget, padahal angin sore lagi dingin-dinginnya.

"Tuh kan, muka lu langsung merah. Jaketnya gak mempan apa gimana?" goda Sungchan tipis, matanya mengunci tatapan Anton rapat-raptan.

"G-gak! Mempan kok!" sahut Anton cepat, suaranya agak melejit gajelas. Dia buru-buru memalingkan wajah, menatap lurus ke arah waduk di bawah sana sambil mengusap mukanya yang makin membara.

 

 

"Chan..." panggil Anton pelan setelah hening beberapa saat.

"Apa?"

"Jujur... gue bingung banget dari kemarin. Otak gue rasanya mau pecah." Anton menarik napas dalam-dalam, memeluk jaket kebesaran milik Sungchan rapat-rapat ke badannya. "Gue gak ngerti ini kenapa, tapi respon gue ke lu belakangan ini beda. Gue mikir mungkin cuma karena kebiasaan ada lu doang dari kecil. Tapi pas gue berusaha menjauh dari lu seminggu ini... kok malah makin aneh? Gue kepikiran lu terus. Tiap lu nyentuh gue, jantung gue rasanya mau lompat keluar.”

Anton menengadah, menatap mata Sungchan dengan raut muka polos dan kebingungan.

 

"Gue kan suka cewek, Chan... Carmen cewek. Tapi kenapa sekarang tiap liat lu, otak gue malah isinya lu semua? Gue ini kenapa sih?"

Mendengar rentetan curhatan jujur dari Anton, Sungchan tidak kaget. Senyum super lembut yang jarang banget dia perlihatkan perlahan terbit di wajahnya. Tatapan matanya yang biasa tajam mendadak berubah jadi begitu penuh kasih sayang.

Sungchan mengulurkan tangan, meraih kedua tangan Anton yang tersembunyi di balik lengan jaket kebesaran itu. Dia menggenggam jemari Anton pelan, memberikan kehangatan yang instan menjalar ke seluruh tubuh Anton.

"Lu gak usah bikin rumit, Ton," kata Sungchan, suaranya rendah dan tenang banget di antara hembusan angin sore.

Anton mengerjap polos. "Hah...?"

"Lu gak aneh," lanjut Sungchan pelan tapi mantap. "Lu cuma suka sama gua. Tapi lu kaget aja karena selama ini gak pernah mikir ke arah sana sebelumnya.”

 

Deg.

 

Kalimat simpel itu keluar dari mulut Sungchan tanpa keraguan sedikit pun. Cuma fakta sederhana yang disodorkan Sungchan santai.

Dan seketika, semua benang kusut di otak Anton terurai.

Rasa panik seminggu ini mendadak hilang, digantikan rasa "oh... iya juga ya." Kepingan puzzle di kepalanya menyatu dengan sempurna. Alasan kenapa dia deg-degan, kenapa dia kangen, kenapa dia panik—bukan karena otaknya aneh. Tapi simpel karena dia memang mulai punya rasa sama Sungchan. Dan itu... ternyata sama sekali gak mengerikan seperti yang dia bayangkan. 

"Oh..." gumam Anton pelan, suaranya polos banget. "Ternyata karena gue.. suka sama lu ya?"

Sungchan terkekeh renyah—tawa manis yang bikin matanya menyipit. "Iya, Anton. Dan kabar baiknya... lu gak bertepuk sebelah tangan."

Anton melotot kecil. "Maksudnya...?” 

"Gua udah suka sama lu dari lama banget. Jauh sebelum lu sibuk ngejar-ngejar Carmen," aku Sungchan jujur.

Muka Anton langsung berubah merah padam sampai ke ujung telinga. "Hah... yang bener?!"

"Muka gua kelihatan becanda?" sahut Sungchan sambil tersenyum tipis.

 

Sungchan memangkas sisa jarak di antara mereka. Kehangatan tubuh Sungchan bikin rasa dingin angin sore mendadak tidak terasa lagi. Anton tidak mundur. Tidak ada rasa panik lagi.

"Gak usah pusing-pusing lagi, ya?" bisik Sungchan halus. Tangannya terulur mengusap pelan belakang kepala Anton, menatap mata Anton yang masih kelihatan sedikit kaget tapi sudah jauh lebih rileks.

Anton cuma bisa mengangguk pelan, sudut bibirnya tanpa sadar ikut terangkat tipis. "Gue... maaf ya udah kabur-kaburan dari lu seminggu ini."

"Gak apa-apa. Yang penting lu udah paham sekarang.”

Sebelum Anton sempat membalas lagi, Sungchan mencondongkan badannya ke depan. Tanpa gerakan terburu-buru, Sungchan memangkas lagi sisa jarak di antara mereka dan mendaratkan ciuman singkat tapi manis tepat di bibir Anton.

Ciumannya terasa hangat, lembut, dan sedikit canggung di detik pertama karena ini pertama kalinya buat Anton. Tapi begitu merasakan usapan lembut ibu jari Sungchan di pipinya, Anton memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lega dan manis yang memenuhi dadanya. 

Saat Sungchan menarik dirinya kembali dengan senyum tipis di wajahnya, Anton cuma bisa menyembunyikan mukanya yang makin merah di balik dada Sungchan, memeluk pinggang tegap temannya itu erat-erat sambil terkekeh pelan.

"Nggak usah ngumpet gitu, jelek," ledek Sungchan pelan sambil merangkul punggung Anton rapat-rapat, menenggelamkan kepala Anton di dada bahagianya.

Notes:

Hi, I made this after listening to Pink Triangle by Weezer.

 

Meet me on x @lusminary :D