Actions

Work Header

Losing us.

Summary:

Hancur setelah diselingkuhi, Jena memutuskan pergi berlibur dan tanpa sengaja berkenalan dengan Keenan dan Naren di bandara. Berawal dari obrolan ringan dan pertukaran kontak, Jena tak pernah menyangka bahwa Keenan—yang dikenal Naren sebagai sosok setia pada Sena, kekasihnya sejak SMA—diam-diam mulai mendekatinya. Sebuah perkenalan sederhana yang perlahan berubah menjadi awal dari kekacauan yang tak pernah mereka bayangkan.

Notes:

hi! cerita ini aku yang ngalamin sendiri ya, bener bener kisah aku, selamat membaca!🥹🤍

Chapter 1: Happen.

Chapter Text

Jika melihat wajah Jena hari itu, tak akan ada yang menyangka bahwa ia sedang mengalami patah hati besar. Senyumnya tampak ceria, seolah tak ada masalah yang mengusik pikirannya. Padahal, ia baru saja mengakhiri hubungan setelah diselingkuhi dan mendadak membeli tiket pesawat hanya untuk melarikan diri sejenak. Teman-teman lamanya yang mengetahui keadaan itu langsung berinisiatif mengajaknya berlibur, tak ingin Jena menghabiskan waktu sendirian di kamar sambil meratapi nasibnya.

Saat kebingungan mencari gate penerbangannya yang terus berpindah, seseorang tiba-tiba menepuk bahunya pelan.

"Kak, sori. Mau nanya dong, kalau gate yang ini ke arah mana, ya?"

Orang itu adalah Keenan. Ia menunjukkan boarding pass di layar ponselnya, sementara Naren berdiri santai di sampingnya dengan sebuah koper. Rupanya, mereka hendak menuju kota yang sama untuk menyusul teman-teman mereka.

Karena memiliki gate yang sama dan petunjuk arah yang cukup membingungkan, Jena akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama keduanya.

Sepanjang perjalanan, Jena dan Keenan menjadi dua orang yang paling banyak mengobrol. Naren lebih banyak diam, berjalan mengikuti mereka sembari sesekali menyimak percakapan.

Sesampainya di gate yang tepat, Jena sibuk merapikan koper kabinnya yang sedikit berantakan. Sementara itu, Keenan dan Naren duduk di kursi tunggu, sesekali melontarkan pertanyaan basa-basi di sela kesibukan mereka dengan ponsel masing-masing.

Setelah memastikan resleting kopernya tertutup rapat, Jena menghampiri keduanya. Keenan dan Naren masih asyik dengan layar ponsel mereka, tak menyadari bahwa perkenalan sederhana di bandara itu mungkin akan membawa mereka pada sesuatu yang jauh lebih rumit.

"Kalian kuliah di mana, deh? Semester berapa?" tanya Jena santai.

Dari percakapan itu, Jena baru mengetahui bahwa keduanya masih menempuh pendidikan S1 dan sedang berada di penghujung semester lima. Mendengarnya, Jena tertawa kecil. Rupanya, ia tiga tahun lebih tua daripada mereka karena kini tengah menyelesaikan pendidikan S2.

Meski hatinya masih terluka, Jena memang dikenal sebagai sosok yang ramah dan ekstrover. Ia pandai membawa diri, membuat percakapan terasa menyenangkan tanpa sedikit pun memperlihatkan masalah yang sedang disembunyikannya.

Ketika panggilan boarding terdengar, mereka baru menyadari bahwa kursi di pesawat terpisah cukup jauh. Sebelum berpisah menuju jalur keberangkatan masing-masing, Jena tiba-tiba meminta kontak mereka.

"Eh, minta kontak kalian, dong! Siapa tahu nanti bisa main bareng."

Keenan dan Naren mengiyakan tanpa banyak bertanya, lalu saling bertukar nomor dengan Jena. Bagi Jena, pertemuan siang itu hanyalah kesempatan untuk mendapatkan dua teman baru yang bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari patah hati. Ia tak pernah menyangka bahwa perkenalan sederhana tersebut kelak akan menyeretnya ke dalam persoalan hati yang jauh lebih rumit.

**

Penerbangan Jena mengalami penundaan. Padahal, seharusnya pesawat sudah lepas landas sejak dua jam lalu. Notifikasi dari grup obrolan teman-temannya terus bermunculan, memenuhi layar ponselnya.

'Lu kok masih double tick sih? Belum takeoff juga??'

Jena hanya menghela napas pelan sembari menyandarkan kepala ke kursi. Ia tahu betul teman-temannya mulai gelisah karena belum mendapat kepastian mengenai waktu kedatangannya. Mereka hanya ingin memastikan kapan harus menjemputnya di bandara.

Di tengah kebosanan menunggu, Jena mendadak ingin ke toilet. Baru saja ia berdiri dan hendak melangkah menuju bagian belakang kabin, matanya menangkap sosok Naren yang baru saja keluar dari toilet. Keduanya berpapasan di lorong sempit. Menyadari kehadiran Jena, Naren sempat menghentikan langkahnya untuk memberikan senyum tipis sebelum kembali menuju kursinya.

Pertemuan singkat itu membuat Jena teringat sesuatu. Sambil melanjutkan langkahnya, ia bergumam dalam hati, "Oiya, gue belum nge-chat Keenan sama Naren buat ngasih tahu nomor gue, ya?"

Sebenarnya, hal itu bukan sesuatu yang mendesak. Namun, tanpa berpikir panjang, Jena meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Keenan dan Naren.

'Halo, ini Jena ya.'

Keenan dan Naren segera membalas pesan Jena. Namun, percakapan mereka tak berlangsung lama karena Jena harus kembali sibuk membalas rentetan pesan dari teman-temannya yang semakin riuh menanyakan keberadaannya.

Tak lama kemudian, pesawat akhirnya bersiap lepas landas. Perjalanan dua jam di udara yang semula ia bayangkan akan terasa membosankan justru berlalu tanpa terasa.

Begitu tiba di bandara tujuan, Jena bergegas keluar sambil menyeret koper beratnya. Langkahnya tergesa-gesa, sementara pandangannya terus tertuju pada layar ponsel.

'Kak, udah dijemput? Tadi Naren bilang ngeliat Kakak jalannya buru-buru banget.'

Jena menghentikan langkah di dekat pintu keluar. Matanya menyapu area penjemputan untuk mencari teman-temannya. Sambil sedikit panik, ia buru-buru mengetik balasan.

'Udah, Keen.'

Dan dari situlah semuanya bermula.

Panggilan Keen itu murni terlontar begitu saja dari Jena. Orang-orang di sekitar Keenan biasanya memanggilnya Keenan atau Nan. Tak pernah ada yang menyapanya dengan panggilan sesingkat itu.

Karena itu, saat membaca pesan Jena, Keenan sempat terdiam. First time dipanggil gini, kinda nervous. Entah kenapa, panggilan sederhana itu terdengar begitu manis di telinganya, nyaris seperti panggilan sayang.

'Iya, temen aku udah nungguin di depan. Mana bawel banget,' sambung Jena.

Sayangnya, setelah mengirim pesan itu, Jena benar-benar melupakan ponselnya. Ia tak sempat membaca balasan Keenan karena akhirnya berhasil menemukan teman-temannya yang sudah menunggu.

Jena dijemput oleh Raka dan Naya, sementara Davin dan Raina masih sibuk membeli bahan makanan. Mereka adalah teman-teman Jena sejak masa S1. Sudah lama sekali mereka tak berkumpul karena kesibukan masing-masing. Kini, hanya Jena yang masih melanjutkan pendidikan, sedangkan teman-temannya telah sibuk bekerja.

Liburan ini pun menjadi kesempatan bagi Jena untuk menemani mereka mengambil jeda dari rutinitas, sekaligus mencari sedikit ketenangan setelah hubungan asmaranya berakhir.

Setibanya di vila, Jena langsung membersihkan diri agar tubuhnya kembali segar setelah perjalanan panjang. Namun, ketika keluar kamar dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi, ia justru berhenti di ambang pintu, menatap teman-temannya dengan ekspresi heran.

"Loh? Gue udah mandi??"

Teman-temannya justru tertawa tengil melihat ekspresi Jena. Mereka sedang sibuk menyiapkan panggangan BBQ di halaman depan vila, terlalu asyik dengan urusan masing-masing sampai tak terlalu memperhatikan kebingungan Jena.

Malam itu, tak seorang pun berinisiatif menyinggung soal mantan Jena. Mereka tahu betul betapa besar rasa sayang Jena selama menjalani hubungan yang sudah terjalin cukup lama. Belum lagi, ketika perselingkuhan itu terbongkar, mantan Jena langsung menjadi sasaran amarah seluruh lingkaran pertemanannya. Mulai dari teman-teman S1, S2, SMA, sampai sepupu-sepupunya, semua ikut naik darah. Karena itulah, mereka sepakat berpura-pura amnesia demi menjaga perasaan Jena.

Namun, bukannya menghindari topik yang menyedihkan, Jena justru membuka percakapan lebih dulu. Bukan tentang mantannya, melainkan dua orang yang baru ia kenal di bandara.

"Eh, lu pada tahu nggak? Tadi gue hampir aja miss flight, tau, kalau nggak ketemu Keenan sama Naren. Mana gue sokap, eh, taunya beda tiga tahun sama kita!" cerita Jena dengan penuh semangat.

Ia kemudian menceritakan kronologi pertemuannya dengan Keenan dan Naren dari awal hingga akhir. Teman-temannya menyimak sambil sesekali mengangguk. Mereka bahkan tak lagi terkejut mendengar Jena mendapatkan kenalan baru di tempat yang tak terduga. Jena memang terkenal kelewat ramah. Bayangkan saja, nomor kontak abang-abang penjual kue ape yang sering lewat di depan rumahnya pun tersimpan rapi di ponsel.

Mendengar Jena berhasil mendapatkan dua teman baru di bandara bukanlah sesuatu yang mengejutkan lagi bagi mereka.

Malam itu berlalu dengan begitu meriah. Tak ada pembahasan tentang mantan, tak ada air mata, apalagi kesedihan yang berlarut-larut. Hanya ada obrolan random, gosip yang tak ada habisnya, serta cerita-cerita lama semasa S1 yang entah sudah berapa kali mereka ulang, tetapi tetap saja berhasil membuat semuanya tertawa sampai sesak napas.

 

***

Vila yang mereka sewa mengusung konsep open space, dengan lima kasur yang tertata dalam satu ruangan besar tanpa sekat. Karena itu, setelah BBQ-an semalam, mereka melanjutkan obrolan sambil rebahan di tempat masing-masing, menikmati kebersamaan yang sudah lama tak mereka rasakan.

Obrolan baru benar-benar berakhir ketika Davin akhirnya angkat bicara.

"Besok kan kita mau ke pantai, ya. Kalau pada nggak tidur sekarang terus besok bangun siang, udah deh, batal sekalian."

Mendengar peringatan itu, semuanya langsung bergegas mematikan lampu. Bukan tanpa alasan, Davin punya aura yang cukup mengintimidasi kalau sudah bicara serius. Tak ada yang berani membantah, apalagi mengambil risiko mendengar ceramahnya lebih panjang.

Pagi harinya, Jena menjadi orang terakhir yang terbangun. Teman-temannya sudah bergantian menggunakan kamar mandi ketika ia akhirnya meraih ponsel yang semalaman terabaikan.

Selain sederet notifikasi dari mamanya yang mengomel karena Jena lupa memberi kabar setelah tiba, ada pula pesan dari Keenan yang belum sempat ia balas sejak malam sebelumnya.

'Oh yaudah Kak, hati-hati ya.'

Rupanya, karena pesannya tak kunjung mendapat balasan, Keenan kembali mengirimkan pesan pagi itu.

'Morning Kak.'

Namun, bagi Jena yang terbiasa menjalani segala sesuatu dengan santai, tak ada yang terasa canggung dari percakapan tersebut. Tanpa memikirkan hal lain, ia langsung mengetik balasan.

'Sorry Keen, semalem sibuk banget. Ini pada BBQ-an, nggak sempet megang HP. Morning juga, Keen. Have fun hari ini!'

Bagi orang luar yang membaca gaya chatting Jena, mungkin ia akan dianggap terlalu ramah hingga terkesan memberi harapan. Padahal, percaya atau tidak, cara Jena berkomunikasi memang seperti itu kepada semua temannya.

Bahkan, dulu seluruh lingkaran pertemanannya—mulai dari teman kuliah, hingga teman mainnya—pernah berkali-kali mengingatkan bahwa keramahan Jena bisa membuat orang lain mudah salah paham. Sayangnya, setiap kali dinasihati, Jena justru kebingungan sendiri.

"Lah? Terus gue harus bales kayak gimana, dong? Entar gue cuek malah dikira sombong lagi."

Tak ada yang mampu membantah kepolosan Jena. Pada akhirnya, teman-temannya hanya bisa pasrah sambil membatin, Terserah lu deh, Jen. Entar juga lu sadar sendiri kalau udah kena masalah.

Singkat cerita, setelah semuanya selesai bersiap, mereka berangkat menuju pantai. Demi menghindari kemungkinan terpisah di jalan, apalagi harus kepanasan jika menggunakan motor, mereka sepakat menyewa satu mobil agar bisa pergi bersama tanpa ada yang tertinggal.

Setibanya di pantai, mereka segera menggelar perlengkapan piknik di atas pasir. Jena yang sedang tak berminat bermain air memilih duduk santai di atas karpet, ditemani Davin yang setia berada di sisinya.

Di antara mereka semua, Davin memang termasuk orang yang paling dekat dengan Jena. Karena itulah, ia menjadi satu-satunya yang akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan mengenai hal yang sejak semalam sengaja dihindari teman-temannya.

"Gak papa kan, Jen?" tanya Davin santai sembari menatap ombak. "Dari semalem gue liat lu nggak ada ngomongin yang itu."

Jena menoleh, sedikit kebingungan memahami maksud perkataan temannya.

"Napa, Dav? Ya ... namanya baru putus, ya masih ada nyeseknya dikit lah, apalagi diselingkuhin."

Davin mengangguk pelan. "Ya, wajar sih. Tapi kalau nanti ada apa-apa, chat gue, ya. Kalau lu udah nggak bareng kita lagi setelah balik nanti, jangan dipendem sendiri."

Jena hanya tertawa kecil mendengar perhatian sahabatnya. Namun, obrolan tentang pesan itu mendadak membuatnya teringat pada ponsel yang kembali ia abaikan. Astaga, lupa mengecek HP lagi.

Begitu membuka layar, ia menemukan pesan masuk dari Keenan.

'Have fun juga Kak hari ini! Aku lagi ke pantai nih.'

Sayangnya, Jena sedang tak punya banyak energi untuk membalas pesan panjang. Ditambah teriknya matahari pantai yang menyilaukan mata, balasannya kali ini jauh lebih singkat dari biasanya.

'Okay Keen, have fun mantainya!'

Sementara itu, di tempat berbeda, Keenan justru tersenyum sendiri saat membaca balasan dari Jena di layar ponselnya.

Rombongan liburan Keenan sebenarnya cukup ramai, terdiri dari tujuh orang. Namun, dari semuanya, hanya Naren dan Elvan yang benar-benar dekat dengannya. Sisanya merupakan teman dari teman yang belum terlalu akrab.

Naren sendiri sebenarnya sudah tak terlalu memikirkan pertemuannya dengan Jena di bandara. Kala itu, ia memang tak banyak berinteraksi dan lebih sering menyimak percakapan Jena dan Keenan dari samping.

Berbeda dengan Naren, Keenan justru masih antusias membicarakan kenalan barunya itu. Saat sedang berkumpul, ia tanpa ragu menceritakan Jena kepada Elvan.

"Friendly banget anaknya, lucu lagi," ujar Keenan penuh semangat. "Gue sama Naren kemarin sampai speechless pas dia ujug-ujug nanya, 'Boleh ikut nggak?' waktu kita lagi nyari-nyari gate yang pindah-pindah."

Naren yang duduk di sebelah mereka hanya tersenyum tipis mendengar nama Jena disebut.

Baginya, Jena memang sosok yang menyenangkan. Pembawaannya santai, selera humornya cocok, dan ia punya cara tersendiri untuk membuat orang lain merasa nyaman. Bagi Naren yang biasanya membutuhkan waktu untuk dekat dengan orang baru, pertemuannya dengan Jena kemarin menjadi pengalaman yang cukup berkesan.

--