Work Text:
"Karamatsu~ Kau di mana~?"
Osomatsu berkeliling seisi rumah untuk mencari keberadaan Karamatsu. Tapi, ia tak menemukannya.
"Hee... Apa dia sudah pulang? Ararara~ Dia tidak bilang padaku~"
Merasa menyerah, Osomatsu kembali ke lantai atas dan saat membuka pintunya, ia bahagia ia melihat sesosok yang ia cari dari tadi.
"Karamatsu~"
Karamatsu yang sejak tadi duduk di jendela dan menatap langit menoleh saat mendengar suara Osomatsu memanggilnya.
"Uuuhhh~ Kenapa tidak menjawab panggilanku, Kara-chan~? Onii-chan rindu padamu~"
"Eh... A-Ah... Aku sedang memikirkan sesuatu... Jadi, aku tidak mendengarmu dari tadi..."
Osomatsu segera melangkah masuk ruangan dan duduk di bawah, persis samping kaki Karamatsu.
"Ne, ne Karamatsu~"
"Hmm~?"
"Aku senang kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama~"
"...pfftt. Hahaha!!!"
Osomatsu menatap Karamatsu dengan tatapan bingung. "Huh? Kenapa kau tertawa? Ada yang aneh dengan ucapanku?"
"Ya, memang aneh."
"A-Apa?"
"Kau sendiri, Osomatsu. Kau ini kenapa? Bertingkah sok imut lalu mengatakan kau rindu padaku? Oh My God! Apa kau mabuk? Apa aku harus mengambil air untuk menyadarkanmu?"
"Wow, Karamatsu. Aku tidak tahu kau bisa menyindir seperti itu. Aku tidak pernah ingat saat kau seperti sekarang ini."
Karamatsu tersenyum mendengarnya. Sebuah senyum palsu. "Terima kasih atas pujianmu, Osomatsu nii-san."
"... Haaah... Seandainya kau bisa lebih terbuka saat kita semua masih berkumpul di sini seperti itu, mungkin semuanya, bahkan termasuk diriku, tidak akan pernah mengejekmu, bodoh..."
"Bagaimanapun, aku tidak bisa marah saat kalian semua ada di sekelilingku... Aku sangat menyayangi kalian... Meski aku tahu kalian tidak akan pernah menyayangiku, sih... Haha..."
Karamatsu menundukkan kepalanya dan tersenyum, namun senyumannya berbeda dengan yang sebelumnya. Senyumnya tipis, menahan semua perasaannya agar tidak meledak.
"Sampai akhir pun kau tidak berubah, heh..."
"Kau sendiri Osomatsu? Kau bilang kau masih menyukaiku, 'kan?"
"Yep. Aku masih menyukaimu. Bahkan setelah kau menolakku, bodohnya aku masih menunggumu dan berharap suatu saat perasaanku terbalaskan... Tapi, kau malah meninggalkanku sendirian seperti yang lainnya."
Karamatsu menatapnya tidak percaya. Ia berharap bahwa Osomatsu hanya bercanda saat mengatakan hal tersebut, tapi saat melihat tatapan matanya yang tajam dan wajahnya yang serius... Karamatsu tahu Osomatsu tidak bergurau atas perkataannya.
"... Kau bilang setelah kami semua meninggalkanmu, Totoko mengajakmu untuk kencan, 'kan? Kenapa tidak kau terima? Aku iri padamu, Osomatsu. Kau orang pertama yang diajak kencan olehnya haha!"
Karamatsu berusaha mencairkan suasana yang terasa mencekam. Namun, Osomatsu masih diam.
"ーTotoko sekarang sudah menjadi idol terkenal. Tidak seperti saat debut idol ikannya itu... Berkencan dengannya itu rasanya mustahil. Lagipula, aku yakin saat itu dia hanya kasihan karena kalian semua meninggalkanku sendiri."
"Tapi, Osomatsu... Jika kau denganku... Kau tahu kita ini saudar-"
"LALU?! PERSETAN DENGAN MASALAH KITA INI SAUDARA ATAU KITA INI SAMA-SAMA LAKI-LAKI!! AKU SUDAH MENUNGGUMU BEGITU LAMA, AKU INGIN KAU SETIDAKNYA BICARA PADAKU TENTANG MASALAHMU, AKU INGIN KAU MENGANDALKANKU! KENAPA KAUー"
"...af."
"ーMENJAUHIKU SETELAH AKU MENYATAKAN PERASAANKU PADAMU?! DI TENGAH MALAM KAU DIAM-DIAM MENANGIS, KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU?! OKE KALAU KAU JIJIK PADAKU YANG MENYUKAI SAUDARAKU SENDIRI DAN TERLEBIH ORANG ITU LAKI-LAKI, TAPI... TAPI...!!"
"Maafkan aku, Osomatsu!! Aku minta maaf!! A-A-Aku..."
"... kau seharusnya memperlakukanku seperti kakakmu. Kau tidak perlu menyimpan semuanya sendirian... Aku sudah bilang, aku ini selalu menunggumu..."
Air mata menetes melalui pipi Osomatsu. Untuk pertama kalinya, Osomatsu membiarkan air matanya menderas tanpa mempedulikan Karamatsu ada di sisinya. Persetan tentang harga dirinya sebagai kakak tertua, ia tidak peduli lagi...
Karamatsu turun dari jendela, tempat ia duduk dan memeluk Osomatsu dengan erat.
"Aku minta maaf, Osomatsu... Aku tidak ingin masa depanmu yang indah terbuang hanya karenaku... Kau pantas mendapatkan Totoko, kencan dengannya, dan memiliki anak... Jika kau bersamaku, kau akan selalu dicemooh orang lain bahkan keluarga kita sendiri..."
"..."
Osomatsu menatap lantai rumahnya yang beralaskan tatami dengan tatapan kosong. Kemudian, tangannya menghapus air matanya dengan hoodie merahnya.
Ia harus sadar akan kenyataan yang menghadapinya.
"... Maaf, Karamatsu. Aku memang egois. Memaksakan kehendakku yang ingin terus bersamamu, padahal aku tahu kau sekarang ini sulit bertemu denganku..."
"Tidak, itu bukan salahmu Osomatsu. Aku yang ingin bertemu denganmu. Aku juga merindukan rumah ini..."
"Karamatsu, terima kasih kau masih mau datang ke sini meski hanya sebentar... Aku sangat senang saat kau datang kemari."
Osomatsu tersenyum lebar, sedangkan Karamatsu merasa lega karena suasananya membaik dan Osomatsu kembali seperti biasanya.
Lalu, Karamatsu bertanya seperti hari-hari sebelumnya saat Karamatsu datang ke rumahnya. "Bagaimana kabar mereka semua?"
"Hmm~ Choromatsu sekarang bekerja sebagai manager artis, Ichimatsu sekarang bersama pasangan yang pernah ia ganggu saat natalー"
"Hah?! Bersama mereka?" Karamatsu seakan tidak percaya saat Osomatsu mengatakannya. Ia ingat sekali Ichimatsu cemburu dengan pasangan itu saat natal hingga dirinya terbakar api yang muncul entah dari mana. "Ichi-kun sudah berubah, heh~?"
"Ya 'kan~? Semuanya sudah berubah~ Jyushimatsu masih bekerja di pabrik itu dan ia bilang ia menyewa apartemen, kemudian dia berencana di bulan depan akan menikah dengan pacarnya~"
Karamatsu meneteskan air mata bahagia, terharu saat mendengar adik favoritnya itu akan segera memiliki keluarga. "Beritahu aku saat mereka punya anak, Osomatsu!"
"Yep. Aku akan titipkan salam padanya, jadi tenang saja~"
"Bagaimana dengan Todomatsu?"
"Todomatsu licik seperti biasanya sih... Tapi, ia jadi karyawan tetap di suatu perusahaan. Dia bercerita ia masih belum ingin menikah."
"Fuh, tidak kupercaya semuanya sudah berubah... Waktu berlalu begitu cepat, hmm~"
"Aku juga tidak sadar... Ahh!! Aku tidak dapat membayangkan rambutku akan dipenuhi uban dan aku berjanggut!! ...Ughh aku tidak ingin menua~"
Karamatsu tertawa saat melihat Osomatsu berguling-guling dan mengeluhkan tentang dirinya yang menua.
"... Kau sendiri, Osomatsu?"
"Hmm~? Kau tidak perlu khawatir, Karamatsu~ Aku sudah bilang, aku masih menunggumu, 'kan?"
Melihat senyuman Osomatsu, Karamatsu bingung harus bereaksi seperti apa. Haruskah dia senang saat mendengarnya...
... atau miris?
Sebelum Karamatsu ingin berbicara lagi dengan Osomatsu, ia mendengar suara ibunya dari lantai bawah.
"Osomatsu~?"
"Ah, ya ada apa bu~?"
"Aku ingin pergi ke sana, kau tahu 'kan maksudku? Kau mau ikut tidak? Kalau tidak, kau jaga rumah saja."
"Ah! Ikut ikut! Aku ikut bu! Tunggu!"
Melihat Osomatsu yang tampak terburu-buru turun ke lantai bawah, Karamatsu keheranan dan menanyakannya. "Kau dan Mommy mau pergi ke mana, Osomatsu?"
"Kau tidak tahu maksud ibu?" Karamatsu menggeleng-gelengkan kepalanya, sama sekali tidak paham.
"Ke tempatmu, bodoh!"
Karamatsu tidak berbicara apa-apa selama perjalanan dan hanya mengamati Osomatsu dan Matsuyo membelikan bunga mawar merah sebanyak dua ikat. Dalam satu ikat, terdapat banyak bunga mawar. Karamatsu terharu mereka membelikan bunga itu untuk dirinya, karena itu bunga yang paling ia sukai.
Matanya melirik Osomatsu yang tepat di sebelahnya. Osomatsu menghirup wangi bunga mawar itu sebentar dan menatap lurus ke depan dengan tatapan sendu.
Sekitar lima belas menit, akhirnya mereka sampai ke tempat Karamatsu.
Ya. Tempat inilah yang dimaksud Matsuyo...
... pemakaman Karamatsu.
Osomatsu sudah sering ke tempat ini, tapi ia masih ada perasaan tak terima dengan kematian adik kembarnya itu.
Ia tahu adiknya selalu melankolis, terlalu narsis, dan selalu menahan semuanya sendiri.
Tapi, apapun alasannya. Karamatsu tetap Karamatsu. Karamatsu adalah adiknya.
... dan juga orang yang dicintainya.
Karena matanya sembap setelah menangis tadi, Osomatsu tidak bisa meneteskan air mata lagi. Yang dilakukannya hanyalah menaruh seikat bunga mawar seperti yang dilakukan ibunya dan mendoakannya.
"Untuk apa kau mendoakanku setiap saat padahal kau tahu sendiri aku tidak bisa ke sana?" Bisik Karamatsu.
"Siapa tahu? Mungkin saja kau diampuni." Balas Osomatsu sambil berbisik.
"Mati karena bunuh diri... Apa bagimu orang yang mempercepat kematiannya sendiri bisa diampuni semudah itu?"
Osomatsu tidak menjawab apa-apa setelahnya.
Dulu, saat mereka semua mencari pekerjaan yang paling cepat mendapat pekerjaan adalah Karamatsu. Tapi, Karamatsu tidak tahu tempatnya bekerja adalah perusahaan gelap. Perusahaan itu melakukan banyak penyimpangan.
Mulai dari gaji yang tidak sesuai, korupsi yang dilakukan oleh para petinggi, dan tindak kekerasan oleh para karyawan. Karamatsu yang selalu mencari jalan aman dihina setiap saat, bahkan suatu hari ia pernah dihina di luar tempat kerjanya. Bosnya juga selalu menyindirnya, mengatakan dia itu 'orang sok suci', 'pengecut', dan 'menjijikkan'. Pemotongan gaji tanpa sebab, kekerasan yang dilakukan secara nampak maupun tidak, dan penghinaan setiap harinya.
Lebih parahnya lagi, ia tidak pernah cerita kepada siapapun tentang masalahnya dan saudaranya selalu meminta uang kepadanya saat mereka krisis. Saat itu, hanya Osomatsu yang tidak meminta uangnya karena ia tidak berjudi di pachinko seperti dulu. Padahal ia sudah berniat gajinya itu untuk orangtuanya dan sisanya ingin dinikmati olehnya. Sehingga, ia sendiri seringkali kehabisan uang. Karamatsu tidak ingin meminta uang dari orangtuanya lagi, ia pikir ia sudah banyak merepotkan mereka.
Setelah sekitar tiga tahun hidup dengan tekanan seperti itu, Karamatsu mengakhiri hidupnya dengan memotong lehernya dengan pisau milik Chibita (karena ia masih tinggal dengan Chibita). Orang pertama yang melihat Karamatsu meninggal adalah Osomatsu karena ia ingin bertemu dengannya saat itu.
Setelah selesai mengunjungi pemakaman Karamatsu, Osomatsu dan Matsuyo hendak pulang.
Lalu, Karamatsu tiba-tiba berbisik di telinga Osomatsu. "Kalau diingat-ingat, bodoh juga aku bunuh diri di rumah Chibita... Harusnya aku bunuh diri di stasiun kereta saja agar mayatku tidak ditemukan!! HAHAHA!!"
"...Tutup mulutmu, Karamatsu."
Osomatsu menatapnya tajam dan Karamatsu terdiam saat ditatap seperti itu oleh Osomatsu.
"Osomatsu? Apa kau bicara dengan Karamatsu lagi?"
Matsuyo yang ada di depannya menoleh ke belakang untuk memastikan pertanyaannya itu. "Ah, iya... Karamatsu masih di sampingku."
"... Aku harap dia bisa mendengarku... Untuk Karamatsu, aku berterima kasih padamu. Saat mendengar kau bekerja saja itu sudah membuat kami bangga. Tapi, seharusnya kau tidak menyembunyikan masalahmu dari kami, anakku. Chibita sering bercerita lewat telpon tubuhmu itu penuh luka saat kau mengganti pakaian dan saat ia menanyakanmu kau bilang tidak apa-apa... Justru membuatku khawatir sekali..."
"... saat kau berkunjung ke rumah, kau berbohong padaku kalau kau nyaman bekerja di tempat itu... Aku dan ayahmu tidak marah sama sekali, justru kami saat itu menangis saat kau pulang karena bertanya-tanya seberapa berat beban yang kau pikul sendirian?"
Matsuyo menahan nafasnya, lalu menghelanya dengan cepat dan melanjutkan perkataannya. "Benar-benar Karamatsu... Saat kau bunuh diri, aku terkejut tapi... Aku tidak bisa menyalahkan dirimu seutuhnya. Jujur, aku pernah mengalaminya dan bertahan. Tapi, semua orang berbeda. Kau bertahan di tempat itu selama tiga tahun... Itu benar-benar di luar batas. Harusnya kau kembali saja dan bergabung dengan Osomatsu. Aku tidak pernah menganggap kalian sampah. Kalian anakku, aku selalu sayang kalian... Tapi, sudah terlambat lima tahun untuk mengatakan semua itu... Aku hanya bisa bilang... Tolong berbahagia. Berbahagialah, Karamatsu..."
Suara lembut dan wajah ibunya yang menangis sudah cukup untuk membuat Karamatsu bersedih, sayangnya ia tidak dapat menangis lagi dan hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Osomatsu, apa balasan Karamatsu?"
"... dia terdiam dan tidak mengatakan apapun. Sepertinya ia ingin menangis, namun tidak bisa."
Matsuyo tersenyum tipis dan membuka mulutnya, mengulang hal yang sama dari perkataan sebelumnya.
"Berbahagialah, Karamatsu."
Saat kembali ke rumah, Osomatsu dan Karamatsu naik ke atas tangga. Osomatsu ingin membicarakan hal tadi.
"Kau lihat bagaimana reaksi ibu kita? Jangan sekali-kali pernah berkata hal seperti tadi. Kau tahu ayah itu sudah meninggal dan dia hanya sendirian. Untuk itu, jangan pernah bicara seperti itu... Mengerti?!"
"... Mengerti. Maafkan aku, Osomatsu. Aku hanya sedikit... kesal... dengan diriku. Kenapa aku harus bunuh diri saat itu...? Pikiranku saat itu seakan-akan berbisik 'Mati saja... Tak akan ada yang peduli diriku...'ー"
Belum selesai berbicara, ia disela oleh Osomatsu. "... Saat Todomatsu tahu kau ini bunuh diri, ia sampai menangis tujuh hari dan menolak untuk berbicara dengan kami semua. Jyushimatsu sempat meminta Dekapan apa dia bisa membuat obat untuk menghidupkan orang yang telah mati. Ichimatsu baru tahu setelah Choromatsu menelponnya dan apa reaksinya? Dia menyilet tangannya sendiri setiap hari dan suatu hari dilarikan ke rumah sakit karena kehilangan banyak darah. Ia sempat koma enam bulan..."
"... Choromatsu mengancam semuanya, bahkan ibu dan ayah, jika kau tidak dikubur melainkan dikremasi ia akan lapor ke polisi lalu memenjarakan kami semua... Aku? Aku juga ingin menyusulmu, sebenarnya..."
Mendengar penjelasan Osomatsu, termasuk saat bagian terakhir, Karamatsu pun panik. "Kumohon, jangan Osomatsu. Jangan pernah. Cukup hanya diriku ini yang jiwanya tersesat dan alam sana membenciku dengan teramat sangat..."
"Aku, sama sepertimu, tidak berpikir aku akan dikhawatirkan saat mereka tahu aku bunuh diri... Apa kau ingat saat kau bilang pertama kalinya berkunjung kemari aku tidak ada di rumah? Itu karena aku dibawa ke rumah sakit karena kehilangan banyak darah dan aku koma sekitar dua bulan, masih cukup beruntung ketimbang nasib Ichimatsu."
"..."
"Sudah jangan terlalu bersedih, Karamatsu... Malam ini, kau temani nii-chanmu ini yaaa~ Aku ingin Kara-chan mendengar semuaaaa pertanyaanku dan jawab dengan jujur!"
Mungkin kalau saat ia masih hidup ia akan berpikir Osomatsu akan melakukan itu kepadanya saat ia mendengar perkataan 'menemani'nya. Namun, Karamatsu yakin maksud perkataan Osomatsu adalah Osomatsu tidak ingin sendirian, ia ingin seseorang bersamanya...
Meskipun dia hanyalah hantu gentayangan sekalipun.
"Eittsss!! Sebelum aku tidur, aku hampir lupa melakukan rutinitasku~ Tunggu yaa~ Onii-chan akan segera kembali~"
Rutinitas? Karamatsu mengikutinya diam-diam dan sampailah ia di dapur. Tampak dari belakang, Osomatsu minum sesuatu dan menelannya dengan segelas air. Osomatsu juga tampak lega setelah meminum sesuatu itu.
Karamatsu makin penasaran dan mendekat dan Osomatsu masih tidak menyadari keberadaannya. Ia melihat sebuah botol obat plastik berwarna putih dan membaca nama obatnya.
"F-Flu... Fluoxetine... Dua puluh miligram..."
"HUAH! Karamatsu~! Sudah kubilang jangan membuntutiku~"
"... Kau sakit apa, Osomatsu? Flu kah?"
"Haha~ Namanya Fluoxetine bukan berarti ini obat flu, Karamatsu~" Osomatsu tertawa lalu berbicara lagi kepada Karamatsu. "Ini obat antidepresan."
"... eh?"
"Jadiii, aku cerita ke Totty aku melihat Karamatsu dannn Totty tidak percaya denganku~ Lalu, aku dibawa ke psikolog dan di tes ternyata hasilnya membuktikan aku depresi~ Yah, tahap kedua sih~"
"... maafkan aku, Osomatsu..."
"Ah, tidak tidak... Siapapun akan dianggap gila saat mereka melihat hal-hal gaib. Itu bukan salahmu~"
Karamatsu mengangguk pelan dan menggaruk lehernya pelan, "Aku sebenarnya agak kesal saat kau bilang aku ini 'hal gaib'... Aku masih Karamatsu, bodoh!"
"Hahaha!! Maaf, maaf~ Omong-omong, ayo segera ke tempat tidur~ Onii-chan ingin segera tidur~"
Osomatsu berlari menuju lantai atas dan Karamatsu juga mengikutinya. "Yeay~! Sudah sampaii~"
Tanpa aba-aba apapun, Osomatsu langsung berbaring di lantai. "Kemari Kara-chan~ Duduk di samping nii-chan~"
Karamatsu mengikuti perintah Osomatsu dan duduk persis di samping pinggang Osomatsu.
"Karamatsu~ Kau harus dengarkan onii-chan dan jawab dengan jujur perkataan onii-chan, oke~?"
Karamatsu menganggukkan kepalanya, "Kalau itu yang membuatmu bahagia, akan kulakukan untukmu. Darling~"
Karamatsu berpose cool guy dan Osomatsu cekikikan melihatnya. "Stop! Stop! Tulang rusukkuー!! Khhh!! Hahahaha!!"
"Jadi," Karamatsu menghentikan aksinya dan mulai serius. "Kau ingin bertanya apa, Osomatsu?"
"Hmm~ Pertama, apa kau membenci kami saat kami melemparimu perabotan dapur saat kau hampir dibakar hidup-hidup?"
"...Sejujurnya, iya. Apalagi saat mencari Esper-nyanko... Aku ditinggal sendirian padahal aku ikut membantu dengan luka di seluruh tubuh. Tapi, melihat semuanya tersenyum tanpaku... Aku merasa senang kalian bisa bahagia."
"... Ya ampun, Karamatsu ... Oke, pertanyaan kedua! Apa kau membenciku saat masih hidup?"
"Eh? Kukira kau yang menjauhiku karena waktu itu kau lebih dekat dengan Choromatsu, jadi aku mengira kau membenciku dan menyuruhku jaga jarak darimu..."
"... Kau ini bodoh, 'kah? Aku dekat dengannya karena aku mencari cara agar kita bisa dekat seperti saat masih SMA, bodoh!"
"Aku tidak tahu kau pemalu seperti itu, Osomatsu nii-san~"
Wajah Osomatsu memerah saat mendengar ucapan Karamatsu. "J-J-Jangan mengejekku!"
"Kau ternyata imut juga, ya... Nii-san~"
"Karamatsu!!"
"Ahahaha oke oke my darling~ Ada lagi?"
Mata Osomatsu tidak dapat menahan kantuknya lagi, mungkin karena efek obat yang diminum atau memang dia kelelahan.
"... Mmm... Kalau... Suatu saat nanti kita terlahir kembali dan kita bukan saudara seperti saat ini... Maukah... Kau menerimaku, Karamatsu...? Hoahhmm..."
Karamatsu terkejut saat mendengar pertanyaan Osomatsu. Tetapi, sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
"Ya... Osomatsu. Tentu saja. Mau kau ini terlahir sebagai perempuan atau laki-laki, aku akan menerimamu dengan pelukan hangat... Aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati!"
Osomatsu yang sebenarnya berpura-pura tidur, tersenyum mendengar jawaban dari Karamatsu.
"Osomatsu? Kau sudah tidur?"
Karamatsu tidak tahu kalau Osomatsu berpura-pura dan benar-benar mengira Osomatsu itu tertidur.
Lalu, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Osomatsu dan membisikkan sesuatu.
Setelah itu, Karamatsu menghilang dan meninggalkan Osomatsu dengan setitik air mata yang menggantung di mata kirinya.
Saat bangun dari tidurnya, Osomatsu menatap jendela dengan tatapan kosong. Kemudian, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat mengingat apa yang dibisikkan Karamatsu kemarin malam.
"Maaf, Osomatsu. Ini adalah pertemuan terakhirku. Tubuhku sudah tidak dapat bertahan lama lagi saat menampakkan diri... Terima kasih Osomatsu. Aku berharap aku dapat terlahir kembali..."
Air matanya mulai mengalir dan pikiran Osomatsu masih terbayang oleh senyuman Karamatsu.
