Work Text:
Tangannya sibuk membelit lengannya dengan perban akibat sayatan pinggir pintu mobil ketika mereka berlari kabur dari serbuan manusia jadi-jadian. Sunghoon diujung ruangan, mengawasi dengan senapan besar dipelukannya.
Saat ini mereka berhasil menyusup ke salah satu rumah yang ditinggal penghuninya. Jungwon terluka karena berlari melewati himpitan mobil yang ditelantarkan. Truk mereka tertinggal dibelakang, mau tak mau. Sunghoon hanya sempat menyedot bahan bakar didalamnya dan merelakan air minum dibotolnya tergantikan. Bahan bakar adalah hal yg sangat krusial untuk ditinggalkan, ia bisa pakai itu untuk membunuh koloni manusia jadi-jadian yang mengejar mereka.
"Perlu bantuan?" tanya Sunghoon pelan. Yang lebih tua enggan mendekat, atau lebih tepatnya segan. Jungwon memang tidak ketus kepadanya atau apapun, tapi jelas mantan kekasihnya itu tak berkenan bersikap seperti tidak ada apa-apa diantara mereka. Bagaimanapun, mereka selesai karena permasalahan yang tak menemukan jalan keluar.
"Awasi saja diluar. Setidaknya kita bisa bermalam disini." jawab Jungwon pelan. Meringis merasakan lukanya berdenyut dalam balutan erat perban yang ia lakukan secara sengaja. Darahnya masih sesekali keluar, tapi tidak separah diawal. Luka sepanjang 10 cm itu tidak dalam, tapi perlu ditekan karena Jungwon tidak ingin mati konyol karena kekurangan darah.
Sunghoon bergeming. Tak menuruti perintah yang lebih muda untuk keluar dan mengawasi. Pintu rumah sudah terkunci, jendela tertutup rapat. Didepan rumah ini terpagar oleh kawat dan besi, seharusnya tidak akan ada makhluk jadi-jadian yang mampu menerobos. Setidaknya, menurut pengamatan Sunghoon tentang mayat hidup itu.
Sunghoon justru memilih untuk bersandar dan naik turun memperhatikan baik-baik keadaan partner-nya itu.
Fisik Jungwon tampak mengecil. Tubuhnya semakin kurus dan lemah, pipinya menirus, tapi ia tidak kehilangan pesonanya. Rambut hitamnya berantakan menutupi dahi, luka kecil tepat dibawah matanya, Sunghoon mengumpat saat menyadari cakaran zombie itu berhasil melukainya. Bajunya compang-camping, akibat segala upaya untuk menghindari serangan zombie. Pemuda Aquarius itu terduduk bersila di kasur, alisnya tertekuk serius, mulutnya mengerucut lucu, sebuah kebiasaan. Mantannya itu tampak rentan dibalik kegigihannya.
Tanpa sadar, rasa melindungi itu kembali datang. Dada Sunghoon dipenuhi rasa sesak yang menekan dadanya. Senapan laras panjangnya ia peluk semakin erat, menenangkan deguban jantung kecemasannya. Cemas bahwa sesuatu bisa terjadi cepat atau lambat. Mungkin saat ini Jungwon—dan Sunghoon— hanya beruntung. Bahwa saat itu, mungkin saja Sunghoon akan kehilangan kesempatan terakhirnya, yang hampir ia sia-siakan setiap detiknya.
Jarinya bergetar ketika ia memutar selempang senapannya ke belakang, kini kedua tangannya bebas disisi tubuh, berjalan pelan menghampiri si pria bermata kucing itu.
Jungwon menyadarinya. Kepala otomatis mendongak mencari wajah yang akhir-akhir ini menemaninya. Ketika mata mereka bertemu, Jungwon terkejut mendapati wajah Sunghoon tegang menatapnya, sebelum turun melihat luka di lengan kirinya, lalu kembali mengeraskan rahangnya.
"Kau oke?" pertanyaan singkat yang murni khawatir. Tapi bukan dari Sunghoon, melainkan Jungwon. Karena Sunghoon tampak kaku dihadapannya. Seingatnya, itu biasa terjadi saat Sunghoon marah.
"Andai kau pegang tanganku tadi, ini tidak akan terjadi" tak menjawab pertanyaan Jungwon, Sunghoon memberi pernyataan dengan nada dinginnya. Spontan, tanpa Jungwon berusaha memicu perdebatan terlebih dahulu. Biasanya, ia yang melakukan itu, mencari alasan untuk diperdebatkan. Hanya untuk menunjukkan betapa tidak cocoknya mereka, bahwa mereka adalah mantan.
Memang aneh, tapi Jungwon merasa ia harus melakukan itu.
Jungwon secara natural menjadi defensif.
"Tidak akan membantu dalam kondisi tadi, Park." sanggahnya, tapi nada bicaranya tetap bisa tenang. Ia selalu bisa bersikap tenang di segala situasi dan kondisi, dan itu mengesalkan si pria satunya.
Seolah hanya dia yang putus asa atas hidup Jungwon.
"Kau lemah, kelelahan, kehabisan tenaga, dan kau hampir dekat dengan mereka. Jika aku tidak menembak zombie itu, kau sudah mati, Jungwon."
Mati. Benar, sekelebat Jungwon pasrah dan siap mati ketika salah satu zombie menarik pakaiannya. Tidak sebelum genggaman pada kaus longgarnya melemah, dan zombie dibelakangnya terkulai kejang-kejang.
Benar, Sunghoon menembaknya. Dengan senapan hasil curian, yang sisa pelurunya dua. Sunghoon berhasil dengan satu peluru, untungnya.
Berdeham, Jungwon terlihat kesal karena Sunghoon benar.
"Ya aku berterimakasih karena itu. Tapi apa guna membahasnya lagi, setelah kita akhirnya tenang dan bisa berlindung disini??" celetuknya. Dengan gengsi bersedekap tak tau malu. Memang terkadang, ia bisa sangat kekanakan.
Sunghoon menarik nafasnya rakus. Mereka berdebat lagi, hampir setiap hari. Dan tak satupun dari mereka hendak menurunkan ego untuk mengerti. Sedang Jungwon kini menarik diri bersandar pada kepala kasur, selimut ditariknya hingga menutupi pahanya yang terbalut celana cargonya yang sudah robek di beberapa bagian.
Wajahnya menatap Sunghoon seolah mengatakan 'aku bisa melakukan ini semalaman'. Berdebat, maksudnya.
Sunghoon menghela nafas tenang. Baiklah, ia tak ada cukup energi untuk ini. Ia melemaskan ototnya, wajahnya lebih rileks dan ia memberikan tatapan lembut kepada yang lebih muda.
"Aku cuma berharap setelah semua yang terjadi, kau tidak kehilangan dirimu."
—atau aku yang tidak sanggup kehilanganmu.
Yang itu hatinya yang bicara, gengsi untuk mengatakan.
Jungwon menatap yang lebih tua lama.
Benar. Sunghoon telah melihat banyak dan menyaksikan Jungwon dalam kehilangan. Kehilangan adiknya, temannya. Dalam tekanan itu, tidak mustahil baginya kehilangan diri sendiri.
Tapi siapa Sunghoon untuk mencemaskannya?
Hanya mantan kekasih, kan?
Malas memikirkannya, Jungwon memutar matanya malas. Sebelum akhirnya tubuhnya merosot turun, selimut ditariknya sebatas dada.
"Kalau kau khawatir aku menyerah karena dirimu, turunkan ekspetasimu." ujarnya ringan. Seolah itu kasual, seolah itu berarti sesuatu. Yang mungkin iya, atau sangat bagi Sunghoon.
Lega rasanya mengetahui Jungwon tidak menyerah atas dirinya sendiri.
Sakit rasanya mengetahui ia tak berarti apapun.
Jangan salahkan Sunghoon, bahwa ia belum sepenuhnya menyudahi perasaan itu. Lima tahun bukan sebentar, lima tahun mereka sangat menyenangkan dan Sunghoon tak pernah meminta lebih. Bahkan pertengkaran kecil mereka terasa manis, Sunghoon hampir mengaku bahwa ia menemukan setengah jiwanya dalam diri Jungwon.
Lama Sunghoon merenung di kakinya, hingga ia tidak menyadari tatapan Jungwon yang masih bersamanya.
"Apa?"
"Kau tidak tidur?"
Oh ya. Tidur. Tidak terpikirkan, dan tidak ia sadari bahwa saat ini bulan sudah menggantikan matahari. Sedari tadi sebenarnya, tapi Sunghoon malas mengakui bahwa waktu berjalan terlalu cepat.
"Disini? Denganmu?" tanyanya kikuk.
Wajar saja, mereka adalah mantan kekasih. Berbagi ranjang pernah jadi momen yang belum terlupakan. Terlebih mereka pernah tinggal bersama selama 1 tahun, dan mereka berpisah belum lama. Sekitar 3 bulan yang lalu.
Hal seperti berbagi ranjang seperti deja vu.
"Tak masalah jika diruang tamu. Terakhir kuliat, sofanya dipenuhi belatung." jawab Jungwon santai. Tampak lucu tenggelam dalam selimut kusam yang entah darimana ia temui. Wajahnya bersinar. Sungguh, Sunghoon seperti diuji.
"Apa kau okay dengan itu?"
"Apa? Dengan kau yang tidur di sofa? Dengan senang hati"
Ouch.
Sarkasme memang selalu menjadi nama tengah Yang Jungwon.
"Tidak, maksudku—"
"Sudahlah, Park! Apa kemungkinan terburuk yang kau takutkan akan terjadi? Kau dan aku melakukan seks? Dengan lenganku yang terluka dan kakimu yang pincang? Bukan berarti aku mengharapkan apapun tapi Demi Tuhan! Kau sangat sulit diajak berdiskusi. Tidur saja!"
Jungwon berceloteh, tapi Sunghoon terpaku.
Okay. Itu aneh bahwa apa yang mereka pikirkan hampir serupa.
Tapi Sunghoon tersenyum mendengarnya.
Hatinya berdesir seperti remaja jatuh cinta.
.
.
.
Sepuluh menit Sunghoon menatap atap kamar yang penuh lapuk. Ia tidak bisa tidur, tidak saat Jungwon berbaring disebelahnya. Tiga jengkal jaraknya, dan tidak ada apapun yang membatasi mereka, selain pikiran Sunghoon yang melanglang buana.
Itu aneh, untuk merasa berdesir oleh mantan kekasih kita. Meskipun tak dapat dipungkiri, mereka berakhir bukan karena tidak adanya perasaan, lebih kepada situasi yang tak mendukung hubungan mereka.
Sunghoon saat itu hanya pegawai kantoran yang bekerja dengan jam teratur. Gajinya cukup untuk dirinya sendiri, dan ia tak memiliki pekerjaan sampingan untuk menunjang perekonomiannya.
Jungwon adalah seorang perintis usaha kecil, sebuah bakery yang dibangunnya dari ilmu tata boga yang ia pelajari sewaktu bekerja diluar negri. Usahanya berkembang pesat dan ia bahkan sudah memiliki beberapa supplier tetap.
Tidak ada yang salah dari hubungan mereka, kecuali fakta bahwa Jungwon ingin menikah.
Lima tahun berpacaran, Jungwon rasa sudah bukan lagi waktunya main-main. Tapi Sunghoon, belum siap.
Ia ingin memberikan kehidupan yang lebih dari layak untuk Jungwon. Kehidupan dimana Jungwon tidak perlu pusing bekerja dan mengalami stress setiap malam atau burn out karena terlalu banyak pikiran. Ia tahu Jungwon tak pernah betul-betul menyukai apa yang ia tekuni saat itu. Semua semata-mata demi pencaharian demi hidup yang cukup.
Jungwon pernah mengatakannya, ia ingin hidup tenang dan kaya.
Sunghoon jauh dari kekayaan. Ia bahkan masih terbebani kredit untuk mobil sedan kecilnya.
Saat itu Sunghoon hanya menunda-nunda. Jungwon meyakininya bahwa tidak apa-apa, ia bisa bekerja. Tapi Sunghoon adalah pemuda jatuh cinta, cintanya pada Jungwon membawa ia ke tahun ketujuh mereka berpacaran tanpa cincin sekalipun. Jungwon lelah, Sunghoon tak melakukan apa-apa.
Mereka putus dengan Jungwon yang menangis dikamar, didalam pelukan Sunghoon. Sunghoon saat itu kehabisan kata-kata, kehilangan kemampuan membujuknya. Saat itu jadi malam sekaligus pelukan terakhir mereka, pun akhir dari tujuh tahun hubungan mereka.
Kini ia berbaring di sebelah orang yang sama. Di ruangan gelap lembap, dengan situasi hidup dan mati.
Rasanya kembali sesak. Tiga bulan terakhir ia menyesali segalanya. Tapi juga cukup terlambat untuk datang kepada Jungwon yang sedang dalam fase terbaiknya. Sunghoon penuh ketidakpastian hingga tiga bulan berlalu dengan mereka berusaha menghapus satu sama lain dalam ingatan.
Lalu tiba-tiba saja wabah datang. Seluruh negri penuh chaos, terutama kota padat penduduk tempat mereka tinggal, Seoul, menjadi kota dengan serangan paling massive.
Pemerintah menjanjikan perlindungan, tapi yang Sunghoon ingat, mereka menjadikan rakyat sebagai tentara.
Mereka bertemu lagi dalam keadaan Jungwon membawa adik dan teman dekatnya, Sunoo. Adik Jungwon, Juhoon, sudah beranjak remaja. Sunoo merupakan teman yang membantu bisnisnya. Sunghoon tahu, sebab ia selalu mengupdate dirinya tentang kabar sang mantan.
Sedang Sunghoon selalu berjuang sendirian, sejak wabah itu menyebar. Ia memang selalu sendiri, tidak ada teman tidak ada keluarga. Ia tak memiliki seseorang yang ia perlu lindungi. Jungwon punya, dan saat itu Jungwon memohon bantuan kepadanya. Bukan untuk perlindungan kepada dirinya sendiri, melainkan untuk Juhoon dan Sunoo. Self-less. Tipikal Jungwon.
Sunghoon menanggung kepercayaan itu, karena ia tahu ia tak mampu bertahan sendirian. Juga karena ia peduli pada Jungwon. Pada apapun yang berarti bagi Jungwon.
Tapi kemudian di hari ke-5 mereka berjuang bersama, Juhoon tidak terselamatkan. Adik Jungwon itu terseret salah satu zombie, Sunghoon berusaha menyelamatkan tapi kumpulan zombie terlalu banyak, berakhir dengan Jungwon yang menariknya karena Juhoon yang siap berkorban. Jungwon menangis 3 hari lamanya, dia tidak makan ataupun minum. Wajahnya pucat pasi, kondisinya memprihatinkan, tapi Sunoo manjaganya dengan baik.
Dua hari kemudian, Sunoo temannya direnggut dari hidupnya. Bukan zombie, melainkan peluru yang menyasar oleh tentara yang konon berusaha melindungi mereka. Bullshit.
Tentara itu hendak membunuh mereka semua, mereka tidak peduli keselamatan rakyat yang berjuang. Mereka lebih peduli pada keselamatan yang memberi perintah.
Jungwon berduka kembali, namun kali ini, Sunghoon tak bisa membantunya. Jungwon total mengisolasi diri, dengan Sunghoon yang menyiapkan makanan dan minuman untuknya. Untungnya meskipun berduka, Jungwon tetap peduli pada dirinya sendiri.
Hari ini, semua lebih baik. Sebagai seseorang yang realis, Jungwon mampu melalui hari-hari meskipun berat. Kehilangan seseorang yang berarti bukan hal yang mudah untuk dilupakan, tapi Jungwon berkata lebih baik bertahan tanpa harapan ketimbang menyia-nyiakan pengorbanan orang-orang kesayangannya.
Dan disinilah mereka.
Masih hidup dan tak terluka parah. Meskipun Sunghoon yakin, mereka tak cukup gizi untuk hari-hari mendatang yang akan menguras energi.
"Kau berpikir dengan sangat ribut, Park." suara Jungwon memecah putaran kilas baliknya.
Sunghoon menoleh, mendapati Jungwon berbaring miring menghadapnya, dua tangan tercakup dibawah pipi kanannya, karena bantal alas kepalanya lapuk, dan ia benci jerawat.
"Maaf. Aku akan berpikir lebih tenang"
Bagaimana caranya? Jangan tanya. Ia bicara apa saja.
Jungwon mendesah. Berbaring telentang, mengikuti posisi Sunghoon sekarang.
"Sampai kapan kira-kira?" tanya yang lebih muda.
"Aku memiliki teman yang bekerja dimiliter sana, dia bilang akan memastikan kita aman, bukan dipekerjakan"
"Oke. Aku percaya"
Hening kemudian. Hening yang lebih sedikit mencekam bagi Sunghoon, karena ia memiliki seseorang didalam keheningan itu.
"Boleh aku pegang tanganmu?"
Pertanyaan bodoh. Sunghoon tahu.
"Seriously, Park??!"
"Bercanda, maaf. Kepalaku ribut. Katakan sesuatu."
Tawa Jungwon menggema. Tawa yang akhirnya keluar setelah sekian lama mereka berkomunikasi dengan perdebatan.
"Kau bodoh." ujar Jungwon di sisa tawanya.
Sunghoon menggeleng serius. Memperhatikan mata feline yang menyipit gembira. Senang rasanya bisa berdampak sebesar itu. Sebesar pemandangan lesung pipi Jungwon yang mencuat manis di pipi tembam menirusnya. Juga halus bulu mata yang berkedip pelan kepadanya. Dulu, tatapan itu sarat akan godaan. Sekarang, mungkin Sunghoon simpan asumsinya dalam pikiran.
"Tidak itu yang kuharapkan ketika aku menyuruhmu mengatakan sesuatu." celetuknya lagi. Asal dan ringan. Kecanduan membuat Jungwon tertawa. Dan berhasil.
Tawa renyah itu terdengar lagi. Sunghoon mulai mempertimbangkan kumpulan dad jokes dicatatan handphonenya.
"Serius, Park. Tidak lucu." Jungwon berjengit lucu. Pipinya memerah, natural seorang Jungwon.
Sunghoon justru tersenyum. Jungwon adalah tipikal yang omongan dan realitanya sangat kontras. Ketika ia bilang bahwa Sunghoon tidak lucu, artinya ia lucu.
Sunghoon tidak bisa untuk tidak tersipu.
Sial.
Jantungnya berdegub tidak normal.
Kemudian sunyi yang lama. Keduanya menatap atap betah dengan pikiran masing-masing. Lalu Jungwon tiba-tiba menghela nafasnya lembut.
"Omong-omong soal tadi. Aku sungguhan tidak menghindari uluran tanganmu. Situasi memaksa kita untuk bergerak sendiri-sendiri. Dan itu lebih baik, fokus gerombolan zombie itu terbagi."
Sunghoon mengangguk paham. Ia pun tadi terbawa suasana. Bayangan Jungwon berhasil tercabik salah satu manusia kanibal itu membuat Sunghoon marah tak terkendali. Dengan mudah menerima kesalahannya. Ia melirik Jungwon dari ujung matanya.
"Maaf tadi aku hanya kesal." bisiknya kemudian.
Terasa kasur dibawahnya berderit, rupanya Jungwon bergerak menyamping kembali ke posisi tadi. Ia menatap Sunghoon lekat-lekat. Sunghoon mencengkram telapak tangannya gugup. Kepalanya masih menoleh kesamping, membalas tatapan Jungwon tak kalah lekat.
Wajah itu. Wajah yang ia rindukan itu, membelakangi jendela yang samar menyemburkan cahaya temaram bulan purnama. Tapi wajah Jungwon tak kalah bersinar. Matanya penuh kilau yang terakhir Sunghoon ingat, mampu melunturkan seluruh egonya.
Ini tidak adil. Sunghoon tak berdaya. Sunghoon, yang badannya lebih besar dan lebih tegap daripada yang lebih muda, justru yang paling rentan ketika mereka berdua.
Wajah mereka cukup dekat. Sekitar sejengkal hingga Sunghoon mampu menghirup aroma tubuh alami Jungwon. Aroma yang dirindukannya, masih familiar di penghidunya. Jika saja ia tak punya kendali, ia tak segan menarik wajah itu dengan tangan besarnya, dan melumat bibir tipis yang kering akibat minimnya cairan yang mereka konsumsi hari itu.
Tapi Sunghoon cukup tau diri, ia tak berhak atas hal itu.
"Dengar," Jungwon bergumam. Tiba-tiba udara mencekik tenggorokan Sunghoon. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.
"Apapun diantara kita, yang baik kau dan aku harapkan, kita bicarakan nanti. Masih ada entah berapa kilometer lagi. Yang jelas aku mau kita hidup dan bertahan dalam keadaan apapun, Sunghoon."
Namanya lembut dan fasih terselip dari dua belah bibir itu. Sunghoon tidak tau betapa ia merindukan itu. Merindukan namanya disebut tanpa formalitas ataupun marganya. Sunghoon. Hanya Sunghoon. Terkadang Hoon. Terkadang Hoonie. Saat malam dan mereka berbagi ranjang, bisa terdengar lebih manja dan menggoda. Ketika terselip diantara helaan nafas yang lebih muda saat ia memperlakukannya, bisa menjadi pemicu fantasinya.
Ah, Sunghoon terlalu rindu.
Sangat berdosa memikirkan itu semua ketika Jungwon menatapnya dengan tatapan memelas menuntut persetujuan. Sunghoon mengembalikan kesadarannya, lalu mengukir senyum terbaiknya.
Jungwon benar. Yang terpenting adalah keselamatan mereka daripada apapun yang sempat terlintas dipikirannya barusan.
"Benar. Terimakasih untuk itu." Sunghoon berucap setuju.
Dengan penuh keberanian, ia angkat jari-jarinya mendekati wajah Jungwon. Jari-jarinya membelai poni Jungwon yang jatuh miring diatas dahinya yang dulu sering ia kecup dengan romantis.
Ia selipkan helaian halus itu ke belakang telinga yang lebih muda. Betapa ia rindu melakukannya. Jungwon pernah mengatakan, afeksi Sunghoon yang satu itu membuatnya merasa cantik, dan Sunghoon suka menjadi alasan Jungwon untuk lebih percaya diri.
Sunghoon suka Jungwon, segalanya tentang pemuda itu. Ia harap Jungwon tahu, tapi ia tidak sanggup atas beratnya konsekuensi dibalik perasaannya itu. Karena Jungwon sudah kehilangan banyak. Dan meskipun Sunghoon tidak yakin ia memiliki pengaruh sebesar itu, ia tidak ingin Jungwon semakin kesepian, nanti jika sesuatu akan terjadi kepadanya.
"Promise me, Jungwon. Kau sebelum aku. Jangan buat aku menderita seumur hidupku dengan bayang-bayangmu. Aku mudah dilupakan, tapi kau tidak."
Sunghoon berucap dengan nada beratnya. Ia harap Jungwon tidak mendengar, karena ia terdengar sangat frustasi. Dan ia membuka kelemahannya.
Sayangnya Jungwon mendengar. Pemuda itu berkedip pelan, terlalu pelan, terlalu cantik dalam ruangan gelap penuh debu. Sangat tidak pantas, terasa tidak pas. Lalu ia memejamkan mata, siap untuk masuk dalam mimpinya.
"Kau selalu dipikiranku, Sunghoon. Tapi ya, jika itu membuatmu merasa lebih baik. Aku berjanji."
Sunghoon memperhatikan bagaimana lengkungan mata itu tertutup tenang. Nafas yang lebih muda teratur menerpa wajah Sunghoon. Hatinya berdesir, kali ini penuh kelegaan.
Ia pun terpejam. Berusaha bermimpi, bermimpi soal mereka yang berhasil selamat. Hidup di dunia penuh ketenangan dan tanpa kecemasan yang berarti. Menikah dan memiliki anak. Tiga? Empat? Sunghoon ingin banyak.
Karena ternyata rasanya masih sekuat yang terakhir diingatnya.
