Actions

Work Header

Jiwa Kasihku

Summary:

Baca aja deh gw gatau mau nulis apa disini. Intinya ini tuh karakter campuran dari nanyang dan universe lain

Work Text:

"sayaaaang, gantengku sayangku cantikku, bangun dong, matahari aja udah buka cabang kamu masih bobo, aku dobrak ya???"

Haiyan mengerutkan keningnya, telinganya bergerak mendengar suara-suara keributan, matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah pintu berwarna coklat dan bergetar sebab di ketuk dari luar.

"Sayang, kalo kamu gadikasih masuk pak Darma ntar gaboleh ikut ujian"

Haiyan kemudian bangun perlahan, terduduk di tempat tidur kecilnya... dia tidak mengenal tempat ini... dia ada dimana?

Seingatnya ia sedang memeluk Haixia setelah pertarungan yang melankolis.

Steven celingukan, dia tidak berada di gua batu lagi? Dimana Haixia? Dimana dia?

Suara pintu berubah dari ketukan menjadi suara kunci yang terbuka.

"Stev, kamu main game sampe pagi lagi ta?"

 

Haiyan membelalakkan matanya, itu Haixia, berdiri di depannya sambil menenteng ransel, memakai pakaian yang asing di matanya dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

Haiyan turun dari tempat tidur dan setengah berlari memeluk pria di depannya dengan sangat erat.

"Xia... Xiazai..."

"Aduh, yank sesek aku yang" Pria itu memukul-mukul pelan lengan Haiyan yang memeluknya

"Masih pagi yank nanti kita di grebek tetanggamu ini kalo pelukan begini"

Haiyan melepas pelukannya, Haixia di depannya sedikit berbeda, tapi dia masih sangat mirip dengan Haixia yang dia kenal. Bedanya hanya di cara dia berbicara.

Pria itu tersenyum lebar dan mengusak rambut Haiyan

"Udah sana mandi dulu, malah bengong, nanti kita telat"

"Mandi?"

"Kamu gamau mandi?"

Haixia mendekatkan wajahnya ke Haiyan dan menghirup aroma dari leher Haiyan membuat Haiyan terkejut dan menarik dirinya. Sejak kapan Haixia...

"Gapapa sih, kamu masih wangi, tapi wangi kamu ini kan cuman boleh mas yang ngerasain dek" Haixia memeluk pinggang Haiyan dan tersenyum manis

Jantung Haiyan rasanya berdetak sangat kencang dan keras. Wajahnya memerah membuat Haixia terkekeh geli.

"Dah sana mandi" Haixia melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Haiyan, Haixia membalik badan Haiyan dan memukul pelan bokongnya membuat Haiyan semakin terkejut

"Eh tolong ambilin itu, KTM mas di atas tempat tidurmu"

Haiyan melihat ke arah benda yang tergantung di dinding di atas tempat tidurnya. Haiyan mengambil benda itu dan membaca nama di atasnya

"Ryan... Kurniawan?"

Nama yang asing, tapi ada foto Haixia di sebelahnya. Haiyan kemudian mengambil KTM yang satunya. Ada fotonya, dan namanya

"Steven.... Christian...?"

Dia ada dimana sebenarnya.

 

........

 

"Yank aku masuk siang, kalo mau nemuin aku di tempat biasa ya"

Haixia atau Ryan memarkirkan motor Vespanya. Haiyan turun dari motornya, awalnya dia pikir itu adalah kuda tapi bentuknya sangat aneh. Namun Haiyan hanya diam, dia masih sangat bingung.

Ryan masih di atas motor menyadari Haiyan atau Steven yang dia kenal, belum membuka helmnya. Ryan mengulurkan tangannya dan membantu Steven membukanya.

"Kamu kenapa diem aja daritadi? kalo kamu gaenak badan mas bisa bilang kamu izin dek"

Satu lagi yang Haiyan bingung, Haixia memanggil dirinya mas dan menyebut dirinya dek. Bukankah namanya Ryan? Apa itu semacam sebutan?

"M- mas"

Ryan menaikkan alisnya dan menyunggingkan senyum mendengar Haiyan memanggilnya

"Hmm???"

Haiyan mengulum bibir bawahnya, kenapa sebutan itu malah membuatnya deg-degan?

"Mas... baik-baik aja kan?"

'Xiazai? Kamu baik-baik saja kan?"

Ryan mengerutkan keningnya sekilas dan berdiri, menatap pria yang sedikit lebih pendek darinya dengan senyum manis yang menenangkan hati Haiyan

"Mas baik-baik saja dek, kan yang mas tanya kamu, kamu ndak sakit?"

"Ndak sakit?"

"Iya, sakit atau gak?"

Haiyan tiba-tiba pusing dan membuatnya sedikit oleng

"Eh dek, kamu sakit beneran tah??"

Ryan menangkap tubuh Haiyan, nafasnya Haiyan tiba-tiba berat dan dia menutup matanya.

.....

"Haiyan... aku berjanji akan melindungimu dimanapun dan kapanpun"

"Xiazai!" Haiyan terbangun dan suaranya membuat Ryan terbangun juga.

"Dek? Kamu udah sadar? darahmu rendah jangan bangun tiba-tiba"

Ryan menghampiri ranjang pasien Haiyan dan membantu pria itu berbaring dengan perlahan.

"Aaah" Haiyan memegang kepalanya dan meringis

"Kepalanya sakit? Bentar mas panggil dokternya"

Ryan yang hendak pergi di tahan tangannya oleh Haiyan

"J- jangan pergi"

Ryan merasa pegangan tangan itu terasa seperti cengkraman. Ryan kemudian menarik tubuh Haiyan ke pelukannya. Haiyan memeluk tubuh Ryan dan menangis.

Ryan mengusap rambut Haiyan dengan lembut dan memberikannya kata-kata penenang

"Iya iya mas disini dek, mas gak ninggalin kamu, jangan sedih ya sayang"

Ryan menunduk dan memberikan ciuman ringan di kepala Haiyan dan dalam beberapa saat pria itu tenang, tertidur lelap lagi di atas ranjangnya.

Ryan menghela nafasnya dan tersenyum. Pria itu menarik kursi kecil untuknya duduk di sebelah ranjang Haiyan. Tangannya kemudian menggenggam hangat tangan Haiyan dan menciumnya dengan lembut.

"Cepet sembuh ya dek, mas khawatir sama kamu"

--------

 

Sudah hampir 2 Minggu Haiyan menjalani hidup dengan identitas barunya. Seorang mahasiswa semester 3 Fisip, dan Haixia yang di dunia ini bernama Ryan berada di semester 5. Banyak hal yang membuatnya terkejut. Ini bukan kota Xia, bahasanya berbeda tapi dia mengerti.

Tahunnya juga berbeda, bukan lagi di tahun 1800-an tetapi 2000-an

Makanan yang berbeda, suasana yang berbeda, dan XiaZai...

Xiazai masih sangat menyayanginya. Dan setelah dia mencari tau panggilan mas dan dek itu seperti panggilan sayang orang yang di mabuk asmara atau pacaran. Dan satu hal yang ia masih belum percaya sepenuhnya adalah, dia dan XiaZai itu sepasang kekasih.

Benar, kekasih...

Sepertinya kasih sayang XiaZai di dunia ini pada dirinya sedikit melampaui ekspektasinya.

Tapi apa dia menerimanya? Dia menerimanya, dia suka saat Haixia memanjakannya. Haixia suka datang ke tempat yang ia baru tahu bernama "kos-kosan" sambil membawa makanan. Kadang mereka menonton film di layar lebar bernama bioskop. Haixia takkan melepaskan tangannya dimanapun.

Dia juga mulai menyukai sama Haixia menciumi wajahnya dengan lembut dan agresif disaat yang bersamaan.

 

"Kamu mau eskrim?"

Keduanya sedang berjalan-jalan malam itu, karena permintaan Haiyan. Padahal Ryan sebenarnya ada janji nongkrong, tapi kalo pacar lucu dan menggemaskannya yang minta dia mana pernah nolak. Mana belakangan Haiyan beda banget dan lebih kalem.

Tapi sebenarnya seiring waktu Haiyan udah mulai munculin sifat playful dia lagi.

"Enggak, aku mau jalan-jalan aja. Nanti mau mie kuah"

Ryan menjentik pelan kening Haiyan membuat Haiyan cemberut dan melirik ke Ryan

"Mie terus, gaboleh. Udah hampir seminggu kamu mie terus"

Pertama kali Ryan membawakan mie kuah di dalam plastik ke kosan Haiyan, Haiyan memutuskan bahwa makanan itu adalah makanan favoritnya sepanjang masa.

Melihat Haiyan yang cemberut, Ryan justru mengambil kesempatan dan mengecup bibir Haiyan

"Mas ih!"

Haiyan sudah mulai terbiasa memanggil Ryan dengan sebutan mas.

Ryan tertawa puas sebab berhasil mencium bibir merah delima Haiyan.

"Dingin gak? Mau pake jaket mas?"

Haiyan menggeleng lagi, matanya menyapu kawasan itu, banyak booth booth makanan di sepanjang jalan. Kafe-kafe dan tempat karaoke serta tempat perbelanjaan.

Haiyan mulai sadar di dunia ini cahaya bulan sudah digantikan gemerlap lampu dari berbagai sumber. Mobil, motor, lampu lalulintas, lampu-lampu di setiap titik.

Haiyan mengeratkan genggamannya pada lengan Ryan, apakah dia bisa melihat bintang disini?

Dia dan Haixia sering duduk di atas atap minum arak dan menikmati malam menatap bintang-bintang yang menemani bulan memberikan cahaya pada penduduk bumi.

Haiyan menghela nafasnya, Ryan yang menyadari itu kemudian mengusap kepala Haiyan dengan lembut

"Kamu capek?"

"Sedikit, aku mau duduk"

Ryan mengangguk, mereka kemudian duduk di sebuah kursi panjang.

Haiyan menyederkan kepalanya ke bahu Ryan, dan Ryan memeluk pundak Haiyan.

"Dek, kalo misalnya kamu ninggalin mas... mas bakalan nyusul kamu deh kayaknya"

Haiyan tidak langsung mengerti perkataan Ryan

"Mas gabisa di tinggalin sama kamu. Mas sesusah itu yakinin kamu kalo mas sayang sama kamu, kamu terlalu banyak luka masa lalunya. Dan mas udah hampir nyerah waktu itu..."

Haiyan mendengar dengan seksama, secara tidak langsung dia jadi mengetahui hubungan mereka sebelumnya.

"Mas..."

"Mmm?"

"Ceritain lagi, gimana kita akhirnya pacaran"

Ryan tersenyum, diambilnya tangan Haiyan dan di genggamannya dengan hangat.

"Tangan ini dulu, susah sekali mas pegang. Kamu menolak, kamu tidak percaya"

Haiyan menatap tangan Ryan dan tangannya yang menyatu.

"Apalagi waktu itu kamu di gangguin terus sama orang-orang itu, mas sampe sekarang sebel sama mereka..."

"Kenapa mas sebel?"

"Ya karena mereka bikin kamu down dek, mereka fitnah-fitnah kamu, bilang kamu ga pantes bilang kamu terlalu inilah itulah, mas kesel pokoknya"

Haiyan bisa melihatnya, memori itu tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia ingat bagaimana orang-orang itu adalah orang-orang yang menyukai Ryan, dan berusaha menjauhkan mereka berdua.

Satu lagi hal tentang mereka yang Haiyan tau.

.....

 

Beberapa bulan berlalu, memori-memori kecil mulai memasuki pikiran Haiyan. Kadang lewat mimpi kadang secara tiba-tiba.

Namun belakangan ini ada mimpi lain yang menggangunya.

Dia mendengar suara gurunya, gurunya di masa dia adalah Haiyan, Zhang Haiqi.

Dalam mimpinya ia tidak melihat sosok gurunya, hanya suara yang menyuruhnya pulang.

Dia mulai menyambungkan hal-hal ini ke kemungkinan mengapa dia bisa ke dunia ini.

"STEVEN HAMPIR MATI GARA-GARA KALIAN SEKARANG KALIAN NDAK TAU MALU MINTA BANTUAN DIA?"

Haiyan membuka matanya, suara itu adalah suara Ryan, berteriak seperti memarahi seseorang dengan aksen yang kental, dia sedang memaki siapa?

Pintu kos tertutup, tapi Haiyan bisa lihat sekilas Ryan di depan melalui jendela kecil di samping pintu kosnya. Ada beberapa orang lagi yang tengah berhadap-hadapan dengan Ryan tapi Haiyan tidak mengenal mereka.

Haiyan turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu.

Tepat saat ia hendak membuka pintu, Ryan sudah membukanya. Ryan menatapnya dengan khawatir

"Stev" Ryan menangkup wajah Haiyan yang menatapnya dengan bingung. Ryan memeluk Haiyan dan dia bisa melihat orang-orang di depan kosnya. 2 orang wanita paruh baya, seorang anak laki-laki dan 3 orang pria berumur.

"Steven, nak. Tolong bantu tantemu ini"

Ryan melepas pelukannya, berbalik dan menggeser tubuh Haiyan ke belakang tubuhnya, menutupinya dari orang-orang itu

"Kalian gak pergi juga? opo tak celuk satpam men di seret kon Kabeh??!"

Haiyan tidak mengerti dengan apa yang Ryan katakan, tapi terdengar seperti peringatan keras.

"Ryan, kamu ini gaada hak buat menentukan keputusan Steven"

"Benar, kalau Stev mau memberikan rumah itu-"

"Bajingan! Pergi kalian semua, men tak telfon polisi kalo kalian masih ngeyel"

Ryan mengeluarkan ponselnya dari sakunya, seluruh tubuhnya terlihat kaku karena marah. Haiyan kemudian memutar tubuh Ryan perlahan.

"Jangan marah-marah, nanti kamu cepet tua mas"

Haiyan mengusap kening Ryan yang mengkerut

"Jelek banget kamu" ucapnya kemudian tertawa pelan.

Ryan menghela nafasnya.

"Maaf, jelek banget ya? Kamu takut?"

Takut? Haiyan sangat takut. Dia teringat dengan XiaZai yang terpengaruh oleh makhluk aneh itu, sampai dia harus membunuhnya.

"Mmm, takut. Jangan begini lagi ya?"

Ryan menoleh ke arah orang-orang yang masih diluar

"Pergi kalian, aku wes nyeluk polisi, nek ngeyel men di seret, terserah"

Ryan menutup pintu kosan Haiyan.

 

Orang-orang itu sudah pergi, Ryan dan Haiyan duduk bersebelahan, tangan Haiyan digenggam seperti biasa, dengan lembut dan hangat.

"Semenjak mama kamu meninggal, mereka mulai mencari tau tentang warisan-warisan yang di tinggalkan mamamu. Padahal mereka yang membuatmu dan mamamu hidup dalam neraka"

Wajah Ryan kembali terlihat marah, dan cerita itu mulai membentuk memori-memori di kepala Haiyan.

Mama Steven di dunia ini di fitnah berzina dengan laki-laki lain. Sosok Steven di percaya sebagai anak haram. Papa nya percaya dengan omongan keluarga besarnya dan mengusir mama Steven saat sedang hamil tua.

Saat itu musim hujan, banyak jalanan tergenang dan banjir. Penyakit dimana-mana.

Mama Steven berupaya melindungi dirinya dan anak di kandungannya. Dia memiliki sedikit tabungan dan mengontrak rumah kecil di gang sempit. Di keadaan yang seperti itu dia masih harus mencari uang untuk persalinan dan kelahiran anaknya nanti.

Disitulah mama Steven bertemu dengan keluarga Ryan. Ryan berumur satu tahun saat dia dan mamanya melihat kelahiran Steven.

Ryan kecil langsung menyukai Steven yang masih di dalam inkubator. Dia berontak ingin masuk ke dalam bersama Steven setiap mamanya menggendong nya mendekati inkubator.

Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Steven tumbuh menjadi anak yang ceria dan penuh dengan ide gila, sementara Ryan selalu menjadi batas kewarasannya.

Steven berulangkali gagal dalam percintaan, disakiti dan di hina-hina yang berakhir dalam pertengkaran.

Ryan menunggu waktu lama untuk memastikan perasaannya pada Steven, dia berharap perasannya bukan sekedar perasaan sementara.

 

Setelah sekian lama Ryan berani menyatakan cintanya pada Steven, malam itu walau waktunya kurang tepat. Karena Mama Steven meninggal dunia akibat penyakit kanker payudara yang di deritanya sejak lama. Dia berjanji akan menjaga Steven. Dan pada pagi dia membuka kosan Steven karena dia khawatir Steven akan mengakhiri hidupnya, sebab hubungan mereka yang melalui banyak rintangan.

Ryan ingin memeluknya tapi Steven yang lebih dulu menghampirinya saat itu dan memeluknya erat.

 

Haiyan mendengarkan Ryan tanpa memotong satu kalimat pun.

Ryan mencintai Steven seperti dia menyayangi Haixia. Berjanji menjaga satu sama lain.

Haiyan menoleh ke Ryan, menatap mata pria itu

'bagaimana kalau Ryan kemudian menyadari bahwa dia bukan Steven?' pikiran itu seketika membuatnya sedih.

Kalau dia kembali ke dunianya? apakah Steven tetap hidup?

"Steven..."

Itu bukan dia, bukan namanya yang di sebut Ryan.

Haiyan mendorong Ryan pelan, naik ketempat tidur dan berbaring menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut

"Steven, kenapa?"

Ryan menghampiri Haiyan

"Aku mau sendiri, tolong kunci pintunya"

Ryan menatap Haiyan sebentar sebelum dia keluar dari kosan dan mengunci pintunya.

Ryan duduk di teras kosan Haiyan dan mengeluarkan sebuah permen dari sakunya.

"Aku harap dia tidak meninggalkanku untuk yang kedua kalinya" dia mendesah dan bergumam sebelum memakan permennya.

.
.
.

Malam itu Haiyan gelisah dalam tidurnya, mimpi buruk menghampirinya. Dia melihat lagi bagaimana Haixia mati, seperti kaset rusak yang terus memutar bagian yang sama. Haiyan terus menerus memanggil Haixia, kakinya terasa berat melangkah.

"Hailou"

Haiyan menoleh mendapati gurunya disana

"G- guru?"

"Ayo kembali, jiwamu pergi terlalu jauh"

Satu sosok lagi berdiri di belakang gurunya, mengenakan jubah serba hitam dan membawa dua pedang di punggungnya

"Dia..."

"Zhang Qiling, ketua suku Zhang. Kami mencari jiwamu kemana-mana, akhirnya ketemu. Ayo kembali"

Haiqi menarik tangan Haiyan namun ditahan

"T- tunggu, apa yang terjadi dengan Steven, apa Steven akan kembali?"

Haiqi hanya diam tapi Qiling menjawab

"Steven sudah lama mati. Jiwamu yang membuat dia hidup"

Haiyan terdiam, kalau dia pergi. Ryan akan mendapati Steven tanpa nyawa. Bagaimana Ryan akan bereaksi? akan seperti apa nasib Ryan kedepannya?

 

"Kau kenapa? Kau ragu? Kau sudah gila ya? Tempatmu bukan disi-"

"Dek? Steven?"

Mereka menoleh mendapati Ryan berdiri tak jauh dengan wajah bingung

"Dek, kamu mau kemana? Mereka siapa?"

"M- mas..."

Haiqi menghela nafas kasar

"Maaf Tuan, pria ini bukan Steven, dia juga bukan berasal dari dunia ini, dia akan kami bawa kembali" jelas Haiqi

"Apa maksudmu?"

Ryan berjalan mendekati mereka dan menarik tangan Haiyan

"Kalian siapa?" Tanya Ryan lagi, wajahnya benar-benar marah

"Kau benar-benar mirip Haixia" ucap Haiqi tidak percaya

"Siapa?"

"M- mas... aku mau bicara, guru bolehkah?"

Haiqi melipat tangannya di depan dada dan berjalan mundur bersama Qiling.

 

"Ini dimana dek, kok mas kaya mimpi"

Haiyan menelan ludahnya kasar, dia bingung harus darimana menjelaskan.

"Aku bukan Steven, Ryan"

Ryan mengerutkan dahinya, mempertanyakan pernyataan Haiyan.

"Namaku Haiyan, Zhang Haiyan. Steven... Steven meninggal dalam tidurnya dan entah bagaimana jiwaku masuk kedalam tubuhnya"

Ryan memegang kepalanya, berusaha memahami informasi aneh ini.

"Maaf, aku sudah membohongi mu. Aku berterimakasih karena kamu sudah menunjukkan banyak hal padaku ak-"

Haiyan menahan nafasnya, kalimatnya terpotong karena Ryan memeluknya dengan erat

"Dek... mas ga peduli kamu siapa, mas tau itu kamu. Mas sayang sama kamu dek, mas gapernah ngerasa kamu beda dek. Tolong jangan tinggalin mas"

Air mata Haiyan ikut luruh saat mendengar isakan tangis Ryan, Haiyan menahan dirinya untuk tidak memeluk Ryan.

Tapi ini bukan dunianya, dia tidak bisa seenaknya mengambil alih kehidupan orang lain walaupun orang itu sudah meninggal. Ditambah dia memiliki kehidupannya.

"Mas ak-"

Haiyan mengerutkan keningnya, dia melihat seseorang di belakang Ryan.

"Steven" ucapnya lemah

Steven tersenyum dan menaruh jari telunjuk di bibirnya

"Jaga dia untukku" bisik Steven dari kejauhan sebelum tubuh itu menghilang.

Haiyan terdiam, apa yang harus dia lakukan sekaran?

Haiyan mendorong pelan tubuh Ryan, wajah pria itu sudah basah karena air matanya, hidung dan matanya memerah.

"Dek, mas gapeduli kamu siapa... dari awal mas gapernah ngerasa kamu berbeda, mas percaya... Kamu dan Steven adalah satu orang yang sama, mas percaya dek. Tolong jangan pergi"

Waktunya semakin sedikit

"Zhang Hailou, buat keputusan"

"Apa? Keputusan? Tidak kau harus kembali ke tempatmu semula"

"Haiqi, aku tidak melihat ada masalah"

Mata Haiqi berkaca-kaca, bagaimanapun dia tidak ingin Haiyan pergi.

Haiyan melihat ke Ryan dan gurunya bergantian.

Dan setelah pikirannya bergumul untuk mengambil keputusan ia akhirnya yakin dengan keputusan yang ia ambil.

........

Haiqi duduk di teras rumahnya, Zhang Qiling di sebelahnya

"Hailou, bawakan aku minumannya"

"Ya guru"

Qiling menatap wanita itu

"Kau sudah terbiasa sepertinya"

Haiqi mengupas kuaci satu persatu dan menaruh isinya dalam mangkuk kecil

"Yah, benar-benar sebuah pengalaman yang aneh, tapi aku bersyukur"

Seorang laki-laki muda menghampiri Haiqi dan Qiling, menaruh satu botol berisi arak di atas meja

"Dimana Haixia?" Tanya Haiqi

"Dia tertidur saat sedang belajar"

"Lalu kau tidak belajar?"

Anak yang dipanggil Hailou itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

"Eng... Yaaah"

"Kembalilah, bawa Haixia tidur di kamar, istirahat saja malam ini"

Anak laki-laki itu mengangguk dan tersenyum, dia kemudian berlari ke dalam rumah.

"Kenapa memberikan nama yang sama lagi?" Tanya Qiling menuangkan arak ke cangkir kecil.

"Hanya pembaruan" jawab Haiqi acuh tak acuh.

Tamat.