Actions

Work Header

Space Between Us

Summary:

Di balik ketenangan dorm setelah hari yang panjang, Youngjae mendatangi kamar Dohoon hanya untuk mencari kenyamanan.

Notes:

Seluruh cerita, plot, dan interaksi di dalamnya adalah fiksi dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata para idola asli.

Work Text:

Waktu istirahat setelah melewati hari yang panjang benar-benar disyukuri karena akhirnya bisa melepas beban yang sedari tadi mengganjal dan membuat badan sedikit rileks.

Aktivitas di dorm saat ini cukup tenang. Semua member saat ini sudah berada di kasur masing-masing. Tidak terkecuali Dohoon yang menyandarkan punggungnya ke bantal dengan badan membelakangi pintu. Saat ini sedang menonton tayangan YouTube dari channel favoritnya. 

“Dohoon…” panggil Youngjae pelan, tidak mau mengagetkan Dohoon yang sedang terpaku pada ponselnya.

Merasa ada yang memanggil, ia menjeda video yang sedang ditonton lalu perlahan memutar posisi agar menghadap orang tersebut. Ia ingin melihat siapa yang memanggilnya tanpa sebutan hyung. Dohoon mendapati Youngjae berdiri di depan pintu, menunggu Dohoon menyadari keberadaannya. Begitu Dohoon menatapnya, Youngjae mendekat.  Namun sebelum itu ia menutup pintu lebih rapat. 

Setelah berdiri tepat di depan Dohoon, Youngjae langsung naik ke kasur tanpa meminta izin. Dohoon, yang sedari tadi hanya mengawasi pergerakan Youngjae, menggeser tubuhnya agar Youngjae bisa duduk dengan nyaman.

Youngjae belum mau bersuara atau mengungkapkan alasannya datang ke kamar Dohoon, kamar yang sebenarnya dibagi bersama Jihoon. Ia juga belum menjelaskan mengapa Jihoon sudah tidak kelihatan di sana. Youngjae lalu merebahkan diri, memosisikan tubuhnya lebih rendah dari posisi duduk Dohoon. 

Sebenarnya Dohoon tidak merasa perlu menanyakan alasan Youngjae. Ia membiarkan Youngjae tidur dengannya malam ini karena momen seperti ini jarang terjadi. Namun jika ia tidak membuka suara, Youngjae pasti berasumsi lain dan berpikir bahwa Dohoon cuek padanya. 

“Jae, kamu lagi kenapa deh?” tanya Dohoon.
“Nggak apa-apa. Kamu lama banget diemnya. Nggak langsung tanya pas aku masih berdiri di pintu,” cecar Youngjae panjang lebar.

Dohoon terkekeh pelan.

“Aku nggak apa-apa kalau kamu datang mau tidur bareng aku tanpa alesan. Makanya aku nggak tanya langsung pas kamu datang,” jawab Dohoon.
“Nggak heran apa ke mana perginya Jihoon?” tanya Youngjae. Sebelum Dohoon sempat menjawab, Youngjae melanjutkan ucapannya.
“Yang lain loh, ada kesempatan dikit dipakai nyariin gitu. Kamu anteng-anteng aja kayak nggak sayang…” ucap Youngjae dengan suara yang kian mengecil hampir tak terdengar.

Beruntung Dohoon memiliki pendengaran yang tajam sehingga bisikan Youngjae masih bisa ia dengar.

“Suara kamu sengaja kecil begitu biar kita makin rapet ya duduknya? Rapet gimana lagi deh, ini aja udah nggak ada jarak?” kekeh Dohoon.
“Belum dijawab pertanyaan tadi, udah nanya yang lain,” keluh Youngjae. 

Tanpa aba-aba, Dohoon memegang kepala Youngjae lalu mengecup sekilas puncak kepalanya.

“Gemes banget sih,” ujar Dohoon.
“Ishhh…” sahut Youngjae kesal. Lebih tepatnya, Youngjae salah tingkah. 

Tidak mau mengulur waktu lagi, Dohoon merangkul bahu Youngjae sebelum menjawab pertanyaannya.

“Nggak perlu heran nggak sih, Jae, Jihoon ke mana? Udah pasti ke kamar kamu sama Shinyu hyung. Ke mana lagi coba? Nggak mungkin ke kamar Kyungmin sama Hanjin. Mau jadi nyamuk dia?” ujar Dohoon panjang lebar.
“Loh, kamu tahu soal mereka?” tanya Youngjae heran.
“Soal siapa nih? Kalau soal Shinyu hyung sama Jihoon kan kita semua yang cecer mereka waktu itu, jadi udah pasti tahu. Kalau soal Kyungmin sama Hanjin, mereka udah mau cium-cium terus tiap deketan. Gimana nggak nyadar?” jawab Dohoon.

Youngjae terkekeh mengingat betapa jelasnya kelakuan kedua pasangan tersebut dalam mengumbar kedekatan mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, mengapa semua orang di grup mereka memiliki perubahan ekspresi mirip yang sangat gampang terbaca, baik saat sedang kesal, senang, maupun merasakan hal lainnya?

“Mikirin apa? Nggak perlu dipikirin terlalu keras,” tegur Dohoon khawatir sambil mengelus lembut dahi Youngjae yang berkerut.
“Nggak penting, kok. Oh ya, kamu nggak lanjut nonton?” jawab Youngjae.
“Nggak nonton lagi. Ada kamu di sini, ngobrol sama kamu lebih penting,” Dohoon menjeda omongannya untuk memeluk Youngjae dari samping sebelum melanjutkan.
“Apa pun yang lagi kamu pikirin tadi, kalau belum bisa kamu bagi, nggak apa-apa. Tapi yang harus kamu tahu, aku di sini siap dengerin kamu kapan aja. Jangan pernah merasa aku nggak sayang kamu. Aku kadang nggak samperin kamu bukan karna nggak sayang, tapi mau kasih kamu space biar kamu juga punya waktu sendiri…” 

Dohoon belum sempat menyelesaikan perkataannya ketika dikejutkan oleh tepukan yang cukup keras di pahanya.

“Awww!” keluh Dohoon.
“Maaf, nggak maksud,” ucap Youngjae merasa bersalah sambil mengelus paha Dohoon.
“Udah malem, jangan bikin nangis. Makasih udah sayang sebegitunya sama aku. I don’t deserve this,” tambah Youngjae dengan suara yang sedikit bergetar.
“No… jangan ngomong gitu. Kamu deserve dapetin semua cinta di dunia. Love you,” ucap Dohoon tulus.
“Love you too,” balas Youngjae sambil memeluk balik Dohoon lebih erat.