Work Text:
The One That Got Away
.
SAWAMURA EIJUN
Alarm pagi yang berbunyi terlalu nyaring membuat Eijun mengerjapkan matanya dan dia mulai terbangun. Seluruh tubuhnya terasa kaku setelah tidur selama 10 jam dan dia mulai menggerakkan tubuhnya. Gorden kamarnya masih tertutup rapat, sehingga matanya tidak langsung buta karena sinar matahari. Tangannya berusaha meraih alarm di ponselnya yang berada di nakas dan mematikannya.
Dia menguap lebar dan kembali tidur.
"Kenapa kau kembali tidur…?" gumam seseorang di sebelahnya.
Eijun bahkan tidak mau membuka mata. "Karena aku capek. Kita akan beristirahat dan karena itulah Bangsa Romawi menciptakan Hari Minggu."
Eijun mendengar seseorang terkekeh. "Bangsa Romawi? Kupikir Orang-Orang Kristen-lah yang menciptakannya, karena Hari Minggu adalah Hari Sabat."
"Ya Tuhan Yuu!" Eijun berseru sambil membalikkan badannya, sampai dia berhadapan dengan teman tidurnya. "Apa kau benar-benar harus berceramah di pagi hari ini?" Eijun bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mulut Eijun dibungkamnnya dengan sebuah ciuman ringan dan manis di pagi hari. Eijun praktis bungkam, karena ciuman dari suaminya adalah hal termanis yang selalu didambakannya. "Oke," katanya sambil tertawa. "Kau menang. Hari Minggu diciptakan oleh Orang Kristen."
Mereka berdua tertawa. Dan, ketika Eijun menuntut sebuah ciuman lagi, suaminya bangkit. "Kita harus bangun dan bersiap-siap," katanya.
Eijun mengerang dan menghempaskan diri ke kasur. "Apa kau serius? Aku baru bisa tidur nyenyak 10 jam terakhir karena aku sangat merindukan suamiku. Jadi, kurasa aku bisa mendapatkan keringanan hari ini?"
Suaminya hanya tertawa dan berjalan untuk membuka gorden. Sinar matahari menyinari seluruh kamar mereka dan Eijun harus menyipitkan mata karena silau. "Kau ada jadwal Seminar hari ini," katanya.
Eijun mengerang. Benar juga, dia punya sebuah kesibukan. "Kanemaru akan membunuhku kalau aku terlambat," gumamnya. Lalu, dia kembali menatap suaminya. "Yuu, hari ini kau akan datang juga kan? Ketika tour kemarin, kau tidak ikut karena harus mengurus mahasiswa, tapi ini hari Minggu!" ujar Eijun sambil bangkit. Dia berjalan bersama suaminya keluar dari kamar.
"Hmm, bagaimana yaa?" gumam suaminya sambil pura-pura berpikir. Mereka berdua menuju dapur. Eijun mematikan lampu-lampu dan membuka gorden, sementara suaminya membuka pintu kulkas dan mengambil bahan makanan untuk sarapan.
"Ayolah. Aku sudah tersiksa 2 minggu tour tanpa dirimu. Ugh, setiap hari aku hanya mendengar kecerewetan Kanemaru dan aku sudah setengah tuli. Kita bisa berkencan setelah Seminar, bagaimana?" usul Eijun.
"Aku harus pergi ke supermarket. Bahan-bahan makanan kita sudah habis dan kau bisa lebih menjengkelkan dari bayi kalau lapar," ujar suaminya.
Eijun mendengus. "Glukosa itu sumber energi, tahu. Aku butuh otakku bekerja maksimal supaya aku bisa menulis cerita yang bagus."
"Karena itu, aku harus pergi ke supermarket."
"Tapi asupan glukosa bisa kutahan asal kau pergi bersamaku hari ini. Kumohon. Rasanya sudah lama sekali kita tidak pergi bersama. Iya kan?" desak Eijun.
Kalau intonasi suara Eijun sudah seperti itu, suaminya tidak bisa menolak. Akhirnya, dia mendesah. "Oke. Tapi aku akan menyusul nanti. Kau kirimkan saja nama tempatnya."
Eijun bersorak heboh. Dia menghampiri suaminya, menciumnya dengan basah dan panas dan berantakan, sebelum dia berlari ke kamar mandi untuk mandi.
"Jangan mandi terlalu lama!" seru suaminya, yang sudah jelas tidak Eijun dengar.
.
TAKIGAWA CHRIS YUU
Manager Eijun, sekaligus salah satu agen dari penerbit yang menerbitkan buku-buku Eijun telah menanti di Ruang Tamu. Namanya Kanemaru Shinji. Dia adalah seorang pria yang masih muda, mungkin seusia dengan Chris dan Eijun, berambut pirang dan berwajah sedikit garang.
"Maaf karena lagi-lagi aku mengganggu Hari Minggu kalian berdua," ujar Kanemaru sopan.
Chris tersenyum. "Aku maklum. Para pembaca dan penggemar Eijun juga menantikan momen ini. Kurasa itulah risikonya menikah dengan seorang penulis terkenal."
Kanemaru tertawa basa-basi. "Sawamura juga terkenal karena kau, Chris-san. Kau adalah sumber inspirasi terbesarnya."
Chris hanya tersenyum. Kalimat itu lagi. Chris adalah sumber inspirasi utama dari seorang Sawamura Eijun. Seolah-olah hanya itulah perannya di dunia ini, menjadi sumber inspirasi dari Eijun.
"Maaf menunggu!" seru Eijun sambil berlari-lari kecil.
Eijun terlihat begitu tampan dengan jas semi formal. Kaos putih di dalam dan dibalut jas berwarna biru tua. Celana yang dipakai Eijun adalah jeans levi berwarna hitam dan sepatu kets Nike. Rambutnya yang sewarna tanah diberi gel dan poninya diangkat sehingga wajahnya tampak 5 tahun lebih muda. Selama di kamar mandi tadi, tampaknya Eijun juga sudah bercukur karena Chris tidak bisa lagi melihat janggut-janggut halus di dagunya.
Dia menghampiri Chris dan menciumnya di bibir. Rasa mulut Eijun begitu menyegarkan, aroma pasta gigi yang mereka selalu pakai, serta obat cuci mulut yang beraroma mint. "Jangan lupa, oke." Dia menatap Kanemaru. "Yuu juga akan datang, tapi menyusul. Nanti kau jemput Yuu juga ya," ujarnya.
"Aku paham," kata Kanemaru.
"Aku bisa berangkat sendiri," kata Chris. "Jangan berlebihan, Eijun."
Kanemaru yang paham kalau pasangan itu akan berciuman lagi, berjalan dulu. "Aku tunggu di mobil, Sawamura." Dan, dia menghilang dari balik pintu depan.
Bola mata Eijun selalu mengingatkan Chris pada lumpur isap. Begitu tenang, begitu coklat, tetapi daya hisapnya begitu luar biasa, mampu mencekik mangsanya. Itu sesuai dengan kepribadian Eijun. Di satu sisi terlihat tenang dan bersahaja, tetapi memiliki daya hisap yang luar biasa, bakat yang luar biasa dan menenggelamkan siapapun yang ada didekatnya. Termasuk Chris didalamnya.
"Jangan lama-lama di supermarket," kata Eijun. "Aku ingin melihatmu di acara."
"Tidak akan. Aku hanya akan datang, membeli makanan kaleng dan segera meluncur seperti superman."
Eijun tertawa. Dia menatap mata Chris. Jantung Chris berdebar dengan sangat keras, meskipun sudah 10 tahun mereka menikah. "Aku akan membacakan bab tentang dirimu," kata Eijun. "Buku ini kubuat hanya untukmu."
Kalimat itu mampu membuat Chris tidak berhasil bernapas. Bab tentang Chris. Tentang sumber inspirasinya. Tentang orang yang menikah dengannya selama 10 tahun, tentang apa peran Chris di dalam hidup Eijun.
"Kau tidak perlu melakukannya," Chris berhasil berujar.
Eijun menggeleng mantap. "Tidak. Aku harus melakukannya. Karena ini semua tidak akan terjadi tanpamu."
Lalu, Eijun menciumnya lagi. Lebih lembut, lebih halus dan penuh dengan sukacita. Chris harus memisahkan mereka berdua sebelum akal sehat menghilang dari kepala mereka berdua dan membuat mereka berdua berakhir telanjang di sofa. Padahal, Kanemaru sudah menunggu di depan.
"Kanemaru sudah menunggu," kata Chris.
Eijun mendesah malas. "Lain kali, aku akan membatalkan semua acara di Hari Minggu. Hari Sabat kita."
Chris tertawa serak. "Berjuanglah Eijun." Chris menemaninya ke depan rumah, sampai Eijun masuk ke dalam mobil sedan Kanemaru.
Chris masih di depan rumahnya, melihat perlahan-lahan mobil itu melaju dan menghilang di tikungan.
.
Sawamura Eijun adalah seorang penulis berbakat yang terkenal. Dia memulai karirnya di bidang literature sejak usia 15 tahun. Tidak langsung menulis novel, tentu saja. Eijun memulainya dengan menulis cerita-cerita pendek dan dikirim ke majalah anak setempat. Awalnya, hanya satu kisah. Lalu, semakin lama semakin banyak serial yang dihasilkannya. Eijun juga memasukkan cerita-ceritanya ke sebuah sayembara literature setempat dan sering memenangi kejuaraan tersebut.
Dari sana, jalan hidupnya terbentuk. Eijun tidak mau dibelenggu oleh batas-batas norma dan standar masyarakat. Dia tidak mau dibelenggu oleh peraturan dan diperbudak oleh sistem. Karena itu, dia menjadi penulis. Dia mengambil Jurusan Sastra Jepang dan mulai mendalami dunia penulisan.
Jalannya menjadi seorang penulis tidak mudah seperti jalan tol. Dia tidak langsung memulai karir menulisnya, karena ternyata di dunia ini banyak orang-orang yang jauh lebih berbakat darinya. Yang karya tulisnya menggugah hati hingga membuat seluruh tubuh merinding. Yang tulisannya dikenang oleh banyak orang, dikutip di setiap penulisan lainnya, dan diucapkan oleh para aktor di layar lebar. Sementara Eijun, hanyalah kecebong yang bahkan baru bisa berenang.
Di tahun ketiga perkuliahan Chris, dia bertemu dengan Eijun. Mereka kebetulan diajak oleh teman masing-masing untuk ikut kencan buta, sebagai penarik wanita. Namun, alih-alih tertarik pada wanita, Chris dan Eijun malah tertarik pada satu sama lain.
Chris tidak begitu familiar dengan dunia penulisan, dia juga menikmati buku novel seadanya. Jurusan Biologi yang didalaminya lebih membuatnya banyak meneliti tentang tumbuhan dan binatang. Namun, sejak bertemu dengan Eijun, Chris jadi hobi membaca banyak buku.
Eijun merekomendasikan banyak sekali buku-buku novel. Dari mulai literature klasik, kontemporer, modern, hingga filsafat dan non-fiksi. Tidak hanya itu, pengetahuan Eijun mengenai dunia literature begitu luas, dari berbagai genre novel, penokohan cerita, gaya bahasa cerita, hingga berbagai sudut pandang. Ketika Eijun mabuk dan menyerocos panjang lebar, yang dipikiran Chris hanyalah betapa seksinya Eijun jika mereka bercinta sembari membisikkan kata-kata novelnya.
Dan setelah 3 bulan mereka mengenal satu sama lain, mereka berdua bercinta. Eijun tidak mengucapkan penggalan-penggalan dialog Shakespeare atau dialog dari novel Anne of Green Gables, tapi keberadaan Eijun sendiri seperti prosa dan puisi. Membuatnya terhanyut, terbuai dan seperti terbang tinggi di antara majas-majas dan metafora. Bercinta dengan Eijun seperti menulis sebuah puisi akbar. Chris suka segala tentang mereka berdua.
Namun, tentu saja tidak semuda itu Eijun menjadi penulis terkenal. Ada masa-masa terpuruk yang setiap kali mengingatnya, Eijun menjadi begitu murung. Dunia literature seperti ombak yang tidak bisa diprediksi dan seperti bertaruh di pinggir jurang. Jika melompat, hanya ada 2 kemungkinan, mati terjatuh atau bisa terbang. Dan itulah yang Eijun rasakan.
Setelah selesai kuliah, Eijun bekerja di sebuah kantor jurnal. Sembari mengais-ngais berita selebriti yang tidak penting, Eijun juga menulis novelnya dengan serius. Dia tinggal di sebuah indekost menyedihkan yang berada di bawah tanah dan setiap hujan, air septictank-nya meluap, membasahi seluruh tatami Eijun. Biasanya, yang akan diselamatkannya hanyalah naskah-naskah novelnya dan juga laptopnya. Setelah hujan surut, Eijun akan tidur di atas tatami yang berbau pesing.
Dan saat itu Chris sedang mengambil kuliah Magister sekaligus menjadi asisten penelitian seorang professor.
Orang tua Chris tidak setuju dengan Eijun. Bukan karena dia laki-laki, tapi karena masa depannya sebagai penulis semakin lama semakin jauh dari jangkauan. Orangtuanya ingin Chris hidup dengan seseorang yang jelas, bukan dengan orang yang tinggal di kamar indekost berbau septictank dan gaji tidak menentu. Demi memperlihatkan keseriusannya, Chris mengajak Eijun tinggal bersama di mansion-nya. Dengan begitu, Eijun tidak perlu menyelamatkan naskah-naskahnya setiap kali hujan datang.
Chris ingat bagaimana Eijun menolak tawarannya. Pemuda itu seperti menua dengan cepat karena karirnya yang semakin memerosot ke tepi jurang. Janggutnya panjang-panjang dan dicukur seadanya. Tubuhnya kurus dan bahunya bungkuk, karena terlalu banyak menulis maupun merasa minder. Kedua iris coklatnya tampak redup, seperti tanah gersang di hutan yang telah mati.
Tapi, Eijun tetap tidak menyerah. Di tengah dia menulis berita tentang perselingkuhan artis, Eijun kembali menulis novel. Kali ini novelnya dirombak habis-habisan. Tokoh-tokoh baru, latar cerita baru, tema baru, penulisan baru. Dia bekerja siang dan malam untuk sebuah novel yang tampaknya mampu menentukan hidup dan mati seseorang. Chris adalah saksinya. Chris disampingnya, ketika Eijun terpuruk, ketika putus asa, maupun ketika Eijun nyaris menyerah dan melepaskan satu-satunya harapan menjadi seorang penulis.
Dan, novel yang sudah rampung itu, dikirimkan ke sebuah sayembara novel amatir.
Sembari menunggu hasil sayembara, Eijun kembali menjadi jurnalis lepas yang mengejar-ngejar selebriti dan memuatnya di majalah dan Chris merampungkan S2-nya serta penelitiannya. Dan selama waktu itu berjalan, sudah 3 tahun sejak pertemuan awal mereka.
Lalu, pemenang lomba itu pun diumumkan dan nama Sawamura Eijun menduduki peringkat 1. Salah seorang agen penerbit menghubunginya dan menawarkan kesempatan menerbitkan novel. Kali ini yang sesungguhnya. Yang nyata. Eijun setuju. Mereka mabuk scotch dan gin untuk merayakan tawaran penerbitan ini.
Disanalah, pekerjaan sesungguhnya dimulai. Novel itu masih banyak kekurangan dan masih harus diperbaiki. Sunting bab 1, bab 2 dan bab 3. Perbanyak deksripsi dan world building. Pertajam sifat dari tokoh protagonist dan antagonist. Hapus bagian ini, hapus bagian itu. Sunting lagi, lagi dan lagi. Setelah 5 bulan dikejar deadline, berkali-kali revisi oleh editor, akhirnya novel itu dinyatakan layak terbit.
Novel pertama Eijun rupanya menjadi best seller. Tema yang diangkat dengan begitu berani, penokohan yang tajam serta dialog-dialog cerdas, semuanya sempurna. Royalti pun turun, dan Eijun bisa memperbaiki banyak hal. Dia membayar utang-utangnya, tunggakan di indekost, pinjaman mahasiswanya, serta membeli laptop baru yang lumayan mahal supaya awet. Sisa royalty pertamanya dia gunakan untuk membayar makan malam dengan Chris di restoran bintang 5 dan membayar kamar hotel deluxe semalaman.
Mereka tertawa, mabuk, dan bercinta sampai ketiduran. Lalu bangun, tertawa lagi dan lagi dan saling berciuman, saling menyentuh seolah tidak ada hari esok. Sampai detik ini, Chris masih mengingatnya dengan jelas malam itu. Malam dimana kehidupan mereka berdua berubah.
Eijun meneruskan karirnya sebagai penulis. Novel-novel yang ditulisnya selalu mengambil tema berani, Rasisme, Kolonialisme, Peperangan, Genosida, dan tema realistis lainnya. Tawaran film banyak menghampirinya dan Eijun memiliki seorang manager. Dia bukan lagi anak polos dengan mimpi setinggi langit ataupun jurnalis lepasan yang mengais-ngais uang dengan berita selebriti. Kini, Eijun adalah salah satu penulis terkenal yang sukses.
Novel-novelnya dijadikan film dan serial televisi. Kata-katanya dikutip oleh para penulis lain dan bersemayam di hati-hati orang. Dialog-dialognya diucapkan oleh para aktor dan karakternya menjadi hidup. Kini Eijun adalah orang yang berhasil menyentuh langit dan menggenggam semesta. Namun, bagi Chris, Eijun tetaplah Eijun.
Bagi Chris, Eijun tetaplah pemuda yang ditemuinya ketika ikut kencan buta, yang diciumnya dengan setengah gugup, takut Eijun akan menghajarnya dan pemuda yang tidur dengannya. Eijun adalah pemuda yang berusaha mendobrak semua batas-batas dan berhasil menerobosnya. Dia adalah lumpur hisap yang mematikan.
Di tahun ke-4 mereka bersama, Eijun membeli sebuah rumah berlantai 2 gaya modern di sebuah perumahan elit di Tokyo. Chris masih ingat betapa tolol ekspresinya ketika Eijun menjelaskan bahwa dia telah membeli rumah itu secara tunai. Rumah yang megah dan hangat dan sesuai dengan mimpi Chris. Ada sebuah taman belakang yang ditumbuhi pohon lemon, sehingga rumah itu beraroma segar. Malam itu, mereka bercinta di kasur yang masih dilapisi plastik, penuh debu dan belum layak dihuni.
Dan di tahun ke-5, baik Chris maupun Eijun membeli sebuah cincin lamaran dan mereka saling berlutut satu sama lain. Lagi-lagi, mereka terlalu banyak meminum champagne dan wine dan mabuk dan tertawa.
Kini, 10 tahun adalah usia pernikahan mereka. 15 tahun, kalau mau ditarik dari awal mereka berkencan. Waktu yang lama, penuh dengan suka dan duka, penuh dengan pertengkaran, ucapan maaf, seks yang begitu bergairah dan seks yang penuh kerinduan. 15 tahun penuh dengan kesalahan dan pelajaran yang bisa dipetik, sekaligus berbagai kesempatan yang akan datang.
Chris tidak menyesal menikah dengan Eijun. Dia tidak menyesal pernah mengenal Eijun ataupun berkencan dengannya. Dia bangga atas pencapaian Eijun yang luar biasa dan tahu bahwa Eijun layak mendapatkannya. Chris sudah dipastikan cinta mati dan tergila-gila setiap harinya pada Eijun. Kehidupannya selama 15 tahun ini penuh dengan keajaiban dan sihir dan dia ingin semuanya berlangsung abadi.
Namun, yang menjadi pertanyaannya, apakah Eijun juga merasakan hal yang sama dengan Chris?
.
Chris menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperlukan di supermarket. Sejujurnya, dia tidak perlu-perlu amat pergi ke supermarket hari ini. Dia hanya mengucapkannya secara spontan ketika Eijun mengajaknya pergi ke acara seminar novelnya. Dia tidak tahu kenapa dia mengatakan hal seperti itu.
Ponselnya sudah berdering berkali-kali di saku celananya dan Chris tidak bisa mengabaikannya lebih lama lagi. Akhirnya, dia mengantri di kasir (sambil berdoa supaya prosesnya lama) dan berjalan pelan keluar dari supermarket.
Ini bukan pertama kali Eijun memintanya datang ke Acara Seminar Bukunya. Eijun sering memintanya datang. Pada awalnya, Chris selalu datang, selalu duduk paling depan dan mendengar Eijun membacakan satu bab terfavorit di bukunya. Lalu, entah sejak kapan dia tidak ingin ikut. Dia tidak ingin mendengar Eijun membacakan bab yang ditujukan untuknya. Entah sejak kapan, momen itu tidak terasa intim, rasanya bukan untuk mereka berdua.
Ponselnya berdering sekali lagi dan akhirnya Chris mengambilnya dari saku celana. Dia berdiri di ujung zebra cross karena lampu masih menunjukkan warna merah. Nama Eijun terpampang dengan jelas, tapi tangannya tidak bergerak untuk mengangkatnya. Lalu, lampu berubah menjadi warna hijau dan Chris mulai berjalan.
Hal terakhir yang diingatnya adalah suara klakson yang memekakkan telinga, sinar lampu depan truk yang terlalu dekat dengan wajahnya. Chris tidak mampu bergerak, karena otak dan seluruh tubuhnya belum memikirkan reaksi dari sesuatu yang melintas secara kencang ke arahnya.
Suara tabrakan yang mengerikan terdengar dan bau kopling serta bau rem terbakar memenuhi udara. Suara jeritan orang-orang di sekitar tempat kejadian bercampur menjadi satu. Ada yang menelepon polisi, ambulans, ataupun mulai mengangkat ponsel untuk merekam.
Belanjaan Chris jatuh berserakan di jalanan, sementara darah segar mulai mengalir dan menggenang di jalan aspal, menguarkan bau besi pekat yang amis. Truk yang menabraknya menghantam kuat trotoar dan tiang listrik, bagian depannya penyok dan berasap. Jejak ban tercetak jelas di jalan aspal.
"Apa dia baik-baik saja?"
"TELEPON AMBULANS!"
"Ya Tuhan, darahnya banyak sekali!"
Chris bahkan tidak mampu merasakan sakit, dia hanya merasa tubuhnya menjadi terlalu remuk dan letih dan dia ingin menutup mata. Dia melihat ada seseorang yang berlari datang ke sisinya. Pandangannya kabur karena darah dan benturan, jadi dia tidak bisa melihat. Semakin lama, semakin banyak yang datang.
Akhirnya, dia tidak bisa menolak hasrat untuk memejamkan mata. Dia mengedip dua kali, menghembuskan napas yang terasa berat, dan berbisik, "Eijun… maaf."
.
SAWAMURA EIJUN
Chris tidak datang. Eijun sudah meneleponnya sekitar 20 kali, mengiriminya pesan sebanyak 50 kali, tetapi Chris tidak membalas satu pesan pun. Eijun begitu gusar dan dia ingin kabur dari acaranya dan mencari Chris.
"Sawamura, 10 menit lagi," ujar Kanemaru. Dia menatap ekspresi wajah Sawamura yang tampak seperti orang depresi. "Kau kenapa?" tanyanya.
"Yuu tidak membalas satu pun pesanku. Perasaanku tidak enak," kata Eijun sambil mulai menggigit jarinya. "Sudah kuduga, harusnya tadi aku memaksanya ikut saja. Kami bisa ke supermarket setelah acara ini." Eijun mulai berjalan mondar-mandir. Pikirannya tidak lagi pada acara di depan matanya.
Kanemaru menghela napas. "Oke. Sawamura, aku akan menjemput Chris di rumah kalian atau di supermarket. Kau fokus saja pada acara ini oke?" ujarnya.
Meskipun masih bereskpresi cemas, Sawamura berhasil mengangguk.
"Sawamura-sensei, sudah saatnya," ujar salah satu panitia. Sawamura menghirup napas dan menghembuskannya. Dia mengangguk pada Kanemaru yang balas mengangguk dan segera memasuki panggung.
Sorakan dari para penggemar dan tepuk tangan memenuhi aula. Di tengah panggung, beberapa tumpuk buku terbaru Eijun disusun rapi. Bahkan, wajah Eijun yang tersenyum formal-yang disematkan di bagian biografi setiap buku-terpampang di layar LCD di belakangnya.
Eijun menatap satu per satu para penggemar yang masing-masing memegang buku barunya. Wajah mereka berseri-seri, penasaran dan juga antusias. Inilah impiannya. Inilah tujuan hidupnya yang diusahakannya dengan jungkir balik. Momen-momen seperti ini yang selalu dimimpikannya setiap malam.
Namun, ketika dia melirik ke belakang panggung, hanya ada staff dan panitia saja. Tidak ada Kanemaru dan tidak ada suaminya, Chris. Sebuah lubang hitam besar kembali menganga di dada Eijun. Jika tidak ada Chris, maka bagi Eijun tidak ada gunanya dia melakukan semua ini. Karena semua yang dilakukannya, demi Chris.
Eijun menaikkan tangan dan menurunkannya. Kerumuman orang mulai berhenti tepuk tangan dan diam. Acara telah berlangsung. Kini, Eijun harus menguasai seluruh ruangan, sekaligus membimbing mereka.
"Apa kabar, semuanya!" serunya riang.
Para penonton kembali bersorak-sorai. Acara itu akhirnya di mulai. Pertama, Eijun akan membacakan 4 paragraf dari satu bab yang dipilihnya. Lalu, setelah itu ada sesi tanya jawab sekitar 50 menit, baru sesi tanda tangan dan foto bersama.
Eijun mulai membacakan salah satu bab.
Bab yang ditulis ketika dia memikirkan Chris. Bab yang didedikasikannya kepada Chris. Eijun sampai tidak mendengar suaranya ketika dia membacakan narasi tersebut. Dia hanya memikirkan Chris yang sampai saat ini belum datang.
"… dan itulah arti dirimu bagiku. Kaulah segalanya. Kaulah napasku, kaulah jantungku dan aku ingin mencintaimu dalam segala kegemilangan dunia ini."
Narasi itu selesai. Penonton sunyi senyap. Mereka terlalu terhanyut dalam pembacaan narasi oleh Eijun. Beberapa sampai berkedip-kedip mengusir air mata. Lalu, mereka kembali bertepuk tangan. Eijun kembali tersenyum.
Rasanya, acara itu berlangsung selama 1 tahun, karena Eijun merasa waktu seolah berhenti dan Kanemaru tidak kembali juga bersama dengan Chris. Eijun begitu cemas sampai dia merasa jantungnya akan copot.
Dan, 50 menit yang terasa bagai 5 tahun akhirnya selesai. Eijun harus tetap memasang wajah dengan senyum sejuta watt dan masih ada acara tanda tangan dan berjabat tangan. Eijun tidak ingat apa saja yang dikatakan oleh para penggemarnya yang datang. Dia menyalami semua orang, tertawa bersama dan menandatangani buku mereka.
"Apa buku ini akan dijadikan film seperti buku-buku Anda sebelumnya, sensei?"
"Apakah Anda juga menulis naskah skenario film, sensei?"
"Apakah Anda ingin aktris tertentu untuk menjadi pemeran di novel Anda?"
"Apakah sensei membayangkan pasangan Anda ketika menulis karakter utama, sensei?"
"Kapan buku baru Anda yang lain terbit?"
"Sawamura-sensei, tetaplah menulis!"
Selama acara itu, mata Sawamura beberapa kali melirik belakang panggung. Rasanya ada yang lebih sibuk, karena staff yang menonton tidak begitu banyak. Eijun melirik jam tangannya dan ketika seorang staff memberi kode, Eijun bersyukur bukan main.
Eijun memberikan kata penutup, penonton bertepuk tangan, dan akhirnya dia bisa kembali ke belakang panggung. Setelah tidak disorot lampu dan para penonton, Eijun baru merasa begitu lelah. Tenaganya terkuras habis dan suaranya serak. Seorang staff membawakannya sebotol Pocari dingin yang langsung diteguknya. Dia juga melepaskan jasnya yang sudah basah oleh keringat. Eijun bahkan tidak tahu kalau dia begitu berkeringat.
"Dimana Kanemaru?" tanya Eijun pada seorang staff.
"Kanemaru-san ada di Ruang Tamu, dengan dua orang tamu. Anda juga sudah ditunggu di Ruang Tamu, Sawamura-sensei," ujarnya.
Eijun menaikkan alis bingung. Tamu? Dua orang tamu? Eijun tidak ingat pernah membuat janji lain setelah Acara Seminar Buku ini. Namun, dia tetap melangkah ke sebuah pintu yang tidak berjendela dan mengetuknya tiga kali sebelum membuka pintu.
Meskipun disebut Ruang Tamu, ruangan itu kecil dan hanya ada sofa panjang 1, sofa tungga 2 dan meja berisikan vas bunga plastik. AC menyala dan tembok di cat berwarna putih terang. Di dalam, ada Kanemaru yang duduk di sofa tunggal sambil menundukkan kepala dan… dua orang polisi berseragam.
Nah, ini membuat Eijun lebih bingung lagi. Dia tidak ingat pernah ada janji dengan seorang polisi dan dia bahkan tidak ingat pernah melanggar aturan ataupun hukum. Dia tepat waktu membayar pajak, tidak pernah menerobos lampu merah dan tidak pernah memakai narkoba. Karya-karyanya juga bukan plagiat.
"Ada apa ini?" tanya Eijun sambil duduk di satu-satunya sofa tunggal yang tersedia. Dia melirik Kanemaru, tapi lelaki itu menunduk dan gelagatnya aneh. Eh, Kanemaru tidak ditangkap atas pelanggaran hukum 'kan?
"Sawamura Eijun-san," sapa seorang opsir polisi tersebut.
Eijun mengangguk. "Iya. Ada masalah apa sampai polisi datang ke tempat ini?" tanya Eijun. Lalu dia membelalak. "Ah, saya tidak akan ditangkap kan! Saya adalah warga negara yang taat aturan, tidak pernah terlambat bayar pajak dan tidak pernah sekalipun menerobos lampu merah," seru Eijun terburu-buru.
Opsir satunya menggeleng. "Tidak, tentu saja. Kami di sini untuk urusan lain," ujarnya. Ekspresinya keras. Entah mengapa, ada hawa dingin menjalar ke sepanjang tulang belakang Eijun. Eijun baru ingat, Kenamaru harusnya menjemput Chris, tapi kenapa dia malah datang dengan dua orang polisi? Kenapa dari tadi gelagat Kanemaru aneh dan dia tidak mau mendongak dan menatap Eijun?
"Kanemaru, dimana Yuu? Harusnya kau menjemputnya, bukan?" tanya Eijun, mengabaikan kedua polisi.
Kanemaru berjengit seolah dia baru disiram dengan air panas. "Sawamura, sebaiknya dengarkan dulu apa yang akan dikatakan oleh kedua polisi ini," ujarnya dengan lemas dan gemetar.
Eijun semakin merasakan ada sebuah cairan panas dan lengket yang disiram perlahan-lahan ke dalam otaknya. Membuat tubuhnya panas dingin.
"Iya, tapi dimana Yuu?" tanya Eijun lagi.
Kanemaru memutuskan untuk menjadi bisu.
"Sawamura-san," panggil salah satu opsir polisi. "Apa benar Anda adalah suami dari Takigawa Chris Yuu?" tanyanya penuh kehati-hatian.
Otak Eijun setengah melayang, tapi dia mengangguk. Eijun merasa, apapun yang hendak dikatakan oleh kedua polisi ini pasti berkaitan dengan Chris dan ketidakhadirannya.
Semoga hanya masalah kecil.
Semoga Chris mungkin kehilangan ponselnya di jalan.
Chris pasti baik-baik saja di rumah. Mungkin dia ketiduran.
Iya, kalau dia ketiduran, aku akan memaafkannya jutaan kali.
Chris baik-baik saja di rumah.
Dan berita itu disampaikan dengan pelan dan lugas. Seolah sudah pasti, seolah tidak ada ruang untuk terjadi kesalahan. Supermarket, rem bolong, di zebra cross, korban jiwa. Darah… Darah… dan panggilan masuk dari Eijun yang bertubi-tubi di ponsel Chris. Dan darah lagi. Dan pesan-pesan yang tidak sempat dibaca oleh Chris. Dan darah lagi. Darah lagi.
"TIDAK!" Eijun berteriak.
Dia tidak sadar kalau dia berteriak. Sofanya terjungkal saking kuatnya Eijun mendorong.
"Sawamura… tenang dulu…" Kanemaru berusaha bersuara. Namun, tidak ada suara yang mampu mencapainya.
"Kalian pasti salah orang! Mana mungkin… hal seperti itu…"
Pertahanan Eijun runtuh. Dia jatuh membentur meja, membuat vas bunga plastik itu terguling dan isinya berserakan di meja. Tubuhnya mendidih dan menggigil secara bersamaan. Suara-suara terasa tidak masuk akal dan Eijun merasa melayang.
Berita itu pasti bohong. Mungkin hari ini tanggal 1 April dan jika ini adalah sejenis lelucon gila, Eijun akan tetap pulang ke rumah, mendapati Chris baik-baik saja dan mereka akan berpelukan, berciuman, dan bercinta seperti bisa. Eijun akan memafkan lelucon aneh dan sampah ini.
"Tidak… tidak…"
"Sawamura, aku… mengidentifikasinya…" kata Kanemaru akhirnya.
Barulah Eijun mendongak. "Apa?"
"Aku… mengidentifikasinya. Sawamura. Aku." Ulang Kanemaru. Pria itu mendongak dan barulah Eijun sadar bahwa kedua mata Kanemaru merah dan seluruh wajahnya pucat. Eijun menggeleng spontan.
"Pembohong kau!" desis Eijun.
"Sawamura-san, kami tahu ini berita yang buruk dan sulit diproses," ujar si polisi. Eijun sudah tidak peduli lagi pada kedua polisi brengsek itu. Dia bahkan tidak mendengar ucapan mereka tentang ikut ke ruang otopsi, mengidentifikasi, et cetera, et cetera.
Tidak ada yang penting lagi di dunia ini, karena satu-satunya yang penting bagi Eijun sudah mati.
.
Eijun tidak bisa mendeskripksikan dengan benar 24 jam selanjutnya. Karena dia tidak mampu mengalihkan pandangan dari tubuh Chris yang ada di ruang pendingin di kepolisian lalu lintas, kedua polisi itu lah yang menghubungi kedua orang tua Chris dan orang tua Eijun.
Mungkin Eijun sempat ditampar oleh Ibu Chris dan sempat dicaci maki oleh Ayahnya, karena sedari awal mereka tidak setuju putra mereka menikah dengan Eijun. Dan mungkin keputusan mereka tepat, karena sekarang Chris terbujur kaku di ruang pendingin di markas kepolisian lalu lintas dan Eijun setengah melayang mengurusi segala jenis surat-menyurat kematian dan pemakaman.
Ibu Eijun membantu menyiapkan rumah duka dan upacara pemakaman. Dia menyewa biksu dari kuil setempat dan Eijun mendadak tuli karena orang tua Chris ingin anaknya dimakamkan secara Kristen dan dikremasi. Padahal, baik Chris dan Eijun tidak memiliki agama.
Ayah Eijun menyelamatkan keadaan dengan mengusulkan bahwa upacara pemakaman akan dilakukan secara tradisi jepang dan nanti Chris akan dikremasi. Karena semua mendapat upacara yang diinginkan, semuanya setuju. Eijun tidak peduli lagi.
Mau dikubur, mau dikremasi, atau mau diawetkan seperti mumi, itu semua tidak mengubah fakta bahwa Chris telah meninggal. Berkali-kali dia menampar dirinya sendiri supaya bangun dari mimpi buruknya tidak berhasil. Pipinya memar dan kemerahan, matanya bengkak dan Chris tetap terbujur kaku.
Upacara pemakaman juga tidak diingat Eijun dengan benar. Dia tidak ingat siapa yang datang, siapa yang memberi penghormatan, siapa yang memeluknya dan menangis bersamanya. Ada sekitar 70 karangan bunga dikirimkan ke rumah duka dan ke rumah Eijun, tapi itu semua tidak ada artinya. Tidak ada dari itu semua yang mampu membangkitkan Chris dari kematian.
Lalu, ketika Eijun tersadar, rumah duka telah sepi. Orang tua Chris sudah beristirahat di hotel dekat rumah duka dan orang tua Eijun masih beres-beres. Jam telah menunjukkan pukul 10 malam.
"Sayang," panggil Ibunya pelan.
Eijun tidak menyahut. Dia masih memandangi Chris yang sudah dirias oleh perias mayat dan dipakaikan jas hitam yang baru. Wajahnya masih terlihat damai.
"Dia tidak tampak seperti mati," kata Eijun mengeluarkan suaranya sejak 24 jam terakhir. "Ini adalah wajahnya ketika tidur. Tidak mungkin orang mati bisa berekspresi seperti orang tidur."
Ibunya menyentuh bahu Eijun. "Ei-chan. Kau harus istirahat. Besok pagi, kita akan melakukan… pengkremasian," ujarnya hati-hati. Ibunya berusaha menuntun Eijun, tetapi lelaki itu tidak bergerak. Dia masih menatap wajah suaminya yang dipulas dengan riasan.
"Aku di sini saja," ujar Eijun. "Harus ada yang menjaga Yuu. Dia takut tidur sendirian. Bahkan ketika aku sedang di luar kota untuk Acara Seminar, kami selalu video call semalaman supaya dia tidak tidur sendirian."
"Sayang…" Ibunya berusaha mencoba lagi.
Namun, tepukan di bahunya dan gelengan dari Ayah Eijun yang menghentikannya. "Kami paham, Nak." Ayahnya meremas pundak Eijun. "Kami selalu di sini untukmu. Pastikan saja lilinnya tidak mati."
Eijun hanya mengangguk sekenanya dan dia tidak menoleh saat kedua orangtuanya keluar dari rumah duka. Kini, di ruangan itu hanya ada Eijun dan peti mati yang berisi tubuh Chris. Suasana begitu sunyi sampai napas Eijun yang patah-patah pun terdengar memekakan.
"Ayo bangun Putri Tidur," bisik Eijun. "Padahal kau selalu memarahiku kalau tidur terlalu lama. Tapi kenapa kau belum bangun juga? Kau butuh berapa lama sampai kembali pulih?"
Suara derik lilin yang dinyalakan begitu halus, seperti sentuhan kapas.
Air mata mengalir di kedua matanya, jatuh ke pipinya dan turun ke dagunya. Dari dagu Eijun, airnya jatuh membasahi wajah Chris yang tampak terlalu pucat di bawah sinar lilin.
"Kenapa… ini terjadi? Kenapa… ka-kau harus mengalami i-ini?"
"Bu-Bukankah kita akan hi-hidup bersama sampai tu-tua? Tapi, kenapa ka-kau egois? Ke-Kenapa kau pergi lebih dulu…?"
Dan tangis Eijun tumpah. Air matanya mengalir deras, dan dia meraung dengan keras sampai dia bisa merusak pita suaranya. Dia memukul-mukul tatami sampai kedua tangannya lecet dan berdarah, dia membentur-benturkan kepalanya ke tatami sampai pusing, dan akhirnya dia berbaring persis di sebelah peti mati Chris karena kelelahan. Tenggorokannya perih, tapi dia terlalu lemas untuk mengambil minum. Dia hanya bernapas teratur dan sesegukan dan Chris tidak terbangun juga. Lilin masih menyala.
"Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, Yuu?" bisik Eijun. "Kau pergi begitu mendadak sambil membawa jiwaku. Kini, aku juga sudah jadi boneka rusak."
Dan dia tertidur sambil menangis.
.
Eijun baru tertidur selama 1 jam sebelum hawa dingin menerpa seluruh tubuhnya. Ketika dia bangun, ruangan yang ditempatinya gelap gulita. Pastilah lilinnya telah habis atau padam karena tertiup angin. Tatami kasar yang menjadi tempatnya tidur membut seluruh punggungnya sakit. Dan Eijun bangkit pelan-pelan sambil berpegangan pada ujung peti mati.
Pertama, dia harus mengambil ponselnya dan menyalakan senter. Kedua, dia harus menyalakan saklar lampu. Jadi, dia merogoh saku celananya dan menemukan ponselnya di situ. Dengan cepat, dia menyalakan item senter dan sekejab, ruangan kembali terang dalam cahaya redup.
Eijun menyorotkan senternya ke sekeliling ruangan untuk menyalakan saklar dan berjalan ke arah dinding. Dia menekan saklar lampu dan seketika ruangan kembali terang. Sebelum Eijun jatuh tertidur, dia bahkan lupa apakah dia mematikan lampu. Lilinnya masih sisa setengah dan tampaknya padam karena tertiup angin.
Ketika Eijun berbalik menatap peti mati Chris, seluruh tubuhnya membeku di tempat dan ponselnya jatuh ke tatami. Di atas peti mati Chris, ada orang berpakaian yukata hitam sedang duduk. Dia duduk persis di atas tubuh Chris.
"A-A-A… SIAPA KAU?"
.
"SIAPA KAU?" seru Eijun ketika seluruh kekagetannya memudar. Dia berderap dan mencengkram kerah di orang asing itu dan melemparnya ke seberang ruangan. Bunyi berdebam begitu keras sampai pintu kayu itu bergetar.
Orang itu bangkit dengan yukata yang sedikit lecek dan berdiri tegap. "APA-APAAN KAU! KENAPA KAU MENGGANGGUKU MAKAN?" orang itu balas berteriak.
Eijun kehilangan kata-kata sejenak, sebelum menemukannya dan dia berniat menghajar orang asing lancang yang bisa-bisanya duduk di atas tubuh meninggal suaminya. "Makan katamu?" Tinju Eijun teracung dan dia menggenggam erat kerah yukata hitam itu. Secepat kilat, tinjunya melayang, tetapi ketika Eijun sadar, tinjunya melesak ke dalam pintu, membuat kertas-kertas pembatasnya robek dan buku-buku jari Eijun memutih.
Orang asing itu menghilang dengan cepat!
Eijun berbalik. Si orang asing itu sedang menatap lilin yang sisa setengah dan sudah padam itu.
"Kau petinju atau apa? Ringan sekali tanganmu mau memukulku," katanya ringan sambil menyeringai.
Amarah Eijun semakin meradang. "Kau orang gila dari mana? Kenapa kau duduk di atas tubuh suamiku?" geram Eijun. Mati-matian dia mengontrol emosinya.
"Suami..? Ah! Maksudmu makan malamku itu ya. Wah, jadi dia suamimu ya~" ujarnya dengan nada bersenandung.
Kepala Eijun berdentum-dentum karena ucapannya. "Apa? Makanan apa maksudmu?"
"Yah, aku datang ke sini karena undanganmu. Kupikir kau begitu membenci orang yang mati ini sampai mau memberikannya untuk jadi makan malamku. Tapi ternyata dia suamimu ya."
Rasanya otak Eijun sudah setengah meleleh karena sudah 24 jam dia tidak tidur. "Kau ini bicara apa dari tadi? Dan kau belum menjawab pertanyaanku. SIAPA KAU?" tanya Eijun penuh penekanan.
Orang asing itu duduk di tepi peti mati Chris. Barulah ketika dia diam, Eijun mampu melihat wajahnya. Wajahnya luar bisa tampan hingga terkesan tidak manusiawi. Karena tidak ada manusia yang mampu mencapai tingkat ketampanan yang dimilikinya. Rambutnya acak-acakan dan bergoyang lembut ketika dia bergerak dan di wajahnya bertengger kacamata model terbaru. Dengan semua informasi itu, rasanya semakin tidak nyata.
"Aku masih bermimpi rupanya," kata Eijun sambil mendesah.
Benar, hanya itu satu-satunya alasan kenapa dai bisa melihat halusinasi orang asing yang tidak pernah dikenalnya.
"Aku Iblis yang memangsa jiwa-jiwa yang tersesat di malam pemakaman," katanya.
Eijun menatapnya. Satu detik. Dua detik. Lalu, dia kembali mendesah. "Aku sudah terlalu lelah, Yuu. Sampai berhalusinasi seperti ini," katanya.
"Aku serius!"
"Dan aku Kaisar Jepang! Semuanya masuk akal kan sekarang?" bentak Eijun. "Kalau aku kembali tidur, kau pasti akan menghilang."
Eijun berjalan mendekati peti mati Chris dan kembali tiduran. Dia mulai memejamkan mata. Namun, rasa kantuk tidak kunjung datang dan suhunya terasa semakin panas di sekitarnya. Ketika Eijun membuka mata, si orang asing yang mengaku iblis itu masih menatapnya dengan mata yang berkilat dan sulit diartikan.
"Jadi aku masih terjebak di dalam mimpi," gumam EIjun lelah.
Si iblis itu malah berjalan menghampiri Eijun dan berjongkok. Dia mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka nyaris bersentuhan. Kacamatanya nyaris mencolok mata Eijun.
"A-Apa?" tanyanya setengah takut dan setengah gugup.
"Aku tidak pernah melihat orang sepertimu," kata si orang-yang-mengaku-iblis.
"Apa?" tanya Eijun lagi.
"Biasanya ketika mereka melihatku, mereka akan lari dan pingsan, tapi kau malah melemparku ke seberang ruangan dengan kekuatan yang luar biasa dan nyaris melubangi kepalaku dengan tinjumu."
"Semua orang akan beraksi seperti itu kalau mereka melihat ada orang asing duduk secara tidak sopan di atas tubuh orang yang mereka sayangi," balas Eijun.
Si orang-yang-mengaku-iblis itu menggeleng. "Tidak semua orang."
Karena sepertinya dia masih ingin mempertahankan jarak kedekatan wajah mereka, Eijun lah yang mundur dan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di peti mati. "Aku tidak peduli kau itu halusinasiku atau mimpiku. Tapi, jangan makan jiwa suamiku. Meskipun ini hanya di dalam mimpiku," kata Eijun setelah dia agak tenang. "Makan saja jiwaku."
Si orang-yang-mengaku-iblis itu hanya menatapnya semakin tertarik. "Kau menarik sekali ya. Kenapa kau mau mengorbankan dirimu untuk orang yang sudah mati itu?" tanyanya.
Eijun merenggut kesal. "Orang yang sudah mati itu suamiku. Sudah sepantasnya aku melindunginya sampai napas terakhirku."
"Kau tidak bisa melindungi orang yang sudah mati."
"Tahu apa kau soal melindungi?" dengus Eijun.
Ada sesuatu di matanya yang berkilat ketika dia menjawab Eijun. "Oh, aku tahu jauh lebih banyak dari yang kau sangka, Anak Manusia. Aku tahu isi hati terdalam dari semua orang, dan sisi tergelap manusia."
"Kau tahu apa isi hati terdalamku? Dan sisi tergelapku?" tanya Eijun.
"Kau yakin siap mendengarnya tanpa menjadi gila? Kau bahkan sudah diambang kegilaan saat ini."
"Apa yang bisa membuatku lebih gila daripada kenyataan bahwa suamiku meninggal secara mendadak? Bahwa hidupku sudah berakhir dengan tarikan napas terakhirnya?" gumam Eijun.
"Kalimat yang bagus. Harus kau masukkan ke dalam novelmu selanjutnya."
Komentar itu menyulut emosi Eijun. Dia menarik kerah yukata si orang-yang-mengaku-iblis dan membenturkan dada mereka berdua dengan keras. "Jangan mengucapkan itu, brengsek!"
Namun, dia malah tertawa. "Bagus! Bagus sekali! Kau cocok! Aku telah mencari kemana-mana, tapi tidak ada satu pun yang cocok. Dan kau, Sawamura Eijun-kun, kau cocok!"
Dia kembali tertawa.
Eijun melepaskan cengkramannya dan mendorongnya menjauh seolah ada wabah yang menguar. Setelah dia selesai tertawa, dia menatap Eijun. "Kau benar-benar cinta pada suamimu ya. Aku punya penawaran bagus untukmu. Bagaimana kalau kubilang, aku bisa membawamu ke Dunia Yomi untuk membangkitkan kembali suamimu?"
Tidak ada jawaban untuk sementara. Ruangan itu lengang. Hanya ada Eijun (yang sudah pasti manusia), si orang-yang-mengaku-iblis, dan tubuh mati Chris.
"Apa katamu?" tanya Eijun sangsi.
"Kematiannya membuatmu sengsara, benar? Aku bisa membantumu menghidupkan kembali suamimu. Sebelum jiwa-jiwa orang yang sudah mati itu menyebrangi Sungai Sanzu, kita akan mengambil jiwa suamimu tanpa ketahuan oleh Dewi Izanami. Bagaimana?"
Namun, yang keluar dari mulut Eijun adalah sebuah tawa. Tawa yang keras dan histeris. Eijun tertawa sampai perutnya sakit dan dia memukul-mukul tatami saking lucunya kalimat dari si orang-yang-mengaku-iblis ini.
"Manusia memang menarik sekali," ujarnya sambil menatap Eijun yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Wow! Itu lelucon yang menyegarkan. Jadi, kau datang ke ruangan ini dan ingin memangsa jiwa suamiku, mengatakan bahwa kau iblis dan sekarang kau ingin aku setuju untuk pergi bersamamu ke Dunia Yomi dan… untuk apa? Mencuri jiwa suamiku dan menghidupkannya kembali. Begitu? Benar?"
Eijun bersiul. "Wow! Saat aku bangun tidur nanti, mimpi ini harus aku catat karena ini tema yang menarik untuk dibahas. Dunia Yomi, Sungai Sanzu dan Dewi Izanami."
"Aku menawari sesuatu yang tidak bisa ditawari dewa baik mana pun. Bahkan Dewa Izanagi tidak bisa menentang kematian. Tapi aku menawarimu untuk mengambil kembali jiwa suamimu."
Eijun yakin sekali bahwa ini adalah mimpi aneh yang pernah terjadi di hidupnya. Dan tampak begitu nyata, pula. "Kita tidak punya banyak waktu. Batas penyebrangan jiwa-jiwa itu pukul 6 pagi. Jika mereka telah melewati Sungai Sanzu, maka sudah tidak bisa diambil lagi karena mereka akan menghadapi pengadilan akhirat."
Meskipun ini antara mimpi dan kenyataan, tawaran dari si orang-yang-mengaku-iblis itu begitu menggiurkan. Dia memang sangat menderita karena Chris meninggal dan jika memang ada cara untuk menghidupkannya kembali, Eijun akan mengambilnya tidak peduli berapapun harganya. Dia sanggup membayar.
Bukankah Orpheus juga melakukan hal yang sama atas nama cinta? Dia begitu mencintai Eurydice sampai rela mendatangi Istana Dunia Bawah, tempat Dewa Hades tinggal. Dan, sebelumnya juga, Dewa Izanagi mendatangi Dunia Yomi untuk menjemput istrinya, Dewi Izanami. Semua dilakukan atas nama cinta. Jadi, kenapa Eijun tidak bisa melakukannya?
Dia memejamkan mata dan membayangkan bahwa pagi nanti ketika dia pulang, dia akan pulang kembali ke pelukan Chris dan segalanya akan baik-baik saja. Tidak ada berita buruk, tidak ada isakan tangis. Hanya mereka berdua, berpelukan, berciuman sampai kehabisan napas dan saling memiliki satu sama lain.
Eijun membuka matanya dan menatap si orang-yang-mengaku-iblis itu. "Bagaimana caranya kita ke Sungai Sanzu?" tanyanya.
"Bagus! Itu baru semangat!" orang itu bertepuk tangan heboh. "Tapi sebelum itu, ada beberapa hal yang harus kau ketahui."
"Apa? Kenapa kau baru menyebutkannya sekarang?" protes Eijun.
Orang-yang-mengaku-iblis itu menggelengkan kepalanya dengan berlebihan. "Sabar, Jagoan. Tapi karena kita akan melakukan tindakan illegal, beberapa hal ini penting untuk diingat. Supaya kita bisa berjalan tidak terdeteksi oleh Dewi Izanami."
"Aku masih belum terbiasa dengan istilah dewa dewi ini. Dewi Izanami? Maaf, apa kau serius? Itu kan hanya mitos."
Orang-yang-mengaku-iblis itu menatapnya datar. "Kalau mitos, mengapa ada kuilnya? Mengapa masih banyak orang yang menyembahnya? Dunia ini lebih dari sekedar yang terlihat, Anak Manusia."
Ketika orang itu mengatakan Eijun dengan sebuah 'Anak Manusia', barulah dia merinding. Seolah dia memang jauh lebih tua dari kelihatannya,
"Oke, maaf. Lanjutkanlah."
"Oke, semua jiwa-jiwa yang sudah meninggal akan dikumpulkan di pinggiran Sungai Sanzu. Dari situ, mereka akan diarahkan ke jalur masing-masing, sesuai dengan perbuatan mereka. Kita bisa mengambilnya ketika mereka masih di pinggiran sungai dan belum masuk antrian. Namun, agak sulit kalau mereka sudah masuk antrean masing-masing. Kalau kapal mereka sudah berlayar menyusuri Sungai Sanzu, itu sudah mustahil, karena ketika mereka menyebrang, semua kefanaan mereka akan dibasuh bersih. Dengan kata lain, mereka sudah tidak akan ingat jati diri mereka lagi."
"Jadi satu-satunya kesempatan kita hanyalah di pinggiran Sungai Sanzu ataupun di dalam antrean."
"Benar, dan setelah itu, yang harus kau perhatikan, ada tenggat waktunya. Kita tidak bisa berlama-lama."
"Ah iya. Jam 6 pagi, katamu. Ada apa dengan itu?" tanya Sawamura penasaran.
"Karena di pagi hari, jalur jiwa dan arwah telah tertutup. Karena itu, sesuai tradisi kuno, para keluarga harus menjaga lilin di malam pemakaman supaya jiwa-jiwa tidak tersesat. Malam hari jalur arwah dan jiwa terbuka." Dia menatap Eijun. "Dan hanya orang bodoh yang ketiduran di malam pemakaman dan membiarkan lilinnya padam."
Eijun merenggut. "Aku tidak percaya takhayul seperti itu," katanya membela diri.
"Terserah. Tapi yang jelas, sekarang kau bergantung pada takhayul untuk mengambil jiwa suamimu, kalau kau masih berniat menyelamatkannya."
"Tentu saja! Kalaupun harus ke ujung neraka, aku akan menjalaninya!" ujar Eijun berapi-api.
Sudut mulut si orang-yang-mengaku-iblis itu terangkat membentuk sebuah seringai licik yang tidak disadari Eijun.
Ke neraka, ya.
"Nah, sekarang apa kau siap?" tanyanya.
Eijun mengangguk.
Tanpa peringatan sebelumnya, orang itu mendekap Eijun dengan kuat, dan ketika hawa super dingin menabrak seluruh tubuh Eijun, mereka menghilang dari ruang dan waktu.
.
Eijun muntah. Dia terduduk di tanah kering yang banyak bebatuan dan memuntahkan isi perutnya. Tidak banyak yang keluar, hanya air, liur dan asam lambungnya. Dia tidak ingat kapan terakhir makan sejak berita Chris meninggal.
"Dasar manusia lemah dan jorok. Itulah kelemahan kalian. Kalian harus selalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh," gerutu si orang-yang-mengaku-iblis itu.
Eijun terlalu terdisorientasi untuk memarahinya ataupun sekedar membela diri. Dia masih bernapas putus-putus dan membuah ludah terakhir ke tanah gersang sebelum bangun berdiri.
Sekeliling mereka gelap gulita dan Eijun memandang ke kanan kirinya yang sepi tanpa ada satu pun orang. Mereka tidak lagi berada di Rumah Duka di Tokyo, tapi di antah berantah. Udara dingin menusuk Eijun, meskipun dia memakai kemeja putih tangan panjang dan jas hitam panjang. Angin membuat rambutnya acak-acakan dan dasinya menampar-nampar wajahnya.
"Dimana kita?" tanya Eijun. Otaknya belum bisa dipakai berpikir.
"Di Gunung Osore. Pintu masuk menuju Dunia Yomi."
Tidak ada gerbang selamat datang. Tidak ada penampakan-penampakan arwah. Tidak ada juga siluman muncul. Tanah tidak membelah dan menelan mereka. Hanya ada kegelapan dan hawa dingin di sekitar mereka.
"Jadi… sekarang apa?" tanya Eijun.
"Nah, sekarang hal penting ketiga yang harus kau ketahui," kata si orang-yang-mengaku-iblis itu.
Eijun berdecak. "Kenapa kau selalu memberikan informasi setengah-setengah!" hardiknya kesal.
Namun, Eijun diabaikan. Orang itu menatap Eijun dari balik kacamatanya yang berkilat. "Manusia fana tidak bisa masuk ke dalam."
Eijun tidak langsung bereaksi. Dia menatap lawan bicaranya, merasakan seluruh darah mendidih di tubuhnya dan menuju ke kepalanya dengan cepat, lalu berteriak, "KENAPA KAU BARU BILANG SEKARANG? LALU, SEKARANG APA YANG HARUS KULAKUKAN? KAU MEMBAWAKU KE ANTAH-BERANTAH SEPERTI INI, BICARA SOK HEBAT, DAN SEKARANG KAU BILANG AKU TIDAK BISA MASUK?"
Burung-burung yang sedang tertidur segera terbang karena kaget. Burung hantu menjatuhkan mangsa tikus mereka. Suara di sekeliling mereka kembali hening.
"Aku tidak bilang kau tidak bisa masuk," ujar si orang asing, "aku bilang manusia fana tidak bisa masuk."
"Berhentilah bicara berputar-putar!" seru Eijun kesal. "Jadi apa sekarang? Aku harus mati dulu, begitu?" tanya Eijun kasar.
"Berhentilah menyela orang bicara!" dengus si orang-yang-mengaku-iblis.
Eijun bersidekap.
"Memang cara tercepat untuk pergi ke Sungai Sanzu adalah dengan kematian. Tapi, aku bisa memanipulasi kematian, setidaknya sampai batas waktu kita. Yaitu pukul 6 pagi."
"Oke, bagaimana caramu melakukan hal itu?" tanya Eijun.
Si orang-yang-mengaku-iblis itu berjalan mendekati Eijun. Terlalu dekat malah. Eijun yang risih berusaha mundur, tetapi punggungnya ditahan oleh tangannya. Seluruh punggung Eijun terasa dingin, seperti ada es yang menempel di sana.
"Kau mau apa?" tanyanya tidak nyaman. "Aku ini laki-laki yang sudah bersuami," katanya lagi.
"Yang suaminya baru meninggal 24 jam yang lalu," koreksi si orang asing sebelum dia menempelkan mulutnya ke mulut Eijun.
Rasa kaget yang dialami Eijun hanya berlangsung 1 detik, karena detik berikutnya dia berusaha melepaskan ciuman sepihak yang terlalu dingin itu. Namun, kekuatannya seolah menghadap tembok, karena orang yang menciumnya tidak bergerak meskipun Eijun meronta sekuat tenaga.
Itu tidak terasa seperti ciuman, karena seluruh rongga mulut Eijun terasa begitu dingin dan nyaris kebas. Hawa dingin itu merambat ke seluruh tubuh Eijun dan rasanya dia semakin ringan dan tidak berbentuk. Dia seperti melebur menjadi kabut di pagi hari.
Ketika ciuman itu terlepas, Eijun lupa caranya marah. Sensasi dingin itu masih bertahan di bibirnya dan di seluruh tubuhnya. Barulah si orang asing itu melepaskan dekapannya. Eijun kira dia akan terjatuh saking ringan tubuhnya. Namun, ketika dia menunduk, rupanya rubuhnya telah menjadi transparan. Dan, tubuh fananya tergeletak tidak sadarkan diri di tengah hutan.
"Apa… Apa yang…"
"Kondisi mati suri," jelas si orang-yang-mengaku-iblis itu. "Kalau kau berhasil, kau akan kembali sadar tepat pukul 6 pagi bersama suamimu. Tapi kalau kau gagal, kau akan mengikuti suamimu menyebrangi Sungai Sanzu."
Eijun nyaris berkata bahwa dia tidak keberatan jika memang harus menyusuri Sungai Sanzu, yang penting dia bersama dengan Chris. Namun, orang asing itu masih melanjutkan ucapannya.
"Kecuali kau ditangkap oleh Dewi Izanami dan hanya dewa dewi yang tahu nasibmu selanjutnya."
Eijun bungkam.
Mereka menyusuri jalanan setapak yang tadi tidak terlihat oleh mata manusia fana Eijun. Dan, semakin mereka masuk, semakin banyak jiwa-jiwa yang berjalan di sekitar mereka berdua.
"Tetap disampingku," bisik orang asing itu sambil memeluk pinggang Eijun. Eijun tidak sempat protes karena otaknya masih berusaha memproses bahwa dia sedang di dunia astral. Mereka berjalan bersama dengan jiwa-jiwa yang lain sampai ke sebuah tanah lapang kosong dan hanya ada satu bangunan kuil besar di sana.
Bangunan otentik Jepang dengan tulisan "Selamat Datang di Gunung Osore. Transit Pertama Bagi Jiwa Yang Baru Meninggal". Ada beberapa penjaga yang memakai pakaian tradisional Jepang sambil membawa tongkat seperti tombak. Wajah mereka datar dan keras, persis seperti orang asing yang sedang memeluk pinggangnya ini.
"Mereka memakai baju yang sama sepertimu. Apa mereka iblis sepertimu?" bisik Eijun sambil terus berjalan.
"Jangan banyak tanya," balasnya.
"Itu baru pertanyaanku. Kau berutang jawaban padaku," bisik Eijun lagi.
"Aku tidak berutang apapun padamu. Sekarang diam," desisnya mutlak.
Bangunan kuil itu lebih ramai dari yang Eijun duga. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dunia akhirat ini begitu sibuk dan modern. Ada Layanan Pengaduan dan Ruang Konseling Bagi Jiwa-Jiwa yang Meninggal Akibat Bunuh Diri.
"Wow," bisik Eijun takjub.
"Jangan menampilkan ekspresi bodoh seperti itu," kata si orang asing.
"Aku tidak berekspresi bodoh!" balas Eijun.
"Kau ini sedang jadi orang mati. Mana ada orang mati yang terpukau dengan dunia akhirat?" balas si orang-yang-mengaku-iblis itu.
Eijun kembali bungkam. Ada benarnya juga ucapannya.
"Jadi, kita kemana sekarang?" tanya Eijun.
"Tetap menunduk dan jangan buat kontak mata. Kita akan lewat pintu belakang," ujarnya.
Namun, sebelum mereka sempat berjalan lebih jauh, seseorang menghentikan langkah mereka.
"Oi Miyuki! Kau sudah boleh kembali bertugas?"
Cengkraman di pinggang Eijung mengeras. Seseorang menghampiri mereka berdua dan Eijun dilemma antara ingin melihat wajahnya atau tetap menunduk supaya dia tidak ketahuan sedang menyusup.
"Kuramochi. Energik seperti biasa."
Rasa penasaran Eijun menang, karena rupanya mereka memiliki nama satu sama lain.
"Ibu Direktur sudah memperbolehkanmu mengantar jiwa-jiwa lagi? Bukankah masa skorsmu 500 tahun?" tanyanya bingung.
Ibu Direktur dan masa skors 500 tahun? Eijun mulai mengangkat kepalanya untuk melihat lawan bicara dari si orang asing yang dipanggil Miyuki ini.
"Yah, kita sedang kekurangan staff kan. Kupikir tidak ada salahnya kembali bekerja dan mencabut masa skors-ku."
"Jadi, jiwa ini mau kau bawa kemana? Pintu masuk ke Ruang Tunggu di sebelah sana," ujar Kuramochi.
"Ah iya. Ini mau kubawa ke Ruang Konseling dulu. Dia sempat histeris begitu tahu sudah meninggal. Jadi… begitulah." Miyuki mulai berjalan lagi dan mendesak Eijun untuk terus berjalan. "Sampai nanti Kuramochi! Ayo kita minum-minum lagi setelah ini!"
Dan mereka berjalan sedikit lebih cepat.
"Kau punya nama? Miyuki? Itu namamu?" bisik Eijun.
"Diam dan jalan terus," bisiknya.
"Kenapa kalian bisa punya nama?" tanya Eijun lagi.
"Manusia juga menamai daun dengan nama. Kenapa kami tidak boleh?" tanyanya lagi.
Eijun terdiam. Argumentasinya masuk akal.
Akhirnya, mereka sampai ke samping Ruang Konseling Bagi Jiwa-Jiwa yang Bunuh Diri. Ada sekitar 40 jiwa yang sedang mengantri di depan Ruang Konseling. Rata-rata adalah remaja. Eijun terpaku melihatnya.
"Dahulu jumlahnya lebih sedikit," kata Miyuki. "Tapi semakin ke sini, tren bunuh diri di kalangan remaja semakin besar. Ini masih lebih sedikit dari biasanya."
Eijun tidak mengatakan apapun. Dia mengikuti Miyuki berjalan di lorong-lorong yang pas-pasan. "Ini lorong karyawan," kata Miyuki. Dia menuntun Eijun ke sebuah ruangan dengan tulisan Ruang Ganti. Mereka masuk ke dalamnya.
"Kau harus mengganti bajumu atau kau akan dicurigai," ujar Miyuki sambil membuka sebuah loker. Di dalamnya adalah sebuah yukata hitam seperti yang Miyuki pakai. Eijun memakainya tanpa banyak tanya. Lalu, mereka keluar dari Ruang Ganti seolah mereka adalah karyawan.
"Maaf. Karyawan? Di skors 500 tahun? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Eijun. Dia tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.
"Kau kesini untuk menyelamatkan suamimu atau untuk jadi reporter? Berhentilah bertanya," gerutu Miyuki.
Sikap Miyuki menjadi sedikit lebih ketus ketika mereka sudah di Gunung Osore. Namun, Eijun tidak mau membuatnya bertambah kesal. Miyuki benar, Eijun ada di sini untuk Chris. Untuk suaminya. Dan hanya itulah yang harus Eijun lakukan.
Sama seperti Orpheus, sama seperti Dewa Izanagi, dan sama sepert Pysche. Eijun pun bisa melakukannya. Mengarungi kematian demi orang yang terkasih.
Yuu, tunggulah aku. Aku akan datang menjemputmu!
Hanya saja, Eijun lupa, kisah mereka tidak berakhir bahagia.
.
TAKIGAWA CHRIS YUU
Chris berada di Ruang Tunggu.
Ketika dia terbangun, dia telah berbaring di sebuah lantai yang tampak begitu asing, sekaligus familiar. Mungkin dia pernah datang ke sebuah penginapan tradisional bersama Eijun dan desain interiornya begitu mirip sehingga Chris merasa nostalgia.
Namun, perasaan hanyalah tinggal perasaan. Kini, dia bersama sekitar 100.000 jiwa yang mengantre untuk menaiki kapal yang akan menyebrangi Sungai Sanzu. Orang-orang yang sama sepertinya. Sudah meninggal.
Perasaan ketika mengingat kembali kejadian sebelum meninggal begitu mengerikan, karena semuanya tampak begitu nyata. Chris ingat dia sedang berjalan menyebrang zebra cross dan tubuhnya ditabrak oleh sebuah truk yang melaju kencang. Dan setelah itu, dia terbangun di depan Gapura Selamat Datang dan dituntun menuju Ruang Tunggu.
Kematian menghampirinya begitu cepat, bahkan sebelum dia sempat memprosesnya. Begitu dia ingat bahwa dia sudah meninggal, dia teringat Eijun. Pria itu pasti sangat merana begitu mendengar kabar kematiannya. Apalagi setelah Eijun dengan sabar selalu memaklumi ketidakhadiran Chris di setiap acara besarnya. Hari itu juga, Chris tidak datang, padahal Eijun menantikannya. Jika waktu itu dia pergi bersama dengan Eijun, mungkin saat ini mereka masih bahagia berdua. Tidak perlu ada kematian di antara mereka.
Tapi lagi-lagi Chris mengikuti egonya. Dan akhirnya mereka berdua menderita karenanya. Ah salah. Eijun pasti jauh lebih menderita. Setelah Chris melewati Sungai Sanzu, dia tidak akan mengingat apapun lagi. Namun, Eijun akan berjalan sendirian di dunia ini. Apakah Eijun akan mencari laki-laki lain yang mampu menjadi sumber inspirasinya? Apakah Eijun akan membacakan bab-bab terbaiknya untuk laki-laki itu? Apakah pasangannya nanti bisa lebih mengerti Eijun dibandingkan Chris?
Apakah Chris sudah gagal menjadi suami Eijun?
Mengingat hal itu membuat perasaannya semakin berat. Dia duduk dengan muram di ruang tunggu.
"Tidak apa, Anak Muda," kata seseorang di sampingnya. "Kematian hanya harus diterima. Dengan begitu, perasaanmu akan jauh lebih baik."
Chris menoleh dan mendapati seorang kakek tua sedang duduk di sebelahnya. "Maaf, apa?"
Kakek tua itu tersenyum bersahaja. "Tidak ada yang bisa kita lakukan juga, bukan? Sisanya, biarlah mereka yang masih hidup yang berjuang. Kita sudah selesai. Kita bisa istirahat."
Tanpa sadar, Chris mengepalkan tangannya. "Mungkin bagi Anda seperti itu. Bagi saya tidak! Saya seharusnya bisa memilih pilihan untuk tidak mati! Tapi… Tapi!" Dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Tapi dia memilih jalan kematian untuk meninggalkan Eijun, karena Chris tidak punya keberanian selama hidupnya.
Sebuah fakta mengerikan yang tidak berani dia akui keras-keras.
"Aku meninggalkan seorang istri, tiga orang anak perempuan dan lima orang cucu," kata si kakek tua. "Bagaimana denganmu?"
"Seorang suami, dan ayah dan ibu."
Si kakek tua mengangguk pengertian. "Tidak apa. Meskipun berat, orang-orang yang masih hidup selalu menemukan cara untuk bertahan hidup. Jangan khawatir. Mereka akan baik-baik saja."
Chris hanya mampu mengangguk.
.
SAWAMURA EIJUN
"Sebenarnya kau membawa aku kemana sih!" protes Eijun.
Miyuki bilang mereka akan lewat jalur belakang untuk menuju pinggiran Sungai Sanzu. Namun, mereka malah menyasar ke padang rumput dan Eijun bahkan tidak melihat sisi bantaran Sungai yang katanya begitu besar dan sanggup menenggelamkan dosa para manusia.
"Jalur belakang," jawab Miyuki singkat.
"Dari tadi kau hanya mengatakan itu!" protes Eijun. "Oi Miyuki! Jangan mengabaikanku!"
"Jangan berisik! Suaramu bisa membangunkan Ibu Direktur dan semuanya kacau nanti!" desis Miyuki.
Eijun mensejajari langkah Miyuki. "Ibu Direktur.. maksudmu Dewi Izan–"
"Jangan sebut namanya!" bentak Miyuki. Mereka berhenti berjalan. "Nama memiliki kekuatan. Dan di tanah ini, kekuatannya begitu besar, karena… beliau penguasanya. Jadi, jangan sebut nama sembarangan di sini."
Karena peringatan Miyuki begitu serius, EIjun hanya sanggup menganggukkan kepala dan berjalan lagi dalam keheningan. Tapi, keheningan itu tidak berlangsung lama karena Eijun sudah bosan setengah mati. Dan lagi, Miyuki sama sekali tidak membantu menjelaskan apapun mengenai apa yang harus dilakukannya atau apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan saat ini.
"Kenapa kalian memanggilnya Ibu Direktur? Apa ini semacam perusahaan?" tanya Eijun, memulai percakapan lagi. Ketika Miyuki tidak menyahut, Eijun menyenggolnya. "Oi Miyuki, jangan mengabaikanku!" serunya.
Miyuki berdecak. "Apa kau tidak bisa diam sekitar 5 detik? Kenapa kau banyak bertanya sejak kita masuk ke Dunia Yomi?"
"Dengar Miyuki-Iblis! Aku ini orang hidup yang seharusnya tidak ada di sini dan tidak seperti jiwa-jiwa yang akan melewati Sungai Sanzu, aku dan Yuu akan mengingat semua ini ketika kami nanti kembali hidup! Jadi setidaknya, bicaralah padaku supaya aku tidak berpikir bahwa aku gila! Jadi, hibur saja aku."
Aku dan Yuu.
Kami berdua.
Eijun sudah begitu yakin bisa membawa jiwa Chris kembali ke dunia fana dan meneruskan kehidupan mereka.
Miyuki mengalah. Dia menghela napasnya dan menatap Eijun sambil terus berjalan beriringan. "Dunia kami juga mengalami pergeseran waktu, mengikuti tren manusia dan globalisasi. Dan, Beliau juga mengikuti arus modernisasi, meskipun tetap tidak menghilangkan inti-inti dari dunia ini. Jadi, kurasa Beliau menonton acara televisi dan berpendapat bahwa posisi Direktur itu keren. Itu bukan hal yang serius, sungguh."
Eijun memperhatikan penjelasan Miyuki.
"Dan kau punya nama? Miyuki? Dan semua Iblis di sini punya nama? Apakah ada Lucifer?" tanya Eijun lagi.
Miyuki mendesah lagi. "Bukan Iblis, lebih tepatnya. Kami adalah dewa-dewa kematian yang lahir dari tanah ini. Dari kekuasaan Beliau. Sudah sedari dulu kami bertugas menggiring jiwa-jiwa yang telah meninggal ke tanah Yomi. Dan satu dua kali boleh memangsa jiwa yang tersesat."
"Bukankah itu tindakan illegal?" tanya Eijun.
"Kaum kalian juga selalu melakukan tindakan illegal, jadi apa bedanya?" retorik Miyuki.
"Apa… Beliau yang memberimu nama Miyuki?" tanya Eijun lagi.
Miyuki menggeleng. "Kami tidak punya nama. Tidak punya wujud juga. Namun, ketika kami menggiring jiwa-jiwa kembali ke Dunia Yomi, sesekali kami akan mengambil wujud manusia yang membuat kami tertarik. Begitu pula nama. Kurasa itu menjadi semacam lelucon di antara kami, supaya kami tertambat dan merasa dekat dengan manusia." Miyuki mengangkat bahunya. "Dan kupikir wujud ini juga ada untungnya."
Dia menyeringai ke arah Eijun. "Kau juga terpesona dengan wajah ini kan?"
Eijun yang ditodong pertanyaan seperti itu gelagapan, seperti kucing ketahuan mencuri ikan.
"Tidak! Maksudku, kau hendak memangsa jiwa suamiku dan seperti katamu, aku nyaris melubangi kepalaku dengan tinjuku. Jangan aneh-aneh kau, Miyuki!"
Miyuki hanya tertawa. "Nah, sekarang giliranku bertanya."
Eijun mengerutkan dahi. "Apa? Untuk apa?" tanyanya.
"Supaya adil. Aku menjawab pertanyaanmu dan kau akan menjawab pertanyaanku."
"Bukankah kau sudah tahu segalanya tentangku?" retorik Eijun.
"Aku mau mendengarnya langsung dari mulutmu."
Eijun merenggut, tapi tidak menolak. "Apa yang ingin kau ketahui?"
"Kenapa kau menjadi seorang penulis?" tanya Miyuki.
Pertanyaan sederhana tetapi sungguh rumit menjawabnya. Namun, karena Miyuki sudah berbaik hati mau menjawab beberapa pertanyaannya, maka Eijun memutuskan untuk berusaha menjawab pertanyaan itu.
"Karena aku ingin kalimat-kalimatku diingat oleh dunia. Jane Austen, Slyvia Path, Fyodor Dostoevsky, Osamu Dazai, semua diingat dunia karena tulisan mereka. Kata-kata mereka masih dikutip di berbagai tempat. Buku-buku mereka dicetak ulang, seolah mereka tidak pernah pergi, seolah mereka masih ada. Aku ingin diingat seperti itu. Aku ingin, setelah 50 tahun kematianku, 100 tahun kematianku, dunia masih tetap membaca karya Sawamura Eijun."
"Itu ambisi yang luar biasa," komentar Miyuki.
Eijun tertawa. Bukan tawa histeris atau gila. Tapi tawa tulus setelah 24 jam ini hidupnya terasa seperti di neraka. "Kau orang kedua yang mengatakan hal itu."
"Kutebak suamimu orang pertama yang mengatakannya?"
Eijun mengangguk. "Yuu mengatakan itu 3 hari setelah kami berkenalan. Aku terlalu banyak omong, tentu saja. Tapi dia tidak menginterupsiku dan dia malah bertanya apa cita-citaku. Orang lain bilang aku terlalu banyak bermimpi, tapi Yuu bilang dia yakin bahwa aku bisa mencapai langit dan menggenggam dunia." Eijun merentangkan tangannya.
Tapi Eijun tidak bisa menggenggam jiwa suaminya yang terlepas dari dunia fana dan tidak bisa menggenggam cinta Yuu yang sama-sama terlepas.
Mereka masih menyusuri padang rumput yang tidak ada ujungnya. Kaki-kaki mereka terasa ringan dan Eijun merasa seolah melayang. "Apa kau pernah bertemu dengan Osamu Dazai di sini?" tanya Eijun.
Miyuki mengangguk. "Dia masuk Ruang Konseling selama beberapa puluh tahun sebelum diperbolehkan menyebrangi Sungai Sanzu."
Eijun terkesiap. "Benarkah? Lalu, bagaimana dia?"
"Tidak ada apa-apa. Dia hanya dibimbing saja. Banyak juga aktris-aktris Jepang yang bunuh diri. Mereka semua selalu langganan di Ruang Konseling."
Eijun mendesah. "Wah, rupanya kau sudah banyak bertemu dengan orang-orang hebat."
Miyuki malah mendengus. "Tidak juga. Kalau kau sudah melakukan ini seumur hidup, semua jiwa terlihat sama. Pada akhirnya, setelah mereka melewati Sungai Sanzu, mereka tidak lebih dari jiwa-jiwa kosong yang akan diadili di pengadilan akhirat. Semua kefanaan mereka tidak akan membantu menyelamatkan mereka."
Eijun mendengarnya dengan terpana. Benar juga, ketika manusia akhirnya meninggal dunia, tidak ada satu pun yang mampu menyelamatkannya. Hanya diri mereka sendiri dan semua amal perbuatannya yang akan menolong mereka.
"Miyuki, aku ingin bertanya lagi," kata Eijun.
"Bertanya saja. Sudah dari tadi kau bertanya."
"Apa maksudnya kau di skors 500 tahun? Apa kau membuat kesalahan ketika bekerja?" tanya Eijun.
Pertanyaan itu jelas masih terlalu sensitif bagi Miyuki. Bahunya menegang dan bibirnya mengatup rapat hingga tinggal segaris. Eijun melihat kedua matanya berkilat di balik kacamatanya.
"Kalau kau–"
"Aku salah mengambil jiwa," jawab Miyuki datar. "Karena itu aku dihukum. 500 tahun."
Eijun tidak menyangka kalau Miyuki mau menjawab pertanyaannya. "Tapi bukankah itu berlebihan sampai 500 tahun?" tanya Eijun pelan.
Miyuki tertawa. "Bagi mahluk abadi seperti kami, di skors 500 tahun berlangsung singkat. Mungkin seperti 5 bulan, di dunia kalian."
Namun, bagi Eijun 5 bulan saja sudah lama.
"Apa yang kau lakukan selama 500 tahun ini?" tanya Eijun lagi.
Miyuki mengangkat bahunya ringan. "Tidak banyak. Berbaur dengan manusia dan aku mulai memakai wujud ini sejak 500 tahun lalu."
Eijun mengangguk paham.
Akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan super besar berlantai 3 dengan model pemandian Jepang yang, percaya tidak percaya, Eijun tahu bangunan ini. Eijun ingat hari mereka berbulan madu, 10 tahun yang lalu. Mereka menghabiskan waktu di pemandian air panas di Kyoto selama 1 minggu.
"Tidak mungkin…" kata Eijun tanpa sadar.
"Sudah kubilang, kendalikan ekspresi bodohmu itu."
"Tapi bangunan ini…"
"Aku tahu. Bangunan itu terproyeksi sesuai kenangan dari masing-masing jiwa. Jadi, apa yang terlihat olehmu, tidak sama dengan yang terlihat oleh orang lain," jelas Miyuki.
Mereka memasuki bangunan tersebut. Tidak ada yang menjaga pintu depan. Ketika mereka di dalam, interiornya berbeda dengan pemandian air panas yang pernah didatangi oleh Eijun dan Chris. Di dalam, hanya ada berbagai jenis kursi, persis seperti ruang tunggu.
"Dimana Yuu?" tanya Eijun. Begitu banyak jiwa-jiwa yang sedang menunggu dan mereka memakai yukata putih, persis seperti cerita-cerita di mitos yang pernah Eijun baca.
"Tunggu sebentar, aku cek dulu."
Miyuki menuju meja resepsionis terdekat dan Eijun masih memperhatikan semua jiwa-jiwa yang mengantri untuk menyebrang Sungai Sanzu.
"Pengumuman. Bagi penumpang bernomor 6000-10000 silahkan memasuki kapal feri. Sekali lagi, bagi penumpang bernomor 6000-10000 silahkan memasuki kapal feri. Terima kasih."
Suara seorang perempuan yang mengudara di seluruh bangunan membuat Eijun memperhatikan. Sekitar 4000 orang bangun dari kursinya, ada pula yang turun dari lantai 2 dan 3, dan mereka berjalan pelan menuju pintu keluar lain. Pintu keluar yang mengarah langsung ke sebuah Pelabuhan besar dimana ada sekitar 6 kapal feri besar yang berlabuh.
Inilah Sungai Sanzu.
Sungainya begitu besar, lebih besar dari Sungai Thames di London, dan lebih besar dari dari San Francisco Bay yang dilewati The Golden Bridge. Permukaan airnya tenang, seperti terbuat dari kaca. Satu per satu jiwa mulai masuk ke dalam kapal feri masing-masing.
"Apa sudah ketemu?" tanya Eijun.
"Tenang. Suamimu itu orang yang baru meninggal, jadi dia pasti dapat antrian akhir." Mata Miyuki masih mencari. "Oke, ketemu. Dia di lantai 3."
Mereka menaiki lantai dua dan menuju lantai 3. Pemandangan di lantai 3 juga sama seperti sebelumnya. Hanya ada banyak kursi untuk menunggu. Sembari melihat sekeliling, jantung Eijun berdentum-dentum kuat.
Ada di sini, suami Eijun. Hanya terpisah beberapa meter saja. Mereka tidak terpisahkan oleh dunia, tidak terpisahkan oleh kematian, karena Eijun telah mengarungi kematian untuk menemui Chris. Rasanya tidak nyata, karena baru 24 jam yang lalu Eijun menangis hingga nyaris merobek pita suaranya karena melihat tubuh Chris terbujur kaku.
Eijun mulai berjalan mengamati wajah-wajah jiwa yang telah meninggal. Wajah mereka berdenyar, seperti kabut yang menutupi gunung di pagi hari, dan tatapan mereka kosong. Eijun terus berjalan, memutari seluruh ruang tunggu sampai dia menemukan seseorang yang sedang berbincang dengan kakek tua.
Wajah Chris tidak berubah. Meskipun dia telah berupa jiwa, Eijun mampu mengenali Chris, karena wajahnya tidak tertutup oleh kabut. Wajahnya solid, tampan dan begitu familiar. Eijun melangkah semakin cepat, hingga berlari. Rasanya mereka telah terpisah selama 50 tahun dan Eijun begitu merindukan Chris.
"Yuu!" seru Eijun.
Chris menoleh ke arahnya, dan sebelum dia sempat memproses apapun, Eijun melompat dan memeluk suaminya dengan erat.
"Yuu, ayo kita pulang bersama."
.
TAKIGAWA CHRIS YUU
Chris tahu, bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa bermimpi atau berhalusinasi. Namun, ketika tubuh transparan Eijun yang dibalut yukata hitam seperti para dewa kematian mendekapnya kuat, Chris berharap bahwa dirinya sedang bermimpi.
Tidak mungkin Eijun datang ke dunia kematian ini.
"Yuu," gumam Eijun masih memeluknya.
"Mustahil… Eijun… Kenapa kau ada di sini?" tanya Chris setengah syok.
Pelukan Eijun semakin kencang, menyesakkannya hingga ke tulang-tulang. "Karena aku mau menemuimu. Aku mau menjemputmu."
Chris melepaskan pelukan itu dengan kasar. Bola mata Eijun membelalak kaget. Sebuah emosi mendidih di dalam dadanya.
"Apa kau juga sudah meninggal? Kau bunuh diri, Eijun?" tanya Chris. Dia memegang kedua bahu Eijun yang dibalut yukata hitam, kontras dengan yukata putih yang dikenakan Chris.
"Tidak! Aku belum meninggal. Aku hanya mati suri. Aku sengaja datang ke dunia ini untuk menjemputmu, Yuu. Ayo kita pulang bersama." Eijun tersenyum.
Senyuman yang membuat Chris jatuh cinta. Senyuman yang selalu dilihatnya sebelum tidur dan hal pertama yang dilihatnya setelah bangun tidur. Senyum yang begitu percaya diri, berbinar-binar dan penuh cinta. Senyum yang mampu membaut dada Chris teras penuh. Namun saat ini, senyum itu melukai Chris. Rasanya seperti ada rantai besi panas yang mencekik lehernya.
Bahkan di kematian pun, Eijun tetap mencarinya. Tetap ingin menemuinya.
"Eijun, aku sudah meninggal. Aku tidak bisa lagi pulang bersama denganmu," ujar Chris penuh derita. Dia benci menjadi orang yang melenyapkan senyuman Eijun, tapi Chris adalah orang yang telah melenyapkan senyuman itu. Bahkan setelah kematian pun, dia masih menjadi orang yang membuat senyum Eijun lenyap.
"Bisa Yuu. Aku menemukan cara. Tapi kita harus cepat, karena batas waktunya pukul 6 pagi nanti," ujar Eijun bertekad. Dia menggenggam kedua tangan Chris dan menciuminya. Chris tidak merasakan apa-apa, karena rasa itu dimiliki oleh tubuh fananya. Namun, dadanya terasa sesak.
"Eijun," panggil Chris. "Kenapa kau datang, Sayang?" tanyanya lembut.
Eijun masih menciumi kedua tangan Chris. Dia tidak mau mendongak dan menatap wajahnya. Bibirnya terasa lembut di punggung tangan Chris. Punggungnya terasa begitu kecil dan rapuh dan Chris ingin sekali mendekapnya.
"Karena kau ada di sini Yuu. Itu sebabnya aku datang. Kemana pun kau pergi, aku akan terus menemuimu."
Begitulah cara Sawamura Eijun mencintainya. Begitu membara, begitu bertekad, dan begitu kuat. Begitu kuat, hingga kematian pun tidak bisa memisahkan mereka. Chris dicintai dengan begitu kuat oleh Sawamura Eijun. Suaminya, belahan jiwanya.
Chris mengangkat kepala Eijun dengan lembut. Kedua mata mereka bertemu dan Chris tidak bisa melihat apapun kecuali sebuah rasa cinta yang begitu besar, dan harapan yang menyesakkan dada. Chris tahu, Eijun hanya tahu satu cara mencintainya. Dia mencintai Chris dengan seluruh kegemilangan di dunia. Dia mencintai Chris dengan keras, dan sesuai karakter Eijun dan ambisinya, dia ingin seluruh dunia melihatnya mencintai Chris.
Namun, terkadang Chris ingin dicintai dalam keheningan. Dicintai dalam gelapnya malam, hanya ada mereka berdua dan itu akan menjadi cinta mereka berdua. Chris ingin dicintai dalam keintiman yang tidak boleh dilihat dunia. Dan Eijun pun mampu melakukannya. Mencintai Chris dalam duka, dalam sepi dan dalam gelap. Dia mengarungi kematian untuk bisa bertemu dengan Chris.
"Eijun, terima kasih sudah datang," kata Chris. Dia mengeratkan genggaman tangan mereka. "Aku juga akan pergi kemana pun kau ingin pergi, Sayang."
Jawaban yang dinantikan oleh Eijun. Eijun tersenyum dari telinga hingga telinga dan dia tertawa lega. Air mata mengalir di pipinya dan Chris mengusapnya lembut.
"Ayo kita pulang," bisiknya.
"Kau pikir siapa dirimu, berusaha membawa pergi jiwa milik Dewi Izanami?"
Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara dan sekitar 10 orang dewa kematian mengelilingi mereka. Suasana di Ruang Tunggu sedikit kacau karena para jiwa berusaha menghindari para dewa kematian. Namun, baik Eijun dan Chris, berdiri tegak di tempat mereka. Miyuki ditahan oleh dua orang dewa kematian. Ekspresinya kesal bercampur marah.
"Aku kecewa padamu, Miyuki Kazuya. Kupikir kau sudah intropeksi diri karena kesalahanmu 500 tahun lalu. Rupanya, kau masih terus berbuat salah," ujar salah seorang dewa kematian. Chris berpikir dia adalah ketua dari rombongan dewa kematian itu. Auranya begitu mendominasi.
"Yuki-san, dengar dulu. Aku punya alasan bagus!" seru Miyuki sambil berusaha melepaskan kedua tangannya.
"Bukan aku yang mau mendengar alasanmu," ujar Yuki, tetapi Sang Dewi lah yang akan menilai."
Yuki menatap Chris dan Eijun yang berpegangan tangan dan tidak gentar satu kali pun. "Bawa kedua orang ini ke Kantor Direktur. Sudah cukup kerusuhan ini. Jangan sampai mengganggu jadwal keberangkatan kapal feri."
Eijun memasang badan dengan defensif. Namun, 4 orang dewa kematian memegang tangan mereka, memaksa genggaman tangan mereka terlepas.
"Aku sarankan jangan melawan. Jika kalian melawan, aku bisa melenyapkan jiwa kalian di sini. Dan kalian tidak akan memiliki kesempatan untuk membela diri," ujar Yuki tegas.
Eijun tampak tidak mendengarkan, tapi Chris membuka mulutnya. "Kami paham. Kami akan ikut. Eijun, jangan melawan lagi, kumohon."
Barulah Eijun berhenti melawan. Mereka mulai berjalan ke lorong, diikuti tatapan penasaran dari para jiwa yang lain.
"Maaf," bisik Eijun.
Chris menggenggam tangannya. "Tidak apa. Kita sudah bersama-sama. Tidak ada lagi yang harus kau takutkan."
Eijun mengangguk. Mereka berjalan melewati bangunan-bangunan lain dan inilah kali pertama Chris melihat Dunia Yomi. Dunia Yomi dibangun di pinggiran Sungai Sanzu, dan landscape perkotaannya, mirip-mirip dengan Kyoto. Begitu otentik, begitu Jepang. Para dewa kematian yang sedang tidak bertugas berjalan-jalan di kota, masuk ke dalam kedai atau hanya sekedar berbincang-bincang.
"Ini luar biasa," bisik Chris. Dia menatap Eijun. Eijun tampaknya tidak menikmati pemandangan kota di sekitar mereka. Dia terus melotot dan menggeram, seolah dengan begitu 4 dewa kematian yang menahan mereka akan takut. Lalu, Chris baru menyadari ada seorang dewa kematian lagi yang ditahan, ikut bersama dengan mereka.
"Siapa dia?" tanya Chris pada Eijun.
Ekspresi Eijun melembut ketika bicara. "Dia Miyuki. Dia yang membantuku masuk ke dunia ini. Dia membantuku menemukanmu."
"Karena itu mereka menahannya?" tanya Chris.
"Kurasa. Kami sudah menyelinap dengan baik tadi. Tapi kurasa memang sulit untuk keluar diam-diam." Eijun menghela napas.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan paling megah di kota itu. Bangunan Kekaisaran Jepang yang gerbangnya dijaga oleh dua orang penjaga. Ada tulisan di atas gerbang "Kematian Yang Absolut". Ketika membacanya, Chris jadi merasa tersindir.
Yuki melangkah sendiri ke pintu gerbang. "Kami datang membawa 1 manusia fana, 1 jiwa yang berusaha kabur, dan 1 dewa kematian yang seharusnya masih di skors."
Pintu gerbang terbuka dari dalam dan rombongan mereka memasuki pekarangan Kastel. Taman-taman ditumbuhi berbagai bunga kristal dan air mancur yang mempercantik taman. Mereka terus berjalan menuju bangunan lain yang lebih dalam, tetapi Chris tidak mampu melepaskan pandangannya pada apa yang dilihatnya sepanjang jalan.
Ruang Kepala Direktur, itulah nama ruangan yang akan mereka masuki. Pintu tersebut besar dan menurut Chris terbuat dari kayu yang paling bagus di dunia. Kayu jati, mungkin. Pintu itu terbuka dengan sendirinya dan Yuki memasuki ruangan, diikuti oleh mereka semua.
Ruangan itu sangat besar, seperti dua aula digabung menjadi satu. Keramik marmer memantulkan suara sepatu-sepatu mereka. Tidak ada yang bersuara selama mereka memasuki ruangan itu. Ada banyak rak-rak yang begitu tinggi menjulang hingga langit dan Chris kelelahan ketika melihatnya. Di ujung ruangan, ada sebuah meja yang berantakan dengan berkas-berkas. Di belakang meja, ada seorang wanita yang memakai topeng porcelain duduk sambil menulis.
Yuki membungkuk hormat. "Yang Mulia," ujarnya. Seluruh dewa kematian membungkuk. Chris dan Eijun terpaksa membungkuk.
Wanita itu, yang dipanggil Yang Mulia, berhenti menulis. Rambutnya yang hitam legam disanggul, persis seperti wanita bangsawan dari Jaman Edo. Kimono-nya begitu mewah dan membuat mata Chris pusing, saking banyaknya intan dan permata yang berkilauan. Sayangnya, wajahnya dilapisi topeng porcelain berwarna abu-abu. Hanya menyisakan dua lubang untuk mata saja.
Inilah Dewi Izanami, Penguasa seluruh kematian. Penguasa Dunia Yomi. Wajahnya yang buruk rupa karena telah meninggal dan itu menjadi alasan Dewa Izanagi mengurungkan niatnya menjemput kembali istrinya.
"Ada apa ini? Kenapa satu hari aku tidak bisa bekerja dengan tenang?" Suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Chris merasakan seluruh tubuhnya bergetar karena rasa takut dan dia merasa para dewa kematian pun seperti itu.
"Mohon maaf Yang Mulia, karena kami mengganggu pekerjaan Anda. Namun, saya harus menyampaikan beberapa masalah–"
"Aku tahu! Dua orang bodoh ini kan! Aku tahu semuanya!" potong Dewi Izanami.
Yuki bungkam.
"Pikirmu aku orang bodoh, Miyuki Kazuya? Pikirmu kau bisa menyeludupkan manusia fana di bawah hidungku dan berharap aku tidak tahu?" Dia bertanya dengan nada tajam.
Dewa Kematian yang bernama Miyuki Kazuya itu menunduk dan lututnya menyentuh lantai marmer. Rambutnya yang acak-acakan menutupi seluruh wajahnya. "Tidak, Yang Mulia." Jawabannya bergetar.
"Jadi, apa maksudmu ini? Kau pikir aku punya banyak waktu omong kosong seperti ini? Tidakkah kau lihat betapa banyak kekacauan setiap harinya? Dan aku harus mengurus semuanya!" serunya dengan penuh emosi hingga seluruh ruangan bergetar dan guntur menggelegar.
"Yang Mulia, kali ini berbeda! Saya menyaksikannya sendiri dan ini benar-benar berbeda." Miyuki bicara terburu-buru.
Dewi Izanami mendengus prihatin. Dia melambaikan tangan dan serta merta Yuki dan para dewa kematian lainnya menghilang. Tinggal Eijun, Chris dan Miyuki. Mereka berhadapan langsung dengan Dewi Izanami.
"Pada awalnya, semuanya terasa berbeda. Aku pun memiliki keyakinan itu pada suamiku. Sampai kenyataan menghantam dan kenyataan lah yang akan mematahkan semua harapan dan omong kosong lainnya."
Miyuki kembali bungkam.
Chris merasa Dewi Izanami menatap mereka berdua. Chris takut, tapi dia memutuskan untuk berdiri tegak seperti Eijun dan genggaman tangan mereka menguat.
"Sawamura Eijun dan Takigawa Chris Yuu."
Bahu keduanya menegang.
"Katakan padaku Sawamura Eijun, apa yang hendak kau lakukan sekarang?" tanyanya menatap tajam Eijun.
"Saya akan membawa suami saya kembali pulang." Eijun menjawab dengan lugas dan tegas.
"Tapi rumah bagi jiwa yang sudah mati di sini. Tanah inilah tempat mereka pulang."
"Saya akan membawa Yuu kembali ke dunia manusia. Tempat pulangnya adalah rumah kami. Kami akan kembali ke dunia manusia," balas Eijun lagi.
Setelah hening sejenak, Dewi Izanami menghela napas. "Kau mirip dengan laki-laki yang pernah kukenal. Begitu ambisius dan berpikir seluruh dunia berpusat padanya. Tapi kau harus tahu, ekspektasimu terlalu tinggi mengenai dunia. Kau akan tertampar realita dan akhirnya, kau mundur seperti anjing yang kalah."
Lalu, Dewi Izanami melirik Chris dan seluruh tubuh Chris serasa terpaku.
"Coba lihat suamimu baik-baik. Apa kau masih menginginkannya sekarang?" tanya Dewi Izanami.
Eijun menoleh ke arah Chris dan ekspresinya berubah horror. Dia mundur 2 langkah ke belakang dan kedua tangannya menutup mulutnya.
Awalnya Chris tidak paham apa yang terjadi, tapi ketika dia melihat baik-baik bayangannya dari bola mata Eijun, dia paham kenapa Eijun berekspresi seperti itu. Tubuhnya hancur lebur dan setengah wajahnya membusuk, hanya tersisa tulang-tulang dan daging yang membusuk. Entah sihir apa yang dilakukan Dewi Izanami, tapi kondisi Chris memang mirip zombie yang baru bangkit dari kubur.
"Lihat, kau saja langsung menjauhinya, bukan? Itu yang kau katakan mau kembali pulang bersama dengannya?" ujar Dewi Izanami mengejek.
Chris ingin melangkah maju, tapi dia tidak mampu menemukan kata-katanya. Dia terpaku di tempatnya dan kemudian sadar, bahwa inilah ujian untuk Eijun. Sama seperti Dewa Izanagi yang tidak berhasil, Eijun pun diuji dengan hal yang sama. Chris telah meninggal, tetapi keteguhan Eijun lah yang membuatnya berharap. Jika keteguhan itu runtuh di sini, Chris akan hancur selamanya.
Eijun dengan cepat menguasai dirinya dan menarik napas. Dia melangkah mendekati Chris dan tanpa ragu, menyentuhkan kedua tangannya di wajah Chris. "Tubuhmu hangat, Yuu," bisik Eijun. Mata itu berbinar-binar. Dan, dia mencium Chris. Ciuman yang rasanya sudah lama tidak dilakukannya. Tubuh Chris bisa bergerak kembali dalam ciuman Eijun. Dia membalas ciuman suaminya dengan penuh gairah dan kerinduan dan dia tidak peduli bagaimana bentuk tubuhnya saat ini. Eijun menciumnya, melihatnya dengan tatapan berbinar dan mengatakan bahwa Chris-lah yang diinginkannya, dan itu sudah cukup.
Mereka melepaskan ciuman itu karena Eijun tidak bisa berhenti tersenyum.
"Aku cinta padamu," bisiknya. Chris mengangguk.
Berpegangan tangan, mereka menghadapi Dewi Izanami. Chris tidak bisa membaca ekspresinya dari balik topeng porcelain itu. Tapi, dari kobaran di matanya, dia pikir itu cukup menakutkan.
"Anda sudah melihat sendiri, Yang Mulia." Miyuki kembali bersuara. Dan Chris baru ingat mengenai dewa kematian itu. "Saya tahu mereka berbeda, Yang Mulia. Tolong, berbelas kasihlah."
Tubuh Dewi Izanami bergetar, sepertinya Miyuki menyulut amarahnya. "Berbelas Kasih? Kematian tidak mengenal belas kasih! Kematian hanya mengenal keadilan! Dan bisa-bisanya kau menguliahiku soal belas kasih padahal kau membuat kekacauan yang fatal 500 tahun yang lalu!"
Miyuki kembali berlutut. Kini, kepalanya menempel di lantai marmer.
Dia menoleh menatap Eijun. "Sekarang, kembali ke masalah ini. Kau masih harus meyakinkan aku, anak muda. Yakinkan aku sampai aku melepaskan kalian kembali ke dunia manusia."
Chris tidak tahu apa yang akan Eijun lakukan. Mengingat tadi Eijun menciumnya dengan penuh gairah, Chris tidak kaget jika Eijun mengajaknya bercinta tepat di hadapan Dewi Izanami.
Namun, Eijun tidak melakukan itu.
"Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk meyakinkan Anda, Dewi Izanami. Perasaan saya telah saya curahkan sepenuhnya pada Yuu dan sudah tidak ada sisa lagi."
Satu ruangan itu hening. Eijun hanya menatapnya saja dan Chris merasa itu sudah cukup.
"Kalau aku bilang, kau bisa bersama dengan suamimu dan menyebrangi Sungai Sanzu bersama-sama, bagaimana?" tanya Dewi Izanami.
Sebuah kengerian menjalari Chris dan dia sontak berkata, "Tidak."
Bersamaan dengan Miyuki yang berseru, "Anda tidak boleh melakukan itu."
Namun, Eijun hanya menatapnya. Ekspresinya tidak terbaca dan Chris takut melihatnya. Apalagi, saat Eijun menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Selama kita bersama, Yuu. Aku siap menghadapi apapun."
Chris hanya menggeleng dan tidak mampu bersuara. Tidak, ini tidak seharusnya terjadi. Seharusnya mereka tidak berada di Ruang Dewi Izanami dan diuji rasa cinta masing-masing. Seharusnya mereka masih bermalas-malasan di atas ranjang sambil tertawa. Seharusnya mereka sedang berjalan-jalan di taman kota sambil bergandengan tangan.
"Tidak, Eijun. Kau tidak boleh melakukannya. Kau tidak boleh menyia-nyiakan hidupmu," ujar Chris.
"Tapi kau adalah hidupku. Jadi, tidak ada yang tersisa setelah kau pergi, Yuu."
"Yang Mulia, Anda tidak boleh melakukannya," ujar Miyuki.
"Bukan aku yang melakukannya. Dia yang memilih," ujar Dewi Izanami.
Miyuki menatap Eijun dengan marah. "Apa kau bodoh? Kenapa kau malah setuju dengan kondisi ini? Kau seharusnya meyakinkan Dewi Izanami dengan lagu atau puisimu. Itulah ujiannya!" dia berseru marah.
"Aku bisa mengubah ujiannya sesuai masing-masing orang, Miyuki."
"Yang Mulia, yang saya lakukan 500 tahun itu adalah kesalahan. Namun, Anda tidak boleh menghukum dua orang ini hanya karena mereka saling mencintai. Tidak semua laki-laki itu seperti suami Anda!"
Ucapan Miyuki benar-benar keterlaluan, Chris sadar itu. Chris tahu kisah Dewa Izanagi dan Dewi Izanami. Dan topik mengenai suaminya adalah topik yang begitu sensitif, hingga hari ini. Seluruh ruangan bergetar hebat, hingga debu-debu dari langit-langit berjatuhan. Kemarahan Dewi Izanami luar biasa dan Chris tahu bahwa kekuatannya mengguncang dunia manusia juga. Mungkin sedang terjadi gempa di suatu tempat.
"AKU BILANG JANGAN MENGULIAHIKU, MIYUKI KAZUYA!" teriaknya marah. Topeng porcelain itu bergetar dan terdapat retakan-retakan halus di sana. Miyuki kembali bersujud dan kepalanya menempel pada lantai marmer, tapi itu semua tidak ada gunanya. Kemarahan Sang Dewi lepas dan jika dia mau, dia bisa menghapus eksistensi mereka bertiga di sini. Saat ini juga.
Namun, kemarahannya mereda. Guncangan tidak terasa lagi. Retakan di topengnya memudar dan menghilang. Dia kembali menguasai dirinya lagi.
"Kau benar," kata Dewi Izanami. "Kau telah membuktikan cintamu. Kau telah berhasil meyakinkanku. Kembalilah ke dunia manusia dengan suamimu, Sawamura Eijun."
Eijun langsung jatuh berlutut. Seluruh tenaganya terkuras habis. "Terima kasih Dewi. Terima kasih." Dia bergumam berkali-kali.
"Dan kau Takigawa Chris Yuu," panggil Sang Dewi, "kali ini mencintailah dengan benar."
Chris mengangguk, meskipun perutnya terasa diaduk-aduk.
Eijun memeluknya sambil tertawa. Sepertinya Eijun tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Dewi Izanami karena terlalu bahagia.
"Kau bisa melewati jalur Gunung Osore, tempat kau masuk tadi. Tidak akan ada yang menghalangimu. Tapi ingat, hanya ada satu syarat. Sebelum kalian sampai di tanah manusia fana, kau tidak boleh menengok ke belakang apapun yang terjadi. Hanya itu syaratku. Paham?"
Eijun mengangguk terlalu cepat.
"Iya, kami paham Dewi."
"Pergilah." Dan, dengan lambaian, mereka berdua menghilang dari Ruang Kepala Direktur.
.
SAWAMURA EIJUN
"Yuu, kita akan pulang," ujar Eijun terlalu bahagia. Dia memeluk Chris dengan lembut dan kuat supaya sadar bahwa mereka nyata. Chris balas memeluknya.
Sekarang Chris tidak lagi terlihat seperti zombie, tapi bagaimana pun bentuknya, Eijun akan tetap mencintainya. Yang penting, Chris ada di sampingnya.
"Ayo sayang," ajak Eijun dan mereka mulai berjalan sambil bergandengan tangan. Para dewa kematian yang ada di kota, melihat Eijun dan Chris, tapi mereka tidak mengatakan apapun. Eijun mengangkat kepalanya dengan tinggi dan dada yang membusung.
Dia menang.
Dia telah menang melawan kematian.
Mereka menyusuri kota hingga tiba di padang rumput lagi. Eijun sedikit bingung karena kenapa dia tidak melihat bangunan Ruang Tunggu dan Sungai Sanzu lagi, tapi itu tidak jadi masalah sekarang. Kini, dia hanya harus melangkah lurus hingga sampai ke dunia manusia lagi. Sampai dia menginjakkan tanah di dunia manusia.
"Yuu, aku bahagia sekali," kata Eijun. Tangan mereka masih bertautan dan Eijun menatap ke depan. Syarat yang mudah untuk dilakukan.
"Terima kasih telah kembali padaku," ujar Chris. "Aku belum mengucapkan itu."
Eijun tertawa. "Tidak perlu kau ucapkan. Apapun yang terjadi, aku akan tetap memilihmu, Yuu."
Eijun mendengar Yuu tertawa pelan. Betapa dia merindukan tawa itu.
"Maaf aku belum sempat datang ke Seminarmu," kata Yuu lagi.
Eijun mendengus. "Setelah ini, kau tidak boleh pergi lagi sendirian, paham?"
"Iya, tentu saja. Aku akan menemanimu kemana pun kau pergi, Eijun."
Eijun tersenyum mendengarnya. "Kau tidak boleh bosan denganku karena aku akan mengikutimu 24 jam, oke?"
Eijun mendengarnya tertawa lagi. "Iya, tentu saja, Suamiku."
Mereka terus berjalan lagi, menyusuri padang rumput yang tiada akhir. Namun, Eijun lebih suka berjalan tanpa akhir seperti ini dengan Chris ke dunia manusia. Dia sanggup berjalan seumur hidupnya, asala bergandengan tangan dengan Chris.
Hingga akhirnya, mereka sampai di depan pintu kuil di Gunung Osore. Kuil yang hanya bisa dilihat oleh para arwah.
"Sebentar lagi, Sayang," ujar Eijun.
Namun, tidak ada jawaban. Begitu Eijun merasakan tangannya, Chris tidak lagi menggandengnya. Rasa panik memenuhi hati Eijun, tapi dia tidak melihat ke belakang.
"Yuu? Kau masih bersamaku, kan?" tanya Eijun dengan dada cemas.
Tidak ada jawaban.
Keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya. "Yuu?" tanyanya lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Apa Chris terlepas dari genggamannya ketika mereka di padang rumput? Haruskah dia kembali ke padang rumput? Bagaimana cara mencari orang jika Eijun tidak boleh menengok ke belakang? Haruskah dia tetap maju menuju pintu kuil dan ke tanah manusia?
Atau jangan-jangan, ini ujian lain dari Dewi Izanami? Mungkin ini salah satu trik Sang Dewi, untuk memastikan mereka berdua tidak keluar hidup-hidup. Mungkin peringatan itu juga hanya sekedar trik, karena Dewi itu tahu Eijun akan melakukan apapun demi membawa Chris kembali.
Satu lirikan.
Hanya dibutuhkan satu lirikan saja, untuk memastikan Chris ada di belakangnya atau tidak. Dan Eijun tidak harus memutar seluruh tubuhnya, hanya sedikit pergerakan kepalanya. Itu tidak akan melanggar syarat kan? Dia harus memastikan bahwa Chris ada di sebelahnya, setelah itu mereka bisa berlari ke pintu kuil dan kembali ke tanah manusia.
Dan itulah yang Eijun lakukan. Dia menoleh sedikit dan melirik ke sisi belakang kanannya, untuk melihat apakah Chris ada di sana.
Chris ada di sana. Persis di sebelahnya. Menggenggam tangannya. Dia tersenyum menatap Eijun. Seluruh tubuhnya dialiri rasa lega, dan itu hanya sesaat sebelum tanah berguncang.
KAU GAGAL!
Suara Dewi Izanami berputar-putar di dalam kepalanya.
"Yuu?" Panggil Eijun, tapi seluruh tubuh Chris tertarik mundur.
"Eijun! Eijun!" seru Yuu menggapai-gapai tangannya.
"Tidak! Raih tanganku!" seru Eijun. Dia mau berlari menghampiri Chris, tapi kakinya terendam di lumpur.
Hanya jari-jari mereka yang bertaut, sementara seluruh tubuh Chris ditarik dengan kekuatan luar biasa kembali ke Dunia Yomi. "Jangan lepaskan Yuu! Aku memegangmu!" seru Eijun.
Ekspresi Chris seperti kaca pecah. Dia menggenggam kuat jari-jari Eijun, tapi ekspresinya seperti orang yang telah mendapat kedamaian.
"Eijun!" panggilnya. "Terima kasih untuk segalanya! Maaf karena aku harus meninggalkanmu sendirian. Seharusnya aku juga bisa mencintaimu sebesar kau mencintaiku, dengan semua kegemilangan dunia dan keheningannya."
Air mata meleleh di kedua pipi Eijun. Dia mati-matian menahan Chris supaya tidak terseret gaya yang besar dan kembali ke dunia kematian. Namun, kakinya tidak mau bergerak. Kakinya serasa di semen.
"Tidak Yuu! Jangan bicara seperti itu! Kita akan bersama-sama lagi!" seru Eijun. Perlahan-lahan, jari-jemari Chris terlepas dari genggamannya.
"Tidak apa, Eijun. Aku bahagia. Aku bisa melihatmu lagi untuk terakhir kalinya. Aku bisa menciummu lagi untuk terakhir kalinya. Aku sudah tidak punya penyesalan lagi."
Dan, terlepaslah Chris dari genggaman Eijun. Jiwanya dengan mudah tertarik kembali masuk ke dalam dunia kematian. Eijun jatuh tersungkur dan sekarang dia bisa menggerakkan kakinya.
"YUU! YUU!" jerit Eijun. Dia berusaha berlari masuk lagi ke dalam Dunia Yomi, berusaha meyakinkan Dewi Izanami sekali lagi. Namun, dirinya ditahan oleh seseorang. Miyuki Kazuya menahannya.
"Apa! Lepaskan aku!" teriak Eijun. "Aku harus kembali. Aku harus membawa Yuu!" dia berseru-seru.
"Tidak ada waktu! Matahari akan terbit sebentar lagi. Kau harus kembali," ujar Miyuki sambil menyeretnya.
"TIDAK! TIDAK! LEPASKAN AKU BRENGSEK!" Eijun berusaha memukul Miyuki, tapi tidak kena. Kekuatan Miyuki jauh lebih kuat dari Eijun, sementara Eijun meronta-ronta, Miyuki menyeretnya kembali ke gerbang kuil di Gunung Osore.
"Maafkan aku!" seru Miyuki sebelum dia memukul belakang kepala Eijun dan pria itu jatuh pingsan.
.
MIYUKI KAZUYA
Miyuki telah hidup selama Jepang diciptakan. Ingatan pertamanya adalah dunia yang gelap dan menakutkan. Dia tidak punya nama dan tidak punya bentuk. Dia lahir dari tubuh Dewi Izanami yang begitu murka setelah suaminya mengkhianatinya. Meninggalkannya sendirian di tanah kegelapan yang abadi bernama kematian.
Tugasnya adalah membawa jiwa-jiwa yang telah mati menuju Sungai Sanzu. Dan Miyuki lumayan menyukai tugasnya, meskipun selalu ada orang-orang sulit yang masih belum menerima keadaan kalau mereka sudah meninggal.
Sampai dia bertemu dengan Sawamura Eijun. Kisah Eijun begitu menggugahnya, karena mengingatkannya pada kisah Dewi Izanami. Miyuki berpikir, bahwa mungkin ada kisah cinta yang tidak bisa dipisahkan oleh kematian. Mungkin Eijun bisa membuktikannya.
Dia menatap tubuh Eijun yang masih tidur. Mereka kembali ke tanah manusia fana tepat waktu, ketika matahari bersinat di ufuk timur. Namun, setelah Miyuki mengembalikan jiwa Eijun, pria itu belum bangun juga. Jadi, Miyuki kembali meneleportasikan mereka berdua ke Rumah Duka, tempat dimana mereka bertemu.
"Kau pernah bertanya apa kesalahan yang kulakukan 500 tahun lalu," ujar Miyuki sambil duduk menyandar di peti mati Chris. Eijun masih tidak sadarkan diri. "500 tahun yang lalu, aku jatuh cinta pada seorang manusia. Aku menyamar menjadi manusia untuk mendekatinya. Lalu, ketika manusia itu meninggal, aku tidak kuasa untuk membawanya menyebrangi Sungai Sanzu. Jadi, aku berencana untuk mencuri jiwanya dan mengembalikannya ke dunia fana. Hanya saja, dewa kematian yang mencuri jiwa, itu merupakan skandal besar. Tugas kami mengambil jiwa dan seharusnya aku tidak boleh mencintai manusia. Itulah yang terjadi. Dewi Izanami begitu marah dan alih-alih membunuhku, beliau hanya mengasingkanku selama 500 tahun. Amarahnya tidak lagi menggebu-gebu seperti dulu."
Dia terdiam sebentar dan menatap Eijun yang bernapas teratur, meskipun dalam tidurnya, wajah Eijun tampak menderita. "Kupikir aku ingin membuktikan sesuatu padanya. Bahwa ada cinta yang tidak bisa dihalangi oleh kematian. Tapi rupanya, tidak ada yang mampu mengalahkan kematian."
"Sawamura Eijun, kenapa kau tidak percaya? Kenapa kau harus menoleh ke belakang?"
Tidak ada jawaban dari pertanyaan itu.
Eijun mulai bergerak dalam tidurnya. "Yuu…" gumamnya.
Miyuki beringsut mendekatinya. "Kau pasti sangat mencintainya, ya. Sampai rela menukar jiwamu agar bersama dengannya." Dia menyentuh kening Eijun yang hangat dan berkerut. Tangan Miyuki bersinar. Dia mulai menghapus ingatan Eijun tentang pertemuan mereka. Tentang Dunia Yomi. Namun, dia menyisakan pertemuan terakhir Chris dan Eijun, tentang ciuman mereka, dalam bentuk mimpi.
"Duka akan hilang, meskipun butuh waktu seumur hidup. Semoga kalian bisa berbahagia di kehidupan selanjutnya."
Dan, Miyuki menghilang bersamaan dengan mata Eijun yang terbuka dengan cepat. Dia menjeritkan nama suaminya, seolah baru bangun dari mimpi buruk.
"YUU!"
.
SELESAI
