Actions

Work Header

bunga-bunga di kota (yang ada padanya cerita-cerita)

Summary:

Dari satu bunga ke bunga yang lain, kisah-kisah saling bersambung. Mengantar cinta, menebar kasih.

Notes:

honkai star rail © hoyoverse.
penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.

Work Text:

a. kamelia merah jambu

Dia selalu berangkat dengan cinta yang memenuhi tasnya, buktinya digantung di salah satu ritsleting. Sebuah foto polaroid digantung di dalam sebuah card holder penuh stiker kelinci dan hati merah jambu. Tidak sekali-dua kali penumpang kereta di sisinya berkomentar, cantik sekali pacarmu, Dan Heng akan mengoreksi dengan suara rendah, segan dianggap pamer: dia istriku. March, ketika menyambutnya di studionya agar mereka bisa pulang bersama, akan tertawa kecil. Komentar-komentarnya kadang jenaka, misalnya, seharusnya kamu bilang saja, dia idol favoritku, sebentar lagi albumnya rilis.

Tas Dan Heng juga selalu diisi oleh bekal dari March. Roti lapis berisi irisan daging, mantou kacang merah kesukaannya, atau nasi kepal—yang memastikan perut Dan Heng selalu penuh sepanjang jam kerjanya. Kadang-kadang, Dan Heng berpikir dia terlalu banyak menerima, terlalu sedikit memberi. Sehingga dia pun sesekali membalasnya dengan membelikan barang-barang kesukaan March sebagai kejutan kecil. Hari ini, dia membawakan bunga. Beberapa tangkai kamelia merah jambu yang mengingatkan Dan Heng pada rambut March, dibelinya di sebuah toko bunga di dekat stasiun.

“Cantiknya!” March menimang-nimang buket kecil itu. “Dan Heng kenapa romantis banget, sih?” Ia memeluk buket itu erat-erat, sebelum meletakkannya dengan hati-hati di atas meja rendah di samping kanannya dengan sedikit enggan. “Makasih banyak, ya. Aku selesaikan sesi terakhir dulu, baru kita pulang sama-sama. Nggak apa-apa nunggu sebentar, kan?”

Dan Heng mengangguk. “Lanjutkan saja. Maaf aku mengganggumu.”

March mengecup pipi Dan Heng sebelum menuju tempat pemotretan. Hari itu, satu keluarga memesan satu sesi penuh di sore hari. March bercerita pada Dan Heng tadi malam—pasangan itu baru saja melangsungkan pernikahan dan mereka ingin membuat sesi foto post-wedding bersama anak-anak mereka. Mereka sama-sama membawa satu orang putri dari pernikahan sebelumnya, dan tampaknya kedua anak itu sebaya. March mengambil foto mereka dengan riang dan mengatur perubahan properti sendiri sesuai keperluan tema. Dan Heng menghitung, dua puluh foto sebelum sesi itu berakhir. Salah satu anak mereka langsung saja mengeluarkan ponselnya untuk bermain gim saat sang ibu masih melihat hasil foto-foto mereka bersama putrinya yang lain.

“Yang ini bagus sekali,” March berhenti pada foto mereka berempat yang terakhir; sang ayah berdiri, ibunya duduk di atas properti sejenis pedestal yang lebih tinggi daripada kedua putrinya, dan mereka bertiga tersenyum ke arah sang ayah seperti sebuah adegan candid yang diambil diam-diam. “Aku suka. Hangat sekali. Kalian adalah keluarga yang indah.”

“Terima kasih.” Wanita itu pun mengangguk pada March. “Hasilnya sesuai dengan yang kubayangkan. Cocok sekali, belum pernah ada fotografer yang pas dengan visiku. Lain kali, aku akan menyewamu lagi.”

“Dengan senang hati! Hubungi saja kapanpun Anda butuh saya, Nyonya.”

“Omong-omong, bunga yang cantik,” ia menyentuh buket kecil kamelia di meja kecil yang berada di samping meja kerja utama March. Di sampingnya, ada beberapa tangkai bunga segar lain yang sebelumnya dipakai sebagai properti berfoto. Wanita itu juga mengangkat salah satunya, bunga mawar merah yang merekah, dan menghidu aromanya. “Yang ini juga bagus sekali.”

“Yang itu pemberian suamiku, itu dia—eh, mungkin dia sedang menunggu di luar,” March terkekeh seperti remaja baru paham jatuh cinta, “dan mawar itu, Anda suka? Boleh kok, kalau Anda mau bawa pulang!”

“Hmm, benarkah?” Ia hanya mengangkat alis, dan March pun mengangguk cepat. “Terima kasih.”

Keluarga itu pun bersiap pulang. March mengantar mereka sampai ke depan pintu, lalu Dan Heng membantunya membereskan barang-barang. Hari itu belum selesai, tetapi mereka menutupnya dengan senyuman, pulang bergandengan tangan, dan, untuk kesekian hari—semoga berulang selamanya—Dan Heng pulang dengan tas dan tangan yang penuh dengan cinta.

 


 

b. mawar merah

Blade melihat manusia-manusia yang hadir dalam hidupnya dalam warna-warna. Mereka yang datang akan selalu membawa ciri yang melekat di kepala Blade hingga suatu saat akan berubah menjadi kelabu, memudar seiring ingatan yang mengabur tentang mereka. Hitam legam, kelak, ketika mereka sudah tak bisa lagi dijelaskan Blade dalam bentuk memori apapun. Warna itu muncul begitu saja di dalam kepalanya di jabat tangan pertama, salam pertama, atau bahkan lirikan pertama. Ada satu kolega yang di kepalanya diwakili oleh warna hijau tua, karena dia menyapanya dengan tatapan teduh di hari pertama Blade bekerja di kantor yang baru, setelah sebelas tahun meniti karir di tempat yang lama. Ada pula rekan kerja yang dia anggap memiliki label jingga, karena dia memiliki suara yang nyaring, pekikan perintahnya seperti sirene. Salah satu konsultan yang menanganinya di masa lalu mengatakan padanya bahwa itu adalah fenomena yang jarang, tetapi mungkin terjadi. Ada orang yang bisa mendengar warna, atau mencecap suara. Jadi, dia masih bisa mengingat suara psikolog yang membawa warna hijau muda itu, kondisi Anda bukan sesuatu yang berbahaya. Biarkan saja, dia adalah bagian dari kehidupan sosial Anda, dan akan banyak membantu Anda mengingat orang-orang yang penting.

Kafka, sejak awal kedatangannya, adalah warna merah pekat yang eksotis. Hangat merona, seperti mawar yang merekah. Tidak, bukan hanya karena warna lipstiknya, karena Blade ingat persis wanita itu memakai warna magenta di bibirnya di pertemuan pertama mereka di sebuah teater empat tahun yang lalu. Merah adalah Kafka, tanpa bisa dia jelaskan. Merah, menyala seperti mawar yang menyembul di sudut tote bag hitamnya itu, yang menarik perhatian orang-orang di bandara—bahkan seorang petugas di dekat terminal tujuan mereka memujinya, mawarnya cantik sekali, Nyonya. Seperti Anda.

Blade melirik petugas itu, walaupun dia wanita, tetap saja Blade meraih pinggang Kafka diam-diam. Kafka bisa memesona siapa saja, perempuan atau laki-laki, Blade sadar dengan sepenuh logikanya. Sama seperti mawar; bisa menawan siapapun.

Blade tidak tahu seberapa lama mawar bisa bertahan, karena tampaknya mawar itu masih segar hingga mereka tiba di Roma, lalu ke kapal yang membawa mereka berkeliling Mediterania. Kafka meletakkannya di gelas yang diambilnya dari wastafel kamar mandi di dalam kamar yang mereka sewa di cruise tersebut. Bahkan, ketika mereka berkeliling di Mykonos, Kafka masih membawanya.

“Aku suka, itu saja,” jawabnya ringan, saat Blade menyinggungnya di saat mereka baru saja menjejakkan kaki di tempat paling ramai di Mykonos. “Dan, kamu benar-benar keren di foto hari itu dengan mawar ini.”

Foto itu—Blade perhatikan—sudah menjadi wallpaper ponsel Kafka. Mereka berdua dalam warna monokrom, hanya mawar itu yang berwarna merah dalam gambar, berada di antara bibir mereka. Blade tidak tahu ternyata hal sesederhana itu bisa membuat Kafka senang dalam waktu lama—dan Kafka hanya tertawa kecil melihat Blade yang tercenung begitu lama menatap mawar tersebut.

Kafka pun meletakkan bunga itu di depan bibir Blade, terasa seperti beledu yang dingin. Wanita itu pun menyeringai tipis, lalu, tanpa kata-kata, ia menarik mawarnya dan menggantikannya dengan bibirnya. Lebih lembut, lebih merah, lebih sensual. Blade menyayangkan hari masih siang dan mereka berada di tempat terbuka. Dia mendistraksi diri dengan menatap keramaian di sebuah toko bunga saat Kafka menggandeng tangannya dan membawanya berjalan lambat menikmati waktu.

Blade memberi isyarat, dan mereka pun berbelok ke toko tersebut. Seorang gadis muda menyapa mereka di sela-sela kesibukannya membungkus sebuah buket dengan wrapper merah muda, “Ada yang bisa saya bantu?”

Blade memilih mawar merah paling segar di sana, dan memesan buket paling besar yang ada pada foto model-model buket. Penjaga toko itu pun lekas-lekas menyelesaikan transaksi yang menunggu, seorang pria yang sedari tadi sibuk menata bunga-bunga yang baru di rak pun membantunya membuatkan buket besar pesanan Blade.

“Bladie, kamu ini seperti anak muda saja,” Kafka menahan tawanya saat pria pirang itu menyerahkan buket mawar padanya.

Blade menatap mawar itu, mata Kafka, kemudian bibirnya secara bergantian, berulang-ulang. Merah, pikirnya, hanya untuk Kafka. Ketika bibir itu menyapa pipinya, dia tahu, hal itu artinya selamanya.

 


 

c. daisy putih

Castorice selalu menyelipkan cinta di antara bunga-bunganya. Mereka yang keluar dari tokonya akan membawa serta buket yang dirangkai dengan cinta dan kasih sayang yang disisipkan dalam kartu-kartu ucapan yang ditulis sendiri oleh Castorice. Banyak sekali kisah yang berawal dari tokonya, dari keping-kepingan kelopak yang menyampaikan pesan tanpa kata. Cinta yang dititipkannya terbawa hingga ke beribu manusia, dan Castorice selalu senang hidup sesederhana ini: membuka tokonya, merangkai bunga-bunga, menitipkan keindahan cinta untuk kisah-kisah di luar sana.

Hari ini, terlalu banyak cinta yang harus ia tangani. Ia kewalahan, toko kecilnya penuh tak hanya oleh warga lokal, tetapi juga orang-orang asing hingga beberapa harus menunggu di luar. Hampir menjelang tengah hari, barulah ia sadar tanggal berapa sekarang—yang pasti menjadi alasan kenapa banyak sekali orang membeli bunga. Ia sampai kehabisan stok mawar merah, terutama karena ada seorang pria yang minta dibuatkan buket besar mawar untuk istrinya. Bunga-bunga merah muda lainnya pun menipis, semua orang ingin romantis. Untung saja hari ini ia mendapat bantuan istimewa, yang bersedia menjadi kasir dadakan dan membantu menyiapkan wrapper walaupun kemampuannya masih setara pemula yang terlalu berhati-hati. Sangat perfeksionis, meski tangannya sebenarnya lihai di bidang lain tapi dia sangat kagok dan berkali-kali bertanya apakah dia sudah melakukan hal yang benar.

Tanganku tercipta untuk mengiris dan penggorengan, maaf jadinya malah merusak bungamu—begitu katanya, dan Castorice harus berulang kali menjelaskan padanya, bahwa dia tidak melalukan hal yang salah. Bunga-bunganya tetap cantik dan tentu saja, sama seperti bunga-bunga yang ia jual pada hari-hari lainnya: mereka penuh cinta karena dirangkai dengan sepenuh hati dan pengabdian. Walaupun begitu, kadang-kadang Mydei masih memandangi buket yang menurutnya pitanya miring sampai pembelinya keluar dari toko.

Hari berakhir lebih cepat hari itu karena ia kehabisan pita dan wrapper, dan bunga-bunganya pun tinggal beberapa tangkai saja. Ia menutup tokonya dua jam lebih cepat dari biasanya.

“Apa kamu punya rencana malam ini?” Mydei menunggunya yang sedang mengunci pintu. “Kamu bisa pulang lebih cepat, kita punya banyak waktu kosong di akhir minggu ini.”

“Hmmm, belum ada rencana. Kamu, bagaimana?”

Mydei berdeham, “Mau makan malam bersama?”

“Oh, boleh. Di mana?”

“Di tempatku saja. Nanti … aku yang reservasi.”

“Sungguhan?” Castorice membelalak.

Mydei mengangguk. “Akan kusiapkan menunya sekalian, kalau kamu ingin sesuatu yang khusus.”

Senyum terkembang di wajah Castorice, “Aku akan makan apapun yang kamu siapkan. Surprise me?”

Perlahan, Mydei pun tersenyum tipis seraya bergumam, kejutan, ya.

Castorice pikir kejutan tersebut hanya datang dalam bentuk menu makanan khusus di restoran rooftop milik hotel keluarga Mydei tersebut, yang di mana dia juga ikut bekerja sebagai salah satu kokinya. Ia mudah bahagia karena hal-hal sederhana, termasuk dengan set menu greek salad, salmon wellington, dan potatoes au gratin yang disajikan di dalam tiga course hidangan. Namun, sebuah kotak yang datang belakangan bersama dengan hidangan penutup berupa candied almond affogato itu berada di luar perhitungannya.

“Apa ini?” Castorice menerima kotak itu dari waiter yang mengantarkan makanan pada mereka dengan canggung dan ragu. “Ini memang untukku?”

Dari cara Mydei menatapnya dan mengangguk ke arahnya, seharusnya ia sudah memperhitungkannya—tetapi Castorice sudah terlalu banyak menerima kejutan dari pelanggan-pelanggannya hari ini sampai ia tidak sadar bahwa ia juga pantas untuk sebuah kejutan. Kotak merah beledu besar itu dipenuhi oleh daisy putih, yang setahunya bermakna awal yang baru—dan di tengah-tengah kotak itu, ada sebuah cincin. Ketika ia mengangkat pandangan, Mydei sudah berada di hadapannya, mengambil cincin itu dan berlutut di hadapannya, sementara lagu pengiring dari band di depan sana sudah berganti menjadi iringan instrumental romantis.

Tidak ada jawaban lain di kepalanya selain ya, untuk cinta yang dihadiahkannya pada orang-orang di luar sana dan telah kembali padanya dalam wujud seorang Mydei yang sedang berlutut di hadapannya.

 


 

d. anyelir kuning

Pikiran Anaxa seperti aliran sungai-sungai hipotesis. Asumsi, praduga, kesimpulan, semuanya mengalir dari hal-hal kecil yang diamatinya. Dari para pejalan kaki yang menolak untuk membuka payung di hari gerimis, dari pasangan yang tidak segan menunjukkan afeksi publik, dari anak-anak yang merengek di depan etalase makanan manis. Ketika dia mengamati, bahkan hal terkecil sekalipun, pikirannya bermain seperti seperti bola-bola pada percobaan wandering static balls. Setiap aksi pasti memiliki motif, dan motif itu adalah pola non-abstrak yang bisa ditelisik karena disusun dari pengalaman, kehidupan sosial, dan pandangan dari si pelaku.

Namun, bukan berarti ada kesimpulan untuk segalanya: malam ini dia masih memikirkan mengapa Aglaea tampak begitu menyukai sekeping bunga yang ditemukannya di atas meja tempat mereka makan malam di restoran rooftop ini. Awalnya Anaxa hampir saja memarahi seorang waiter karena tidak membereskan mejanya hingga bersih, tetapi Aglaea mencegahnya. Mungkin ini memang hiasan khusus meja ini, terkanya, karena berada di tengah-tengah meja seolah memang sengaja diletakkan sebagai dekorasi. Mungkin ini milik pasangan yang sebelumnya di meja ini? Di lobi aku melihat seorang gadis membawa sekotak bunga. Kamu tidak lihat?

Bagaimana kalau bunga ini tidak higienis?

Aglaea tertawa sinis. Dari semua orang yang mungkin berpendapat begitu, aku tidak menyangka malah kamu yang bersuara.

Daisy putih itu masih segar, wangi, dan Aglaea bahkan membawanya pulang. Tidak bisa dia mengerti; mengapa harus? Apa harganya sebuah bunga sisa begitu? Dan pertanyaan itu masih menggantung di kepalanya sampai hari berlalu. Aglaea, wanita yang paling logis yang pernah dia temui—yang pikirannya berjalan dengan lugas, tegas, dan selalu beralasan kuat—menimang bunga yang bukan miliknya dan bahkan membawanya ke nakas di samping tempat tidur, memotretnya di samping sketsa rancangan untuk event mode berikutnya, sungguh aneh.

Anaxa bahkan memikirkannya di tengah-tengah diskusi yang seharusnya bisa menyelesaikan pertanyaan penelitian yang sedang dia siapkan bersama koleganya. Diskusi itu menggantung tanpa kesimpulan yang tepat, hanya karena Anaxa belum menemukan ujung simpul kusutnya. Dia merenung, terlalu lama diam sambil sesekali pertanyaan tentang bunga Aglaea itu mengusik pertanyaan yang seharusnya menjadi fokusnya.

“Sepertinya kau tidak bisa fokus. Apa ada hal yang mengganggumu?”

Anaxa masih berpikir sambil memakukan pandangannya pada barisan pot bunga di sisi kiri teras rumah koleganya tersebut. Bunga-bunga berbaris sesuai warnanya, yang mungil berada di bawah, semakin ke atas di rak serupa tangga itu, bunganya semakin besar. Bunga, pikirnya, bunga Aglaea.

Dia tidak pernah memberikan bunga pada Aglaea dalam bertahun-tahun hubungan mereka. Hubungan mereka berlangsung statis tetapi logis—ketika mereka sadar mereka membutuhkan satu sama lain, hari-hari tanpa debat terasa tak utuh, maka mereka memutuskan untuk berhubungan serius. Hal itu dimulai ketika mereka sudah berada di usia yang menurut pandangan orang-orang di sekitar mereka sudah matang, sehingga romansa seperti anak muda pun tak pernah mereka alami.

Anaxa mengerjap-ngerjap. Mungkinkah sebenarnya Aglaea menginginkannya?

Koleganya tersebut mengikuti arah pandangan Anaxa. “Ada apa dengan bunga-bunga ini? Kau melihat sesuatu?”

Anaxa berucap tanpa berpikir dua kali, “Apa salah satunya boleh untukku?”

“Kenapa tiba-tiba—“

“Tidak boleh?”

“Bunga-bunga ini milik istriku,” pria itu menoleh ke balik punggungnya, ikut-ikutan memandangi bunga itu. “Tapi koleksinya yang paling dia sayangi ada di halaman samping—jadi kurasa tidak apa-apa. Pilih saja salah satu.”

Pilihannya jatuh begitu saja ke bunga kuning yang berada di tengah-tengah, yang belakangan dia cari tahu di internet adalah bunga anyelir. Dia mengernyit ketika melihat artikel yang mengatakan bahwa arti bunga ini adalah cinta, dia sedikit menyesal, tetapi kadang sedikit tindakan yang berbeda dari kebiasaan mungkin akan memberikan sedikit rasa yang baru. Mungkin Aglaea akan membuat sesi wawancara setelah ini karena tidak biasanya dia membawakan satu pot bunga untuk diletakkan di balkon, tetapi dia menyimpan argumennya untuk lain kali saja. Aglaea tampak semringah ketika pertama kali melihat bunga itu, yang secerah warna rambutnya dan secantik matanya, lalu Anaxa berpikir bahwa mungkin mungkin, bahasa bunga yang sebelumnya menurutnya tidak saintifik itu bisa memberikan sugesti. Saat ini makna itu belum bisa dikuantifikasi, tapi, ya, dia nyata. Mungkin, artinya memang cinta.

 


 

e. anggrek ungu

Bunga adalah hasil evolusi genetik yang luar biasa; hasil dari perjudian alam dan cara spesies bertahan hidup, yang ternyata menjadi cantik dan, pada suatu babak dari eon kehidupan biologis, menjadi daya tarik yang digunakan manusia. Bagaimana mungkin, sebuah mekanisme untuk berkembang biak, dan jika mengutip salah satu penulis yang pernah menjadi rujukannya, hasil dari gen egois yang bersikeras untuk bertahan hidup, menjadi sebuah komoditi yang malah berkembang menjadi bahasanya sendiri—cara berkomunikasi manusia, alternatif dari kata-kata, ekspresi yang penuh warna.

Ruan Mei tidak terlalu sering menggunakannya, karena ia juga berpendapat bahwa Veritas Ratio bukan tipikal lelaki yang akan berekspresi lebih dari kalimat-kalimat lugas yang bersifat ilmiah. Bunga bukan bagian dari komunikasi mereka, ia mengoleksi hanya sekadar sebagai hobi sampingan, selain dari mengagumi hasil evolusi alam yang luar biasa. Kadang-kadang, jika luang, ada eksperimen kecil yang bisa dibuat dari mereka, ditelusuri hingga berjuta-juta tahun sejarah dari telusur sekuens—tapi, tunggu. Sepertinya ada yang kurang dari raknya hari ini, ketika ia menata rak depan yang jarang disentuhnya. Ada ruang yang kosong di tengah-tengah, seharusnya ada bunga di sini, tapi ia gagal mengingat apa yang seharusnya mengisinya.

“Teman sejawatku yang memintanya.”

“Untuk penelitian?”

Ratio menggeleng. “Untuk istrinya.”

“Oh.” Ruan Mei mengangkat alis. “Kenapa dia tidak membelikan buket bunga saja?”

“Mungkin istrinya tidak suka buket bunga?” Ratio mengedikkan bahu. “Aku tidak bertanya. Apa kamu keberatan? Akan kucari gantinya.”

Ruan Mei menatap ruang kosong itu sebentar. Ia pun mengatur susunannya; menggeser bunga-bunga kuning lain, menaikkan bunga yang lebih kecil ke ruang itu, kemudian menyusun sisanya di bawah. “Tidak apa-apa. Dia lebih membutuhkannya daripada aku.”

Namun, seperti biasa, Ratio lebih banyak bertindak daripada berkata-kata. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan kesalahan kecilnya, yang bahkan tidak Ruan Mei pikirkan lagi. Besok harinya dia membawakan satu pot bunga yang baru, hanya ada warna ini, semoga bisa membuat rakmu utuh lagi, begitu katanya. Entah dari mana dia mendapatkan anggrek ungu itu, yang membuat Ruan Mei terkesima dan tiba-tiba punya minat untuk meneliti tentang anggrek pada proyek selanjutnya, kalau bisa sambil jalan di ekspedisiku besok, katanya sambil menyusun ulang rak tersebut. Bersama dengan pot itu, juga ada sebuah kartu yang tidak disadari Ruan Mei sampai benda itu hampir jatuh ke dasar raknya.

Katanya, itu arti bunganya, tambah Ratio. Aku tidak mengerti, tapi apa itu universal? Kurasa tidak sebaku bahasa manusia.

Ruan Mei mengamati pesan yang ditulis si penjual, anggrek ini bermakna kekuatan dan kecantikan yang eksotis, pilihan yang tepat untuk pasangan Anda. Ruan Mei membolak-balik kartu itu untuk mencari apakah ada keterangan tambahan—tetapi tidak ada apa-apa lagi. Ia mengangguk-angguk, tersenyum tipis pada Ratio. “Terima kasih bunganya.” Dan setelah ia ingat-ingat lagi, Ratio jarang sekali memberinya bunga, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Mungkin mereka yang membuat bahasa bunga itu ada benarnya—ada kesan yang tercipta dari sebuah keindahan, yang kemudian meninggalkan persepsi dalam psikis manusia. Ruan Mei merasa harus berkonsultasi dengan rekan sejawat penelitinya di bidang yang khusus mengenai ini. Ia mencatatnya dalam agendanya, barangkali jika sempat ia akan mencari teman diskusi setelah ekspedisi ini selesai.

Ekspedisi kali itu memang menyita waktu dan perhatiannya untuk sementara; tetapi berada di hutan belantara nun jauh dari rumahnya tidak juga membuatnya lupa pada sebuah kesan yang baru saja ditinggalkan oleh hasil evolusi berjuta tahun tersebut. Di belantara dataran paling luas di Bumi itu ia menemukan banyak hal menarik di luar lingkupnya, bahkan anggrek-anggrek liar yang belum pernah dilihatnya sama sekali. Ia mengambil banyak foto, mengirimkannya pada Ratio. Banyak sekali di sini. Tapi, tidak ada yang sama seperti pemberianmu.

Salah satu kenalan barunya, seorang peneliti etnobotani yang juga ikut di ekspedisi itu, tersenyum melihatnya memotret banyak bunga,

“Untuk seseorang yang spesial?”

Ruan Mei mengangguk sambil mengirim foto berikutnya; anggrek liar epifit pada sebuah pohon besar, berwarna kuning cerah mencolok di tengah-tengah keremangan hutan, ini genus dendrobium. Genus yang sangat harfiah, hm? Hidup di pohon, secara literal. Ruan Mei pun menoleh pada rekan kerja tersebut, menatapnya sebentar, “Ya. Spesial.” Ia kemudian menatap foto-fotonya lagi, dan mengirimkan sisanya pada Ratio. Ia tidak tahu apa makna objektif bunga-bunga ini, dan mungkin tidak pernah ada, tetapi setidaknya, hasil evolusi jutaan tahun itu bukan hanya milik spesiesnya sendiri, tidak hanya milik gen egois yang bertahan sekian eon—mereka juga membawa makna lain untuk spesies yang punya egonya sendiri: manusia. Manusia dan ekspresi egonya melalui cinta-cinta yang beragam, lalu bungalah yang menjadi perantara subjektifnya.

 


 

f. melati

Jiaoqiu selalu pulang dari perjalanan-perjalanannya dengan sekian halaman jurnal yang beberapa hari berikutnya akan berada di meja Feixiao. Isinya berupa paragraf-paragraf singkat cuplikan perjalanannya, foto-foto kecil yang dicetak sekadarnya sebagai pelengkap cerita—ditempel seperti kliping koran lawas yang merekam sejarah. Feixiao selalu suka membaca, tetapi kesibukan membuatnya jarang menyentuh buku-bukunya lagi, dan satu-satunya cara agar tetap bisa membaca, menurutnya, adalah membaca jurnal perjalanan Jiaoqiu, yang selalu terdokumentasi dengan baik. Peer-review sebelum Jiaoqiu mengolah laporan resminya, tambahnya, dan membuat Jiaoqiu semakin bersemangat membawakan catatan-catatan perjalanannya.

Kali ini, dia mengantarkannya sendiri ke kantor Feixiao di siang yang mendung, ketika musim semi sudah berada di dalam harapan orang-orang tetapi dia tidak kunjung tiba. Jiaoqiu melewati jalur pejalan kaki yang tetap ramai meski cuaca tidak bisa menjanjikan apa-apa, lalu sebuah toko menarik perhatiannya karena masih memajang pernak-pernik merah muda, dan banner diskon masih dibiarkan berdiri di samping pintu masuk meski hari Valentine sudah berlalu. Tanggal pada standing banner itu pun masih berlaku—Jiaoqiu merasa sedikit tersindir, tulisan besarnya seperti sedang mengingatkannya bahwa di hari yang menjadi panen raya komoditi berbau cinta itu dia tidak turut andil. Penawaran masih berlaku pada bunga-bunga yang dijual pada toko itu, yang sekali lagi menyindir Jiaoqiu, kapan terakhir kali kamu memberinya bunga?

Pertanyaan itu hanya mengundang tawa dari Feixiao. “Apakah masih perlu?” ia membalik halaman demi halaman jurnal Jiaoqiu yang sudah tiba di mejanya. “Aku tidak bisa merawat bunga-bunga, dan aku juga jarang menghias rumahku. Mungkin sebaiknya hadiah yang lain saja. Buket Valentine bukan untuk kita.”

Jiaoqiu keluar dari bilik pantry kecil di sudut ruang kerja Feixiao, membawakan satu cangkir teh yang wangi, lalu menghidangkannya ke hadapan wanita itu. “Kalau begitu, bunga dariku dalam bentuk ini saja.” Dia mendekatkan cangkir itu pada Feixiao. “Kubeli di desa dekat tempat ekspedisi kami. Teh rempah dengan melati sebagai ciri khasnya, untuk menenangkan pikiran dan meningkatkan metabolisme.”

“Mmhm,” Feixiao menggeser jurnal milik Jiaoqiu untuk menikmati teh tersebut, “bunga-bunga yang begini yang lebih berguna untuk pasangan tua,” kelakarnya, dan Jiaoqiu pun dengan senang hati meninggalkan kantong-kantong teh tambahan untuk dibawa pulang oleh Feixiao sebelum dia berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya di lab.

Feixiao menikmati lebih banyak waktu istirahat siang sambil membaca jurnal milik Jiaoqiu tersebut, turut merasakan perjalanan pria itu selama hampir satu bulan berada di luar kota, berpindah dari satu desa ke desa lainnya, menjadi pemandu lokal untuk rekan-rekan peneliti yang datang dari luar negeri—dan dia banyak sekali mendokumentasikan bunga-bunga di sepanjang perjalanan tersebut. Supaya kamu juga melihat apa yang kunikmati satu bulan ini, tulisnya di bawah beberapa lembar foto yang diklip dalam satu halaman. Ia menekuri halaman tersebut begitu lama sampai seorang rekan kerjanya datang ke ruangan untuk menyerahkan dokumen, dan mengomentari bunga-bunga yang difoto oleh Jiaoqiu; sembulau ungu yang berkumpul seperti semak. Cantik, tukasnya, dia pasti pria yang romantis. Feixiao tidak ingin menepisnya, dan dengan bangga mengatakan, ya, aku selalu menjadi bagian dari perjalanannya.

 


 

g. sembulau putih

Romantis memang subjektif. Setiap pasangan punya penjabaran dan kesepakatannya masing-masing, dan seharusnya tidak menjadi beban. Namun Jing Yuan jadi memikirkannya lagi—hal-hal yang semestinya tidak lagi menjadi kekhawatiran karena hubungannya sudah melewati fase bulan madu—apakah Fu Xuan pernah menganggapnya tidak romantis? Fu Xuan memang tidak pernah secara langsung mengkonfrontasinya, tetapi mungkinkah, perempuan itu membicarakannya di belakang diam-diam? Mengeluhkannya? Berandai-andai tentang bagaimana seharusnya? Bagaimana jika dia mencoba menjadi seseorang yang berbeda—misalnya seperti kekasih Feixiao yang, ketika dia tidak bisa membawakannya bunga-bunga, dia tetap memotretnya dan membawakan kisahnya?

Ah, kisah orang-orang selalu terdengar lebih menarik. Mungkinkah dengan bersinggah sebentar ke toko bunga tersebut dia bisa membuat ceritanya lebih menarik juga? Jing Yuan membawa harapan di bahunya dan senyum di wajahnya, berharap ada kemurahan hati dari pemilik toko bunga yang barangkali bersedia menjelaskan satu-dua hal tentang bunga dan membantunya membuat impresi khusus untuk orang tercintanya tanpa dihakimi.

Oh, ucap penjaga toko, jika Anda ingin sesuatu yang tidak biasa, mengejutkan, tetapi manis—saya punya rekomendasi. Bunga ini pasti cocok untuk kekasih Anda yang menurut Anda manis dan selalu penuh kejutan itu. Jing Yuan setuju-setuju saja karena dia yakin penjaga toko itu yang lebih ahli; dan di sinilah dia akhirnya di penghujung sore yang lembap sehabis hujan itu, di depan kafe antik milik Fu Xuan dengan sebuket bunga primrose putih yang beraroma manis. Entah parfum apa yang disemprotkan penjaga toko itu, tetapi Jing Yuan merasa wanginya sangat Fu Xuan.

Kafe itu punya nama di benak para pelanggannya sebagai mesin waktu; sebuah tempat antik yang membawa pengunjung untuk kembali ke estetika masa seratusan tahun yang lalu. Lengkap dengan buku-buku tua, rak-rak kayu yang berukir detail, lampu-lampu antik, dan tentu saja, sebuah fitur yang sulit didapatkan di kafe-kafe lain: layanan baca nasib oleh sang pemilik kafe sendiri. Buka kapanpun ia ingin, bisa pula tutup seminggu penuh seolah-olah tak pernah ada sama sekali.

Kebetulan sekali, hari ini rupanya ia sedang dalam keadaan mood yang baik. Di hadapannya, di meja antik yang berada di sudut kafe itu, sepasang anak manusia sedang menyimak. Kartu-kartu terhampar di atas meja, Fu Xuan tampak serius menjelaskan ketika Jing Yuan datang menghampiri.

“… Kesimpulannya—salah satu dari kalian harus berhenti ragu-ragu. Akan selalu datang penghalang jika salah satu masih—” ia menjeda sebentar, matanya membelalak. Bibirnya pun berisyarat, kamu ngapain di sini?! tetapi Jing Yuan tak gentar, terus melangkah mendekat, sengaja menyembunyikan buket bunga itu di balik punggungnya, yang sebenarnya sia-sia belaka karena buket itu terlalu besar.

“Lanjutkan saja,” tukas Jing Yuan ringan, “aku tunggu di sini,” tambahnya, berdiri di samping meja konsultasi.

Fu Xuan menghardik lewat tatapannya, kamu bikin konsentrasiku buyar, deh, please nanti aja! tapi Jing Yuan hanya tersenyum-senyum, terutama pada pasangan yang sedang konsultasi itu, “Silakan saja.”

“Jing Yuan—”

Yang menyahut malah si laki-laki yang sedang berkonsultasi itu, sambil tertawa kecil, “Tidak apa-apa, Nona, kami tidak keberatan atas interupsi kecil dari pria romantismu—” dia juga menunjuk pada bunga di balik Jing Yuan. “Dan sepertinya ini hari spesial kalian.”

“Ini—” Fu Xuan berusaha mengelak, tetapi Jing Yuan senang sekali bermain peran: dia pun menyerahkan buket tersebut,

“Selamat hari tidak spesial yang sekarang jadi spesial.”

Jing Yuan sudah terbiasa dengan ngambeknya Fu Xuan, kebingungannya, serta pertanyaan-pertanyaan uniknya, ia sudah tahu risiko keisengannya—tetapi ternyata ini berada di luar dugaannya. Fu Xuan terdiam, dan, oh, apakah wajah tersipunya itu sungguhan? Jing Yuan hampir tidak mempercayai penglihatannya. Fu Xuan pun menerima buket itu seraya bergumam, thanks, dan tidak langsung menatap Jing Yuan. Pria yang berkonsultasi itu bahkan bersiul, dan wanitanya menatap setengah melongo. Pria itu lantas terkekeh, dan bercanda dengan jenaka, kamu juga mau? Dia pun menjentikkan jari di belakang telinga wanita itu, seketika sebuah bunga merah muncul di sana. Hal itu pasti akan sangat mengesankan untuk Jing Yuan, jika tidak ada Fu Xuan yang mencium bunga pemberiannya di hadapannya.

Mungkin, hari ini dia telah berhasil jadi pria romantis!

 


 

h. peony merah

Topaz masih membawa serta bunga peony merah itu, dan ia hampir-hampir tidak mempercayai dirinya sendiri. Mengapa harus, ia masih menghargai benda yang sebenarnya hanya bagian dari permainan Aventurine, dan mungkin pria itu juga sudah melupakannya? Hubungan mereka berjalan dengan cara yang jenaka, berawal dari kawan sebaya dan berlanjut hingga dunia kerja, lalu mereka sepakat bahwa mereka tampaknya tidak butuh orang lain—dan beberapa kali, Topaz meragukan bahwa semua itu cinta. Barangkali semua itu hanya bagian dari kebutuhan, perlunya kebersamaan, dan titel sosial hanya agar tidak terlihat kesepian.

Para senior dan orang-orang yang lebih berpengalaman mengatakan padanya, cinta akan pudar, yang ada hanya kenyamanan—tetapi ia berusaha untuk mencerna, apakah cinta memang ada sejak awal dari sisi Aventurine? Bagaimana kalau dia hanya tidak ingin kesepian; semua tentang dirinya dan bukan soal resiprokasi perasaan satu sama lain?

Dalam perjalanan ke pelabuhan tempat mereka akan berkumpul, Topaz masih mengamati bunga itu di antara kedua jarinya, mencari distraksi selain ponsel. Aventurine masih sibuk berbicara dalam panggilan yang berisik dengan salah satu kolega kerja, bahkan di hari pertama cutinya. Kata-kata pemilik kafe kemarin masih terngiang di kepalanya, sedikit-banyak ia merasa tersindir meskipun sebelumnya ia tidak pernah mempercayai tarot dan sejenisnya. Sebelumnya ia berpikir hal-hal seperti itu hanya bagian dari permainan sugesti dan generalisasi, tetapi setelah kena tembak dengan jitu, ia merasa ia tidak harus selalu skeptis—

“Kamu suka bunga itu, ya?” Aventurine menyeringai tipis sambil mengakhiri panggilannya. “Bilang, dong. Biar kuberi lebih banyak.”

“Nggak perlu,” tukas Topaz. Ia menghindar dari tatapan Aventurine. Ia merasa bersyukur ketika mobil sudah membelok masuk ke area keberangkatan. Ia akhirnya punya distraksi, pura-pura menyibukkan diri dengan mengangkat barang-barang mereka meskipun asisten mereka bersikeras membantu. Ia menyeret kopernya sendiri menuju kapal tersebut di jalur khusus naratama, sementara itu Aventurine pun mengejar langkahnya, mendahuluinya. Dia merebut handle koper Topaz dan tidak membiarkan Topaz mengambilnya kembali.

“Santai saja, Nona.”

Topaz mendengus, tetapi Aventurine dengan tangkas menjauhkan koper itu darinya.

“Santai saja, aku sedang berusaha menjadi gentleman hari ini.”

Topaz masih mencari pembenaran atas keraguannya—Aventurine memang selalu begitu pada semua orang. Dia suka semaunya, suka bermuka ramah pada banyak orang, dan dia tidak membedakan cara bercandanya dengan cara merayu, membuat Topaz ragu dalam banyak hal. Jika Aventurine sungguh-sungguh menginginkannya, apakah ada cara yang lebih jujur? Seandainya saja Topaz menceritakan ini pada peramal kemarin, tetapi ia tahu persis peramal bukanlah psikolog konsultan pernikahan.

Aventurine memimpin langkah melewati tangga dan koridor menuju kamar yang mereka sewa. Dia masih bersiul ringan, Topaz berharap mencintai dapat semudah bernapas seperti Aventurine. Mungkin begini lebih baik daripada sendirian; mungkin meragu lebih ringan daripada kesepian. Mungkin pula, meski cinta mereka tak seperti yang sering ia dengar atau saksikan, setidaknya kebersamaan dapat menjadi obat untuk banyak hal.

Aventurine pun membukakan pintu tersebut, serta menyalakan lampunya. Topaz baru saja akan melangkah sebelum tiba-tiba berhenti—kamar itu dipenuhi oleh kelopak merah, buket besar bunga peoni berada di atas ranjang menyambutnya. Topaz melempar pandangan bergantian pada Aventurine dan jalur bunga yang dibuat di lantai. “Kamu—”

“Aku adalah gentleman hari ini ini, ingat?” Dia menyentuh dagu Topaz dan menyeringai tipis. “Kalau kamu suka bunga itu, bilang saja. Akan kubuat hujan bunga itu untukmu.”

Topaz melirik bunga-bunga itu lagi. Tidak setiap hari dia membelikan bunga-bunga hingga menyulap ruangan pribadi menjadi taman romantis ini untuk orang-orang di sekitarnya. Tidak setiap hari dia memperhatikan hal kesukaan orang-orang di sekitarnya dan melipatgandakannya. Topaz menatap mata Aventurine dan melihat binar antusias yang menari-nari di sana, warnanya yang indah sekaligus hangat, lalu, sekali lagi, ia pun mengizinkan hatinya untuk berharap.

“Semoga kamu senang dengan hadiah ini, Nona Manis. Terima kasih sudah mau hidup bersama denganku.”

 


 

i. lilac merah muda

Dalam pencariannya, Cyrene menemukan ruang-ruang kecil yang bersembunyi dari sejarah. Luput dari ingatan, tersisa hanya sebentuk tinta pudar yang semakin samar seiring waktu. Di perpustakaan tua di sudut Alimos, sebuah buku dongeng bercerita tentang seorang nymph yang tersisih karena tidak bisa menari dan bernyanyi. Di toko barang antik di sudut Kifissia, ia menemukan cerita tentang seorang pahlawan yang jatuh cinta pada seorang muse yang tidak disebutkan namanya, tetapi kisah mereka tidak berakhir bahagia. Cerita-cerita itu seperti helai-helai dandelion yang semakin kecil di udara, terbang melayang nyaris tak kelihatan, untuk hilang seiring waktu. Ruang-ruang fantasi yang perlahan terkunci mati.

“Jadi, hari ini, kamu ke mana saja?”

Cyrene mengaduk cokelat panasnya sambil tersenyum semringah. Phainon menunggu jawabannya sambil menopang kepalanya di genggaman tangannya, tatapannya seperti anak anjing yang memohon minta bermain. Ketika Cyrene menyeruput cokelat dan tak sengaja menyisakannya di sudut bibir, Phainon segera saja menyekanya.

“Ke perpustakaan mana lagi?”

“Aku ke toko-toko barang antik. Hanya berkeliling Piraeus.”

“Anak kita tidak minta jajan es krim rasa paling eksotis yang hanya rilis satu dekade sekali?”

Cyrene tergelak. “Tentu saja. Dia cuma minta cokelat panas hari ini.”

“Ah, ya. Lalu, apa saja yang kamu temukan?”

“Ada banyak amfora kecil yang menarik, lukisannya persis seperti yang ada di museum-museum. Kurasa kita tidak butuh lebih banyak pajangan seperti itu lagi, lebih baik beli buku-buku cerita dan mainan saja.” Cyrene tersenyum kecil. “Tapi hari ini aku melihat sesuatu yang indah sekali.”

“Hmmm, apakah akan jadi bahan tulisanmu?”

Cyrene mengangguk cepat, antusias dan bersemangat. “Karena di wajahnya ada cinta yang indah sekali. Melihat wajah orang jatuh cinta selalu membuatku percaya pada kehidupan.”

“Memangnya seperti apa wajahnya?”

“Pasangan itu mungkin sedang liburan—oh, atau bulan madu? Rona wajahnya cerah sekali, seperti orang yang sedang bahagia-bahagianya. Dia selalu mencuri pandang—dan kamu paham kan, bagaimana tatapan orang jatuh cinta? Perempuan itu juga membawa bunga setangkai peoni merah, mereka berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, mungkin baru turun dari kapal cruise yang bersandar itu.” Wajahnya juga merona, seolah juga sedang merasakan jatuh cinta untuk kesekian kalinya. “Pasti ini adalah saat terbaik dalam hidupnya. Aku akan menuliskannya untuk cerita selanjutnya.”

“Mmhm. Satu lagi cerita bahagia orang lain jadi abadi dalam tulisanmu.”

“Sudah seharusnya begitu, kan?” Cyrene terkekeh, “makanya orang-orang bilang, hati-hati kalau kalian menyakiti hati penulis. Kalian bisa jadi orang jahat selamanya di ceritanya.”

Phainon mengerutkan hidung. Dia pun meraih sesuatu dari lantai, dari dalam kantong kertas yang sedari awal berada di sana tetapi Cyrene tidak menyadarinya. “Aku maunya jadi protagonis seumur hidupmu,” dia mengeluarkan sebuah buket kecil berisi bunga-bunga lilac merah muda yang begitu lembut.

“Oh, sebentar, apakah aku melupakan tanggal yang penting?” Cyrene yang awalnya bermaksud minum, mengurungkan niatnya, lalu meletakkan gelas dan melihat layar ponselnya. Sementara itu Phainon sudah berdiri di sampingnya dan menyerahkan bunga itu padanya, tangannya yang lain berada di atas perut Cyrene,

“Selamat tanggal 13 yang kedua, Sayang. Dan selamat memasuki minggu yang kedua puluh empat, Tuan Putri Kecil.” Phainon mencium bibir Cyrene dan perutnya bergantian. “Semoga kita selalu jadi cerita-cerita indahnya Mama.”

Cyrene menggenggam lengan Phainon, tidak membiarkannya pergi begitu saja dari sisinya, “Salah satu cara mengabadikan kebahagiaan dalam sejarah itu adalah dengan menulis cerita. Tenang saja, kamu akan selalu jadi pahlawan di ceritaku.” Ia pun mencium punggung tangan Phainon. “Terima kasih bunganya, Sayang. Apa aku perlu menulis ini untuk buku berikutnya?”