Actions

Work Header

Darah yang Kau Tumpahkan, Janji yang Kuteruskan

Summary:

Gojo Satoru dan Geto Suguru pada masa pendudukan Jepang di Indonesia tapi dengan nama dan tubuh yang berbeda.

 

Play: "Kamu & Kenangan" by Maudy Ayunda

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Januari 1943

Kazehara Haruto dan Yuzuki Kaname adalah dua orang prajurit kebanggaan pasukan Jepang yang sekarang sedang berada di Indonesia. Meskipun Yuzuki Kaname adalah seorang perempuan, yang di mana pada masa itu hampir  sangat mustahil untuk seorang perempuan Jepang menjadi seorang prajurit,  ia bisa membuktikan bahwa dirinya pantas diakui  untuk  menjadi bagian dalam angkatan militer Jepang dengan perjuangan yang keras. Harus diakui, semua hal yang harus dilaluinya bukanlah hal yang mudah.

Sejak kecil, Kaname selalu bercita-cita membawa kejayaan untuk negara yang ia cintai.  Namun, sejak ditugaskan untuk menduduki Indonesia, batinnya sering kali memikirkan berbagai hal, yang menurut negaranya, adalah salah satu dari sekian banyaknya bentuk pengkhianatan.

Tidak.

Tidak mungkin aku mengkhianati tanah kelahiranku.

Batinnya mencoba memberontak, tapi semakin lama ia melihat dan menyaksikan tubuh para penduduk biasa yang tak bersenjata dibunuh dan disiksa oleh rekan-rekannya, semakin kacau  pula isi pikirannya.

Ini tak benar.

Rasanya aku ingin muntah.

Tapi, ini adalah salah satu dari banyaknya cara dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk membawa kemenangan bagi Jepang.

“Mereka hanyalah salah satu dari sekian banyaknya pengorbanan.” ucap Haruto saat Kaname mengutarakan isi hati dan pikirannya kepada orang yang paling dekat dan paling memahami dirinya, untuk saat ini.

Orang yang  akan selalu ia percayai dalam hidupnya.

Namun ucapan itu semata tak sanggup membungkam suara-suara berisik di otaknya. Pikirannya semakin lama semakin menolak atas apa yang mereka lakukan terhadap bangsa ini.

Siklus tanpa akhir dari perang dan penaklukan. Menaklukkan. Menghabisi. Ini adalah kemenangan yang tidak berarti apa-apa. Kemenangan yang terlumuri darah. Seperti menelan tanah yang telah diwarnai oleh mayat-mayat yang membusuk. Menaklukkan. Menghabisi. Untuk siapa? Untuk apa? Pikir perempuan itu tatkala ia berendam di sungai yang jauh dari tempat markasnya berada, ia butuh waktu sendiri tanpa kehadiran Haruto yang senang menempel dan mengganggunya.

Kaname menenggelamkan seluruh tubuhnya ke sungai yang  dingin. Matanya ia pejamkan, melanjutkan kecamuk pikirannya.

Sejak hari itu, hal itu terus berputar dalam kepalaku. Apa yang kulihat bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Kekejaman yang nyata, diketahui oleh semua orang. Jangan kehilangan arah. Jalankan tugasmu sebagai seorang prajurit.

Otaknya mencoba mengingatkan  dirinya  akan  tugas dan kewajiban sebagai prajurit yang ia pikul, tapi hati nuraninya berkata lain. Bayang-bayang anak kecil yang mungkin baru berusia tujuh tahun dibunuh di depan matanya oleh teman sekamarnya memenuhi otaknya. Akal budinya membenci memori itu.

Perang menciptakan monster, dan monster menciptakan  perang. 

Begitu saja terus siklusnya.

Siklus yang tak akan pernah putus sepanjang umat manusia masih menginjakkan kaki mereka di muka bumi ini. Sepanjang pikiran-pikiran yang dibutakan oleh nafsu akan kekuasaan menghantui isi dari setiap pikiran iblis yang menyamar menjadi manusia yang merasa bahwa mereka memiliki kuasa atas segalanya, bahkan terhadap sesamanya.

Neraka kini kosong melompong dan semua iblis turun ke bumi untuk berbuat kerusakan, menodai tanah buatan Tuhan yang semula suci dengan perbuatan hina mereka.

Kaname mengeluarkan kepalanya dari sungai, bulir-bulir air jatuh dari rambut panjangnya yang tadi ia tenggelamkan. Matanya yang sayu menatap langit dengan tatapan mantap dan penuh akan pengharapan atas suatu hal.

Ikuti keyakinanmu, bukan perintah yang buta.

 

------------------------

 

Februari 1943

Kazehara Haruto, yang selalu terlihat bersama Yuzuki Kaname, memiliki kemampuan yang sama dengannya. Mereka setara dalam aspek kekuatan dan jabatan. Kedua insan manusia tersebut sama-sama memiliki cita-cita untuk membawa lebih banyak kejayaan untuk Jepang. Namun, entah  dorongan dan  motif  apa yang dapat membuat Yuzuki  Kaname menghabisi rekan-rekannya sendiri di suatu sore secara tiba-tiba.

“Hah?”

Haruto menatap atasannya dengan ekspresi terkejut. Pedang yang saat itu sedang ia pegang terjatuh begitu saja dari tangan sang pemilik.

“Jangan memaksaku mengulanginya terus.” Kamihara Seijuro, atasan dari Kazehara Haruto dan Yuzuki Kaname, terlihat agak kesal terhadap tatapan yang diberikan Haruto kepadanya.

Kesal, Haruto membalas atasannya dengan pedas, “Aku mendengarnya dengan jelas, makanya aku bilang  “hah?””

“Barak kelompok Kaname sudah kosong. Namun, dinilai dari jejak darah dan debu,  mungkin teman-teman sekamarnya telah dia-“

“Itu mustahil!” potong Haruto sebelum atasannya sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Haruto, aku juga tidak mengerti kenapa bisa begini.”

Matanya menggelap, tak pernah sekalipun terpikir olehnya, bahkan terbayang barang sekalipun bahwa Kaname akan mengkhianati Jepang, tanah kelahiran mereka berdua yang telah ia dan  Haruto perjuangkan kemenangan dan kejayaannya selama ini. Pikiran dan hatinya tidak bisa menerima berita yang baru saja ia dengar. Haruto berpikir bahwa sepertinya dia sedang  berhalusinasi. Ya, baginya lebih baik berhalusinasi daripada harus mengetahui bahwa orang yang  dia cintai mengkhianati teman-teman sebangsanya, rekan-rekan yang telah berjuang bersamanya  selama bertahun-tahun lamanya.

Haruto berlari kencang menuju tempat di mana ia dan Kaname biasa menghabiskan waktu bersama di akhir pekan atau jika mereka sedang longgar dan tidak ada kegiatan. Tempat yang  selalu membuatnya merasakan ketenangan dan kehangatan di dalamnya. Namun, mungkin sekarang tempat itu akan membuatnya merasakan sesak di dadanya setelah  pembicaraan ini.

Tempat itu adalah rumah kecil hangat dengan tumbuhan dan beberapa ekor kucing serta   kelinci di halamannya. Mereka menemukannya secara tidak sengaja. Awalnya, kondisinya buruk dan kotor. Tapi setelah mereka berdua bereskan dan bersihkan, rumah itu tampak jadi lebih  bagus.  Tentu saja, mereka sudah memeriksa apakah rumah itu memiliki pemilik atau tidak. Dari hasil  penemuan ia dan Kaname, rumah itu belum punya pemilik sah.

Haruto membuka pintu dengan kasar, bahkan pintu tersebut hampir terbanting oleh tangannya. Napasnya tersengal-sengal. Di sana, di ruang tamu, berdiri pujaan hati yang telah  mengkhianati bangsanya, perempuan yang masih ia cintai, tak peduli apa yang baru saja ia lakukan hari ini. Kaname berdiri membelakangi Haruto, sehingga lelaki itu tak bisa melihat ekspresi yang ditampilkan di wajahnya.

“Jelaskan padaku, Kaname.”

“Seharusnya kau sudah dengar dari Kamihara-san, bukan? Begitulah situasinya.”

“Jadi, kau ingin memerdekakan negara ini dengan mengkhianati rekan-rekan sebangsamu yang sudah menemanimu sejak lama? Bahkan kau tega membunuh kawan-kawan sekamarmu yang sudah kau anggap keluarga sendiri?”

“Aku tidak bisa memberikan perlakuan khusus pada mereka, ‘kan? Selain itu, kini keluargaku bukan hanya mereka.”

“Bukan itu yang kutanyakan!” Haruto berseru marah.

“Aku melakukan ini karena ada tujuannya, sesuatu yang berarti,” Kaname menutup matanya sejenak,  “Bahkan, sangat berarti.”

“Tidak.  Kau bilang  ingin  membawa Jepang  menuju kejayaan dan  kemakmuran. Namun sekarang kau malah menebas kepala rekan-rekanmu sendiri. Mana mungkin kau bisa membawa kemerdekaan bangsa lain yang  lemah dan bodoh!”

Kaname membalikkan tubuhnya, matanya menatap Haruto dengan jengkel dan penuh amarah, “Kau sungguh sombong. Kesombongan para pria selalu mencengangkan.”

“Hah!?” perasaan kesal dan ketidakpercayaan meliputi hati Haruto. Di satu sisi ia kesal karena seseorang memanggilnya sombong. Namun, di sisi lain, perasaan akan ketidakdakpercayaan dan kesedihan merasuki hatinya, karena Kaname jelas-jelas sekarang  menatapnya dengan jengkel dan muak. Dia tak keberatan dan bahkan tak peduli jika dipandang dengan tatapan seperti itu oleh orang lain, bahkan oleh atasannya. Tapi, ini Kaname…

“Kita dahulu juga seperti mereka, orang-orang yang kau sebut lemah dan bodoh. Itu  adalah kita dahulu, Kazehara Haruto! Jangan berlagak seolah-olah kita tak pernah semiskin mereka. Jangan berlagak seakan-akan kita tak pernah seterbelakang mereka. Jangan berani-beraninya kau mengatakan mereka bodoh di hadapanku, Haruto!”

Mereka  setara  dalam aspek  kekuatan dan  jabatan. Mereka setara dalam segala hal, kecuali pemikiran.

“Apa pasti bisa terwujud kalau kau yang melakukan ini, Haruto?” Kaname menatapnya dengan tajam, tatapannya menusuk ke dalam jiwa Haruto. “Jelas kau bisa melakukannya, tapi kau malah membujuk orang kalau hal itu mustahil terwujud.”

“Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan?” Haruto mendesis.

“Jika aku bisa menjadi kau, tidakkah kau merasa impian konyol ini mungkin saja bisa  terwujud?”

Mendengar Kaname mengatakan itu, mata Haruto membelalak tak percaya, ia marah. Tapi, ada sedikit rasa frustrasi yang terpercik dari tatapannya, “Aku sudah memutuskan cara hidupku  yang baru. Selanjutnya aku akan berusaha mewujudkan hal yang kubisa.”

Haruto  menggertakkan giginya dengan  keras. Rasa  frustasi, kemarahan,  dan kekecewaan, bercampur aduk menjadi satu kesatuan, menggerogoti jiwa dan pikirannya.

Kaname membalikkan tubuhnya sehingga ia sekarang membelakangi Haruto. Tangan perempuan itu sedari awal berada di genggaman pedang yang ia sampirkan di pinggangnya, bersiap jika Haruto menyerang dari belakang. Kaname berjalan menjauh dari Haruto hingga jarak mereka terpisah, tiap detik memisahkan kedua insan tersebut. Gadis itu bisa mendengar suara pedang Haruto yang dikeluarkan dari sarung pedangnya.

“Bunuh saja aku jika kau mau.” Kaname menghentikan langkahnya dan menatap Haruto sejenak sebelum meneruskan langkahnya. “Itu juga ada artinya.”

Haruto, yang walaupun kuda-kudanya sudah siap untuk menebas leher pengkhianat  bangsa  dan negaranya, termenung pelan. Tubuhnya diam membeku walaupun dia sadar bahwa langkah Kaname semakin menjauh, hingga tubuh orang yang dia cintai itu tak terlihat lagi dalam pandangannya. Dalam posisi yang masih mempertahankan posturnya, air matanya jatuh tanpa kesadarannya sendiri. Ia tahu betul, sebagai prajurit, ia seharusnya sadar akan tugasnya untuk membunuh para pengkhianat Jepang tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Tapi, sebagai orang yang menaruh rasa kasih terhadapnya, ia tak sanggup. Sungguh, ia tak sanggup jika harus membunuh Yuzuki Kaname dengan tangannya sendiri, dengan tangan yang pernah menyentuh  wajahnya dengan lembut, dengan tangan yang selalu merangkul dan mencari genggaman dari orang yang paling dicintainya, dengan tangan yang pernah memeluk tubuhnya dengan kehangatan akan rasa cinta, dan dengan tangan inilah, tangan yang pernah menyelamatkan hidup kekasihnya dari maut!

Ia tak sanggup membayangkan tangannya terlumuri oleh darah dari kekasih hatinya sendiri.

“Kenapa kau tidak menyusulnya?” Kamihara bertanya kepada Haruto ketika ia kembali ke markas. Wajahnya kusut, begitu juga dengan tampilannya. Matanya terlihat begitu sayu hingga Kamihara merasa bahwa ia harus memilih kata-katanya dengan baik sebelum mengajak Haruto berbicara.

“Kau serius ingin menanyakan itu padaku?” Haruto bertanya dengan nada lemah.

Kamihara menggelengkan kepalanya dan menghela napas dengan pelan,  “Tidak, sudahlah. Aku yang salah.”

 

------------------------

 

Kelompok Sukarni.

Organisasi bawah tanah yang memperjuangkan hak Indonesia atas kemerdekaan. Kaname pikir ini organisasi yang cocok untuknya.

Jadilah ia sekarang menjadi anggota dari Kelompok Sukarni.

Memang, awalnya sulit untuk meyakinkan mereka bahwa ia adalah anggota yang bisa diandalkan dan setia. Selain karena dulunya ia adalah seorang tentara Jepang, yang memberatkan dan mempersulit Kaname adalah karena dirinya yang merupakan seorang perempuan. Tak heran, karena melihat seorang perempuan terjun langsung ke perang di zaman itu adalah hal yang  hampir mustahil terjadi. Jadi, hampir semua orang meragukan dirinya saat ia baru masuk ke Kelompok Sukarni, kecuali satu orang.

Adam Malik.

Mungkin karena dirinya adalah seorang jurnalis dan agen informasi, pikirannya lebih  terbuka dibandingkan rekan-rekannya yang lain. Tapi ia agak kurang suka dengan latar belakang  Kaname yang sering terjun ke dalam pertarungan karena dia sendiri lebih memilih berjuang secara diplomatis.

Hari-harinya di kelompok Sukarni ia habiskan dengan mengorek informasi dari ujung ke ujung, dari satu tempat ke tempat lain, sambil mencoba merekrut anggota baru yang memiliki cita-cita dan visi misi yang sama dengan mereka. Kalau sedang beruntung, ia bisa berpapasan dengan mantan atasan-atasannya dulu di militer dan membunuh mereka. Tentu saja, Kaname menggunakan penyamaran ketika melakukan semua kegiatan tersebut. Kalau berada sedang di luar, ia menyamar menjadi seorang pria. Sehingga ketika ia menebas leher orang-orang militer   itu, identitasnya tidak diketahui.

Jasa-jasa yang banyak Kaname berikan ke organisasi membuatnya menjadi orang  kepercayaan mereka dengan cepat. Orang-orang yang awalnya meremehkannya sekarang memuji dan menghormatinya.

Semuanya berjalan lancar. Tak ada pihak Jepang yang mencurigai salah seorang pun dari  mereka. Namun, ya, tidak selamanya semua berjalan mulus. Terkadang, badai pun datang ke lautan yang terlihat tenang.

 

------------------------

 

24 Desember 1944

Markas mereka diserang pasukan Jepang.

Kaname berhasil melarikan diri dari serangan musuh, tapi dengan harga apa?

Di perutnya kini bersarang dua peluru timah dan satu peluru lainnya di punggung kanan bawah, kedua bahu dan punggungnya terkena sabetan pedang, serta satu luka tusukan di paha akibat tusukan pisau. Wajahnya penuh darah akibat tadi sempat terjatuh di dekat mayat rekan satu organisasinya yang digenangi banyak darah.

Setelah memastikan bahwa persembunyian yang ia bangun untuk berjaga-jaga sudah aman  dan bersih dari pasukan Jepang, ia menyenderkan tubuhnya ke tembok dan duduk dengan perlahan. Napasnya memburu, tubuhnya sudah lemah.  Dia tidak punya stok air dan makanan sedikit pun  karena tertinggal di markas. Dengan kondisi seperti ini, perempuan itu tidak yakin apakah dia  masih bisa mengembuskan napas sampai hari esok atau tidak. Kaname menghela napas berat. Sepertinya mati setelah memperjuangkan hak atas kemerdekaan bangsa ini tidak terlalu buruk. Malahan, ini terasa melegakan, karena setidaknya ia telah berjuang untuk kebenaran di dunia ini. Dia telah melakukan semua hal ini atas kehendaknya sendiri, atas keyakinannya sendiri, bukan sekadar atas dasar perintah dari orang lain, bukan sekadar atas dasar perintah yang buta.

Perintah buta yang pernah ia ikuti tanpa mempertanyakan apa apa pun.

“Dasar bedebah-bedebah sialan.”

Kaname mendengar suara langkah kaki mendekati pintu tempatnya bersembunyi. Tubuhnya berdesir akan ancaman yang mungkin hendak menimpanya. Tapi begitu dia mengenali suara sepatu dan ritme langkah kaki orang tersebut, ia kembali menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan rasa lega. Setidaknya, ia bisa berpamitan pada Haruto sebelum pergi meninggalkan dirinya sendirian di dunia ini.

“Kau telat, Haruto.” Kaname berucap pelan, ia menengadahkan kepalanya ke Haruto yang  berdiri di depan pintu dengan wajah ketakutan. “Aku tidak mengira akan kalah darimu. Apakah keluargaku aman?”

Matanya merah, wajahnya yang biasanya berona merah kini menjadi pucat. Dia tampak kelelahan. Dia terlihat mati.

Bukankah kita semua begitu?

Haruto berdiri membeku dengan horor di wajahnya  begitu  melihat  kondisi Kaname, orang yang dicintainya yang sudah tidak ia lihat dan temui selama satu tahun lamanya, berada dalam keadaan sekarat dan berlumuran darah. Bahkan, di sekitar tubuhnya yang ia sandarkan ke tembok terbentuk genangan penuh darah merah segar. Haruto dengan segera bergerak menuju Kaname.

“Apa yang telah kau lakukan, Kaname!?” Haruto berteriak marah dengan perasaan frustrasi membanjiri hatinya.

Kaname tertawa  getir, “Apa lagi? Markas organisasiku diserang oleh orang-orangmu. Lalu, ya, begini  akhirnya.”

“Jangan tertawa! Diam dan jangan bergerak, aku akan merawatmu.” ucap Haruto ketika ia akan membuka bebat kain di luka Kaname yang berada di paha kanannya.

Kaname mencengkeram tangan Haruto, ia mengeluarkan bisikan pelan, “Tak ada  gunanya, Haruto.” Kaname tersenyum tipis. “Biarkan saja seperti ini.”

Perempuan itu kemudian menyatukan tangannya dengan tangan Haruto.

Hangat, pikirnya.

“Temani aku sampai aku pulang.”

Haruto mendekapkan dirinya ke tubuh Kaname yang masih tersisa sedikit kehangatannya untuk saat ini. Tapi baginya jika itu Kaname, maka tidak peduli seberapa dingin pun tubuhnya,  Haruto akan terus mampu menemukan dan merasakan kehangatan darinya, “Jangan katakan itu, Kaname.…” ucapnya sembari mengelap wajah pujaan hatinya yang terlumuri oleh darah dengan sapu tangannya secara lembut dan penuh dengan kehati-hatian.

Haruto mengambil tangan Kaname dan mengecupnyanya dengan lembut, kemudian lelaki itu menggenggam tangan mereka berdua dengan erat, seolah tak ingin terpisah dari separuh hati dan jiwanya.

Mereka berpelukan dengan erat dan hangat, seakan-akan mereka tak pernah berpisah selama satu tahun lamanya, seakan-akan Kaname tak pernah meninggalkan Haruto untuk pergi  mengejar kemerdekaan Indonesia.

Karena sejatinya rasa kasih sayang dan kepercayaan mereka terhadap satu sama lain tidak pernah hilang dari jiwa kedua insan manusia tersebut

“Haruto, berjanjilah satu hal padaku.” wajah Kaname mulai memucat, bibir dan jari-jari tangan serta kakinya mulai menunjukkan warna kebiruan. Dia akan mati.

“Sebutkan dan akan kulakukan apa pun yang kau minta, Kaname.”

“Lanjutkan perjuanganku, Haruto.” Kaname membawa tangan Haruto ke wajahnya yang  sudah bersih dari darah, “Bela mereka, lindungi mereka, dan bawalah kemerdekaan untuk mereka.”

“Perang menciptakan monster, dan monster menciptakan perang.” Kaname menghela napas berat, “Begitu saja terus siklusnya.”

Kaname mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dengan kecil dan memberikannya ke tangan Haruto dengan gemetar, “Berikan ini ke orang bernama Sukarni, Adam Malik, Kusnaeni, atau Pandu Wiguna. Mereka akan menerimamu.”

“Siapa empat orang itu? Apa mereka semua laki-laki?” ia meremas kertas yang Kaname berikan dengan kasar, dadanya terasa panas akan rasa cemburu. “Dan apa ini?”

“Rekan-rekanku, dan ya, mereka semua laki-laki. Hanya aku perempuan seorang di  kelompok Sukarni, jadi terkadang aku merasa kesepian. Tapi untunglah mereka sekarang selalu baik dan sopan kepadaku, meskipun sempat ada cekcok di antara kami saat bertemu untuk pertama kalinya.” Perempuan berusia 27 tahun itu berhenti sejenak untuk menatap kertas yang berada di dalam genggaman Haruto, senyum lemah terukir di wajah pucatnya kala memori-memori indah bersama mereka terlintas di pikirannya. “Dan ini adalah tanda pengenal di antara kami. Kau cobalah cari mereka di Rumah Makan Nek Idah yang ada di Jakarta. Itu tempat pertemuan organisasi jika markas terdeteksi.”

Kaname tertawa kecil sekejap, “Opornya Nek Idah sangat lezat, kau tahu, Haruto? Cobalah itu nanti.”

Kaname menyenderkan tubuhnya yang semakin lemah dan tidak memiliki tenaga sedikit pun ke bahu Haruto, “Tolong jaga mereka untukku, Haruto.” bisiknya dengan suara parau.

“Kaname.”

Koishiteru ne, ryoukai?” 

Kaname menatap Haruto dengan mata terbelalak.

Air mata kepedihan dan raungan nestapa jatuh tanpa kesadarannya sendiri dari mata  kirinya.

“Bodoh, kalau saja kau mengatakannya lebih cepat.” Kaname berbisik serak. “Kenapa… Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu, Haruto?”

             Ku memintal rindu

             Menyesali waktu

             Mengapa dahulu

             Tak kuucapkan

             Aku mencintaimu

             Sejuta kali sehari.

Mochiron…  Koishiteru, zutto.” 

Haruto menyatukan dahinya ke dahi perempuan yang akibat kebodohannya, terlambat ia ungkapkan rasa cintanya yang dalam itu. Ia mengelus wajah cantiknya yang dialiri air mata dan mengusapnya dengan lembut. Melihat mata yang selalu ia kagumi dan sayangi mengeluarkan tangis penuh akan rasa pilu membuat hati Haruto tertusuk. Haruto menyentuh bibir Kaname yang semakin membiru dengan perlahan, lalu membawanya ke dalam kecupan, seolah ingin menahannya walau hanya untuk sesaat sebelum maut merenggut separuh jiwanya di dunia yang fana ini untuk pergi ke alam yang kekal, alam yang abadi.

“Maaf… Maafkan aku, Kaname. Andaikan aku menyatakan perasaanku lebih cepat, andaikan aku mengikuti langkahmu dan tidak terus memihak Jepang, andaikan aku meresapi dan memikirkan kata-katamu waktu itu dengan mendalam, kau dan aku tak akan berakhir seperti  ini. Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah terlambat menyadari semua ini. Maafkan aku. Sungguh, Kaname. Tolong… tolong maafkan aku. Maafkan aku, sayang.”

Kaname meraba wajah  Haruto dengan tangannya yang gemetar, seluruh tubuhnya kini kian memucat untuk setiap menit yang berlalu, “Tak perlu minta  maaf,  Haruto. Ini…”  perempuan itu tersenyum getir, “Sudah terlambat. Tak ada gunanya.”

“Sisanya… kutitipkan padamu, Haruto.”

“Kupercayakan semuanya kepadamu, Haruto-tama.”

Napasnya semakin memberat dan kesadarannya memudar dari detik ke detik.

"Di kehidupan selanjutnya, Haruto?"

Selamat tinggal, sayangku Haruto.

Dengan hembusan napasnya yang terakhir, Kaname menutup matanya, tubuhnya melemah dalam pelukan Haruto.

Haruto tetap berlutut di lantai yang bermandikan darah. Lelaki itu mendekap tubuh sang kekasih hati yang  baru saja dicabut nyawanya. Ia tak sanggup berbicara, tenggorokan dan dadanya terasa panas. Hanya isakan lirih dan pedih yang keluar dari lekumnya.

"Di kehidupan selanjutnya, Kaname."

Haruto merengkuh tubuh yang semakin mendingin itu dengan sangat erat, tubuhnya bergetar karena luapan emosi yang mengalir dari bagian jiwanya yang paling dalam. Sakit, hatinya sakit, jiwanya sakit, menyaksikan serpihan dari jiwanya pergi meninggalkan dirinya. Air matanya dengan deras membasahi bahu dingin Kaname, ia merintih dengan suara parau. Haruto meratap dalam batinnya.

Bagaimana mungkin takdir dengan tega merenggut begitu banyak dari dia yang telah memberikan segalanya, yang telah berjuang atas segalanya demi umat manusia, demi mereka yang tertindas, atas nama bangsa yang terkutuk ini? Bagaimana kekasihnya justru menjadi jiwa malang yang berakhir dalam penderitaan? Jiwanya yang merupakan jiwa seorang patriot sejati kini melangkah di atas jembatan sebatang kara, sendirian, seorang diri tanpa ada yang menemani, tenggelam dalam kegelapan.

Ia berlutut di hadapan tubuh yang dingin, tubuh seseorang yang pasti akan tetap  memaafkan dan mencintainya bahkan dalam kematian. Ia merintih, memohon kembalinya seseorang yang tak akan pernah kembali. Hari itu, raungan penuh nestapa terdengar jelas. Melengking seakan-akan jiwanya sedang dirobek oleh sesuatu hal.

“Hidup ini terlalu singkat untuk mencintaimu hanya sekali. Aku akan mencarimu, aku akan menemukanmu, aku akan kembali ke dalam pelukanmu yang hangat di kehidupan berikutnya, meski harus menantang takdir yang kejam. Aku akan memilihmu; dalam berbagai kehidupan, di ratusan dunia, dalam tiap-tiap versi atas kenyataan, aku akan terus-menerus mencarimu dan   memilihmu lagi, tanpa ada keraguan walaupun itu sekecil debu, aku tak akan pernah ragu untuk memilihmu, lagi dan lagi. Aku akan selalu memastikan bahwa manusia yang aku cintai itu adalah kau, Kaname, cintaku, jiwaku, napasku.”

Seperti garis-garis sejajar, kedua insan manusia itu selamanya akan terus saling mencintai, senantiasa melangkah bersama dalam kehidupan, namun terkutuk dalam perpisahan tragis, ditakdirkan untuk selalu berdekatan, tapi tak pernah mungkin bagi mereka untuk saling benar-benar bersatu.

 

愛ほど歪んだ呪いはない.

Love is the most twisted curse of all.

 

------------------------

 

25 Desember 1944

Rumah Makan Nek Idah, Jakarta.

Tempat itu bisa dibilang agak suram, tapi masih terlihat terawat. Aroma masakan Indonesia dengan bumbu-bumbu mereka yang khas menguar dari dalam, membuat perut Haruto agak keroncongan. Tapi bukan itu tujuan utamanya pergi ke alamat ini.

Haruto memasuki restoran itu dengan langkah mantap. Sepi, batinnya begitu ia masuk. Hanya terlihat enam orang di meja-meja yang ada. Ia tak tahu bagaimana rupa keempat orang  yang disebutkan oleh kekasih hatinya yang telah perginya, tapi salah satu dari mereka pasti ada di antara enam orang itu.

“Apa ada yang bernama Sukarni?” Hening.

“Apa ada di antara kalian yang bernama Adam Malik?”

Tak ada yang berdiri, tapi Haruto dapat menangkap mata seseorang yang melihatnya dengan gusar untuk sepersekian detik. Ketemu.

Ia menghampiri orang yang diyakininya sebagai Adam Malik dengan pasti. Tapi begitu melihat orang itu seperti ingin kabur, Haruto dengan cepat mengeluarkan kertas yang telah diberikan Kaname kemudian menunjukkannya kepada lelaki itu.

“Kau dapatkan ini dari siapa?”

“Yuzuki Kaname.”

Mendadak semua mata di rumah makan itu tertuju padanya. “Dan siapa kau?”

“Kazehara Haruto.”

Adam Malik berdiri dari kursinya, diikuti oleh semua orang di ruangan itu. “Selamat datang di kelompok bawah tanah kami, Kazehara-san.”

Haruto membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang telah  menemani separuh jiwanya dalam perjuangan untuk membela hak-hak mereka yang tertindas, dan juga dalam memperjuangkan hak bangsa ini atas kemerdekaan di tanah mereka sendiri.

“Mohon kerja samanya!”

 

------------------------

 

17 Agustus, 1945

Tak terasa sudah hampir genap delapan bulan pemilik dari hati Haruto pulang ke rumah di mana semua manusia akan berakhir tatkala paru-paru berhenti berfungsi dan jantung beristirahat untuk selamanya di dunia yang fana ini.

Dalam hatinya yang paling dalam, ingin rasanya Haruto menyusul Kaname. Tapi ia tahu Kaname tidak menginginkan hal itu terjadi dan tidak akan pernah memaafkannya jika Haruto melakukan tindakan tersebut. Ia harus terus hidup untuk memperjuangkan hak Indonesia di mata dunia dan melihat momen bangsa ini merdeka dari penjajahan Jepang.

Tak seperti Kaname yang terang-terangan mengakui dan memperlihatkan dirinya mengkhianati Jepang dengan membunuh mantan rekan-rekan seperjuangannya, Haruto memilih untuk diam-diam masuk ke kelompok perjuangan kaum bumiputera. Ia tahu, dengan tetap memiliki akses informasi ke militer Jepang, ia bisa lebih banyak membantu Kelompok Sukarni dan perjuangan bangsa ini dalam mencapai kemerdekaan.

Kemerdekaan.

Indonesia sudah dekat dengan itu.

Karena saat ini situasi Jepang semakin memburuk dari hari ke hari.  Apalagi dengan adanya peristiwa pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Dari yang diberitahukan oleh Adam Malik, Sukarno dan Hatta sedang dibawa ke Rengasdengklok oleh beberapa pemuda dan golongan tua untuk mendesak mereka berdua agar dengan segera memproklamasikan kemerdekaan secara mandiri karena mereka tak ingin kemerdekaan Indonesia diberikan oleh Jepang.

Haruto tak tahu ia harus merasa sedih atau senang ketika mendengar informasi tentang pengeboman di Jepang dari atasannya, Kamihara. Jepang adalah tanah kelahirannya, tempat di mana ia dan Kaname dibesarkan, tempat di mana ia dan Kaname dipertemukan, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Kaname sebelum mereka ditugaskan di Indonesia.

Namun, ini akan membawa kemenangan bagi Indonesia. Negara yang pada akhirnya dicintai Kaname dengan segala  perbedaan dan  keragaman akan suku,  agama, bangsa, dan  budaya di dalamnya. Negara yang Kaname perjuangkan haknya untuk merdeka sampai titik darah penghabisan, sampai ia harus mati dalam dekapannya, dibanjiri darah yang disebabkan oleh luka-luka yang didapat kekasih hatinya itu.

“Bersiap, kita akan menghadiri proklamasi kemerdekaan di rumah Bung Karno.”

Kalimat itulah yang membawa rasa haru dalam hatinya, membawa ketenangan dalam jiwanya.

Lihatlah, cintaku. Kau berhasil, kita berhasil. Pengorbananmu tidak sia-sia, Kaname.

Air matanya, mengalir dari mata Haruto, berpacu dalam ketidakpastian antara kesedihan atau kebahagiaan.

Rasa rindu yang tak tertahankan bergelora dan bergemuruh berisik di dalam hatinya, menyesakkan dada dengan kenangan akan dia yang tak akan pernah kembali ke dalam dekapannya dengan cara apa pun. Senyumnya, tawanya, kehangatannya, ia merindukan semua itu. Sungguh, tak ada kutukan yang lebih menyiksa daripada cinta.

Tunggu aku, Kaname. Aku akan menyusulmu, tapi tidak sekarang. Bagaimana pun juga, aku harus merawat apa yang telah kau titipkan padaku.

 

------------------------

 

“Bangun, Satoru.” suara lembut Geto Suguru mengalun di telinganya.

Sebuah nama keluar begitu saja dari mulutnya.

“Kaname,”

 

------------------------

 

Satoru berjanji akan menjaga rekahan jiwanya di kehidupan ini dari maut yang menanti. Dia tidak akan membiarkan belahan jiwanya pergi. Dia tidak akan memperbolehkan takdir memisahkan dirinya dengan Kaname, atau Suguru. Dia akan membangkang, dia akan memberontak, dia akan menentang, dan dia akan melawan ketentuan yang telah ditetapkan oleh semesta atas takdir yang akan secara berkelanjutan menimpa ia dan rekahan jiwanya.

Namun nahas, untuk sekali lagi pria tersebut tidak dapat memenuhi janjinya.

Untuk sekali lagi ia harus menyaksikan separuh hidupnya pergi, meninggalkan dirinya berkelana seorang diri di dunia, tepat di depan matanya sendiri.

Untuk sekali lagi ia meratapi kepergian dari orang yang telah menjadi pemilik hatinya sejak mereka kembali dipertemukan oleh semesta. 

Untuk sekali lagi ia gagal menjaga rekahan jiwanya untuk tetap berada di sisinya.

Untuk sekali lagi ia kalah melawan ketentuan yang telah ditetapkan oleh semesta. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Notes:

Dalam bahasa Jepang, "koishiteru" berarti "mencintai dengan dalam," lebih dalam dibandingkan sekadar "suki" (suka) atau "aishiteru" (cinta dalam konteks lebih serius). Maknanya berarti, "Aku benar-benar mencintaimu, kau paham itu, ‘kan?", seolah-olah memastikan bahwa perasaan itu diterima dengan serius.