Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-08-27
Updated:
2026-08-31
Words:
10,194
Chapters:
3/?
Comments:
3
Kudos:
17
Bookmarks:
2
Hits:
334

Elegi Lili Putih

Summary:

Di atas takhta yang dibangun dari perjanjian, dua nama dipaksakan bersanding tanpa suara. Kautawarkan aroma hutan Barat yang liar, kujawab dengan dinginnya hukum dan mahkota.

Kita pernah percaya ini hanya persinggahan politik, sebuah lakon yang dituntut oleh garis batas wilayah. Namun di antara lorong marmer dan sunyinya malam, takdir secara diam-diam menenun tempat kita berpulang.

Chapter 1: Bunga Lili

Chapter Text

Langit membentang terlalu indah untuk hari pemakaman. Biru muda memenuhi cakrawala tanpa noda awan, begitu bersih dan luas hingga tampak seperti sesuatu yang tidak seharusnya berada di atas tempat kematian. Cahaya matahari jatuh lembut di permukaan danau buatan di belakang kediaman mereka, menaburkan serpihan-serpihan keemasan yang bergerak perlahan setiap kali angin menyentuh air. Dari kejauhan, permukaan danau tampak seperti kaca raksasa yang retak oleh cahaya, memantulkan langit, pepohonan, dan bayangan orang-orang yang berkumpul dalam pakaian berkabung. Pepohonan tua di sepanjang tepian taman bergoyang ringan, cabang-cabangnya saling bergesekan dan menghasilkan suara lirih yang menyerupai bisikan. Dedaunan hijau masih berkilau setelah hujan malam sebelumnya, sementara aroma tanah basah dan rumput yang baru terkena embun mengambang di udara. Di antara ranting-ranting tinggi, burung-burung masih bernyanyi dengan ketenangan yang hampir tidak pantas. Satu demi satu suara mereka jatuh ke udara sore, jernih dan ringan, seolah dunia tidak pernah mengenal kehilangan. Seolah hari itu hanyalah hari biasa, matahari tetap harus terbit, angin tetap harus berembus, bunga tetap harus mekar, dan burung tetap harus menyanyikan lagu yang sama seperti kemarin. Bagi Jude, justru itulah bagian paling kejamnya. Dunia tidak berhenti ketika Gavi mati. Tidak ada langit yang terbelah, tidak ada matahari yang padam, tidak ada danau yang berubah menjadi hitam sebagai tanda bahwa seseorang yang begitu dicintai telah pergi. Tidak ada apa-apa. Hanya pagi yang datang seperti biasa dan sore yang tetap terlalu indah, seolah kematian seorang manusia tidak cukup penting untuk membuat semesta berkabung bersamanya. Dunia terus berjalan dengan damai pada hari ketika jantung hidup Jude berhenti berdetak.

Jubah kebesaran wilayah Timur yang dikenakan Jude bergerak perlahan diterpa angin. Kain hitam panjang itu menjuntai berat dari bahunya hingga hampir menyapu rerumputan basah di tepi danau, ujungnya sesekali terangkat sedikit sebelum kembali jatuh seperti bayangan yang enggan meninggalkan tubuh pemiliknya. Benang-benang perak yang disulam di sepanjang kerah dan lengan menangkap cahaya matahari, membentuk pola lambang kerajaan Timur yang selama berabad-abad menjadi simbol kekuasaan, ketertiban, dan kekuatan. Lambang itu seharusnya membuat siapa pun yang melihatnya teringat pada kemenangan. Pada perang yang dimenangkan. Pada wilayah luas yang tunduk di bawah satu mahkota. Hari itu, lambang tersebut terasa hampir seperti penghinaan. Semua orang yang berdiri di sana mengenal Jude sebagai pemimpin paling disegani di Timur, lelaki yang tidak pernah goyah bahkan ketika pasukan musuh telah mencapai gerbang terakhir ibu kota, lelaki yang mampu berdiri di tengah medan perang dengan darah mengering di wajahnya dan tetap memberikan perintah seolah kematian hanyalah angka yang harus dihitung. Para bangsawan mengenalnya sebagai seseorang yang tidak pernah membiarkan emosinya menguasai keputusan. Para prajurit mengenalnya sebagai pemimpin yang selalu berdiri paling depan. Bahkan musuh-musuhnya mengenal ketenangan itu dan belajar takut kepadanya. Hari ini tubuh tinggi itu masih berdiri tegak di hadapan seluruh wilayah. Bahunya masih lurus. Dagunya masih terangkat. Tidak ada satu pun gerakan yang menunjukkan bahwa lelaki di balik jubah hitam itu sedang berada di ambang kehancuran. Hanya matanya yang mengkhianati segalanya. Sorot tajam yang biasanya mampu membuat orang lain menunduk kini kehilangan seluruh kekuatannya. Tidak ada amarah di sana, tidak ada kewaspadaan, bahkan tidak ada kesedihan yang dapat dengan mudah diberi nama. Hanya kekosongan yang begitu dalam hingga membuat siapa pun yang berani menatap terlalu lama merasa seolah sedang melihat reruntuhan sebuah kerajaan yang telah ditinggalkan seluruh penghuninya. Jude masih berdiri seperti seorang raja. Namun di balik mata itu, tidak ada lagi seseorang yang merasa memiliki kerajaan untuk dipimpin.

Di tengah danau, altar pemakaman berdiri diam di atas platform batu putih yang dibangun khusus untuk keluarga penguasa. Pilar-pilar marmer mengelilingi tempat itu, masing-masing dihiasi sulur-sulur bunga musim dingin yang dipahat begitu halus hingga tampak seperti masih hidup. Permukaan batu putih itu basah oleh embun dan memantulkan cahaya sore dalam kilau pucat, sementara air danau mengalir pelan di sekelilingnya, seakan altar tersebut bukan dibangun di atas air melainkan tumbuh dari dasar danau sebagai bagian dari sesuatu yang lebih tua daripada kerajaan mereka sendiri. Permukaan air memantulkan bayangan para pelayat berpakaian hitam seperti potongan-potongan malam yang jatuh terlalu dini ke dalam danau. Lilin-lilin panjang menyala di setiap sudut altar, nyalanya bergerak kecil diterpa angin sore yang dingin, sesekali memanjang dan menipis sebelum kembali tegak. Di tengah semuanya, peti mati Gavi berada dalam keheningan yang hampir tidak manusiawi. Kayunya dipoles begitu halus hingga permukaannya memantulkan cahaya matahari tipis, dan di atasnya bunga lili putih ditaburkan bersama mawar musim dingin yang kelopaknya berwarna pucat seperti salju yang baru pertama kali jatuh. Bunga-bunga itu bukan pilihan sembarangan. Dahulu, pada setiap awal musim dingin, balkon kamar mereka selalu dipenuhi mawar-mawar serupa karena Gavi bersikeras bahwa rumah yang terlalu megah akan terasa seperti makam jika tidak memiliki bunga. Jude pernah menertawakannya. Sekarang, bunga-bunga yang sama mengelilingi petinya. Kelopak-kelopak putih bergerak perlahan tertiup angin, beberapa terlepas dari tangkainya dan jatuh ke permukaan batu, lalu diseret perlahan menuju tepian altar. Semuanya terlihat terlalu indah. Terlalu sempurna. Seperti para dewa telah menghabiskan seluruh keindahan dunia untuk menghias kematian seseorang dan lupa bahwa manusia yang ditinggalkan harus menyaksikannya.

Pendeta keluarga berdiri di ujung makam sambil merapalkan doa-doa kuno dengan suara rendah yang menggema pelan di atas air danau. Bahasa tua itu hampir tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari, hanya disimpan untuk upacara-upacara yang dianggap terlalu sakral untuk disentuh oleh bahasa manusia biasa. Setiap kata terdengar berat, berlapis gema, seolah suara pendeta bukan hanya datang dari mulutnya tetapi juga dari batu-batu tua di bawah kaki mereka. Doa itu berbicara tentang perjalanan jiwa, tentang pintu terakhir yang dibuka setelah kehidupan berakhir, tentang cahaya yang akan menuntun seseorang melewati kegelapan menuju tempat di mana tidak ada lagi perang, sakit, atau kesepian. Jude mendengar semuanya, tetapi tidak satu pun kata itu benar-benar sampai kepadanya. Ia pernah mendengar doa yang sama untuk orang lain. Ia pernah melihat orang-orang menangis lalu pulang dan melanjutkan hidup. Ia pernah percaya bahwa kematian memiliki bentuk, memiliki tujuan, bahkan mungkin memiliki belas kasihan. Hari itu ia tidak yakin lagi. Para bangsawan Timur berdiri dalam diam dengan kepala tertunduk, menjaga kesedihan mereka tetap rapi di balik wajah tenang khas wilayah tersebut. Mantel hitam mereka tersusun sempurna, tangan mereka terlipat di depan tubuh, dan tidak ada suara yang lebih keras daripada gesekan kain ketika seseorang menarik napas. Di sisi lain altar, delegasi Barat mengenakan mantel biru gelap kebanggaan faksi mereka. Warna itu tampak semakin gelap di bawah cahaya sore. Bahu beberapa orang tampak bergetar pelan. Mata mereka memerah oleh kehilangan yang belum mampu diterima sepenuhnya. Seorang bangsawan tua dari Barat bahkan tidak mencoba menyembunyikan air mata yang mengalir di pipinya, membiarkannya jatuh begitu saja ke janggut putihnya. Putra mahkota terbaik wilayah Barat kini terbujur diam di hadapan mereka, sementara dunia dipaksa belajar berjalan tanpa Gavi untuk pertama kalinya.

Dua wilayah besar yang selama puluhan tahun dipenuhi ketegangan kini berdiri berdampingan dalam duka yang sama. Timur dan Barat, dua kekuatan yang selama beberapa generasi lebih terbiasa mengarahkan pedang satu sama lain daripada berbagi meja, hari itu tidak lagi memiliki alasan untuk bertengkar. Tidak ada suara besi yang beradu. Tidak ada utusan yang datang membawa ancaman. Tidak ada perdebatan mengenai batas tanah atau hak atas sungai-sungai di perbatasan. Bahkan para prajurit yang biasanya berdiri dengan tangan dekat gagang pedang mereka menundukkan kepala dalam penghormatan yang sama. Untuk beberapa jam, sejarah seolah lupa pada kebencian yang telah diwariskan kepada mereka. Semua orang hanya mengingat satu nama. Gavi. Putra mahkota Barat. Suami Jude. Lelaki yang entah bagaimana berhasil membuat dua wilayah yang saling membenci berdiri di tempat yang sama tanpa saling menghunus senjata. Jika Gavi masih hidup, mungkin ia akan menemukan ironi itu lucu. Mungkin ia akan menyenggol lengan Jude dan berbisik bahwa ternyata kematiannya adalah satu-satunya hal yang berhasil membuat Timur dan Barat akur. Jude tahu persis seperti apa ekspresi Gavi jika mengatakan itu. Senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya. Mata yang berkilat karena menahan tawa. Suara rendah yang sengaja dibuat serius hanya untuk melihat Jude kesal. Pikiran itu datang begitu nyata hingga untuk sesaat Jude hampir menoleh. Hampir. Lalu ia mengingat bahwa tidak ada siapa-siapa di sebelahnya.

Di tengah kerumunan tersebut, Jude menjadi titik paling sunyi. Ia tidak menangis. Tidak ada isak yang memecah udara sore. Tidak ada tubuh yang runtuh berlutut di depan makam seperti kisah-kisah tragedi yang biasa dinyanyikan para penyair raja. Bahkan ketika tanah pertama mulai disiapkan untuk menutup liang, Jude hanya berdiri dan menatap tanpa berkedip, seolah dengan menatap cukup lama ia dapat menghentikan kenyataan. Sejak kecil, ia telah diajarkan bahwa pemimpin tidak boleh memperlihatkan kehancuran di depan rakyatnya sendiri. Kesedihan harus dikubur lebih dalam daripada rahasia negara. Luka harus disembunyikan bahkan ketika darah telah merembes sampai ke telapak tangan. Seorang pemimpin boleh kehilangan pasukan, keluarga, bahkan bagian dari dirinya sendiri, tetapi tidak boleh kehilangan kendali. Jude telah mematuhi semua pelajaran itu sepanjang hidupnya. Ia tahu bagaimana menelan tangis. Ia tahu bagaimana menahan amarah. Ia tahu bagaimana berdiri tegak ketika orang lain berlutut. Ia tahu bagaimana mengucapkan kata-kata penghiburan kepada rakyat yang kehilangan keluarga mereka tanpa pernah membiarkan siapa pun melihat bahwa dirinya sendiri juga manusia. Namun tidak ada satu pun pelajaran yang mengajarinya apa yang harus dilakukan ketika orang yang harus ia lepaskan adalah rumahnya sendiri. Karena itu ia hanya berdiri. Tubuhnya masih berada di sana, di antara para bangsawan dan prajurit, di bawah langit yang indah dan matahari yang tenang, tetapi sebagian dirinya seolah telah mengikuti Gavi ke tempat yang tidak dapat dijangkau siapa pun.

Kesedihan di mata Jude terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan siapa pun di tempat itu. Mungkin karena air mata memiliki akhir. Ia jatuh, mengering, lalu meninggalkan mata yang sedikit lebih ringan. Tetapi kesedihan Jude tidak bergerak. Ia menetap di sana seperti musim dingin yang tidak mengenal musim semi. Matanya memandang peti Gavi tanpa benar-benar melihat dunia di sekelilingnya. Tangannya terkepal keras di balik jubah sampai buku-buku jarinya memucat. Kuku-kukunya menekan telapak tangan begitu dalam hingga rasa sakit kecil itu menjadi satu-satunya bukti bahwa tubuhnya masih berada di dunia yang sama dengan semua orang. Ia membiarkan rasa sakit itu. Ia bahkan membutuhkan rasa sakit itu. Karena selama sesuatu masih terasa sakit, berarti ia belum sepenuhnya mati. Pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari pusaran tanah di tengah altar, tempat peti Gavi perlahan diturunkan menuju liang makam keluarga. Setiap inci gerakan itu terasa seperti sesuatu yang merobek tubuhnya dari dalam. Sedikit demi sedikit, Gavi bergerak menjauh dari pandangannya. Sedikit demi sedikit, kayu peti itu turun ke tempat yang tidak bisa dicapai cahaya matahari. Jude ingin mengatakan berhenti. Hanya satu kata. Hanya satu perintah. Ia adalah penguasa Timur. Semua orang akan mematuhinya. Jika ia mengatakan hentikan, tali itu akan berhenti. Jika ia memerintahkan mereka mengangkat kembali peti itu, tidak seorang pun akan berani menolak. Tetapi bahkan kekuasaan terbesar yang dimilikinya tidak dapat mengubah satu hal sederhana, Gavi sudah mati. Tidak ada perintah yang dapat diberikan kepada kematian.

Gavi pernah berdiri di tempat itu sambil tertawa beberapa musim lalu, ketika bunga-bunga musim semi baru mulai mekar di sepanjang tepian danau. Jude masih mengingat bagaimana lelaki itu datang dengan rambut berantakan setelah berlari dari halaman belakang, sepatu botnya masih penuh tanah dan satu apel merah berada di tangannya. Ia melempar bunga ke danau hanya untuk mengganggu ketenangan Jude yang sedang membaca dokumen faksi, kemudian tertawa ketika Jude memandangnya dengan tatapan yang seharusnya cukup untuk membuat seorang pangeran meminta maaf. Gavi tidak pernah takut pada tatapan itu. Tidak pernah. Ia justru menyukainya. Gavi pernah berlari melewati taman sambil membawa apel curian dari dapur istana dan mengajak Jude kabur dari rapat dewan hanya demi melihat matahari terbenam bersama. Jude masih ingat bagaimana ia awalnya menolak. Masih ingat Gavi yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya sambil berkata bahwa kerajaan tidak akan runtuh hanya karena seorang penguasa menghilang selama satu jam. Masih ingat bagaimana akhirnya ia menyerah, mengikuti Gavi melewati lorong rahasia menuju taman, dan mendapati mereka duduk berdampingan di tepi danau ketika langit berubah menjadi merah keemasan. Gavi waktu itu bersandar di bahunya dan berkata bahwa dunia terlihat lebih indah jika dilihat dari tempat di mana tidak ada seorang pun yang meminta mereka menjadi pangeran. Jude tidak menjawab. Ia hanya membiarkan kepala Gavi tetap di bahunya sampai matahari benar-benar tenggelam. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, matahari kembali tenggelam di tempat yang sama. Air danau masih memantulkan warna keemasan yang sama. Angin masih membawa aroma rumput dan bunga yang sama. Hanya Gavi yang tidak ada. Layaknya bentuk kekejaman paling sempurna yang mampu diberikan waktu kepada manusia—mempertahankan tempat-tempat yang kita cintai dalam keadaan hampir tidak berubah, sementara orang yang membuat tempat itu berarti bagi kita perlahan-lahan diambil selamanya.

Sekarang semua kenangan itu tinggal bayangan yang terlalu hidup untuk dilupakan. Jude dapat mengingat suara langkah Gavi di lorong bahkan ketika rumah itu telah lama sunyi. Ia dapat mengingat cara lelaki itu mengetuk pintu kamar mereka dua kali sebelum masuk, meskipun pintunya tidak pernah benar-benar terkunci. Ia dapat mengingat suara tawanya ketika para pelayan memarahinya karena memetik bunga dari taman kerajaan. Ia dapat mengingat cara Gavi tidur dengan satu tangan terulur ke sisi tempat tidur Jude, seolah bahkan dalam keadaan tidak sadar pun tubuhnya masih mencari keberadaan lelaki itu. Ia dapat mengingat begitu banyak hal kecil yang dulu tidak pernah dianggap penting sampai sekarang setiap detail terasa seperti relik yang terlalu berharga untuk disentuh. Itulah yang paling mengerikan tentang kehilangan, pikir Jude. Kematian tidak hanya mengambil seseorang. Kematian mengambil masa depan yang seharusnya kalian miliki bersamanya, lalu meninggalkan semua kenangan sebagai bukti bahwa masa depan itu pernah mungkin. Ada begitu banyak pagi yang seharusnya mereka jalani. Begitu banyak musim dingin yang seharusnya mereka lewati bersama. Begitu banyak ulang tahun yang seharusnya datang, begitu banyak perjalanan yang belum sempat dilakukan, begitu banyak pertengkaran kecil yang seharusnya berakhir dengan Gavi mencuri ciuman sebelum Jude sempat menyelesaikan kalimatnya. Semua itu mati bersama Gavi. Tidak ada makam yang cukup luas untuk mengubur sesuatu sebesar itu.

Hanya sebentar. Pikiran itu datang lagi seperti pisau yang diputar perlahan di dadanya. Hanya sebentar, seolah dengan menambahkan dua kata itu ia dapat membuat kenyataan terasa kurang permanen. Hanya sebentar, pikir Jude, lalu ia akan bangun dan menemukan Gavi tertidur di sampingnya. Hanya sebentar, lalu suara itu akan terdengar lagi memanggil namanya dari ujung lorong. Hanya sebentar, lalu tangan hangat itu akan menyentuh lengannya seperti yang selalu dilakukan Gavi ketika ingin mendapatkan perhatian. Tetapi waktu tidak mengenal kata sebentar. Kematian bahkan tidak mengenal kata nanti. Jude akhirnya memahami bahwa ada kehilangan yang tidak datang seperti badai, melainkan seperti air yang naik perlahan-lahan sampai seseorang baru menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki tempat untuk bernapas. Takdir sejak awal telah mempertemukan mereka dengan cara yang terasa mustahil untuk dijelaskan. Jude selalu tahu Gavi adalah rumah yang dikirim dunia untuknya. Tidak pernah ada keraguan tentang itu. Bahkan pada malam pertama mereka bertemu, saat Gavi masih membawa aroma hutan Barat dan keberanian liar yang membuat seluruh istana Timur gempar, Jude sudah merasakan sesuatu dalam jiwanya bergerak menuju lelaki itu tanpa bisa dihentikan. Ia tidak tahu apa namanya saat itu. Ia hanya tahu bahwa ketika Gavi tersenyum kepadanya, sesuatu yang selama bertahun-tahun terasa kosong tiba-tiba menemukan bentuk. Seolah ada pintu di dalam dirinya yang telah lama terkunci dan Gavi, tanpa pernah meminta izin, datang membawa kuncinya.

Takdir ternyata memiliki selera humor yang kejam. Dunia memberi Jude seseorang untuk dicintai sepenuh hidup, lalu merenggutnya terlalu cepat sebelum usia sempat membuat rambut mereka memutih bersama. Sebelum tangan mereka menjadi keriput. Sebelum langkah Gavi melambat dan Jude harus pura-pura tidak khawatir setiap kali lelaki itu menaiki tangga. Sebelum mereka sempat duduk di balkon pada malam-malam tua dan berdebat tentang siapa yang pertama kali jatuh cinta. Sebelum mereka sempat melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa, sebelum taman yang sekarang masih muda menjadi tua, sebelum mawar musim dingin yang mereka tanam bersama menjadi terlalu besar untuk dipangkas. Dunia bahkan tidak memberi mereka kesempatan untuk menjadi tua bersama. Ia hanya memberi Jude waktu yang cukup untuk mencintai Gavi sampai kehilangan itu menjadi sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan dari keberadaannya sendiri.

Petakan tanah terakhir dijatuhkan perlahan di atas makam. Bunyinya terdengar pelan, hampir tidak berarti bagi siapa pun selain Jude, tetapi suara kecil itu menghantam dadanya lebih keras daripada dentuman meriam perang. Tanah itu jatuh di atas kayu peti, kemudian menghilang dari pandangannya. Pendeta menutup kitab doa kunonya dengan kedua tangan dan menundukkan kepala, memberi penghormatan terakhir kepada putra mahkota Barat. Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak. Bahkan angin seolah menahan napas. Kemudian upacara selesai. Begitu saja. Tidak ada petir. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada tanda bahwa dunia menyadari seseorang baru saja dikuburkan. Satu per satu pelayat mulai meninggalkan altar danau dalam langkah sunyi. Jubah mereka bergerak di antara pepohonan, suara sepatu mereka perlahan menghilang di sepanjang jalan batu menuju kediaman. Beberapa orang menoleh kepada Jude untuk terakhir kalinya sebelum pergi, mungkin berharap melihat sesuatu di wajahnya yang dapat memberi mereka kepastian bahwa pemimpin mereka masih mampu berdiri. Jude tidak mengatakan apa-apa. Ia membiarkan mereka pergi. Hingga akhirnya hanya dirinya yang tersisa di tepi makam, bersama danau, bunga-bunga yang mulai layu, dan sore yang perlahan kehilangan cahayanya.

Angin kembali berhembus lembut melewati permukaan air danau. Aroma tanah basah bercampur bunga lili memenuhi udara di sekitar makam. Jude menarik napas perlahan, dan sesuatu tentang aroma itu membuat dadanya sesak. Di sela wangi bunga dan tanah, ia masih dapat mengingat aroma Gavi dengan begitu jelas sampai rasanya hampir menyakitkan. Hangat kulitnya setelah menunggang kuda terlalu lama. Wangi kayu cedar dari mantel musim dinginnya. Aroma samar matahari yang menempel pada rambutnya setelah seharian berada di luar. Bahkan bau tinta yang selalu tertinggal di jari Gavi setiap kali ia mencoba membantu Jude membaca dokumen dan kemudian bosan setelah lima menit. Semua hal yang dulu begitu biasa kini berubah menjadi sesuatu yang hampir suci. Jude akan memberikan apa pun hanya untuk mencium aroma itu sekali lagi. Hanya sekali. Bahkan jika setelah itu ia harus kehilangan Gavi untuk kedua kalinya. Ia akan menerimanya. Karena kehilangan satu kali ternyata tidak pernah benar-benar cukup.

Jude memejamkan mata perlahan. Keheningan di sekitar danau mulai berubah bentuk di dalam pikirannya. Suara doa memudar jauh ke belakang, suara angin menjadi semakin samar, dan cahaya sore di atas air perlahan bercampur dengan bayangan masa lalu yang bergerak hidup di dalam ingatannya. Rumah megah ini pernah dipenuhi langkah kaki Gavi, suara tawanya yang memantul di lorong-lorong marmer, dan kebiasaannya mengacaukan ketenangan istana hanya demi melihat Jude kehilangan kesabaran. Ada masa ketika setiap ruangan memiliki suara Gavi di dalamnya. Perpustakaan menyimpan suaranya ketika ia membaca terlalu keras. Dapur menyimpan suara para pelayan yang mengejarnya karena mencuri makanan sebelum jam makan malam. Balkon menyimpan tawanya ketika hujan pertama turun. Bahkan kamar mereka menyimpan keheningan-keheningan kecil yang hanya dimiliki dua orang yang sudah terlalu lama saling mengenal untuk merasa perlu mengisi setiap detik dengan kata-kata. Rumah itu dulu tidak pernah benar-benar sunyi karena selalu ada Gavi di suatu tempat. Bahkan ketika Jude tidak melihatnya, ia tahu lelaki itu ada. Mungkin itulah definisi paling sederhana dari rumah—bukan hanya tempat yang membuat seseorang merasa aman, melainkan tempat yang membuat seseorang yakin bahwa ketika ia menoleh, seseorang akan tetap ada di sana.

Sebelum kematian datang merenggut semuanya, tempat ini pernah terasa seperti rumah. Jude membuka mata dan memandang kediaman mereka yang mulai tenggelam dalam bayangan senja. Menara-menara batu berdiri megah di kejauhan, jendela-jendelanya menangkap sisa cahaya matahari seperti mata yang perlahan kehilangan nyala. Tirai-tirai di balkon bergerak ditiup angin, dan untuk sesaat Jude hampir membayangkan seseorang berdiri di baliknya. Seseorang dengan rambut berantakan, pakaian yang tidak pernah benar-benar rapi, dan senyum yang selalu berhasil membuat seluruh dunia terasa sedikit lebih ringan. Namun ketika ia berkedip, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya tirai putih yang bergerak. Hanya kamar yang kosong. Hanya rumah yang masih berdiri, sementara orang yang membuatnya menjadi rumah telah berada beberapa meter di bawah tanah.

Jude menatap makam itu sekali lagi.

Ia tidak menangis.

Mungkin karena seluruh air di dalam dirinya telah habis.

Atau mungkin karena ada kesedihan yang terlalu besar untuk keluar melalui mata.

Ia hanya berdiri di sana sampai cahaya terakhir menghilang dari permukaan danau, sampai bunga-bunga putih berubah menjadi bayangan, sampai suara burung berhenti satu per satu dan malam mulai turun perlahan di atas taman.

Akhirnya, Jude mengerti bahwa seseorang bisa memiliki seluruh dunia dan tetap tidak memiliki tempat untuk pulang.

Karena rumahnya telah dikuburkan hari itu.

Dan dunia, dengan segala keindahan yang tidak masuk akal, tetap berjalan seperti biasa.