Actions

Work Header

it takes time

Summary:

Semua orang bilang jika ada Keenan pasti ada Kak Jenan, seperti lem yang akan selalu lengket jika menempel pada kertas, selalu bersama. Mereka sudah saling mengenal dari kecil.

Hubungan (resmi yang terencana) mereka sudah berjalan selama 10 tahun semua rasa kehidupan telah mereka telan dan rasakan hingga hafal. Ombak dan tantangan yang datang juga sudah mereka habiskan mati-matian. Kini tujuan mereka untuk mencapai pernikahan (dan merger perusahaan orang tua mereka)

Akan tetapi di suatu hari, Kakak cantiknya, Kak Jenan ingin memutuskan tunangan.

Chapter 1: the couple everyone knows.

Notes:

Juhoon as Jenan Ardhana Atmadja
Keonho as Keenan Adiningrat Wiratama

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Ada beberapa hal yang tidak pernah perlu dijelaskan kepada orang-orang. Misalnya, keluarga Atmadja hampir selalu datang terlambat lima belas menit ke acara keluarga karena anak tunggal cantiknya yang sibuk bekerja atau keluarga Wiratama hampir selalu memesan dua meja tambahan, entah untuk siapa. Ada juga kebiasaan-kebiasaan kecil lain yang sudah terlalu lama terjadi sampai tidak ada seorang pun yang merasa perlu mempertanyakannya.

Dan tentunya, kalau ada Keenan Adiningrat Wiratama, kemungkinan besar Jenan Ardhana Atmadja tidak akan berada lebih dari tiga meter darinya. 

Kalau seseorang bertanya sejak kapan mereka bersama, jawabannya selalu sama, yaitu sudah sejak kecil. Karena tidak ada yang benar-benar ingat kapan tepatnya hubungan itu berubah dari dua anak yang selalu bermain bersama menjadi sesuatu yang lebih serius. Tidak ada satu hari spesifik yang bisa ditunjuk dan dikatakan, oh, mulai hari itu mereka pacaran.

Padahal mereka hanya... tumbuh bersama, sebab rumah yang terlampau sangat dekat. Keenan mengenal rumah Jenan sebelum ia cukup umur untuk tahu bahwa rumah itu terlalu besar untuk disebut rumah. Jenan tahu kamar Keenan berada di lantai dua, pintunya selalu setengah terbuka, dan kalau Keenan sedang kesal, ia akan mengurung diri di sana sambil menyalakan musik terlalu keras.

Keenan tahu Jenan tidak pernah benar-benar suka keramaian, meskipun sejak kecil ia sudah dipaksa menghadiri berbagai acara keluarga. Jenan tahu Keenan akan selalu mengambil bagian terakhir dari makanan yang sebenarnya bukan miliknya.

"Jeje." panggil Keenan, tetapi Jenan tidak segera memberikan jawaban. Keenan memanggil tanpa benar-benar melihat ke arah orang yang ia panggil. Tangannya masih sibuk memutar gelas di atas meja, sementara matanya mengarah ke layar ponsel yang sejak lima menit lalu tidak benar-benar ia baca. Di sebelahnya, Jenan sedang mengetik sesuatu, tidak ada respons.

Ia terheran biasanya kakak cantiknya itu akan langsung menjawab tanpa Keenan harus mengulang kembali. Keenan melirik.

"Sayang?" ucapnya lagi sambil menghadap Jenan yang ternyata sedang fokus mengetik, akhirnya Keenan mencondongkan tubuhnya dari kursi sebelah dan mengambil satu potong kentang dari piring Jenan.

Baru kali itu Jenan menoleh. "What are you doing?"

"Lapeerrr" jawab Keenan sambil mengunyah kentang yang ia curi dari piring Jenan

"Itu punya aku, kamu juga ada sendiri" Jenan cemberut dan menatap sinis Keenan

Keenan mengangkat bahu. "You weren't eating it."

"I wasn't done."

"Oh."

Keenan mengambil satu kentang lagi. Kali ini Jenan langsung menepuk punggung tangannya. "Don't."

Keenan tertawa. "Fine."

Ia menarik tangannya kembali dan bersandar ke kursi, tetapi senyumnya masih ada. Jenan menggeleng pelan sebelum kembali ke ponselnya.

Di seberang meja, Sean memandang mereka dengan wajah yang sudah terlalu lelah untuk terkejut karena sejak tadi memperhatikan mereka

"Ten years." ucap Sean

Keenan menoleh. "What?"

Sean menunjuk mereka bergantian. "Ten years. You two have been together for ten years."

"Yeah?" Keenan mengerutkan dahi, bingung.

"And somehow you still act like you're fourteen."

Ella yang duduk di sebelah Sean langsung tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa?" jawab Sean

"At least fourteen-year-olds still have shame." Jawab Ella

"Why should I be ashamed?" Keenan berkata sambil mengambil kembali garpunya.

Ia menunjuk Jenan dengan ujung garpu. "He's my fiancé."

Kalimat itu membuat meja mereka hening selama sepersekian detik bukan karena aneh, justru karena sudah terlalu biasa.

Fiancé.

Kata itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun menjadi sesuatu yang perlu dirayakan setiap kali disebut dan yang membuat jantung Keenan berdebar seperti ketika pertama kali cincin itu diberikan, Karena Itu hanya fakta, seperti nama keluarga mereka, perusahaan yang suatu hari akan mereka warisi dan kenyataan bahwa setelah semua ini selesai, mereka akan menikah.

Jenan berhenti sebentar, bukan karena terkejut. hanya karena, entah kenapa, kata itu terasa sedikit berbeda malam itu.

Sean menyandarkan punggungnya ke kursi. "See? That's exactly what I'm talking about."

"What?"

"You say it like it's the most obvious thing in the world."

Keenan mengerutkan dahi. "It is."

Jenan akhirnya menatapnya dan mata mereka bertemu hanya beberapa detik lalu Keenan membalas dengan tersenyum kecil, Jenan akhirnya membuang pandangan lebih dulu.

"Speaking of fiancé," Ella menyandarkan dagunya di tangan. "When's the wedding?"

Keenan langsung menjawab."Not my department."

Jeje akhirnya menoleh. "Of course."

"Your department." ucap Keenan

"Why is it suddenly my department?" Jenan bingung.

"You're the organized one." jawab Keenan sambil menatap dengan senyuman lebarnya ke Jenan.

Jenan menurunkan ponselnya dan menatap Keenan. "Of course you're not."

"What?"

"You've never planned anything."

"I plan things."

"Name one."

Keenan membuka mulut tetapi kemudian menutupnya lagi yang dibalas dengan Sean yang langsung tertawa dan Ella ikut terkekeh.

"I hate you." sinis Jenan

"No, you don't." dan kini Keenan mencuri ciuman pipi Jenan.

Jenan memutar mata kesal.

Sean tertawa. "See Jenan? This is exactly why nobody takes your breakup threats seriously."

Keenan menunjuk Sean dengan garpu. "We're not breaking up."

"I didn't say you were." Sean menimpali masih dengan tertawa.

"Good." Keenan menjawab

Masih belum puas, Sean tetap meledek "Yet."

Jenan menendang kaki Sean di bawah meja. "Shut up."

Malam itu mereka sedang berada di salah satu ballroom hotel milik keluarga Wiratama. Acara sebenarnya bukan acara perusahaan. Hanya makan malam keluarga besar, meskipun "keluarga besar" dalam lingkungan mereka bisa berarti hampir seratus orang dan membutuhkan ballroom sendiri.

Di ujung ruangan, beberapa orang tua mereka sedang berbicara mengenai proyek baru. Atmadja Group sedang mengembangkan salah satu kawasan komersial mereka. Wiratama Hospitality akan mengisi bagian hotel dan hospitality. Keduanya sudah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, jadi tidak ada yang menganggap aneh ketika nama kedua keluarga muncul dalam satu proposal. Bagi orang-orang di ruangan itu, hubungan mereka bahkan terasa seperti kelanjutan alami dari bisnis keluarga.

Atmadja dan Wiratama. Mall dan hotel. Retail dan hospitality.
Jenan dan Keenan. Everything fits. Terlalu cocok.


Setelah makan malam selesai, Keenan tidak langsung pulang. Ia masih berdiri di depan lobby hotel sambil menunggu Jenan menyelesaikan percakapan terakhirnya dengan beberapa anggota keluarga. Sesekali ia melihat jam tangan, bukan karena terburu-buru, tetapi karena Jenan memang punya kebiasaan menghilang lima menit lebih lama dari yang ia katakan. Ketika akhirnya pintu kaca terbuka dan Jenan muncul dengan blazer yang sudah sedikit berantakan setelah seharian menghadiri acara, Keenan otomatis berdiri tegak dari tempatnya bersandar. Ia bahkan tidak perlu berpikir sebelum berjalan ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk Jenan.

"Finally."

Jenan berhenti di depan pintu mobil dan menatapnya dengan ekspresi datar yang sudah sangat Keenan kenal. "You could've left."

"And let you go home alone?"

"I have a driver."

Keenan hanya mengangkat bahu, seolah jawaban itu tidak perlu diperdebatkan. "Not the point."

Ada senyum kecil yang hampir muncul di sudut bibir Jenan sebelum akhirnya ia menggeleng dan masuk ke dalam mobil. "You're annoying."

"I know."

Hal-hal seperti itu sudah terlalu biasa bagi mereka. Keenan membukakan pintu untuk Jenan bukan karena ingin terlihat gentleman, sama seperti Jenan tidak pernah lagi mengucapkan terima kasih setiap kali Keenan mengingatkan sabuk pengamannya. Mereka sudah melewati fase di mana perhatian harus dibuat terlihat istimewa. Sebagian besar perhatian itu sekarang hidup dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan tidak mereka sadari. Keenan tahu Jenan selalu kedinginan di dalam mobil setelah makan malam. Jenan tahu Keenan tidak akan pernah mengisi bensin sebelum indikatornya hampir menyentuh garis merah. Hal-hal kecil, remeh, bahkan mungkin tidak berarti bagi orang lain, tetapi selama sepuluh tahun mereka telah mengumpulkan begitu banyak hal semacam itu sampai kehidupan mereka terasa seperti dua rutinitas yang saling bertumpuk.

Begitu duduk di belakang kemudi, Keenan menyalakan mesin dan menurunkan suhu AC tanpa perlu ditanya. Ia melirik ke sebelah setelah beberapa detik, memastikan Jenan sudah memasang sabuk pengaman.

Mobil perlahan meninggalkan area hotel dan masuk ke jalan utama. Jakarta masih ramai meskipun malam telah cukup larut. Cahaya lampu kendaraan memantul di kaca depan, gedung-gedung tinggi berdiri dengan jendela yang masih menyala, dan papan reklame berganti gambar setiap beberapa detik. Keenan sebenarnya sudah hafal jalan pulang ke rumah Jenan bahkan tanpa bantuan navigasi. Ada beberapa rute berbeda yang bisa ia pilih, tetapi selama sepuluh tahun terakhir ia selalu mengambil jalan yang sama setiap kali mengantar Jenan pulang setelah acara keluarga. Jenan biasanya akan tertidur sebelum mereka sampai setengah perjalanan, dan Keenan sudah hafal kapan harus mengecilkan suara musik agar tidak membangunkannya.

Malam itu, Jenan tidak tidur.

Ia hanya bersandar di kursinya sambil memandang keluar jendela.

Keenan sempat meliriknya sekali, kemudian kembali memperhatikan jalan. Ada sesuatu dari cara Jenan diam malam itu yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Bukan karena mereka tidak biasa diam. Justru sebaliknya. Keheningan di antara mereka biasanya begitu mudah sampai Keenan bisa menghabiskan satu perjalanan tanpa mengucapkan lebih dari lima kalimat. Namun malam itu terasa seperti ada sesuatu yang sengaja diletakkan di antara mereka, sesuatu yang tidak terlihat tetapi cukup berat untuk membuat udara di dalam mobil terasa berbeda.

"You okay?"

Jenan tidak langsung menjawab. Ia masih memandang keluar jendela ketika akhirnya berkata, "Yeah. Just tired."

Keenan mengangguk, walaupun matanya sempat kembali melirik wajah Jenan. Ia tahu jawaban itu terlalu singkat. Ia juga tahu Jenan sedang menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, selama bertahun-tahun, Keenan belajar bahwa ada saat-saat ketika Jenan membutuhkan ruang untuk memproses sesuatu sendiri. Jadi ia tidak bertanya lagi. Setidaknya untuk sementara.

Beberapa menit kemudian, setelah lampu merah membuat mobil mereka berhenti, Keenan tiba-tiba membuka percakapan lain.

"So..."

Jenan menoleh. "So?"

"Our wedding."

Ada jeda yang sangat kecil. Hampir tidak terlihat jika seseorang tidak mengenal Jenan selama bertahun-tahun. Keenan tentu tidak menyadarinya. Ia hanya melihat Jenan kembali menatap jalan di depan mereka.

"What about it?"

"Which month?"

Pertanyaan itu terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang sebenarnya sebesar itu. Keenan bahkan mengatakannya sambil memainkan jemarinya di setir, seolah mereka sedang membicarakan kapan harus makan malam minggu depan. Bagi Keenan, memang sesederhana itu. Pernikahan mereka sudah menjadi sesuatu yang begitu pasti sehingga ia tidak pernah lagi memikirkan kemungkinan bahwa masa depan itu mungkin tidak terjadi.

"I don't know yet," jawab Jenan akhirnya.

"We can decide."

"You make everything sound so easy."

"It is."

Jenan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Getting married isn't exactly choosing a restaurant."

Keenan terkekeh dan kembali menatap lampu lalu lintas yang akhirnya berubah hijau. "Okay, fair. But we've been together for ten years."

Jenan menoleh kepadanya.

"That's your argument?"

"Yeah."

Keenan tidak melihat ekspresi Jenan ketika mengatakannya. Ia sedang berkonsentrasi membawa mobil melewati persimpangan. Kalau saja ia menoleh sedikit lebih lama, mungkin ia akan melihat bagaimana Jenan menatap wajahnya seolah sedang mencoba menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah berhasil ia temukan. ia menganggap sepuluh tahun sebagai bukti bahwa mereka berhasil. Jenan justru mulai bertanya-tanya apakah sepuluh tahun itu benar-benar bukti bahwa mereka saling mencintai, atau hanya bukti bahwa mereka sudah terlalu lama terbiasa satu sama lain.

"You really think that's enough?" tanya Jenan pelan.

Keenan akhirnya melirik."Enough for what?"

"For us."

Keenan terdiam beberapa saat. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tetapi karena ia tidak mengerti kenapa Jenan sampai harus bertanya. Dalam kepalanya, jawabannya terlalu jelas. Mereka sudah melewati terlalu banyak hal. Mereka sudah tumbuh dari dua anak keluarga yang kebetulan selalu bersama menjadi dua orang dewasa yang kehidupannya hampir tidak bisa dipisahkan. Apa lagi yang harus dibuktikan?

"What's left to figure out?"

Jenan tidak menjawab.

Keenan menghela napas kecil sebelum mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Jenan yang terletak di atas pahanya. Sentuhan itu begitu familiar sampai Jenan bahkan tidak terkejut. Ia hanya menatap tangan mereka sebentar sebelum mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela.

"Hey," kata Keenan lebih pelan.

"What?"

"You've been weird since dinner."

"I'm not weird."

"You are."

"Maybe you're just annoying."

"That's not new."

Jenan tersenyum dan tangannya tetap diam di bawah tangan Keenan.

"Maybe I'm just tired."

Keenan mengangguk perlahan. "Okay."

Ia tidak memaksa dan malam itu, mobil kembali dipenuhi keheningan dan Kali ini Jenan tidak menarik tangannya. Namun, Jari Keenan bergerak sedikit, ibu jarinya mengusap punggung tangan Jenan sekali sebelum kembali menggenggam setir. Mereka melewati deretan gedung tinggi yang lampunya masih menyala.

"Do you ever think about it?" tanya Jenan tiba-tiba.

"About what?"

"After."

Keenan menoleh sekilas. "After what?"

"After we get married."

Keenan tertawa kecil. "Of course."

"What do you think?"

"Hm."

Ia berpikir. "Travel."

"Where?"

"Everywhere."

Jenan tersenyum. "You hate planning."

"I hate planning other people's stuff."

"And ours?"

"Different." jawab Keenan

Keenan membagi fokusnya menjelaskan "I want a house." lanjut Keenan

"House?"

"Yeah."

"Since when?"

"Since always." jawab Keenan

"You've never mentioned it."

"Because you never asked."

"Okay. What kind of house?" tanya Jenan

Keenan mulai memainkan setir dengan jarinya. Ada sedikit perasaan yang tidak bisa ia pahami. "Big kitchen." jawabnya

"You don't cook."

"Doesn't matter."

"Then why do you need a big kitchen?"

"For you."

Jenan terdiam dan Keenan meliriknya sambil tersenyum sebentar dan melanjutkan "And a dog."

"A dog?"

"Maybe two."

"Absolutely not." dengan gelengan kuat dari Jenan

"Why?"

"Because you'll make me take care of them."

"I'll take care of them." ucap Keenan

"You said that about your plants." jawab Jenan

Keenan terdiam. "Those plants were weak."Jenan tertawa.

Mendengar tawa kecilnya memenuhi kabin mobil membuat Keenan ikut tersenyum. 

Jenan menoleh, lalu Ia menatap Keenan dari samping.

"Do you think we're happy?"

Keenan menjawab hampir tanpa berpikir. "Yeah."

"How do you know?"

Keenan akhirnya menoleh sebentar. "Because we're us."

Jawaban itu begitu sederhana. Karena Jenan tau bagaimana sifat Keenan yang selalu menganggap remeh segala hal, Dan justru karena itu, dada Jenan terasa sedikit sesak yang sekuat tenaga ia tahan dan kembali memandang keluar jendela.

"Right." Jawab Jenan

Mobil akhirnya memasuki kompleks rumah keluarga Jenan lalu Keenan memperlambat laju mobil sebelum berhenti tepat di depan gerbang, Ia mematikan radio, dan Jenan membuka sabuk pengaman, tetapi tidak langsung turun. "Thanks for driving me home." ucap Jenan

Keenan mengerutkan dahi. "Obviously."

Jenan menjawab tanpa menatap Keenan yang intens memandangnya "You don't have to."

"I know."

"Then why?"

Keenan masih menatapnya. "Because I want to."

Jenan tersenyum kecil masih tetap tidak ingin menatap Keenan, kini mobil mendadak jauh lebih sunyi, akhirnya Jenan membuka pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti.

"Jeje."

"Hm?"

Jenan menatapnya beberapa detik.

Ada sesuatu yang ingin ia katakan yaitu sesuatu yang sudah ia simpan sejak lama yang tapi pada akhirnya, ia hanya berkata, "Good night."

Keenan tersenyum. "Good night."

Jenan turun dan pintu tertutup.

Keenan masih duduk di sana. Ia memperhatikan Jenan berjalan menuju pintu rumah, lalu mengangkat tangan kecil ketika Jenan menoleh. Keenan membalas lambaian itu. Baru setelah Jenan masuk, ia menyalakan mobil kembali.

Keenan merasa tidak ada yang aneh karena tidak ada yang berubah dan ia pulang dengan pikiran dan perasaan yang tidak pernah bisa ia pahami, karena ucapan tentang rumah yang belum ada dibayangannya, dua ekor anjing yang mungkin tidak akan pernah disetujui Jenan, dan pernikahan yang menurutnya tinggal menunggu waktu.

Sementara di balik pintu rumahnya, Jenan berdiri diam beberapa saat dan punggungnya bersandar pada pintu. Matanya terpejam, karena sekarang ia tahu satu hal yang tidak diketahui Keenan karena malam ini mungkin adalah terakhir kalinya Keenan mengantarnya pulang sebagai tunangannya

Notes:

halo semuanya!
tentang perjalanan keenan-jenan ini, sekali lagi disclaimer this work highly inspired by : the wrong side of track by cikicuba

disini aku sudah hubungi author dan masih belum ada jawaban karena work tersebut sifatnya commis (anonim), jadi kalau kakak baca tolong komen aja ya kak.. kalau ga berkenan aku akan takedown cerita ini!

thank you guys!