Chapter Text
Ada beberapa hal yang tidak pernah perlu dijelaskan kepada orang-orang. Misalnya, keluarga Atmadja hampir selalu datang terlambat lima belas menit ke acara keluarga karena anak tunggal cantiknya yang sibuk bekerja atau keluarga Wiratama hampir selalu memesan dua meja tambahan, entah untuk siapa. Ada juga kebiasaan-kebiasaan kecil lain yang sudah terlalu lama terjadi sampai tidak ada seorang pun yang merasa perlu mempertanyakannya.
Dan tentunya, kalau ada Keenan Adiningrat Wiratama, kemungkinan besar Jenan Ardhana Atmadja tidak akan berada lebih dari tiga meter darinya.
Kalau seseorang bertanya sejak kapan mereka bersama, jawabannya selalu sama, yaitu sudah sejak kecil. Karena tidak ada yang benar-benar ingat kapan tepatnya hubungan itu berubah dari dua anak yang selalu bermain bersama menjadi sesuatu yang lebih serius. Tidak ada satu hari spesifik yang bisa ditunjuk dan dikatakan, oh, mulai hari itu mereka pacaran.
Padahal mereka hanya... tumbuh bersama, sebab rumah yang terlampau sangat dekat. Keenan mengenal rumah Jenan sebelum ia cukup umur untuk tahu bahwa rumah itu terlalu besar untuk disebut rumah. Jenan tahu kamar Keenan berada di lantai dua, pintunya selalu setengah terbuka, dan kalau Keenan sedang kesal, ia akan mengurung diri di sana sambil menyalakan musik terlalu keras.
Keenan tahu Jenan tidak pernah benar-benar suka keramaian, meskipun sejak kecil ia sudah dipaksa menghadiri berbagai acara keluarga. Jenan tahu Keenan akan selalu mengambil bagian terakhir dari makanan yang sebenarnya bukan miliknya.
"Jeje." panggil Keenan, tetapi Jenan tidak segera memberikan jawaban. Keenan memanggil tanpa benar-benar melihat ke arah orang yang ia panggil. Tangannya masih sibuk memutar gelas di atas meja, sementara matanya mengarah ke layar ponsel yang sejak lima menit lalu tidak benar-benar ia baca. Di sebelahnya, Jenan sedang mengetik sesuatu, tidak ada respons.
Ia terheran biasanya kakak cantiknya itu akan langsung menjawab tanpa Keenan harus mengulang kembali. Keenan melirik.
"Sayang?" ucapnya lagi sambil menghadap Jenan yang ternyata sedang fokus mengetik, akhirnya Keenan mencondongkan tubuhnya dari kursi sebelah dan mengambil satu potong kentang dari piring Jenan.
Baru kali itu Jenan menoleh. "What are you doing?"
"Lapeerrr" jawab Keenan sambil mengunyah kentang yang ia curi dari piring Jenan
"Itu punya aku, kamu juga ada sendiri" Jenan cemberut dan menatap sinis Keenan
Keenan mengangkat bahu. "You weren't eating it."
"I wasn't done."
"Oh."
Keenan mengambil satu kentang lagi. Kali ini Jenan langsung menepuk punggung tangannya. "Don't."
Keenan tertawa. "Fine."
Ia menarik tangannya kembali dan bersandar ke kursi, tetapi senyumnya masih ada. Jenan menggeleng pelan sebelum kembali ke ponselnya.
Di seberang meja, Sean memandang mereka dengan wajah yang sudah terlalu lelah untuk terkejut karena sejak tadi memperhatikan mereka
"Ten years." ucap Sean
Keenan menoleh. "What?"
Sean menunjuk mereka bergantian. "Ten years. You two have been together for ten years."
"Yeah?" Keenan mengerutkan dahi, bingung.
"And somehow you still act like you're fourteen."
Ella yang duduk di sebelah Sean langsung tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa?" jawab Sean
"At least fourteen-year-olds still have shame." Jawab Ella
"Why should I be ashamed?" Keenan berkata sambil mengambil kembali garpunya.
Ia menunjuk Jenan dengan ujung garpu. "He's my fiancé."
Kalimat itu membuat meja mereka hening selama sepersekian detik bukan karena aneh, justru karena sudah terlalu biasa.
Fiancé.
Kata itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun menjadi sesuatu yang perlu dirayakan setiap kali disebut dan yang membuat jantung Keenan berdebar seperti ketika pertama kali cincin itu diberikan, Karena Itu hanya fakta, seperti nama keluarga mereka, perusahaan yang suatu hari akan mereka warisi dan kenyataan bahwa setelah semua ini selesai, mereka akan menikah.
Jenan berhenti sebentar, bukan karena terkejut. hanya karena, entah kenapa, kata itu terasa sedikit berbeda malam itu.
Sean menyandarkan punggungnya ke kursi. "See? That's exactly what I'm talking about."
"What?"
"You say it like it's the most obvious thing in the world."
Keenan mengerutkan dahi. "It is."
Jenan akhirnya menatapnya dan mata mereka bertemu hanya beberapa detik lalu Keenan membalas dengan tersenyum kecil, Jenan akhirnya membuang pandangan lebih dulu.
"Speaking of fiancé," Ella menyandarkan dagunya di tangan. "When's the wedding?"
Keenan langsung menjawab."Not my department."
Jeje akhirnya menoleh. "Of course."
"Your department." ucap Keenan
"Why is it suddenly my department?" Jenan bingung.
"You're the organized one." jawab Keenan sambil menatap dengan senyuman lebarnya ke Jenan.
Jenan menurunkan ponselnya dan menatap Keenan. "Of course you're not."
"What?"
"You've never planned anything."
"I plan things."
"Name one."
Keenan membuka mulut tetapi kemudian menutupnya lagi yang dibalas dengan Sean yang langsung tertawa dan Ella ikut terkekeh.
"I hate you." sinis Jenan
"No, you don't." dan kini Keenan mencuri ciuman pipi Jenan.
Jenan memutar mata kesal.
Sean tertawa. "See Jenan? This is exactly why nobody takes your breakup threats seriously."
Keenan menunjuk Sean dengan garpu. "We're not breaking up."
"I didn't say you were." Sean menimpali masih dengan tertawa.
"Good." Keenan menjawab
Masih belum puas, Sean tetap meledek "Yet."
Jenan menendang kaki Sean di bawah meja. "Shut up."
Malam itu mereka sedang berada di salah satu ballroom hotel milik keluarga Wiratama. Acara sebenarnya bukan acara perusahaan. Hanya makan malam keluarga besar, meskipun "keluarga besar" dalam lingkungan mereka bisa berarti hampir seratus orang dan membutuhkan ballroom sendiri.
Di ujung ruangan, beberapa orang tua mereka sedang berbicara mengenai proyek baru. Atmadja Group sedang mengembangkan salah satu kawasan komersial mereka. Wiratama Hospitality akan mengisi bagian hotel dan hospitality. Keduanya sudah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, jadi tidak ada yang menganggap aneh ketika nama kedua keluarga muncul dalam satu proposal. Bagi orang-orang di ruangan itu, hubungan mereka bahkan terasa seperti kelanjutan alami dari bisnis keluarga.
Atmadja dan Wiratama. Mall dan hotel. Retail dan hospitality.
Jenan dan Keenan. Everything fits. Terlalu cocok.
"What?"
"You've been weird since dinner."
"I'm not weird."
"You are."
"Maybe you're just annoying."
"That's not new."
Jenan tersenyum dan tangannya tetap diam di bawah tangan Keenan.
"Maybe I'm just tired."
Keenan mengangguk perlahan. "Okay."
Ia tidak memaksa dan malam itu, mobil kembali dipenuhi keheningan dan Kali ini Jenan tidak menarik tangannya. Namun, Jari Keenan bergerak sedikit, ibu jarinya mengusap punggung tangan Jenan sekali sebelum kembali menggenggam setir. Mereka melewati deretan gedung tinggi yang lampunya masih menyala.
"Do you ever think about it?" tanya Jenan tiba-tiba.
"About what?"
"After."
Keenan menoleh sekilas. "After what?"
"After we get married."
Keenan tertawa kecil. "Of course."
"What do you think?"
"Hm."
Ia berpikir. "Travel."
"Where?"
"Everywhere."
Jenan tersenyum. "You hate planning."
"I hate planning other people's stuff."
"And ours?"
"Different." jawab Keenan
Keenan membagi fokusnya menjelaskan "I want a house." lanjut Keenan
"House?"
"Yeah."
"Since when?"
"Since always." jawab Keenan
"You've never mentioned it."
"Because you never asked."
"Okay. What kind of house?" tanya Jenan
Keenan mulai memainkan setir dengan jarinya. Ada sedikit perasaan yang tidak bisa ia pahami. "Big kitchen." jawabnya
"You don't cook."
"Doesn't matter."
"Then why do you need a big kitchen?"
"For you."
Jenan terdiam dan Keenan meliriknya sambil tersenyum sebentar dan melanjutkan "And a dog."
"A dog?"
"Maybe two."
"Absolutely not." dengan gelengan kuat dari Jenan
"Why?"
"Because you'll make me take care of them."
"I'll take care of them." ucap Keenan
"You said that about your plants." jawab Jenan
Keenan terdiam. "Those plants were weak."Jenan tertawa.
Mendengar tawa kecilnya memenuhi kabin mobil membuat Keenan ikut tersenyum.
Jenan menoleh, lalu Ia menatap Keenan dari samping.
"Do you think we're happy?"
Keenan menjawab hampir tanpa berpikir. "Yeah."
"How do you know?"
Keenan akhirnya menoleh sebentar. "Because we're us."
Jawaban itu begitu sederhana. Karena Jenan tau bagaimana sifat Keenan yang selalu menganggap remeh segala hal, Dan justru karena itu, dada Jenan terasa sedikit sesak yang sekuat tenaga ia tahan dan kembali memandang keluar jendela.
"Right." Jawab Jenan
Mobil akhirnya memasuki kompleks rumah keluarga Jenan lalu Keenan memperlambat laju mobil sebelum berhenti tepat di depan gerbang, Ia mematikan radio, dan Jenan membuka sabuk pengaman, tetapi tidak langsung turun. "Thanks for driving me home." ucap Jenan
Keenan mengerutkan dahi. "Obviously."
Jenan menjawab tanpa menatap Keenan yang intens memandangnya "You don't have to."
"I know."
"Then why?"
Keenan masih menatapnya. "Because I want to."
Jenan tersenyum kecil masih tetap tidak ingin menatap Keenan, kini mobil mendadak jauh lebih sunyi, akhirnya Jenan membuka pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti.
"Jeje."
"Hm?"
Jenan menatapnya beberapa detik.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan yaitu sesuatu yang sudah ia simpan sejak lama yang tapi pada akhirnya, ia hanya berkata, "Good night."
Keenan tersenyum. "Good night."
Jenan turun dan pintu tertutup.
Keenan masih duduk di sana. Ia memperhatikan Jenan berjalan menuju pintu rumah, lalu mengangkat tangan kecil ketika Jenan menoleh. Keenan membalas lambaian itu. Baru setelah Jenan masuk, ia menyalakan mobil kembali.
Keenan merasa tidak ada yang aneh karena tidak ada yang berubah dan ia pulang dengan pikiran dan perasaan yang tidak pernah bisa ia pahami, karena ucapan tentang rumah yang belum ada dibayangannya, dua ekor anjing yang mungkin tidak akan pernah disetujui Jenan, dan pernikahan yang menurutnya tinggal menunggu waktu.
Sementara di balik pintu rumahnya, Jenan berdiri diam beberapa saat dan punggungnya bersandar pada pintu. Matanya terpejam, karena sekarang ia tahu satu hal yang tidak diketahui Keenan karena malam ini mungkin adalah terakhir kalinya Keenan mengantarnya pulang sebagai tunangannya
