Work Text:
Phainon menatap was-was pada jam dinding, sudah sejak pukul empat sore tadi ia pulang dan menemukan rumah mereka dalam keadaan kosong, dimana biasaya ia terbiasa pulang dengan sambutan sekelebatan surai senja milik kekasihnya. Dari keseharian dirinya dan Mydei, Phainon tahu bahwa Mydei biasanya akan selalu pulang lebih cepat darinya. Jika ada urusan pun, lelaki itu pasti akan berkabar misalnya pulang telat dari resto.
Sekarang?
Pemilik surai salju itu melirik kembali ponsel yang sudah berulang kali ia buka kunci layarnya semenjak pulang sampai sekarang. Tidak ada kabar atau apapun dari Mydei.
Atau, apa lelaki itu sedang sibuk di gym? Namun, rasanya tidak mungkin, sebab Mydei seolah lenyap begitu saja.
Bukan, bukannya Phainon gila dikabari, namun ia hanya khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kekasihnya itu dan Phainon tidak bisa membantunya? Phainon percaya pada Mydei, seutuhnya, tapi hari ini hanya tidak seperti biasanya saja. Jika saja Mydei memberitahu keberadaannya sekarang, maka Phainon tidak akan gelisah seperti ini.
Menyerah untuk menunggu, Phainon memutuskan duduk di sofa sambil membuka ponsel yang tadi tidak kunjung lepas dari lirikan matanya.
Hari sudah gelap saat Mydei mengendarai mobilnya menyusuri jembatan tepi sungai yang tadi ia singgahi dan dikemudikan kembali ke apartemen yang ia beli dan sekarang ditinggali bersama kekasihnya. Mydei tidak sadar sama sekali sudah berapa lama ia terdiam disitu hingga senja lalu begitu saja dan tiba-tiba tirai hitam sudah di depan mata.
Ponsel di saku kembali ia cek, sesuai ekspektasinya, layar kini nihil pemberitahuan. Pesan dari Phainon yang ia sematkan pun statusnya berakhir tidak terbaca. Barangkali sudah tertidur, semoga saja sudah tertidur.
Sedikit banyak ia merasa bersalah pada kekasihnya itu namun inilah cara satu-satunya untuk membuatnya tenang sehingga ia tidak melampiaskan marahnya pada Phainon; karena ia tahu, Phainon pasti lelah bekerja seharian dan ia tidak perlu menemukan Mydei dalam keadaan emosi.
Sepanjang jalan, ia menatap tiang lampu di trotoar yang berpendar seperti kunang, mengira-ngira apakah Phainon melahap makanan yang ia siapkan sebelumnya, ataukah ia jatuh tertidur begitu saja sehabis mandi dan bahkan tidak sempat lagi mengeringkan rambutnya.
Pintu apartemen membuka dengan suara pelan, Mydei sengaja tidak mengucapkan salam atau menyalakan lampu, membiarkan apartemen sunyi dengan dengung pendingin ruangan. Ia mengecek meja makan; kosong. Matanya melirik ke arah wastafel, ada alat makan yang telah dicuci. Baguslah, artinya Phainon sudah makan.
Saat ia melangkah ke kamar, ia menemukan ranjang kosong. Mydei mengerjap, tanpa pikir panjang segera berlari mengecek kamar mandi. Takutnya Phainon terlalu lelah dan ia malah tertidur saat mandi, namun untungnya juga kosong.
Tunggu, jadi Phainon dimana?
Mydei mengedarkan pandangannya ke ruangan yang potensial, membiasakan matanya dengan keremangan cahaya bulan. Apabila Phainon tidak ia temukan dalam limabelas menit ke depan, Mydei akan menelponnya.
Lelaki tegap bersurai oranye terang itu lantas waspada saat mendengar bunyi 'thump' pelan dari tengah, dengan langkah sigap ia segera mengecek sofa...
... dan menemukan gumpalan kain berukuran besar dengan rambut salju yang familiar menyembul di atasnya di lantai dekat sofa. Sepertinya terguling karena gumpalan tersebut mengeliat. Mydei terkekeh pelan, ia merunduk dan dengan sigap membawa buntalan selimut dan isinya itu ke tangannya.
"Hngh!?" terkantuk-kantuk, pemilik kepala bersurai putih itu menggerakkan kepalanya keluar dari gulungan selimut yang masih dibawa Mydei, berusaha membebaskan diri dengan menggeliat brutal. "Siapa?!"
"Sshh, ini aku."
Mendengar suara itu, kewaspadaan Phainon meluntur, ia meletakkan kepalanya di bahu tegap Mydei dan membiarkan dirinya dibawa kembali ke kamar, menembus kegelapan dan ditaruh perlahan di atas ranjang. Phainon berusaha membebaskan diri dari gulungan selimutnya dengan susah payah saat Mydei berjalan untuk menutup pintu sebelum bergabung bersamanya.
"De?"
"Iya," Mydei meraih jemari Phainon yang meraba-raba, mengenggamnya dan duduk di sampingnya, "aku udah pulang. Tidur lagi, Phai, kamu kebangun karena aku kan?"
Phainon menggosok matanya dengan tangan yang satunya, ia menggeleng. "Aku nungguin kamu, tapi ketiduran."
"Udah kubilang langsung tidur aja, jangan ditungguin."
"Nggak bisa tidur."
"Loh tadi bisa?"
Phainon menguap, "Kayaknya badanku kecapean."
Mydei mengusap tangan Phainon dalam genggamannya perlahan, sebelum ia bawa tangan kekasihnya itu untuk dicium. Sungguh, ia begitu menyayangi lelaki bersurai seputih salju ini. Menatap matanya yang biru itu sungguh menenangkan kecamuk pikirnya yang kusut dan panas.
Karenanya ia tidak tega jika Phainon harus menampung angkara miliknya yang sebelumnya membara.
"De, kacamataku tadi kayaknya ketinggalan di sofa."
"Nggak usah, kan mau tidur lagi."
Phainon tertawa kecil, balas menggenggam telapak tangan Mydei yang agak lebih besar dan lebih kasar, kini ia tarik ke arahnya dan ia gigit bicep lelaki bersurai senja itu. Hanya dibalas tawa juga dari yang digigit. "Mau cerita?"
"Nanti, aku mandi dulu."
"Ya sudah, aku tungguin."
"Awas ketiduran."
"Enggak!"
.
.
.
"Jadi gimana? Udah enakan?" tanya Phainon, ia bergulung ke samping dan menaruh kepalanya di dada Mydei saat lelaki itu tengah mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.
"Lumayan," gumam Mydei, tangannya yang tidak memegang handuk kini mengelus pelan belakang tengkuk Phainon yang kini menjadikan setengah badannya bagai guling pribadi, "kesabaranku benar-benar diuji hari ini."
"Contohnya?"
"Ada intern baru yang membawa order yang salah, belum lagi ada tamu yang complain atas kemunculan alergi karena keteledoran beberapa staff. Junior juga sempat salah menyiapkan bahan baku sehingga kami harus memundurkan jam karena ternyata banyak yang belum siap. Sayang, kitchen chaos sekali hari ini. Ditambah lagi ada asisten yang tiba-tiba hilang kabar, dan ternyata saat ditelusuri, ia kecelakaan."
"HAH?"
Mydei tersenyum tipis saat melihat reaksi Phainon, yang mengangkat kepala dengan ekspresi kaget. Ia mencubit lembut ujung hidung Phainon. "Begitulah, kebetulan yang biasa menggantikan sedang cuti di luar kota jadi semuanya harus bekerja ekstra."
"Aduh, capeknya," Phainon meringis, ia bangkit sedikit dengan sikunya bertumpu pada batal, memberi kecupan lembut di bibir Mydei yang menerima dengan senang hati, kemudian kembali ke posisi semula. "Jadi itu yang bikin kamu menyendiri lumayan lama tadi?"
"Iya."
"Padahal kalau kamu langsung pulang aja nggak papa, aku mau kok dengerin kamu marah-marah," Phainon memainkan jari Mydei sembari mendengar detak jantungnya yang konstan menenangkan, "kamu nggak harus menyendiri gitu terus, ayo kita bergosip. Toh aku sering ngamuk-ngamuk ke kamu juga kok."
"Kamu capek, sayang. Kamu butuh istirahat, aku nggak mau hadapin kamu dengan emosi."
"Dei, kita udah lama ngelaluin ini bareng. Kamu tahu bentuk emosiku gimana dan aku juga tahu gimana ngehadapin kamu. Kan kita sudah pernah mengalami yang lebih parah?" Phainon sekali lagi mengangkat kepalanya, mata birunya jernih menatap Mydei lurus, seolah mampu melihat jiwanya juga, "aku pengen jadi orang yang bisa ngasih kamu ketenangan juga, Dei, bukan jadi orang yang bisa kamu temui saat kamu tenang."
"Tapi kamu udah capek, Phaiㅡ"
"Ssshh, kita sama-sama capek, nggak ada salahnya dong kalau kita marah-marah bareng, ngamuk bareng, ngatain orang bareng." Phainon mencubit pipi Mydei, gemas. "Selama aku tahu marahmu nggak tertuju ke aku, Im fine, Mydeimos. Aku juga tahu kamu orangnya gimana, luar dan dalam. Kamu kan pernah bilang ke aku, katamu aku harus berhenti nyimpen semuanya sendirian. Nah, kamu juga harus gitu dong? Kan ada aku sekarang, jadi bagi gosipnya ke aku juga dong."
Benar juga, mereka telah lama melewati yang lebih berat, mereka telah lama melewati jembatan gantung yang hampir memisahkan keduanya dalam arus. Phainon telah lama berhenti menganggap diamnya Mydei sebagai ketidakacuhan dan Mydei telah berhenti menemukan ledakan Phainon sebagai suatu desakan yang menuntut.
Mydei lantas tertawa, meraih tubuh Phainon dan bergulung sampai posisi keduanya terputar, hingga Phainon kini berada di bawahnya dan memilih menjatuhkan dirinya di atas Phainon, memerangkap lelaki bersurai salju itu tanpa peringatan.
"AGH! MYDEIMOS! BERAT! BADANMU TUH UDAH MACAM POHON PINUS! KAMU MAU AKU GEPENG!?"
"Phainon, bisa-bisanya kamu bikin aku makin sayang di saat kukira semua perasaanku udah kukasih semua ke kamu."
"Waduh, mulai cheesy."
Mydei mengusakkan hidungnya ke perpotongan antara bahu dan leher Phainon, "Makasih udah ngertiin aku, ngasih aku waktu, dan nggak banyak tanya tadi."
"Huum, selalu," kini posisi mereka berganti, Phainon memeluk leher Mydei karena kini posisinya lebih tinggi, membiarkan lelaki itu semakin masuk ke dekapannya sembari ia memainkan helaian oranye itu. "Dei," panggilnya.
"Hm?"
Saat Mydei mendongak, Phainon menyapu rambut yang jatuh di dahinya dan menanamkan kecupan lama disana. Mydei terkekeh, mengeratkan pelukannya di pinggang Phainon. "Dahi aja?"
Phainon menangkup wajah Mydei, kini mencium kedua pipi dan ujung hidungnya. Netra langit pagi dan langit senja itu bersirobok saat bibir keduanya bertemu, terpagut lembut. Phainon masih masih dapat merasakan pasta gigi mint di sela nafas Mydei.
"Dei, aku ngantuk."
"Hahaha, tidur aja, sayang."
"Mmmh, malam, Dei."
"Malam."
Mydei masih belum tidur saat netra biru jernih itu tertutup kelopak, ia masih terjaga untuk menatap bulu matanya yang lebat dan panjang, hidungnya, dan bibirnya. Ada bekas kacamata di pangkal hidungnya akibat harus menatap layar seharian. Deru napas Phainon teratur, begitu juga detak jantungnya. Tidak berapa lama, Mydei bergabung dengan Phainon.
.
.
.
Phainon terbangun pada pagi hari dengan wangi manis yang ia kenal, ia bahkan tidak sempat mengenakan sandal rumah dan hampir tersandung selimut yang jatuh. Ia menemukan punggung Mydei membelakanginya, sepertinya sedang membuat kopi.
"Waffle coklat!" Phainon bersorak, berlari kecil menghampiri Mydei dan mendapatkan dosis kecupan pagi hariannya. "Tumben! Dalam rangka apa? Bukannya dua hari yang lalu aku sudah dapat sweet treatsku?"
"Nggak ada rangka apapun," balas Mydei santai, menaruh waffle coklat favorit Phainon dan mendudukkan sang kekasih, "pengen nyenengin kamu aja." Lelaki itu lantas bergerak menuju kulkas. "Mau es krim yang mana, sayang?"
"Wow! Aku bahkan boleh makan es krim sepagi ini? Dei, mau yang vanilla!"
Sesuai permintaan Phainon, Mydei menaruh dua scoop es krim vanilla itu di atas waffle Phainon. Dari dulu, kekasihnya ini sangat suka makanan manis sehingga Mydei harus awas mengontrol asupan gula Phainon. Untungnya Mydei memiliki bakat alami, sehingga setelah mengambil kursus singkat untuk pastry dan baking, Phainon berhenti total untuk jajan yang manis di luar karena kataya tidak ada yang seenak buatan Mydei.
"Pelan-pelan, Phai, nggak ada yang mau ngambil kok." Mydei dengan lembut menyeka es krim yang mengenai pipi Phainon, kemudian menjilatnya tanpa ragu.
"Bikinan Mydei selalu yang paling enak!"
Mydei terkekeh pelan, menyesap kopinya sambil menonton Phainon yang makan sambil bercerita kejadian di kantornya kemarin dengan semangat menggebu, sambil sesekali menimpali. Melihat Phainon bersemangat sepagi ini turut membuatnya senang. Kejadian tidak mengenakkan kemarin seolah tidak pernah terjadi.
Mungkin Phainon bisa hidup tanpa dirinya suatu saat nanti, tapi Mydei jelas tidak bisa. Mydei butuh Phainon di sisinya, bersamanya; untuk sekarang dan di sisa hidup keduanya.
-T A M A T-
