Actions

Work Header

The Rain that Poured Down Heavily That Day

Summary:

"Dia butuh waktu sendirian, untuk dirinya dan hatinya."

Sebuah kisah singkat dimana reinkarnasi Ares jatuh cinta pada reinkarnasi Artemis, namun malang bagi keduanya, kisah ini digariskan untuk berujung nestapa.

[KookV oneshot; Greek Mythology AU; originally published on 2018]

Work Text:


Mata berwarna hitam itu kini semerah darah, berkilat tertarik saat melihat seorang laki-laki yang tengah duduk diatas batu besar. Laki-laki berambut blonde itu tengah asyik menelusupkan kelima jarinya untuk mengelus singa besar yang tengah tertidur nyaman di depannya. Hutan itu damai, kicau burung bersahutan dan hawa sejuk karena hujan baru saja berhenti, menebarkan aroma basah yang menenangkan.


Krak.

"Sial." Gumam pemilik sepasang iris darah itu saat kakinya tanpa sengaja menjejak ranting dan mematahkannya jadi dua.

Jeon Jungkook menghindari tiga panah berwarna biru yang mendadak melesat kearahnya, meringis melihat ketiga panah itu menancap ke pohon dan merobohkannya. "Mengerikan seperti biasa, Artemis." Bibir ditarik sebelah, menampilkan senyum yang mungkin bisa menjatuhkan lawannya dalam sekejap.

"Rupanya kau, kukira Apollo." Busur yang dipegang Kim Taehyung memudar dalam serpihan hijau yang indah. Tangannya kemudian mengusap lembut kepala singa yang kini dalam posisi waspada, berbisik penuh sayang. "Tenanglah, dia tidak berbahaya."

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jungkook, dengan lihai melompat-lompat diatara bebatuan dan dalam sekejap sampai di dekat Taehyung.

"Hanya menunggu, atau sedang berpikir." Taehyung mengangkat bahu, "Bagaimana denganmu, Ares? Apa yang kau lakukan disini?"

Kekehan pelan terdengar lembut, sangat tidak sesuai dengan nama Dewa yang disandangnya. "Kau tahu apa yang kulakukan disini," jarinya menaikkan dagu Taehyung.

"Seharusnya kau istirahat, setelah peperangan para manusia tadi pasti menguras tenagamu." Taehyung menepis tangan Jungkook di dagunya.

"Melihatmu saja sudah cukup. Aku bahkan siap jika ada pertempuran selanjutnya." Jungkook mendudukkan dirinya disebelah Taehyung. Mereka berdua menatap langit yang membentang, begitu biru dan indah. Cukup lama hening tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, menikmati waktu dimana mereka bisa saling menggenggam eksistensi masing-masing walau hanya sesaat.

"Ares."

Jungkook menoleh menatap Taehyung, menangkap jelas kekalutan di wajah pemuda yang terlahir sebagai Artemis tersebut. "Panggil aku dengan nama asliku saat hanya ada kita berdua, Taehyung."

Bibir bawah digigit gemas, Jungkook dapat melihat bagaimana Taehyung menarik napas panjang berulang kali. Entah apa yang ada di dalam kepala Dewa Pemburu itu. Tidak tahan, Jungkook meraih wajah Taehyung, menangkupnya. Membuat iris turquoise yang semula berwarna hazel itu memandangnya dalam satu garis lurus, ada guncangan samar dibaliknya. "Katakan, Taehyung." Bisiknya.

"Hentikan ini." Taehyung memejamkan matanya, menolak memandang sang Dewa Perang, merasakan dinginnya jemari Jungkook di wajahnya.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu."

"Aku sudah dengar dari Hermes." Taehyung akhirnya membuka matanya, membiarkan Jungkook melihat senyumnya yang terlihat begitu pedih. "Rencana Ayah tentang kau dan Aphrodite."

"Persetan dengan Zeus." Jungkook mendengus, "Aku ingat aku sudah menolak rencana itu."

"Demi Tuhan, Jeon Jungkook. Dia ayahmu, kau tidak boleh seperti itu."

Jungkook tersenyum meremehkan, "Lalu aku akhirnya akan meninggalkanmu, begitu?"

"Bukan akan, Ares. Tapi harus." Suara itu terdengar ringan, seakan semuanya semudah minum teh dan memakan camilan di sore hari. Begitu ringan sehingga terasa sangat perih saat mendengarnya. "Aku akan sangat benci jika kau menjadikanku alasan untuk melawan Zeus. Sekalipun kau adalah Dewa Perang, aku rasa mustahil untuk melawan ayahmu sendiri."

Tawa getir mewarnai keheningan di tempat itu seelah kalimat Taehyung berakhir. Jungkook menatap Taehyung dengan tatapan tak terbaca. "Aku tidak akan menyerah semudah itu, Kim Taehyung. Zeus memang ayahku, tapi aku tidak akan membiarkannya mengontrolku, terutama kepada siapa aku harus jatuh cinta."

"Karena ini takdirmu, Jungkook. Ares harus dengan Aphrodite, bukan Artemis. Jadi--"

Bibir Jungkook membungkamnya, membiarkan apa yang ingin dilontarkan kembali tertelan. Biarpun hanya kecupan sekilas, Taehyung tahu bahwa Jungkook mengerti, bahkan mungkin merasakannya juga.

"Jangan berbicara lagi, Kim Taehyung."

"Pernahkah kau menyesal terlahir sebagai Dewa Perang, Ares?" Taehyung tersenyum, mengusap rambut hitam Jungkook yang terasa lembut di tangannya.

"Tidak," balas Jungkook, "Karena jika aku terlahir jadi manusia biasa, aku tidak akan pernah bertemu denganmu, Artemis."

Taehyung terkekeh pelan, membiarkan Jungkook mendekapnya kemudian menciumnya lagi, berusaha menyampaikan rasa frustasinya dalam ciuman lembut penuh candu.

 

.

.

.

Air terjun selalu menjadi tempat favorit Min Yoongi. Suara gemericiknya menenangkan hatinya yang tengah gelisah. Semua orang selalu mengatakan dirinya harus mengikuti keputusan Zeus untuk menikah dengan Ares. Astaga, kenapa semua orang begitu terjebak dengan legenda? Memang benar Aphrodite sebelumnya menikah dengan Ares, namun tidak selalu harus seperti itu, bukan?

Yoongi membiarkan kakinya menyentuh pinggiran sungai. Meringis saat merasakan dingin menyapa reseptor kakinya.

"Ada masalah, Aphrodite?"

Jubah berwarna pastel lembut disampirkan ke bahunya. Yoongi memejamkan matanya, mengenali aroma yang sudah sangat familiar. Aroma yang begitu hangat dan menenangkan. Begitu juga dengan suaranya yang membuat siapapun jatuh hati hanya dengan mendengarnya saja. Kembaran Artemis, Apollo.

Yoongi tersenyum masam, "Tidak ada."

"Ayolah, jangan berbohong." Suara Park Jimin terdengar sangat menyenangkan, Yoongi selalu suka mendengarnya.

"Kalau begitu untuk apa lagi bertanya?"

"Kau masih memikirkan perintah Ayah?" Jimin tertawa, "Jalani saja, Aphrodite. Pelan-pelan akan terbiasa, kok. Lagipula siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Aphrodite, hm?"

"Ares salah satunya." Yoongi mendengus.

"Berarti, aku termasuk golongan yang akan jatuh cinta padamu?" Jimin mendekat, membuat Yoongi beringsut menjauh dengan rona merah samar di tulang pipinya yang pucat.

"Kuharap iya."

"Kalau begitu kau beruntung, karena aku memang jatuh cinta padamu." Jimin mengusap pipi Yoongi hati-hati, menatap pemuda pucat itu begitu teduh seakan takut jika mengeluarkan tenaga sedikit saja akan menghancurkan sosok cantik dihadapannya. "Kau dingin sekali, Yoongi. Seperti es. Boneka porselen dingin yang rapuh. Kau itu terlalu cantik, aku khawatir aku akan mati jika hanya melihatmu saja, Min Yoongi."

Dada Yoongi terasa mencelos, ada getar aneh saat Jimin menyebut nama aslinya.

"Jimin."

Jimin menaikkan sebelah alisnya, menampilkan binar terkejut di bola matanya yang jernih dan menghanyutkan. "Aku terkejut kau mengetahui nama asliku."

"Tentu saja aku mengetahui nama asli Dewa yang membuatku jatuh hati hanya dengan mendengar suaranya sekilas, menari diantara kicauan burung dan hembusan angin." Yoongi memegang telapak tangan Jimin yang menangkup pipinya. Menatap iris teduh itu lekat, mencoba menikmati rasa nyawan yang ditawarkan tanpa kalimat.

Jimin tersenyum, "Kalimat itu lebih baik dikatakan pada Ares, bukan padaku. Dia yang berhak."

"Berhenti mengaitkan nama Ares dalam setiap pembicaraan kita! Kau tahu sendiri aku jatuh hati kepada siapa!" Suara Yoongi mulai meninggi, setelahnya matanya terpejam lelah. "Aku sudah lelah, Jimin. Kenapa harus aku yang terlahir sebagai Aphrodite? Apalagi aku ini laki-laki."

"Apa ada takdir yang sesuai keinginan? Tidak ada. Hanya saja kita bisa merubah takdir menjadi sedikit lebih baik." Jimin mendekat, merengkuh Yoongi dalam dekapannya yang nyaman. Menaikkan kaki telanjang Yoongi dari dinginnya air yang membuat pemuda yang menyandang nama Aphrodite itu menggigil kedinginan. "Kau sedang kacau, Yoongi. Pejamkan matamu dan istirahatlah, setelahnya kau bisa berpikir dingin."

Yoongi hanya menarik napas panjang, "Pengecut."

"Ya, Yoongi. Aku memang pengecut. Aku tidak bisa menyelamatkanmu jika ada yang menyakitimu jadi aku lebih memilih mundur. Menyedihkan, eh?"

"Berhenti merendahkan diri, bodoh."

"Itu kenyataannya."

"Berhenti bicara atau aku akan menciummu, Park Jimin."

Lagi-lagi, Jimin hanya tersenyum. Mengecup lembut puncak kepala Yoongi lalu membelainya pelan. Membiarkan pemuda yang menyandang nama Aphrodite itu memejamkan mata dan terlelap dalam dekapannya.

 

.

.

.

"Menyebalkan, eh?"

Jimin menyisir rambutnya ke belakang, terkekeh pedih. Mata biru safirnya berubah menjadi sekelam malam, menyembunyikan perih yang menyengatnya.

"Kau tahu apa yang kupikirkan, Artemis?" Jimin duduk di sebelah Taehyung, menatap wajah saudara kembarnya yang hanya menatap langit bertabur ribuan titik kecil bercahaya dengan tatapan sendu.

"Tentu." Jeda sejenak sebelum Taehyung melanjutkan. "Kita berdua terjebak dalam rantai yang sama, antara Ares dan Aphrodite. Isi kepalamu sekarang sama dengan kepalaku. Omong-omong, darimana saja kau?"

"Menenangkan Aphrodite yang frustasi." Tawa kecil terdengar.

Taehyung menoleh ke samping, menatap pemuda yang menyandang nama Apollo itu tengah menundukkan kepalanya. Membiarkan angin menggerakkan rambut hitamnya yang halus.

"Kau dan aku, kita benar-benar pengecut." Taehyung merebahkan tubuhnya diatas rerumputan, memejamkan matanya. "Ingin merubah takdir namun sama sekali tidak bisa melakukannya. Ini tidak seharusnya terjadi kan? Kepalaku bisa pecah."

"Ingin aku bernyanyi untukmu?"

Taehyung tersenyum lembut, menepuk pundak Jimin. "Aku harap aku bisa setabah dirimu."

"Kau bahkan lebih tabah dariku."

Dan padang rumput malam itu, diiringi hembusan angin dan binar kunang-kunang di sekitar mereka yang mengalahkan bintang, dan juga rembulan yang bersinar pucat, hanya terdengar nyanyian Jimin yang begitu indah membius alam sekitar mereka.

Namun juga begitu pilu.

.

.

.

"DOR!"

Hoseok membulatkan matanya lalu mengangkat tangannya defensif didepan dada saat melihat ujung pedang berwarna hitam pekat itu terpaut satu senti di depan keningnya. Mencoba mengajak bercanda seorang Dewa Perang ternyata berbahaya, berpotensi membuat kepalanya terlepas dari tubuhnya.

Jungkook menarik napas panjang. "Kali selanjutnya seperti itu, aku tidak menjamin kepalamu masih melekat di lehermu, Hermes."

"Tidak akan lagi." Balas Hoseok cepat.

"Ada apa?" tanya Jungkook.

"Ayah memanggilmu, juga Aphrodite. Aku sudah mengabari Aphrodite."

"Lagi?" Jungkook menghembuskan napas kasar, kepalanya mendadak berdenyut sakit.

"Aku hanya seorang pengantar pesan, kau tahu." Hoseok menampilkan senyuman tipis melihat betapa frustasinya sang Dewa Ares dihadapannya. "Semakin kau melawan, Ares, semakin kau akan menyakiti dirimu dan juga Artemis."

Jungkook memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya walaupun jiwanya sudah bergejolak ingin mengacungkan senjatanya di hadapan Zeus. "Aku," Jungkook mengacak-acak rambut hitamnya sampai berantakan, "tidak peduli dengan diriku, aku hanya tidak ingin menyakiti Artemis. Tapi ini gila! Zeus sudah tahu yang sebenarnya terjadi namun tetap memaksa."

Hoseok masih saja tersenyum, "Kadang hanya butuh waktu sekejap bagi hujan untuk membasuh permukaan yang berdebu. Tapi, akankah kau yakin hujan akan datang? Bagaimana jika ia tidak pernah datang? Harapan kosong, debu semakin banyak dan akhirnya menghilang tanpa disadari siapapun. Ia, pergi tanpa pamit."

"Ternyata, bukan hanya sebagai pengantar pesan, kau juga sebagai penyampai teka-teki." Jungkook tersenyum, "Baiklah, aku pergi sekarang."

Hoseok mengangguk, melambai sekilas pada Jungkook. Meringis pelan, betapa rumit masalah yang dihadapi oleh saudara-saudaranya. Hoseok tidak berhak ikut campur dalam masalah ini, dia harus tetap diam dan berada di tempat netral.

Tanpa diduga, di tengah perjalanan, Jungkook bertemu Yoongi. Yoongi, seperti biasa, cantik dan menggoda bahkan tanpa berusaha sedikitpun. Begitu anggun dan menghipnotis dengan matanya yang tajam, kulitnya yang sepucat keramik porselen putih dan bibirnya yang tipis. Jungkook juga dalam keadaan sama. Tampan, angkuh, dengan penuh hawa pemberontakan bergejolak bahkan saat melihatnya saja. Penuh intimidasi dengan wajah terpahat sempurna.

Mata mereka berdua bertemu, saling melempar senyum atas kepedihan yang mereka simpan masing-masing. Tak terbaca, memang. Tapi rantai itu telah menjerat mereka, sedikit banyak mereka sudah saling memahami.

"Siap untuk berpura-pura lagi, Aphrodite?" Jungkook meraih tangan Yoongi, menggenggamnya erat saat langkah mereka berdua terhenti, berhadapan dengan ruangan Zeus.

Yoongi menghembuskan napas, balas menggenggam erat tangan Jungkook, menenangkan tangannya yang gemetar. Matanya menatap nyalang, fokus. Jika saja ini dalam keadaan biasa, Jungkook akan memuji tatapan pemuda itu. Namun, situasi ini sama-sama buruk bagi mereka.

"Tentu, Ares. Ayo kejutkan Ayah." Suara yang sebenarnya menyenangkan itu terdengar begitu berat dan dingin. Jungkook seakan menggenggam es. Karena tidak hanya suara, sekujur tubuh Yoongi juga dingin. Hal yang terjadi jika seorang Aphrodite telah menyentuh batasnya dan menjadi serius.

Berlawanan dengan itu, Yoongi merasa ia tengah menggenggam api. Panas dan membakar. Yoongi tahu, Ares tengah membara sekarang, namun mati-matian menyembunyikannya. Yoongi tahu betapa Jungkook ingin berteriak dan menghancurkan segalanya yang ada di hadapannya, hanya saja Jungkook mengingatkan diri sendiri karena itu akan membuat keadaan semakin sulit.

Pintu itu terbuka, Yoongi dan Jungkook masuk bersamaan sambil mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang Zeus lalu membunuhnya.

.

.

.

"Hai, Apollo. Mana Artemis?"

Jimin menoleh, tersenyum pada sosok berambut cokelat yang tengah mendekat, "Hai juga, Hermes. Entahlah, aku sedang mencarinya. Dia mendadak menghilang. Mungkin berada di hutan. Yah, kau tahu, bermain dengan singa kesayangannya."

Terdengar suara ledakan dan beberapa pohon tumbang, membuat dua Dewa itu menahan nafas karena kaget. Hoseok mengerjap bingung, sementara itu Jimin berdecak pelan.

"Ada apa?" heran Hoseok.

"Artemis.... sepertinya keadaannya agak buruk akhir-akhir ini." Balas Jimin.

Mereka berdua masuk ke dalam hutan yang seperti telah dihancurkan oleh puting beliung. Beberapa binatang tergeletak tidak bernyawa, ada bekas terbakar, juga seperti yang telah diduga, pohon yang tumbang.

Di batang pohon yang sepertinya dirobohkan secara paksa, terlihat sosok Taehyung yang duduk disana. Sesuai perkataan Jimin, singa raksasa itu tengah bersama Taehyung. Sepertinya dialah yang merobohkan sebagian besar pohon di hutan ini. Langit mulai mendung, tapi Taehyung tidak mengindahkannya. Hanya membiarkan tubuhnya mulai basah kuyup diguyur hujan, sementara singa raksasa itu sama sekali tidak beranjak dari sisi Taehyung.

"Taehyung!" Jimin dan Hoseok berseru dalam waktu yang sama.

Senyum dipaksakan mengukir bibir Dewa Pemburu itu, "Hai, Apollo, Hermes."

"Ini benar-benar seperti kiamat. Beginikah hasilnya jika Dewa Pemburu dalam keadaan yang buruk?" Hoseok mencoba mencairkan suasana, tidak sanggup merasakan hawa muram Taehyung.

"Masih lebih mengerikan kerusakan yang diciptakan Ares." Taehyung tertawa kecil, "Ah, bicara soal Ares, aku melihatnya tadi bersama Aphrodite."

Hoseok mengangguk, "Ya, Zeus memanggil mereka. Aku tidak tahu untuk apa lagi Ayah memanggil mereka berdua."

"Aku baru akan menyapa mereka, namun kuurungkan saat melihat Ares menggenggam tangan Aphrodite. Untuk pertama kalinya, aku melihat mereka berdua... begitu murka. Dadaku sesak melihatnya." Tawa Taehyung mereda, matanya yang awalnya sehijau emerald berubah menjadi cokelat, mengulas senyum sendu.

Jimin menyisir rambutnya yang terasa berat karena basah, menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan terluka. "Berhenti menangis, Artemis!"

"Begitu seharusnya kan? Dari awal, ini semua sudah tidak mungkin. Aku tidak menangis, sama sekali tidak berhak menangis."

Hanya dengan itu, hujan bertambah deras dan setiap tetesannya seakan berlomba menembus kulit. Menyakitkan. Seperti dihujam kerikil terus menerus.

Hoseok menengadahkan tangannya, mengumpulkan tetesan air hujan itu di telapak tangannya. Menyadari bahwa itu bukan hujan karena siklus alam, ini bukanlah hujan biasa.

.

.

.


Pemuda tinggi berambut pirang tersenyum saat melihat Jungkook dan Yoongi saling bergenggaman tangan erat. "Aku senang kalian sepertinya tidak memberontak lagi." Namjoon tertawa, tawa penuh racun yang memperingatkan bahwa sia-sia saja melawannya.

Jungkook dan Yoongi lantas melepas genggaman mereka masing-masing. Iris safir dan delima semerah darah itu berkilat menatap Namjoon. "Aku tetap menolaknya." Yoongi yang pertama kali buka suara.

"Hm?" Namjoon menaikkan sebelah alisnya, "Apa kau yakin dengan perkataanmu, sayangku? Apa kau tidak khawatir aku akan membunuh si kembar itu?"

"Kau tidak akan pernah bisa menyentuh Artemis sebelum melewatiku, Zeus. Tidak seinci pun." Jungkook berujar, penuh intimidasi mutlak. Jeon Jungkook tidak pernah main-main.

"Aku tidak akan mengkhawatirkan Artemis karena aku tahu kau akan melakukan apa saja untuk menjaga Artemis tetap baik-baik saja, karena kau adalah Dewa Perang, Ares. Tapi," manik tajam Namjoon bertemu dengan Yoongi, "bagaimana dengan Apollo? Apa kau yakin kau bisa melindunginya jika terjadi sesuatu? Dan kau juga tahu, Aphrodite, bagaimana Artemis jika kehilangan saudara kembarnya. Pikirkan, Aphrodite. Jika kau dan Ares menerimanya, semua senang. Tidak ada perang maupun pertumpahan darah."

Yoongi mematung, kemungkinan itu sama sekali tidak pernah dipikirkannya. Dia dan Jungkook sama-sama terdiam, menyadari apa yang telah terjadi. Kedua pilihan sama-sama merugikan keduanya. Semuanya salah sejak awal, tapi siapa yang bisa mengendalikan semuanya?

"Beri kami waktu." Jungkook akhirnya angkat bicara, Yoongi menatapnya tidak percaya.

"Aku senang kau bisa diajak bekerja sama, Ares. Waktu kalian tidak banyak. Kembalilah." Namjoon masih tersenyum lebar, "Ares, akan ada peperangan lagi, bersiaplah karena kau yang akan turun."

Jungkook membungkukkan badannya sekilas lalu segera berbalik. "Ares." Yoongi memanggil, menahan lengan Jungkook yang sudah berjalan keluar dari ruangan Zeus beberapa langkah. "Ares, dengarkan aku! Ares!"

Jungkook terhenti saat Yoongi berdiri di hadapannya dan tengah mengguncang-guncangkan kedua bahu kokoh sang Dewa Perang. "Apa maksudmu? Kau menerimanya?" lirih Yoongi.

"Tidak," Jungkook tersenyum, "Hanya mencoba memutuskan rantai yang tengah membelenggu kita. Nanti, akan ada Ares dan Aphrodite baru yang terlahir, dan akan saling jatuh cinta, namun itu jelas bukan kita. Jadi, apa salahnya kali ini untuk menentang takdir?"

Yoongi membulatkan matanya, "Jangan bilang kau..."

"Aku akan kembali lagi, harus bersiap untuk peperangan selanjutnya. Namun, jika nanti aku tidak kembali dan tidak sempat menemui Artemis," Jungkook meraih tangan Yoongi dan meletakkan kepalan tangannya diatas telapak tangan Yoongi yang terbuka, "Tolong berikan hatiku pada Kim Taehyung."

"Jangan bercanda, Jeon Jungkook. Jangan sakiti Artemis lebih dari ini."

"Aku bilang jika aku tidak kembali." Jungkook terkekeh pelan, "Tentu saja aku akan kembali, aku pasti akan kembali untuk Taehyung."

Selesai dengan kalimatnya, Jungkook menghilang bersama serpihan merah membara yang lenyap perlahan-lahan. Yoongi menatap keluar, melihat betapa derasnya hujan sekarang.

.

.

.

"Kau basah sekali."

Taehyung tersentak kaget saat merasa seseorang mendadak memeluknya dari belakang, erat. Napas panas berhembus menerpa kulit tengkuknya. Taehyung kehilangan suaranya sejenak saat menyadari siapa yang tengah memeluknya sekarang, ingin berontak juga percuma, Taehyung tahu Jeon Jungkook tidak akan melepaskannya begitu saja.

Tapi untuk sekarang, Taehyung merasa tidak ingin melihat wajah Dewa Perang itu. Suatu bagian di dadanya selalu berdenyut sakit saat melihat Jungkook, bahkan hanya dengan mengingatnya saja.

"Jangan menangis, Kim Taehyung." Suara Jungkook jatuh satu oktaf, terdengar begitu lirih. "Karena jika aku pergi, aku tidak bisa menghapusnya dengan tanganku sendiri."

"Kau mau kemana?" Taehyung akhirnya memberanikan diri untuk berbalik. Jungkook melepaskan pelukannya namun merunduk, mencuri kecupan singkat di bibir Taehyung kemudian menumpukan keningnya di bahu sang Dewa Pemburu.

"Aku akan pergi untuk beberapa saat, perang lagi," Jungkook bergumam pelan.

Taehyung mundur selangkah, menangkup wajah Jungkook agar menatapnya dalam satu garis lurus. "Apa maksudmu? Kau akan kembali, kan? Kau pasti kembali, kan?" Binar ketakutan terpancar jelas di iris hazel milik Taehyung. "Tidak, bukan seperti itu. Kau harus kembali, Ares. Harus."

Jungkook tersenyum. Menggenggam kedua telapak tangan Taehyung laku menciuminya, menyentuhkan ujung hidung mereka sebelum Jungkook menciumnya lembut, selembut kapas. Taehyung merasa badannya gemetar, tangannya mencengkeram erat serat kain di punggung Jungkook. Ketakutan menjalarinya perlahan.

Sang Dewa Perang melepaskan tautan bibir mereka, mengusap bibir bawah Taehyung dengan ibu jarinya. "Harus bersiap-siap sekarang," Jungkook mengecup kening Taehyung, "Aku pergi."

Ada sesuatu yang membuat Taehyung ingin Jungkook tidak pergi, bibirnya ingin sekali meminta Jungkook agar tidak pergi namun ia tidak sanggup mengeluarkan kalimat apapun. Taehyung tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, Taehyung tidak pernah berpikiran apa-apa setiap kali Jungkook pergi karena dia yakin Jungkook pasti akan kembali, bagaimanapun caranya, kembali padanya. Namun perasaan apa itu tadi? Seakan Jungkook akan meninggalkannya kali ini, benar-benar meninggalkannya tanpa pernah kembali lagi.

.

.

.

"Bagaimana hasilnya?"

Yoongi menatap Jimin sekilas, setelah dirinya dan Jungkook dipanggil oleh Namjoon beberapa hari yang lalu, kenapa baru sekarang Jimin menanyakannya?

"Aphrodite?"

Pemuda berkulit pucat itu tersentak. Memejamkan matanya sesaat kemudian membuka mulutnya. "Ares meminta waktu untuk berpikir dan Zeus menyanggupinya." Jeda cukup lama sebelum Yoongi melanjutkan kalimatnya. "Jadi kurasa hasilnya bergantung keputusan Ares nanti, setelah dia kembali, tentu saja."

Jimin mengangguk-angguk, tidak berniat untuk membalas. Mereka berdua kemudian terkejut saat melihat Hoseok dan Taehyung berjalan kearah mereka, merasa sangat heran melihat Hoseok begitu muram padahal biasanya dia secerah mentari. Sementara itu, Taehyung seakan tengah bingung dan tidak tahu-menahu apa yang terjadi.

"Ada apa, Hermes? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Yoongi, "Kau seperti kehilangan sesuatu yang berharga."

"Lantas wajah seperti apa yang harus kuperlihatkan jika aku kehilangan saudaraku yang tengah di medan perang, Aphrodite?" Hoseok tersenyum getir.

"Apa maksudmu, Hermes?" mata Yoongi menyipit, berusaha menyingkirkan firasat buruk di kepalanya.

"Poseidon dan Zeus terlambat menolongnya, ia memilih menyerah bertahan dan pergi untuk selamanya." Hoseok memejamkan matanya.

Jimin menatap Hoseok, netranya memancarkan rasa terkejut yang amat sangat. "Kau tidak bilang bahwa Ares..." Jimin menatap hati-hati pada Taehyung yang sekarang sudah berekspresi kosong dan diam seperti patung.

"Benar." Hoseok mengangguk dengan senyum sendunya, "Ares... ia telah gugur."

Taehyung merasa telinga dan otaknya tidak berfungsi untuk sejenak, tidak bisa mencerna apa yang baru saja disampaikan Hoseok. Atau itu karena sebenarnya ia tidak mau menerima kenyataannya.

Yoongi menghampiri Taehyung, meraih tangannya lalu meletakkan kepalan tangannya diatas telapak tangan Taehyung. "Artemis, ini pesan dari Ares setelah Zeus memanggil kami beberapa hari yang lalu. Aku tahu kau sangat terpukul. Ares adalah saudaraku, rasanya sakit saat mendengar kabar ini, dan tentu jauh lebih perih saat kau mendengarnya, karena aku tahu kau mencintainya. Tapi, untuk Kim Taehyung, kumohon dengarkan aku." bisik Yoongi.

Anggukan lemah dari Taehyung cukup menjadi sinyal dari Yoongi untuk melanjutkan.

"Jungkook berkata padaku dia akan kembali kemudian membawamu bersamanya. Namun di bilang, jika ia tidak kembali, ia memintaku untuk menyampaikan bahwa dia memberikan hatinya padamu. Aku tahu, Taehyung. Ini pasti sangat berat untukmu, setelah apa yang telah terjadi selama ini."

"Aku tahu, aku tahu, aku sangat tahu." Suara Taehyung berubah serak, sekuat tenaga menahan genangan di sudut matanya. Dia menunduk dalam, "Aku... aku harus pergi sebentar, aku tidak akan melakukan hal bodoh..."

Jimin hampir saja menyusul Taehyung, namun Hoseok menahan Jimin. "Jangan menyusulnya," kata Hoseok pelan, "Dia butuh waktu sendirian, untuk dirinya dan hatinya."

"Karena segalanya sudah salah sejak awal, sehingga akan semakin rumit dan pada akhirnya akan hancur." Yoongi tersenyum miris. "Kita lihat apa yang akan dilakukan Zeus, karena dia telah membunuh anak kesayangannya secara tidak langsung. Ini bukanlah menyerah, ini bentuk serangan langsung dan pemberontakan dari Ares walau harus mengorbankan dirinya sendiri."

 

.

.

.

Taehyung kembali duduk di batu yang sama, namun kali ini dia sendirian. Bukankah Jungkook berjanji akan kembali? Tapi kenapa dia benar-benar pergi? Tidak, Taehyung tidak akan menangis walau hatinya terasa retak dan remuk, walau jiwanya terasa kosong seakan tersedot keluar.

"Jangan menangis, Kim Taehyung. Karena jika aku pergi, aku tidak bisa menghapusnya dengan tanganku sendiri."

"Bodoh." Taehyung tertawa serak sementara awan mendung mulai terbentuk di langit dan menurunkan rintik airnya perlahan namun kian deras seiring waktu berjalan. Dadanya seperti ditusuk dan diiris, perih.

Badannya basah kuyup. Derasnya hujan beriringan dengan raungan pilunya. Berusaha menyimpan setiap kepingan sesak, menyimpan rasa sakitnya agar ia tahu bahwa Jungkook masih disana, di dalam hatinya.

"Kau memintaku untuk tidak menangis, bukan? Jadi biarkan hujan ini menggantikan air mataku." [ ]

 

Series this work belongs to: