Actions

Work Header

Membasuh

Summary:

Martin has always been good at carrying things on his own. Covering scars, swallowing pain, and silencing every single feeling that asked to be heard. The hours he spent working long past midnight. The endless schedules. The weight of expectations he never learned how to put down.

It happened quietly. In passing glances, lingering conversations, and the small moments Martin never thought much of at the time.

Until somehow, Juhoon had become part of the nights he was never quite ready to let go of.

Notes:

a little listening recommendation: Membasuh by Hindia

this fic was heavily inspired by the feeling of that beautiful song. so trust me on this one.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ringtone handphone sudah berdering setidaknya lima belas kali dalam satu jam terakhir. Panggilan masuk bergantian dari manager serta producer-nya yang sangat memekakkan telinga. Pembahasan panjang tentang persiapan album EP ketiga–yang mungkin saja bisa berubah arah menjadi full album pertama grupnya. Persiapan World Tour, tampil berhari-hari di negara orang, terbang kesana kemari dengan pesawat bussiness class. memenuhi passport dengan stamp-stamp negara impiannya. 

 

Sejujurnya, masih banyak beban lain yang harus ditanggungnya sebagai leader di grup yang banyak dikenal orang sebagai 'Young Creator Crew' dengan segudang kreativitas dan gebrakan baru yang selalu menjadi sorotan bagi fans bahkan khalayak ramai. 

 

"Ugh..." Martin mengusap wajahnya kasar, lelah mengotak-atik komputernya sepanjang hari, track beat yang diputar ulang jutaan kali membuat perutnya mual. Mungkin juga akibat dari asam lambung? Entahlah, makan bukan jadi prioritasnya sekarang. 

 

Memang benar kata orang, meraih kemenangan itu sulit, tapi mempertahankan kemenangan itu lebih sulit lagi. 

 

Usahanya meniti karir jelas tak main-main. Semenjak trainee, ia terbiasa untuk duduk berlama-lama di studio, mencoba segala beat dengan inspirasi genre musik favoritnya. Memeras paksa otaknya yang dipenuhi ide-ide gila anak remaja. Gedung agensi yang besar dan sepi terasa seperti berada di tengah hamparan laut tanpa daratan yang tidak dapat dijangkau mata. Terkadang, di sela sempitnya kota Seoul yang terlihat dari atap gedung asramanya, terbesit kejujuran yang selama ini sempat ia hindari. 

 

Usaha ini sangat menyiksa. Sungguh. 

 

Merelakan waktu emasnya hanya untuk hal yang tak tentu berhasil. Menyiksa tubuh dan mentalnya tanpa tujuan jelas. Jam tidur yang tak kenal kapan matahari terbit dan terbenam. Kaleng-kaleng energy drink yang menumpuk di sudut studio. Kursi yang mulai berdenyit ngilu semenjak sebulan lalu menandakan seberapa sering benda itu diduduki. 

 

Untuk apa semua ini? 

 

Ia tak bisa membayangkan lagi rasa sesak dadanya saat melihat semua temannya memilih untuk pergi waktu lalu, melepas genggaman mereka pada seutas tali yang menjerat, meninggalkannya seorang diri tenggelam semakin dalam di kolam tak berujung. Bertahan dengan sisa napasnya yang menipis. Bertahan meski bibirnya membiru. Tak bermaksud bersikap naif, tetapi itu sangat menyiksanya. Ia hanya tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: terus bertahan, atau mengakui bahwa dirinya sudah terlalu lelah untuk melakukannya. 

 

Namun entah apa yang semesta rencanakan, dirinya dan empat teman lainnya berkesempatan untuk debut, menampilkan hasil dari segala jerih payah mereka. Berhasil bertahan diantara pilar-pilar orang hebat yang lebih memilih gugur. Berhasil bertahan di kolam itu, beradaptasi dengan suhunya, belajar untuk berenang ke tepian tanpa harus keluar dari kolam tersebut. 

 

Menjalani Song Camp selama berminggu-minggu di kota yang dipenuhi oleh orang-orang yang menginspirasinya, juga menjadi pusat industri hiburan global, Los Angeles, memproduksi lagu-lagu untuk EP perdana mereka yang terasa berat dan jenuh seiring waktu. Tapi setidaknya, ia memiliki tujuan. Tapi setidaknya, ia memiliki teman-teman di sisinya jikalau ia lupa caranya berenang ke tepi kolam. 

 

Segalanya mengalir begitu saja. Meski alirannya kencang, tetapi mampu mereka arungi. Menghantam batuan besar dan gelombang air yang berkecamuk tak lagi menjadi penghalang. Perjuangan mereka memang belum pada puncaknya, tapi ia yakin mereka sedang berproses dan setiap proses butuh usaha keras dari orang-orang yang mau dan mampu bertahan. 

 

Jadwal padat, tekanan untuk terus menghasilkan sesuatu yang hebat dan berbeda, juga emosional yang terus dipendam berhasil membuatnya lupa akan dirinya sendiri. Rambut pirang western yang biasanya rapi dengan hairstyle, kini hanya dibiarkan acak-acakan mengikuti kemauan rambutnya sendiri. makan siang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber tenaga sampai jam— 

 

Jam berapa ini? 

 

23.47 

 

Handphone terbanting dengan suara keras di atas meja. Helaan napas ke sekian kali keluar secara tidak sopan, ia sampai kehabisan jari untuk menghitungnya. Emosinya tak terkontrol akhir-akhir ini. Hatinya begitu sensitif, bahkan argumen sekecil apapun mampu membuat egonya terluka hebat. 

 

Hormon emosional remaja, mereka bilang. 

 

Suara pendingin ruangan berderu semakin nyaring, mengisi kesunyian yang tersebar sampai ke dadanya. Ia kesepian. Sangat kesepian, ia akui. Bukan kesepian secara harfiah, melainkan kesepian yang selalu melekat dan berakar di hatinya. Martin bertemu banyak orang, bergurau dengan banyak teman. Namun, hal itu tak mampu mengisi kehampaan menjengkelkan ini. 

 

Dia butuh seseorang yang mampu memberikan tawa kecil yang manis, kehangatan yang mencairkan tegangnya. Seseorang yang bisa membuatnya berhenti berpikir untuk sesaat—membuatnya ingin mendekat tanpa alasan, bersandar tanpa diminta, dan tinggal sedikit lebih lama dalam sebuah pelukan yang sederhana. Mengingatkannya bahwa ia tidak benar-benar sendirian. 

 

Seseorang yang bisa menjadi tempat bagi semua hal yang tak pernah berhasil ia ucapkan. Tempat untuk menyimpan gelisah, lelah, marah, dan segala emosi yang selama ini hanya berputar-putar di dalam kepalanya tanpa pernah menemukan jalan keluar. 

 

Martin tidak tahu apa yang sebenarnya ia cari. 

 

Mungkin itu sebabnya ia merasa begitu kesepian. 

 

Atau mungkin, ia hanya terlalu lama tidak membiarkan dirinya dicintai. 

 

Dering familiar terdengar lagi dari arah meja, Martin hampir berteriak frustasi karena muak dengan nada dering yang tak lagi menjadi favoritnya sebelum terdiam kelu setelah membaca nama kontak yang terpampang jelas di layarnya. 

 

'my jju' incoming call.

 

Jari panjang itu terburu-buru menekan ikon hijau, menyelaraskan handphone tepat di samping telinga. 

 

Awalnya tak ada satupun yang angkat suara, hanya untuk beberapa detik. Lalu suara lembut yang familiar memasuki indra pendengarannya, sorot matanya melembut, hembusan napas terasa lebih tenang kali ini meskipun detak jantungnya berdegup tak karuan. 

 

"Hey... Still working...?" 

 

Suara itu. 

 

Martin selalu menyukai suara itu. Bagaikan lantunan lullaby di tengah malam saat fase insomnia yang mengganggu, suara yang membuat ia memejamkan matanya sebentar. Hanya untuk meresapi, merasakan, mendambakan suara laki-laki manis yang sedikit lebih tua darinya di seberang telepon. 

 

Nadanya terdengar khawatir, walaupun coba empunya tutupi dengan pertanyaan basa-basi. Bagaimana tidak? Martin sudah berakar di dalam studio sempit dan pengap itu sejak siang hari. Ia bahkan tidak memperdulikan teman-temannya yang sudah kembali beristirahat di asrama lebih dulu setelah jadwal padat yang menguras tenaga. 

 

"Ed...?" 

 

Sial—panggilan andalannya. 

 

"Ya? Maaf, aku sedikit hilang fokus. I'm still working. What's good?"  Lidahnya mendadak kaku, kosakatanya hilang entah kemana. 

 

"Just make sure. You're really rotting there, ain't ya?" 

 

Tawa kecil favoritnya terdengar lagi setelah seharian terkurung disini— seharian tidak berada di sekitar laki-laki manisnya. Rasanya ia ingin keluar dari gedung tinggi ini, berlari pulang menemui manusia favoritnya. Merengkuh tubuh rampingnya seerat mungkin, memenuhi indranya dengan aroma lembut juga manis dari sisi lehernya yang hangat. Mencium seluruh wajahnya jika diperbolehkan, bersyukur atas paras cantik yang diberkahi tuhan untuknya. 

 

Sayangnya, hal itu tak pernah berani ia lakukan. 

 

"I thought it was the producer calling me, before I know it was you." 

 

Mari alihkan pikiran bodoh itu.

 

"Thanks for picking up, loh? hahaha..." 

 

Otot-otot kaku di lehernya menjadi lebih santai sekarang, urat yang menonjol di sekitar dahinya perlahan memudar. Jiwanya yang gelisah benar-benar dibuat membumi, setenang aliran sungai, sesunyi danau disaat bulan purnama bersinar paling terang diantara langit gelap. 

 

Tak ada yang bisa membuatnya setenang ini. 

 

Semua gelisah dihatinya perlahan runtuh hanya dengan mendengar tutur kata bernada indah di ujung telepon yang membuat perutnya seakan di terbangi kupu-kupu. 

 

"Masih lama, ed? Want me to come over? Just in case–" 

 

YES, PLEASE!

 

"NO! Sorry—No... It's okay, Jju. It's late, istirahat aja, ya? I'll be done in a minute, I promise." 

 

Hati dan mulut yang tak pernah bisa bekerja sama. Tuhan... Ya, ia sangat ingin Juhoon ada di sini. Di sisinya. Menghangatkan tubuhnya yang dingin dengan pelukan erat dan senyuman manis yang sangat ia rindukan. 

 

Tapi, ia tak mungkin membiarkan laki-laki itu datang hanya untuk ikut menemani manusia workaholic sepertinya berjamur di studio. 

 

"You sure..?" 

 

"Hm... Definitely." 

 

"But actually, ed..." Nada suara Juhoon tiba-tiba turun, Martin mendadak berhenti bergerak, menunggu dengan tegang kalimat apa yang akan dikatakan Juhoon selanjutnya. 

 

"...." 

 

"I'm already here." 

 

Martin mengernyit. 

 

Suara yang sejak tadi hanya berasal dari speaker ponselnya, kini terdengar jelas di dalam ruangan. 

 

Bukan dari speaker. 

 

Apakah dirinya sudah gila? 

 

Martin terdiam kaku sejenak. Untuk beberapa detik, ia masih belum mengerti apa yang baru saja terjadi. Apa maksud Juhoon dari kalimatnya barusan? Lalu perlahan, ia mulai merasakan atmosfir yang hangat di sekitarnya. 

 

Sesuatu yang tidak asing. 

 

Kepalanya menoleh cepat pada sebuah sentuhan pelan di pundak kirinya. 

 

"Hei...?" 

 

Martin membeku. 

 

Itu Jju-nya. 

 

Untuk beberapa detik, otaknya menolak memproses apa yang sedang terjadi. Juhoon berdiri di sana, benar-benar berdiri di sana, dengan senyum kecil yang sama seperti yang sejak tadi hanya bisa ia bayangkan melalui suara di ujung telepon. 

 

“You—” 

 

“Hi.” 

 

“What are you doing here?” Martin tergagap tanpa memutuskan kontak mata mereka. 

 

“You said you’d be done in a minute, and I know it's a lie. So, yeah... here I am." 

 

Mata Martin terpaku oleh iris mata kecoklatan yang kini juga menatapnya. Semesta mungkin tertawa melihatnya yang seakan begitu kagum pada ciptaannya yang satu ini. Jika memungkinkan, ia akan berlutut menghadap tuhan, berterima kasih atas takdir yang mempertemukan mereka. Semesta memberinya kesempatan untuk memandangi keindahannya dari fajar terbit sampai tertelan laut, mendengar lantunan lembut suaranya, wewangian hangat tubuhnya, dan kedamaian jiwanya yang selalu dengan mudah menenangkan jiwa yang lelah meronta dalam diam, mencari, dan berlari tanpa henti. 

 

Oh, betapa beruntungnya dia... 

 

Langkah kecil itu berayun kearah sofa diseberang ruangan, lalu menghempaskan diri ke atasnya. Mereka masih diam, hanya saling menyelami netra masing-masing. Atau mungkin hanya Martin yang terus memandanginya begitu dalam. 

 

"You look terrible, don't you know?" Kalimat Juhoon menyadarkan kembali Martin yang sudah menghilang ke dalam ruang kecilnya sendiri. 

 

"Wow, I missed you too, bro." 

 

Juhoon terkekeh kecil, "I said you look terrible. I didn't say I missed you." 

 

"You came all the way here. At midnight. Just to see me, right? You obviously missed me." 

 

"Maybe it's just because I was bored. Could be." 

 

"And maybe it's just because you missed me. Could be" 

 

"I hate you." Martin tertawa kecil. Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadanya terasa lebih ringan. Memenangi argumen kecil mereka bukanlah tujuan Martin, tujuannya hanyalah untuk melihat bibir manisnya merengut lucu setelah kalah telak dalam sebuah argumen yang sama sekali tidak penting. 

 

Mereka masih duduk berhadapan, entah mengapa Martin lebih nyaman memandangnya dari sini. Dari kursi usangnya. Wajah Juhoon bersinar seperti rembulan malam, dengan sedikit rona merah muda di pipinya. Mata lelahnya sayu dan berat, sama seperti dirinya. Rambut coklat cinnamon itu jatuh dengan sangat lembut ke wajahnya setiap kali ia mengibaskan rambut ke belakang. 

 

Martin sangat ingin tahu wangi hangatnya dari dekat. Kali ini, Martin benar-benar berdoa kepada semesta untuk keajaiban kedua. 

 

Ia bahkan tak menyadari setiap debar di nadinya membawa perasaan aneh yang selalu mengulang-ulang nama Juhoon sampai membuat dadanya berdenyut nyeri. 

 

"How long have you been working?" Ia tak menyadari sejak kapan Juhoon mencondongkan tubuh lebih dekat kearahnya. Ini membuatnya gila. 

 

"I don't know." Martin sangat ingin berteriak dan berlari. Ia butuh pertolongan. Juhoon tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat layar komputer Martin yang penuh dengan pekerjaan, lalu wajahnya. 

 

“Do you even know what you’re doing anymore?” 

 

Martin terdiam, “Working,” jawabnya. 

 

“I know.” Nadanya tenang, terlalu tenang.

 

“Then why are you asking?” 

 

Juhoon bersandar kembali di kursinya, “Nothing.” 

 

"Then why are you here, Jju?"

 

Juhoon menatapnya sebentar. Lebih dalam dari biasanya. 

 

“You looked like you needed someone here.” 

 

Martin terdiam. 

 

Sialnya, Juhoon selalu seperti itu. 

 

Datang tanpa diminta, mengatakan sesuatu yang tidak pernah Martin minta untuk didengar, lalu membuatnya tidak tahu harus menjawab apa. Juhoon selalu tau apa yang harus diucapkan, menyisakan dirinya yang kesulitan dengan bahasa tubuhnya yang sulit di kendalikan di saat-saat krusial seperti ini. 

 

“You’re making this weird.” Martin memutar kursinya kembali menghadap layar komputernya secepat kilat, meskipun ia sudah tidak benar-benar membaca apa pun yang ada di sana. Ia sungguh tak ingin Juhoon melihat wajahnya yang memerah sampai ke leher. 

 

“I’m just sitting here.” 

 

“Exactly.” Juhoon tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Martin, mungkin sedikit tertawa tanpa suara. Ia tau kalimatnya mengusik pikiran Martin. Tapi itu benar adanya. Di fase ini, semua orang memang lelah. Sangat lelah, kalau ia boleh jujur. Mengejar album comeback mereka yang berikutnya, ditambah dengan kesibukan jadwal kerja yang padat dan saling bertabrakan satu sama lain. 

 

Bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat selamat malam sederhana jika berpapasan di ruang tamu asrama terasa sangat pelik. Mobil van yang terasa seperti kamar tidur berjalan. Waktu mereka, tenaga mereka, raga mereka—semuanya telah terkuras oleh sesuatu yang tak bisa mereka tinggalkan, meski berkali-kali tubuh mereka meminta untuk berhenti. 

 

Mungkin itu sebabnya, belakangan ini, Martin sering merasa ada sesuatu yang kurang. 

 

tidak tahu apa. 

 

Bukan makanan. Bukan tidur. Bukan waktu luang—meski ia jelas membutuhkan semuanya. 

 

Ada sesuatu yang lebih sederhana dari itu. 

 

Seseorang yang bisa duduk di sebelahnya dalam diam, membiarkan bahu mereka bersentuhan, Pelukan yang tidak terburu-buru berakhir, Sebuah ciuman singkat yang tidak perlu berarti apa-apa selain aku di sini, membiarkan kehangatan tubuh lain mengingatkannya bahwa ia masih berada di dalam tubuhnya sendiri. 

 

Karena akhir-akhir ini, Martin terlalu sering merasa seperti sedang meninggalkan dirinya sendiri. 

 

Ia butuh sosok yang membuatnya merasa bahwa ia tidak harus menyelamatkan dirinya sendiri setiap saat. 

 

"You can stay, though." 

 

"I wasn't planning to leave, too." 

 

Hatinya bergetar, berakhir diam tanpa mampu membalas kalimat yang sebenarnya sudah cukup jelas–tapi masih menggantung di pikirannya.

 

Terkadang, ia bertanya-tanya.

 

Apa maksud dari debaran kencang di dadanya setiap temannya yang selalu ia panggil 'Juhoon-ah'  berada tepat di dekatnya? 

 

Jika dirinya tak cukup kuat untuk mempertahankan egonya, mungkin saat ini ia sudah bangkit dari kursinya, menghampiri Juhoon tanpa banyak bicara, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di sampingnya. Membiarkan kepalanya bersandar di bahu lelaki itu. Membiarkan pelukan sederhana menggantikan semua kalimat yang terlalu sulit ia ucapkan. 

 

Mungkin hanya itu. 

 

Atau mungkin, sebuah kecupan singkat di pelipis sebagai ucapan terima kasih yang tak pernah berhasil ia rangkai menjadi kata. 

 

Tak ada sedikitpun pergerakan kursor di monitor. Tangannya masih menggantung di atas mouse. Ia tak bisa kembali fokus. Berada di satu ruangan dengan Juhoon selalu membuat napasnya kehilangan ritme. Entah sudah berapa lama ia berdiam seperti ini, dengan posisinya yang sudah tak nyaman lagi. 

 

"Martin-ah." 

 

Martin hanya bersenandung pelan sebagai jawaban. 

 

"C'mere." 

 

Ia memberanikan diri melirik Juhoon. "Why?" 

 

"Just come here." 

 

Ia sedikit mendecak, kembali menatap ke depan. "Masih kerja, Jju." 

 

"You're staring at the same screen for five damn minutes, Martin." 

 

Martin terdiam, Juhoon memperhatikannya. Jelas ia terlihat sangat bodoh kali ini. Hanya menatap hal yang sama selama lima menit tanpa melakukan apapun itu gila. Dan ia akui ia sudah gila sekarang. Panggilan kedua dari lelaki itu kembali menyadarkannya. 

 

"Ed..." 

 

Martin akhirnya menyerah. Tak ada bantahan. Martin hanya mengembuskan napas pelan, lalu memijat tengkuknya sekilas seolah berharap rasa pegal itu ikut menghilang. Juhoon menepuk pelan ruang kosong disebelahnya. 

 

Martin menatap layar di hadapannya sekali lagi. Barisan not, catatan, dan garis-garis waktu itu masih ada di sana, menunggunya kembali bekerja. Namun, entah mengapa, malam itu semuanya terasa begitu berat. Ia sudah tak mampu lagi. 

 

"...Fine." 

 

Ia bangkit dengan enggan, menyeret langkah menuju sofa sebelum menjatuhkan tubuhnya perlahan di samping Juhoon. Bahu mereka bersentuhan lebih dulu. Tak ada percakapan. Tak ada yang terburu-buru. Hanya hening yang tenang. Ia menyandarkan punggungnya di sofa, sama seperti Juhoon. Hangat tubuh mereka menyatu di bahu yang bersentuhan ringan. 

 

Napas mereka berirama bersama. Jari kelingking saling bersentuhan diatas paha. Sengatan listrik tak kasat mata menjalar di aliran darahnya. 

 

Ia kira, bersembunyi menjadi cara yang paling benar agar semuanya berjalan sebaik-baiknya. Ternyata, cara itu justru menjadi racun yang lama-lama semakin gahar untuk dirinya sendiri. 

 

Semakin hari, ia semakin kehilangan keahliannya untuk terus menyembunyikan cemasnya. Juhoon selalu tau cara untuk mengurai lilitan simpul yang menjerat lehernya begitu erat. Di tengah malam yang dingin dan gelisah, Juhoon akan datang. Membawa tenang dan hangat yang ia butuh. 

 

Tanpa bertanya. Tanpa mencari tahu. 

 

Juhoon hanya berada di sisinya. 

 

Duduk dalam diam di atas sofa usang asrama–sekedar menonton serial favorit mereka yang sudah di tonton lebih dari sepuluh kali, makan semangkuk ramen berdua, atau membahas buku yang sedang dibacanya akhir-akhir ini. 

 

Juhoon itu sederhana. 

 

Dan ternyata, itu yang Martin butuhkan. 

 

Kesederhanaan yang murni, ketenangan yang tidak menuntut apa-apa, kelembutan yang perlahan menghancurkan benteng pertahanan yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya. 

 

Sama seperti saat ini, Martin tak butuh kalimat manis nan puitis keluar dari bibir Juhoon. Ia tak butuh hadiah luar biasa yang dikira mampu menyenangkan hatinya. 

 

Ia tak butuh semua itu. 

 

Ia hanya butuh kehadirannya. 

 

Martin menundukkan kepala, membiarkan pandangannya jatuh pada tangan mereka yang masih berdekatan. Kelingkingnya masih menyentuh kelingking Juhoon. 

 

Kecil sekali. 

 

Hampir tak berarti. 

 

Jari kelingkingnya bergerak pelan—sedikit lebih dekat bahkan nyaris tak kentara. Sentuhan semakin terasa nyata. Napasnya tersengal-sengal. Gemerisik kain yang bergesekan terdengar bising di telinga. Ia ragu sejenak, namun entah mengapa ia tak ingin menjauh. 

 

Jarinya tetap di sana, menyentuh kulit Juhoon dengan ringan. Tidak lebih dari sebuah sentuhan sederhana yang mungkin bahkan tidak akan berarti apa-apa bagi orang lain. 

 

Tapi bagi Martin, rasanya seperti sedang berdiri di depan sesuatu yang selama ini terlalu takut untuk ia dekati. 

 

Ia menelan ludah. 

 

Lalu, setelah keraguan yang panjangnya hanya beberapa detik, kelingkingnya bergerak lagi. Perlahan mengaitkan jarinya pada kelingking Juhoon. Ia sangat lembut, Martin bisa merasakannya. Jari-jari yang ramping, telapak tangan yang terbuka, dan kuku-kuku yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Hal-hal kecil yang seharusnya tidak menarik perhatian siapa pun, tetapi malam itu entah mengapa terasa begitu jelas di matanya. 

 

Ia diam menunggu, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. 

 

Martin menunggu reaksinya. Mungkin Juhoon akan menarik diri, atau mungkin bertanya dengan nada ragu, 'what the heck are you doing, dude?'  atau yang lebih buruk–Juhoon akan menertawakannya dan membuat semuanya menjadi canggung. 

 

Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia baru sadar ia sudah senekat ini. Kepalanya mengucapkan sumpah serapah kepada dirinya sendiri, meminta pertanggungjawaban atas kebodohan yang memalukan. 

 

Namun tidak ada apa-apa. 

 

Hanya beberapa detik keheningan. 

 

Lalu kelingking Juhoon bergerak. Mata Martin kembali terbuka setelah merasakan pergerakan kecil itu. Nyatanya, Juhoon tidak melepaskannya seperti yang ia bayangkan. Justru mengaitnya sedikit lebih erat. Bertaut dengan sempurna, menyalurkan kehangatan jiwanya. 

 

Martin menundukkan kepalanya lebih dalam, menyembunyikan senyum kecil yang nyaris lolos begitu saja. Di ujung matanya, ia dapat melihat Juhoon yang sedikit melirik kearahnya, "Don't smile like that." 

 

Martin terkekeh mendengar nada kesal Juhoon, "No, I don't." 

 

"Yes, you do." 

 

Martin mendengus, tapi semakin merendahkan badannya agar kepalanya sejajar dengan bahu Juhoon yang sedikit lebih rendah. Tanpa sadar menempelkan hidungnya disana. Hangat, lembut, dan menenangkan. Ini keharuman tubuh yang sudah akrab di indranya. Sedikit jejak wangi cologne yang ia pakai tadi siang, dan wewangian pelembut pakaian memenuhi paru-parunya. 

 

Jari mereka masih terjalin di atas paha. 

 

Dan untuk beberapa menit berikutnya, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa perlu melepaskannya. 

 

Juhoon dapat mendengar jelas tarikan dan hembusan napas kasar Martin di bahunya. Berat, seolah setiap hembusan perlahan melepaskan resah yang sejak tadi dipendamnya. Juhoon tetap pada posisinya. Ia berharap hadirnya dapat mengurangi beban di dadanya, pergulatan batin yang tak kunjung reda di kepalanya, juga letih yang mengendap di tubuhnya. Ia hanya berharap kehadirannya dapat sedikit meringankan apa yang telah mengurasnya hari ini. Meskipun ia tak mampu menghilangkan lelahnya, setidaknya ia ingin membuatnya tak perlu menanggungnya sendirian. 

 

Martin pun tak tahu apa yang telah merasuki akal sehatnya. 

 

Mungkin karena malam sudah terlalu larut. Mungkin karena tubuhnya memang sudah terlalu lelah untuk terus mempertahankan jarak. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, kehadiran Juhoon terasa terlalu nyaman untuk ditolak. 

 

Kepalanya perlahan bergeser di bahu Juhoon. Mencari posisi terbaik dengan bias kehangatan darinya. Juhoon menoleh. 

 

"Sleepy?" Martin tidak menjawab. Ia hanya menggumam pelan, matanya masih terpejam, sebelum kembali menyandarkan tubuhnya lebih dekat. Wangi tubuh Juhoon membuatnya tak bisa menjauh bahkan sedikitpun. Ia sangat ingin merengkuh tubuh kecil itu kedalam dekapannya, seperti bayangan indah di tiap mimpi malamnya. 

 

Selama ini ia hanya bisa memandang laki-laki manis itu dari kejauhan. Di sudut ruang tunggu saat Juhoon asik dengan bukunya, tenggelam ke dalam imajinasi di kepalanya, dunia kecil miliknya sendiri—dunia yang tak pernah Martin tahu seberapa indah isinya. 

 

Atau saat makan malam di restoran BBQ, cara alisnya sedikit mengerut setiap menyantap makanan kesukaannya–tanda ia menikmatinya. Bibir yang tanpa sadar mengerucut, pipi mengembung dipenuhi makanan. Atau cara kepala Juhoon mendongak saat berbicara kepadanya, mata yang penuh binar dan bercahaya tertutupi oleh helaian rambut kecokelatan yang jatuh dengan lembut di dahinya. 

 

Martin tahu terlalu banyak hal kecil tentangnya. 

 

Hal-hal yang seharusnya tidak ia perhatikan. 

 

Ia tak pernah menyadari hal itu sebelumnya. Tidak sebelum dua teman sekamarnya mengatakan kalimat yang cukup menyadarkannya di tengah malam, saat sedang sibuk berbincang di kasur masing-masing. 

 

"You stare at him a lot, hyung.”

“Man, you literally watch his every move.” 

 

Nyatanya. Ia sudah terlalu lama memperhatikan Juhoon sampai batas antara 'sekadar mengenal' dan 'ingin selalu berada di dekatnya' perlahan menjadi kabur. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara Juhoon menghilang ke dalam dunianya sendiri. Sesuatu yang membuat Martin ingin tahu lebih banyak, meski ia tahu mungkin tak akan pernah benar-benar mampu memahaminya. 

 

Dulu, ia cukup puas melihatnya dari kejauhan. 

 

Sekarang, entah sejak kapan, jarak beberapa meter terasa terlalu jauh. 

 

Mungkin itu sebabnya Martin tak pernah benar-benar bosan memandanginya. Ada kalanya matanya terus mencari eksistensinya di pagi hari, dengan dalih ingin meminjam barang James secara acak hanya agar ia bisa masuk ke kamar mereka, melihat Juhoon-nya yang masih tertidur dengan damai. 

 

Kadang ia bahkan tidak membutuhkan apa-apa. 

 

Hanya ingin melihatnya. 

 

Memastikan bahwa laki-laki itu ada di sana sudah cukup untuk membuat paginya terasa sedikit lebih baik. 

 

Dan yang paling menyebalkan, Martin baru menyadari bahwa ia telah melakukan itu jauh sebelum berani mengakui alasannya sendiri. 

 

Beberapa detik berlalu. 

 

Lalu Martin bergerak lagi. 

 

Sedikit gelisah. Mencari posisi yang tidak kunjung ditemukan. Kepalanya sempat jatuh ke sandaran sofa, kemudian terangkat lagi. Juhoon memperhatikannya dalam diam. 

 

"Hey... what's wrong?" 

 

Martin hanya menggeleng kecil di bahunya, "Nothing." 

 

Ia kembali menggeser tubuhnya, mencoba menemukan posisi yang nyaman. Bahunya menyentuh sandaran sofa, lalu kembali turun. Seolah-olah bahkan sofa itu tidak cukup untuk menampung lelah yang dibawanya malam ini. 

 

Juhoon terlalu hangat untuk dirinya yang sudah kebas kedinginan. Baju hangat yang melekat ditubuhnya tak sebanding dengan hangat tubuh Juhoon. 

 

Martin menghembuskan napas panjang. Matanya terpejam, tetapi tubuhnya masih terus mencari posisi yang terasa pas. Sedikit bergeser ke kiri, lalu kembali ke kanan. Hingga akhirnya kepalanya kembali jatuh di bahu Juhoon. 

 

Kali ini ia tidak bergerak lagi. 

 

Juhoon menunduk, memperhatikannya beberapa saat. 

 

"You're tired." 

 

"I'm not," gumamnya pelan. 

 

Jawabannya terdengar terlalu pelan untuk menjadi bantahan. 

 

Juhoon tersenyum kecil. Hening kembali turun di antara mereka. Napas mereka tenang, dada mereka saling naik turun bergantian, menghiraukan layar monitor di depan mereka yang bersinar sayu memantulkan cahaya redup ke dinding dingin studio. Rambut keemasan Martin menyentuh leher Juhoon. Sedikit menggelitik, tapi kontak kecil itu terasa akrab, seakan sudah seharusnya Martin bersender di bahunya. Bahunyalah satu-satunya tempat untuk kepala yang terkulai lemas itu. 

 

Martin hampir terlelap. Sampai akhirnya Juhoon menggeser sedikit posisinya di sofa. Ia menepuk pahanya sekali, pelan. 

 

"Here." 

 

Martin membuka matanya sayu. Tatapannya turun mengikuti arah tangan pucat Juhoon. 

 

Tak lama berselang, Ia memberanikan diri melirik Juhoon. Tidak ada penilaian di wajahnya, hanya fokus yang intens dan penuh perhatian. Tatapan Juhoon selalu terasa berbeda ketika mereka sedang berdua. Lebih tenang. Lebih dalam. Seolah tak ada hal lain yang perlu ia perhatikan selain dirinya.

 

"Your neck is gonna hurt if you sleep like that." 

 

Martin terdiam. Ia masih memastikan apakah Juhoon bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. Karena jika iya—Ia tak akan bisa menolaknya lagi. 

 

Juhoon mengangguk dalam diam. Ia tahu Martin ragu akan keyakinannya. Jadi Juhoon memvalidasi kalimatnya dengan membuka tangannya, mengisyaratkan agar Martin mendekat. 

 

"Come on." 

 

Martin menatap tangan itu beberapa detik lebih lama. Seolah-olah di sana ada sesuatu yang perlu dipikirkannya matang-matang, padahal tubuhnya sendiri sudah lebih dulu mengambil keputusan. 

 

Pelan-pelan, Martin bergeser. 

 

Ia menurunkan tubuhnya dari sandaran sofa, lalu menyandarkan kepalanya di paha Juhoon. Gerakannya hati-hati, nyaris ragu, seakan masih menunggu seseorang menarik kembali tawaran yang sejak awal tidak pernah benar-benar diminta. 

 

Namun Juhoon tidak berkata apa-apa. 

 

Begitu menemukan posisi yang nyaman, seluruh tubuhnya seakan kehilangan sisa tenaga yang sejak tadi ia paksa untuk bertahan. Bahunya turun. Napasnya menjadi lebih panjang. Matanya kembali terpejam. 

 

Juhoon menyesuaikan posisi duduknya agar Martin tidak merasa canggung, kemudian membiarkan tangannya beristirahat di dekat bahunya. 

 

Beberapa detik berlalu. 

 

"Better?" 

 

Martin menggumam tanpa membuka mata. 

 

"...Mhm." 

 

Sesederhana itu. 

 

Juhoon tidak tidur atau sekedar memejamkan mata. Ia justru tetap terjaga, memperhatikan wajah Martin yang kini beristirahat tenang di pangkuannya. Lekuk mata yang dalam, alis yang di semir senada dengan rambut keemasannya, bibir yang sedikit kering dan rahangnya yang tegas—semuanya terasa begitu jelas dari jarak sedekat ini. 

 

Tak heran jika wajah itu selalu berhasil menarik perhatian ke mana pun Martin pergi. 

 

Namun malam ini, Juhoon tidak melihatnya sebagai seseorang yang selalu menjadi pusat perhatian. Ia hanya melihat Martin. 

 

Martin yang akhirnya terlihat lelah. 

 

Martin yang untuk sekali ini tidak sedang tertawa keras bersama yang lain, tidak sedang menyanyi, tidak sedang mengoceh tentang hal-hal aneh yang selalu berhasil membuatnya ikut tertawa. 

 

Hanya Martin. 

 

Dan entah kenapa, Juhoon ingin waktu berhenti sedikit lebih lama. 

 

Ia ingin mendengar tawa itu lagi. Ingin mendengar suara seraknya ketika bernyanyi. Ingin berada di sisinya seperti ini tanpa harus mencari alasan untuk tinggal. Hanya berdua bersamanya. 

 

Ia sibuk memandangi wajah Martin. Tangannya terangkat tanpa banyak berpikir. Beberapa helai rambut keemasan yang jatuh ke dahi Martin disibaknya perlahan. 

 

Ah.

 

Ia hampir lupa satu hal lagi. 

 

Ia memang menyukai rambut keemasan yang terlihat harmonis dengan paras rupawannya itu. 

 

Martin menyadari pergerakan kecil itu. Kedua matanya terbuka perlahan. Pandangan mereka bertemu. Bertahan—tak ada yang segera memutuskan kontak mata. Tak ada yang angkat suara. Tak ada yang bergerak sedikitpun. 

 

Hanya keheningan yang terasa terlalu nyaman untuk diganggu. 

 

Martin kemudian mengangkat tangannya. Bukan untuk menjauh, melainkan menangkap pergelangan tangan Juhoon yang masih berada di dekat rambutnya. Gerakannya begitu pelan sampai Juhoon mengira Martin hanya ingin menyingkirkan tangannya. 

 

Ternyata tidak. 

 

Martin hanya diam memperhatikan tangannya yang dengan mudah melingkari tangan pucat Juhoon. Telapak tangannya mengitari pergelangan tangan lembut dihadapannya, sementara ujung jarinya berhasil bertemu di sisi lain—membuat perbedaan ukuran tangan mereka terasa begitu jelas. 

 

Ibu jarinya berhenti tepat di atas kulit tipis di sisi pergelangan tangannya. 

 

Di bawah ujung ibu jarinya, ada denyut kecil yang bergerak teratur. 

 

Stabil. 

 

Sekali. 

 

Lalu sekali lagi. 

 

Denyut nadinya begitu ringan, tetapi cukup jelas untuk membuatnya sadar betapa dekatnya mereka saat ini. 

 

Ia memberikan sedikit tekanan halus di titik itu, membiarkan ujung ibu jarinya tetap disana untuk beberapa saat. Mengikuti setiap denyut kecil dan setiap jeda dalam diam. 

 

Martin hanya mempertahankan genggamannya beberapa detik, seolah sentuhan kecil itulah yang mampu menenangkan dua jiwa yang sama kacaunya. 

 

Tangan Juhoon terasa begitu kecil di tangannya. 

 

Dan anehnya, kesadaran sederhana itu membuat senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Genggamannya sedikit mengendur, tetapi tidak sepenuhnya melepaskan. Tanpa aba-aba, bibirnya menyentuh kulit di sana dalam kecupan lembut, yang sengaja ia tahan untuk beberapa detik. 

 

Hanya lima detik. 

 

Namun cukup untuk membuat Juhoon terdiam. 

 

Martin pun tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Ia hanya kembali menatap tangan mereka yang masih bertaut, seolah tidak baru saja melakukan sesuatu yang mampu membuat suasana di antara mereka berubah. 

 

Martin membawa tangan Juhoon ke atas dadanya, tempat dimana jantungnya berdegup kencang tak karuan. 

 

Pandangan mereka saling bertemu. 

 

Juhoon tidak mengatakan apa-apa lagi. 

 

Dalam beberapa saat, kontak mata mereka terputus saat kepala Martin perlahan berputar ke kiri, mengusak-usak wajahnya di perut Juhoon. Mencari wangi dan hangat yang ia rindukan sejak lama. Mencari tempat tenangnya yang selama ini hanya menjadi mimpi indahnya setiap malam. 

 

Gumaman tak jelas yang teredam mengundang kekeh geli dari laki-laki manisnya. Rengkuhan di sekeliling pinggangnya menjadi penopang terbaik saat Juhoon mencoba untuk menjauh karena napas hangat Martin di perutnya. 

 

"Ih—geli, Martin..." 

 

"Don't look at me like that..." Juhoon butuh beberapa detik untuk bisa memahami kalimat Martin yang tak terdengar jelas olehnya sebelum tersenyum kecil setelah mengetahui apa yang dikatakannya barusan. 

 

"Like what..?" Juhoon masih dengan penuh cinta membelai kepala Martin perlahan. Martin tak langsung menjawab. Ia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Ia tak tahu kalimat apa yang tepat untuk menjelaskannya. 

 

Ia bukan merasa malu di tatap sebegitunya. Ia hanya takut—takut ada arti lain dari tatapan itu. Arti yang selama ini diam-diam ia harapkan, tetapi selalu ia coba sembunyikan. 

 

"Like you feel something like the way I do." 

 

Martin mengigit bibirnya kuat-kuat setelah mengatakan kalimat nekat itu. Untuk sesaat, Martin mengira Juhoon tak akan menjawab. Membiarkan suaranya menggantung di udara tanpa balasan. 

 

Sampai dorongan kecil dipundaknya memaksanya untuk kembali ke posisi semula. Menghadap langit-langit. Menghadap Juhoon yang dengan terpaksa ia turuti. 

 

Mata Juhoon kembali menatapnya. Mulai dari mata kiri, lalu mata kanan, turun ke bibirnya, dan kembali lagi naik. Napas Martin bergetar dan memburu. Seakan ia lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal. 

 

Setelah beberapa saat, suara itu kembali terdengar. Lembut seperti biasanya. 

 

"Maybe I do." 

 

Martin terdiam membeku. Lidahnya terdiam kelu. Ia tak ingin berharap terlalu jauh. Terlalu dalam. Menyenangkan hatinya dengan ekspektasinya sendiri. 

 

"Then tell me..." Gumam Martin pelan. Suaranya lirih, hampir tak terdengar. 

 

"Because i'm tired of guessing." 

 

Kalimatnya berhenti disitu. Tidak berniat untuk dilanjutkan. 

 

Mereka hanyut dalam netra satu sama lain, larut dalam keheningan. Ia tak dapat mengartikan raut wajah Juhoon sekarang. Wajahnya tenang tanpa emosi di dalamnya. Napasnya pun stabil, terlalu stabil jika dibandingkan dengan dirinya. 

 

"Does it matter?" 

 

Martin masih diam seribu bahasa mencerna kalimat itu sebelum Juhoon menambahkan kembali kalimat yang membuatnya semakin membisu. 

 

"I'm still here with you, aren't I?" 

 

"I think that's what really matter." 

 

Senyum manis itu kembali terukir di wajahnya. Matanya menyipit, membentuk bulan sabit yang indah. Martin terhipnotis olehnya. Lelaki manis yang ia temui di gedung ini beberapa tahun lalu, mengaku tak memiliki bakat apapun, padahal sudah jelas ia mampu membuat dunia yang riuh di kepala Martin terdiam sunyi hanya dengan satu senyuman. 

 

Lalu perlahan, Martin ikut tersenyum. Now, he gets it. 

 

Mungkin bukan tentang mencari nama untuk sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar membutuhkan nama. Bukan pula tentang mencari arti di balik setiap tatapan dan sentuhan kecil yang selama ini membuatnya bertanya-tanya. 

 

Untuk malam ini, berada di sini bersamanya saja sudah cukup. 

 

Matanya terpejam dan dengan mudah terlelap di antara usapan lembut jemari Juhoon di rambutnya. 

 

Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya berada di sana tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. 

 

Tidak ada kecemasan yang perlu ia sembunyikan. 

 

Tidak ada alasan yang harus ia buat. 

 

Tidak ada jarak yang perlu ia pertahankan. 

 

Hanya dirinya, Juhoon, dan malam yang perlahan semakin sunyi. 

 

Napas Martin akhirnya menjadi teratur. Juhoon tahu ia sudah tertidur ketika tubuh di pangkuannya benar-benar kehilangan ketegangan. 

 

Ia menatap wajah rupawan nya untuk beberapa saat, lalu tersenyum kecil. Mungkin besok semuanya akan kembali seperti biasa. Mereka akan kembali bercanda. Bertengkar soal hal-hal sepele. Saling mengganggu seperti tidak pernah terjadi apa-apa malam ini. 

 

Tapi untuk malam ini, setidaknya, ia tidak perlu pergi ke mana-mana. 

 

Dan mungkin, pada akhirnya, rumah bukan selalu tentang tempat yang kita pulangi. Kadang, rumah hanyalah seseorang yang membuat kita tidak lagi ingin pergi. 

 

Dan malam itu, ia akhirnya berhenti mencari. 

 

Karena untuk pertama kalinya, ia sudah menemukan tempat yang ingin ia tinggali. 

 

He was already home. 

 

— fin.

 

Notes:

it's my first marhoon fic ever. just my 2 a.m random scenario abt them. I kinda love the result of it. the emotional, the small touch, and the warm atmosphere between them. I LOVE MARHOON TILL THE DEATH OF MA LIFE.

Oh by the way, I'm still figuring out my next marhoon fic. so please keep ur eye out for it. TERIMA KASIH🤍!!!